BAB II KAJIAN PUSTAKA
C. Dai
3. Karakteristik Seorang Dai
c. Motivasi Iman
Dalam melakukan tugas dakwah harus memiliki motivasi ataupun pen- dorong dalam melakukan segalah aktifitas yaitu aqidah dan iman
yang terpatri dalam dada dan hati, karena aqidah dan iman itulah yang akan mendorong searing da‟i mampu berbuat ikhlas, beramal soleh, dan bekerja keras dan dengan keimanan yang dimiliki itulah yang akan mencerminkan seoang da‟i yang ideal.
d. Beriman dan bertakwa kepada Allah
Kepribadian da‟i yang terpenting adalah iman dan takwah kepada Allah, karna ini merupakan dasar utama pada akhlak atau karakter seorang da‟i. Seorang da‟i tidak mungkin mengajak mad‟unya beriman kepada Allah Subhanahu Wata’ala kalau ia sendiri tidak beiman. Tidal pula ia dapat mengajarkan takwah kalau dia tidak mengetahui hakekat takwah.
Allah berfirman di dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 44
َنوُرُمْأَتَأ َنوُلِقْعَ ت لاَفَأ َباَتِكْلا َنوُلْ تَ ت ْمُتْ نَأَو ْمُكَسُفْ نَأ َنْوَسْنَ تَو ِِّبِْلاِب َساَّنلا
Terjemahnya:Mengapa kamu suruh orang lain [mengajarkan] kebaktian, sedang kamu melupakan diri [kewajiban] mu sendiri , padahal kamu membaca Al-Kitab [Taurat]? maka tidakkah kamu berfikir.19
Dan juga dalam surah Ash-Shaff ayat 2-3
نوُلَعْفَ ت لا اَم َنوُلوُقَ ت َِلَ اوُنَمآ َنيِذَّلا اَهُّ يَأ اَي نوُلَعْفَ ت لا اَم اوُلوُقَ ت ْنَأ ِهَّللا َدْنِع اًتْقَم َرُ بَك
19Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, (Bandung: Diponegoro), h .7
Terjemahnya:Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian menga- takan sesuatu yang tidal kalian ketahui, amat besar kemurkaan disis Allah Subhanahu Wata‟ala disebapkan kalian mengatakan sesuatu yang tidal kalian ketahui.20
e. Ahli Taubat
Sifat taubat yang ada pada diri da‟i berarti dia harus mampu untuk lebih menjaga atau takut untuk berbuat maksiat atau dosa dibandingkan dengan orang-orang yang menjadi mad‟unya. Jika ia merasa telah melakukan dosa atau maksiat, maka hendaknya ia bergegas untuk ber- taubat dan menyesali perbuatannya dengan mengikuti panggilan ilahi.
Dalam diri seorang da‟i juga harus tertanam bahwah Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam sebabagai seorang nabi yang telah dan di- janjikan oleh Allah akan terhindar dari dosa[ma’sum] setiap hari senanti- asa memohon ampun dan bertobat kepada Allah Subhanahu Wta’ala.21
f. Ahli ibadah
Seorang da‟i adalah mereka yang selalu beribadah kepada Allah dalam setiap gerakan , perbuatan, maupun perkataan dimanapun dan kapan- pun, dan segala ibadahnya ditujukan hanya kepada Allah Subhanahu Wata’ala, dan bukan karena manusia.[riya]
Allah berfirman dalam Al-Quran surah Al-An‟am 162
ينِمَلاَعْلا ِّبَر ِهَّلِل ِتِاََمََو َياَيَْمََو يِكُسُنَو ِتِلاَص َّنِإ ْلُق
Terjemahnya:Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah.22
20kementerian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, (Bandung: Diponegoro), h. 551.
21St Rahmatiah, Psikologi Dakwah Suatu Penagantar, (Makassar, 2014), h. 156
22Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, (Bandung: Diponegoro), h. 150
g. Amanah dan Shiddiq
Amanah [terpercaya] dan shiddiq [jujur] adalah sifat utama yang harus di- miliki seorang da‟i karena ia merupakan sifat yng dimiliki oleh seluruh nabi dan rasul. Amanah dan shiddiq adalah dua sifat yang selalu bergan- dengan, karena amanah selalu bersama shidiq maka tidak ada manusia jujur yang tidak terpercaya, dan tidak ada manusia yang terpercaya yang tidak jujur. Amanah dan shiddiq merupakan hiasan para nabi dan rasul dan orang-orang yang sholeh, dan mestinya juga menjadi hiasan bagi pa- ra da‟i, karena apabilah seorang da‟i memiliki sifat terpercaya dan jujur maka mad‟u juga akan cepat percaya dan menerima dakwahnya.23
h. Tawadhu
Tawadhu adalah merendahkan diri dan penuh cinta kasih terhadap orang- orang yang beriman terlebih lagi terhadap mereka yang mullaf [orang yang baru masuk islam], agar iman semakin teguh. Sunggu indah apa yang disebukan dalam Al-Quran surah Asy-Syu‟ara 215
ِم َكَعَ بَّ تا ِنَمِل َكَحاَنَج ْضِفْخاَو َينِنِمْؤُمْلا َن
Terjemahnya:
Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang beriman.24
Sifat tawadhu merupakan hiasan dan akhlak orang-orang sholih. Orang yang tawadhu tidak suka menonjokan diri, tidak sombong dan selalu men- jaga agar dirinya tetap dihargai orang lain menurut apa adanya. Searing da‟i yang tawadhu selalu menjauhkan diri dari sifat dan perbuatan yang
23Faisal, Psikologi Dakwah, (Cet. 2; Jakarta: Pustaka Kencana: 2009), h. 92
24Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, (Bandung: Diponegoro), h. 376
berlebih-lebihan, selalu bersikap toleran terhadap sesamanya, menghor- mati dan menghargai pendapat orang lain,serta pandai bergaul. Diantara sifat tawadhu adalah manis dalam bertutur kata, cerah muka dan rama ketika bertemu dengan orang lain, tidak kasar dan tidak mudah memberi hukuman kepada seseorang ketika bersalah. Apabiala ada seseorang yang geram dan marah maka akan dihadapinya dengan tenang. Sifat ini merupakan Uswah dan Hasanah [teladan] dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bagi para da‟i dan muballig.25
i. Sederhana dan jujur
Kesederhanaan merupakan pangkal kebersihan dakwah, sederhana bukan berarti didalam kehidupan sehari-hari selalu ekonomis dalam me- menuhi kebutuhan, akan tetepi sederhana disini adalah tidak bermegah- megahan, angkuh dan lain sebagainya, sehingga dengan sifat sederhana orang tidak merasa segan, takut kepadanya.26 Sedangkan kejujuran ada- lah penguatnya, karena tanpanya perkataan seseorang tid- akakandidengarterlebih dipercaya. Jujur berarti benar dalam ucapan sesuai dengan kata hati yang sesunnguhnya. Tidak menutup-nutupi kebenaran ataupun kesalahan. Yang pada hakikatnya, sifat jujur itu teguh dalam mempertahankan kebenaran. Lanjutan dari sifat jujur adalah istiqomah. Tidak sepantasnya bagi seorang da‟i berdusta, sebap dusta hanya akan merugikn diri sendiri.
25Fathul Bahri An-Nabiri, Meniti Jalan Dakwah Bekal Perjuangan Para Da’I, h. 155
26Asmuni Syukur, Dasar Strategi Dakwah, (Suraya: Pustaka Al-Ikhlas), h. 44
j. sifat semangat (Antusiasme)
Semangat juang harus dimiliki oleh searing da‟i sebap dengan sifat an- tusias ia akan terhindar dari rasa putus asa, kecewa dan lain sebagainya.
Sifat-sifat ini tentu dimiliki oleh setiap rasul, dimana dalam memper- juangkan agama Allah tanpa putus asa meskipun berbagai macam corak cobaan, gangguan, dan godaan yang menghalanginya. Begitu pulaseha- rusnya seorang da‟i sebagai penerus perjuangan Rasulullah Sallahu Alaihi Wasallam untuk selalu antusias dan tidak berputus asa dalam berdakwah.
k. Memiliki Jiwa Toleran
Toleransi dapat dipahami sebagai suatu sikap pengertian dan dapat mengadaptasi diri sendiri positif [menguntungkan diri sendiri mau- pun orang lan]. Bukan toleransi dalam arti mengikuti jejak lingkungan.27 Sebagaimanadalam Al-Quran surah Al-Kafirun ayat 6
ِنيِد َِلَِو ْمُكُنيِد ْمُكَل
Terjemahnya:Unkmu agamamu dan untukku agamaku.28 l. Cerdas dan bersih
Agar dakwahnya berhasil, maka seorang da‟i harus memeiliki dua sifat ini, yaitu cerdas dan bersih. Yang dimaksud cerdas disini adalah cer- das akalnya. Tidak harus cerdas yang brilian, tetapi cukuplah apabila dia dapat memandang segala sesuatu secara proporsional, tidak ditambah
27St Rahmatiah, Psikologi Dakwah Suatu Pengantar, H. 160
28Kementerian Agama RI,Al-Quran dan Terjemahnya, (Bandung: Diponegoro), h. 603
atau dikurangi. Sebap ada sebagian da‟i memiliki pola fikir yang kacau, tidak tepat ketika mempersepsikan realita, sehingga menganggap adat sebagai ibadah, sunnah sebagai hal yang wajib, dan penampilan fisik se- bagai terapi penyelesaian kasus-kasus yang timbul, serta menyebapkan kegagalan yang serius dalam dakwah. Sifat bersih disisini adalah bersih hati,. Yang dimaksud bukanlah seperti bersihnya malaikat, tetapi hati yang dapat mencintai dan menyayangi orang lain. Tidak bersuka ria atas kesalahan dan penderitaan orang lain. Bahkan merasa sedih atas kesala- han
mereka dan berharap agar mereka mendapat jalan hidayah dari Allah Subhanahu Wata’ala.29
m. Tidak memelihara penyakit riya
Sombong, dengki, ujub, takabbur, hasad dan iri hati harus dising- kirkan dari sanubari seorang da‟i. Tanpa membersihkan sanubari dari si- fat-sifat tersebut, tujuan dakwah tidak akan tercapai.30 Sesungguhnya penyakit-penyakit hati itu lebih mengganggu dan lebih berbahaya , lebih para dan lebih buruk daripada penyakit fisik. Yang paling besar bahayan- ya adalah karena penyakit hati mendatangkan mudhorat bagi seseorang dalam agamanya. Penyakit hati lebih berbahaya karena ia tidak ter- jangkau secara indrawi dan tidak menimbulkan rasa sakit, semakin su-
29Fathul Bahri An-Nabiry, Meniti Jalan Dakwah Bekal Perjuangan Para Da’I, h. 203
30Faisal, Psikologi Dakwah, h. 96
litlah dia untuk diketahui dan ditemukan. Perhatian kepdanya sangat sed- ikt dan upaya untuk mengobatinya sangat kecil.31