BAB III KONSEP HUKUM BATALNYA SUATU
A. Keabsahan Perkawinan Dan Batalnya Perkawinan
Pengertian perkawinan yang tercantum dalam rumusan Pasal 1 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Per- kawinan (selanjutnya disebut UU Perkawinan), merumuskan bahwa “Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha esa”. Melalui suatu perkawinan, suami dan istri dapat saling mendukung serta melengkapi guna pengembangan kepribadiannya serta mencapai kesejahteraan spiritual dan material (A. Rofik, 2000:268).
Pendapat Paul Scholten tentang perkawinan, perkawinan merupakan hubungan hukum antara pria dengan wanita guna hidup bersama dengan kekal dan diakui negara (R.
Soetojo, 1986:13). Selanjutnya istilah perkawinan secara hukum Islam dapat dikatakan sama dengan kata nikah atau zawaj, dimana kata nikah memiliki arti kiasan yaitu wathaa artinya setubuh atau aqad artinya perjanjian pernikahan. Jadi hakikat dari nikah sebagai suatu perjanjian antara calon suami isteri guna menghalalkan pergaulan sebagai suami isteri untuk membina suatu keluarga. Perkawinan dikatagorikan sebagai ibadah yang bersifat umum, pelaksanaannya harus sesuai peraturan perkawinan secara hukum Islam (Abd.
Shomad, 2010:275).
Menurut Isnaeni, suatu perkawinan dianggap sah jika memenuhi unsur administrasi dan agamawi. Jadi unsur agamawi sangat dominan pada perkawinan, sebagi syarat sahnya perkawinan ditentukan unsur agamawi (Moch.
Isnaeni, 2016:75). Senada dengan ketentuan dalam Pasal 2 UU Perkawinan yang menyebutkan bahwa:
(1) Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu.
(2) Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Ada perbedaan mengenai konsep mengenai perkawinan antara UU Perkawinan dengan BW. Menurut ketentuan Pasal 26 BW, bahwa “Undang-undang memandang soal per- kawinan hanya dalam hubungan-hubungan perdata”.
Artinya, perkawinan hanya dikaitkan dalam hubungan keper- dataan saja, dengan demikian BW tidak memandang perkawinan dari sisi agama dan kepercayaan para pihaknya sebagaimana konsep perkawinan dalam pandangan UU Perkawinan.
Dalam pelaksanaan perkawinan guna memenuhi unsur administratif dan agama atau kepercayaannya, maka kedua unsur tersebut digolongkan sebagai syarat formil dan materiil dari suatu perkawinan. Syarat formil sebagai syarat terkait mekanisme pelaksanaan perkawinan sebagai proses pelak- sanaan perkawinan dan syarat materiil terkait keberadaan calon mempelai yang akan melaksanakan perkawinan. Jadi persyaratan tersebut sifatnya akumulatif, oleh karena itu seluruh persyaratan tersebut mutlak harus dipenuhi. Adapun rincian kedua syarat perkawinan tersebut adalah:
a. Syarat formil, yaitu adanya pemberitahuan pada pegawai pencatat perkawinan dan pegawai tersebut melakukan pengumuman serta pencatatan perkawinan, kemudian pelaksanaan prosesi perkawinan (akad nikah) serta penandatanganan akta perkawinan.
b. Syarat materiil, yaitu terkait adanya persetujuan kedua calon mempelai yang telah cukup umur serta tidak terikat suatu perkawinan lain, kecuali ada izin Pengadilan bagi
calon suami, bagi calon mempelai wanita berlaku masa tunggu, kedua calon mempelai tidak mempunyai hubungan darah, keluarga semenda dan hubungan susuan dan tidak melanggar larangan agama serta peraturan perundang-undangan.
Sebagai catatan, bahwa konsep perkawinan menurut UU Perkawinan berbeda dengan konsep perkawinan menurut BW, dimana dalam UU Perkawinan adalah konsep per- kawinannya adalah poligami, sedangkan dalam BW konsep perkawinannya adalah monogami, sesuai Pasal 27 BW yang menyebutkan bahwa “Pada waktu yang sama, seorang lelaki hanya boleh terikat perkawinan dengan satu orang perem- puan saja; dan seorang perempuan hanya dengan satu orang lelaki saja”.
Kedua persyaratan perkawinan yang meliputi syarat formil dan syarat materiil, apabila dalam pelaksanaan per- kawinan telah dipenuhi, maka perkawinannya dianggap sah dan berakibat hukum bagi kedua mempelai, terkait dengan hak dan kewajiban sebagai suami dan istri dan atas anak yang dilahirkan dalam perkawinan, maupun hak atas penguasaan harta bersama. Namun jika perkawinan tersebut tidak sesuai persyaratan, perkawinan bisa dimintakan pembatalan ke Pengadilan, dimana telah diatur pada Pasal 22 UU Per- kawinan yang menyebutkan bahwa “Perkawinan dapat dibatalkan, apabila para pihak tidak memenuhi syarat-syarat untuk melangsungkan perkawinan”.
Terkait pengertian pembatalan perkawinan ini tidak dirumuskan dalam UU Perkawinan, termasuk dalam Per- aturan Pemerintah (PP) Nomor 9 Tahun 1975 (disebut PP 9/1975) dan Kompilasi Hukum Islam (disebut KHI), sehingga tidak ada definisi formalnya. Pengaturan yang terdapat dalam ketiga peraturan tersebut hanya memberi rumusan singkat
kalau suatu perkawinan bisa dibatalkan oleh Pengadilan.
Dalam Pasal 25 UU Perkawinan disebutkan bahwa “Permo- honan pembatalan perkawinan diajukan kepada Pengadilan dalam daerah hukum dimana perkawinan dilangsungkan atau di tempat tinggal kedua suami isteri, suami atau isteri”.
Termasuk dalam Pasal 37 PP 9/1975 menyebutkan bahwa
“Batalnya suatu perkawinan hanya dapat diputuskan oleh Pengadilan”, serta dalam Pasal 74 ayat (1) KHI menyebutkan bahwa “Permohonan pembatalan perkawinan dapat diajukan kepada Pengadilan Agama yang mewilayahi tempat tinggal suami atau isteri atau perkawinan dilangsungkan”.
Pendapat Bakri A. Rahman dan Ahmad Sukardja (1981:36) yang menyatakan bahwa perkawinan yang telah dilakukan bisa dibatalkan jika para pihak tidak memenuhi persyaratan guna melaksanakan suatu perkawinan serta pembatalan perkawinan hanya bisa diputuskan oleh pengadilan. Pendapat senada disampaikan Riduan Syahrani (1986:36) yang berpendapat suatu perkawinan bisa dibatalkan jika perkawinan tersebut dilaksanakan oleh para pihak (suami istri) atau salah satu pihak (suami istri) yang tidak memenuhi persyaratan melaksanakan perkawinan.
Dalam perspektif hukum Islam sebenarnya tidak dikenal konsep pembatalan perkawinan, tetapi dalam beberapa refe- rensi mengenai hukum perkawinan Islam sering terdapat pembahasan atau singgungan mengenai pembatalan per- kawinan yang dinamakan dengan istilah fasakh (Ahmad, 2010:85). Pengertian istilah fasakh ini apabila ditinjau dari sisi etimologis mempunyai arti merusakkan atau membatalkan, sehingga maknanya adalah perkawinan bisa dibatalkan atau dirusak oleh Pengadilan Agama atas permohonan salah satu pihak (Soemiyati, 2004:113). Terkait dengan tuntutan atas pembatalan perkawinan tersebut dapat diajukan berdasarkan
adanya cela pada pihak lainnya yang ditemukan oleh salah satu pihak yang lain atau karena ada pihak yang merasa tertipu terkait sesuatu yang tidak diketahui sebelum berlang- sungnya perkawinan (Kamal, 1974:194). Jadi pada prinsipnya pembatalan suatu perkawinan bisa dilakukan oleh para pihak atau salah satu pihak dengan mekanisme pengajuan ke Peng- adilan, sehingga menjadi kewenangan hakim di Pengadilan untuk dapat memberikan putusan pembatalan perkawinan tersebut.
Sesuai penjelasan diatas kesimpulannya adalah batalnya perkawinan hanya dapat terjadi apabila perkawinan telah dilangsungkan; perkawinan tidak memenuhi persyaratan perkawinan yang telah ditentukan dan pembatalan per- kawinan diputus oleh Pengadilan.