• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEPUTUSAN PETERNAK MENGAMBIL KREDIT DAN

N/A
N/A
Sulasmi Istiqomah

Academic year: 2025

Membagikan "KEPUTUSAN PETERNAK MENGAMBIL KREDIT DAN"

Copied!
93
0
0

Teks penuh

(1)

KEPUTUSAN PETERNAK MENGAMBIL KREDIT DAN DAMPAKNYA TERHADAP KINERJA USAHA PETERNAKAN

DI INDONESIA

DWI MARTHA YULIA

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2022

(2)
(3)

INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi dengan judul “Keputusan Peternak Mengambil Kredit dan Dampaknya terhadap Kinerja Usaha Peternakan di Indonesia” adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Juli 2022 Dwi Martha Yulia H34180013

(4)
(5)

ABSTRAK

DWI MARTHA YULIA. Keputusan Peternak Mengambil Kredit dan Dampaknya terhadap Kinerja Usaha Peternakan di Indonesia. Dibimbing oleh DWI RACHMINA dan FERYANTO.

Peternakan merupakan salah satu subsektor pertanian yang memiliki peranan penting dalam perekonomian nasional. Permentan No.19 tahun 2010 menekankan pada kinerja usaha peternakan yang dinilai rendah terutama pada produksi dalam negeri. Guna meningkatkan kinerja usaha peternakan, pemanfaatan kredit sebagai salah satu bentuk permodalan dapat berguna untuk menambah modal usaha. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keputusan peternak mengambil kredit dan dampaknya terhadap kinerja usaha peternakan di Indonesia. Data yang digunakan bersumber dari data sekunder Survei Rumah Tangga Usaha Peternakan tahun 2014 dengan jumlah sampel sebanyak 42.392 data. Metode yang digunakan yaitu Propensity Score Matching (PSM). Variabel untuk mengukur kinerja usaha yaitu variabel jumlah ternak, omset penjualan dan keuntungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi keputusan peternak menggunakan kredit yaitu lokasi usaha peternakan, usia peternak, jenis kelamin, jumlah tanggungan dalam keluarga, jenis ternak, pengalaman beternak, kepemilikan lahan, keanggotaan koperasi, kelompok peternak, keanggotaan asosiasi, penyuluhan, dan kemitraan. Sedangkan variabel tingkat pendidikan dan kepemilikan sarana usaha ternak tidak berpengaruh terhadap keputusan peternak mengambil kredit. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa kredit memiliki pengaruh yang positif secara statistik terhadap peningkatan kinerja usaha peternakan yang berpengaruh terhadap peningkatan jumlah ternak, omset penjualan dan keuntungan.

Kata Kunci: Kredit, Propensity Score Matching (PSM), Usaha Peternakan

ABSTRACT

DWI MARTHA YULIA. Farmers' Decisions to Take Credit and Its Impact on Livestock Business Performance in Indonesia. Supervised by DWI RACHMINA and FERYANTO.

Livestock is one of the agricultural sub-sectors that have an essential role in the national economy. Regulation of the Minister of Agriculture Number 19 of 2010 emphasizes the performance of livestock business which is still considered low, especially in domestic production. To improve livestock business performance, using credit as a form of capital can help increase business capital. This study aims to analyze the decision of farmers to take credit and its impact on the performance of livestock businesses in Indonesia. Secondary data source from the 2014 Livestock Business Household Survey with a total sample of 42,392 data. The method used is Propensity Score Matching (PSM). Variables to measure business performance are the number of livestock, sales turnover, and profit. The results showed that the factors that influence the decision of farmers to use credit are the location of the livestock business, the age of the breeder, gender, number of

(6)

dependents, type of livestock, livestock experience, land ownership, cooperative membership, farmer groups, association membership, extension, and partnerships.

In contrast, the variables of education level and ownership of livestock business facilities do not affect the decision of farmers to take credit. The analysis also shows that credit has a statistically positive effect on improving livestock business performance, which affects the number of livestock, sales turnover, and profits.

Keywords: Credit, Livestock Business, Propensity Score Matching (PSM)

© Hak Cipta Milik IPB, tahun 2022

1

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah, dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB.

Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB.

1 Pelimpahan hak cipta atas karya tulis dari penelitian kerja sama dengan pihak luar IPB harus didasarkan pada perjanjian kerja sama yang terkait

(7)

KEPUTUSAN PETERNAK MENGAMBIL KREDIT DAN DAMPAKNYA TERHADAP KINERJA USAHA PETERNAKAN

DI INDONESIA

DWI MARTHA YULIA

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana pada

Program Studi Agribisnis

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2022

(8)

Tim Penguji pada Ujian Skripsi:

1 Dr. Ir. Harmini, M.Si

2 Tursina Andita Putri, SE, M.Si

(9)
(10)

PRAKATA

Puji dan Syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Januari 2021 sampai bulan Juli 2022 ini ialah pembiayaan agribisnis, dengan judul “Keputusan Peternak Mengambil Kredit dan Dampaknya terhadap Kinerja Usaha Peternakan di Indonesia”.

Penyelesaian skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ibu Dr. Ir. Dwi Rachmina, M.Si dan Bapak Dr. Feryanto, S.P, M.Si selaku dosen pembimbing tugas akhir yang telah memberikan input, bimbingan, dan motivasi kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi dengan baik.

2. Ibu Dr. Ir. Harmini, M.Si dan Ibu Tursina Andita Putri, S.E, M.Si, selaku dosen penguji ujian ksripsi yang telah memberikan kritik dan saran untuk perbaikan skripsi penulis.

3. Departemen Agribisnis yang telah memberikan izin atas penggunaan data survei rumah tangga usaha peternakan tahun 2015

4. Ibu Tintin Sarianti, S.P, MM, selaku dosen evaluator kolokium yang telah memberikan kritik dan saran untuk perbaikan proposal penelitian.

5. Bapak Dr Joko Purwono, M.S. selaku dosen pembimbing akademik yang telah memberikan bimbingan dan dukungan selama perkuliahan.

6. Seluruh dosen dan staf Departemen Agribisnis yang telah membagikan ilmunya selama penulis menempuh perkuliahan.

7. Ayahanda Marguno, Ibunda Yuliati, Kakak Eka Desi Yulia, dan Adik Tria Emilia yang telah memberikan dukungan penuh selama berkuliah dan penyelesaian penulisan skripsi.

8. Keluarga AGB angkatan 55 yang telah menemani penulis selama proses perkuliahan dan membantu penyelesaian skripsi.

9. Teman-teman fast track Magister Sains Agribisnis angkatan 12 yang memberikan bantuan dan motivasi untuk segera menyelesaikan penulisan skripsi.

10. Last but not least, i wanna thank me, for believing in me, for doing all this hard work, for having no days off, for never quit, for just me and me at all times.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi pihak yang membutuhkan dan bagi kemajuan ilmu pengetahuan.

Bogor, Juli 2022 Dwi Martha Yulia

(11)
(12)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL x

DAFTAR GAMBAR x

DAFTAR LAMPIRAN x

I PENDAHULUAN 1

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Rumusan Masalah 3

1.3 Tujuan Penelitian 6

1.4 Manfaat Penelitian 6

1.5 Ruang Lingkup 6

II TINJAUAN PUSTAKA 7

2.1 Kinerja Usaha 7

2.2 Faktor-Faktor yang Memengaruhi Keputusan Peternak Mengambil

Kredit 8

2.3 Pengaruh Kredit terhadap Kinerja Usaha Peternakan 11

IIIKERANGKA PEMIKIRAN 13

3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 13

3.1.1 Kredit sebagai Sumber Pendanaan 13

3.1.2 Kinerja Usaha 16

3.2 Kerangka Pemikiran Operasional 27

IVMETODE PENELITIAN 31

4.1 Waktu Penelitian 31

4.2 Jenis dan Sumber Data 31

4.3 Metode Pengumpulan Data 31

4.4 Metode Pengolahan dan Analisis Data 32

4.4.1 Propensity Score Matching (PSM) 32

4.5 Variabel Operasional Penelitian 35

V HASIL DAN PEMBAHASAN 39

5.1 Karakteristik Usaha Peternakan di Indonesia 39

5.1.1 Lokasi usaha peternakan 39

5.1.2 Usia peternak 41

5.1.3 Jenis kelamin 41

5.1.4 Tingkat pendidikan 41

(13)

5.1.5 Jenis ternak 42

5.1.6 Jumlah tanggungan dalam keluarga 42

5.1.7 Pengalaman beternak 43

5.1.8 Kepemilikan lahan 43

5.1.9 Kepemilikan sarana usaha ternak 44

5.1.10 Keanggotaan koperasi 44

5.1.11 Kelompok peternak 44

5.1.12 Keanggotaan asosiasi 45

5.1.13 Penyuluhan 45

5.1.14 Kemitraan 45

5.1.15 Jumlah ternak 46

5.1.16 Omset penjualan 46

5.1.17 Keuntungan 47

5.2 Faktor-Faktor yang Memengaruhi Keputusan Usaha Peternakan

Menggunakan Kredit 47

5.2.1 Lokasi usaha peternakan 48

5.2.2 Usia peternak 49

5.2.3 Jenis kelamin 50

5.2.4 Tingkat pendidikan 50

5.2.5 Jumlah tanggungan dalam keluarga 50

5.2.6 Jenis ternak 51

5.2.7 Pengalaman beternak 51

5.2.8 Kepemilikan lahan 52

5.2.9 Kepemilikan sarana usaha ternak 52

5.2.10 Keanggotaan koperasi 53

5.2.11 Kelompok peternak 53

5.2.12 Keanggotaan asosiasi 54

5.2.13 Penyuluhan 54

5.2.14 Kemitraan 55

5.3 Dampak Kredit terhadap Kinerja Usaha Peternakan di Indonesia 55

5.3.1 Jumlah ternak 57

5.3.2 Omset penjualan 58

5.3.3 Keuntungan 58

VISIMPULAN DAN SARAN 61

(14)

6.1 Simpulan 61

6.2 Saran 61

DAFTAR PUSTAKA 63

LAMPIRAN 73

RIWAYAT HIDUP 79

DAFTAR TABEL

1 Sumber tambahan modal kredit rumah tangga usaha peternakan dan alasan tidak menggunakan kredit

6 2 Indikator variabel keputusan peternak mengambil kredit pada

penelitian terdahulu

8

3 Jenis data yang digunakan dan sumbernya 31

4 Deskriptif statistik sampel rumah tangga usaha peternakan 38 5 Faktor-Faktor yang memengaruhi peternak menggunakan kredit 46 6 Common support kovariat dalam proses pencocokan 54 7 Dampak kredit terhadap kinerja usaha peternakan di Indonesia dengan

metode nearest neighbor matching

54

DAFTAR GAMBAR

1 Perkembangan produk domestik bruto atas dasar harga berlaku subsektor peternakan tahun 2014-2020

1 2 Perkembangan impor produk peternakan tahun 2015-2019 2 3 Realisasi KUR sektor pertanian tahun 2015-2020 4 4 Jumlah debitur KUR sektor pertanian tahun 2015-2020 5 5 Pengaruh adanya kredit terhadap komposisi input dan biaya minimum

serta jalur perluasan usaha

14

6 Kerangka pemikiran operasional 28

DAFTAR LAMPIRAN

1 Hasil deskriptif statistik sampel 69

2 Hasil regresi logit 73

3 Hasil propensity score matching (PSM) dengan metode nearest matching score

74

(15)

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Peternakan merupakan salah satu subsektor pertanian yang memiliki peranan penting dalam perekonomian nasional. Peternakan berperan sebagai penyedia bahan baku pangan yang berguna untuk pemenuhan protein hewani yang bermanfaat bagi perbaikan gizi manusia. Peternakan juga berperan sebagai sumber devisa ekspor dan penyedia lapangan pekerjaan bagi peternak. Menurut Ditjen PKH (2016) subsektor peternakan menyerap sekitar 4,2 juta tenaga kerja pada tahun 2014. Jumlah tenaga kerja informal yang bekerja pada sektor pertanian saat ini sebesar 88,57 persen atau sekitar 68.797.850 jiwa pada tahun 2020 (BPS 2022a).

Di samping itu, subsektor peternakan juga berperan dalam menciptakan nilai tambah di sektor pertanian di Indonesia. Hal tersebut dicerminkan melalui kontribusi subsektor peternakan pada Produk Domestik Bruto (PDB) pertanian yang cenderung meningkat setiap tahunnya. Berikut grafik perkembangan PDB subsektor peternakan tahun 2014-2020 tersedia pada Gambar 1.

Gambar 1 Perkembangan produk domestik bruto atas dasar harga berlaku subsektor peternakan tahun 2014-2020 (BPS 2022b)

Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk Indonesia dan peningkatan taraf hidup manusia, peran subsektor peternakan semakin meningkat sejalan dengan peningkatan konsumsi protein hewani penduduk Indonesia. Dengan adanya peningkatan konsumsi komoditas peternakan merupakan faktor yang dapat mendukung sektor peternakan untuk mengembangkan usahanya. Hal tersebut berkaitan dengan isu pangan yang sangat strategis sehingga subsektor peternakan menjadi salah satu usaha penopang penyediaan pangan (Sucihatiningsih 2022).

Meskipun konsumsi produk peternakan di Indonesia cenderung meningkat, namun hal tersebut belum diimbangi dengan produksi dalam negeri. Selain menurunnya jumlah rumah tangga usaha peternakan, menurut Kementrian Pertanian (2019) komoditas peternakan masih sangat bergantung pada impor. Hal tersebut menyebabkan neraca perdagangan subsektor peternakan masih bernilai negatif. Berikut perkembangan impor produk peternakan tahun 2015-2019 tersedia pada Gambar 2.

Rp- Rp50.000,00 Rp100.000,00 Rp150.000,00 Rp200.000,00 Rp250.000,00 Rp300.000,00

2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

PDB Peternakan

Nilai PDB (miliar)

(16)

Gambar 2 Perkembangan impor produk peternakan 2015-2019 (Kementan 2019b)

Penelitian Ashari (2019) menjelaskan untuk memperkuat posisi sektor pertanian, penguatan modal pelaku usaha pertanian serta berpotensi menjadi landasan yang kuat untuk medukung pembangunan ekonomi Indonesia (Kementan 2021). Hal ini berkaitan dengan fungsi dari modal sebagai faktor pelancar pembangunan pertanian. Hal ini dijelaskan oleh Tampubolon et al. (2017) bahwasannya kredit dapat menolong pelaku usaha untuk mengembangkan inovasi produk dengan menyediakan pinjaman investasi produktif. Di negara berkembang seperti Indonesia, petani yang seringkali ditemui yaitu petani golongan kecil, miskin, atau petani non komersial yang tidak memiliki modal kuat. Oleh karena itu, pemerintah mencetuskan kebijakan penyediaan fasilitas pembiayaan dan permodalan sebagai salah satu strategi pemberdayaan peternak dan pelaku usaha mikro (UU RI 2013; Keppres RI 2015). Kredit merupakan salah satu sumber pembiayaan modal yang berguna meningkatkan input produksi dan pendapatan usahatani (Soekartawi 2002). Kredit diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan peternak yang dinilai masih rendah (BPS 2015). Penyaluran kredit pada sektor pertanian dapat menjadi salah satu insentif bagi petani untuk meningkatkan produksinya. Selain menjadi salah satu instrumen kebijakan, kredit memang dianggap mampu memutus “lingkaran setan” kemiskinan petani di pedesaan.

Kredit terus mengalami penyempurnaan dimulai dari kredit BIMAS, hingga KUR pada tahun 2015 yang masih digunakan sampai saat ini karena menyediakan pinjaman dengan suku bunga yang lebih rendah dari pada suku bunga pasar sehingga mudah diakses oleh usaha mikro (Hanafie 2010). Selain itu, KUR banyak dilakukan dengan kerjasama lembaga perbankan seperti BRI, BNI, Bank Mandiri, BPD maupun lembaga keuangan non-bank. Hal ini didukung oleh Kementerian BUMN guna mendorong terwujudnya inklusi keuangan melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) (BUMN 2015).

0 500000 1000000 1500000 2000000 2500000

Kg/tahun

2015 2016 2017 2018 2019*

(17)

Menurut Ditjen PKH (2021) berdasarkan sistem informasi kredit program (SIKP) Kementerian Keuangan, realisasi kredit usaha rakyat (KUR) sektor peternakan sebesar 13,8 triliun pada periode 2015 hingga Juni 2019 untuk usaha produktif pembibitan dan budidaya sapi, ternak perah, kambing/domba, unggas, dan kombinasi pertanian/perkebunan dengan sektor peternakan. Hal tersebut mengindikasikan meningkatnya kepercayaan sektor perbankan terhadap usaha sektor peternakan. Dengan adanya dukungan terhadap peternak dari segi pembiayaan dapat mendorong usaha peternakan untuk memenuhi kebutuhan lokal yang masih tinggi dan sangat bergantung pada impor.

Berdasarkan latar belakang diatas, peran kredit yang berfungsi untuk meningkatkan permodalan usaha sebagai salah satu strategi pemberdayaan peternak dan meningkatkan input produksi peternakan. Meskipun demikian dalam penyalurannya kredit tidak selalu memberikan dampak yang positif. Terdapat beberapa penelitian juga yang menjelaskan bahwa kredit tidak selalu digunakan untuk aktivitas kegiatan produksi, melainkan untuk memenuhi kebutuhan lain (Chandio et al. 2018; Darfor et al. 2021; Putri et al. 2021). Oleh karena itu diperlukan penelitian mengenai dampak kredit terhadap kinerja usaha peternakan dan faktor apa saja yang memengaruhi keputusan peternak mengambil kredit.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan penelitian Rahman et al. (2011) dengan adanya kebijakan kredit pertanian atau pedesaan dapat mendorong petani kecil dan marjinal terhadap akses terhadap sumber pembiayaan. Rahman et al. (2011) dan Takahashi et al. (2010) menjelaskan bahwa kredit dapat berkontribusi untuk mendukung perluasan usaha yang layak dan berkelanjutan dan berhubungan positif dengan kegiatan produksi.

Meskipun demikian pengalokasian kredit untuk sektor peternakan masih dibawah tingkat yang diharapkan apabila mempertimbangkan kontribusinya terhadap PDB (OJK 2015a).

Sejalan dengan Rahman et al. (2011), Akwaa-sekyi (2013) menjelaskan bahwa kredit pedesaan memiliki pengaruh yang besar terhadap modal untuk bertani, produksi, tenaga kerja yang digunakan, serta pendapatan petani. Penelitian Akwaa-sekyi (2013) dan Udoka et al. (2021) menjelaskan bahwa terdapat korelasi yang positif antara kredit pedesaan dengan produksi pertanian, angkatan tenaga kerja, modal kerja, output dan pendapatan petani yang lebih tinggi. Secara keseluruhan, menurut penelitian Akwaa-sekyi (2013) dan Takahashi et al. (2010) dengan adanya fasilitas kredit dari Badan Perkreditan Rakyat (BPR) mampu mendukung petani mengurangi kemiskinan di pedesaan.

Kredit Usaha Rakyat (KUR) ditujukan untuk masyarakat yang memiliki usaha produktif yang layak (feasible), namun memiliki keterbatasan dalam memenuhi persyaratan yang diberikan oleh perbankan. Dalam realisasinya, KUR menjadi program pembiayaan yang paling berhasil pada tahun 2007-2014 dibuktikan dengan besarnya dana bank yang digunakan untuk KUR yakni sebesar 178,85 triliun dengan persentase NPL sebesar 3,3 persen dan penyerapan tenaga kerja sebanyak 20.344.369 orang (OJK 2018). Hal tersebut terbukti membantu peternak meningkatkan input produksinya, karena permodalan merupakan aspek mendasar yang sangat berguna untuk mengembangkan usahanya. Berikut disajikan realisasi KUR sektor pertanian Tahun 2015-2020 pada Gambar 3.

(18)

Gambar 3 Realisasi KUR sektor pertanian tahun 2015-2020 (Kemenko Perekonomian 2020)

Meskipun kredit memiliki dampak positif terhadap pengembangan usaha, namun berdasarkan data survei rumah tangga usaha peternakan tahun 2014 sebagian besar peternak masih belum mendapatkan kredit. Hal tersebut dikarenakan kurangnya informasi lembaga permodalan maupun lembaga perkreditan (BPS 2015). Hal lainnya yang menjadi alasan utama peternak tidak mendapatkan tambahan modal adalah sulitnya akses terhadap lembaga permodalan. Dengan demikian akses mengenai sumber pembiayaan di tingkat peternak masih sangat minim. Hal ini ditunjukkan dalam Tabel 1 mengenai sumber tambahan modal kredit rumah tangga usaha peternakan dan alasan tidak menggunakan kredit.

Tabel 1 Sumber tambahan modal kredit rumah tangga usaha peternakan dan alasan tidak menggunakan kredit

Sumber: BPS 2015

Permasalahan pokok yang sering kali dihadapi oleh usaha peternakan di Indonesia yaitu lemahnya permodalan pada usaha peternakan. Akibatnya skala usaha pada sebagian besar jenis ternak cenderung rendah berakibat pada produksi

3,60

11,90 17,28 19,65

31,40

55,94

0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00

2015 2016 2017 2018 2019 2020

Realisasi KUR (Triliun)

Keterangan Persentase (%)

Tidak mendapat tambahan modal 93,91

1. Tidak berminat 44,27

2. Tidak ada pemberi bantuan modal 33,32

3. Tidak mampu membayar bunga 4. Tidak memiliki agunan

13,27 5,34

5. Lokasi Bank/Koperasi terlalu jauh 1,37

6. Lainnya 2,42

Mendapat tambahan modal 6,09

1. Perorangan

2. Bank/Kredit Usaha Rakyat (KUR)/Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP)

2,82 0,98 3. Lainnya

4. Koperasi/Kelompok Peternak

0,95 0,86

5. PNPM 0,48

(19)

usaha peternakan masih dinilai rendah. Hal ini menyebabkan pendapatan yang diterima cenderung rendah. Alhasil kinerja dari subsektor peternakan dinilai masih perlu ditingkatkan (BPS 2015). Oleh karena itu, tersebut penguatan struktur permodalan melalui pemanfaatan kredit berupa modal usaha sangat diperlukan oleh peternak. Dengan adanya peningkatan dan efektivitas pembiayaan petani dapat menjadi kunci pendongkrak skala usahatani yang dapat mengangkat posisi tawar petani pada permintaan pasar (BBP2TP 2011). Hal tersebut dapat dicerminkan melalui peningkatan jumlah debitur KUR sektor pertanian yang terus meningkat dari tahun 2015 – 2020 pada Gambar 4.

Gambar 4 Jumlah debitur KUR sektor pertanian tahun 2015-2020 (Kemenko Perekonomian 2020)

Saat ini penyaluran kredit perbankan pada sektor pertanian memang dinilai relatif rendah yakni sebesar 7,10 persen (OJK 2021). Hal ini berkaitan dengan berlanjutnya kontraksi pertumbuhan kredit senilai -2,41 dikarenakan banyak kekeliruan anggapan masyarakat mengenai dana KUR sebagai dana hibah yang memicu banyaknya moral hazard di kalangan masyarakat kreditur (OJK 2020a).

Untuk mengoptimalkan peran kredit tersebut diperlukan peninjauan pemanfaatan kredit agar memberikan manfaat yang lebih besar terutama untuk pembangunan pertanian. Hal ini dikarenakan kredit tidak sepenuhnya memberikan dampak yang positif (Chandio et al. 2018; Darfor et al. 2021).

Beberapa penelitian sebelumnya juga belum menjelaskan secara rinci dampak pemberian kredit dan hanya menggunakan satu indikator kinerja usaha seperti pendapatan peternak atau terhadap kesejahteraan peternak saja. Dimana dalam penelitian ini digunakan metode analisis propensity score matching dengan menggunakan teknik average treatment effect in the treated (ATT) yang dapat mengestimasi nilai rata-rata potential outcomes dengan membandingkan dua kelompok yakni usaha peternakan yang menggunakan kredit dan yang tidak sehingga dapat mengurangi bias penelitian. Sementara faktor yang ikut memengaruhi keputusan peternak untuk menggunakan kredit yang ditambahkan dalam penelitian ini yaitu lokasi usaha peternakan yang dibedakan menjadi Jawa dan luar Jawa serta jenis ternak yang dibedakan menjadi ruminansia dan non ruminansia (unggas). Selain itu indikator kinerja usaha yang digunakan yaitu jumlah ternak, omset penjualan, dan keuntungan. Oleh karena itu, keputusan

0 500.000 1.000.000 1.500.000 2.000.000 2.500.000

2015 2016 2017 2018 2019 2020

Jumlah Debitur

(20)

peternak mengambil kredit dan bagaimana dampaknya terhadap kinerja usaha peternakan perlu untuk diteliti. Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka dirumuskan pertanyaan penelitian mengenai faktor apa saja yang memengaruhi keputusan peternak mengambil kredit dan bagaimana dampak kredit terhadap kinerja usaha peternakan?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini bertujuan untuk menjawab:

1. Menganalisis faktor apa saja yang memengaruhi keputusan usaha peternakan di Indonesia untuk mengambil kredit?

2. Menganalisis dampak kredit terhadap kinerja usaha peternakan di Indonesia?

1.4 Manfaat Penelitian

Pelaksanaan penelitian ini diharapkan memberikan manfaat bagi:

1. Bagi lembaga perbankan maupun lembaga keuangan mikro dapat menggunakan penelitian ini sebagai referensi informasi untuk membuat keputusan dalam memberikan pinjaman kredit kepada usaha peternakan.

2. Bagi usaha peternakan sebagai sumber informasi mengenai pertimbangan penggunaan kredit guna meningkatkan kinerja usaha peternakan.

3. Bagi peneliti, dapat dijadikan sumber referensi dalam menggali penelitian metode atau alat analisis untuk penelitian pengaruh kredit selanjutnya.

4. Bagi akademisi, dapat dijadikan referensi dalam mempelajari pengaruh kredit terhadap kinerja usaha peternakan.

1.5 Ruang Lingkup

Adapun ruang lingkup dari penelitian ini difokuskan mengenai analisis dampak kredit terhadap kinerja usaha peternakan di Indonesia yang diukur menggunakan variabel indikator kinerja jumlah ternak, omset penjualan, dan keuntungan. Analisis dampak kinerja dilakukan untuk melihat dampak dari pemberian kredit pada usaha peternakan dengan membandingkan kelompok usaha peternakan yang menggunakan kredit dan yang tidak menggunakan kredit. Selain itu juga dilakukan analisis mengenai faktor apa saja yang memengaruhi keputusan peternak mengambil kredit yang diduga menggunakan dua karakteristik yaitu karakteristik demografi dan karakteristik usaha peternakan. Karakteristik demografi diduga menggunakan variabel lokasi usaha peternakan, usia peternak, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan jumlah tanggungan dalam keluarga. Selain itu, juga digunakan karakteristik usaha peternakan untuk menduga faktor yang memengaruhi keputusan dengan indikator variabel jenis ternak, pengalaman beternak, kepemilikan lahan, kepemilikan sarana usaha ternak, keanggotaan koperasi, kelompok peternak, keanggotaan asosiasi, penyuluhan, dan kemitraan.

(21)

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kinerja Usaha

Kinerja atau performance merupakan hasil kerja yang dicapai oleh sekelompok orang dalam suatu organisasi baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Menurut Moeheriono (2009) kinerja merupakan gambaran pencapaian yang diperoleh melalui pelaksanaan suatu program dengan tujuan mewujudkan sasaran, tujuan, visi, dan misi organisasi melalui perencanaan strategis organisasi.

Adapun variabel yang sering digunakan untuk mengukur kinerja usaha peternakan yaitu omset penjualan Pratama (2014), Muharastri et al. (2015), Nasution (2016), Zulhatasmi (2016), variabel keuntungan Pratama (2014), Rahayu (2014), Nasution (2016), Zulhatasmi (2016), Fauziyah et al. (2017), dan jumlah ternak Mayangsari et al. (2014), Waqid (2014), Dahri et al. (2015), Utomo (2019). Dengan adanya penilaian terhadap kinerja, suatu usaha dapat mengevaluasi kembali hasil usahanya.

Dengan begitu suatu usaha dapat menentukan tingkat keberhasilan dari usahanya berdasarkan variabel yang digunakan dalam penilaian.

Selain itu, kinerja usaha peternakan juga seringkali dikaitkan dengan jumlah ternak sebagai indikator keberhasilan usaha. Dimana apabila usaha peternakan memiliki ternak dengan jumlah yang lebih tinggi dibandingkan dengan usaha peternakan lain dapat menggambarkan seberapa besar keberhasilan suatu usaha peternakan tersebut. Hal ini berkaitan dengan apabila jumlah ternak yang dimiliki cukup besar dapat menggambarkan seberapa besar pula ukuran usaha tersebut.

Menurut beberapa penelitian Mayangsari et al. (2014), Waqid (2014), Dahri et al.

(2015), dan Utomo (2019) penyaluran kredit terbukti berpengaruh terhadap peningkatan jumlah ternak. Hal tersebut dikarenakan modal usaha berupa kredit yang diterima dialokasikan untuk menambah jumlah ternak, dengan adanya peningkatan jumlah ternak diharapkan dapat meningkatkan produk peternakan yang dapat meningkatkan pula omset penjualan dan keuntungan yang diterima oleh peternak. Dengan demikian, jumlah ternak dapat dijadikan variabel yang dapat menggambarkan kinerja usaha peternakan.

Dalam penelitian yang dilakukan Pratama (2014), Muharastri et al. (2015), Nasution (2016), dan Zulhatasmi (2016) variabel omset penjualan dapat menggambarkan tingkat pencapaian hasil yang dilakukan oleh suatu usaha karena mampu menggambarkan kinerja usaha peternakan. Artinya variabel tersebut dapat menjadi salah satu pengukuran kinerja usaha. Sementara itu, variabel keuntungan yang digunakan oleh penelitian Pratama (2014), Rahayu (2014), Nasution (2016), Zulhatasmi (2016), dan Fauziyah et al. (2017) karena keuntungan menjadi hal penting yang berguna sebagai variabel penilaian tercapainya tujuan suatu usaha.

Tujuan utama dari suatu usaha adalah mendapatkan keuntungan berfungsi sebagai tolak ukur kemajuan suatu usaha. Dengan demikian keuntungan dapat dijadikan salah satu variabel penilaian kinerja suatu usaha.

Berdasarkan tinjauan pustaka diatas, dapat disimpulkan bahwa dengan adanya variabel seperti omset penjualan, keuntungan, dan jumlah ternak dapat indikator dari kinerja usaha. Dengan adanya variabel tersebut tentunya dapat memberikan implikasi manajerial apakah suatu usaha sudah berjalan efisien atau apakah target yang ditetapkan telah dicapai. Dengan begitu suatu usaha dapat

(22)

mengevaluasi hasil kerjanya untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dari periode sebelumnya.

2.2 Faktor-Faktor yang Memengaruhi Keputusan Peternak Mengambil Kredit

Beberapa penelitian mengenai faktor-faktor yang memengaruhi keputusan peternak mengambil kredit telah banyak dilakukan oleh peneliti terdahulu.

Beberapa variabel yang digunakan dalam penelitian sebelumnya diduga memengaruhi peternak untuk mengambil kredit secara positif. Meskipun demikian terdapat pula penelitian yang bertolak belakang satu dengan lain atau menunjukkan pengaruh negatif terhadap keputusan peternak menggunakan kredit. Berikut indikator variabel yang digunakan oleh penelitian terdahulu untuk menduga faktor- faktor yang memengaruhi keputusan peternak mengambil kredit pada Tabel 2.

Tabel 2 Indikator variabel keputusan peternak mengambil kredit pada penelitian terdahulu

No. Variabel Penelitian Terdahulu

1. Lokasi usaha peternakan

Achmad et al. (2012), OJK (2015b), Mawesti et al. (2018), Abubakar et al. (2019), dan Aristanto 2019)

2. Usia peternak Asih (2007), Muhammamah (2008), Haloho (2010), Auditiya (2011), Samti (2011), Abadi (2014), Kusumaningtyas (2017), Marantika dan Sampurno (2018)

3. Tingkat pendidikan Mandaka dan Hutagaol (2015) dan Firmansyah et al. (2017) 4. Jenis kelamin Nkuah et al. (2013) dan Diana (2019)

5. Jumlah tanggungan dalam keluarga

Prasetyo (2013) dan Firmansyah et al. (2017) 6. Jenis ternak Fauzan (2017) dan Putri et al. (2021)

7. Pengalaman beternak Triwibowo (2009), Abdurrahman (2010), Samti (2011), Widayanthi (2012), Abadi (2014), Arinda (2015), Pradifta dan Erdiana (2015), Hermawan dan Wiagustini (2016), Kiswati dan Rahmawaty (2016), Oktapiani (2018), dan Wulandari et al.

(2021)

8. Kepemilikan lahan Monsaputra et al. (2022) 9. Kepemilikan sarana

usaha ternak

Indraningsih (2011), Fauzan (2017), Abubakar et al. (2019), Atmakusuma et al. (2019), dan Ogwuike et al. (2022)

10. Keanggotaan koperasi

Mandaka dan Hutagaol (2015), Winarso (2015), Firmansyah et al. (2017), Atmakusuma et al. (2019), dan Wulandari et al.

(2021)

11. Kelompok peternak Wibowo dan Haryadi (2006), Supriatna (2008), Dahri et al.

(2015), Widodo (2016), Santoso dan Fathiah (2017), Ashari (2019), dan Putri et al. (2021)

12. Keanggotaan asosiasi Widyani (2013), Anzory (2018), Diana (2019), Colin dan Kacaribu (2021)

13. Penyuluhan Karsidi (2007), Wibowo (2013), Asiati dan Nawawi (2017), Yuniarti (2018), Abubakar et al. (2019), Diana (2019), Descartes et al. (2021), dan Fitra (2022)

14. Kemitraan Ardiyanto dan Setiawan (2013), Wibowo (2013), Widyani (2013), Santoso et al. (2015), Fitria dan Jurana (2016), Asiati dan Nawawi (2017), Saputra et al. (2017), dan Diana (2019)

(23)

Faktor-faktor yang memengaruhi keputusan peternak mengambil kredit dalam penelitian ini akan diduga menggunakan empat belas variabel yang diduga mendukung dan mengurangi keputusan peternak untuk mengambil kredit. Faktor tersebut dibagi menjadi dua karakteristik yaitu karakteristik demografi dan karakteristik usaha. Karakteristik demografi dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya yaitu lokasi usaha peternakan, usia peternak, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan jumlah tanggungan dalam keluarga. Lokasi usaha peternakan berkaitan dengan bagaimana kemudahan akses kredit pada lokasi usaha peternakan tersebut. Hal ini dikarenakan kemudahan akses kredit tidak merata diseluruh Indonesia, dimana sebagian besar penyaluran kredit masih berpusat di pulau Jawa (OJK 2015b; Tampubolon et al. 2017; Mawesti et al. 2018; Abubakar et al. 2019;

Aristanto 2020). Variabel usia peternak menjadi salah satu faktor penting dalam mengakses kredit. Hal ini berkaitan dengan produktivitas kerja peternak usia muda (produktif) memiliki produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan peternak dengan usia yang lebih tua. Selain itu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa saat ini penyaluran kredit banyak difokuskan pada peternak muda (petani milenial) yang ingin fokus mengembangkan usahanya (Susilowati 2016a; Susilowati 2016b;

Rachmawati dan Gunawan 2020). Sementara jenis kelamin berkaitan dengan aksesibilitas kredit, dimana menurut beberapa penelitian laki-laki cenderung memiliki peluang yang lebih tinggi untuk mengakses kredit (Nkuah et al. 2013;

Diana 2019).

Variabel tingkat pendidikan berkaitan dengan pengetahuan peternak dalam mengadopsi teknik beternak sehingga memengaruhi pola produksi dalam mengelola usahanya. Hal ini dapat berguna sebagai ukuran efisiensi tekni kinerja usaha peternak tersebut sehingga dapat mendukung keberhasilan dari suatu usaha (Mandaka dan Hutagaol 2015; Firmansyah et al. 2017). Meskipun demikian terdapat beberapa penelitian yang menjelaskan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan yang ditempuh peternak berpengaruh terhadap inefisiensi teknis yang dimiliki, selain itu tingkat pendidikan juga tidak dapat menjadi ukuran keterampilan teknis yang dimiliki peternak karena keterampilan diperoleh melalui kegiatan pelatihan (Oladeebo 2013; Suprapti, Isdiana, Dwidjono Hadi Darwanto 2014;

Bethel et al. 2016). Sementara variabel jumlah tanggungan dalam keluarga berkaitan dengan keterlibatan tenaga kerja dalam keluarga sehingga dapat menurunkan pengeluaran untuk usaha (Prasetyo 2013; Firmansyah et al. 2017).

Meskipun demikian terdapat beberapa penelitian yang menunjukkan semakin tinggi jumlah tanggungan dalam keluarga maka meningkatkan pula pengeluaran keluarga yang mengakibatkan berkurangnya penghasilan yang dapat digunakan untuk pembayaran kredit atau berpengaruh negative terhadap kolektibilitas kredit (Asih 2007; Triwibowo 2009; Samti 2011; Sari 2011; Abadi 2014; Wati et al. 2014;

Arinda 2015; Rosiana et al. 2015; Elrangga 2016; Kusumaningtyas 2017;

Marantika dan Sampurno 2018; Oktapiani 2018; Wulandari et al. 2021).

Karakteristik usaha peternakan bertujuan untuk menggambarkan faktor- faktor yang ikut memengaruhi keputusan peternak melalui variabel jenis ternak, pengalaman beternak, kepemilikan lahan, kepemilikan sarana usaha ternak, keanggotaan koperasi, kelompok peternak, keanggotaan asosiasi, penyuluhan dan kemitraan. Variabel jenis ternak bertujuan untuk menggambarkan pengaruh pemberian kredit apakah juga dipengaruhi oleh jenis ternak yang diusahakan karena berkaitan dengan produktivitas ternaknya (Mayangsari et al. 2014; Waqid 2014;

(24)

Putri et al. 2019; Putri et al. 2021). Pengalaman beternak berkaitan dengan keterampilan dan pengalaman yang dimiliki peternak selaku debitur dalam mengelola usahanya agar menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi dan berpengaruh positif terhadap kolektibilitas kredit (Triwibowo 2009; Samti 2011;

Widayanthi 2012; Abadi 2014; Arinda 2015; Hermawan dan Wiagustini 2016;

Kiswati dan Rahmawaty 2016; Oktapiani 2018; Wulandari et al. 2021).

Kepemilikan lahan berkaitan dengan fungsi lahan sebagai faktor utama kegiatan produksi pertanian yang dapat menjadi angunan sehingga menjadi pertimbangan bank dalam memberikan kredit (Santosa et al. 2013; Wati et al. 2014; Dahri et al.

2015; Triyono et al. 2016; Atmakusuma et al. 2019; Monsaputra et al. 2022). Selain itu variabel kepemilikan sarana usaha ternak berkaitan dengan sarana prasarana yang menjadi faktor pelancar kegiatan usaha dan mampu meningkan kapasitas produksi yang dapat meningkatkan pendapatan dan mendorong skala ekonomi dari pemanfaatan teknologi (Fauzan 2017; Atmakusuma et al. 2019; Ogwuike et al.

2022).

Variabel lainnya yaitu keanggotaa koperasi yang berkaitan dengan fungsi koperasi sebagai wadah penyaluran kredit sehingga mempermudah peternak mengakses kredot mikro untuk usaha produktif (Mandaka dan Hutagaol 2015;

Winarso 2015; Firmansyah et al. 2017; Atmakusuma et al. 2019). Selain itu hal ini juga berkaitan dengan adanya kredit usaha sapi potong yang memang disalurkan memalui keanggotaan koperasi. Kelompok peternak memiliki keterkaitan dengan aksesibilitas kredit karena menunjukkan adanya kolektibilitas kredit yang cukup lancer serta bertujuan untuk mendukung kelompok peternak dalam pembentukan modal usaha (Supriatna 2008; Wati et al. 2014; Dahri et al. 2015; Widodo 2016;

Ashari 2019; Putri et al. 2019). Keanggotaan asosiasi juga memengaruhi keputusan peternak mengambil kredit karena asosiasi dinilai sebagai salah satu kecakapan usaha dalam bermitra dan menajdi wadah untuk menyalurkan modal usaha sehingga berdampak pada kemudahan dalam mengakses kredit (Widyani 2013;

Anzory 2018; Diana 2019; Colin dan Kacaribu 2021). Penyuluhan menjadi faktor yang paling berkaitan dengan aksesibilitas kredit karena keberhasilan penyaluran kredit tidak terlepas dari keberhasilan penyuluhan dari perbankan mengenai fasilitas bantuan modal brupa kredit (Karsidi 2007; Wibowo 2013; Indrawati 2016;

Yuniarti 2018; Abubakar et al. 2019; Diana 2019; Descartes et al. 2021; Fitra 2022).

Selain itu penyuluhan berfungsi sebagai alat perubahan pembangunan pertanian yang dapat membantu petani menghadapi permasalahan di lapangan. Terakhir variabel kemitraan berkaitand dengan adanya relasi atau mitra kerja yang mampu meningkatkan akses terhadap sumber permodalan (Ardiyanto dan Setiawan 2013;

Wibowo 2013; Widyani 2013; Santoso et al. 2015; Fitria dan Jurana 2016; Asiati dan Nawawi 2017; Saputra et al. 2017; Diana 2019).

Dengan demikian terdapat beberapa variabel yang ikut memengaruhi keputusan peternak dalam mengambil kredit. Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi peternak dari segi kemudahan aksesibilitas kredit, mendukung adanya kolektibilitas kredit, pengembangan usaha, dan mendorong keberhasilan usaha sehingga ikut memengaruhi kinerja dari usaha peternakan. Analisis faktor- faktor ini akan dianalisis menggunakan alat analisis regresi logit untuk menduga pengaruhnya terhadap keputusan peternak mengambil kredit.

(25)

2.3 Pengaruh Kredit terhadap Kinerja Usaha Peternakan

Kredit merupakan salah satu sumber pembiayaan yang dapat meningkatkan kinerja usaha apabila dimanfaatkan untuk tujuan produktif. Hal ini dijelaskan dalam penelitian Mayangsari et al. (2014), Firmansyah et al. (2017), Feryanto (2020) dan Putri et al. (2021) bahwa pemberian kredit terhadap suatu usaha peternakan memberikan dampak yang positif. Meskipun demikian, penelitian Feryanto (2020) menjelaskan bahwa kredit mikro yang diterima oleh rumah tangga memberikan dampak yang sangat kecil terhadap kinerja usaha mikro yang dimiliki oleh rumah tangga. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa kredit mikro berkontribusi sangat kecil terhadap peningkatan omset dan penambahan jumlah tenaga kerja. Hal ini dikarenakan skala usaha rumah tangga yang tergolong kecil (ultra mikro) menyebabkan dampak kepada peningkatan yang relatif kecil.

Dalam penelitian Panekenan et al. (2016) menjelaskan bahwa perbankan memiliki peran yang sangat besar sebagai sumber pembiayaan di provinsi Sulawesi Utara. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya peningkatan kredit pertanian setiap tahunnya dari 2011-2016. Sementara itu, penelitian Putri et al. (2021) menjelaskan bahwa pemanfaatan Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKPE) berpengaruh terhadap peningkatan penggunaan input, sehingga mampu meningkatkan produksi usaha peternakan dibandingkan dengan produksi sebelum kredit. Hal ini menunjukkan bahwa kredit berpengaruh positif terhadap kinerja usaha peternakan.

Meskipun demikian, pemanfaatan KKPE pada penelitian ini masih belum dimanfaatkan sepenuhnya untuk kegiatan usaha.

Sejalan dengan penelitian sebelumnya, menurut Firmansyah et al. (2017) pemberian kredit kepada peternak memberikan dampak positif dalam pengembangan usaha peternakan. Hal tersebut tercermin dari peningkatan produksi dan laba yang diperoleh. Hal ini juga diungkapkan oleh (Mayangsari et al. (2014) dimana kinerja dan keragaan faktor-faktor pengembangan kredit pada sapi potong berdampak positif. Meskipun demikian, penelitian Dahri et al. (2015) membuktikan bahwa dampak KKPE terhadap pendapatan tidak signifikan. Hal ini dikarenakan beberapa peternak mengalami permasalahan seperti penyakit dan kematian ternak yang disebabkan kurangnya pengalaman beternak. Selain itu, terdapat faktor lain yang memicu hal tersebut seperti halnya kondisi harga yang meningkat pesat guna pembelian bakalan. Sebaliknya saat penjualan hasil ternak, harga justru menurun tajam. Tak hanya itu, suku bunga KKPE dan harga pakan konsentrat cenderung meningkat. Jumlah ternak sapi selain dipengaruhi oleh KKPE juga dipengaruhi secara signifikan positif oleh luas lahan dan keanggotaan dalam kelompok tani.

Sementara itu, penelitian Chandio et al. (2018) dan Chandio et al. (2017) mengenai faktor-faktor yang memengaruhi akses terhadap kredit yaitu ukuran rumah tangga, tingkat pendidikan, dan ukuran lahan, jenis kelamin, pengalaman bertani, pendapatan, dan ketersediaan agunan. Dalam penelitian ini dijelaskan bahwa petani cenderung lebih banyak memilih pengelola keuangan informal sebagai sumber pembiayaan kredit (Chandio et al. 2017; Pratiwi et al. 2019). Hal ini dikarenakan kebanyakan petani tidak memiliki jaminan yang cukup untuk memenuhi syarat dari dari lembaga keuangan formal. Hal ini juga dijelaskan dalam penelitian Pratiwi et al. (2019) bahwa yang faktor yang memengaruhi petani dalam mengakses kredit formal maupun nonformal yaitu tingkat pendidikan, lama usaha, bunga, dan besar pinjaman. Chandio et al. (2017) dalam penelitiannya menyatakan

(26)

bahwa agunan atau jaminan memiliki pengaruh terbesar terhadap akses kredit, jika dibandingkan dengan faktor lainnya.

Apabila dikaji lebih lanjut, lembaga keuangan formal tentunya memiliki transparansi yang lebih jelas dalam proses peminjaman kredit, peraturan yang jelas termasuk suku bunga yang ditetapkan. Berbeda dengan pengelola keuangan informal yang suku bunganya cenderung lebih tinggi. Lembaga keuangan formal dianggap lebih aman bagi petani untuk meminjam kredit, namun syarat agunan yang lebih rumit seringkali menyebabkan petani tidak dapat memperoleh akses kredit dan memilih pengelola keuangan informal karena lebih fleksibel terkait aturan jaminan atau agunan.

Kredit usahatani yang digunakan secara efisien untuk memperoleh input produksi usahatani, seperti bibit, pupuk, peralatan, dan sebagainya mampu meningkatkan produksi. Hal yang menjadi masalah adalah ketika petani yang mendapatkan kredit usahatani tidak menggunakannya untuk sektor pertanian, melainkan untuk memenuhi kebutuhan lain atau disebut sebagai fungibility credit usahatani. Penelitian yang dilakukan Chandio et al. (2018) di Shirkarpur menunjukkan bahwa usahatani kecil, maupun usaha menengah hingga besar memiliki tingkat fungibility credit yang cukup besar yaitu 48.47 persen dan 43.49 persen. Hal ini dikarenakan sebagian kredit digunakan untuk investasi dalam usahatani, namun sebagian digunakan untuk keperluan lain seperti kebutuhan keluarga, kesehatan, tingkat pendidikan dan sebagainya.

Pendapatan rendah dan adanya tuntutan untuk bertahan hidup dari keluarga petani menjadi kemungkinan terbesar penyebab petani menggunakan kredit usahatani untuk keperluan lain di luar kebutuhan produksi. Penelitian mengenai fungibility credit di Ghana menunjukkan bahwa faktor-faktor yang memberikan pengaruh fungibility credit adalah tingkat tingkat pendidikan petani, ukuran rumah tangga petani, jenis kelamin petani, serta penyakit yang diderita keluarga petani (Darfor et al. 2021). Faktor-faktor ini dalam penelitian Darfor et al. (2021) berkorelasi positif terhadap fungibility credit. Semakin besar ukuran rumahtangga petani, dan adanya keluarga yang menderita penyakit maka tingkat fungibility credit usahatani yang diperoleh petani akan meningkat. Petani yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan menggunakan kredit usahatani untuk investasi pada kegiatan produksinya lebih baik dibandingkan petani dengan tingkat tingkat pendidikan yang rendah.

Dengan demikian, kredit usahatani mendorong produksi usahatani menjadi lebih baik dan memungkinkan untuk mencapai titik produksi optimum. Faktor- faktor usahatani yang berkorelasi positif dengan peluang akses kredit usahatani memberikan arti bahwa lembaga keuangan, khususnya lembaga keuangan formal untuk memberikan kebijakan baru agar memudahkan petani mendapatkan akses kredit untuk usahanya. Tingkat fungibility credit yang tinggi pada usahatani kecil menunjukkan bahwa penggunaan kredit usahatani untuk investasi dalam proses produksi tidak efisien, sehingga lembaga keuangan yang memberikan kredit perlu untuk melakukan kontrol atau pengawasan, serta perlu memberikan bimbingan bagi petani yang meminjam agar kredit digunakan secara efisien dan mampu memaksimalkan produksi. Sehingga dibutuhkan penelitian mengenai pengaruh kredit terhadap kinerja usaha yang dapat memberikan hasil apakah kredit yang diberikan memberikan pengaruh yang positif terhadap kinerja suatu usaha.

(27)

III KERANGKA PEMIKIRAN

3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis

3.1.1 Kredit sebagai Sumber Pendanaan

Kegiatan produksi merupakan proses penggabungan bahan dan tenaga kerja (input produksi, sumberdaya, atau layanan jasa produktif) dalam menciptakan sejumlah barang atau jasa tertentu. Secara sederhana produksi merupakan proses transformasi dua input atau lebih menjadi satu atau lebih produk. Dalam kegiatan produksi dapat disebut efisien apabila kemampuan satu input atau seperangkat input pada jumlah tertentu dapat menghasilkan output secara maksimal. Menurut McKernan (2002) kredit mikro dapat dijadikan sumber permodalan untuk memulai ataupun mengembangkan suatu usaha. Hal tersebut dijelaskan dalam model yang dikembangkan McKernan dengan menggunakan pendekatan fungsi produksi yaitu:

𝒀 = 𝑭 (𝑳, 𝑨, 𝑲, 𝑵, 𝜺) ……….. (Persamaan 1) dimana, 𝑳 = 𝑳𝒇𝒚+ 𝑳𝒎𝒚

Keterangan:

Y = Fungsi Produksi L = Tenaga Kerja

𝐿𝑚𝑦 = Tenaga Kerja Laki-laki 𝐿𝑓𝑦 = Tenaga Kerja Perempuan A = Input

K = Modal Aset

H = Sumberdaya Manusia ɛ = Error

Model persamaan 1 tersebut menjelaskan bahwa suatu usaha rumah tangga, diasumsikan memiliki tenaga kerja (L) yang terdiri dari laki-laki (𝐿𝑓𝑦) dan perempuan (𝐿𝑚𝑦) guna menghasilkan output sebesar (Y). Selain itu, input faktor produksi lainnya yang digunakan untuk memproduksi (Y) yaitu vektor input (A), modal asset (K), sumberdaya manusia (H), dan input tetap (N). Pada model ini tambahan modal berupa kredit terakumulasi pada input (K). sedangkan (ɛ) merupakan bentuk dari guncangan yang bersifat stokastik (rata-rata bernilai nol). Dengan demikian untuk memperoleh penerimaan dengan cara menjual hasil produksi berupa (Y) dengan harga tertentu (𝑃𝑦), maka fungsi penerimaan barang dan jasa dapat dijelaskan sebagai berikut:

𝑻𝑹 = 𝑷𝒚 . 𝒀 ……….. (Persamaan 2) Keterangan:

TR = Total Penerimaan 𝑃𝑦 = Harga barang tertentu Y = Hasil penjualan produksi

Artinya penerimaan barang dan jasa pada persamaan 2 dapat diperoleh melalui perkalian antara harga barang tertentu (𝑃𝑦) dengan hasil penjualan

(28)

produksi sebesar (Y). Sehingga dalam menganalisis keuntungan suatu usaha dapat diteliti menggunakan selisih antara penerimaan dikurangi dengan total biaya seperti tertera pada persamaan 3, yaitu:

𝝅 = 𝑻𝑹 − 𝑻𝑪 ……….. (Persamaan 3) Keterangan:

π = Keuntungan TR = Total Penerimaan TC = Total Biaya Produksi

Secara sederhana perhitungan keuntungan diatas diperoleh dari penerimaan dari input dikurangi biaya untuk input. Berdasarkan rumusan yang sederhana ini dapat diturunkan penggunaan faktor produksi tertentu yang optimal. Penggunaan input mencapai kondisi optimal apabila nilai produk marjinal dari faktor produksi tersebut sama dengan harga faktor produksi. Jika nilai produk marjinal dari suatu faktor produksi lebih besar daripada harganya, maka masih menguntungkan jika faktor produksi tersebut ditingkatkan.

Sebaliknya jika harga suatu faktor produksi lebih besar daripada nilai produk marjinal yang dihasilkannya, maka penggunaan faktor produksi tersebut dianggap sudah berlebihan dan perlu dikurangi.

Dengan menggunakan persamaan isocost yaitu garis yang menghubungkan titik kombinasi penggunaan input yang satu (𝑋1) dan input yang lainnya (𝑋2) yang didasarkan pada tersedianya modal. Dengan adanya beberapa kombinasi input yang optimal dapat menghasilkan keuntungan yang maksimum. Dengan asumsi bahwa pelaku usaha kecil masih dalam tahap daerah produksi II yang rasional, yaitu produk marjinal masih positif sehingga masih dapat memperbanyak penggunaan input untuk menaikkan produksi, maka tambahan modal dari luar dapat diperoleh melalui kredit. Secara hipotesis garis isocost yang berada diluar garis isoquant menyebabkan kombinasi penggunaan input yang optimal dan efisien (efisiensi harga) apabila terjadi persinggungan antara garis isocost dengan garis isoquant. Dengan adanya persingungan antara kedua garis tersebut kemudian diperoleh dua titik singgung yang dapat menggambarkan kombinasi biaya minimum untuk menghasilkan output Y (Soekartawi 2002). Persamaan produksi di atas masih menggunakan input produksi yang tidak dibiayai dengan kredit, sehingga harga input yang digunakan adalah harga pasar. Jika input X1 diperoleh dari kredit, maka harga input menjadi lebih mahal, karena terbebani biaya kredit. Hal ini tergantung pula pada tingkat bunga yang dibebankan pada masing-masing input X1, apakah ada perbedaan tingkat bunga untuk input ataukah tidak. Apabila petani mampu mengoptimalkan value marginal product (VMP) untuk suatu input sama dengan harga input maka akan dicapai efisiensi harga atau price efficiency yang dituliskan sebagai berikut pada persamaan 4 (Soekartawi 2002).

𝑽𝑴𝑷𝒙 = 𝑷𝒙 atau 𝑽𝑴𝑷𝒙

𝑷𝒙 = 1 ……….. (Persamaan 4)

Jika diasumsikan hanya input X1 yang dibiayai dari kredit, maka harga satu satuan input X1 menjadi P1+r, dimana r adalah biaya kredit yang dibebankan tiap satu satuan input X1 yang dibiayai. Untuk mengimbangi hal ini, maka produsen harus mengurangi jumlah penggunaan input X1. Jalur perluasan usaha

(29)

yang baru setelah mendapat kredit cenderung lebih banyak menggunakan input X2, seperti tampak pada Gambar 5.

Gambar 5 Pengaruh adanya kredit terhadap komposisi input dan biaya minimum, serta jalur perluasan usaha (Baker 1968)

Penggunaan input pada kondisi biaya minimum tanpa adanya biaya kredit diperoleh pada titik A. Jalur perluasan usaha tanpa adanya biaya kredit diperlihatkan oleh garis S1. Apabila penggunaan dibiayai dari kredit, maka harga input meningkat menjadi lebih mahal sebesar r sehingga komposisi penggunaan input optimum diperoleh pada titik B. Selanjutnya, jalur perluasan usaha akan berubah menjadi garis S2 dengan menggunakan biaya input yang lebih besar dibanding sebelumnya.

Dengan demikian kredit yang diberikan kepada rumah tangga usaha peternakan dapat meningkatkan modal usahanya. Penambahan modal tersebut ditransformasikan melalui kegiatan investasi, modal kerja dan tenaga kerja sehingga dengan demikian kegiatan produksi dapat berjalan. Modal yang digunakan untuk tujuan produktif dan kegiatan produksi yang efisien dapat mendorong peningkatan omset dan profit bagi usaha rumah tangga tersebut.

Sama halnya dengan rumah tangga non usahatani, kredit sangat berperan dalam memengaruhi tingkat kesejahteraan. Terdapat tiga cara yang dapat digunakan rumah tangga petani untuk meningkatkan kesejahteraannya melalui kredit yang diperoleh yaitu: (1) melalui pemberian akses terhadap kendala untuk mendapatkan pendanaan usahatani, konsumsi bahan pangan dan non pangan, (2) digunakan sebagai mitigasi atau coping strategi untuk menghadapi risiko, dan (3) digunakan untuk memengaruhi ketahanan rumah tangga dalam hubungan dengan produksi maupun risiko konsumsi.

Disisi lain pengelolaan kredit yang baik oleh petani maupun kelompok tani sebagai pembentuk modal usaha dapat berpotensi tinggi terhadap peningkatan produksi usahanya. Sehingga apabila dikelola secara berkelanjutan petani tidak memerlukan bantuan modal lagi di masa mendatang. Bahkan apabila kelompok tani dapat melakukan manajemen keuangan dengan baik, bukan tidak mungkin petani dapat membentuk lembaga keuangan mikro di tingkat pedesaan yang dapat menyediakan dana secara kontinu bagi usaha perekonomian di pedesaan.

(30)

Keunggulan kredit sebagai salah satu sumber pendanaan bagi usaha pertanian maupun peternakan diantaranya bunganya yang relatif rendah dan terjangkau. Sehingga petani dapat mengembalikan kredit yang diterima. Selain itu, kredit komersial bersubsidi juga memungkinkan bentuk pinjaman dalam bentuk pengadaan saprotan sehingga petani tidak kesulitan dalam membelinya.

Dengan adanya pengusulan secara berkelompok guna mendapatkan kredit juga memudahkan petani dan cenderung lebih efisien.

3.1.2 Kinerja Usaha

Kinerja didefinisikan sebagai tingkat pencapaian hasil atau tujuan suatu organisasi usaha. Kinerja merupakan salah satu alat yang digunakan untuk mengukur keberhasilan suatu usaha. Dengan demikian kriteria penilaian kinerja dapat digunakan sebagai variabel keberhasilan yang menunjukkan apakah suatu usaha mengalami peningkatan atau mencapai tujuan.

Berdasarkan pengertian kinerja menurut (Sedarmayanti 2009) kinerja didefinisikan sebagai hasil atau keluaran dari suatu proses usaha. Sehingga secara keseluruhan kinerja dapat menjelaskan hasil usaha selama periode tertentu yang dijadikan tolak ukur keberhasilan standar hasil kerja, atau target yang telah ditentukan sebelumnya. Pada penelitian ini akan digunakan dua karakteristik yang diduga dapat memengaruhi kinerja usaha peternakan diantaranya yaitu karakteristik demografi dan karakteristik pertanian dan lainnya.

Karakteristik demografi merupakan ciri khas yang bertujuan untuk menggambarkan perbedaan masyarakat seperti jenis kelamin, Tingkat pendidikan, ukuran rumah tangga, usia, agama, suku bangsa, lokasi geografi maupun kelas sosial (Kotler dan Armstrong 2012). Dalam penelitian ini untuk menduga karakteristik demografi digunakan variabel lokasi usaha peternakan, usia peternak, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan jumlah tanggungan dalam keluarga untuk menduga faktor-faktor yang memengaruhi keputusan usaha peternakan menggunakan kredit. Beberapa variabel tersebut banyak digunakan oleh peneliti karena memiliki hubungan demografi yang signifikan positif baik individu maupun suatu kelompok terhadap kinerja usaha peternakan.

1. Lokasi usaha peternakan

Lokasi merupakan salah satu komponen yang berperan dalam pemanfaatan investasi seperti kredit yang ditujukan untuk kegiatan produktif.

Dalam hal ini pembangunan ekonomi daerah sangatlah berperan penting sebagai sumber pemanfaatan pembiayaan baik yang diberikan oleh pemerintah maupun swasta. Secara geografis, agar investasi yang diberikan bersifat inklusif maka peningkatan kesempatan kerja, pengurangan ketimpangan daerah, dan kesenjangan pendapatan antar golongan masyarakat, serta pengurangan kemiskinan perlu menjadi pertimbangan alokasi pembiayaan inklusif seperti kredit. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa Jawa memiliki potensi yang lebih besar untuk dikemabngkan dikarenakan memiliki sumber daya manusia yang besar yang berguna untuk peningkatan kesempatan kerja. Oleh karena itu guna mengurangi ketimpangan pendapatan antar golongan masyarakat pembangunan perekonomian di Jawa perlu didukung.

(31)

Menurut Muljarijadi (2018) peningkatan investasi utamanya di Jawa Barat berdampak positif terhadap pengurangan kemiskinan. Oleh karena itu alokasi investasi di Jawa Barat dianggap cukup efektif dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Demikian dengan perekonomian di Jawa Timur yang masih ditopang oleh sektor pertanian yang menyumbangkan 74 persen perekonomian provinsi. Meskipun demikian, sebesar 60 persen rumah tangga yang tergolong miskin cenderung bekerja di sektor pertanian dengan penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian sebesar 44,8 persen dari total tenaga kerja di Jawa Timur (World Bank 2011). Oleh karena itu, pengentasan kemiskinan dapat diatasi dengan adanya revitalisasi untuk meningkatkan kinerja sektor pertanian dengan mendukung usaha dalam mengakses sumber permodalan kredit mikro.

Dalam penelitian ini digunakan variabel dummy yang bertujuan untuk membedakan apabila peternak berasal dari Jawa akan bernilai satu. Dan apabila peternak berasal dari luar Jawa akan bernilai nol.

2. Usia peternak

Penelitian Utomo (2019) menjelaskan bahwa variabel usia tidak berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani ternak, namun variabel ini berkaitan dengan produktivitas kerja. Apabila tenaga kerja yang digunakan dalam kategori usia produktif terdapat indikasi kecenderungan produktivitasnya juga tinggi. Menurut penelitian Chamdi (2003) menjelaskan bahwa semakin muda usia peternak (antara 20-45 tahun) umumnya memiliki rasa keingintahuan yang cukup tinggi dan minat terhadap teknologi cenderung lebih tinggi.

Meskipun demikian penelitian Mandaka dan Hutagaol (2015) menjelaskan bahwasannya Sebagian besar peternak cenderung memiliki tingkat pendidikan yang rendah yakni dalam kisaran SD sampai dengan SLTA. Hanya beberapa peternak yang memiliki tingkat pendidikan sarjana. Hal ini tentu saja berpengaruh terhadap kemampuan peternak dalam mengadopsi pengetahuan maupun teknik beternak yang digunakan dalam usahanya. Didukung oleh penelitian Maemunah dan Isyanto (2017) bahwasannya peternak dengan usia lebih matang cenderung memiliki kecakapan teknis yang lebih efisien.

Berdasarkan penelitian Schiffman dan Kanuk (2010) usia seseorang juga mempengaruhi bagaimana seseorang mengambil keputusan dalam berperilaku sehingga menentukan arah usahanya. Hal ini dijelaskan dalam penelitian Asih (2007), Muhammamah (2008), Haloho (2010), Auditiya (2011), Samti (2011), Abadi (2014), Wati et al. (2014), Kusumaningtyas (2017), Marantika dan Sampurno (2018) bahwasannya usia memiliki pengaruh yang signifikan negatif terhadap pengambilan keputusan kredit dan pengembalian kredit. Bertolak belakang dengan penelitian sebelumnya, penelitian Triwibowo (2009), Siwi (2015), dan Prestia (2017) menjelaskan bahwa usia berpengaruh positif terhadap pengembalian kredit.

3. Jenis kelamin

Beberapa penelitian menjelaskan bahwa jenis kelamin tidak memiliki pengaruh terhadap pengembalian kredit atau tidak memiliki keterkaitan terhadap tingkat pengembalian kredit dijelaskan dalam penelitian (Muhammamah 2008;

Samti 2011; Abadi 2014; Nadhira dan Sumarti 2017). Meskipun demikian berdasarkan penelitian Diana (2019) jenis kelamin memiliki pengaruh terhadap

(32)

aksesibilitas permodalan. Berdasarkan penelitian tersebut dijelaskan bahwa pelaku UMK yang berjenis kelamin laki-laki memiliki peluang lebih besar dalam memperoleh kredit apabila dibandingkan dengan perempuan. Hal tersebut juga didukung oleh penelitian Nkuah et al. (2013) bahwasannya pembiayaan usaha kecil di Ghana cenderung memberikan aksesibilitas yang lebih besar kepada pemilik usaha yang berjenis kelamin laki-laki dibandingkan dengan perempuan.

Dalam penelitian ini digunakan variabel dummy yang bertujuan untuk membedakan apabila peternak berjenis kelamin laki-laki akan bernilai satu. Dan apabila peternak berjenis kelamin perempuan akan bernilai nol.

4. Tingkat pendidikan

Tingkat pendidikan merupakan salah satu variabel demografi yang dapat digunakan untuk menggambarkan karakteristik peternak penerima kredit.

Menurut Firmansyah et al. (2017) variabel tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor yang memengaruhi peningkatan pendapatan usaha ternak sapi perah.

Dimana dijelaskan bahwa tingkat pendidikan memiliki pengaruh nyata terhadap produksi susu. Selain itu, menurut penelitian Mandaka dan Hutagaol (2015) tinggi rendahnya tingkat tingkat pendidikan berkaitan dengan kemampuan peternak dalam mengadopsi teknik beternak. Semakin lama pengetahuan dari pendidikan formal yang dimiliki ditambah pengalaman beternak yang dimiliki, peternak akan lebih menguasai bagaimana cara berproduksi dan mengelola usahanya. Dengan demikian ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui pendidikan yang ditempuh mempengaruhi pengalaman yang dimiliki yang dapat menjadi pedoman dalam menghadapi berbagai permasalahan yang ada.

Meskipun demikian, terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa tingkat pendidikan mempengaruhi inefisiensi teknis yang dimiliki oleh peternak.

Menurut Latruffe et al. (2012) tingkat pendidikan merupakan salah satu variabel untuk mengukur efisiensi teknis yang dapat digunakan untuk mengetahui kinerja suatu usahatani. Hal ini berkaitan dengan tingkat pendidikan yang merupakan kendala sosial ekonomi yang diakibatkan adanya kesenjangan. Berdasarkan hasil penelitian Latruffe et al. (2012), Maemunah dan Isyanto (2017) semakin tinggi pendidikan yang telah ditempuh oleh peternak maka semakin tinggi pula inefisiensi teknis yang dimilikinya. Hal ini berkaitan dengan semakin tingginya pendidikan yang ditempuh oleh peternak semakin sedikit pula efisiensi teknis yang dapat dicapai oleh peternak dalam melakukan kegiatan usahanya.

Dalam penelitian ini dijelaskan bahwa keterampilan teknis yang dimiliki oleh seorang peternak tidak disebabkan oleh lamanya pendidikan yang ditempuh, melainkan dengan mengikuti kegiatan pelatihan yang senantiasa dilakukan oleh kelompok peternak. Beberapa penelitian lain yang mendukung adanya inefisiensi teknis peternak yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yakni penelitian (Oladeebo 2013; Suprapti, Isdiana, Dwidjono Hadi Darwanto 2014; Bethel et al. 2016). Dalam penelitian ini tingkat pendidikan diukur menggunakan lama tahun bersekolah (years of school).

5. Jumlah tanggungan dalam keluarga

Jumlah tanggungan dalam keluarga yang dijelaskan dalam penelitian ini meliputi jumlah anggota keluarga yang menjadi tanggungan debitur. Beberapa penelitian yakni dalam Prasetyo (2013) menjelaskan bahwa keberadaan jumlah

Referensi

Dokumen terkait

Daftar Pustaka Biografi Pengarang Riwayat Hidup Penulis

Lampiran Lampiran Daftar Pustaka Daftar Pustaka Simpulan & Saran Simpulan & Saran Pembahasa n Pembahasa n Hasil Hasil Metode Metode Pendahulua n Pendahulua n Abstrak

82 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN DAFTAR RIWAYAT HIDUP repository.unisba.ac.id... Perancangan ILM

101 DAFTAR PUSTAKA DAFTAR RIWAYAT HIDUP LEMBAR KONSULTASI BIMBINGAN SURAT KETERANGAN RISET LAMPIRAN Lampiran A.. Dokumen Sistem Berjalan Lampiran

100 DAFTAR PUSTAKA DAFTAR RIWAYAT HIDUP LEMBAR KONSULTASI BIMBINGAN SURAT KETERANGAN RISET LAMPIRAN Lampiran

58 DAFTAR PUSTAKA DAFTAR RIWAYAT HIDUP LEMBAR KONSULTASI BIMBINGAN LAMPIRAN Lampiran A.. Surat Keterangan Riset Lampiran

52 DAFTAR PUSTAKA DAFTAR RIWAYAT HIDUP LEMBAR KONSULTASI BIMBINGAN SKRIPSI SURAT KETERANGAN RISET LAMPIRAN Lampiran

85 DAFTAR PUSTAKA DAFTAR RIWAYAT HIDUP LEMBAR KOSNULTASI BIMBINGAN SURAT KETERANGAN RISET