Hal tersebut mengindikasikan kita sebagai penulis tidak boleh asal mengutip semata-mata karena orang tersebut merupakan orang terpandang, terkenal atau kaya raya dan baik status sosial ekonominya.
Rangkuman
Dengan demikian, penalaran adalah suatu cara seseorang menggunakan kemampuan menalarnya dalam menarik kesimpulan, sebelum orang tersebut mengemukakan pendapatnya kepada orang lain.
Penalaran dibagi menjadi 2 jenis, yaitu penalaran induktif dan penalaran deduktif. Penalaran induktif merupakan jenis penalaran yang proses dalam menarik kesimpulannya berupa prinsip atau sikap yang berlaku di umum berdasarkan fakta-fakta yang bersifat khusus.Penalaran induksi masih terbagi menjadi 3 jenis penalaran induksi yakni generalisasi, analogi, dan hubungan kausal. Penalaran deduksi merupakan penalaran yang dalam proses
penyimpulannya dari pengetahuan yang bersifat umum menjadi pengetahuan yang khusus.
Salah nalar sering terjadi karena disebabkan oleh kesalahan menilai sesuatu sehingga mengakibatkan terjadinya pergeseran maksud. Salah nalar ini dapat terjadi bila orang menganalogikan sesuatu dengan yang lain dengan anggapan persamaan salah satu segi akan memberikan kepastian
persamaan pada segi yang lain. Sesungguhnya salah nalar dapat dihindari dengan mempelajari teori dalam berlogika.
Pengertian Kalimat menurut Bloomfield adalah suatu bentuk linguistik, yang tidak termasuk ke dalam suatu bentuk yang lebih besar karena merupakan suatu konstruksi gramatikal
3. Hocket
Hocket (1985) menyatakan bahwa kalimat adalah suatu konstitut atau bentuk yang bukan konstituen; suatu bentuk gramatikal yang tidak termasuk ke dalam konstruksi gramatikal lain.
4. Lado
Di sisi lain Lado (1968) mengatakan bahwa kalimat adalah satuan kecil dari ekspresi lengkap. Pendapat Lado dipertegas lagi oleh Sutan Takdir
Alisyahbana (1978) yang mengatakan bahwa kalimat adalah satuan terkecil dari ekspresi lengkap.
5. Ramlan
Sementara itu Ramlan (1996) mengatakan bahwa kalimat adalah suatu gramatikal yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir turun atau naik. berdasarkan defenisi-defenisi di atas, dapat disimpulkan bahwa kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang berupa klausa, yang dapat berdiri sendiri dan mengandung pikiran lengkap.
6. Alwi dkk
“Dalam wujud tulisan, kalimat diucapkan dalam suara naik-turun dan keras- lembut disela jeda, diakhiri intonasi akhir yang diikuti oleh kesenyapan yang mencegah terjadinya perpaduan, baik asimilasi bunyi maupun proses
fonologis lainnya”.
7. Kridalaksana
Pengertian kalimat menurut pendapat Kridalaksana (2001:92) kalimat sebagai satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final, dan secara aktual maupun potensial terdiri dari klausa; klausa bebas yang menjadi bagian kognitif percakapan; satuan proposisi yang
merupakan gabungan klausa atau merupakan satu klausa, yang membentuk satuan bebas; jawaban minimal, seruan, salam, dan sebagainya.
8. Chaer
Menurut ahli tata bahasa tradisional di dalam buku Chaer (1994:240),
“kalimat adalah susunan kata-kata yang teratur yang berisi pikiran yang lengkap”.
Unsur-Unsur Kalimat
Unsur -Unsur Klalimat
Gabungan kata dapat dianggap sebagai kalimat apabila memiliki unsur-unsur pembetuk kalimat. Berikut ini unsur-unsur yang selalu terdapat pada sebuah kalimat, diantaranya:
1. S (Subjek)
Subjek sering disebut sebagai unsur inti atau unsur pokok pada sebuah kalimat, biasanya berupa kata-kata benda dan biasanya terletak sebelum unsur Predikat. Subjek adalah bagian yang berfungsi untuk menunjukkan pelaku dalam kalimat. Pada umumnya subjek terbentuk dari kata benda (nomina) serta diletakkan di awal kalimat. Tidak hanya kata, subjek juga bisa diisi dengan frasa ataupun klausa.
Contoh:
Misalnya, saya ingin berbicara tentang kucing. Lalu, saya membuat kalimat seperti ini:
Kucing memakan ikan.
Kata kucing pada kalimat di atas berposisi sebagai subjek. Sebab, saya sedang membicarakan kucing dan kucing itulah pokok pembicaraannya.
2. P (Predikat)
Predikat yaitu unsur yang fungsinya menerangkan yang sedang dilakukan subjek pada kalimat. Predikat biasanya menggunakan kata kerja ataupun kata sifat. Namun, tidak hanya itu saja loh, predikat juga dapat diisi dengan kata sifat dan kata benda. Letak predikat, yaitu berada di antara subjek dan objek. Nah, cara untuk mengetahui predikat dalam kalimat, kamu dapat memberikan pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana” pada kalimat tersebut.
Pada contoh kalimat “Kucing memakan ikan.”, kata memakan berposisi sebagai predikat.
Bisa dikatakan, predikat merupakan informasi mengenai subjek.
Sebuah kalimat setidaknya harus mengandung subjek dan predikat. Jadi, subjek harus diikuti predikat agar bisa disebut sebagai kalimat.
3. O (Objek)
Objek bisanya terletak sesudah predikat, dapat di katakan objek merupakan keterangan yang berkaitan dengan predikat atau sesuatu yang menderita.
Tapi pada kalimat pasif objek menjadi subjek. Posisi objek harus selalu berada di belakang predikat. Dengan posisinya yang berada di belakang predikat, maka objek tidak didahului oleh preposisi. Pada umumnya, objek itu diisi oleh kelas kata nomina, frasa nomina, atau klausa.
Objek bisa juga sebagai bagian kalimat yang melengkapi kata kerja transitif.
Kata kerja transitif sendiri merupakan kata kerja yang membutuhkan objek.
Pada kalimat “Kucing memakan ikan.”, kata ikan berkedudukan
sebagai objek. Kata ikan tersebut melengkapi kata memakan sehingga kalimatnya menjadi lengkap.
4. Pelengkap
Meskipun berfungsi hanya melengkapi kalimat, pelengkap adalah unsur yang melengkapi predikat. Hal inilah yang menunjukkan bahwa pelengkap
posisinya berada di belakang predikat. Namun, posisinya yang berada di belakang predikat terkadang agak menyulitkan untuk membedakannya dengan objek. Ada satu cara yang dapat kamu lakukan untuk
mengidentifikasinya, yaitu dengan cara emfasipkan kalimat tersebut jika suatu kalimat tidka bisa dipasifkan maka kalimat tersebut berpelengkap.
Berikut contoh kalimat berpelengkap dengan pola subjek + predikat + pelengkap.
Kata pelengkap yang bergaris bawah.
· Mereka berjalan ke sekolah.
· Ia tinggal di sana.
· Laras mirip ayahnya.
· Fadil termasuk anak cerdas.
· Rombongan haji berangkat ke Arab.
· Anaknya berpendidikan militer.
· Tubuhnya berlumuran darah.
· Saya suka nasi goreng.
Contoh kalimat berpelengkap pola S P O Pel
Berikut adalah kalimat berpelengkap dengan pola subjek + predikat + objek + pelengkap.
· Kata pelengkap akan ditulis dengan digaris bawahi.
· Ayah membelikan adik buku tulis baru
· Pak Dedi menghadiahi anaknya sepeda roda tiga
· Kakak mengirimi saya uang
· Para pahlawan bersenjatakan bambu runcing
· Toko tersebut menawarkan pelanggannya diskon besar
· Perusahaan memberikan pegawainya surat peringatan
· Ibu guru memberikan saya nilai bagus
· Fadil mengirimi Nadya surat pernyataan cinta
· Ibu memasak makanan enak untuk kami
· Indonesia menyediakan rakyatnya hukum yang adil
· Kantor tersebut memberikan pegawainya makan siang
· Hakim menganggap kelakuan tersangka sangat tidak layak
5. K (Keterangan)
Keterangan pada suatu kalimat terletak di bagian akhir. Unsur keterangan biasanya di jadikan pelengkap kalimat. Keterangan bisa diisi oleh frasa, kata, atau anak kalimat. Keterangan yang berupa frasa akan ditandai dengan preposisi ke, di, dari, pada, dalam, kepada, terhadap, untuk, oleh, dan tentang. Sedangkan keterangan yang berupa anak kalimat ditandai dengan preposisi karena, ketika, jika, meskipun, supaya, dan sehingga.
Contoh:
1. Gunakanlah payung agar tidak basah kuyup saat hujan mengguyur.
Ayah bekerja keras untuk membiayai anaknya yang sedang berkuliah
Ciri-Ciri Kalimat Ciri-Ciri kalimat
Sebuah kalimat memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Pada bahasa lisan diawali dengan kesenyapan serta diakhiri dengan kesenyapan pula.
1. Pada bahasa tulis diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan titik(.), tanda Tanya(?), serta tanda seru(!).
2. Kalimat aktif minimal terdiri dari subyek dan juga predikat.
3. Predikat transitif disertai dengan objek, predikat intransitive bisa disertai dengan pelengkap.
4. Mengandung anggapan yang lengkap.
5. Menggunakan urutan yang logis di setiap kata maupun kelompok kata yang dimana mendukung fungsi (SPOK) dan disusun ke dalam satuan sesuai dengan fungsinya.
6. Mengandung: satuan makna, ide, atas pesan yang jelas.
7. Dalam paragraf yang terdiri dari dua kalimat atau lebih, kalimat- kalimat tersebut disusun ke dalam satuan makna pikiran yang saling berkaitan. Hubungan dijalin melalui konjungsi, pronominal/kata ganti, repetisi/struktur sejajar.