• Tidak ada hasil yang ditemukan

seminar dan lokakarya kebahasaan lembaga adat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "seminar dan lokakarya kebahasaan lembaga adat"

Copied!
107
0
0

Teks penuh

Bentuk-bentuk serapan bahasa tersebut merupakan bukti adanya dinamika perubahan, keterbukaan dan perkembangan bahasa Melayu ke bahasa Indonesia. Perencanaan bahasa Indonesia secara historis berkaitan dengan sejarah diberlakukannya bahasa Melayu sebagai bahasa Indonesia sebagai bentuk kebijakan bahasa. Implementasi keempat, yaitu diangkatnya bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, dijanjikan secara politis dalam sumpah pemuda tanggal 28 Oktober 1928.

Sejarah Badan Bahasa dan Kebijakan Bahasa Nasional

Pelaksanaan ketujuh, kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 segera mengukuhkan kedudukan bahasa Indonesia dengan UUD 1945 yang menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara. Dalam waktu singkat, bahasa Indonesia secara de facto diberi status bahasa resmi yang kemudian diresmikan dalam Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Untuk Keenam Undang-Undang Bahasa Nomor 24 Tahun 2009 yang menempatkan tiga jenis bahasa di Indonesia, yaitu bahasa daerah sebagai bahasa ibu, bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, dan bahasa asing sebagai sumber ilmu pengetahuan.

Politik Bahasa Nasional Pascareformasi: Revitalisasi Bahasa

Dalam kebijakan bahasa nasional, bahasa yang digunakan di Indonesia secara umum dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, bahasa daerah, dan bahasa asing. Bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa negara, bahasa persatuan antaretnis dan bahasa pengantar dalam dunia pendidikan. Bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa resmi dalam urusan resmi kenegaraan, seperti dalam urusan pemerintahan, peradilan, dan administrasi politik.

Peran Bahasa Indonesia Sekarang dan Masa Depan

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, kebutuhan pengembangan kosa kata/istilah BI semakin mendesak, terutama ketika bahasa Indonesia digunakan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). 3 Perkembangan kosakata khususnya kosakata ilmiah mulai dibahas pada Kongres Bahasa Indonesia I tahun 1938 di Surakarta. Keunggulan ini bisa jadi karena kosakata bahasa Inggris delapan kali lebih banyak dibandingkan bahasa Indonesia.

Simpulan

Hal ini terlihat dari banyaknya kosakata bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa daerah dan bahasa asing. Radio Barista di perbatasan Jagoi Babang-Sarawak Malaysia berperan sangat penting dalam menyiarkan penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Oleh karena itu, tanpa disadari Radio Barista mengkampanyekan prioritas penggunaan bahasa Indonesia dan pelestariannya.

Tabel 1: Penyebaran Geografis Bahasa Daerah di beberapa Wilayah Indonesia
Tabel 1: Penyebaran Geografis Bahasa Daerah di beberapa Wilayah Indonesia

Pendahuluan

Sedangkan kebijakan penggunaan bahasa asing meliputi penggunaan bahasa asing sebagai sarana pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan sebagai sumber pengayaan bahasa Indonesia. Hubungan ketiga bahasa tersebut di atas tentunya harus seimbang dan saling mendukung penggunaannya dalam kaitannya dengan perkembangan dan dinamika yang terjadi baik di tingkat lokal maupun internasional. Dengan banyaknya bahasa daerah, Indonesia mempunyai kekayaan kosakata yang sangat memperkaya bahasa Indonesia.

Merujuk pada keputusan kebijakan yang dihasilkan pada Seminar Kebijakan Bahasa tahun 2000, jika berbicara tentang bahasa Indonesia, bahasa daerah berperan sebagai: (a) penunjang bahasa nasional, (b) bahasa pengantar di sekolah dasar di daerah tertentu di tingkat pengantar untuk memfasilitasi pengajaran bahasa Indonesia dan mata pelajaran lainnya, dan (c) sumber kebahasaan untuk memperkaya bahasa Indonesia, dan (d) dalam keadaan tertentu dapat berperan sebagai pelengkap bahasa Indonesia dalam administrasi publik di tingkat daerah ( Alwi dan Dendy Soegono (2000 ) dalam Mahsun (2004)). Sebagai tindak lanjut dari pemenuhan persyaratan tersebut, upaya pelestarian bahasa daerah meliputi upaya pengembangan, pemajuan, revitalisasi, dan pendokumentasian ke arah pelestarian bahasa dengan memasuki tatanan kehidupan baru dalam masyarakat multikultural sebagai bagian dari komunitas internasional yang heterogen. . Upaya pemeliharaan bahasa daerah dengan demikian, selain merupakan tugas dan kewajiban negara, juga merupakan tanggung jawab pemerintah daerah sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat di daerah.

Selain itu, pelestarian bahasa daerah mencakup upaya melindungi bahasa daerah dari kepunahan serta merevitalisasi fungsi dan status bahasa, termasuk aksara dan sastra daerah di daerah yang digunakan oleh masyarakat penuturnya (Sugono 2008:2). Sehubungan dengan situasi global, untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (AEC), Indonesia harus mampu memanfaatkan potensi bahasa daerah tersebut untuk memperkaya bahasa Indonesia, sehingga bahasa Indonesia tidak hanya menjadi bahasa daerah saja, namun akan menjadi bahasa daerah. menjadi bahasa modern dan digunakan sebagai bahasa di tingkat regional ASEAN.

Revitalisasi Bahasa Daerah

Oleh karena itu, diperlukan upaya yang besar untuk merevitalisasi bahasa daerah agar bahasa daerah tidak “tergeser” dalam kebijakan tiga bahasa yang dilaksanakan pemerintah. Upaya yang dilakukan untuk menghidupkan dan meningkatkan mutu bahasa daerah adalah dengan meningkatkan mutu penggunaan dan mutu bahasa daerah itu sendiri. Sedangkan penguatan peran bahasa daerah melalui pemantauan kualitas pengguna bahasa daerah dapat dilakukan melalui pengajaran dan informasi.

Peran Bahasa Daerah dalam Rangka Menjadikan Bahasa Indonesia Menjadi Bahasa Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)

Dengan demikian, pengembangan bahasa daerah dapat memperkuat bahasa Indonesia sehingga mengarah pada hubungan positif yaitu menuju bahasa Indonesia modern. Bahasa daerah tidak hanya menjadi bahasa di tingkat lokal yaitu budaya dan peristiwa daerah, namun bahasa daerah mampu memberikan kontribusi memperkaya bahasa Indonesia di berbagai bidang. Kosakata bahasa Indonesia yang diperkaya dengan kosakata bahasa daerah juga mampu mewakili modernisasi sehingga lambat laun akan menggantikan bahasa-bahasa yang sebelumnya digunakan di kawasan ASEAN.

Penutup

Karya sastera merupakan warisan budaya bangsa yang harus dilestarikan, baik dari sektor ekonomi, lingkungan, politik dan sosial serta budaya. Dari cerita rakyat inilah nilai budaya dapat diketahui, seperti adat resam, kepercayaan dan sistem nilai yang berlaku pada masa lampau. Cerita rakyat yang digolongkan sebagai legenda sebahagiannya berkaitan dengan asal usul nama tempat yang pernah mempunyai kisah sejarah, seperti Gunung Tangkuban Perahu (di Jawa Barat) atau nama seseorang yang berjaya pada masa itu, seperti nama. Raja Mulawarman (di Kutai, Kalimantan Timur).

Hal ini disebabkan oleh kurangnya perhatian masyarakat dan pemerintah terhadap keberadaan sastra di Kutai Kalimantan Timur. Selain itu, merosotnya jumlah sastrawan Kutai juga menjadi penyebab semakin marjinalisasinya karya sastra di wilayah ini. Eksistensi sastra Kutai ditentukan oleh beberapa unsur, yaitu pengarang, penerbit, dan pecinta sastra atau pembaca itu sendiri.

Selain itu, media penerbitan karya pengarang cerita rakyat di Kutaj sangat minim sehingga membuat pengarangnya merasa malas. Berdasarkan uraian di atas, penulis membuat naskah sastra berupa cerita rakyat “Puteri Karang Melenu” (Puteri Junjung Buyah) dari Kerajaan Kutai Kalimantan Timur untuk menghidupkan kembali karya sastra Kutai. Cerita rakyat “Puteri Karang Melenu” merupakan realita kehidupan sosial yang menurut masyarakat Kabupaten Kutai terjadi pada masa Kerajaan Kutai dahulu yaitu pada masa kejayaan Kerajaan Kutai Kartanegara pada tahun 1300 M dan masih dipercaya masih ada. sampai hari ini .

Puteri Karang Melenu” adalah sejarah masa lampau, berbagai upacara adat tahunan dalam rangka memperingati hari jadi Kabupaten Kutai Kartanegara berupa upacara adat Erau; ritual merentangkan atau memandikan naga sebagai simbol lahirnya Putri. Karang Melenu.

PEMBAHASAN

Dalam beberapa bulan, kandang besar tersebut tidak dapat menampung jasad ular tersebut. Saya yakin saya bisa menuruni tangga itu." Kepala suku mendengar bahwa suara itu adalah suara naga. Apa yang akan terjadi?" Istrinya mengangguk, masih memandangi bayi di gong emas itu.

Nilai Budaya Cerita Rakyat “Putri Karang Melenu”

Nilai-nilai budaya yang terkandung dalam cerita rakyat “Puteri Karang Melenu” yang dikenal dengan Puteri Junjung Buyah Kutai mempunyai fungsi sosial budaya yang tidak dapat disangkal. Namun fenomena sosial budaya yang mempengaruhi masyarakat saat itu membuat mereka lebih percaya pada hal-hal gaib dan kekuatan gaib yang terlibat dalam kehidupan dan kepercayaan mereka. Cerita rakyat “Puteri Karang Melenu” hanya dianggap sebagai mitos rakyat saja, yang keberadaannya tidak perlu dipersoalkan, justru patut dilestarikan dan dikembangkan sebagai budaya daerah.

PENUTUP

Faktanya, bahasa-bahasa yang akan datang dapat memperkaya bahasa Indonesia, terutama dalam hal kosa kata. Penggunaan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi yang baik dan benar saat ini memang menjadi suatu hal yang memprihatinkan. Selain itu, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar akan menghasilkan pemikiran yang baik dan benar.

Fakta bahwa bahasa Indonesia sebagai wujud jati diri Indonesia menjadi alat komunikasi dalam masyarakat modern. Bahasa Indonesia merupakan bahasa ketiga yang paling banyak digunakan dalam postingan WordPress. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan juga sebagai bahasa negara wajib digunakan dalam segala kegiatan resmi kenegaraan.

Penerapan Masyarakat Ekonomi ASEAN pada akhir tahun 2015 setidaknya memerlukan kesiapan bahasa Indonesia sebagai pilar budaya. Selain itu, penggunaan bahasa Indonesia pada keluarga muda menyebabkan munculnya penggunaan bahasa Minangkabau yang tidak murni (Martis dkk, 2005:153). Alih kode yang dilakukan oleh keluarga yang cenderung menggunakan bahasa Indonesia biasanya adalah alih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Minangkabau.

Mama bertanya bagaimana situasi belajar bahasa Indonesia dan anak menjawab dalam bahasa Indonesia.

Penutup

Sumatera Utara merupakan rumah bagi setidaknya tujuh suku bangsa, yaitu Melayu, Batak, Karo, Simalungun, Pakpak, Nias, dan Mandailing yang banyak di antaranya bermukim di Medan. Termasuk suku bangsa yang berasal dari luar Indonesia seperti Tionghoa, Arab, dan India (Singapura, Tamil, dan Bengali). Pusat Kajian Sejarah Universitas Negeri Medan (Unimed) memiliki sedikitnya 50 fotokopi surat kabar bekas terbitan sekitar tahun 1918-1919 yang diambil oleh sejarawan Unimed Dr.

Deze oude kranten zijn onder meer: ​​Perempoean Bermobil, Soeara Iboe, Pelita Andalas, Pewarta Deli, Community Guidelines, Tjermin Karo, Asahan Moetiara, Ichtiar, Bintang Karo en anderen.

Karya: Mozasa

  • Capaian Keberhasilan
  • Usaha – usaha yang dilakukan dalam pemertahanan Bahasa Indonesia sebagai lingua franka dan bahasa pemersatu
  • Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu
  • Masyarakat Multilingual dan Multikultural 1 Masyarakat Multilingual
    • Masyarakat Multikultural
  • Simpulan

Hubungan antara bahasa Indonesia dengan bahasa daerah akan menghasilkan pembentukan budaya nasional berdasarkan ciri-ciri budaya daerah. Sebaliknya, hubungan antara bahasa Indonesia dan bahasa asing akan menjadikan budaya kebangsaan agak global. Untuk itu, dari segi pembinaan dan pengembangan bahasa, bahasa daerah dan bahasa asing harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk membentuk sistem dan pengayaan kosakata bahasa Indonesia.

Artinya unsur yang berasal dari bahasa daerah dan bahasa asing harus disesuaikan dengan aturan yang berlaku dalam bahasa Indonesia. Sejak tahun 1928 hingga 2015, bahasa Indonesia menikmati kesuksesan sebagai lingua franca dan bahasa persatuan. Artikel ini berupaya menyoroti dan menjelaskan keberhasilan dan upaya pelestarian bahasa Indonesia dalam memenuhi peran dan fungsinya sebagai lingua franca dan bahasa pemersatu dalam masyarakat Indonesia yang multibahasa dan multikultural.

Keberhasilan bahasa Indonesia sebagai bahasa penghubung antar suku (lingua franca) dan bahasa pemersatu sudah mencapai usia 87 tahun, jika dihitung sejak janji bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu pada Sumpah Pemuda tahun 2018. Upaya menjaga bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu lingua franca dan bahasa pemersatu lingua franca dan bahasa pemersatu. Bahasa penghubung antar suku, suku, adat istiadat dan budaya atau biasa disebut (Lingua franca) telah dimainkan oleh masyarakat Indonesia sejak tahun 1928.

Melihat kembali pembahasan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa keberhasilan yang telah dicapai bahasa Indonesia dalam menjalankan kedudukan dan fungsinya sebagai bahasa nasional serta bahasa pemersatu antar suku, daerah, tradisi dan budaya (lingua franca) harus terus dipertahankan. dan dilestarikan.

Gambar

Tabel 1: Penyebaran Geografis Bahasa Daerah di beberapa Wilayah Indonesia

Referensi

Dokumen terkait

Moreover, as the animal from Labrador to which Coues attached the name arcticus, in 1877, is a synonym of Hesperomys maniculaius Wagner, 1845, thename arcticusdisappearsfrom