Rika Kurnia Rivai, M.Pd Prof. Dr. Yufiarti, M.Psi Dr. Tjipto Sumadi, M.Pd.,M.Si Dr. Elindra Yetti, M.Pd
Perangkat Pembelajaran Kurikulum Adiwiyata Berbasis Kearifan Lokal
Untuk Sekolah Dasar
Pascasarjana
Universitas Negeri Jakarta
Disklaimer: Panduan ini digunakan sebagai acuan untuk sekolah yang akan melaksanakan program sekolah adiwiyata pada jenjang sekolah dasar.
Panduan ini disusun oleh beberapa tim terkait sekolah adiwiyata di Kota Palu. Panduan sewaktuwaktu diperbaiki dan diperbaharui sesuai
kebutuhan dan perubahan zaman. Masukan dari berbagai kalangan diharapkan dapat meningkatkan
kualitas buku ini sehingga tidak termakan oleh zaman. Tidak semua kearifan lokal Sulawesi
Tengah dimuat di dalamnya.
Surat Pencatatan Hak Cipta (HKI):
EC00201951636
Tim Penulis: Rika Kurnia.R, Yufiarti, Tjipto Sumadi, dan Elindra Yetti.
ISBN 978-602-53650-5-8 LPP-Mitra Edukasi (Anggota IKAPI 003/Sulteng/2009).
SAMBUTAN
Assalamu Alaikum Wr Wb dan Salam Sejahtera Buat Semua Tenaga Pendidik (Guru) di Kota Palu, terkhusus Tenaga Pendidik Sekolah Dasar. Adiwiyata adalah suatu program sekolah yang mengintegrasikan pendidikan lingkungan ke dalam lingkungan sekolah yang dicanangkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Pendidikan Nasional bertujuan menjadikan tempat kegiatan pembelajaran yang kondusif dan meningkatkan kesadaran pada warga sekolah untuk turut bertanggung jawab dalam upaya penyelamatan lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan melalui kegiatan sekolah atau adanya mata pelajaran pendidikan lingkungan hidup dalam kurikulum sekolah. Program sekolah adiwiyata pelaksanaannya diatur dalam Peraturan
Mengingat peran guru sebagai pendidik pada lingkungan sekolah, Maka diperlukan peran aktif guru serta peran seluruh warga sekolah dalam kegiatan yang bersifat peduli lingkungan. Bapak Ibu Tenaga Pendidik yang selalu berbahagia.
Pendidikan lingkungan berbasis kearifan lokal dapat membantu menyelamatkan lingkungan dan kepunahan kearifan lokal.
Sebagai upaya untuk menyelamatkan lingkungan dan kepunahan kearifan lokal, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mengintegrasian pendidikan lingkungan berbasis kearifan lokal dalam pembelajaran ditengah derasnya arus globalisasi. Kedua hal tersebut sangat baik diterapkan dalam dunia pendidikan terutama untuk anak usia dini dan sekolah dasar kelas awal, sebab dalam dunia pendidikan lebih mudah mempelajari dan menerapkan segala ilmu
pengetahuan dan berbagai norma serta etika, Implementasi sekolah berwawasan lingkungan berbasis kearifan lokal dilaksanakan melalui berbagai hal yaitu dengan adanya kebijakan- kebijakan, peraturan-peraturan program sekolah,, kegiatan-kegiatan, sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan serta partisipasi seluruh warga sekolah dalam terwujud sekolah berwawasan lingkungan. Program sekolah dapat dibuat dengan tujuan menanamkan sikap peduli lingkungan berbasis kearifan lokal dilakukan agar warga sekolah dapat menjaga lingkungan dan mencintai budaya serta kesenian daerahnya agar tidak punah termakan zaman. Kearifan lokal adalah keunggulan setiap daerah yang perlu dipertahankan dari kepunahan.
Untuk menanamkan sikap peduli lingkungan
dilakukan dengan mengajarkan pendidikan lingkungan berbasis kearifan lokal melalui mata pelajaran muatan lokal.
Bapak Ibu Tenaga Pendidik yang selalu tersenyum, Akhir kata semoga buku panduan ini dapat menjadi salah satu acuan untuk melaksanakan program sekolah adiwiyata guna meningkatkan peduli lingkungan peserta didik, menanamkan rasa cinta terhadap budaya dan kesenian daerah melalui kegiatan pembiasaan, life skill dan kegiatan ekstrakurikuler dengan mengacu pada komponen penilaian adiwiyata, konsep 5R/5M, prinsip adiwiyata, pengenalan budaya dan kesenian daerah
Selamat Membaca Mari Mengajar Dengan CINTA
Salam,
Tim Penyusun
DAFTAR ISI
Sambutan iii
BAB I Pendahuluan
A. Latar Belakang 1
B. Landasan Pengembangan Kurikulum 19 C. Konsep Prosedural 29 D. Tujuan Pengembangan Kurikulum 30 E. Prinsip Pengembangan Kurikulum 31 F. Karakteristik Kurikulum 36 BAB II Tujuan dan Visi Misi
A. Tujuan Pendidikan 47 B. Tujuan Pendidikan Dasar 47 C. Visi Misi dan Tujuan Sekolah 48 D. Tujuan Kurikulum Adiwiyata 49 BAB III Struktur dan Muatan Kurikulum
A. Struktur Kurikulum dan Beban Belajar 51 B. Muatan Kurikulum 54 C. Pengaturan dan Penilaian Beban Belajar 68
D. Penilaian 71
E. Ketuntasan Belajar 72 F. Kriteria Kenaikan Kelas 77
I. Program Adiwiyata Berbasis Kearifan
Lokal 95
j. Pendidikan Penanggulangan Bencana 107 BAB IV KaLender Pendidikan
A. Lokasi Waktu 111
B. Penetapan Kalender 113
BAB V Penutup 120
Daftar Pustaka 121
Lampiran
RPP 125
Silabus 142
SK dan KD 144
KI 148
SKL 150
Tema 153
Buku Siswa 155
BAB I
PENDAHULUAN KURIKULUM ADIWIYATA BERBASIS KEARIFAN LOKAL
A. Latar Belakang
Model Kurikulum Adiwiyata Berbasis Kearifan Lokal disusun berdasarkan Kurikulum 2013 yang selama ini berlaku dan mengacu pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 1 Ayat (1) menyebutkan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dengan kegiatan pembelajaran yang secara aktif mengembangkan potensi siswa untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, peduli pada lingkungan, cinta budaya, berkepribadian, cerdas, berakhlak mulia, serta memiliki keterampilan yang berguna bagi siswa sendiri, masyarakat, bangsa, dan negara (Marzuki, 2012).
Dalam rangka mewujudkan suasana belajar dan kegiatan pembelajaran tersebut, diperlukan suatu kurikulum yang dijadikan sebagai pedoman bagi para pendidik dalam menyelenggarakan kegiatan pembelajaran yang mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 79 tahun 2014 tentang Muatan Lokal Kurikulum 2013 pada pasal 1 menyatakan bahwa muatan lokal merupakan mata pelajaran pada satuan pendidikan yang berisi muatan dan proses pembelajaran tentang potensi dan keunikan lokal untuk membentuk pemahaman peserta didik terhadap keunggulan dan kearifan serta memberi bekal sikap, pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mengenal dan mencintai lingkungan alam, sosial, budaya, melestarikan dan mengembangkan keunggulan dan kearifan daerahnya agar berguna untuk diri dan lingkungannya dalam rangka menunjang
pembangunan nasional (Pendidikan, Kebudayaan, &
Indonesia, 2014).
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup RI Nomor 05 Tahun 2013 tentang Program Adiwiyata pasal 1 menyatakan bahwa program adiwiyata adalah program untuk mewujudkan sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan yang diikuti oleh Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas (Menteri Lingkungan Hidup RI, 2019).
Undang-Undang Republik Indonesia Presiden RI, (2007) Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana pada pasal 44 yang menyatakan bahwa penyelenggaraan penanggulangan bencana pada situasi potensi terjadi bencana meliputi kesiapsiapan (pelatihan psikososial), peringatan dini (penyebarluasan informasi bencana dan tindakan) dan mitigasi bencana (pengaturan ruang, pelatihan, pendidikan dan penyuluhan) yang perlu dilakukan dalam lingkungan masyarakat dan pendidikan secara
partisipatif dengan budaya sekolah sadar bencana (Presiden RI, 2007).
Surat edaran menteri pendidikan dan kebudayaan Makarim Nadiem, (2019) No 12 Tahun 2019 tentang larangan penggunaan kemasan air minum berbahan plastik sekali pakai dan/atau kantong plastik di lingkungan kementerian pendidikan dan kebudayaan (Makarim Nadiem, 2019).
Berdasarkan peraturan menteri tersebut di atas maka pengembangan kurikulum ini dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan daerah setempat yang disesuaikan dengan budaya yang ada, sehingga memungkinkan satuan pendidikan untuk merancang dan menentukan hal-hal yang akan diajarkan, menentukan metode pendekatan yang digunakan pada kegiatan pembelajaran sehingga pengalaman belajar peserta didik lebih bermakna dan menyenangkan, serta dapat menentukan teknik penilaian keberhasilan kegiatan
pembelajaran secara autentik.
Kurikulum Adiwiyata merupakan pengembangan Kurikulum sekolah, dimana pelaksanaannya mulai dilakukan saat Propinsi Sulawesi Tengah memprogramkan sekolah adiwiyata. Atas dasar kebutuhan tersebut beberapa SD Negeri di Kota Palu berupaya untuk mengembangkan kurikulum yang telah mereka buat sebelumnya menjadi kurikulum yang bermuatan lingkungan namun belum sempurna dan belum menonjolkan kearifan lokal, sehingga ada beberapa sekolah yang tidak lanjut pada tahap Propinsi disebabkan karena file kurikulum adiwiyatanya tidak masuk kriteria komponen penilaian sekolah adiwiyata.
Sekolah dasar di Kota Palu telah menggunakan pengembangan kurikulum walau masih sebagian guru mengerti terutama pada aspek penilaiannya. Sebagian besar sekolah di Kota Palu telah memprogramkan sekolah adiwiyata
Nasional dan tingkat Mandiri dengan menerapkan 4 komponen adiwiyata yang meliputi: (1) kebijakan berwawasan lingkungan; (2) pelaksanaan kurikulum berbasis lingkungan; (3) kegiatan lingkungan berbasis partisipatif; dan (4) pengelolaan sarana pendukung yang ramah lingkungan; (5) melaksanakan konsep 5R atau 5M: (a) reduce (mengurangi); (b) reuse (menggunakan kembali); (c) recycle (mendaur ulang); (d) replace (mengganti) dan (e) replant (menanam kembali) serta menerapkan prinsip partisipatif dan berkelanjutan. Dengan pengembangan kurikulum Adiwiyata Berbasis Kearifan Lokal, maka ditambahkan dengan pengenalan Budaya dan Kesenian Daerah Kaili. Maksud dari pengembangan ini agar peserta didik dapat mengenal budaya dan kesenian daerahnya, serta dapat memainkan kembali permainan tradisional dalam lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat sehingga meminimalisir penggunaan game online. Peserta didik juga dapat belajar tari dan lagu daerahnya
serta dapat memahami bahasa ibu sebagai bahasa daerah sehari-hari.
Pengembangan kurikulum juga mengacu pada beberapa penelitian yang memuat pengertian kurikulum, diantaranya adalah:
Kurikulum menurut Julianto, Haryono, dan Khumaedi (2017) adalah seperangkat rencana dan mengatur hubungan tujuan, isi dan bahan Pelajaran dan cara yang alami sebagai panduan penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu sesuai potensi daerah.Kurikulum secara umum dijelaskan sebagai rancangan yang memuat seperangkat mata pelajaran dan/atau materinya yang akan dipelajari atau akan diajarkan guru kepada siswa (Ahmad Dwi Nur Khalim, 2019).
Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan, banyak yang mencantumkan tentang pengertian kurikulum, di antaranya:
1. Penelitian Alawiyah, kurikulum mencakup semua kegiatan pendidikan dan pengalaman siswa di bawah pengawasan lembaga
pendidikan, baik di dalam maupun di luar kelas sehingga siswa dapat memiliki minat dalam belajar (Alawiyah, 2015).
2. James A. Beane dalam Thaib & Siswanto (2015) mendefinisikan kurikulum menjadi empat kategori yaitu: (1) Kurikulum berupa produk dokumen yang berisi semua mata pelajaran, silabus, sederetan keterampilan, buku teks dan tujuan yang ingin dicapa; (2) Kurikulum sebagai program yang terdiri dari serangkaian mata pelajaran wajib dan mata pelajaran pilihan yang diajarkan di sekolah atau lembaga; (3) Kurikulum sebagai bekal dalam belajar berupa pengetahuan, keahlian, keterampilan, sikap dan juga perilaku yang mengandung arti dari sesuatu yang diajarkan; (4) Kurikulum diartikan sebagai pengalaman peserta didik dari serangkaian peristiwa yang dialami dalam belajar, sebagai hasil dari berbagai situasi yang direncanakan dan yang tidak direncanakan.
3. Penelitian Riafadilah dan Mukhidin (2018) mengatakan bahwa kurikulum adalah pengaturan rencana, konten dan bahan pembelajaran yang dirancang oleh guru sebagai pedoman untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai tujuan yang telah ditetapkan.
4. Kurikulum sebagai suatu substansi, yakni bahwa kurikulum adalah sebuah rencana kegiatan belajar para siswa di sekolah yang mencakup rumusan tujuan, bahan ajar, proses kegiatan pembelajaran, jadwal dan kegiatan evaluasi (Musanna, 2016).
5. Kurikulum juga merupakan jantung dari program belajar mengajar guru dalam merumuskan hasil dan tujuan pembelajaran yang ditunjuk serta mentransformasikan semua tujuan yang dirumuskan kepada siswa (Habiburrahim, 2017).
6. Kurikulum sebagai susunan pengalaman yang digunakan guru sebagai proses dan
prosedur untuk membimbing anak didik menuju pada kedewasaan (Lase, 2015).
7. Kurikulum diartikan sebagai keseluruhan pengalaman pendidikan, moral, olahraga, kesenian yang akan disampaikan atau diwariskan kepada peserta didik dengan maksud untuk mengembangkan potensi sehingga dapat merubah tingkah laku mereka untuk menjadi lebih baik sesuai tujuan pendidikan. Kurikulum juga merupakan rencana pelajaran di lingkungan sekolah (Asmariani, 2014).
Dari pengertian kurikulum di atas disimpulkan bahwa kurikulum sekolah dikembangkan berdasarkan kebutuhan peserta didik dan lingkungan setempat menjadi suatu produk yang memuat visi misi sekolah, tujuan pendidikan, materi pelajaran, sampai pada kalender pendidikan sebagai acuan untuk melakukan proses pembelajaran sehingga terwujud
pengalaman belajar yang bermakna dan menyenangkan bagi peserta didik.
Atas dasar peraturan yang telah ditetapkan maka kewenangan setiap satuan pendidikan dalam menyusun dan mengembangkan kurikulumnya sendiri memungkinkan dapat menyesuaikan program pendidikan dengan tuntutan kebutuhan siswa, perkembangan zaman dan perubahan pola hidup masyarakat, keadaan sekolah, dan kondisi daerah yang memiliki keberagaman potensi dan kekhasan budaya dan tradisi, serta kebutuhan masyarakat di sekitar sekolah.
Penyusunan dan pengembangan kurikulum SD Kota Palu dibuat dengan mempertimbangkan tantangan internal dan eksternal. Tantangan internal terkait dengan tuntutan pendidikan yang mengacu kepada 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan yang meliputi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana
pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan.
Tantangan eksternal terkait dengan arus globalisasi dan berbagai isu yang terkait dengan kemajuan teknologi, informasi perkembangan pendidikan di tingkat nasional dan internasional.
Arus globalisasi akan menggeser pola hidup dan budaya masyarakat Kaili. Bila hal ini tidak ditangani secara tepat boleh jadi masyarakat Kaili tinggal nama dan terlupakan.
Secara teoritis, pengembangan kurikulum dapat terjadi kapan saja sesuai dengan kebutuhan, kondisi, dan keadaan darurat yang tiba-tiba terjadi. Kurikulum dapat diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai yang dipelajari siswa dalam lingkungan pendidikan secara berkelanjutan (Hismanoglu et al., 2012).
Pengembangan Kurikulum Adiwiyata Berbasis Kearifan Lokal dilakukan berdasarkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa sebagai satu kesatuan kegiatan pendidikan yang terjadi di sekolah. Nilai-nilai karakter yang dikembangkan
dan menjadi fokus adalah religius, disiplin, jujur, toleransi, kreatif, berbudaya, gotong royong dan peduli lingkungan serta mengutamakan pendekatan pembelajaran secara aktif, kreatif dan menyenangkan. Hal ini dimaksudkan untuk berperilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama, berperilaku yang didasarkan pada upaya menjadi dirinya sebagai orang yang selalu dipercaya, berfikir sesuatu untuk menghasilkan cara baru dilingkungan alam sekitarnya dan mengembangkan upaya untuk memperbaiki kerusakan alam. Nilai-nilai karakter ini terintegrasi dalam seluruh kegiatan sekolah dan dijadikan sebagai budaya sekolah.
Kurikulum muatan lokal adalah “program pendidikan sekolah yang berisi materi dan metode pembelajarannya dikaitkan dengan lingkungan alam, lingkungan sosial, dan lingkungan budaya serta kebutuhan daerah” (Nasir, 2013).
Kurikulum ini khusus dibuat untuk digunakan
sekitarnya serta sekolah yang memprogramkan mata pelajaran muatan lokal untuk siswa kelas satu dan tidak semua budaya lokal dimuat di dalamnya, kurikulum ini bertujuan agar siswa dapat peduli terhadap lingkungan dan mempertahankan kearifan lokal yang ada, materi yang diajarkan adalah materi lingkungan hidup yang mencakup pengenalan lingkungan agar tidak menimbulkan bencana, cara memelihara, merawat, dan menanam, manfaat barang bekas, membuat hiasan atau benda pakai dari bahan bekas, memanfaatkan sarana sebagai media pembelajaran, membuat hidroponik sederhana, membuat kompos dari daun yang berguguran/mati, membibitkan tanaman obat (jahe merah/goraka dan bawang dayak) yang ampuh mengobati berbagai penyakit, serta merupakan bahan dasar yang banyak dijumpai di sekitar lingkungan Kota Palu.
Jahe Merah Bawang Dayak
Selain itu memuat materi pemanfaatan bahan alam dan barang bekas sebagai media pembelajaran. Adapun materi kearifan lokal mencakup pengenalan bahan alam yang banyak ditemukan di sekitar lingkungan, menggunakan bahan alam sebagai media pembelajaran, menanam tanaman obat berbahan lokal, mengenal makanan khas daerah yang terbuat dari bahan lokal (bunga pepaya, ikan dan kelor), mengenal permainan dan kesenian daerah serta bahasa daerah Kaili sehari- hari.
Temu Lawak Bunga Pepaya Ikan Cakalang Di Kota Palu mata pelajaran muatan lokal pada umumnya tidak diajarkan pada siswa kelas satu, melainkan hanya diajarkan pada siswa yang duduk di kelas tiga dengan materi pengenalan dan penggunaan bahasa daerah Kaili, itupun belum ada buku sebagai pegangan guru sehingga yang mengajarkan betul-betul guru yang berasal dari daerah Kaili, guru kelas yang lahir di zaman modern, tidak dapat menggunakan bahasa ibu (Kaili) sehingga setiap sekolah yang akan memprogramkan muatan lokal bahasa Kaili perlu mencari guru yang bisa memahami bahasa tersebut, jika tidak ada maka muatan lokal yang diajarkan adalah kesenian dan wirausaha. Oleh
sebab itu, maka dikembangkanlah kurikulum adiwiyata berbasis kearifan lokal yang dapat digunakan sebagai acuan untuk mengenalkan pendidikan lingkungan berbasis kearifan lokal, panduan menuju program sekolah adiwiyata serta panduan mengembangkan perangkat pembelajaran.
Secara psikologi dapat menciptakan situasi-situasi dimana anak dapat belajar untuk mengembangkan bakat dan potensinya. Kurikulum juga dikembangkan dengan mengacu pada peraturan yang berlaku.
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup RI Siti Nurbaya (2019) Nomor P.52 tahun 2019 tentang gerakan peduli dan berbudaya lingkungan hidup di sekolah.
Perda Prop Sulteng, (2014) Nomor 02 Tahun 2014 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Dan Kebudayaan Daerah Bab II bagian ketiga pasal 7 no 8 menyatakan bahwa materi muatan lokal diarahkan untuk menunjang kompetensi dasar dan
Perda Wali Kota Palu Hidayat, (2016) Nomor 3 Tahun 2016 pasal 1 no 14b tentang pengurangan sampah dan 14c tentang pemilahan sampah.
Mohammad Nuh, (2007) dengan Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2014 Tentang Pedoman Pelestarian Tradisi adalah upaya pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan pendukung kebudayaan yang turun temurun.
Kurikulum adiwiyata berbasis kearifan lokal dikembangkan agar dapat memberi kesempatan kepada peserta didik untuk beriman dan bertaqwa, belajar secara efektif, berguna bagi orang lain, dapat hidup bersama, membangun jati diri, melakukan pembiasaan, memanfaatkan kearifan lokal, peduli lingkungan dan mengembangkan upaya untuk memperbaiki kerusakan alam.
B. Landasan Pengembangan Kurikulum 1. Landasan Filosofis
Sekolah sebagai pusat pengembangan budaya tidak terlepas dari kondisi sosial dan nilai- nilai budaya yang dianut oleh suatu bangsa. Bangsa Indonesia memiliki nilai-nilai budaya yang bersumber dari Pancasila, sebagai falsafat hidup berbangsa dan bernegara, yang mencakup religius, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan.
Nilai-nilai ini dijadikan dasar filosofis dalam pengembangan kurikulum sekolah terintegrasi.
Pendidikan memberikan dasar bagi peserta didik berpartisipasi dalam membangun kehidupan masa kini dan berfikir secara menyeluruh yang dapat membuat mengerti akan berperilaku bijak (Nana Syaodhi Sukmadinata, 2015). Pendidikan mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki peserta didik. Pendidikan adalah proses pengembangan jatidiri peserta didik. Pendidikan
menempatkan peserta didik sebagai subjek yang belajar.
Berdasarkan hal tersebut, kurikulum adiwiyata berbasis kearifan lokal yang terintegrasi ini dikembangkan menggunakan filosofi sebagai berikut;
a) Kurikulum dikembangkan berdasarkan Essensialisme yang menekankan pentingnya pewarisan budaya bangsa Indonesia yang beragam, untuk mempersiapkan kehidupan generasi muda bangsa, pemberian pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna. Kurikulum yang dikembangkan dapat memberikan kesempatan luas bagi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang diperlukan bagi kehidupan di masa kini dan b) masa yang akan datang dengan mengenalkan
materi yang dapat mereka pahami serta berguna untuk meningkatkan taraf hidupnya di masa mendatang.
c) Proses pendidikan adalah suatu proses yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi diri, kurikulum juga dikembangkan berdasarkan Progresivisme yang menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada peserta didik, variasi pengalaman belajar dan proses.
Progresivisme merupakan landasan bagi pengembangan belajar peserta didik aktif. dan berpikir rasional terhadap apa yang dilihat, didengar, dibaca, dipelajari sesuai dengan tingkat kematangan psikologis serta kematangan fisik peserta didik. Kurikulum ini juga memposisikan keunggulan budaya untuk menimbulkan rasa bangga dalam kehidupan berbangsa masa kini. Dengan mengenalkan kebudayaan dan kesenian daerah Kaili setidaknya siswa dapat tahu kearifan lokal yang mereka miliki dan tidak kalah dengan kearifan lokal di daerah lain.
d) Kurikulum Rekonstruktivisme sangat menekankan peradaban manusia di masa depan, pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya.
e) Membangun kehidupan masa kini dan masa depan yang lebih baik dari masa lalu dengan berbagai kemampuan, sikap sosial, kepedulian terhadap sesama dan lingkungan,
f) Mengembangkan potensi peserta didik dalam berpikir reflektif untuk penyelesaian masalah sosial di masyarakat dalam membangun kehidupan masyarakat demokratis yang lebih baik serta mengembangkan kehidupan individu peserta didik dalam beragama, seni, kreativitas, berkomunikasi, berbudaya, peduli lingkungan dan cepat tanggap dalam masyarakat, berbangsa dan bernegara.
2. Landasan Sosiologis
Pendidikan menyiapkan anak untuk hidup bermasyarakat karena pendidikan mengandung nilai budaya yang ada dan diharapkan masyarakat.
Peserta didik pada akhirnya akan kembali ke masyarakat sehingga peserta didik harus dididik agar dapat menjadi masyarakat yang berbudaya untuk diterima di lingkungannya. Setiap daerah memiliki budaya dan lingkungan yang berbeda sehingga kurikulum disetiap daerah harus mencirikan potensi, kebutuhan masyarakat dan lingkungan daerahnya baik dalam konteks lokal, nasional maupun global. Ahmad Dwi Nur Khalim (2019) mengatakan bahwa masyarakat tidak akan ada tanpa budaya sebab masyarakat bisa hidup dan berkembang terus melalui kebudayaan.
3. Landasan Psikopedagogis
Kurikulum dimaksudkan untuk memenuhi tuntutan pewujudan konsepsi pendidikan yang bersumbu pada perkembangan peserta didik
beserta konteks kehidupannya sebagaimana dimaknai dalam konsepsi pedagogik transformatif.
Konsepsi ini menuntut bahwa kurikulum harus didudukkan sebagai wahana pendewasaan peserta didik sesuai dengan psikologis perkembangan dan psikologis belajar (hakekat belajar dan teori belajar) sehingga mendapat perlakuan pegagogis sesuai dengan konteks lingkungan, kearifan lokal dan cepat tanggap dalam berbagai hal serta perkembangan zaman (Bahri, 2011).
Kurikulum berbasis mata pelajaran yang bersifat tematik terpadu mencerminkan pertimbangan psikopedagogis anak yang memerlukan penanganan kurikuler sesuai dengan tahap perkembangannya. Kurikulum membentuk sikap kepribadian yang kreatif dan mampu membawa pemikiran anak kearah yang lebih dewasa dalam memecahkan masalah yang dihadapinya.
4. Landasan Teoritis
Kurikulum adiwiyata berbasis kearifan lokal dikembangkan atas teori “Pendidikan Berdasarkan Standar” (Standard-Based Education), dan Teori Kurikulum Berbasis Kompetensi (Competency Based Curriculum). Pendidikan berdasarkan standar menetapkan adanya standar nasional sebagai kualitas minimal warganegara yang dirinci menjadi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Kurikulum adiwiyata berbasis kearifan lokal dirancang untuk memberikan pengalaman belajar seluas-luasnya bagi peserta didik dalam mengembangkan kemampuan untuk bersikap, berpengetahuan, berketerampilan, dan bertindak untuk melaksanakan suatu tugas di sekolah, masyarakat dan lingkungan dimana anak berinteraksi dalam
pengetahuan. Kurikulum adiwiyata berbasis kearifan lokal menganut: (a) pembelajaran yang dilakukan guru (taught curriculum) dalam bentuk proses yang dikembangkan berupa kegiatan pembelajaran di sekolah, kelas, dan masyarakat;
dan (b) pengalaman belajar langsung peserta didik (learned-curriculum) sesuai dengan latar belakang, karakteristik, dan kemampuan awal peserta didik.
Pengalaman belajar langsung secara individual menjadi hasil belajar bagi dirinya, sedangkan hasil belajar seluruh peserta didik menjadi hasil kurikulum.
5. Landasan Yuridis
Kurikulum adalah suatu kebijakan publik yang didasarkan pada filosofis bangsa di bidang pendidikan. Secara yuridis kurikulum adiwiyata berbasis kearifan lokal dikembangkan berdasarkan:
a) Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional;
b) Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013
c) Peraturan Mendikbud no. 20 tahun 2016 tentang Standar Kompetensi Lulusan;
d) Peraturan Mendikbud no. 21 tahun 2016 tentang Standar Isi
e) Peraturan Mendikbud no. 22 tahun 2016 tentang Standar Proses;
f) Peraturan Mendikbud no. 23 tahun 2016 tentang Standar Penilaian;
g) Peraturan Mendikbud no. 24 tahun 2016 tentang KI Dan KD
h) Peraturan Mendikbud no. 67 tahun 2013 tentang Struktur Kurikulum SD-MI;
i) Peraturan Mendikbud no. 81A Implementasi Kurikulum 2013
j) Peraturan Menteri Pendidikan Dan
Tahun 2014 Tentang Muatan Lokal Kurikulum 2013.
k) Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 05 Tahun 2013 Tentang Pedoman Pelaksanaan Program Adiwiyata di sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.
l) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana pasal 26 hak setiap orang dan pasal 44 penanggulangan bencana.
Dalam peraturan ini juga dicantumkan menghargai budaya lokal dan melindungi lingkungan yang juga tercantum pada Kurikulum 2013.
m) Surat Edaran No 12 tahun 2019 tentang larangan penggunaan kemasan plastik n) Surat edaran tentang covid-19 yang
melanda dunia saat ini, sehingga mereka akan tahu apa dampak dari kecerobohan dengan tidak mematuhi aturan yang
berlaku dan dampak baiknya, siswa dapat menjaga kebersihan diri sendiri dengan selalu mencuci tangan jika telah melakukan sesuatu.
6. Landasan Konseptual Kurikulum a. Peduli lingkungan
b. Kurikulum berbasis kearifan lokal c. Pembelajaran berorientasi pada tema d. Pendekatan pembelajaran aktif, kreatif
dan menyenangkan
e. Pembelajaran dengan pendekatan saintifik
f. Penilaian autentik yang valid, utuh dan menyeluruh
C. Konsep Prosedural Kurikulum 1. Melakukan analisis kebutuhan
2. Melakukan perencanaan desain kurikulum 3. Melakukan pengembangan kurikulum 4. Menilai kelayakan kurikulum
5. Digunakan pada proses pembelajaran 6. Menilai efektifitas kurikulum
7. Merevisi kurikulum
8. Menerapkan dan menyebarluaskan untuk sekolah binaan
D. Tujuan Pengembangan Kurikulum
Mempersiapkan siswa menjadi insan Indonesia yang memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi yang aktif, produktif dan kreatif, serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan peradaban dunia. Siswa dapat peduli terhadap lingkungan dan mencintai budaya serta keseniannya sendiri, sedangkan pada proses penilaian, dari berfokus pada penilaian output menjadi berbasis kemampuan melalui penilaian proses.
E. Prinsip Pengembangan Kurikulum
Pelaksanaan pembelajaran pada pelaksanaan kurikulum adiwiyata berbasis kearifan lokal memiliki karakteristik yang berbeda dari pelaksanaan kurikulum 2013. Berdasarkan hasil analisis terhadap kondisi yang diharapkan terdapat beberapa prinsip pengembangan yang perlu diterapkan.
Adapun prinsip tersebut antara lain adalah sebagai berikut:
1. Prinsip Relevansi, kurikulum sangat erat kaitannya dengan lingkungan setempat dan peserta didik sehingga isi atau muatan kurikulum seperti bahan pengajaran, hendaknya disesuaikan dengan kehidupan peserta didik. Sebagai contoh, sekolah yang berada di perkotaan, anak didiknya diajarkan tentang polusi udara dari pabrik atau kendaraan, cara membuang sampah yang baik, memilah sampah, mendaur ulang
sampah, manfaat sampah dari bahan makanan (sayuran yang busuk), pembibitan, dan pemanfaatan media teknologi dengan baik, sedangkan untuk sekolah-sekolah yang berada di daerah pedesaan, tentu saja peserta didiknya ditawarkan hal-hal yang relevan. Misalnya, memperkenalkan pertanian kepada anak didik, karena daerah tersebut merupakan daerah pedesaan yang subur akan pertanian.
Begitu juga dengan daerah pedesaan lain yang kaya akan perikanan, persawahan, kerajinan, dan lain-lain. Kurikulum juga harus relevan dengan kemajuan pendidikan agar materi yang diberikan dapat seiring dengan kemajuan teknologi yang semakin hari semakin berinovasi. Kurikulum dan proses pendidikan sedapat mungkin dikaitkan dengan dunia kerja sehingga pengetahuan yang diperoleh peserta didik
dapat diaplikasikan dengan baik dalam dunia kerja.
2. Prinsip Efektivitas, sejauh mana tingkat perencanaan kurikulum tercapai sesuai yang diharapkan, konsep efeltivitas adalah efektivitas mengajar pendidik, yang berkaitan dengan tingkat keterlaksanaan kegiatan belajar mengajar yang direncanakan dan efektivitas belajar anak didik, yang berhubungan dengan tingkat ketercapaian tujuan pengajaran melalui kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan.
3. Prinsip Efisiensi, dikatakan efisien jika dapat mendayagunakan waktu, biaya dan sumber lainnya dengan baik dan tepat.
4. Prinsip Berkesinambungan, Prinsip kesinambungan dalam pengembangan kurikulum menunjukkan adanya keterkaitan antara tingkat pendidikan,
jenis dan program pendidikan, serta bidang studi baik vertikal maupun horisontal.
5. Prinsip Fleksibilitas, Kurikulum yang dikembangkan harus memiliki ruang gerak yang memberikan kebebasan dalam bertindak. Konsep fleksibilitas dalam kurikulum dapat dimaknai luwes dalam memilih program pendidikan dan mengembangkan pembelajaran.
6. Prinsip Berorientasi pada Tujuan, isi atau bahan pelajaran, alokasi waktu, media/sumber belajar, kegiatan pembelajaran, penilaian diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Dianjurkan pula untuk materi tertentu siswa memanfaatkan sumber belajar di sekitar lingkungan masyarakat. Tentu dengan pendekatan ini pembelajaran tidak cukup dengan pelaksanaan tatap muka dalam kelas melainkan juga dapat dilakukan
di luar kelas dengan memanfaatkan sarana sebagi media pembelajaran yang ada dan dinilai melalui sikap, pengetahuan, dan keterampilan siswa.
7. Prinsip Pembelajaran Bermakna, pembelajaran dilakukan dalam bentuk pembelajaran secara langsung dilakukan oleh siswa dengan cara praktek, kegiatan pembelajaran saat ini siswa harus melihat fakta bukan gambar, video, atau teks yang dilihat siswa, melainkan langsung meraba dan merasa dengan panca indranya. Siswa belajar dengan menggunakan panca indra lainnya, proses pembelajaran menghasilkan karya, serta siswa diajarkan keterampilan berkomunikasi yang santun sebagai aktivitas yang tidak hanya diperlukan dalam budaya lokal, namun bermanfaat untuk masa depannya untuk hidup dikalangan masyarakat lain.
8. Prinsip Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya siswa, cita-cita, latar belakang keluarga, cara mendapat pendidikan di rumah, cara pandang, cara belajar, cara berpikir, dan keyakinan siswa berbeda-beda. Oleh karena itu pembelajaran harus melihat perbedaan itu sebagai kekayaan yang potensial dan indah jika dikembangkan menjadi kesatuan yang memiliki unsur keragaman. Saling menghargai dan saling memahami keberagaman. Tidak saling menghina antar lain agama namun saling mendukung untuk menghargai agama sebagai keyakinan masing-masing.
F. Karakteristik Kurikulum Adiwiyata Berbasis Kearifan Lokal
Implementasi pengembangan kurikulum adiwiyata berbasis kearifan lokal bertujuan agar siswa dapat memiliki pengetahuan dan pemahaman
dalam meningkatkan peduli lingkungan dan mempertahankan budaya lokal yang ada dilingkungan masyarakat Kaili, membiasakan menggunakan bahasa daerah di lingkungan sekolah bertujuan dapat memahami arti dan dapat mempertahankan serta mengenalkan bahasa ibu pada siswa, mengenalkan permainan dan kesenian daerah pada siswa agar tidak terkikis oleh kemajuan teknologi yang semakin pesat dan tidak tergantikan oleh game online, mengenalkan makanan khas Kaili agar siswa dapat menyukai makanan sendiri dibanding makanan yang tersedia secara instan serta mengenalkan busana adat Kaili agar siswa percaya diri untuk memakainya di hari besar keagamaan atau hari-hari tertentu lainnya.
Pengenalan busana ini dilakukan juga pada lomba dey nte yojo serta dikenakan pada setiap hari kamis, motif batik bomba dan sampoulu/siga sesuai instruksi oleh wali kota palu perlu dipertahankan.
Selain budaya lokal, kurikulum ini juga bertujuan
untuk memberikan pemahaman kepada siswa tentang bagaimana memelihara lingkungan dan peduli terhadap lingkungan dengan cara mengajarkan membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan toilet, memelihara dan merawat tanaman, serta mengajarkan 5R atau 5M konsep adiwiyata. Kurikulum ini dibuat sedemikian rupa sebab peserta didik/siswa adalah pewaris budaya bangsa di masa mendatang. Kota Palu juga terletak di utara khatulistiwa, menjadikan Kota Palu sebagai salah satu kota tropis terkering di Indonesia dengan curah hujan kurang serta rawan akan gempa dan merupakan daerah yang terdampak bencana tsunami dan likuifaksi serta banjir lumpur sehingga perlu diperkenalkan tentang pendidikan lingkungan sejak dini untuk meminimalisir bencana.
Pengembangan kurikulum lingkungan mengacu pada lingkungan biotik dan lingkungan abiotik, yang akan diberikan dalam materi 4
komponen adiwiyata (kebijakan berwawasan lingkungan, kurikulum berbasis lingkungan, kegiatan lingkungan berbasis partisipatif dan sarana pendukung ramah lingkungan), 5R/5M konsep adiwiyata (mengurangi pemakaian plastik, menggantikan plastik dengan bahan yang dapat dipakai berkali-kali, mendaur ulang bahan bekas menjadi barang pakai, menggunakan kembali perabot yang rusak dengan cara memodifikasi sebagai barang pakai atau memanfaatkan kembali wadah yang dapat diisi ulang dan menanam tanaman khas sebagai TOS atau tanaman pelindung seperti kayu hitam) dan prinsip adiwiyata (partisipatif dan berkelanjutan). Pengenalan budaya: (1) budaya tabe atau permisi ketika hendak melewati orang yang dituakan dilakukan dengan ucapan dan gerakan membungkuk dengan tangan kanan turun
kebawah mengarah ketanah; (2) tindua bersifat syair yang memiliki makna ungkapan itu berupa nasehat misalnya untuk berbuat baik, mematuhi norma-norma adat istiadat, nasehat untuk meninggalkan perbuatan yang tercela, sikap dan perilaku yang bersifat kewenangan dan tidak bertanggung jawab. Pesan-pesan yang disampaikan itu diperuntukkan kepada kelompok-kelompok atau unit-unit sosial termasuk generasi muda (remaja, putra dan putri) serta anggota masyarakat lainnya;
(3) pengetahuan tentang vegetasi/tumbuhan/flora yang dapat menjaga kelestarian hutan dan erosi yang berada di sekitar danau lindu, antara lain:
kayu tea, kayu beata, kayu mona, kayu kapa, kalibau dan kayu hitam. Jenis kayu yang disebutkan itu berlaku pelarangan untuk ditebang, hanya yang dibolehkan diambil adalah ranting-ranting yang kering diperuntukkan kayu bakar. Maksudnya
untuk mengantisipasi agar air di danau tidak melimpah yang dapat menyebabkan tanah menjadi lonsor, tertutup sungai yang mengalir ke danau atau air danau meluap yang berakibat banjir.
Selain itu, bagi masyarakat Kaili juga berlaku secara adat dalam melestarikan hutan dengan jenis pohon yang harus dilestarikan seperti, pohon malabano, nokilana, maravola, malasia, dan tanjaibo; (4) mekanisme pelarangan dan pelestarian hutan, diperlakukan aturan dengan istilah “Ombo” artinya selama masa ombo diberlakukan secara adat, maka jenis pohon yang ada di hutan tidak boleh ditebang atau diambil pohonnya (Saleh, 2013); (5) belajar tentang baju Kaili: nggembe/buya sabbe (baju segi empat dengan hiasan payet dan panjangnya hingga pinggang serta menggunakan hiasan penutup
dada/sampaulu dada serta penutup kepala yang disebut sampaulu dan koje berupa baju berlengan panjang dengan kerah tegak/puruka pajana berupa celana puntung dan dihias sarung lilit sebatas pinggul serta menggunakan penutup kepala yang disebut siga, warna baju terdiri dari warna merah melambangkan keberanian dan kekuatan, warna hitam kesannya elegan dan mampu menyerap energi positif yang memberikan kedisiplinan dan mandiri; (6) belajar agar memahami bahasa Kaili sehari-hari (Hati-hati/pakabelo, Hidung/onge, Hitam/vuri, Hujan/nauda, Hidup/tuvu, Jangan/nemo, Jauh/nakavao, Jalan kaki/nolipa, Jalan-jalan/manjayo, Kabar/kareba, Keluar /nesuvu, Kenapa/nakuya, Kaki/kada, Kau (engkau)/komiu, Kakak/tuaka, Kalau/ane, Ke/ri, Kebun/talua, Kecil/kodi, Kucing/taveve, Lampu/poindo, Melihat/nanggita, Makan/
mangande, Malam/bongi, Mangga/taipa, Matahari/eyo, Membeli/mangali, Mengantuk/
naroyo/nangantuk, Minum/manginu, Muka/wajah/
lenje,Mulut/sumba, Murah/nesampo, Pagi/padondona, Panas/napane, Pasar/gade, Pergi/hau, Permisi/tabe, Perahu/sakaya, Pisang/loka, Pantai/talinti, Ramai/naroa, Rumah/banua, Rambut/bulua, Sakit/dua/nadua, Senyum/nongiri, Saya/yaku, Siang/tongeo, Siapa/sema, Sore/gowiana, Simpan/boli, Tangan/pale, Telinga/talinga, Teman/roa, Tidur/mature, Tunggu/tonggoraka, Terang/reme);
(7) pengenalan makanan khas suku Kaili: terbuat dari bahan alami yang banyak terdapat di daerah Palu, biasanya terbuat dari jagung, sagu, kelapa, daun kelor, bunga pepaya dan berbahan ikan. (uta dada, uta kelo, sesegampaya/sayur bunga papaya,
karoda/makanan sepinggan dari jagung dan daun kelor, binte, talebe/nasi jagung, tinotuan dan kaledo, kue topu-topu, jepa rono, dan tetu).
Pengenalan kesenian Kaili sebagai kearifan lokal, siswa diajarkan mencintai dan mengenal lagu daerah, tarian daerah dan permainan daerah Kaili.
(1) mempelajari lagu Palu Ngataku (Palu tempat tinggalku) dan lagu Sampesuvuroa (saudara dan teman) yang menceritakan kerinduan seorang anak akan situasi kampung halaman sebagai tempat tinggalnya, tempat tinggal neneknya sampai beranak cucu, tempat tinggal ibu dan bapaknya serta keluarganya. Rindu rumah, rindu saudara dan rindu teman. Tempat kelahiran yang kaya dengan hasil buminya dan indah karena terletak di tengah- tengah antara gunung dan teluk. Jika bulan purnama, situasi pantai sangat ramai, tempat berkumpulnya para muda mudi, walau ia jauh di
tempat perantauan yang ramai, namun ia tetap ingat akan kampung halamannya; (2) mempelajari tari pontanu (menggambarkan aktivitas 4 orang atau lebih penari remaja yang sedang menenun sarung donggala/buya sabbe mulai dari memintal benang hingga proses tenun selesai dan membentangkan sarung dengan maksud memperkenalkan pada tamu tentang kain sarung khas donggala; (3) mempelajari tari pomonte terdiri dari kata po/pelaksanaan dan monte/menuai. Tari pomonte diperagakan oleh penari wanita berjumlah 21 orang, 16 orang atau 17 orang. 1 orang sebagai pemimpin/tadulako, tarian ini menggambarkan kebiasaan para gadis saat menyambut musim panen padi. Ungkapan rasa syukur dan bergotong royong untuk menanam padi, menuai, menampi dan menumbuk padi properti
toru/tudung dan salenda/selendang dan (4) mempelajari permainan daerah tilako (permaianan tempurung yang diberi tali dan dimainkan dengan cara menginjak batok tempurung sambil talinya dipegang untuk kesimbangan gerak tangan dan kaki), permainan kadende, dengan membuat garis berupa kotak dan bentuknya adalah garis kotak pertama sejumlah 1, kotak kedua terdapat tiga buah kotak berjejer searah, kotak ketiga- keempat-kelima dan keenam dengan jumlah kotak sama (satu).
Bermain Tilako Tari Pamonte
BAB II
TUJUAN PENDIDIKAN, VISI, MISI, DAN TUJUAN SEKOLAH
A. Tujuan Pendidikan
Tujuan Pendidikan Nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang: beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
B. Tujuan Pendidikan Dasar
Tujuan Pendidikan Dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, peduli sesama dan lingkungan serta terampil untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
C. Visi, Misi, dan Tujuan Sekolah
Berdasarkan Visi Pemerintah Daerah Kota Palu yaitu “Palu Kota Jasa Berbudaya dan Beradat Dilandasi Iman dan Taqwa” serta mengacu pada motto Kota Palu “Masintuvu Kita Maroso, Morambanga Kita Marisi” yang artinya bersatu kita kuat bersama kita kokoh, maka visi sekolah adiwiyata berbasis kearifan lokal yang dikembangkan adalah:
Visi Sekolah Adiwiyata Berbasis Kearifan Lokal
Misi Sekolah Adiwiyita Berbasis Kearifan Lokal 1. Membentuk pribadi yang religius
2. Menerapkan nilai-nilai pendidikan karakter 3. Menciptakan suasana pembelajaran yang
aktif, kreatif dan menyenangkan.
“Unggul Dalam Mutu, Berkarakter, Berbudaya, Peduli Lingkungan, Cepat Tanggap Dan Berbudi Pekerti
Luhur Yang Dilandasi Iman Dan Taqwa”
4. Membentuk peserta didik yang prestasi dalam bidang akademik dan non akademik 5. Mewujudkan rasa cinta dan melestarikan
budaya lokal
6. Mewujudkan perilaku hidup bersih dan peduli terhadap lingkungan.
D. Tujuan Kurikulum Adiwiyata Berbasis Kearifan Lokal
1. Sekolah mampu menciptakan peserta didik yang religius.
2. Sekolah mampu mengembangkan kurikulum berbasis kearifan lokal, berbudaya lingkungan dan cepat tanggap dalam situasi apapun
3. Sekolah mampu membuat silabus dan RPP lingkungan dari kelas I s/d VI yang berbasis kearifan lokal, peduli lingkungan dan cepat tanggap dalam situasi apapun
4. Sekolah mampu menghasilkan prestasi akademik dan non akademik ditingkat Kecamatan, Kota, Provinsi dan Nasional.
5. Sekolah mampu menciptakan peserta didik yang berbudi pekerti luhur melalui pembiasaan pembelajaran.
6. Sekolah mampu meningkatkan kompetensi guru sesuai bidangnya masing-masing melalui pendidikan dan pelatihan.
7. Sekolah mampu menciptakan manajemen sekolah yang baik secara transparan dan akuntabel.
8. Sekolah mampu menciptakan penilaian yang autentik yang yang sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan.
9. Sekolah mampu menjalin kerjasama yang harmonis antar warga sekolah dan masyarakat.
BAB III
STRUKTUR DAN MUATAN KURIKULUM ADIWIYATA BERBASIS KEARIFAN LOKAL
A. Struktur Kurikulum dan Beban Belajar 1. Struktur Kurikulum
Struktur kurikulum menggambarkan isi konten kurikulum dalam bentuk mata pelajaran yang didistribusikan pada setiap semester atau tahun dan beban belajar per minggu untuk setiap peserta didik. Struktur kurikulum memuat pelestarian lingkungan, mencegah terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup, merawat dan memelihara tanaman, membuat kompos, membuat tanaman hidroponik sederhana, melakukan kegiatan 5R atau 5M konsep adiwiyata, mengenalkan permainan dan kesenian daerah Kaili, serta mengenalkan makanan khas Kaili pada mata pelajaran muatan lokal dan pengembangan diri.
Struktur kurikulum untuk muatan lokal dapat dilihat pada tabel 3.1 di bawah ini.
Tabel 3.1 Sturktur Kurikulum
Kompetensi Dasar muatan lokal berkenaan dengan pendidikan lingkungan berbasis kearifan lokal, sehingga Jam pelajaran untuk kelas I, II, dan III dari 26, 27, dan 28 jam menjadi 32, 32, dan 34 per minggu (Subandi, 2014). Mata pelajaran muatan lokal dengan materi pendidikan lingkungan berbasis kearifan lokal dilaksanakan selama 2 jam pelajaran perminggu.
Kurikulum ini memuat mata pelajaran muatan lokal yang berdiri sendiri dengan materi lingkungan dan kearifan lokal. Materi muatan lokal juga diintegrasikan ke semua mata pelajaran yang ada. Mata pelajaran Kelompok A adalah kelompok mata pelajaran yang kontennya dikembangkan oleh pusat. Mata pelajaran Kelompok B yang terdiri atas mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya, PJOK dan muatan lokal adalah kelompok mata pelajaran yang kontennya dikembangkan oleh pusat dan dilengkapi dengan konten lokal yang dikembangkan oleh pemerintah daerah. Satuan
minggu sesuai dengan kebutuhan peserta didik pada satuan pendidikan tersebut.
B. Muatan Kurikulum 1. Mata Pelajaran
Muatan Kurikulum Adiwiyata SDN 5 Palu meliputi 9 mata pelajaran yang terdiri dari 6 mata pelajaran kelompok A (umum) dan 3 mata pelajaran kelompok B (umum). Kedelapan mata pelajaran tersebut adalah
a. Kelompok mata pelajaran A umum yaitu:
1) Pendidikan Agama
2) Pendidikan Kewarganegaraan 3) Bahasa Indonesia
4) Matematika
5) Ilmu Pengetahuan Alam 6) Ilmu Pengetahun Sosial
b. Kelompok mata pelajaran B umum yaitu:
1) Seni Budaya dan Keterampilan/SBDP 2) Pendidikan Jasmani, Olahraga dan
Kesehatan
3) Muatan Lokal (Mulok) pendidikan lingkungan berbasis kearifan lokal.
Adapun tujuan dari mata pelajaran muatan lokal sebagai berikut:
a. Menghasilkan karya yang terampil dari bahan bekas dengan tujuan menjaga kelestarian lingkungan
b. Mewujudkan lingkungan yang cinta damai dengan memperhatikan lingkungan biotik dan abiotik
c. Peserta didik dapat memanfaatkan sumber-sumber belajar setempat untuk kepentingan pembelajaran di sekolah.
d. Peserta didik lebih mengenal dan akrab dengan lingkungan alam, lingkungan sosial dan budaya yang terdapat di daerahnya masing-masing.
e. Peserta didik dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-
nilai yang menunjang pembangunan daerahnya.
f. Peserta didik dapat mengembangkan materi muatan lokal yang dapat menghasilkan nilai ekonomi tinggi di daerahnya sehingga dapat hidup mandiri.
g. Peserta didik dapat menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajarinya untuk memecahkan masalah dan mengurangi risiko bencana yang terjadi di sekitarnya.
h. Peserta didik dapat berwirausaha dari hasil pengalaman belajar.
2. Pengembangan Diri dan Pembiasaan a) Pengembangan
Pengembangan diri dan pembiasaan bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai
dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah, sedangkan pembiasaan adalah segala sesuatu yang dilakukan untuk tujuan menanamkan karakter budaya dan pembentukan sikap perilaku pada peserta didik yang dilakukan secara terus menerus dan berulang-ulang pada setiap anak hingga menjadi kebiasaan yang bersifat otomatis dan menetap serta tak akan mereka lupakan baik individu maupun secara kelompok. Kegiatan pengembangan diri dan pembiasaan difasilitasi guru atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan keseharian.
Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan lomba atau ajang mencari bakat.
Beberapa kegiatan pengembangan diri dan pembiasaan di SDN 5 Palu yang diwadahi dalam mata pelajaran muatan lokal yang disesuaikan dengan bakat dan minat peserta didik meliputi:
1. Membuat benda pakai dari bahan bekas
3. Olah Raga dan 4. Kesenian
Adapun program pengembangan diri di SDN 5 Palu ada pada tabel 3.2 di bawah ini
Tabel. 3.2
Pengembangan Diri Sekolah Dasar Kota Palu No Pengembangan
Diri
Materi Kegiatan Ket 1
2
Budaya
Kesenian
Mengajarkan budaya tabe, adat istiadat, pakaian daerah dan pelarangan menebang pohon.
Tari Daerah Kaili, Lagu Daerah Kaili, Alat Musik Lalove/Tiup, dan melakukan kegiatan 5M
b) Kegiatan Pembiasaan
Guna mengembangkan nilai religius, nilai- nilai budaya dan peduli lingkungan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta pembentukan karakter siswa dilakukan melalui
1) Pembiasaan Rutin
Adalah kegiatan yang dilakukan secara reguler, baik di kelas maupun di sekolah.
Pembentukan karakter melalui pembiasaan dalam kegiatan rutin di Sekolah Dasar Kota Palu adalah sebagai berikut:
Sholat berjamaah
Upacara bendera setiap hari senin
Berdoa sebelum dan sesudah belajar
Gerakan literasi sekolah selama 15 menit sebelum KBM.
Membersihkan kelas serta halaman sebelum dan sesudah belajar
Pemeriksaan kebersihan badan serta pakaian sebelum masuk kelas
Memeriksa laci meja belajar dari tumpukan sampah
Menyanyikan lagu-lagu nasional/daerah sebelum dan sesudah pembelajaran
Dzikir/ibadah bersama setiap hari Jum’at sesuai agama dan kepercayaan masing- masing
Saling menghargai dan tolong menolong antar sesama dan yang lainnya
Mengenakan sampoulu, siga dan corak batik bomba setiap hari kamis
2) Terprogram
Adalah kegiatan yang diprogramkan dan direncanakan baik pada tingkat kelas maupun tingkat sekolah.
Lomba (kebersihan, kesenian, dan daur ulang) antar kelas atau antar sekolah
Lomba Lagu dan Tari Daerah antar sekolah
Peringatan hari besar nasional
Kegiatan keagamaan /pesantren kilat
Lomba Olimpiade Sains Nasional (OSN)
Lomba Kreatifitas Siswa (FLS2N/Festival Lomba Seni Siswa Nasional)
3) Spontan
Adalah kegiatan yang dapat dilakukan kapan saja, tanpa dibatasi oleh ruang.
Membiasakan budaya antri
Membiasakan memberi salam
Menggunakan kalimat positif
Membiasakan membuang sampah pada tempatnya
Membiasakan membantu teman yang kena musibah
Membiasakan menghargai pendapat orang lain
Membiasakan meminta izin masuk/keluar kelas/ruangan
Membiasakan menjaga kebersihan sekolah, kelas dan toilet/kamar kecil.
Membiasakan konsultasi pada guru/wali kelas sesuai kebutuhan
4) Kegiatan Keteladanan
Adalah kegiatan yang dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja yang lebih mengutamakan pemberian contoh dari guru dan pengelola pendidikan yang lain kepada siswanya.
Membudayakan kebersihan dan kesehatan pada semua warga sekolah
Mentaati tata tertib yang berlaku di sekolah
Memberi contoh berpakaian rapih dan bersih
Memberi contoh tepat waktu dalam segala hal
Memberi contoh penampilan sederhana
Menanamkan budaya bersih dan rapih
Memberi contoh tidak merokok dilingkungan sekolah
Memuji hasil kerja siswa yang baik
5. Kegiatan Nasionalisme dan Patriotisme
Peringatan Hari Keagamaan (ketetapan pemerintah)
Peringatan Hari Pahlawan (10 November)
Peringatan Hari Guru Nasional (25 November)
Peringatan Hari Kemerdekaan RI (17 Agustus)
Peringatan Hari Pendidikan Nasional (2 Mei)
Peringatan Hari Makan Ikan Sedunia (21 November)
Peringatan Hari Penanaman Pohon (Akhir April)
Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (21 Pebruari)
3. Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa
Pada prinsipnya, materi peduli lingkungan berbasis kearifan lokal diajarkan pada mata pelajaran Muatan Lokal serta terintegrasi ke dalam mata pelajaran lainnya. Guru dan warga sekolah perlu mengintegrasikan pendidikan lingkungan berbasis kearifan lokal ke dalam Kurikulum, silabus dan RPP yang sudah ada.
Indikator pendidikan lingkungan berbasis kearifan lokal berkenaan juga dengan kegiatan yang diprogramkan serta kegiatan sekolah sehari- hari. Guru memiliki kebebasan dalam menentukan berapa lama suatu perilaku harus dikembangkan sebelum ditingkatkan ke perilaku yang lebih kompleks. Pembelajaran lingkungan berbasis kearifan lokal menggunakan pendekatan proses belajar aktif, kreatif, menyenangkan dan berpusat pada anak, dilakukan melalui berbagai kegiatan di kelas, sekolah, dan masyarakat. Di kelas dan di luar
kelas kegiatan belajar dilakukan guru melalui muatan lokal. Di sekolah dilakukan sehari-hari sebagai bagian dari budaya sekolah sehingga peserta didik memiliki kesempatan untuk memunculkan perilaku yang menunjukkan nilai-nilai peduli lingkungan yang berbudaya. Di masyarakat dikembangkan melalui kegiatan ekstra kurikuler dengan melakukan kunjungan ke tempat-tempat yang menumbuhkan rasa cinta tanah air dan melakukan pengabdian masyarakat untuk menumbuhkan kepedulian dan kesetiakawanan sosial.
Adapun penilaian dilakukan secara terus menerus oleh guru dengan mengacu pada indikator pencapaian mata pelajaran, melalui pengamatan guru ketika peserta didik melakukan suatu tindakan di sekolah, model anekdotal record (catatan yang dibuat guru ketika melihat adanya perilaku yang berkenaan dengan nilai yang dikembangkan), maupun memberikan tugas yang
memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan ketuntasan hasil belajar. Dari hasil pengamatan, catatan anekdotal, tugas, ataupun laporan, guru dapat memberikan kesimpulannya/pertimbangan yang dinyatakan dalam pernyataan kualitatif sebagai berikut ini.
BT: Belum Terlihat (apabila peserta didik belum memperlihatkan tanda- tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator).
MT: Mulai Terlihat ( apabila peserta didik sudah mulai memperlihatkan adanya tanda -tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator tetapi belum konsisten)
MB: Mulai Berkembang (apabila peserta didik sudah memperlihatkan berbagai tanda perilaku yang dinyatakan dalam indikator dan mulai konsisten)
SM: Sudah Membudaya (apabila peserta didik terus menerus memperlihatkan perilaku
yang dinyatakan dalam indikator secara konsisten)
Penanaman nilai-nilai pendidikan lingkungan berbasis kearifan lokal di sekolah dasar Kota Palu akan dilakukan secara bertahap. Adapun program pendidikan lingkungan berbasis kearifan lokal dilaksanakan pertamakalinya di SDN 5 Palu dalam kurun waktu empat tahun. Tahapan dapat dilihat sesuai tabel 3.3 berikut:
Tabel 3.3
Program Peduli Lingkungan Berbasis Kearifan Lokal
Tahun 2018 2019 2020 2021
Nilai-Nilai Karakter
Religius, Nasionalis Mandiri Gotongroyong Integritas
Religius, Nasionalis Mandiri Gotongroyong Integritas Merintis Peduli Lingkungan Menanamkan Nilai Budaya dan Seni
Religius, Nasionalis Mandiri Gotongroyong Integritas Melaksanakan Peduli Lingkungan Menanamkan Nilai Budaya dan Seni
Religius, Nasionalis Mandiri Gotongroyong Integritas Melaksanakan Peduli Lingkungan Menanamkan Nilai Budaya dan Seni
Mengingat pentingnya pendidikan lingkungan berbasis kearifan lokal ditanamkan sejak dini, maka SDN 5 Kota Palu menetapkan mata pelajaran muatan lokal yang memuat materi pendidikan lingkungan berbasis kearifan lokal yang akan diajarkan untuk siswa kelas I (satu) hingga kelas 6 (enam) di awal semester I (Satu) tahun 2020. Oleh karena itu kurikulum adiwiyata berbasis kearifan lokal sangatlah membantu untuk kegiatan pembelajaran.
C. Pengaturan Beban Belajar dan Penilaian Beban Belajar
Beban belajar merupakan keseluruhan kegiatan yang harus diikuti peserta didik dalam satu minggu, satu semester, dan satu tahun pembelajaran.
1. Beban belajar di Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah dinyatakan dalam jam pembelajaran per minggu.
a. Beban belajar satu minggu Kelas I adalah 32 jam pembelajaran.
b. Beban belajar satu minggu Kelas II adalah 32 jam pembelajaran.
c. Beban belajar satu minggu Kelas III adalah 36 jam pembelajaran.
d. Beban belajar satu minggu Kelas IV, V, dan VI adalah 38 jam pembelajaran. Durasi setiap satu jam pembelajaran adalah 35 menit.
2. Beban belajar di Kelas I, II, III, IV, dan V dalam satu semester paling sedikit 18 minggu dan paling banyak 20 minggu.
3. Beban belajar di kelas VI pada semester ganjil paling sedikit 18 minggu dan paling banyak 20 minggu.
4. Beban belajar di kelas VI pada semester genap paling sedikit 14 minggu dan paling banyak 16 minggu.
5. Beban belajar dalam satu tahun pelajaran paling sedikit 36 minggu dan paling banyak 40 minggu.
Untuk jelasnya tentang Pengaturan Beban Belajar di SDN 5 Palu dijelaskan dalam tabel 3.4 berikut :
Tabel. 3.4
Beban Belajar Belajar SDN 5 Palu
Beban belajar dan kegiatan mandiri maksimum 40% dari jumlah waktu kegiatan tatap
muka dari mata pelajaran mulok. Contoh dalam satu minggu 2 jam pelajaran. Untuk tatap muka 60 %.
Contoh perhitungan pemberian tugas. 2 jampel mulok x 35 menit = 70 menit, maka penugasan dengan hitungan 40% x 70 menit = 28 menit jadi untuk pemberian tugas hanya 28 menit per minggu. Alokasi waktu untuk praktek, dapat dirinci menjadi dua jam kegiatan praktek di sekolah setara dengan satu jam tatap muka. Empat jam praktek di luar sekolah setara dengan dua jam tatap muka. Alokasi untuk pengembangan ekspresi dan potensi disesuaikan dengan jenis pengembangan yang di pilih.
D. Penilaian
Sesuai Permendikbud Nomor 66 Tahun 2013 Penilaian pendidikan sebagai proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik mencakup:
penilaian otentik, penilaian diri, penilaian berbasis portofolio, penilaian harian, penilaian tengah
semester, penilaian akhir semester, penilaian akhir sekolah bertaraf nasional.
E. Ketuntasan Belajar
Ketuntasan belajar setiap indikator yang dikembangkan sebagai suatu pencapaian hasil belajar dari suatu kompetensi dasar berkisar antara 0% s.d 100%. Kriteria ideal ketuntasan belajar untuk mata pelajaran muatan lokal adalah 70%. Sekolah harus menentukan kriteria ketuntasan belajar minimal dengan mempertimbangkan tingkat kemampuan rata-rata siswa serta kemampuan sumber daya pendukung dalam menyelenggarakan pembelajaran. Sekolah secara bertahap dan berkelanjutan selalu mengusahakan peningkatan kriteria ketuntasan belajar untuk mencapai kriteria ketuntasan belajar ideal. Ketuntasan belajar mata pelajaran muatan lokal disesuaikan dengan kompleksitas, esensial intake siswa, dan saran prasarana. Sesuai Permendikbud No.104 tentang penilaian hasil
belajar, maka ketuntasan belajar terdiri atas ketuntasan penguasaan substansi dan ketuntasan belajar dalam konteks kurun waktu belajar.
Ketuntasan penguasaan substansi yaitu ketuntasan belajar KD yang merupakan tingkat penguasaan peserta didik atas KD tertentu pada tingkat penguasaan minimal atau di atasnya, sedangkan ketuntasan belajar dalam konteks kurun waktu belajar terdiri atas ketuntasan dalam setiap semester, setiap tahun ajaran, dan tingkat satuan pendidikan. Ketuntasan Belajar dalam satu semester adalah keberhasilan peserta didik menguasai kompetensi dari sejumlah mata pelajaran yang diikutinya dalam satu semester.
Ketuntasan Belajar dalam setiap tahun ajaran adalah keberhasilan peserta didik pada semester ganjil dan genap dalam satu tahun ajaran.
Ketuntasan dalam tingkat satuan pendidikan adalah keberhasilan peserta didik menguasai kompetensi seluruh mata pelajaran dalam suatu
peserta didik dari satuan pendidikan. Adapun Ketuntasan Belajar Minimal (KBM) Tahun Pelajaran 2019/2020 dilihat pada tabel 3.5 sebagai berikut:
Tabel 3.5
Ketuntasan Belajar Minimal SDN 5 Palu
Nilai ketuntasan kompetensi sikap dituangkan dalam bentuk predikat, yakni predikat
Sangat Baik (SB), Baik (B), Cukup (C), dan Kurang (K) sebagaimana tertera pada tabel 3.6 berikut.
Tabel 3.6
Nilai Ketuntasan Sikap
Ketuntasan Belajar untuk sikap (KD pada KI-1 dan KI-2) ditetapkan dengan predikat minimal Baik (B). Nilai ketuntasan kompetensi pengetahuan dan keterampilan dituangkan dalam bentuk angka dan huruf, yakni 0 – 100 untuk angka yang ekuivalen dengan huruf A sampai dengan D sebagaimana tertera pada tabel 3.7 berikut.
Tabel 3.7
Nilai Ketuntasan Pengetahuan dan Ketrampilan.
Nilai Ketuntasan Pengetahuan dan Keterampilan
Rentang angka Huruf
93 – 100 A
84 – 92 B
75 – 83 C
0 - 74 D
Dengan demikian ketuntasan belajar untuk aspek pengetahuan ditetapkan dengan skor rerata 68 sedang untuk keterampilan ditetapkan dengan capaian optimum 68. Khusus untuk SD/MI ketuntasan sikap, pengetahuan dan keterampilan ditetapkan dalam bentuk deskripsi yang didasarkan pada modus, skor rerata dan capaian optimum.