• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

6. Keadaan Guru dan Siswa SMP Negeri 2 Ponorogo

Guru merupakan komponen penting dalam kegiatan belajar mengajar di suatu lembaga pendidikan. Adanya tenaga pendidik para peserta didik bisa membantu dalam kegiatan belajar mengajar dan menciptakan lulusan yang unggul serta berpendidikan dengan baik.

Adapun jumlah guruataupengajar di SMP Negeri 2 Ponorogo ada 56 orang dan 1 kepala sekolah, yang masing-masing mengajar sesuai dengan bidang dan kemampuan masing-masing pendidik dengan mata pelajaran yang berbeda- beda.

Tabel 4.1.

No Nama Rombel

Tingkat Kelas

Jumlah Siswa Tahun Rombel

L P Total

1 KELAS

IX

9 286 2022atau2023 9

2 KELAS VII

7 288 2022atau2023 9

3 KELAS

VIII

287 2022atau2023 9

Tabel 4.2.

Data Peserta Didik di SMPN 2 Ponorogo

No Jabatan Jumlah Jumlah

L P

1 Kepala Sekolah 1 1

2 Guru 21 35 56

3 Tu 11 7 17

4 Operator Sekolah -

Jumlah 76

B. Deskripsi Data Khusus

Seperti yang sudah tercantum dalam rumusan masalah dan tujuan penelitian, maka dalam penyajian data ini peneliti mengklasifikasikan dalam tiga bagian yaitu, proses manajemen pembelajaran al-qur’an di SMPN 2 Ponorogo yaitu perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

1. Perencanaan Program Pembelajaran Al-Qur’an dalam meningkatkan Mutu Lulusan di SMP Negeri 2 Ponorogo

a. Perencanaan Pembelajaran

Membaca, menulis dan menghafalkan Al-Qur’an merupakan upaya dalam mendekatkan qur’an kepada anak. Melalui program pembelajaran btq atau al-qur’an yang diselenggarakan di SMPN 2 Ponorogo. Perencanaan dalam pembelajaran BTQ (Al-Qur’an) di SMPN 2 Ponorogo dengan mengadakan musyawarah di awali dengan tujuan pembelajaran BTQ (Al-Qur’an) dari pernyataan waka kurikulum Ibu Zuhriyatur Rosyida :

Proses perencanaan dalam menggunakan metode ummi di sekolah ini diawali dengan rapat, sebagaimana yang disampaikan oleh Ibu Muslimatin selaku Wakil Kepala Sekolah sebagai berikut :

“Perencanaan menggunakan metode yang digunakan dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an. Dalam menentukan metode

ummi dan materi pembelajaran dalam rapat adapun yang terlibat dalam rapat yaitu tim agama dan tutor dari Jami’atul Quro”.4

Dari pernyataan tersebut dengan adanya pembelajaran btqatauAl- Qur’an diharapkan dapat peserta didik memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, serta mewujudkan visi misi sekolah yang mengarah pada kereligiusan sekolah.

Ibu Muslimatin, M.Pd.I selaku guru PAI di SMPN 2 Ponorogo menyatakan pendapat tujuan pembelajaran btq atau al-qur’an ;

“Agar peserta didik bisa meningkatkan kemampuan membaca Al- Qur’an dengan baik dan benar”.5

Ustadzah Siti Maemunah menambahkan:

“Tujuan pembelajaran Al-Qur’an di sekolah ini sebagai wadah untuk siswa SMPN 2 Ponorogo untuk belajar dan memperbaiki bacaan menjadi lebih baik dan benar. Adapun tujuan dari sekolah untuk menyelenggarakan surat perintah untuk mengadakan program pembelajaran keagamaan”.6

Setelah penentuan tujuan pembelajaran, sebagaimana mestinya dalam sebuah pembelajaran membutuhkan persiapan pembelajaran yang baik, oleh karena itu diperlukan adanya perencanaan sebelum memulai program pembelajaran btqatauAl-Qur’an. Pada peserta didik sebelum melaksanakan program pembelajaran btqatauAl-Qur’an, seluruh peserta didik terlebih dahulu melakukan seleksi yang kemudian

4 Lihat Transkrip Wawancara Nomor : 02/W/13-03-2023

5 Lihat Transkrip Wawancara Nomor : 01/W/23-03-2023

6 Lihat Transkrip Wawancara Nomor : 04/W/10-06-2023

dibagi sesuai dengan tingkat baca anak. Seperti yang dijelaskan Ibu Muslimatin, bahwa :

“Dalam rencana program kerja dilakukan seleksi awal yang diperlukan untuk mengetahui kompetensi peserta didik yang akan mengikuti kegiatan ekstrakulikuler tahfidzn Al-Qur’an dan qiro’atul qur’an dengan materi awal adalah membaca al-qur’an sesuai dengan kaidah tajwid dan makhorijul huruf”7

1) Metode Pembelajaran

Pernyataan terkait metode pembelajaran yang disampaikan Ibu Muslimatin M.Pd.I :

“Pada SMPN 2 Ponorogo menggunakan metode ummi, alasan menggunakan metode ini karena lebih mudah dipahami selain itu metode ini juga lebih praktis untuk pembelajaran membaca Al- Qur’an secara baik dan benar. Selain itu metode ini lebih efektif dan menyenangkan karena metode ini menggunakan 2 cara yaitu direct method dan repetition, yang dimaksud direct metod yaitu secara langsung maksudnya anak langsung diajari tentang membaca al-qur’an tanpa diberi teori. Sedangkan, repetition yaitu methode yang dilakukan dengan cara mengulang-ulang dalam mengajarakan sehingga anak semakin lancar membaca”.8

Khusnul Khotimah menyampaikan :

“Untuk metode sendiri dari pihak SMPN 2 Ponorogo membebaskan pembimbingataututor menggunakan metode apapun seperti metode ummi, waffa, tartila, usmani, jet tempur. Saya sendiri menggunakan metode yang pernah dipelajari yang penting bisa membaca Al-Qur’an”9

7 Lihat Transkrip Wawancara Nomor : 01/W/23-03-2023

8 Lihat Transkrip Wawancara Nomor : 02/W/10-03-2023

9 Lihat Transkrip Wawancara Nomor : 02/W/10-03-2023

Siti Maemunah menambahkan :

“Saya menggunakan metode Tartila, saya menggunakan metode tartila karena tartila merupakan produ asli Jami’atul Quro dan kebetulan saya dipercayai sebagai distributor di ponorogo”10 Berdasarkan wawancara mengenai metode baca Al-Qur’an di SMPN 2 Ponorogo, metode yang digunakan masing-masing pembimbing berbeda-beda karena dari pihak sekolah membebaskan pembimbing dalam memilih atau menggunakan metode apa, karena bagi pihak sekolah yang terpenting bisa mengajarkan dan anak bisa membaca Al-Qur’an.

Dalam penelitian mengenai sistem pembelajaran atau materi pembelajaran BtqatauAl-Qur’an, berikut penjelasan dari Ibu Muslimatin M.Pd.I:

“Dalam proses penyususnan materi dari tim agama dan pembinaataututor BTQ dengan memusyawarahan secara bersama.Untuk materi pembelajaran disesuaikan dengan kemampuan anak atau tingkatakan kemampuan baca peserta didik, dan tentunya materi mengenai tajwid yang sangat penting guna membaca al-qur’an dengan baik dan benar”11

Ibu Siti Maemunah menambahkan :

“ Alhamdulillah untuk penentuan materi pembelajarannya, pihak sekolah yaitu dari tim agama memusyawarhkan dengan pembina atau tutor BTQ dalam rapat”12

2) Penilaian Pembelajaran Al-Qur’an

10 Lihat Transkrip Wawancara Nomor : 03/W/10-06-2023

11 Lihat Transkrip Wawancara Nomor : 01/W/23-03-2023

12 Lihat Transkrip Wawancara Nomor : 04/W/10-06-2023

Cara dalam penilaian pembelajaran al-Qur’an dari yang disampaikan Ibu Zuhriyatur Rosyida :

“Penailan pembelajaran btq atau al-qur’an sendiri dengan melihat dari kelancaran bacaan dari peserta didik dan menilai dari kesesuaian hukum tajwidnya” 13

Ibu Muslimatin menyampaikan :

“Untuk penilaian dengan tes per siswa atau berbasis kelas ya mbak, jadi mengetes siswa di akhir jam pembelajaran dengan menunjuk atau memanggil siswa kedepan dan saya suruh bacaataumenghafal apa yang dipelajari hari itu”14

Dari sini dapat kita ketahui bahwa perencanaan pembelajaran Al- Qur’an diawali dengan rapat koordinasi dari pihak sekolah (tim agama) dan Jami’atul Quro’ guna untuk mengetahui teknis pembelajaran dan pengarahan. Selain itu rapat pada perencanaan awal pembelajaran Al- Qur’an adalah menentukan waktu kegiatan dan pembimbing.

2. Pelaksanaan Program Pembelajaran Al-Qur’an Dalam Meningkatkan Mutu Lulusan di SMPN 2 Ponorogo

Pelaksanaan merupakan tahapan setelah perencanaan, yang mana menjadi bagian tindakan dari mewujudkan rencana yang telah disusun dan dilaksanakan. Proses pelaksanaan pemebelajaran BTQ atau Al-Qur’an di SMPN 2 Ponorogo seperti yang dinyatakan oleh Ibu Zuhriyatur Rosyida :

13 Lihat Transkrip Wawancara Nomor: 02/W/13-03-2023

14 Lihat Transkrip Wawancara Nomor: 01/W/02/23-03-2023

“Dalam pelaksanaan pembelajaran Al-Qur’an tidak lepas dari perencanaan yang kami buat yaitu untuk meningkatkan mutu bacaan Al-Qur‘an siswa dan kedepannya sebagai program unggulan sekolah. Dalam pelaksanaannya Alhamdulillah berjalan dengan baik meskipun ada beberapa yang belum terlaksana atau masih belum tertib. Disisi lain pelaksanaan ada pengawasan untuk berjalannya kegiatan pembelajaran ini. Ada guru piket yang bertugas mengawasi kedisiplinan siswa dan guru pengampu”.15

Ibu Muslimatin M.Pd.I selaku tim agama serta guru pengampu pembelajaran Al-Qur’an juga menambahkan terkait dengan waktu pelaksanaan pembelajaran Al-Qur’an:

“Pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan pada hari jum’at setelah sholat jumat atau dzuhur pada pukul 13.00-14.30 sedangkan untuk kelas 7 dimulai pada pukul 14.30-16.00.

pelakksanaan proses pembelajaran sendiri dilaksanakan diruang kelas sesuai dengan yang sudah dikelompokkan dan sudah berjalan sesuai dengan yang sudah direncakan”.16

Ibu Zuhriyatur Rosyida menjelaskan juga terkait ketertiban ketika pelaksanaan pembelajaran Al-Qur’an :

“Untuk ketertiban didalam kelas seperti siswa memperhatikan atau tidak, bagaimana cara guru menyampaikan materi itu sudah menjadi tanggung jawab guru pengampu sepenuhnya, dari kami memberi motivasi dan memantau perkembangan siswa dan kehadiran siswa yang mana akan tetap kami perhatikan. Adapun media pembelajarannya kami mengikuti guru pengampu, apa saja yang dibutuhkan guru pengampu kami usahakan ada”.17

15 Lihat Transkrip Wawancara Nomor: 02/W/13-03-2023

16 Lihat Transkrip Wawancara Nomor : 01/W/23-03-2023

17 Lihat Transkrip Wawancara Nomor: 02/W/13-03-2023

Ustadzah Khusnul Khotimah selaku tutor atau pembimbing pembelajaran Al-Qur’an juga menambahkan bahwa:

“Ketertiban masuk anak-anak kelas 7 masih semangat walaupun terkadang juga tidak bersemangat, terutama kelas 8 dan 9 masih sangat kurang, hanya ada beberapa anak yang masuk tepat waktu selebihnya kadang terlambat kadang pula tidak hadir.

Untuk kondisi ketika pelajaran berlangsung mereka sangat antusias hanya saja kedisiplinan mereka masih kurang”18

Tidak hanya kedisiplinan saja tetapi Ibu Muslimatin M.Pd.I juga menambahkan terkakait pembagian kelompok BTQ atau Pembelajaran Al-Quran di SMPN 2 Ponorogo sebagai berikut:

“Untuk pembagaian kelompok pembelajaran Al-Quran ini sendiri sebanarnya disesuaikan dengan kemampuan siswa itu sendiri seperti kelas A itu untuk siswa siswi yang sudah mengenal dan juga sudah mampu membaca maupun menulis kalimat arab, kelas B-C itu untuk siswa siswi yang cukup mengetahui apa itu Baca Tulis Al-Quran, dan untuk kelas D ini sendiri ialah sekelompok siswa siswi yang membutuhan bimbingan khusus dari pembimbing BTQ atau pengajar Al- Quran”.19

Pernyataan hasil wawancara sesuai dengan hasil observasi bahwa peserta didik mengikuti proses pembelajaran BTQ atau Al- Qur’an di ruang kelas yang sudah di tentukan sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik dengan pembimbing atau guru pai, dalam proses pembelajaran peserta didik menjalankan pembelajaran dengan

18 Lihat Transkrip Wawancara Nomor: 03/W/10-06-2023

19 Lihat Transkrip Wawancara Nomor : 01/W/23-03-2023

sibuk membaca, menulis, menghafalkan dan setelah hafal mereka menyetorkan pada pembimbing di kelas.

3. Evaluasi Program Pembelajaran Al-Qur’an Dalam Meningkatkan Mutu Lulusan di SMPN 2 Ponorogo

Setelah pelaksanaan pembelajaran Al-Qur’an dengan metode ummi, pihak sekolah dan pembimbing atau tutor perlu melakukan evaluasi pembelajaran, evaluasi ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana ketercapaian pembelajaran Al-Qur’an juga sebagai bahan perbaikan. siswa dalam Terkait evaluasi dalam pembelajaran btqataual- qur’an di SMPN 2 Ponorogo, Ibu Zuhriyatur Rosyida menyatakan bahwa :

“Untuk proses evaluasi hanya dilihat dari seberapa lancar baca peserta didik dan sudah sejauh mana mereka memehami jilid atau al-qur’an, selain itu juga melihat kehadiran siswa dalam proses pembelajaran.”.20

Khusnul Khotimah menyampaikan:

“Evaluasi tidak serupa dengan pelajaran-pelajaran lainnya karena ini kan program khusus jadi untuk evaluasinya dari saya itu langsung. Jadi, anak selesai menghafalataumembaca kemudian di nilai dan tidak ada evaluasi lanjutan”21

Ibu Siti Maemunah juga menambahkan:

“Evaluasi hanya dikelas, tetapi pada kali ini direncanakan tiap akhir semester akan ada evaluasi keseluruhan” 22

20 Lihat Transkrip Wawancara Nomor : 02/W/13-03-2023

21 Lihat Transkrip Wawancara Nomor : 03/W/10-06-2023

22 Lihat Transkrip Wawancara Nomor : 04/W/10-06-2023

Dari hasil wawancara tersebut dapat diketahui bahwa evaluasi pembelajaran Al-Qur’an di SMPN 2 Ponorogo dilakukan dengan tes pelajaran yang dilakukan setiap saat atau setiap pertemuan di dalam kelas secara langsung.

C. Analisis Data

1. Analisis Data Perencanaan Program Pembelajaran Al-Qur’an dalam meningatkan Mutu Lulusan di SMPN 2 Ponorogo

Perencanaan pembelajaran bertujuan guna meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam mencapai tujuan pembelajaran. Dalam rencana tersebut jelas kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan oleh guru dan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran, berhubung dengan hal ini, menurut Ragan & Smith (1992), perencanaan pembelajaran berkaitan dengan proses sistematik dalam menterjemahkan prinsip-prinsip pembelajaran dan pembelajaran kedalam suatu perencanaan.23 Perencanaan menurut Davis menjelaskan bahwa perencanaan pengajaran adalah pekerjaan yang dilakukan oleh seorang guru untuk merumuskan tujuan mengajar.24

Perencanaan dalam pembelajaran Al-Qur’an merupakan suatu persiapan dari sebelum dilaksanakannya proses kegiatan belajar mengajar al-qur’an.

Tahapan awal dengan menyeleksi peserta didik, seleksi awal ini diperlukan untuk mengetahui kompetensi peserta didik yang mengikuti kegiatan instrakulikuler tahfidz al-qur’an dan qiro’atul qur’an dengan materi awal yaitu

23 Farida Jaya, Perencanaan Pembelajaran, (Medan, UIN SUMATRA UTARA, 2019), 8.

24 Cahyo Budi U, Manajemen Pembelajaran, ( Semarang: UNNES PRESS, 2018), 93

kemampuan membaca al-qur’an dengan sesuai kaidah tajwid dan mahrijul huruf.

Proses perencanaan pembelajaran Al-Qur’an di SMPN 2 Ponorogo dilakukan melalui 4 tahap :

a. Penentuan tujuan belajar, tujuan pembelajaran atau sasaran belajar merupakan rumusanataupernyataan spesifik dan konkrit tentang apa yang ingin dicapai oleh peserta didik setelah mengiuti kegiatan pembelajaran tertentu.

Berkaitan dengan teori diatas, unsur pertama yang harus ada dalam perencanaan pembelajaran tersebut yaitu tujuan. Dimana perencanaan pembelajaran tersebut SMPN 2 Ponorogo terbukti sudah memenuhi dalam perencanaan program pembelajaran BTQ dalam meningkatkan mutu lulusannya seperti yang telah dipaparkan pada desrikripsi data penelitian bahwa tujuan dari pembelajaran Al-Qur’an di SMPN 2 dari informan yang didapat adalah agar peserta didik diharapkan dapat mengetahui serta memahami cara membaca dan mengahafalkan Al-Qur’an dengan baik dan benar dan bisa menulis atau menggambungkan tulisan arab. Hal ini sesuai dengan prinsip dasar dalam merancang rencana pembelajaran menurut Smith & Regan (1992) pembelajaran yang baik adalah yang efisien, efesien yang dimaksud adalah mempergunakan watu secepat mungkin untuk mencapai tujuan.

b. Metode Pembelajaran

Selanjutnya, demi tercapainya tujuan diatas guru menyepakati untuk menggunakan metode dirasa cocok untuk peserta didik yaitu Metode Ummi. Metode ummi merupakan sebuah metode yang di gunakan dalam pembelajaran membaca al-qur’an. Metode ini di ciptakan pada tahun 2007 yang di dirikan oleh KPI (Kwalita Pendidikan Indonesia) yang di pelopori oleh A.Yusuf, , Muzammil MS, Nurul H, Samidi dan Masruri yang dilatar belakangi oleh kesadaran dan kebutuhan masyrakat untuk belajar membaca Al-qur’an semakin meningkat, karena program dan metode pengajaran al- qur’an yang fastabiq al-khairat dalam pendidikan islam dan adanya metode ummi di ilhami dari metode-metode pengajaran membaca al-qur’an yang sudah tersebar dimasyarakat, khususnya dari metode yang telah sukses mengantarkan banyak anak bisa membaca al-qur’an dengan tartil.

Pendekatan yang digunakan dalam al-qur’an metode ummi .25 c. Penilaian Pembelajaran Al-Qur’an

Penilaian pembelajaran Al-Qur’an di SMPN 2 Ponorogo dengan cara melalui kebenaran cara baca dan tajwid para peserta didik sudah sesuai dengan makhorijul huruf atau belum. Jika sudah mahir dan bacaan sesuai dengan makhorijul hurufnya maka peserta didik akan naik ke tingkatan selanjutnya.

1) Pengorganisasian pembelajaran

25 Anwar Khudori, Moch Yasyakur. “Penerapan Metode UMMI dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Alquran pada sisiwa di SDIT Kaifa Bogor”, Jurnal Pendidikan, 100.

Dalam pengorganisasian pembelajaran, para pembimbing Al- Qur’an SMPN 2 Ponorogo telah menerapkan jadwal belajar yang sesuai dengan kondisi peserta didik. selain itu, alokasi waktu dan keefktifan pembelajaran yang diterapkan juga berlangsung sesuai dengan yang sudah dijadwalkan.

Selama jam pembelajaran dilaksanakan, pembimbing Al-Qur’an juga mampu mengkondisikan peserta didik dengan baik, suasana pembelajaran berlangsung kondusif dan menyenangkan, di lihat dari hasil observasi dimana peserta didik memiliki antusias untuk mengikuti jam pembelajaran.

2. Analisis Data Pelaksanaan Pembelajaran Al-Qur’an dalam meningkatkan Mutu Lulusan di SMPN 2 Ponorogo

Menurut Daryanto pelaksanaan pembelajaran merupakan proses interaksi antara peserta latihan dan pengajar yang menggunakan segala sumber daya sesuai dengan perencanaan yang telah dipersiapkan sebelumnya dalam rangka mencapai tujuan.26

Selain itu pelaksanaan harus berjalan sesuai dengan implementasi rencana pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup :

26 M. Andi Setiawan, Belajar dan Pembelajaran, (Ponorogo, Uwais Inspirasi Indonesia: 2017), 129.

Pertama, kegiatan pendahuluan. Dalam tahap ini guru melakukan mempersiapkan peserta didik dengan di awali do’a bersama dan mengecek kehadiran peserta didik sebelum memulai kegiatan pembelajaran. Dilanjutkan, melakukan pengajuan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan materi sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari.

Kedua, kegiatan inti. Dalam tahapan ini pendidik melaksanaan serangkaian kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan yang direncanakan.

Ketiga, tahap penutup. Dalam tahap ini pendidik memberikan kesimpulan atau hasil pembelajaran baik sendiri maupun dengan peserta didik dan melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan.

Dalam pelaksanaannya, program pembelajaran BTQ di SMPN 2 Ponorogo berdasarkan pemaparan data dan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti, pembimbing BTQ telah melakukan serangkaian tahap pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan perencanaan yang di dalamnya terdapat serangkaian proses dimulai dari kegiatan pendahuluan pelaksaan pembelajaran dimulai pembimbing selalu mengawali dengan do’a, kemudian mengkonfirmasi kehadiran peserta didik, dan di lanjutkan dengan kegiatan inti menyampaikan materi dan menutup pelajaran. Peleksanaan pembelajaran yang sesuai dengan tahapan yang telah direncanakan, pembelajaran akan berjalan dengan baik sesuai dengan rangkaian tahapan yang telah direncanakan guna mencapai tujuan.

Berdasarkan dari observasi dalam pelaksanaan pembelajaran menerapkan sistem pengelolaan kelas dengan baik dan guru dan pembimbing atau tutor telah melaksanakan serangkaian tahap pelaksanaan pembelajaran tersebut (membuka pembelajaran, menyampaikan materi dan menutup pembelajaran). Dengan adanya pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan rangkaian tahapannya, pembelajaran akan berjalan secara baik tentunya terarah. Namun, terkadang masih ada siswa siswi yang kurang disiplin mengikuti kegiatan pembelajaran.

3. Analisis Data Evaluasi Program Pembelajaran Al-Qur’an dalam meningkatkan Mutu Lulusan di SMPN 2 Ponorogo

Evaluasi merupakan suatu proses pembelajaran yang dilakukan untuk menentukan kualitas pembelajaran secara keseluruhan, mencakup tahap perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan penilaian hasil pembelajaran.27

Evaluasi mencakup evaluasi hasil belajar dan pembelajaran. Evaluasi hasil belajar menekankan pada apa yang diperolehnya informasi tentang seberapakah siswa dalam mencapai tujuan pengajaran yang ditetapkan. Sedangkan evaluasi pembelajaran merupakan proses sistematis untuk memperoleh informasi tentang keefektifan proses pembelajaran dalam membantu siswa mencapai tujuan pengajaran secara maksimal.

27 Cahyo Budi, Manajemen Pembelajaran, (Semarang, Unnes Press, 2018), 109.

Evaluasi pembelajaran al-qur’an belum dilakukan secara formal melalui tes tertulis, akan tetapi evaluasi pembelajaran dilakukan secara langsung didalam kelas oleh pembimbing al-qur’an maupun bapak ibu guru.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan peneliti, di SMPN 2 Ponorogo pada tahap evaluasi pembelajaran dilakukan untuk mengetahui sejauh mana tingkat kemampuan baca siswa. Adapun tes evaluasi yang dilakukan dalam bentuk tes pelajaran setiap pertemuan saat berlangsungnya pembelajaran, evaluasi ini bertujuan untu mengukur pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan saat itu. Evaluasi dilaksanakan secara harian diakhir pembelajaran dan juga diakhir penyampaian materi.

Jadi, mengenai evaluasi pembelajaran Al-Qur’an di SMPN 2 Ponorogo, evaluasi dilakukan secara langsung setelah peserta didik selesai menyetorkan 3 sampai 5 ayat dalam sekali pertemuan dengan bentuk hafalan surah jus 30.

Selain itu terkait dengan materi pembelajaran seperti tajwid dan tilawatil qur’an, evaluasi dilakukan saat peserta didik selesai membaca ataupun menyetorkan hafalan secara langsung dan juga dilakukan dengan pengulangan materi pada saat penutupan pembelajaran.

Evaluasi pembelajaran Al-Qur’an dalam meningkatkan mutu lulusan di SMPN 2 Ponorogo, merupakan langkah penting dalam pengelolaan pembelajaran Al-Qur’’an. Secara umum, tujuan evaluasi adalah untuk menentukan tingkat pengaplikasian dan pencapaian tujuan yang ditetapkan untuk program tersebut. Terdapat 2 (dua) jenis evaluasi program pembelajaran

Al-Qur’an, evaluasi tes dan evaluasi kelas. Evaluasi tes merupakan kegiatan evaluasi yang dilakukan dengan menganalisis hasil evaluasi tingkat kelancaran baca siswa. Evaluasi tes dilakukan oleh guru atau pembimbing masing-masing kelas terhadap siswa yang telah menyelesaikan pelajarannya dengan ketentuan kelancaran baca dan benar sesuai dengan hukum bacaannya. Evaluasi kelas merupakan kegiatan evaluasi yang dilakukan dengan menganalisis hasil evaluasi selama proses pembelajaran berlangsung untuk mengetahui hasil keseluruhan berjalannya program pembelajaran dalam satu kelas.

Berdasaran hasil observasi yang dilakukan oleh penulis dengan proses tersebut dapat dikatakan bahwa dalam kegiatan pembelajaran Al-Qur’an tersebut melaksanaan evaluasi dengan bentuk tes lisan baik dari segi bacaan yang baik dan benar. Antusiasme peserta didik cukup baik, meskipun terkadang tidak kondusif sedikit karena ramai sendiri-sendiri pada saat mempersipkan diri untuk membaca atau menghafal. Hal ini menjadi salah satu faktor pendukung kegiatan pembelajaran ini, serta dapat memudahkan dalam pelaksanaan pembelajaran al-qur’an.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di SMPN 2 Ponorogo tentang

“Manajemen Program Pembelajaran Al-Qur’an Dalam Meningkatkan Mutu Lulusan di SMPN 2 Ponorogo”, dapatkan disimpulkan bahwa :

1. Perencanaan program pembelajaran Al-Qur’an dalam meningkatkkan mutu lulusan di SMPN 2 Ponorogo yakni diawali dengan rapat untuk menentukan tujuan yang ingin dicapai dengan melibatkan pihak sekolah yaitu dari tim agama dan dari pihak pembimbing dari Jami’atul Quro’, strategi pembelajaran yaitu metode yang digunakan dalam pembelajaran al-Qur’an, pembimbing atau tutor serta media yang digunakan. Perencanakan program pembelajaran al-quran ini juga memiliki tujuan yang lain yaitu dengan target para siswa sisiwi yang mengikuti program pembelajaran al-qur’an diharapkan bisa membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, lancar serta hafal juz 30. Dengan bantuan pembimbing atau tutor yang ahli dalam bidangnya, dengan adanya waktu, tempat, serta metode yang sesuai dengan kondisi peserta didik.

2. Pelaksanaan program pembelajaran Al-Qur’an dalam meningkatkan mutu lulusan SMPN 2 Ponorogo yang didalam kelas meliputi kegiatan membuka pembelajaran (kegiatan pembuka), kegiatan inti / penyampaian materi, dan terakhir kegiatan penutup. Kegiatan pembelajaran Al-Qur’an di SMPN 2 Ponorogo dilaksanakan didalam kelas sesuai dengan tingkatan kemampuan peserta didik dengan ketiga tahapan pelaksanaan pembelajaran di mulai dengan berdoa, pengecekan kehadiran peserta didik, penyamapaian materi dan setoran membaca Al-Qur’an peserta didik.

Dokumen terkait