• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Usaha Peternakan di Indonesia

Dalam dokumen KEPUTUSAN PETERNAK MENGAMBIL KREDIT DAN (Halaman 53-61)

V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Karakteristik Usaha Peternakan di Indonesia

Tabel 4 Deskriptif statistik sampel rumah tangga usaha peternakan

Variabel

Total Sampel

Usaha Peternakan yang Tidak Menggunakan

Kredit

Usaha Peternakan yang Menggunakan

Kredit Signifikansi Mean Std.

Dev

Mean Std.

Dev

Mean Std.

Dev Lokasi RTUP

(dummy, pulau Jawa

= 1)

0,47 0,28 0,46 0,49 0,56 0,49 0,000

Usia (tahun) 49,36 11,57 49,51 11,62 47,89 10,94 0,000

Jenis kelamin (dummy, laki-laki = 1)

0,88 0,31 0,88 0,32 0,91 0,27 0,000

Tingkat pendidikan (years of school)

10,98 4,22 10,95 4,24 11,20 4,02 0,171

Jenis ternak (dummy, ruminansia

= 1)

0,86 0,34 0,87 0,33 0,82 0,38 0,000

Jumlah tanggungan dalam keluarga (orang)

4,43 1,73 4,17 1,60 7 0 0,000

Pengalaman beternak (tahun)

4,01 3,81 4,00 3,81 4,19 3,88 0,019

Kepemilikan lahan (dummy, milik sendiri = 1)

0,92 0,26 0,92 0,25 0,92 0,26 0,011

Kepemilikan sarana usaha ternak (dummy, milik sendiri = 1)

0,89 0,30 0,87 0,30 0,90 0,29 0,184

Keanggotaan koperasi (dummy, anggota=1)

0,07 0,25 0,05 0,23 0,19 0,39 0,000

Kelompok peternak (dummy,

anggota=1)

0,04 0,20 0,03 0,17 0,17 0,37 0,000

Keanggotaan asosiasi (dummy, anggota =1)

0,00 0,06 0,00 0,05 0,01 0,13 0,000

Penyuluhan (dummy, mendapat penyuluhan =1)

0,07 0,26 0,05 0,23 0,20 0,40 0,000

Kemitraan (dummy, memiliki mitra =1)

0,00 0,08 0,00 0,06 0,03 0,18 0,023

Omset penjualan (Rupiah)

1.16 x 107

7,66 x 107

1,05 x 107

6,83 x 107

2,33 x 107

1,33 x 107

0,000 Keuntungan

(Rupiah)

1,14 x 107

7,65 x 107

1,03 x 107

6,82 x 107

2,30 x 107

1,33 x 107

0,000 Jumlah ternak

(Jumlah)

35,08 469,84 25,47 366,20 131,65 1039,8 0

0,000 Observasi (n) 42.392 42.392 38.554 38.554 3.838 3.838

5.1.2 Usia peternak

Berdasarkan hasil data survei, usia rata-rata peternak di Indonesia secara keseluruhan adalah 49 tahun. Usia peternak di Indonesia berdasarkan survei rumah tangga usaha peternakan berada pada usia produktif maupun usia non produktif yakni berada pada rentang usia 15-80 tahun. Usia produktif merupakan usia dimana warga negara tersebut telah memasuki usia kerja yakni berkisar antara 15-64 tahun. Sedangkan warga negara dengan usia dibawah 15 tahun tidak tergolong tenaga kerja dan usia diatas 64 tahun disebut lansia. Sebagian besar usia peternak peternak yakni sebesar 89,13 persen berada pada usia produktif sedangkan 10,87 persen lainnya berada pada usia non produktif (lansia). Berdasarkan survei tersebut rata-rata usia peternak yang menggunakan kredit adalah 48 tahun dan yang tidak menggunakan kredit adalah 50 tahun.

Dengan demikian hal ini menunjukkan bahwa rata-rata usia peternak yang menggunakan kredit lebih muda dibandingkan dengan rata-rata usia peternak yang tidak menggunakan kredit. Hal ini tentunya berkaitan dengan usia peternak yang lebih muda cenderung lebih terbuka terhadap pengetahuan mengenai sumber-sumber permodalan usaha sehingga meningkatkan keputusan untuk menggunakan kredit (Asih 2007; Muhammamah 2008; Haloho 2010; Auditiya 2011; Samti 2011; Abadi 2014; Kusumaningtyas 2017; Marantika dan Sampurno 2018).

5.1.3 Jenis kelamin

Berdasarkan hasil survei secara keseluruhan, peternak di Indonesia didominasi oleh laki-laki sebesar 88,65 persen sedangkan sisanya sebesar 11,35 merupakan peternak berjenis kelamin perempuan. Apabila ditinjau berdasarkan penggunaan kreditnya, maka pengguna kredit juga lebih banyak digunakan oleh peternak laki-laki yakni sebanyak 3.528 dibandingkan dengan perempuan yang menggunakan kredit hanya sebanyak 310 peternak. Sedangkan peternak laki- laki yang tidak menggunakan kredit yaitu sebanyak 34.053 peternak atau sekitar 90,62 persen dari total keseluruhan peternak laki-laki. Sementara itu peternak perempuan yang tidak menggunakan kredit yakni sebanyak 4.501 peternak atau sebesar 93,56 persen dari total keseluruhan peternak perempuan. Dengan demikian penggunaan kredit lebih didominasi oleh peternak laki-laki dibandingkan dengan peternak perempuan. Hal ini juga berkaitan dengan aksesibilitas kredit yang lebih tinggi untuk pelaku usaha laki-laki dibandingkan dengan perempuan (Nkuah et al. 2013; Diana 2019).

5.1.4 Tingkat pendidikan

Tingkat pendidikan formal yang ditempuh oleh peternak di Indonesia rata- rata adalah selama 11 tahun atau tergolong belum lulus SMA, artinya pendidikan peternak didominasi oleh lulusan SMP yakni sebesar 20,39 persen. Berdasarkan hasil survei, diketahui bahwa tingkat pendidikan yang telah ditempuh oleh peternak di Indonesia yaitu tidak lulus SD sebesar (13,25%), lulusan SD sebesar (38,35%), lulusan SLTP sederajat sebesar (20,39%), lulusan SLTA sederajat sebesar (21,44%), lulusan D1/D2 sebesar (0,98%), lulusan D3 sebesar (0,88%), lulusan D4/S1 sebesar (4,48%), dan lulusan S2/S3 sebesar (0,23%). Artinya sebagian besar pendidikan formal peternak di Indonesia masih didominasi oleh lulusan SD. Apabila ditinjau berdasarkan penggunaan kredit, peternak yang

menggunakan kredit memiliki rata-rata pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan peternak yang tidak menggunakan kredit. Peternak yang menggunakan kredit memiliki rata-rata pendidikan 11-12 tahun, sedangkan yang tidak menggunakan kredit memiliki rata-rata pendidikan 10-11 tahun. Dengan demikian peternak yang menggunakan kredit memiliki rata-rata pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan peternak yang tidak menggunakan kredit (Mandaka dan Hutagaol 2015; Firmansyah et al. 2017). Perbedaan ini tentunya berdampak pada tingkat pengetahuan peternak mengenai kredit dan keputusan peternak menggunakan kredit.

5.1.5 Jenis ternak

Berdasarkan hasil survei rumah tangga usaha peternakan dikategorikan menjadi ruminansia dan non ruminansia (unggas). Berdasarkan hasil yang ada diketahui jenis ternak yang diusahakan oleh peternak di Indonesia di dominasi oleh ruminansia sebesar 87 persen atau sebanyak 36.724 peternak ruminansia sedangkan sisanya sebesar 13 persen merupakan jenis ternak non ruminansia (unggas) atau sebanyak 5.668 peternak non ruminansia (unggas). Beberapa jenis ruminansia (ternak besar) yang diusahakan yakni sapi potong sebesar (39,28%), kambing (19,58%), babi (11,69%), domba (10,08%), kerbau (4%), sapi perah (1,82%), dan kelinci (0,15%). Sedangkan jenis ternak non ruminansia (unggas) yang diusahakan yakni ayam kampung (9,58%), itik (2,66%), itik manila (0,76%), dan ayam ras petelur (0,41%). Apabila ditinjau berdasarkan penggunaan kreditnya, sebagian besar peternak yang menggunakan kredit adalah peternak ruminansia yakni sebesar 3,164 peternak dibandingkan dengan peternak non ruminansia (unggas) yang menggunakan kredit hanya sebanyak 674 peternak. Sementara peternak yang tidak menggunakan kredit juga didominasi oleh peternak ruminansia sebanyak 33.560 peternak dan non ruminansia (unggas) sebanyak 4.994 peternak. Dengan demikian peternak ruminansia lebih dominan menggunakan kredit dibandingkan dengan peternak non ruminansia. Hal ini didukung oleh penelitian Mayangsari et al. (2014) yang menjelaskan bahwa kredit sapi potong yang diberikan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan pendapatan peternak.

5.1.6 Jumlah tanggungan dalam keluarga

Berdasarkan survei rumah tangga usaha peternakan, rata-rata jumlah tanggungan dalam keluarga sebanyak 4 orang. Jumlah tanggungan dalam keluarga peternak yang menggunakan kredit cenderung lebih banyak dibandingkan dengan peternak yang tidak menggunakan kredit. Rata-rata jumlah tanggungan dalam keluarga peternak yang menggunakan kredit sebanyak 7 orang dengan total peternak sebanyak 3.838 peternak. Artinya seluruh peternak yang menggunakan kredit memiliki tanggungan dalam keluarga sebanyak 7 orang. Sedangkan peternak yang tidak menggunakan kredit memiliki jumlah tanggungan dalam keluarga yang berkisar antara 1-10 orang dengan rata-rata jumlah tanggungan dalam keluarga sebanyak 4 orang. Total peternak yang tidak menggunakan kredit yakni sebanyak 38.554 orang. Dengan demikian jumlah tanggungan dalam keluarga usaha peternakan yang menggunakan kredit cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan peternak yang tidak menggunakan

kredit. Hal ini berkaitan dengan keterlibatan tenaga kerja dalam keluarga yang dapat meningkatkan input tenaga kerja (Firmansyah et al. 2017).

5.1.7 Pengalaman beternak

Pengalaman beternak merupakan lamanya waktu peternak dalam menjalankan usahanya memiliki rata-rata total selama 4 tahun. Apabila ditinjau berdasarkan penggunaan kredit, peternak yang menggunakan kredit memiliki rata-rata pengalaman usaha yang lebih lama dibandingkan dengan peternak yang tidak menggunakan kredit. Peternak yang menggunakan kredit memiliki rata- rata pengalaman usaha antara 4-5 tahun, sedangkan yang tidak menggunakan kredit hanya selama 4 tahun. Berdasarkan hasil olah data diketahui bahwa pengalaman usaha peternak yang menggunakan kredit yaitu 0-1 tahun (292 peternak), 1-5 tahun (1701 peternak), 5-10 tahun (808 peternak), dan pengalaman usaha diatas 10 tahun sebanyak 1.037 peternak. Sedangkan pengalaman usaha peternak yang tidak menggunakan kredit yaitu 0-1 tahun (2.927 peternak), 1-5 tahun (17,908 peternak), 5-10 tahun (8.159 peternak), dan pengalaman usaha diatas 10 tahun sebanyak 9.560 peternak. Dengan demikian peternak yang menggunakan kredit memiliki pengalaman yang lebih tinggi dibandingkan dengan peternak yang tidak menggunakan kredit. Hal ini berkaitan dengan semakin tinggi pengalaman beternak yang dimiliki maka semakin tinggi pula keberhasilan usaha sehingga meningkatkan pengembalian kredit yang digunakan (Triwibowo 2009; Samti 2011; Widayanthi 2012; Abadi 2014;

Arinda 2015; Hermawan dan Wiagustini 2016; Kiswati dan Rahmawaty 2016;

Oktapiani 2018; Wulandari et al. 2021).

5.1.8 Kepemilikan lahan

Kepemilikan lahan merupakan salah satu faktor yang dapat mendukung peternak dalam mengambil kredit. Hal ini berkaitan dengan kemampuan kepemilikan lahan yang dapat digunakan sebagai jaminan kredit. Berdasarkan hasil survei diketahui bahwa sebagian besar peternak yakni sebesar 92,70 persen peternak memiliki status kepemilikan lahan sendiri sebanyak 39.300 peternak, sedangkan sisanya sebesar 7,30 persen atau sebanyak 3.092 peternak memiliki status kepemilikan lahan sewa atau milik orang lain. Artinya sebagian besar peternak memiliki lahan peternakannya sendiri dalam menjalankan usahanya.

Apabila ditinjau berdasarkan penggunaan kredit, peternak yang menggunakan kredit sebagian besar memiliki kepemilikan lahan sendiri yakni sebesar 92,15 persen atau sebanyak 3.537 peternak. Sedangkan peternak yang menggunakan kredit namun tidak memiliki lahan sendiri atau menggunakan sewa lahan yakni sebesar 7,85 persen atau sebanyak 301 peternak. Selain itu, peternak yang tidak menggunakan kredit masih didominasi oleh peternak yang memiliki lahan sendiri yakni sebesar 92,76 persen atau sebanyak 35.763 peternak, sedangkan sisanya sebesar 7,24 persen atau sebanyak 2.791 peternak tidak memiliki lahan atau menggunakan lahan sewa atau milik orang lain. Dengan demikian peternak yang menggunakan kredit dominan memiliki lahan sendiri dibandingkan dengan peternak yang tidak menggunakan kredit. Hal ini sejalan dengan penelitian Wati et al. (2014), Dahri et al. (2015), dan Triyono et al. (2016) bahwasannya peternak dengan kepemilikan lahan milik sendiri memiliki peluang lebih besar terhadap akses kredit mikro dibandingkan dengan peternak dengan lahan sewa.

5.1.9 Kepemilikan sarana usaha ternak

Kepemilikan saran usaha ternak bertujuan untuk mendukung serta memperlancar kegiatan produksi. Berdasarkan hasil survei, diketahui bahwa Sebagian besar peternak telah memiliki sarana usaha ternak sendiri yakni sebesar 89,90 persen atau sebanyak 38.112 peternak, sisanya sebesar 10,10 persen atau sebanyak 4.280 peternak masih tidak memiliki sarana usaha ternak sendiri atau berasal dari sewa alat atau milik orang lain. Apabila ditinjau berdasarkan penggunaan kredit, peternak yang menggunakan kredit sebagian besar telah memiliki sarana usaha ternak sendiri dibandingkan yang tidak. Sedangkan peternak yang tidak menggunakan kredit juga didominasi oleh peternak yang menggunakan sarana usaha ternak yang berasal dari milik sendiri. Dengan demikian peternak yang menggunakan kredit lebih banyak memiliki sarana usaha ternak sendiri dibandingkan dengan kepemilikan orang lain atau sewa. Hal ini tentunya berkaitan dengan alokasi kredit untuk meningkatkan sarana input peternakan untuk meningkatkan kapasitas usahanya (Ogwuike et al. 2022).

5.1.10 Keanggotaan koperasi

Berdasarkan hasil survei, diketahui bahwa sebagian besar peternak tidak tergabung ke dalam anggota koperasi yakni sebesar 92,90 persen atau sebanyak 39.382 peternak, sisanya sebanyak 3.010 peternak atau sebesar 7,10 persen peternak sudah tergabung ke dalam anggota koperasi. Sementara itu apabila ditinjau berdasarkan penggunaan kredit, sebagian besar peternak yang menggunakan kredit tidak tergabung ke dalam koperasi yakni sebesar 80,82 persen peternak atau sebanyak 3.102 peternak. Sisanya sebesar 19,18 persen atau sebanyak 736 peternak yang menggunakan kredit telah tergabung ke dalam koperasi. Sementara itu peternak yang tidak menggunakan kredit sebagian besar juga tidak tergabung ke dalam koperasi sebesar 94,10 persen atau sebanyak 36.280 peternak, sisanya sebanyak 2.274 peternak atau 5,90 persen peternak sudah tergabung ke dalam anggota koperasi. Dengan demikian peternak yang menggunakan kredit lebih sedikit tergabung dalam keanggotaan koperasi dibandingkan dengan peternak yang tidak menggunakan kredit. Meskipun demikian peternak yang menggunakan kredit dan tergabung kedalam koperasi memiliki aksesibilitas kredit yang lebih tinggi dibandingkan dengan peternak yang tidak tergabung ke dalam koperasi (Mandaka dan Hutagaol 2015; Winarso 2015; Firmansyah et al. 2017; Atmakusuma et al. 2019; Wulandari et al. 2021).

5.1.11 Kelompok peternak

Berdasarkan hasil survei, diketahui bahwa sebagian besar peternak tidak tergabung ke dalam kelompok peternak yakni sebesar 95,57 persen atau sebanyak 40.514 peternak. Sisanya sebesar 4,43 atau sebanyak 1.878 peternak telah tergabung ke dalam kelompok peternak. Apabila ditinjau berdasarkan penggunaan kredit, sebagian besar peternak yang menggunakan kredit tidak tergabung ke dalam kelompok peternak sebesar 82,80 persen atau sebanyak 3.178 peternak, sisanya sebanyak 17,20 persen atau sebanyak 660 peternak yang menggunakan kredit telah tergabung ke dalam kelompok peternak. Sementara itu, peternak yang tidak menggunakan kredit dan tidak tergabung ke dalam kelompok peternak sebesar 96,84 persen atau sebanyak 37.336 peternak, sedangkan yang tidak menggunakan kredit namun tergabung ke dalam

kelompok peternak yakni sebesar 3,16 persen atau sebanyak 1.218 peternak.

Dengan demikian peternak yang menggunakan kredit yang tergabung ke dalam kelompok peternak lebih sedikit dibandingkan dengan peternak yang tidak menggunakan kredit. Meskipun demikian penelitian Wibowo dan Haryadi (2006), Supriatna (2008), Dahri et al. (2015), Widodo (2016), Santoso dan Fathiah (2017), Ashari (2019), dan Putri et al. (2021) menjelaskan bahwasannya peternak yang tergabung ke dalam kelompok peternak memiliki aksesibilitas yang lebih tinggi terhadap kredit mikro dibandingkan dengan peternak yang tidak tergabung ke dalam kelompok peternak.

5.1.12 Keanggotaan asosiasi

Berdasarkan hasil survei, diketahui bahwa sebagian besar peternak tidak tergabung ke dalam asosiasi peternak sebesar 99,60 persen. Sementara itu, sebanyak 0,40 persen peternak telah tergabung ke dalam asosiasi peternak.

Apabila ditinjau berdasarkan penggunaan kreditnya sebagian besar peternak yang menggunakan kredit tidak tergabung ke dalam asosiasi, begitu pula dengan peternak yang tidak menggunakan kredit. Peternak yang menggunakan kredit dan tergabung ke dalam asosiasi hanya sebesar 1,82 persen, dan yang tidak menggunakan kredit hanya sebesar 0,25 persen. Dengan demikian peternak yang menggunakan kredit yang tergabung dalam keanggotaan asosiasi lebih banyak dibandingkan dengan peternak yang tidak menggunakan kredit. Hal ini berkaitan dengan penelitian Widyani (2013), Anzory (2018), Diana (2019), Colin dan Kacaribu (2021) yang menjelaskan bahwa keanggotaan asosiasi menjadi faktor pendukung terhadap aksesibilitas kredit.

5.1.13 Penyuluhan

Penyuluhan merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi peternak dalam menggunakan kredit. Berdasarkan hasil survei, diketahui bahwa sebagian besar peternak tidak mendapat penyuluhan yaitu sebesar 92,70 persen, sedangkan sisanya sebesar 7,30 persen peternak telah mendapatkan penyuluhan.

Jika dilihat berdasarkan penggunaan kredit, sebagian besar peternak yang menggunakan kredit tidak mendapatkan penyuluhan sebesar 79,45 persen, sedangkan sisanya sebesar 20,55 persen peternak yang menggunakan kredit mendapatkan penyuluhan. Sementara itu peternak yang tidak menggunakan kredit, sebagian besar tidak mendapatkan penyuluhan sebesar 94,02 persen, sedangkan sisanya sebesar 5,98 persen telah mendapatkan penyuluhan. Dengan demikian peternak yang menggunakan kredit dan mendapat penyuluhan lebih banyak dibandingkan dengan peternak yang tidak menggunakan kredit, Hal ini berkaitan dengan penelitian Karsidi (2007), Wibowo (2013), Asiati dan Nawawi (2017), Yuniarti (2018), Abubakar et al. (2019), Diana (2019), Descartes et al.

(2021), dan Fitra (2022) yang menjelaskan bahwa keberhasilan kredit tidak terlepas dari penyuluhan kredit sebagai salah satu mengenai sumber permodalan usaha.

5.1.14 Kemitraan

Kemitraan merupakan salah satu bentuk kerja sama yang dapat menjadi salah satu faktor peternak dalam menggunakan kredit. Berdasarkan hasil survei,

diketahui bahwa sebagian besar peternak tidak memiliki mitra atau kerja sama dengan orang atau pihak lain. Peternak yang tidak bermitra yaitu sebesar 99,27 persen atau sebanyak 42.086 peternak, sedangkan sisanya sebesar 0,73 atau sebanyak 306 peternak telah bermitra dengan pihak lain. Jika ditinjau berdasarkan penggunaan kredit, peternak yang menggunakan kredit sebagian besar masih belum bermitra dengan pihak lain yakni sebesar 96,43 persen sedangkan sisanya sebesar 3,57 persen telah bermitra. Sementara itu peternak yang tidak menggunakan kredit juga didominasi oleh peternak yang tidak bermitra sebesar 99,56 persen, sisanya sebesar 0,44 persen peternak telah memiliki kerjasama dengan pihak lain atau bermitra. Dengan demikian peternak yang menggunakan kredit dan memiliki kemitraan lebih banyak dibandingkan dengan peternak yang tidak menggunakan kredit. Hal ini berakitan dengan penelitian Ardiyanto dan Setiawan (2013), Wibowo (2013), Widyani (2013), Santoso et al. (2015), Fitria dan Jurana (2016), Asiati dan Nawawi (2017), Saputra et al. (2017), dan Diana (2019) bahwa kemitraan merupakan faktor yang berpengaruh signifikan terhadap aksesibilitas kredit.

5.1.15 Jumlah ternak

Jumlah ternak yang dimiliki oleh usaha peternakan berdasarkan hasil survei memiliki rata-rata sebesar 35-36 ekor ternak. Apabila dibandingkan, peternak yang menggunakan kredit memiliki jumlah ternak yang lebih banyak dibandingkan dengan peternak yang tidak menggunakan kredit. Peternak yang menggunakan kredit memiliki rata-rata 131-132 ekor ternak, sedangkan peternak yang tidak menggunakan kredit memiliki rata-rata 25-26 ekor ternak.

Hal ini menunjukkan bahwa kredit yang digunakan oleh peternak cenderung digunakan untuk digunakan untuk menambah jumlah ternak yang dimiliki guna meningkatkan omset penjualan (Mayangsari et al. 2014; Waqid 2014). Dengan demikian peternak yang menggunakan kredit memiliki rata-rata jumlah ternak yang lebih tinggi dibandingkan dengan peternak yang tidak menggunakan kredit.

Hal ini berkaitan dengan penelitian Mayangsari et al. (2014), Waqid (2014), Dahri et al. (2015), dan Utomo 2019) yang menjelaskan bahwasannya penyaluran kredit memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan jumlah ternak

5.1.16 Omset penjualan

Omset penjualan merupakan hasil penjualan yang diperoleh usaha peternakan dari penjualan hasil ternak yang dimiliki. Berdasarkan survei, diketahui bahwa rata-rata omset yang diperoleh oleh peternak yakni sebesar Rp 11.600.000. Apabila ditinjau berdasarkan penggunaan kredit, peternak yang menggunakan kredit memiliki omset penjualan yang lebih tinggi dibandingkan dengan peternak yang tidak menggunakan kredit. Peternak yang menggunakan kredit memiliki rata-rata omset penjualan sebesar Rp 23.300.000, sedangakan peternak yang tidak menggunakan kredit memiliki rata-rata omset penjualan sebesar Rp 10.500.000. Hal ini juga berkaitan dengan jumlah ternak yang dimiliki oleh usaha peternakan yang juga ikut memengaruhi omset penjualan peternak. Dengan demikian peternak yang menggunakan kredit memiliki rata- rata omset penjualan yang lebih tinggi dibandingkan dengan peternak yang tidak menggunakan kredit. Hal ini sejalan dengan penelitian Pratama (2014), Arinda

(2015), Muharastri et al. (2015), Nasution (2016), dan Zulhatasmi (2016) yang menjelaskan bahwa pemberian kredit memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan omset penjualan usaha peternakan.

5.1.17 Keuntungan

Keuntungan merupakan hasil pengurangan dari penerimaan dikurangi dengan biaya produksi. Berdasarkan data survei diketahui bahwa rata-rata keuntungan usaha peternakan yakni sebesar Rp 11.400.000. Apabila ditinjau berdasarkan penggunaan kredit, peternak yang menggunakan kredit memiliki keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan peternak yang tidak

Dalam dokumen KEPUTUSAN PETERNAK MENGAMBIL KREDIT DAN (Halaman 53-61)

Dokumen terkait