• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III: PROFIL WAHBAH AL-ZUHAILÎ DAN KITAB

3. Karya-Karya

Wahbah Az-Zuhailî menulis buku, kertas kerja dan artikel dalam berbagai ilmu Islam. Buku-bukunya melebihi 133 buah buku dan jika dicampur dengan risalah-risalah kecil melebihi lebih 500 makalah.

Satu usaha yang jarang dapat dilakukan oleh ulama pada zaman ini.

Diantara buku-buku hasil karyanya diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Athâr al-Harb fî al-Fiqh al-Islâmi - Dirâsâtan Muqârânâtan, Dâr al-Fikr, Damsyiq, 1963.

2. Al-Wâsith fî Ushȗl al-Fiqh, Universiti Damsyiq, 1966.

89 Muhammad Hasdin Has, “Metodologi Tafsir al-Munîr Karya Wahbah al-Zuhailî”, Al- Munzir Vol. 7 No. 2 November 2014, h. 46-47

3. Al-Fiqh al-Islâmi fî Ushȗl al-Jadîd, Maktabah al-Hadithah, Damsyiq, 1967.

4. Al-Ushȗl al-Ammah lî Wahdah al-Dîn al-Haq, Maktabah al- Abassiyah, Damsyiq, 1972.

5. Al-Alaqat al-Dawliah fî al-Islâm, Muassasah al-Rîsalah, Beirut, 1981.

6. Al-Fiqh al-Islâmi wa Adilatuh, (8 jilid), Dâr al Fikr, Damsyiq, 1984.

7. Ushȗl al-Fiqh al-Islâmî (dua jilid), Dâr al-Fikr, Damsyiq, I986.

8. Fiqh al-Mawâriîts fî al-Syarî‟at al-Islâmiyah, Dâr al-Fikr, Damsyiq, 1987.

9. Al-Tafsîr al-Munîr fî al-Aqîdah wa al-Syarî‟at wa al-Manhaj, (16 jilid), Dâr al-Fikr, Damsyiq, 1991.

10. Al-Qur'an al-Karîm al-Bunyatuh al-Tasyri‟iyyah aw Khasa‟isuh al-Hadariah, Dâr al-Fikr, Damsyiq, 1993.

11. Al-Rukhsah al-Syarî‟at – Ahkamuha wa Dawabituha, Dâr al- Khair, Damsyiq, 1994.

12. Khasa‟is al-Kubrâ lî Huqȗq al-Insân fî al-Islâm, Dâr al-Maktabi, Damsyiq, 1995.

13. Al-„Ulȗm al-Syari‟at Bayn al-Wahdah wa al-Istiqlal, Dâr al- Maktab, Damsyiq, 1996.

14. Al-Asâs wa al-Masâdir al-Ijtihâd al-Musytarikât bayn al-Sunnah wa al-Syî‟ah, Dâr al-Maktabi, Damsyiq, 1996.90

90 Faizah Ali Syibromalisi dan Jauhar Azizy, Membahas Kitab Tafsir Klasik-Modern, h.

165-166

B. Profil Tafsir al-Munîr

1. Latar Belakang Penulisan Kitab Tafsir al-Munîr

Dalam kata pengantar karya tafsirnya Wahbah az-Zuhailî mengatakan bahwa tujuan dari penulisan tafsirnya adalah menghubungkan umat Islam dengan kitab sucinya Al-Qur`an dengan ikatan yang bersifat ilmiah, karena Al-Qur`an adalah petunjuk kehidupan (dustur a1-hayât) bagi seluruh manusia dan bagai kaum Muslimin khususnya. Oleh sebab itu dalam membahas hukum- hukumnya ia tidak terpaku hanya pada masalah-masalah hukum yang biasa dibahas para pakar Fiqih saja, tetapi ia membahasnya secara umum dan mengupasnya secara meluas, sehingga pembacanya betul- betul memahami kandungannya seperti “aqidah, akhlak, metode dan cara bertingkah laku dan faedah yang bisa dipetik dari ayat-ayat Al- Qur`an, baik dalam bentuk indikasi atau isyarat, baik itu menyangkut bangunan sosial setiap masyarakat yang maju atau menyangkut kehidupan pribadi setiap muslim. Oleh karena itu, tafsir ini bisa membantu setiap muslim yang ingin menelaah Al-Qur`an dan mentadabburinya.91 Sebagaimana yang diperintahkan diperintahkan Allah dalam Al-Qur`an Surah Shâd 38/29:





















“ ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.”

(QS. Shâd [38]: 29)

91 Faizah Ali Syibromalisi dan Jauhar Azizy, Membahas Kitab Tafsir Klasik-Modern, h.

166-167

Dalam hal ini, Ali Ayazi berdasarkan penelitiannya menambahkan bahwa tujuan penulisan tafsir al-Munir ini adalah memadukan keorisinilan tafsir klasik dan keindahan tafsir kontemporer, karena menurut Wahbah az-Zuhailî banyak orang yang menyudutkan tafsir klasik yang dianggap tidak mampu memberikan solusi terhadap problematika masyarakat di era kontemporer, sedangkan para mufassir kontemporer banyak melakukan penyimpangan interpretasi terhadap ayat Al-Qur`an dengan dalih pembaharuan. Seperti penafsiran Al-Qur`an yang dilakukan oleh beberapa mufassir yang basic keilmuannya sains, oleh karena itu, menurutnya tafsir klasik harus dikemas dengan gaya bahasa kontemporer dan metode yang konsisten sesuai dengan ilmu pengetahuan modern tanpa ada penyimpangan interpretasi.92

2. Metode Penafsiran

Salah satu ciri dari ciri-ciri metode penulisan tahlili atau analisis adalah penafsiran yang di mulai dari surat Al-Fatihah dan diakhiri pada surat An-Nas. Atau dengan kata lain dengan metode penulisan tahlil adalah penulisan materi tafsir yang mengikuti susunan surah-surah dan ayat-ayat sebagaimana yang termaktub dalam mushaf Al-Qur`an.93

Mengamati metode penulisan tafsir al-Munîr dari sisi runtun penafsiran, yang dimulai dari surat Al-Fatihah dan diberakhir pada surah An-Nas, bisa kita katakan metode penulisannya adalah tahlili.

Berdasarkan metode ini Wahbah menuliskan tafsirnya dari berbagai sisi secara rinci, dimulai dari mebahas keutamaan surah, membahas

92 Faizah Ali Syibromalisi dan Jauhar Azizy, Membahas Kitab Tafsir Klasik-Modern, h.

167

93 Faizah Ali Syibromalisi dan Jauhar Azizy, Membahas Kitab Tafsir Klasik-Modern, h.

172

makna kosa kata, mengulas kandungan sastranya, menafsirkan kandungan ayatnya kemudian menyimpulkan kandungan ayat tersebut di bawah tema fiqh al-hayah, tanpa mengabaikan sisi munasabah antara ayat dan sebab nuzulnya.

Di sisi lain kita juga melihat pengelompokan ayat, berdasarkan keterkaitan isi yang dikandung ayat-ayat tersebut, dan pemberian tema sesuai dengan kandungannya. Dalam penafsiran ayat-ayat dari surah-surah lain, yang terkait dengan ayat yang sedang di tafsirkannya, menjelaskan tujuan utama surah dan ayat dan petunjuk- petunjuk yang dapat dipetik darinya, untuk lebih memperjelas ulsannya, sehingga penafsirannya menjadi lebih utuh dan meyeluruh.

Metode penulisan dengan langkah-langkah seperti yang disebutkan diatas menurut para pakar tafsir bisa di golongkan dalam metode tafsir semi tematik (maudhu‟i), yaitu metode yang diterapkan pertama kali oleh Syaikh Al-Azhar Mahmud Syaltut dalam karya tafsirnya

Tafsir al-Qur`an Al-karîm”.

Dengan langkah-langkah tersebut diatas, maka bisa disimpulkan bahwa metode penafsiran yang dipakai Wahbah dalam tafsir al-Munîr adalah kolaborasi antara metode tahlili dan semi tematik, karena disamping beliau menafsirkan Al-Qur`an sesuai dengan urutan surah- surah sebagaimana termaktub dalam mushaf, ia juga memberi tema pada setiap kajian ayat yang sesuai dengan kandungannya dan mengaitkannya dengan surah secara keseluruhan. Contoh jelasnya seperti dalam menafsirkan surat Al-Baqarah ayat 1-5, beliau memberi

tema “sifat-sifat orang mu‟min dan balasan bagi orang-orang yang bertakwa”.94

3. Sumber Penafsiran

Muhammad Ali Iyazi dalam bukunya, Al-Mufassirȗn hayâtuhum wa Manâhijuhum, mengatakan bahwa sumber pembahasan kitab tafsir ini menggunakan gabungan antara tafsir bi al-Ma‟tsur dengan tafsir bi ar-ra‟yi. tafsir bi al-Ma‟tsur yaitu menafsirkan Al-Qur`an dengan Al-Qur`an, dengan sunnah karena ia berfungsi menjelaskan kitabullah, dengan perkataan sahabat karena merekalah yang paling mengetahui Al-Qur`an, atau dengan apa yang dikatakan tokoh-tokoh tabi‟in karena pada umunya mereka menerimanya dari para Sahabat.

Sedangkan ialah tafsir yang di dalam menjelaskan maknanya mufassir hanya berpegang pada pemahaman sendiri dan penyimpulan (istinbât) yang didasarkan ra‟yu semata.95

Dalam hal ini Wahbah sendiri mengungkapkan bahwa dalam menafsirkan Al-Qur'an ia tidak hanya berpegang pada tafsir bi al- ma‟tsur saja ,akan tetapi juga tetap berpegang pada tafsir bi al-ra‟yi atau pada riwayat. Landasan menggabungkan dua sumber penafsiran ini adalah QS. An-Nahl 16/44:



























94 Faizah Ali Syibromalisi dan Jauhar Azizy, Membahas Kitab Tafsir Klasik-Modern, h.

172

95 Mannâ‟ Khalîl al-Qattân, Studi Ilmu-Ilmu Qur`an, terj. Mudzakir (Bogor: Pustaka Litera AntarNusa, 2010), Cet. ke-13, h. 482-488

”keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan Kami turunkan kepadamu al-Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka[829] dan supaya mereka memikirkan,” (QS. An-Nahl [16]: 44)

Berdasarkan ayat ini Wahbah menilai bahwa lafal ayat “ tubayyina linnas” (untuk kamu jelaskan kepada manusia), adalah tentang kedudukan Nabi yang mempunyai otoritas penuh untuk memberikan penjelaan dan penafsiran makna ayat-ayat Al-Qur`an maupun aplikasinya dalam kehidupan manusia dan demi kemaslahatan mereka. Sedangkan lafal ayat “la'allahum yatafakkarun” (agar mereka memikirkannya), adalah perintah Allah kepada manusia untuk berusaha memahami ayat-ayat Al-Qur`an dengan pemikiran yang bersumberkan akal yang jernih, melalui tadabbur dan tela‟ah yang mendalam, dengan segenap kemampuan akal, untuk menemukan pesan-pesan Al-Qur`an sebagaimana yang dikehendaki Allah.96

4. Referensi Penafsiran

Sedangkan referensi-referensi yang digunakan Wahbah az- Zuḥailī dalam tafsir al-Munîr diantaranya adalah sebagai berikut97: 1. Bidang Tafsir

a. Ahkam al-Qur`an karya al-Jashshas b. Al-Kasyaf karya Imam Zamakhsyari

c. Al-Manâr karya Muhammad Abduh dan Rasyid Ridho d. Al-jami' fi Ahkâm al-Qur`an karya Al-Qurtubi

96 Faizah Ali Syibromalisi dan Jauhar Azizy, Membahas Kitab Tafsir Klasik-Modern, h.

169-170

97 Faizah Ali Syibromalisi dan Jauhar Azizy, Membahas Kitab Tafsir Klasik-Modern, h.

170-172

e. Tafsîr ath-Thabarî karya Muhammad bin Jarîr Abu Ja‟far ath- Thabari

f. At-Tafsîr al-Kabîr karya Imam Fakhruddin ar-Razi g. Ta'wîl Musykil Al-Qur`an karya Ibn Qutaibah

h. Tafsîr al-Alusi karya Syihab ad-Din Mahmud bin Abdillah i. Tafsîr Al-Bahr al-Muhîth karya Imam Abu Hayyan

Muhammad bin Yusuf

j. Tafsîr Ibn Katsîr Ismail bin Umar bin Katsir 2. Bidang Ulum Al-Qur`an

a. Al-Itqân karya Imam suyuti

b. Mabâhits Fî 'Ulȗm Al-Qur'an karya Shubhi Shalih c. Lubab an-Nuqȗl fî Asbâb an-Nuzȗl karya Imam Suyuthi d. Asbâb an-Nuzȗl karya al-Wahidi

e. I‟jaz Al-Qur'an karya Imam al-Baqilani

f. Al-Burhân fî 'Ulȗm Al-Qur‟an karya Imam Zarkasyi 3. Bidang Hadis

a. Shahîh al-Bukhârî karya Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim al-Bukhari

b. Shahîh Muslîm karya Muslim bin Hajjaj Abu al-Husain c. Al-Mustadrak karya Imam Hakim

d. Ad-dalail an-Nubuwwah karya Imam Baihaqi

e. Sunan Tirmidzî karyaMuhammad bin „Isa Abu „Isa at-Tirmidzi f. Musnad Ahmad bin Hanbal

g. Sunan Ibn Mâjah karya Abu Abdillah bin Muhammad bin Yazid al-Qazwaini

h. Sunan Abi Dawud karya Sulaiman bin Asy‟ast bin Syadad i. Sunan an-Nasâi karya Ahmad bin Syu‟aib Abu Abd ar-

Rahman an-Nasaî

4. Bidang Ushul Fiqh dan Fiqh

a. Bidayat al-Mujtahîd karya Ibn Rusyd al-Hafidz

b. Al-Fiqh al-Islâmî wa Adilatuh karya Wahbah az-Zuhaili c. Ushȗl al-Fiqh al-Islâmikarya Wahbah az-Zuhaili d. Ar-Risâlah karya Imam Syafi'i

e. Al-Mushtafâ karya Imam al-Ghazali 5. Bidang Teologi

a. Al-Kafi karya Muhammad bin Ya‟qȗb

b. Asy-Syafî Syarh Ushȗl al-Kafi karya „Abdullah Mudhhaffar c. Ihya 'Ulȗm ad-Dîn karya Imam al-Ghazali

6. Bidang Luhgat

a. Mufradât ar-Raghîb karya al-Ashfihani b. Al-Furȗq karya al-Qirafi

c. Lisân al-„Arâb karya Ibn al-Mandhur 5. Corak Penafsiran

Corak tafsir yang sudah dideteksi oleh pakar-pakar tafsir dari buku-buku tafsir yang sudah terbit sampai saat ini memang banyak dan beragam, diantaranya corak tafsir lughowi, corak tafsir al-Sufi, corak tafsir al-Fiqh, corak tafsir al-Falsafi, corak tafsir al-„ilmi dan tafsir adabi ijtima‟i. Namun kalau kita cermati definisi corak atau tafsir,

yaitu kecenderungan mufassir yang dilatar belakangi oleh pendidikannya, lingkungan hidupnya, baik itu situasi sosial kemasyarakatan, ekonomi maupun politik, buku-buku yang di bacanya, maka corak tafsir al-Munîr bisa kita kelompokkan dalam corak tafsir al-Fiqh atau mungkin corak itulah yang paling dominan dalam tafsirnya.

Kesimpulan ini dilandasi tidak hanya oleh latar belakang pendidikan Wahbah yang memang seorang pakar dalam disiplin ilmu syariah dan al-Qonun. Tetapi tafsir al-Munîr ini juga di pengaruhi oleh karya monumentalnya yang lain, yang ditulis sebelumnya, yaitu kitab

Al-Fiqh Al-Islâmî wa Adilatuh”, diterbitkan oleh Dâr al-Fikr, Damsyiq, 1984.

Karena sebuah kitab bisa saja berafilisasi kepada corak tafsir, tergantung keilmuan dan kecenderungan mufasirnya. Maka corak lain yang bisa dideteksi dari tafsir al-Munîr selain corak fiqh adalah corak tafsir adabi ijtima‟i, yaitu disamping mengutamakan fokus pembahasannya pada persoalan sosial kemasyarakatan, atau dengan kata lain mengungkap hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan situasi sosial dan budaya yang berkembang di masyarakat. Hal ini dimungkinkan karena Wahbah selain memiliki kepakaran dalam bidang ilmu syari‟ah dan al-Qonun, ia juga memiliki basic kebahasaan yang memadai, mengingat ia juga lulusan fakultas bahasa dan sastra Arab. Dengan keilmuan sepeti ini Wahbah mampu mengulas dan menyajikan tafsirnya dengan gaya bahasa dan redaksi yang sangat lugas, teliti dan mudah di mengerti.98

98 Faizah Ali Syibromalisi dan Jauhar Azizy, Membahas Kitab Tafsir Klasik-Modern, h.

173-174

6. Pendapat Para Ulama Tentang Tafsir al-Munîr

Menurut „Ali Iyazî, Tafsir al-Munîr membahas seluruh ayat Al- Qur`an dari awal surat Al-Fâtihah sampai akhir surat An-Nâs.

Pembahasan kitab tafsir ini menggunakan gabungan antara corak tafsîr bi al-Ma‟tsȗr dengan tafsîr bi al-ra‟yu, serta menggunakan gaya bahasa dan ungkapan yang jelas, yakni gaya bahasa kontemporer yang mudah dipahami bagi generasi sekarang ini. Oleh sebab itu, Wahbah membagi ayat-ayaty berdasarkan topik untuk memelihara bahsa dan penjelasan di dalamnya.99

Tafsir al-Munîr ini bahasanya mudah dicerna dan mudah dimengerti, selain itu penafsiran tersebut tidak meninggalkan pendapat para mufassir klasik akan tetapi ia mengkomparasikan pendapat para mufassir klasik dan modern, serta Wahbah sendiri pun ikut andil dalam penafsiran tersebut. Kitab ini sangat cocok bagi siapapun yang ingin memahami tafsir, karena tafsir ini tidak mengandung unsur fanatisme mazhab.100

Banyak komentar positif ulama dan pemikir kontemporer tentang kitab Tafsir al-Munîr ini. Dalam Pengantar Penerjemah buku biografi Syaikh Wahbah, Dr. Ardiansyah menjelaskan, “Tidaklah berlebihan kiranya saya mengatakan bahwa Syaikh Wahbah adalah ulama paling produktif dalam melahirkan karya pada abad ini, sehingga dapat disamakan dengan al-Imam as-Suyuthi. Demikian pula dengan sambutan luar biasa dari kalangan akademisi dan masyarakat luar terhadap karya-karya monumentalnya seperti al-Fiqh al-Islamî wa

99 Syafaat, “Telaah terhadap Tafsîr al-Munîr Karya Wahbah az-Zuhailî tentang Konsep Poligami dalam Konsep Keadilan Gender”, dalam Jurnal Penelitian Kependidikan, Vol. 18 No. 1 April 2008, h. 23

100 Ainol, “Metode Penafsiran az-Zuhailî dalam al-Tafsîr al-Munîr”, dalam Mutâwatir:

Jurnal Keilmuan Tafsir Hadis,Vol. 1 No. 2 Desember 2011, h. 152

Adillatuhu, at-Tafsir al-Munîr, dan Ushȗl al-Fiqh, sehingga layak disamakan dengan karya-karya al-Imam an-Nawâwi. Prestasi dan keberhasilan yang langkah diraih oleh siapa pun pada masa sekarang ini, merupakan anugrah dari Allah SWT, serta kesungguhan beliau dalam membaca, menelaah, dan menulis.”

Syaikh Muhammad Kurayyim Rajih, dan ahli qira‟at di Syam sangat memuji tafsir al-Munîr, dia berkata “Kitab ini sungguh sangat luar biasa, sarat ilmu, disusun dengan metode ilmiah, memberikan pelajaran layaknya seorang guru, sehingga setiap orang yang membacanya memperoleh ilmu. Kitab ini layak dibaca setiap kalangan, baik yang berilmu maupun orang awam. Mereka akan mendapatkan inspirasi dari kitab ini dalam kehidupannya, sehingga ia tidak perlu lagi merujuk kepada kitab-kitab yang lain.” Tidak hanya sampai di situ, kitab ini juga dinikmati oleh kalangan Syi`ah. Hal ini terbukti ketika kitab ini mendapat penghargaan “karya terbaik untuk tahun 1995 M” dalam kategori keilmuan Islam yang diselenggarakan oleh pemerintah Republik Islam Iran. Kitab ini juga disambut oleh berbagai negara dengan cara menerjemahkannya dalam berbagai bahasa, seperti Turki, Prancis, Malaysia, dan Indonesia.101

101 Andika Maulana, “Wahbah az-Zuhailî dan Tafsir al-Munîr”, dalam Studi Kitab Tafsir, Jakarta, 15 Februari 2016, h. 11

66

YÂ BUNAYYA” DALAM AL-QUR`AN

A. Penafsiran Wahbah az-Zuhailî terhadap Lafaz Yâ Bunayya

Panggilan seorang ayah terhadap anak di dalam Al-Qur`an terdapat dua jenis panggilan yaitu pertama,

يَنُ باَي

seperti dalam QS. Luqmân [31]:

13-17, QS. Ash-Shâffât [37]: 102, QS. Yûsuf [12]: 4-6 dan QS. Hûd [11]:

42. Kedua,

يِنَباَي

seperti dalam QS. Al-Baqarah [1]: 132, QS. Yûsuf [12]:

67 dan QS. Yûsuf [12]: 87.

Dalam hal ini penulis hanya fokus pada jenis panggilan pertama yaitu

يَنُ باَي

dengan mengambil penafsiran Wahbah az-Zuhailî dalam Kitab Tafsir

al-Munîr.

1. Peran Ayah dalam Menanamkan Nilai Akidah terhadap Anak (QS. Luqmân [31]: 13-17)

Al-Qur`an memberikan contoh bagaimana seharusnya seorang ayah menanamkan nilai akidah kepada anaknya, sebagaimana firman Allah swt. sebagai berikut:





















































































































































































































13. dan (ingatlah) ketika Luqmân berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".

14. dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

15. dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

16. (Luqmân berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui.

17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (QS. Luqmân [31]: 13-17)

Pada ayat di atas terdapat tiga panggilan yâ bunayya yaitu tentang nilai akidah, larangan menyekutukan Allah swt., perintah berbakti kepada orang tua, perintah mendirikan shalat dan mengerjakan amar ma‟ruf dan menjauhi kemunkaran.

Asbâb an-Nuzûl dari ayat di atas adalah bahwa ketika itu ada orang Quraisy datang kepada Rasulullah yang meminta agar dijelaskan kepadanya berkaitan dengan kisah Luqmân. Sedangkan pokok-pokok ajaran yang telah disebbutkan di atas. kisah ini merupakan potret orang tua dalam mendidik anaknya dengan ajaran keimanan. Dengan pendidikan persuasif, Luqmân dianggap sebagai pendidik bijaksana, sehingga Allah mengabadikannya dalam Al- Qur`an dengan tujuan agar menjadi ibrah atau pelajaran bagi para pembacanya. Kemudian Allah menjelaskan tipe manusia pembangkang terhadap perintah-Nya, hingga pada akhirnya mereka tidak mau mendengarkan Al-Qur`an.102

Wahbah az-Zuhailî dalam menafsirkan lafaz

للهااب كرشت لا نبي

dengan penafsiran bahwa kata

نبي

yâ bunayya yang dimaksud disini adalah menggunakan bentuk kata tasghîr (diminutif) untuk memperlihatkan rasa kasih sayang.103

Beliau menjelaskan bahwa Luqmân menyampaikan wasiat, pesan dan nasihat kepada putranya, sebagai bentuk kasih sayang kepada- Nya. Hal yang pertama di perintahkan adalah tentang akidah yaitu

102 Nurwadjah Ahmad dan Roni Nugraha, Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan Menyingkap Pesan-Pesan Pendidikan dalam Al-Qur`an, (Bandung: Penerbit Marja, 2018), Cet. ke-4, h.

155

103 Wahbah Al-Zuhailî, Tafsir al-Munir. Aqidah, Syari‟ah dan Manhaj, terj. Abdul

Hayyie al-Kattani, dkk., (Jakarta: Gema Insani, 2015), Cet. ke-1, h. 164

dengan tidak menyekutukan Allah swt. Dalam hal ini perbuatan syirik merupakan sebuah kezaliman karena syirik berarti meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya, syirik adalah kezaliman yang besar karena itu merupakan perbuatan yang berkaitan dengan pokok aqidah, menyamakan dan mensetarakan antara sang Khaliq dengan makhluk.104

Kemudian wasiat Luqmân kepada anaknya adalah sesungguhnya suatu kebaikan, kejelekan, kezaliman, pelanggaran hak dan kesalahan, sekalipun seberat ukuran sebutir biji sawi dan berada di tempat yang paling tersembunyi sekalipun seperti dalam perut batu, atau di tempat yang paling tinggi rendah dan dalam seperti di dalam perut bumi, niscaya Allah swt. pasti akan menghadirkan dan menampilkannya kelak pada hari kiamat ketika proses hisab dan penimbangan amal perbuatan, dan akan membalasnya baik atau buruk.

Secara garis besar bahwasanya Luqmân memerintahkan untuk ihsan, yaitu berbuat baik kepada kedua orang tua dan lingkungan sekitar. Ayat ini menjelaskan tentang keilmuan, bahwa Allah swt.

mengetahui segala yang gaib dan yang tampak, dan mengetahui segala amal perbuatan hamba-hamba-Nya untuk memenuhi yang berhak mereka terima pada hari kiamat.105

Luqmân al-Hakîm melarang anaknya dari perbuatan syirik serta menumbuhkan rasa takut dengan menumbuhkan kesadaran dan keindahan akan ilmu dan kuasa Allah swt., Luqmân al-Hakîm memerintahkan anaknya untuk mengerjakan amal-amal shaleh yang

104 Wahbah Al-Zuhailî, Tafsir al-Munir. Aqidah, Syari‟ah dan Manhaj, terj. Abdul Hayyie al-Kattani, dkk., h. 167

105 Wahbah al-Zuhailî, Tafsir al-Munîr. Aqidah, Syari‟ah dan Manhaj, terj. Abdul Hayyie al-Kattani, dkk., h. 170

Dokumen terkait