• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Kurikulum Adiwiyata Berbasis Kearifan Lokal

8. Prinsip Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya siswa, cita-cita, latar belakang keluarga, cara mendapat pendidikan di rumah, cara pandang, cara belajar, cara berpikir, dan keyakinan siswa berbeda-beda. Oleh karena itu pembelajaran harus melihat perbedaan itu sebagai kekayaan yang potensial dan indah jika dikembangkan menjadi kesatuan yang memiliki unsur keragaman. Saling menghargai dan saling memahami keberagaman. Tidak saling menghina antar lain agama namun saling mendukung untuk menghargai agama sebagai keyakinan masing-masing.

F. Karakteristik Kurikulum Adiwiyata Berbasis

dalam meningkatkan peduli lingkungan dan mempertahankan budaya lokal yang ada dilingkungan masyarakat Kaili, membiasakan menggunakan bahasa daerah di lingkungan sekolah bertujuan dapat memahami arti dan dapat mempertahankan serta mengenalkan bahasa ibu pada siswa, mengenalkan permainan dan kesenian daerah pada siswa agar tidak terkikis oleh kemajuan teknologi yang semakin pesat dan tidak tergantikan oleh game online, mengenalkan makanan khas Kaili agar siswa dapat menyukai makanan sendiri dibanding makanan yang tersedia secara instan serta mengenalkan busana adat Kaili agar siswa percaya diri untuk memakainya di hari besar keagamaan atau hari-hari tertentu lainnya.

Pengenalan busana ini dilakukan juga pada lomba dey nte yojo serta dikenakan pada setiap hari kamis, motif batik bomba dan sampoulu/siga sesuai instruksi oleh wali kota palu perlu dipertahankan.

Selain budaya lokal, kurikulum ini juga bertujuan

untuk memberikan pemahaman kepada siswa tentang bagaimana memelihara lingkungan dan peduli terhadap lingkungan dengan cara mengajarkan membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan toilet, memelihara dan merawat tanaman, serta mengajarkan 5R atau 5M konsep adiwiyata. Kurikulum ini dibuat sedemikian rupa sebab peserta didik/siswa adalah pewaris budaya bangsa di masa mendatang. Kota Palu juga terletak di utara khatulistiwa, menjadikan Kota Palu sebagai salah satu kota tropis terkering di Indonesia dengan curah hujan kurang serta rawan akan gempa dan merupakan daerah yang terdampak bencana tsunami dan likuifaksi serta banjir lumpur sehingga perlu diperkenalkan tentang pendidikan lingkungan sejak dini untuk meminimalisir bencana.

Pengembangan kurikulum lingkungan mengacu pada lingkungan biotik dan lingkungan abiotik, yang akan diberikan dalam materi 4

komponen adiwiyata (kebijakan berwawasan lingkungan, kurikulum berbasis lingkungan, kegiatan lingkungan berbasis partisipatif dan sarana pendukung ramah lingkungan), 5R/5M konsep adiwiyata (mengurangi pemakaian plastik, menggantikan plastik dengan bahan yang dapat dipakai berkali-kali, mendaur ulang bahan bekas menjadi barang pakai, menggunakan kembali perabot yang rusak dengan cara memodifikasi sebagai barang pakai atau memanfaatkan kembali wadah yang dapat diisi ulang dan menanam tanaman khas sebagai TOS atau tanaman pelindung seperti kayu hitam) dan prinsip adiwiyata (partisipatif dan berkelanjutan). Pengenalan budaya: (1) budaya tabe atau permisi ketika hendak melewati orang yang dituakan dilakukan dengan ucapan dan gerakan membungkuk dengan tangan kanan turun

kebawah mengarah ketanah; (2) tindua bersifat syair yang memiliki makna ungkapan itu berupa nasehat misalnya untuk berbuat baik, mematuhi norma-norma adat istiadat, nasehat untuk meninggalkan perbuatan yang tercela, sikap dan perilaku yang bersifat kewenangan dan tidak bertanggung jawab. Pesan-pesan yang disampaikan itu diperuntukkan kepada kelompok-kelompok atau unit-unit sosial termasuk generasi muda (remaja, putra dan putri) serta anggota masyarakat lainnya;

(3) pengetahuan tentang vegetasi/tumbuhan/flora yang dapat menjaga kelestarian hutan dan erosi yang berada di sekitar danau lindu, antara lain:

kayu tea, kayu beata, kayu mona, kayu kapa, kalibau dan kayu hitam. Jenis kayu yang disebutkan itu berlaku pelarangan untuk ditebang, hanya yang dibolehkan diambil adalah ranting-ranting yang kering diperuntukkan kayu bakar. Maksudnya

untuk mengantisipasi agar air di danau tidak melimpah yang dapat menyebabkan tanah menjadi lonsor, tertutup sungai yang mengalir ke danau atau air danau meluap yang berakibat banjir.

Selain itu, bagi masyarakat Kaili juga berlaku secara adat dalam melestarikan hutan dengan jenis pohon yang harus dilestarikan seperti, pohon malabano, nokilana, maravola, malasia, dan tanjaibo; (4) mekanisme pelarangan dan pelestarian hutan, diperlakukan aturan dengan istilah “Ombo” artinya selama masa ombo diberlakukan secara adat, maka jenis pohon yang ada di hutan tidak boleh ditebang atau diambil pohonnya (Saleh, 2013); (5) belajar tentang baju Kaili: nggembe/buya sabbe (baju segi empat dengan hiasan payet dan panjangnya hingga pinggang serta menggunakan hiasan penutup

dada/sampaulu dada serta penutup kepala yang disebut sampaulu dan koje berupa baju berlengan panjang dengan kerah tegak/puruka pajana berupa celana puntung dan dihias sarung lilit sebatas pinggul serta menggunakan penutup kepala yang disebut siga, warna baju terdiri dari warna merah melambangkan keberanian dan kekuatan, warna hitam kesannya elegan dan mampu menyerap energi positif yang memberikan kedisiplinan dan mandiri; (6) belajar agar memahami bahasa Kaili sehari-hari (Hati-hati/pakabelo, Hidung/onge, Hitam/vuri, Hujan/nauda, Hidup/tuvu, Jangan/nemo, Jauh/nakavao, Jalan kaki/nolipa, Jalan-jalan/manjayo, Kabar/kareba, Keluar /nesuvu, Kenapa/nakuya, Kaki/kada, Kau (engkau)/komiu, Kakak/tuaka, Kalau/ane, Ke/ri, Kebun/talua, Kecil/kodi, Kucing/taveve, Lampu/poindo, Melihat/nanggita, Makan/

mangande, Malam/bongi, Mangga/taipa, Matahari/eyo, Membeli/mangali, Mengantuk/

naroyo/nangantuk, Minum/manginu, Muka/wajah/

lenje,Mulut/sumba, Murah/nesampo, Pagi/padondona, Panas/napane, Pasar/gade, Pergi/hau, Permisi/tabe, Perahu/sakaya, Pisang/loka, Pantai/talinti, Ramai/naroa, Rumah/banua, Rambut/bulua, Sakit/dua/nadua, Senyum/nongiri, Saya/yaku, Siang/tongeo, Siapa/sema, Sore/gowiana, Simpan/boli, Tangan/pale, Telinga/talinga, Teman/roa, Tidur/mature, Tunggu/tonggoraka, Terang/reme);

(7) pengenalan makanan khas suku Kaili: terbuat dari bahan alami yang banyak terdapat di daerah Palu, biasanya terbuat dari jagung, sagu, kelapa, daun kelor, bunga pepaya dan berbahan ikan. (uta dada, uta kelo, sesegampaya/sayur bunga papaya,

karoda/makanan sepinggan dari jagung dan daun kelor, binte, talebe/nasi jagung, tinotuan dan kaledo, kue topu-topu, jepa rono, dan tetu).

Pengenalan kesenian Kaili sebagai kearifan lokal, siswa diajarkan mencintai dan mengenal lagu daerah, tarian daerah dan permainan daerah Kaili.

(1) mempelajari lagu Palu Ngataku (Palu tempat tinggalku) dan lagu Sampesuvuroa (saudara dan teman) yang menceritakan kerinduan seorang anak akan situasi kampung halaman sebagai tempat tinggalnya, tempat tinggal neneknya sampai beranak cucu, tempat tinggal ibu dan bapaknya serta keluarganya. Rindu rumah, rindu saudara dan rindu teman. Tempat kelahiran yang kaya dengan hasil buminya dan indah karena terletak di tengah- tengah antara gunung dan teluk. Jika bulan purnama, situasi pantai sangat ramai, tempat berkumpulnya para muda mudi, walau ia jauh di

tempat perantauan yang ramai, namun ia tetap ingat akan kampung halamannya; (2) mempelajari tari pontanu (menggambarkan aktivitas 4 orang atau lebih penari remaja yang sedang menenun sarung donggala/buya sabbe mulai dari memintal benang hingga proses tenun selesai dan membentangkan sarung dengan maksud memperkenalkan pada tamu tentang kain sarung khas donggala; (3) mempelajari tari pomonte terdiri dari kata po/pelaksanaan dan monte/menuai. Tari pomonte diperagakan oleh penari wanita berjumlah 21 orang, 16 orang atau 17 orang. 1 orang sebagai pemimpin/tadulako, tarian ini menggambarkan kebiasaan para gadis saat menyambut musim panen padi. Ungkapan rasa syukur dan bergotong royong untuk menanam padi, menuai, menampi dan menumbuk padi properti

toru/tudung dan salenda/selendang dan (4) mempelajari permainan daerah tilako (permaianan tempurung yang diberi tali dan dimainkan dengan cara menginjak batok tempurung sambil talinya dipegang untuk kesimbangan gerak tangan dan kaki), permainan kadende, dengan membuat garis berupa kotak dan bentuknya adalah garis kotak pertama sejumlah 1, kotak kedua terdapat tiga buah kotak berjejer searah, kotak ketiga- keempat-kelima dan keenam dengan jumlah kotak sama (satu).

Bermain Tilako Tari Pamonte

BAB II

TUJUAN PENDIDIKAN, VISI, MISI, DAN TUJUAN SEKOLAH

Dokumen terkait