BAB III METODE PENELITIAN
H. Prosedur Penelitian
Penelitian ini mengunakan prosedur yang tebagi ke dalam be- berapa tahap, yaitu sebagai berikut:
1. Tahap Pendahuluan
a. Observasi awal ke lokasi penelitian.
b. Membuat desain proposal skripsi dan mengajukan desain pro- posal skripsi kepada dosen pembimbing untuk diadakan diskusi.
c. Mengajukan desain proposal skripsi kepada jurusan sekaligus minta persetujuan judul.
2. Tahap Persiapan
a. Mengadakan seminar desai proposal skripsi.
b. Menyusun instrumen pengumpulan data.
c. Memohon surat perintah riset atau penelitian.
3. Tahap Pelaksanaan
a. Melaksanakan penelitian untuk menggali data dilapangan.
b. Melakasanakan pengumpulamn data dengan melakukan wa- wancara , observasi, dan penulisan dokumen-dokumen.
c. Mengolah dan melakukan analisis data hasil penelitian.
4. Tahap Penyusunan Laporan a. Menyusun hasil penelitian.
b. Berkonsultasi dengan dosen pembimbing tentang laporan yang telah disusun untuk diadakan koreksi dan perbaikan hingga disetujui.
c. Selanjutnya diperbanyak dan dibawa panda sidang mu- naqosah skripsi did hadapan penguji.
BAB IV
PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Desa Sumbang 1. Letak Batas Wilayah
Desa Sumbang adalah salah satu desa yang terletak di Kecamatan Curio Kabupaten Enrekang Provinsi Sulawesi Selatan. Desa ini dari sisi pembangunan fisik cukup maju apalagi pusat kesehatan dan pendidikan Kecamatan Curio berada di desa tersebut, seperti puskesmas, SD, SMP, dan SMA.
Letak wilayah desa Sumbang dari sisi utara berbatasan dengan Pe- baloran dan curio, dari sisi timur berbatasan dengan Tallaungngura, dari sisi selatan berbatasan dengan Kecamatan Malua, dari sisi Barat Berbata- san dengan Mekkallah dan Buntu Pema.
Desa Sumbang terdiri dari 1376 penduduk yang terbagi dalam lima dusun. Diantaranya: Dusun Sumbang, Dusun Malua, Dusun Malawan, Dusun Buntu Kiki dan Dusun Rogo.
2. Luas Wilayah
Luas keseluruhan wilayah Desa Sumbang adalah 12 KM persegi yang terdiri dari pemukiman, perkebunan, persawahan, lapangan, sekolah- sekolah dan lain-lain.
3. Keadaan Demografis a. Jumlah Penduduk
Penduduk Desa Sumbang Kecamatan Curio Kabupaten En- rekang terdiri dari 1376 jiwa. Dengan rincian sebagai berikut:
1. Jumlah Total Penduduk :1376 jiwa 2. Jumlah Penduduk Laki-laki :710 jiwa 3. Jumlah Penduduk Perempuan :666 jiwa 4. Jumlah KK :330 KK b. Jumlah Penduduk Berdasarkan Usia
Data berikut ini adalah penjabaran dari tingkat populasi masyarakat Desa Masalle berdasarkan usia, agar lebih jelas mari kita perhatikan tabel berikut ini.
Tabel 1. Jumlah penduduk berdasarkan usia
No Usia Jumlah
1 0 – 14 tahun 333 jiwa
2 15 – 29 tahun 414 jiwa
3 30 – 44 tahun 257 jiwa
4 45 – 59 tahun 239 jiwa
5 60 – keatas 133 jiwa
c. Jumlah Penduduk Berdasarkan Strata Pendidikan
Tabel 2. Jumlah penduduk berdasarkan Strata pendidikan No Strata Pendidikan Jmlah
1 SD 171 jiwa
2 SMP 129 jiwa
3 SMA 149 jiwa
4 S1, S2, S3 69 jiwa
d. Jumlah Penduduk Berdasarkan Pembagian Dusun
Telah kita singgung bahwah Desa Sumbang terdiri dari lima dusun, dan yang paling banyak jumlah penduduknya adalah Dusun Rogo. Untuk lebih jelasnya mari kita perhatikan tabel beri- kut:
Tabel 3. Jumlah Penduduk Berdasarkan Pembagian Dusun
No Dusun Jumlah
1 Dusun Sumbang 352 jiwa
2 Dusun Malua 234 jiwa
3 Dusun Malawan 172 jiwa
4 Dusun Buntu Kiki 245 jiwa
5 Dusun Rogo 373 jiwa
5. Prasarana Umum
Telah kita singgung sebelumnya bahwa Desa Sumbang merupakan pusat pendidikan, Keamanan, dan Kesehatan Kecamatan Curio, dmn sekolah-sekolah dari berbagai jenjang mulai dari tingkat TK, SD, SMP, hingga SMA, Kantor Polisi, Peskesmas berada di desa tersebut. Adapun jumlah masjid
sebanyak 5 masjid dan satu mushollah. Untuk lebih jelasnya, mari kita perhatikan tabel berikut:
Tabel 4. Prasarana Umum
No Prasarana Umum Jumlah
1 TK (Taman Kanak-kanak) 2 TK 2 SD (Sekolah Dasar) 3 Sekolah 3 SMP (Sekolah Menengah Pertama) 1 Sekolah 4 SMA (Sekolah Menengah Atas) 1 Sekolah 5 Kantor Polisi (polsek Curio) 1
6 Puskesmas 1
7 Masjid/Mushollah 5/1
6. Profesi Masyarakat
Untuk detailnya penulis tidak mendapatkan data yang merinci hal tersebut, hanya saja berdasarkan observasi yang dilakukan umumnya masyarakat kurang lebih 75 persen ber- propesi sebagai petani.
B. Kondisi Keislaman Masyarakat Desa Sumbang
Berdasarkan hasil observasi Secara umum masyarakat Desa Sumbang rata-rata beragama islam, hal ini tidak lain merupakan anugrah dari Allah Subhanahu Wata’ala yang telah memberikan hidayah kepada hambaNya yang Dia kehendaki, kemudian berkat usaha dan perjuangan orang-orang terdahulu, para da’i, ustad yang telah berusaha mendakwahkan agama ini
kepada masyarakat. Adapun organisasi islam yang berkembang di desa tersebut diantaranya Muhammadiyah, Hidayatullah, dan Jam’ah Tablig , namun yang paling mendominasi adalah Muhammadiyah. Untuk menge- tahui kondisi keislaman masyarakat Desa Sumbang secara mendalam, maka kami bagi dalam beberapa poin pembahasan:
1. Dalam masaalah aqidah, kita dapati masyarakat secara umum su- dah tidak melakukan praktek-praktek kesyirikan yang dilakakukan secara terang-terangan sebagaimana halnya yang dilakukan oleh se- bagian kaum muslimin, seperti menyembelih untuk kuburan, pohon, orang meninggal, berdoa dan meminta kepada orang telah mening- gal dunia, kepada Nabi, serta praktek kesyirikan lainnya. Walaupun sebagian kecil dari masyarakat, sebagaimana informasi yang kami ter- imah , masih ada yang melakukan penyembelihan ketika ada orang yang meninggal dunia, itupun mereka lakukan secara tersembunyi sehingga penulis selama satu tahun berada di lokasi tugas tidak pernah mendapati acara tersebut
2. Kemudian dalam masalah ibadah teruatama dalam pelaksanaan sho- lat lima waktu, masih banyak masyarakat yang tidak melakukan sho- lat berjama’ah dimasjid khususnya bagi laki-laki bahkan tidak sedikit juga yang tidak melaksanakan sholat lima waktu terutama diwaktu zhuhur dan waktu ashar, hal ini dikarenakan masyarakat kebanyakan bepropesi sebagai petani sehingga mereka mengerjakannya di kebun walaupun sebagian juga tidak mengerjakannya. Namun untuk
pelaksanaan sholat jumat diperkirakan 95 persen masyarakat mengerjakannya.
3. Kemudian dalam hal interaksi sosial, sebagian dari nilai-nilai islam sedikit demi sedikit mulai diaplikasikan oleh masyarakat, sperti saling menyapa ketika bertemu, menggunakan pakaian yang menutup aurat terkhusus bagi kaum wanita mlaupun belum memenuhi kriteria yang semestinya, sehingga jarang kita mendapati wanita keluar tanpa menggunakan jilbap. solidaritas yang tinggi juga kita dapati dalam masyarakat, terutama jika ada kegiatan ynag melibatkan orang ban- yak maka kita akan dapati mereka kompak, gotong royong dalam menyelesaikan kegiatan atau pekerjaan tersebut.
Selain itu, tingkat kriminal yang umumnya terjadi di sebagian daerah seperti pembunuhan, perkelahian, pencurian, main judi, mi- num-minuman keras, serta tempat-tempat maksiat lainnya jarang kita jumpai di desa tersebut dan memang umumnya di daerah Kabu- paten Enrekang seperti kondisinya, dimana tingkat kriminalnya san- gat kecil dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya.
C. Optimalisasi Peran Da’i Dalam Membangun Masyarakat Islam di Desa Sumbang
Dalam membangun masyarakat yang islami, tentu ini tidak semu- dah membolak balikkan telpak tangan, harus ada perjuangan yang keras, usaha yang kuat dalam megajarkan manusia tentang agama islam, teru- tama daam masalah aqidah. Hal ini telah dibuktian oleh Rasulullah Sallal-
lahu Alaihi Wasallam dan para sahabatnya dalam tempo waktu yang tidak begitu lama, hanya dalam kurung waktu kurang lebih 23 tahun. Oleh kar- nanya sangat dibutuhkan keberadaan da’i yang menjadi pelopor utama, yang bekerja ikhlash dalam membangun masyarakat.
Keberadaan searing da’i di masyarakat, apababila dia mampu men- goptimalkan perannya tentu ini akan memberikan pengaruh positif di- tengah-tenagah masyarakat. Maka untuk bisa mengoptimalkan perannya dalam membangun masyarakat yang islam tentu harus dibangun dari dai itu sendiri, dalam artian dia punya bekal ilmu agama yang benar , aqidah yang lurus dan pemahaman agama yang benar.
Hal yang paling mendaasr yang hendaknya ditanamkan dalam diri masyarakat adalah bagaimana masyarakat memiliki aqidah atau tauhid yang benar, krn inilah pondasi utama dalam membangun masyarakat yang islami sebagaimana yang telah dilakukan oleh para Nabi dan Rasul, mereka sebelum memerintahkan ummatnya kepada jenis-jenis ibadah yang pertama kali diserukan adalah mentauhidkan Allah Subhanahu Wa- ta’ala, beribadah hanya kepadaNya dan tidak melakukan kesyirikan sedi- kitpun.
Kemudin hal beriktutnya dalah menanamkan ilmu syar’i kepada masyarakat secara benar dan bertahap, terutamah ilmu yang berkaiatn dengan ibabah yang dikerkjakan setiap harinya, seperti bersuci dari hadats, praktek sholat dan ibadah-ibadah ainnya, karna secara umum di- antara faktor yang menjadikan sebagian kaum muslimin khususnya iba-
dah sholat adalah karna kurangnya pengetahuan terkait dengan ibadah tersebit.
Selain itu hal penting yang hendakyaraknya juga ditanamkan kepada masyarakat adalah kecintaan terhadap alquran. Berusaha mempelajari cara membacanya beserta dengan ilmu tajwid, berusaha memahami makna dan kandungannya, berusaha mengamalkan isinya sesuai dengan tingkat kemampuan diri masing-masing serta berusaha pula untuk mengajarkan dan mendakwahkannya kepada orang lain me- lalui majelis majelis ilmu, majelis taklim, pengajian, membangun TPA baik untuk kalangan anak kecil hingga orang dewasa.
Sebagai bentuk upaya penulis dalam mengoptimalkan perennya se- bagai searing dai selama berada di tempat tugas dewasah, kami menga- dakan berbagai kegiatan baik untuk kalangan anak-anak maupun orang dewasa. Diantara kegiatan tersebut adalah:
1. Menjadi imam tetap sholat lima waktu
2. Mendgadakan Kultum Subuh tiga kali dalam sepekan 3. Mengisi pengajian yang diadakan dua kali dalam sebulan 4. Membina TPA
5. Mengajatar tahsin dan tajwid 6. Membina tahfizhul quran 7. Menjadi khotib
8. Mengajar did sekolah dasar
9. Mengisi pengajian diluar tempat tugas.
Dari uraian diatas yang telah kami sebutkan, bahwa menanamkan aqidah yang benar kepada masyarakat, kemudian diaplikasikan dalam bentuk penghambaan kepada Allah Subhanahu Wata’ala, dan adanya interaksi yang baik dengan sesama maka dengan demikian akan melhirkan suatu komunitas msyarakat yng islam yang tentunya hal tersebut sangat ditentukan oleh peran da’i. Oleh karnanya, diantara upaya yang dilakukan oleh penulis adalah dengan membuat kegitan- kegiatan sebagaimana yang telah kami paparkan diatas.
D. Faktor Pendukung dan Pehambat Upaya Membangun Masyarakat Islam di Desa Sumbang
Upaya dakwah dalam membangun masyarakat islami tentu ini bukan hal yang mudah, dibutuhkan dorongan dari berbagai pihak da- lam upaya tersebut, dan meminimalisir adanya hambatan-hambatan.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan penulis selama berada di tempat tugas, ada beberapa faktor pendukung dan pembanghambat da- lam upaya membangun masyarakat islami, diantaranya sebagai berikut.
1. Faktor-Faktor Pendukung a. Dukungan Dari Pemerintah
Sebagai sebuah komunitas masyarakat, tentu yang paling ber- pengaruh didalamnya adalah pemerintah. Oleh karnanya dukungan dan keterlibatannya dalam sebuah kegiatan baik secara langsung maupun tidak angsung ini akan mmberikan pengaruh yang besar. Begitupun halnya dengan kegiatan dakwah dalam
upaya membangun masyarakat islam, sangat dibutuhkan dukungan dari pemerintah sehingga ini akan membantu para dai dalam dakwahnya.
Demikanlah kondisi yang kami dapti dilapangan dimana pemerintah desa sangat mendukung dan mengapresiasi adananya Program Dakwah oleh Pemenrintah Daerah yaitu men- gutus para da’i diberbagai desa untuk membina masyarakat.
b. Respon Baik Masayarakat
Dalam dakwah yang menjadi objek utamanya adalah ma- sayarakat, jika masyarakat telah menyambut dan merespon baik setiap da’i yang menyampaikan agama, maka ini tentu menjadi peluang besar bagi para da’i. Sukses tidaknya suatu dakwah san- gat dipengaruhi oleh kondisi masyarakat itu sendiri, jika mereka cinta dengan agamanya, membantu orang-orang yang men- dakwahkannya, merespon baik orang yang menyampaikannya, maka ini akan menjadi modal dalam membangun masyarakat is- lam.
Secara umum masyarakat Desa Sumbang sangat merespon baik terkait dengan program dakwah yang diadakan oleh pemerintah daerah, hal ini dapat dibuktikan dengan kesedian masyarakt untuk menerima da’i yang diutus dengan menyiapkan beberapa fasilitas, Walupun juga sebagian kecil masayarakat tidak terlalu merespon dengan baik. Diantara hal lainnya yang menun-
jukkan respon baik masyarakat adalah mereka meminta agar kegiatan dakwah ini terus berlanjut.
c. Kondisi Kampung yang Terjangkau dan Akses jalan yang Baik.
Keberadaan Desa Sumbang yang sudah terjangkau dan mem- iliki akses jalan yang baik, tentu ini menjadi pendukung dalam menyampaikan dakwah. Dimana para da’i dengan mudah untuk memasuki desa tersebut untuk berdakwah. Berbeda halnya dengan sebagian desa yang belum terjangkau dan akaes jalannya yang belum bagus sehingga terkadang menjadi pemhambat dalam menyampaikan dakwah.
d. Fasilitas Masjid dan Sekolah
Keberadaan masjid dan sekolah khususnya sekolah agama di- tengah-tengah kaum muslimin, maka ini sangat memberikan pengaruh besar bagi mereka. Masjid selain sebagai tempat untuk ibadah juga sebagai tempat untuk mempelajari agama, begitupun dengan sekolah-sekolah khususnya sekolah-sekolah agama.
e. Kemampuan komunikasi yang baik
Metode penyampaian dakwah yang umumnya dilakukan adalah dengan cara berceramah, sehingga dibutuhkan pemilihan kata yang baik dan mudah dari seoring da’i sehingga dapat dipa- hami oleh masyarakat.
Secara umum, msyarakat Desa Sumbang rata telah mam- pu berbahasa indonesia dengan baik, hal ini karna banyak diantara
mereka yang belajar di kota, bekerja di kota, menikah dengan orang-orang kota, dan ketersedian fasilitas pendidikan mulai dari tingkat SD, SMP, dan SMA sehingga sangat jarang diadapati ada anak-anak yang tidak sekolah. Walaupun sebagian kecil masyara- kat khususnya yang sudag lanjut sia yang mungkin tidal sempat mengenyam pendidikan tidal mampu berbahasa indonesia dengan baik.
2. Faktor-Faktor Penghambat a. Kurangnya Jumlah Da’i
Dalam upaya membangun masyarakat islam maka yang men- jadi pelopor utamanya adalah para da’i, karna merekalah yang membinah masyarakat, mengajari, memberi nasehat, dan mengarahkan mereka kepada kebaikan sehingga mayarakat mampu mengapliasiakn nilai-nilai islam dalam kehidupan sehari- hari.
Terbatasnya jumlah da’i ditengah-tengah masyarakat men- jadi salah satu pemhambat utama dalam membangun masyarakat islam. Sesuai observasi yang dilakukan oleh penulis, untuk di Desa Sumbang sendiri masih sangat minim jumlah da’i, bahkan sebagi- an masjid terkadang tidak terisi sholat lima waktu di masjid akibat tidak adanya da’ atau imam tetap di masjid tersebut.
b. Minimnya Pengetahuan Agama
Agama islam adalah agam ilmu, hal ini telah diisyaaratkan did dalam alquran pada wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Sallallah Alaihi Wasallam. Agama ini telah sempurnah tidak satu- pun dari agama ini melainkann telah disampaikan Oleh Nabi Sal- lallahu Alaihi Wasallam kepada para sahabatnya lalu para mereka menyampaikan kepada orang-orang setelahnya. Maka kawajiban kita adalah mempelajarinya.
Kurangnya pengetahuan terkait dengan agama, tentu ini menjadi salah satu penghambat upaya membangun masyrakat is- lam. Berdasarkan peneltian yang dilakukan, maka didapati tingkat pengetahuan masyarakat terhadap agama masih sangat kurang, bahkan masih banyak yang belum bisa membaca alquran dengan benar.
c. Sedikitnya Dorongan Orang Tua Untuk Menyekolahkan Anaknya disekolah Agama Hingga ke Kerguruan inggi
Menentukan arah kedepan seorang anak dalam hal pen- didikan, sangat ditentukan keterlibatan orang tua didalamnya.
Orang tua yang paham dengan agama tentu akan memilih sekolah agama untuk anaknya, sebaliknya orang tua yang tidak terlalu peduli dengn persoalan agama maka mereka cenderun me- nyekolahkan anak-anak mereka di sekolah-sekolah umum, dengan maksud agar anak-anaknya mampu bersaing dalam hal mencari lapangan pekerjaan dimasa yang akan datang. Dan ini diantara re-
alita yang penulis saksikan selama berada dilokasi tugas, dan umumkan kita dapati hal yang sama di berbagai daerah did negara kita.
d. Intensitas Bertemu Yang Kurang
Berdasarkan data yang kami peroleh dari Kepala Desa bahwa masyarakat Desa Sumbang umumnya bekerja sebagai petani, aki- batnya mereka banyak menghabiskan waktu dikebun. Oleh kar- nanya waktu yang bisa dimanfaatkan oleh da’i dalam dakwahnya hanya sedikit, hanya diwaktu waktu tertentu, sehingga ini juga menjadi salah satu penghambat upaya membangun masyarakat islam, sedikitnya waktu yang diluangkan untuk perkara agama
BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Desa Sumbang Kecamatan Curio Kabupaten Enreknag, maka dapat disimpulakn dalam beberapa poin:
1. Kondisi keislaman masyarakat Desa Sumbang dari sisi aqidah umum sudah tidak didapati praktek-praktek kesyirikan yang dilakukan secara terang-terangan sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian masyarakat di sebagian daerah. Kemudian dari sisi ibadah khususnya ibadah sholat masih sangat banyak yang tidak mengerjakannya teru- rama sholat berjama’ah bagi laki-laki. Adapun dalam interaksi sosial kita dapati nilai-nilai islam sudah mulai diaplikasiakn oleh sebagian masyarakat terutama dalam hal berpakaian, dimana sudah jarang dijumpai perempuan keluar tanpa mengguanakan jilbap. Kemudian juga kita dapati solidaritas masyarakat sangat tinggi, terbukti jika ada kegiatan yang melibatkan orang banyak maka kita dapati masyarakat gotong royong dalam mengerjakannya.
2. Untuk membangun masyarakat islam, tentu dibutuhkan upaya yang keras, terutama pelaku dakwah itu sendiri dalam hal ini para da’i. Hal utama yang hendaknya ditanamkan dalam masyarakat adalah masa- lah agiqidah, karna inilah dasar dalam bergama. Kemudian me-
nanamkan masyarakat kecintaan terhadap agamanya sehingga dia terdorong untuk mempelajarinya, kemudian berusaha menerapkan nilai-nilai islam dalam kehidupan sehari-hari.
3. Faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam membangun masyarakat islam di Desa Sumbang Kecamatan Curio Kabupaten En- rekang diantaranya adalah:
a. Faktor-faktor pendukung daiataranya: dukungan dari pemerintah, dukungan dari masyarakat, Kemampuan berbahasa indonesia, terjangkaunya daerah dan akses jalan yang baik.
b. Faktor-faktor penghambat antara lain: Kurangnya da’i, minimnya pengetahuan agama, tingkat kesibukan masyarakat dalam beker- ja.
B. SARAN
Adapun saran yang hendak dikemukakan oleh penulis adalah se- bagai berikut:
1. Hendaknya pemerintah desa secara khusus dan masyarakat secara umum terus mendukung program dakwah pemerintah daerah, agar program ini terus berlanjut sehingga agama ini semakin tersebar dan mengokoh dihati masyarakat yang dengannya akan terbentuk komunitas masyarakat islam.
2. Untuk para da’i termasuk penulis yang dipercayakan untuk menyapaikan dakwah agar selalu menambah ilmu, dan tidak merasa cukup dengan apa yang dia ketahui. Karna semakin banyak ilmu yang
dimiliki maka akan semakin besar pula manfaat yang dia bisa diberi- kan.
DAFTAR PUSTAKA Al-Qur‟an Al-Karim.
Arikunto Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis.
Bahri An-Nabiry Fathul, Meniti Jalan Dakwah Bekal Perjuangan Para Da’i.
Bungin Burhan, 2018, Penelitian kualitatif : Komunikasi, Ekonomi, Ke- bijakan Politik, dan ilmu sosial lainnya, Jakarta: Kencana.
Basit Abdul, 2013,Filsafat Dakwah,Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.
Depikbud, 1995,Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka.
Faisal, 2009,Psikologi Dakwah, Cet. 2; Jakarta: Pustaka Kencana.
Faizah dan Machsin Effendi Lalu. 2006,Psikologi Dakwah, Jakarta:
Kencana R. M. Maclver dan Charles H. Page, op. .,cit
Hadi Sutrino, 1989, Metodologi Research, Yogyakarta: Andi Offest h.
https://www.jembermu.com/2017/02/5-indikator masyarakat Islam yang sebenar-benarnya/ diakses pada tgl 19 maret 2019.
Ittihad Amin Zainul, Pendidikan Kewarganegaraan.Jakarta: Universitas Terbuka.
Khalid Abdul, Syekh Abdurrahman, Strategi Dakwah Syar’iyah,Solo: CV.
Pustaka Mantiq.
Linton Ralp, 1984,Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: Rajawali.
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional RI, 1994, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka.
Pimay Awaludin. Pengantar Ilmu Dakwah.
Rahmatiah St, 2014,Psikologi Dakwah Suatu Penagantar, Makassar.
Syukur Asmuni, Dasar Strategi Dakwah, Suraya: Pustaka Al-Ikhlas.
Suhardono Edy, 1997,Teori Peran [Konsep, Derivasi dan Implikasi, Jakar- ta; PT Gramedia Pustaka Utama.
Salim Peter dan Salim Yeni, 199,Kamus Besar Bahasa Indonesia Kon- temporer,Jakarta: Modern English Press.
Sosial Changes in Yogyakarta,1962,New York: Cornel University Press.
Tailor, Bodgan, 2018, Pendekatan Kualitatif Untuk Pengendalian Kuali- tas,Jakarta: Universitas Indonesia.
Wirawan Sarwono Sarlito, 201,5Teori- Teori Psikologi Sosial, Jakarta: Ra- jawali Pers.
Zohar Dana dan Mursal Ian,2004,Spritual Kapital: Memberdayakan SQ di Dunia Bisnis, Bandung: PT. Mizn Pustaka.
LAMPIRAN
MENGAJAR TPA ROGO BA‟DA ASHAR
MENGAJAR TPA SUMBANG
MEMBINA TAHFIZH PUTRI BUNTU KIKI
MEMBINA TAHFIZH PUTRA BUNTU KIKI
MENGAJAR TPA BUNTU KIKI
MENGAJAR TPA ROGO BA‟DA MAGRIB
MENGAJAR DI MIS ROGO
PENGAJIAN BULANAN DI SUMBANG