BAB II KAJIAN PUSTAKA
B. Karakter Siswa
1. Pengertian Karakter Siswa
The team character education is often interpreted in a viriety of ways, and the actual discipline, as applied in schools, is frequently misunderstood. The most common miserception is that character education is a religious phenomenon found only in parochial schools.
In fact, character education is widely in use within the public school domain. Some think that character education in schools is meant to replace the role that families play in raising their children.44
Dalam buku Effective Character Education karya Merle J. Schwartz mengatakan bahwa pendidikan karakter sering ditafsirkan dalam berbagai cara, dan disiplin yang sebenarnya, seperti yang diterapkan di sekolah-sekolah, sering disalahpahami. Kesalahpahaman yang paling umum adalah bahwa pendidikan karakter adalah suatu fenomena agama yang hanya bisa ditemukan di sekolah- sekolah yang berkaitan dengan agama. Bahkan, pendidikan karakter secara luas digunakan dalam domain sekolah umum. Beberapa berpikir bahwa pendidikan karakter di sekolah dimaksudkan untuk menggantikan peran keluarga dalam membesarkan anak-anak mereka.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain;
tabiat; watak.45
43 Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, h. 159
44 Merle J. Schwartz, Effective Character Education, (New York: Beth Mejia, 2007), h. 1.
45 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: PT
Gramedia, 2008), Cet. pertama Edisi IV, h. 623
Bila dilihat dari asal katanya, istilah „karakter‟ berasal dari bahasa Yunani karasso, yang berarti „cetak biru‟, „format dasar‟ atau „sidik jari‟. Pendapat lain
menyatakan berasal dari bahasa Yunani charassein, yang berarti ‟membuat tajam‟
atau „membuat dalam‟.46
Menurut Heri Gunawan, karakter adalah keadaan asli yang ada dalam diri individu seseorang yang membedakan antara dirinya dengan orang lain.47
Adapun pendidikan berkarakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu melibatkan aspek pengetahuan (kognitif), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona sebagaimana dikutip oleh Anas, dengan ketiga aspek tersebut, jika pendidikan karakter diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan akan membuat anak menjadi cerdas dalam emosinya.48
Sedikitnya, ada empat alasan mendasar mengapa sekolah pada masa sekarang perlu lebih bersungguh-sungguh menjadikan dirinya tempat terbaik bagi pendidikan karakter. Keempat alasan itu adalah:
a. Karena banyak keluarga yang tidak melaksanakan pendidikan karakter.
b. Sekolah tidak hanya bertujuan membentuk anak yang cerdas, tetapi juga anak yang baik.
c. Kecerdasan seorang anak hanyalah bermakna manakala dilandasi dengan kebaikan.
46 Saptono, Dimensi-dimensi Pendidikan Karakter, (Penerbit Erlangga, 2015), Cet. ke-7, h.
18
47 Heri Gunawan, Pendidikan Karakter, (Bandung: Penerbit Alfabeta, 2012), h 2-3
48 Anas Salahudin dan Irwanto Alkrienciehie, Pendidikan Karakter (Pendidikan Berbasis Agama dan Budaya Bangsa), (Bandung: CV Pustaka Setia, 2013), h. 45
d. Karena membantu anak didik agar berkarakter tangguh bukan sekedar tugas tambahan bagi guru, melainkan tanggung jawab yang melekat pada perannya sebagai seorang guru.49
Lalu apa tujuan pendidikan karakter dalam seting sekolah? Pendidikan karakter dalam seting sekolah memiliki tujuan sebagai berikut:
a. Menguatkan dan mengembangkan nilai-nilai kehidupan yang dianggap penting dan perlu sehingga menjadi kepribadian peserta didik yang khas sebagaimana nilai-niai yang dikembangkan.
b. Mengoreksi perilaku peserta didik yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dikembangkan oleh sekolah.
c. Membangun koneksi yang harmoni dengan keluarga dan masyarakat dalam memerankan tanggung jawab pendidikan karakter secara bersama.50
2. Pilar-pilar Pendidikan Karakter b. Moral Knowing
William Kilpatrick sebagaimana dikutip oleh Abdul Majid menyebutkan salah satu penyebab ketidakmampuan seorang berlaku baik meskipun ia telah memiliki pengetahuan tentang kebaikan itu (moral knowing) adalah karena ia tidak terlatih untuk melakukan kebaikan (moral doing)
Moral knowing sebagai unsur pertama memiliki enam unsur, yaitu:
1) Kesadaran moral (moral awareness)
49 Saptono., h. 24
50 Dharma Kesuma dkk, Pendidikan Karakter: Kajian Teori dan Praktik di Sekolah, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), h. 9
2) Pengetahuan tentang nilai-nilai moral (knowing moral values) 3) Penentuan sudut pandang (perspective taking)
4) Logika moral (moral reasoning)
5) Keberanian mengambil menentukan sikap (desicion making) 6) Dan pengenalan diri (self knowledge).
Keenam unsur ini adalah komponen-komponen yang harus diajarkan kepada siswa untuk mengisi ranah pengetahuan.51
c. Moral Loving Atau Moral Feeling
Seseorang yang memiliki kemampuan moral kognitif yang baik, tidak saja menguasai bidangnya, tetapi memiliki dimensi rohani yang kuat. Keputusan- keputusannya menunjukkan warna kemahiran seorang profesional yang didasarkan pada sikap moral atau akhlak yang luhur.
Afektif, yakni pembinaan sikap mental (mental attitude) yang mantap dan matang sebagai penjabaran dari sikap amanah Rasulullah. Indikator dari seseorang yang mempunyai kecerdasan ruhaniah adalah sikapnya yang selalu ingin menampilkan sikap yang ingin dipercaya (kredibel), menghormati dan dihormati. Sikap hormat dan dipercaya hanya dapat tumbuh apabila kita meyakini sesuatu yang kita anggap benar sebagai prinsip-prinsip yang tidak dapat diganggu gugat.
Moral loving merupakan penguatan aspek emosi siswa untuk menjadi manusia berkarakter. Penguatan ini berkaitan dengan bentuk-bentuk sikap yang harus dirasakan oleh siswa, yaitu kesadaran akan jati diri, di antaranya:
1) Percaya diri (self esteem)
51 Dharma Kesuma dkk, Pendidikan Karakter: Kajian Teori dan Praktik di Sekolah. 33-34
2) Kepekaan terhadap derita orang lain (emphaty) 3) Cinta kebenaran ( loving the good)
4) Pengendalian diri ( selfcontrol) 5) Kerendahan hati ( humility)52
d. Moral Doing/Acting
Untuk mampu memberikan manfaat kepada orang lain tentulah harus mempunyai kemampuan/kompetensi dan keterampilan. Hal inilah yang harus menjadi perhatian semua kalangan, baik itu pendidik, orangtua, maupun lingkungan sekitarnya agar proses pembelajar an diarahkan pada proses pembentukan kompetensi agar siswa kelak dapat memberi manfaat baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Dan bukan sebaliknya, menjadi beban dan tanggungan orang lain.
Setelah dua aspek tadi terwujud, maka Moral Acting sebagai outcome akan dengan mudah muncul dari para siswa. Namun, merujuk kepada tesis Ratna Megawangi, bahwa karakter adalah tabiat yang langsung disetir dari otak, maka ketiga tahapan tadi perlu disuguhkan kepada siswa melalui cara-cara yang logis, rasional, dan demokratis. Sehingga perilaku yang muncul benar-benar sebuah karakter bukan topeng. Berkaitan dengan hal ini, perkembangan pendidikan karakter di Amerika Serikat telah sampai ikhtiar ini. Dalam sebuah situs nasional karakter pendidikan di Amerika bahkan disiapkan lesson plan untuk tiap bentuk karakter yang telah dirumuskan dari mulai sekolah dasar sampai sekolah menengah.53
52 Dharma Kesuma dkk, Pendidikan Karakter: Kajian Teori dan Praktik di Sekolah. 33- 34
53 Dharma Kesuma dkk, Pendidikan Karakter: Kajian Teori dan Praktik di Sekolah,.h. 36
3. Ciri Dasar Pendidikan Karakter
Menurut Forester sebagaimana dikutip oleh Abdul Majid dalam bukunya, ada empat ciri dasar dalam pendidikan karakter:
1. keteraturan interior di mana setiap tindakan diukur berdasar hierarki nilai. Nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan.
2. Koherensi yang memberi keberanian membuat seseorang teguh pada prinsip, dan tidak mudah terombang-ambing pada situasi baru atau takut risiko. Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain. Tidak adanya koherensi dapat meruntuhkan kredibilitas seseorang.
3. Otonomi. Di sana seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi. Ini dapat dilihat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh desakan pihak lain.
4. keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna menginginkan apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih.
Lanjut Forester, kematangan keempat karakter ini, memungkinkan manusia melewati tahap individualitas menuju personalitas. “Orang-orang modern sering mencampuradukkan antara individualitas dan personalitas, antara aku alami dan aku rohani, antara independensi eksterior dan interior”. Karakter inilah yang menentukan forma seorang pribadi dalam segala tindakannya.54
36-37
54 Dharma Kesuma dkk, Pendidikan Karakter: Kajian Teori dan Praktik di Sekolah. h.
4. Karakter adalah sebuah kunci
Karakter adalah kunci keberhasilan individu, membentuk karakter merupakan proses yang berlangsung seumur hidup. Anak-anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter jika ia tumbuh pada lingkungan yang berkarakter pula, dengan begitu, fitrah setiap anak yang dilahirkan suci bisa berkembang optimal. Untuk itu, ada tiga pihak yang mempunyai peran penting, yakni keluarga, sekolah, dan komunitas.
Dalam pembentukan karakter, ada dua hal yang berlangsung secara terintegrasi:
a. Anak mengerti baik dan buruk, mengerti tindakan apa yang harus diambil, mampu memberikan prioritas hal-hal yang baik. Kemudian, mempunyai kecintaan terhadap kebajikan, dan membenci perbuatan buruk. Kecintaan ini merupakan obor atau semangat untuk berbuat kebajikan.
b. Anak mampu melakukan kebajikan, dan terbiasa melakukannya. Lewat proses itu, beberapa karakter yang penting ditanamkan pada anak:
1) Cinta Tuhan dan alam semesta beserta isinya 2) Tanggung jawab
3) Kedisiplinan 4) Kemandirian 5) Kejujuran
6) Hormat dan santun 7) Kasih sayang
8) Kepedulian dan kerja sama 9) Percaya diri
10) Kreatif
11) Kerja keras dan pantang menyerah 12) Keadilan dan kepemimpinan 13) Baik dan rendah hati
14) Toleransi
15) Cinta damai dan persatuan.55
5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Karakter Siswa Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi karakter. Dari sekian banyak faktor tersebut, para ahli menggolongkannya ke dalam dua bagian, yaitu faktor intern dan faktor ekstern.
a. Faktor Intern
Terdapat banyak hal yang mempengaruhi faktor internal ini, di antaranya adalah:
1) Insting atau naluri
2) Adat atau Kebiasaan (Habit) 3) Kehendak/Kemauan (Iradah) 4) Suara Batin atau Suara Hati 5) Keturunan
b. Faktor Ekstern
Selain faktor intern yang mempengaruhi pembentukan karakter, juga terdapat faktor ekstern (yang bersifat dari luar) di antaranya adalah:
1) Pendidikan 2) Lingkungan.56
Langkah-langkah pembentukan karakter menurut Najib Sulhan sebagaimana dikutip oleh Sofan Amri adalah sebagai berikut:
1. Memasukkan konsep karakter pada setiap pembelajaran dengan cara:
55 Sofan Amri, dkk, Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran, (Jakarta:
Prestasi Pustakaraya, 2011), h.103
56 Heri Gunawan, Op. Cit., h. 19-22
1) Menanamkan nilai kebaikan kepada anak (knowing the good).
Menanamkan konsep diri kepada anak setiap akan memasuki materi pelajaran.
2) Menggunakan cara yang membuat anak memiliki alasan atau keinginan untuk berbuat baik (desiring the good).
3) Memberikan beberapa contoh kepada anak mengenai karakter yang sedang dibangun. Misalnya melalui cerita dengan tokoh-tokoh yang mudah dipahami siswa.
4) Mengembangkan sikap mencintai perbuatan baik (loving the good).
Pemberian penghargaan kepada anak yang membiasakan melakukan kebaikan. Anak yang melakukan pelanggaran diberi hukuman yang mendidik.
5) Melaksanakan perbuatan baik (acting the good). Pengaplikasian karakter dalam proses pembelajaran selama di sekolah.
2. Membuat slogan yang mampu menumbuhkan kebiasaan baik dalam segala tingkah laku masyarakat sekolah.
3. Pemantauan secara kontinyu. Merupakan wujud dari pelaksanaan pembangunan karakter.
4. Penilaian orang tua memiliki peranan yang besar dalam membangun karakter anak. Waktu anak di rumah lebih banyak dibandingkan di sekolah. Rumah adalah tempat pertama anak berkomunikasi dan bersosialisasi dengan lingkungannya.57
57 Sofan Amri, dkk., h. 43-44.