Aku menyair, aku bernalam Mengurai kasih melimpah sayang Berbisik sedih, bersorak girang Dengan bahasa seri pualam Aku bernyanyi mengayun padi Memikul butir memberat emas Aku menghimbau burung bebas Dengan bahasa moyangku asli
1 Dikutip dari buku Kiliran Jasa Seorang Guru Bahasa: sebuah biografi Sabaruddin Ahmad,
Shafwan Hadi Umry dan Rusli A. Malem (Balai Bahasa Sumatera Utara, 2005), hlm. 100—101.
Bukan hina bahasaku kini Tidak kaku ia tersenyum Hebat gembira ia menderum Tangkas cekatan ia mencari O, saudara congkak mulia Melonjak khidmat bahasa sana Memuji tinggi bahasa orang Mari sertaku ke taman indah Membelai memupuk bahasa kita Biar subur megah menjulang Dulu dan Kini—Lisan dan Tulis
Bahasa sangat berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan suatu masyarakat dan bangsa. Tanpa bahasa, masyarakat manapun tidak akan mungkin tumbuh dan berkembang maju. Demikian pula bahasa, tidak akan mungkin ada tanpa masyarakat yang mendukung dan memilikinya.
Sejarah telah mencatat bahwa cikal bakal bahasa Indonesia itu berasal dari bahasa Melayu. Orang Medan telah lama menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa komunikasi sehari-hari, baik dalam percakapan lisan, maupun dalam tulisan.
Dengan demikian, orang ketika lahirnya bahasa Indonesia yang disahkan melalui kongkres II Pemuda tanggal 28 Oktober 1928, yang mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia tidak merasa kesulitan untuk berbahasa Indonesia.
Hal ini dikarenakan, jauh sebelum lahirnya bahasa Indonesia, orang Medan sudah menggunakan bahasa Melayu dalam lisan dan tulisan, misalnya dalam karya sastra yang ditulis oleh para penyair yang dimuat oleh koran terbitan Medan telah menggunakan bahasa Melayu2.
Begitu juga Tan Malaka, setelah menamatkan studinya di Belanda, beliau bekerja sebagai guru di Sumatera Timur dari tahun 1919—1921. Di saat menjadi guru, beliau banyak menulis tentang kritikan terhadap kaum penjajah yang dimuat oleh koran terbitan Medan. Semua tulisannya ditulis dalam bahasa Melayu3.
Dari karya sastra yang ditulis oleh penyair perempuan, pada awal abad 20, yang dimuat oleh koran terbitan Medan terlihat bahwa para penulisnya begitu mahir menggunakan bahasa melayu/ Indonesia dengan diksi yang cukup terjaga.
Beberapa karya penyair perempuan itu antara lain:
2 Lihat Pidia Amelia (2013) Mustika Kiasan: Antologi Puisi Penyair Perempuan Sumatera Bagian
Utara 1919—1941. Medan: Ulu Brayan Publisher. Buku memuat 12 puisi yang ditulis oleh kaum perempuan dan dimuat oleh koran terbitan Medan sekitar tahun 1919—1941.
3 Lihat Emnast (1941/2007) Tan Malaka di Kota Medan. Medan: Arsip Sumatra. Buku ini merupakan sebuah novel yang ditulis oleh Emnast atau Muchtar Nasution terbit pertama sekali tahun 1941 di Medan, novel ini berkisah tentang sepaak terjang tokoh Tan Malaka di Kota Medan. Novel ini ditulis dengan bahasa Indonesia, jauh sebelum bahasa Indonesia dijadikan sebagai bahasa negara.
“Organ untuk Perempuan Bergerak”, karya Siti Alima dimuat oleh koran Perempoean Bergerak, tanggal 16 Mei 1919 (hlm. 3). Puisi ini terdiri atas 11 bait.
Berikut kutipan bait pertama;
organ perempuan sudah terbit rembuk dan rukun itulah bibit girangnya hati bukan sedikit apa halangan, hendak disabit
“Ajakan”, karya Oepik Amin dimuat oleh koran Perempoean Bergerak, tanggal 16 Mei 1919 (hlm. 3). Puisi ini terdiri atas 20 bait. Berikut kutipan pada bait kedua;
Setelah dekat dia berkata Hai Oepik Amin saudara beta Perempuan bergerak korannya kita Sudah terbit di Medan kota
“Cumbuan”, karya Potjut-potjut Chadija, Tiawah, Aseb, dan Fatimah, dimuat oleh koran Perempoean Bergerak, tanggal 16 Mei 1919 (hlm. 4). Puisi ini terdiri atas 31 bait. Berikut kutipan pada bait ketiga;
Kalau ada salah awalnya
Diharap pembaca memaafkannya Karena kami sangat bodohnya
Karang mengarang belum bantasnya
“1924—1925”, karya Boenga Rebi-Rebi yang dimuat oleh koran Tjermin Karo, tanggal 13 Januari 1925 (hlm. 1). Puisi ini terdiri atas 17 bait. Berikut kutipan pada bait keempat;
Lanjutkan ingatan, perubahan nama Angka empat dengannya lima Nanti mengetahui kita bersama Rasa seram bulu dan roma
“Mustika Kiasan”, karya Syarikat Kaum Ibu Sumatera (SKSI) yang dimuat oleh koran Pelita Andalas, tanggal 29 Agustus 1929 (hlm. 2). Puisi ini terdiri atas 17 bait. Berikut kutipan pada bait kelima;
Ikut kemauan, junjungan kita Pelepas hati, penurut nafsu Badan yang lemah, turut bicara Jadi haluan, setiap waktu
“Doenia Isteri: Ajakan”, karya P. Beroe Bangoen yang dimuat oleh koran Bintang Karo, edisi Maret 1931 (hlm. 3). Puisi ini terdiri atas 17 bait. Berikut kutipan pada bait keenam;
Ilmu itu harta yang kekal Tentulah ia jangan tertinggal Walau di darat atau di kapal Itu boleh menjadi bekal
“Perci Permenungan”, karya R. Moen’im yang dimuat oleh koran Soeara Iboe edisi Juli 1931 (hlm. 4). Puisi ini terdiri atas 5 bait. Berikut kutipan pada bait kedua;
Ke daksina kupandang jelas
Kulihat mega beriring-iring Siapakah tidak menaruh belas Melihat bangsanya tidur berbaring
“Doa Ku”, karya Anggia Murni yang dimuat oleh koran Pedoman Masyarakat tanggal 4 Januari 1939 (hlm. 11). Puisi ini terdiri atas 7 bait. Berikut kutipan pada bait ketiga;
Kalau orang lain memberi barang Berupa benda, alamat girang Pemberianku hanya sepatah doa Bagiku lebih dari mata benda
“Surya” dan “Tepian Mandiku” karya Noersima K yang dimuat oleh koran Bintang Oemoem tanggal 12 Juli 1941. Puisi ini terdiri atas 5 bait dan 6 bait.
Berikut kutipan pada bait ketiga puisi Surya;
Begitulah cahaya menerangi kita Tiada membedakan hina dan mulia Segala makhluk diteranginya Setiap hari, kelain masa
Daan kutipan puisi Tepian Mandiku bait keempat;
Dikala daku dipelukanmu Alangkah segar rasa diriku Jika kuturut kehendak tubuh Berendam lama, maulah daku
“Termenung” karya Boroe Marpaoeng yang dimuat oleh koran Bintang Oemoem tanggal 12 Agustus 1941. Puisi ini terdiri atas 6 bait. Berikut kutipan bait pertama;
Di kala beta duduk termenung Terkenang masa nan silam Air mata membasuh di jantung Sejak ditimpa cinta kejam
“Guci Asmara” karya I’mah yang dimuat oleh koran Bintang Oemoem tanggal 16 Agustus 1941. Puisi ini terdiri atas 4 bait. Berikut kutipan pada bait keempat;
Kini dendangan batin remaja Mundurkan diri sementara
Waktu mendatangkan tempat pada penjaga Agar ceritanya tepat terpadu
Umumnya puisi-puisi yang ditulis oleh penyair perempuan ini berbentuk pantun, tetapi dalaam bentuk gaya pujangga lama, sebagaimana yang pernah ditulis oleh Rustam Effendi dan Amir Hamzah. Tetapi yang menarik justru para penyair perempuan ini lebih dahulu menciptakan bentuk demikian daripada dua penyair ternama berikutnya (Rustam Effendi dan Amir Hamzah).
Bahasa dan Penerbitan
Medan memang kota bersejarah bagi industri perbukuan Indonesia. Medan termasuk kota bersejarah yang memulakan industri penerbitan nasional sejak awal. Dahulu ada sejumlah penerbit di Medan yang menerbitkan karya-karya sastra.
Tahun 1952, di Medan telah berdiri organisasi penerbit lokal bernama Gabungan Penerbit Medan (Gapim) yang terdiri atas 40 orang anggota dan 24 di antaranya
adalah pedagang buku. Gapim pun diajak bergabung ke Ikatan Penerbit Indonesia pada tahun 1953, Oktober 1953 terbentuklah Ikapi Cabang Medan4.
Tidak hanya itu, Medan menjadi kota pertama di Indonesia yang menyelenggarakan pameran buku. Bulan April 1954, Ikapi Cabang Sumatra Utara menggelar pameran buku pertama di lingkungan Ikapi yang dihadiri Menteri PP dan K, Mr. Moh. Yamin.
Berhubung maraknya dunia penerbitan di Medan, berpengaruh pula terhadap lahirnya para penulis. Para penulis ini tentunya berpengaruh pula terhadap perkembangan bahasa Indonesia. Beberapa tokoh tersebut adalah Sutan Takdir Alisyahbana (STA), Amir Hamzah, Armin Pane, Sanusi, Merari Siregar, Chairil Anwar, Muhammad Zain Saidi (Mozasa), Iwan Simatupang, dan Sabaruddin Ahmad.
Beberapa pemikiran mereka terhadap perkembangan bahasa Indonesia, misalnya STA di samping tokoh Pujangga Baru, beliau juga tokoh pembina dan pengembangan bahasa dan sastra Indonesia. STA pertama kali menggunakan istilah pembinaan dan pengembangan dengan Language Engineringg. Beliau mengungkapkan bagaimana memanfaatkan penemuan-penemuan dalam bidang linguistik (ilmu bahasa) untuk mempengaruhi pembentukan bahasa Indonesia agar mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang lahir dari kehidupan modern. Tata bahasa Indonesia yang disusunnya bukanlah semata-mata tatabahasa deskriptif, melainkan tatabahsa normatif yang sanggup memberikan norma-norma suatu yang modren (Kleiden, 1988: XVII-XIX).
Merari Siregar terkenal sebagai sastrawan yang mula-mula menulis secara baru dengan novelnya yang berjudul Azab dan Sengsara. Selain sebagai pengarang novel, Merari Siregar juga seorang penyadur yang baik. Cerita saudaranya sangat hidup sehingga pembaca tidak merasakan cerita itu sebagai saduran dari luar negeri. Pembaca seolah-olah membaca cerita Indonesia asli, seperti dalam cerita si Jamin dan Si Johan. Dalam pandangan Umar Junus, Marah Rusli dan Merari Siregar yang dianggap pemula tradisi penulisan novel dalam sastra Indonesia.
Sabaruddin Ahmad adalah tokoh pendidik, tokoh pembina, dan pengembangan bahasa dan sastra Indonesia di Sumatera Utara. Buku Sabar dalam bidang bahasa dan sastra Indonesia telah diajukan buku paduan dan buku pelajaran di sekolah- sekolah dan di masyarakat Sumatera Utara, Nasional, dan negara tetangga Malaysia.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa orang Medan, jauh sebelum Sumpah Pemuda 1928, sudah menggunakan bahasa Indonesia dalam komunikasi sehari-hari, walaupun saat itu belum bernama bahasa Indonesia tetapi bahasa Melayu.
Hal yang paling menonjol pada penggunaan bahasa Indonesia masyarakat Medan pada saat itu lebih pada bentuk bahasa yang mempunyai ciri-ciri bahasa yang dibuat Van Ophuiysen (1901). Ciri itu menunjukkan adanya perubahan bunyi satu fonem tetapi dilafalkan dengan dua buah fonem, seperti kamoe untuk mengungkapkan kamu. Bunyi [oe] untuk mengartikan [u]. Agaknya tidak mengherankan, bahwa untuk menguraikan dan menguasai bunyi-bunyi tiap
4 Lihat 50 Tahun Ikapi: Membangun Masyarakat Cerdas.
bahasa hanya diperlukan sebagian saja dari bunyi-bunyi bahasa di dunia yang tidak terbilang macamnya itu.
Pembinaan Kehidupan Budaya Bangsa
Kalau dalam hubungannya dengan persatuan dan kesatuan bangsa yang perlu diperhatikan adalah bahasa Indonesia dan bahasa daerah, tetapi dalam hal pengembangan iptek perhatian itu hendaknya dipusatkan pada bahasa Indonesia dalam kaitannya dengan bahasa asing. Pengaitan bahasa asing itu sekaligus menggambarkan kenyataan bahwa konsep-konsep iptek modern, pada umumnya berasal dari dunia barat, masih tertulis dalam bahasa asing.
Dalam konteks pembinaan kehidupan budaya bangsa, interaksi yang perlu diperhatikan tidak saja antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah, tetapi juga antara bahasa Indonesia dan bahasa asing. Dalam hubungannya dengan bahasa daerah, pemakaian bahasa Indonesia dalam bidang kebudayaan harus dapat memberikan gambaran dan pemahaman yang jelas tentang puncak-puncak kebudayaan daerah yang didasari oleh nilai budaya daerah yang luhur.
Persentuhan antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah akan mengakibatkan dicorakinya kebudayaan nasional oleh ciri-ciri budaya daerah. Sebaliknya, persentuhan antara bahasa Indonesia dan bahasa asing akan membuat kebudayaan nasional itu agak bercorak mondial.
Bahasa Indonesia yang berperan dalam pembinaan budaya bangsa harus menampilkan diri, baik dalam sistem ketatabahasaannya maupun dalam kenyataan pemakaian bahasanya, sebagai filter yang akan menjaga keutuhan identitas dan sistem nilai yang bercorak nasional itu. Untuk itu, sejauh menyangkut pembinaan dan pengembangan bahasa, bahasa daerah dan bahasa asing harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menetapkan sistem dan pemerkayaan kosakata bahasa Indonesia. Hal itu berarti bahwa unsur-unsur yang berasal dari bahasa daerah dan bahasa asing itu, haruslah disesuaikan dengan kaidah yang berlaku dalam bahasa Indonesia.
Pembinaan bahasa Indonesia terus ditingkatkan sehingga penggunaannya secara baik dan benar serta dengan penuh rasa bangga makin menjangkau seluruh masyarakat, memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa, serta memantapkan kepribadian bangsa. Penggunaan istilah asing yang sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia harus dihindari. Pengembangan bahasa Indonesia juga terus ditingkatkan melalui upaya penelitian, pembakuan peristilahan dan kaidah bahasa, serta pemekaran perbendaharaan bahasa sehingga bahasa Indonesia lebih mampu menjadi bahasa ilmu pengetahuan dan teknologi. Penulisan karya ilmiah dan karya sastra termasuk bacaan anak yang berakar pada budaya bangsa, serta penerjemahan karya ilmiah dan karya sastra yang memberikan inspirasi bagi pembangunan budaya nasional perlu digalakkan untuk memperkaya bahasa, kesastraan, dan pustaka Indonesia.
Pembinaan bahasa daerah perlu terus dilanjutkan dalam rangka mengembangkan serta memperkaya perbendaharaan bahasa Indonesia dan khazanah kebudayaan nasional sebagai salah satu unsur jati diri dan kepribadian bangsa. Perlu ditingkatkan penelitian, pengkajian, dan pembangunan bahasa dan sastra daerah serta penyebarannya melalui berbagai media.
Kemampuan penguasaan bahasa asing perlu ditingkatkan dan dikembangkan untuk memperlancar komunikasi dengan bangsa lain di segala aspek kehidupan terutama informasi ilmu pengetaahuan dan teknologi. Di samping itu, penguasaan bahasa asing juga memperluas cakrawala pandang bangsa sejalan dengan kebutuhan pembangunan.
Daftar Pustaka
Ahmad, Sabaruddin. 2005. “Bahasa dalam Kesusastraan” dalam Shafwan Hadi Umry, Kiliran Jasa sang Guru Bahasa Sebuah Biografi Drs. H. Sabaruddin Ahmad. Medan: Balai Bahasa Sumatera Utara.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud.
Hasanuddin. 2004. Ensiklopedi Sastra Indonesia. Bandung: Titian Ilmu.
Kleiden, Ignes. 1988. Kebudayaan Sebagai Perjuangan, Perkenalan dengan Pemikiran St. Takdir Alisjahbana. Jakarta: Dian Rakyat.
Moeliono, Anton M. 1985. Pengembangan dan Pembinaan Bahasa: Ancangan Alternatif di dalam Perencanaan Bahasa. Jakarta: Djambatan.
Purba, Antilan. 2007. Otonomi Budaya, Ketika Seni Budaya Dipinggirkan.
Medan: USU Press.
Selamatmulyana. 1982. Asal Bangsa dan Bahasa Nusantara. Jakarta: Balai Pustaka.
Slamet, St.Y. “Perkembangan Bahasa Indonesia Sumbangannya Terhadap Persatuan dan Jati Diri Bangsa”. Makalah Seminar Nasional dalam rangka Dies Natalis XXXIV Universitas Sebelas Maret.
Sugono, Dendy. 2003. Ensiklopedia Sastra Indonesia Modern. Jakarta:
Depdikbud.
Syukri, A. 2007. Dialog Islam dan Barat, Aktualisasi Pemikiran Etika Sutan Takdir Alisjahbana. Jakarta: Gaung Persada Press.
Umry, Shafwan Hadi. 2005. Kiliran Jasa sang Guru Bahasa Sebuah Biografi Drs.
H. Sabaruddin Ahmad. Medan: Balai Bahasa Sumatera Utara.
PEMERTAHANAN BAHASA INDONESIA SEBAGAI LINGUA FRANKA DAN BAHASA PEMERSATU DALAM MASYARAKAT
MULTILINGUAL DAN MULTIKULTURAL INDONESIA Iskandar Syahputera
Balai Bahasa Provinsi Aceh
Jalan Panglima Nyak Makam 21, Lampineung, Banda Aceh 23125 Tel.(0651) 7551096 Pos-el: [email protected]
Abstract
This article tries to strengthen and describe the successfull achivements, and the efforts in maintaining Bahasa Indonesia to perform its role and fuction as a lingua franca and a unifying language in Indonesian multilingual and multicultural society. Starting from 1928-2015 Bahasa Indonesia has experienced its success as a lingua franca and a language of unity. Inspite the condition of Indonesian multilingual and multicultural society Bahasa Indonesia has proved its strenght and endurance in managing the multilingual and multicultural society. Absolutely, it is a need design a sustainable efforts in maintaining its status.
Keywords: lingua franca, unifying language, multilingual, multicultural
Abstrak
Artikel ini mencoba mempertegas dan menguraikan kembali capaian – capaian keberhasilan, dan upaya - upaya pemertahanan bahasa Indonesia dalam melakukan peran dan fungsinya sebagai lingua franka dan bahasa pemersatu dalam masyarakat multilingual dan multikultural Indonesia. Mulai dari 1928-2015 bahasa Indonesia telah mengalami keberhasilannya sebagai lingua franka dan bahasa pemersatu. Meskipun menghadapi kondisi masyarakat yang multilingual dan multikultural di Indonesia, bahasa Indonesia telah membuktikan kekuatan dan daya tahannya dalam mengelola masyarakat multilingual dan multikultural. Sungguh ini adalah suatu kebutuhan untuk merancang upaya- upaya yang berkelanjutan dalam mempertahankan statusnya .
Kata kunci : lingua franka , bahasa persatuan , multilingual , multikultural
1. Pendahuluan
Kesuksessan bahasa Indonesia sebagai bahasa penghubung antar suku bangasa (lingua franca) dan bahasa persatuan telah memasuki 87 tahun apabila dihitung sejak diikrarkannya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan pada Sumpah Pemuda tahun 1928 – 2015. Sungguh suatu prestasi yang sangat luar biasa dan harus terus tetap dijaga dan dipertahankan keberlanjutannya.
Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang terbentang dari Sabang hingga Meurauke.
Sehingga Indonesia juga sering disebut sebagai sebuah negara kepulauan. Sebanding dengan jumlah sebaran pulau – pulau yang banyak sudah pasti Indonesia juga memiliki banyak suku yang memiliki banyak bahasa, adat dan budaya. Indonesia sendiri memiliki 746 bahasa daerah (Sugono, 2011). Dengan banyaknya jumlah bahasa dan budaya tersebut menjadikan masyarakat Indonesia sebagai masyarakat multilingual dan multikultural. Hal ini berarti bahwa setiap suku atau kelompok etnik mempunyai tradisi dan kebudayaan
sendiri, termasuk variasi atau ragam bahasanya. Bahasa-bahasa kelompok etnik tersebut juga disebut sebagai bahasa daerah, selain dituturkan dan didukung oleh jumlah kelompok penutur yang sangat variatif, juga memiliki sebaran yang luas.
Penyebaran bahasa daerah tertentu ke wilayah lain di Indonesia tentunya memungkinkan terjadinya persaingan antarbahasa daerah tersebut. Tentu saja hal ini perlu menjadi masalah penting yang memerlukan perhatian dari semua pihak terutama oleh para pengambil kebijakan dalam hal ini adalah pemerintah. Jika hal ini tidak diperhatikan atau menjadi fokus utama maka di khawatirkan akan terjadi gesekan antarbahasa daerah yang akan memicu disintegrasi bangsa. Apalagi dengan banyaknya pulau yang dimiliki oleh Indonesia tentu juga Indonesia memiliki banyak ragam bahasa dan budaya, hal ini tentunya akan berimplikasi terhadap masa depan persatuan dan kesatuan bangsa. Untuk mempersatukan bangsa yang berbeda-beda bahasa dan budaya, salah satunya adalah dengan memperkuat peran dan fugsi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan yang sekaligus berfungsi sebagai bahasa penghubung antar suku bangsa, daerah, budaya yang bebeda (lingua franca).
Namun ini adalah suatu anugerah Tuhan yang Maha Esa yang patut disyukuri oleh segenap bangsa Indonesia. Bahwa perbedaan – perbedaan bahasa, adat dan budaya sudah seharusnya dapat terus ditumbuhkan, dikembangkan, dilestarikan dan dipertahankan sehingga akan dapat memperkaya khasanah bahasa, adat dan budaya yang belum tentu dimiliki oleh bangsa – bangsa lain. Banyak usaha – usaha yang telah dilakukan dalam menumbuhkembangkan dan melestarikan bahasa, adat, dan budaya di daerah baik yang dilakukan oleh pemerintah, pemerhati bahasa, dan budayawan. Seperti yang diutarakan oleh (Fiinnbogadottir, 2008) bahwa “sesungguhnya kita tidak akan mendapatkan masa depan dunia yang lebih baik dan lebih kuat tanpa individu – individu. Akan tetapi individu – individu tersebut tidak akan dapat tumbuh didalam sebuah kekosongan. Mereka akan tumbuh dengan lata belakang budayanya agar supaya menjadi kuat”. Pernyataan ini mengandung makna bahwa pentingnya menjaga kelestarian adat dan budaya yang juga tidak dapat dipisahkan dari peran bahasa.
2. Capaian Keberhasilan
Keberhasilan bahasa Indonesia didalam memainkan fungsi dan perannya tentu saja tidak terlepas dari aspek seperti; kebijakan bahasa, politik bahasa, perencanaan bahasa dan modal bawaan (innate capital).
Segala upaya – upaya tersebut tentu harus dilandasi oleh sebuah perencanaan. Dalam hal ini tentu perencanaan yang dimaksud adalah perencanaan bahasa. Halim (1976) menguraikan ada dua hal utama dalam perencanaan bahasa di Indonesia yaitu; pembinaan dan pengembangan bahasa. Adapun yang dimaksud dengan pembinaan adalah segala usaha atau upaya yang dilakukan untuk meningkatkan mutu pengguna bahasa dengan menjadikan penutur bahasa sebagai sasarannya, sedangkan yang dimaksud dengan pengembangan adalah segala usaha atau upaya yang dilakukan untuk meningkatkan mutu bahasa dengan menjadikan bahasa sebagai sasarannya (Sugono, 2011). Tentu saja aspek kebijakan bahasa nasional sangat menentukan keberhasilan perencanaan bahasa tersebut.
Ada beberapa keberhasilan yang telah dicapai oleh kebijakan bahasa nasional Indonesia seperti yang di ungkapkan oleh (Woolard, 2000; Bukhari,1996:19; Alisjahbana 1962:1 dalam Pauw, 2009) bahwa kebijakan nasional bahasa Indonesia bisa dikatakan telah mencapai suatu sukses yang luar biasa, suatu pencapaian besar, dan bahkan mungkin
menjadi suatu- penomena kebahasaan atau linguistik yang paling spektakuler pada abad ini.
Dari segenap capaian keberhasailan bahasa Indonesia dalam menjalankan fungsi dan perannya ada beberapa yang dapat dilihat seperti berikut ini; (1) Lahirnya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009 Tentang Bendera, Bahasa, Dan Lambang Negara, Serta lagu Kebangsaan, (2) Lahirnya 6 konsep perencanaan bahasa daerah yang dijalankan oleh Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebuayaan yang berupa: (1) penetapan kebijakan bahasa daerah, (2) penelitian bahasa daerah, (3) pengembangan (sandi) bahasa daerah, (4) pembinaan penutur bahasa daerah, (5) publikasi hasil penelitian bahasa daerah, (6) pendokumentasian bahasa daerah (lihat Sugono, 2011), (3) Pengembagan kosa kata dan istilah pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)- oleh Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. (4) Pengembangan dan penyelenggaraan test Uji Kompetensi Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) yang juga dikembangkan oleh Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, (5) Dicapainya kesepakatan antara Kementerian Tenaga Kerja dan Badan Bahasa untuk mengadakan test UKBI bagi para pekerja asing yang ingin bekerja di Indonesia, (6) Pengembangan dan pengajaran BIPA (Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing), (7) Penyuluhan bahasa bagi para guru dan siswa . Dan masih banyak lagi capaian – capaian yang telah atau sedang dilaksanakan yang tidak mungkin dapat disebutkan satu persatu di sini.
3. Usaha – usaha yang dilakukan dalam pemertahanan Bahasa Indonesia sebagai lingua franka dan bahasa pemersatu
Tentu saja untuk mempertahankan prestasi yang peroleh oleh bahasa Indonesi sebagai bahasa penghubung antar etnik atau budaya (lingua franca) dan sebagai bahasa pemersatu tersebut ada usaha – usaha yang mendorong kepada keberhasilan tersebut. Diantara usaha – usaha tersebut adalah program – program atau kegiatan - kegiatan pembinaan dan pengembangan bahasa yang telah dilakukan oleh Badan Pembinaan dan Pengembangan dibawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sebahagian dari kegiatan – kegiatan tersebut telah disebutkan dalam capaian – capaian di atas.
Namun pemerintah melalui Badan Bahasa sudah pasti tidak dapat bekerja sendiri, tentu saja peran serta para budayawan, pemerhati bahasa, pengiat seni dan adat istiadat serta peran serta seluruh masyarakat Indonesialah yang paling menentukan dalam usaha pemertahanan Bahasa Indonesia baik sebagai bahasa penghubung (lingua franca) maupun bahasa pemersatu antar etnik, suku, adat dan budaya dalam masyarakat multilingual dan multikultural Indonesia.
4. Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu
Kata “pemersatu” ini dipilih atas fungsi dan kedudukannya sebagai bahasa pemersatu.
Sejak bahasa Indonesia diikrarkan dalam sumpah pemuda tahun 1928, sebagai bahasa persatuan, bahasa Indonesia langsung menjalankan fungsi dan kedudukannya sebagai bahasa pemersatu yang menyatukan bebagai ragam bahasa, adat dan budaya dari Sabang hingga Meurauke.
Bahaya potensial dari perbedaan etnik dan konflik yang timbul dari begitu besar dan luasnya bangsa adalah suatu hal yang sangat mendasar yang dapat dibawa dalam berbagi rasa kebangsaan, dan bahasa Indonesia merupakan lambang dan alat bagi kesatuan tersebut (Paauw, 2009). Selanjutnya (Alisjahbana 1962:29) dalam (Paauw, 2009) mengatakan bahwa “semakin banyak orang Indonesia belajar untuk mengekspresikan diri mereka