58
BAB 3 KEBERHASILAN MITIGASI PENDANAAN TERORISME
59
b. BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN TERORISME (BNPT)
NO Keberhasilan Mitigasi
1 Telah melaksanakan koordinasi antar kementerian dan lembaga terkait dalam menyusun identifikasi media sosial yang berpotensi disalahgunakan untuk TPPT (2018)
2
BNPT telah menetapkan kriteria situs radikal dalam rangka kontra propaganda dan kontra radikalisme melalui Peraturan Kepala BNPT No 34 Tahun 2014 tentang Pedoman Pengawasan Propaganda Ideologi Radikal terorisme beberapa kriterianya:
menyebarkan hasutan, fitnah, anti NKRI, pemaknaan jihad terbatas, takfiri, ajakan kekerasan.
3
Telah disusunnya beberapa peraturan dan ketentuan diantaranya:
• SKEP Kepala BNPT No: Kep-35/K.BNPT/02/2017 Tentang Pembentukan Tim Penanggulangan Pendanaan Terorisme (Counter Terrorist Financing / CTF) T.A 2017;
• SKEP Kepala BNPT No: 46 Tahun 2018 Tentang Pembentukan Tim Penanggulangan Pendanaan Terorisme (Counter Terrorist Financing / CTF) T.A 2018;
• SKEP Kepala BNPT No: 21 Tahun 2019 Tentang Pembentukan Tim Penanggulangan Pendanaan Terorisme (Counter Terrorist Financing / CTF) T.A 2019;
4
Capaian Yang Telah diperoleh:
A. Rekomendasi DTTOT
• Pada tahun 2017 telah merekomendasikan 33 individu dan 6 entitas ke dalam DTTOT
• Pada tahun 2018 telah merekomendasi 14 individu dan 3 entitas ke dalam DTTOT;
• Pada tahun 2019 telah merekomendasikan 1 individu dan 1 entitas ke dalam DTTOT
b. Hasil Kerja Tim CTF
• Tahun 2018 terdapat 9 kasus yang telah ditangani dan 8 diantaranya diinisiasikan kepada penyidik;
• Tim CTF: Tahun 2017 terdapat 11 kasus yang telah ditangani dan 8 di antaranya diinisiasikan kepada penyidik;
c. Penanganan Media Sosial
• Pada tahun 2018 telah melakukan identifikasi media sosial yang berpotensi disalahgunakan untuk TPPT sebagai wujud pemenuhan STRANAS.
60
NO Keberhasilan Mitigasi
d. Deradikalisasi dan Kontra Radikalisasi
• Telah mendirikan dan mensosialisasikan website damailahIndonesiaku.com sebagai upaya kontra radikalisasi teroris
• Telah melakukan deradikalisasi para mantan teroris diluar lapas termasuk keluarga para teroris
c. BADAN INTELIJEN NEGARA (BIN)
No Keberhasilan Mitigasi
1
Telah dilakukan penyelidikan terhadap kelompok radikal teror (kelompok pendukung ISIS dan Al Qaeda) melalui human intelligence dan signal intelligence yang berkoordinasi dan joint operation dengan Densus 88 AT Polri (penegakan hukum) serta Imigrasi dan Bea Cukai (perlintasan) juga dilakukan untuk pendalaman sasaran terkait keberangkatan para pejuan teroris asing (foreign terrorist fighters/FTF).
2
Saat ini BIN sudah memiliki subdit deradikalisasi dan kontra radikalisasi, yang tupoksinya melakukan kegiatan deradikalisasi dan kontra radikalisasi, koordinasi, dan kerja sama dengan K/L untuk penanganan FTF, napiter dan eks napiter, Dll.
Deradikalisasi diberikan kepada pihak yang menjadi napi yang sudah terpapar radikal.
Kontra radikalisasi: dilakukan di lingkungan masyarakat yang terkena radikal berupa pembinaan dan kesetiaan NKRI. Semua kelembagaan secara bersama-sama telah sinergisitas dalam penanggulangan terorisme melalui program deradikalisasi dan kontra deradikalisasi antara BNPT dan Densus 88.
3
Terkait dengan media sosial, monitoring dan pendalaman juga telah dilakukan melalui satuan tugas khusus yang melakukan operasi pendalaman terhadap sel/ kelompok radikal teror yang berbasis media sosial. Berangkat dari informasi intelijen (hasil operasi) berbasis media sosial ini sudah dilakukan juga beberapa penindakan terhadap sel/ kelompok radikal teror yang merencanakan aksi teror.
4
Telah melakukan operasi intelijen (penggembosan) untuk meminimalisir pergerakan dan perkembangan NPO tidak terdaftar yang diduga melakukan pendanaan terorisme dan melakukan melakukan penyelidikan (pengawasan) yang berkoordinasi dengan Densus 88 AT Polri (penegak hukum). Penggembosan yang dimaksud yaitu upaya untuk membuat NPO tidak terdaftar agar tidak berkembang dalam jaringan operasional teroris.
61 2. APARAT PENEGAK HUKUM
a. DENSUS 88 AT POLRI
No Keberhasilan Mitigasi
1 Telah berhasil mendorong dilakukannya perubahan undang-undang terorisme nomor 15 tahun 2003 menjadi undang-undang nomor 5 tahun 2018.
2
Telah melakukan pengembangan satuan penugasan wilayah dari 16 wilayah satgas wil menjadi 34 satgas wil yang berpusat di Mabes Polri, berikut juga penambahan personil Satgas teror Densus 88 AT Polri.
3
Untuk menghadapi perkembangan terkini modus dan tipologi pendanaan terorisme Densus 88 AT Polri telah dan terus melakukan peningkatan kapasitas penyidik dalam berbagai pelatihan nasional dan internasional.
4
Capaian Yang Telah Diperoleh:
a. Keberhasilan penanganan perkara khusus pendanaan terorisme
• Tahun 2015: 18 kasus penyidikan pendanaan terorisme
• Tahun 2016: 11 kasus penyidikan pendanaan terorisme
• Tahun 2017: 12 kasus penyidikan pendanaan terorisme
• Tahun 2018: 6 kasus penyidikan pendanaan terorisme
Terhadap kasus yang ditangani ini semuanya telah dilimpahkan berkas penyidikannya ke Kejaksaan Agung RI
b. Pengembangan Penyidikan Kasus Terorisme atas Pemanfaatan Laporan Intelijent PPATK
• Pengukapan kasus Hendro Fernando
Terdapat aliran dana dari jaringan terorisme di Indonesia ke jaringan teror di Marawi yang mana dalam penanganan perkaranya tersebut Densus 88 AT Polri telah melakukan upaya penegakan hukum berdasarkan laporan hasil analisis PPATK.
62
b. DIREKTORAT TINDAK PIDANA TERORISME DAN TINDAK PIDANA LINTAS NEGERA KEJAKSAAN AGUNG RI
No Keberhasilan Mitigasi
1
Telah mengembangkan unit satuan khusus terorisme menjadi Direktorat Tindak Pidana Terorisme dan Tindak Pidana Lintas Negara yang memiliki tugas dan fungsi dengan dibentuknya direktorat semakin memperkuat kelembagaan.
2
• Pada tahun 2015 perkara terorisme yang telah ditangani 53 perkara, 9 diantaranya perkara pendanaan terorisme.
• Pada tahun 2016 perkara terorisme yang telah ditangani 104 perkara, 10 diantaranya perkara pendanaan terorisme.
• Pada tahun 2017 perkara terorisme yang telah ditangani 158 perkara, 26 diantaranya perkara pendanaan terorisme.
• pada tahun 2018 perkara terorisme yang telah ditangani 357 perkara, 4 diantaranya perkara pendanaan terorisme.
3
Saat ini Polri telah mengusulkan rancangan regulasi mengenai perlindungan terhadap penyidik, penuntut umum, hakim dan petugas pemasyarakatan bagi penanganan perkara terorisme.
4
Telah dilakukan peningkatan kapasitas penuntut umum dalam berbagai pelatihan bersama dengan para penegak hukum dan PPATK baik di dalam maupun di luar negeri serta meningkatkan kordinasi dan gelar perkara pendanaan teror.
5
Telah dilakukan peningkatan sinergisitas antara Densus 88 Anti Teror dan Direktorat Tindak Pidana Terorisme dan Tindak Pidana Lintas Negera Kejaksaan Agung RI dalam upaya penanggulangan tindak pidana terorisme dan pendanaan terorisme dibawah koordinasi BNPT
c. MAHKAMAH AGUNG RI
NO Keberhasilan Mitigasi
1 Persidangan perkara terorisme dan pendanaan terorisme telah dilakukan secara khusus terutama di pengadilan negeri Jakarta Barat serta melakukan koordinasi dengan kementerian terkait untuk kelancaran pelaksanaan persidangan.
2 Telah dilakukannya peningkatan kapasitas hakim dalam bentuk pelatihan baik nasional dan internasional dalam penanganan kasus terorisme dan pendanaan terorisme.
63
NO Keberhasilan Mitigasi
3 Telah disusunnya regulasi yang mengatur penegakan disiplin dan pengawasan internal bagi hakim untuk meningkatkan profesionalisme. Perma nomo 8 tahun 2012 tentang hakim dalam melaksanakan tugas dan penanganan pengaduan.
3. LEMBAGA PENGAWAS DAN PENGATUR (LPP)
a. PUSAT PELAPORAN DAN ANALISIS TRANSAKSI KEUANGAN (PPATK)
No Keberhasilan Mitigasi
1
PPATK telah melakukan mitigasi dengan menerbitkan beberapa regulasi diantaanya adalah:
• Peraturan Kepala PPATK Nomor 06 Tahun 2017 tentang Penerapan Prinsip Mengenali Pengguna Jasa Bagi Perencana Keuangan
• Peraturan Kepala PPATK Nomor 7 Tahun 2017 tentang Penerapan Prinsip Mengenali Pengguna Jasa Bagi Penyedia Barang dan/atau Jasa Lain
• Peraturan Kepala PPATK Nomor 10 Tahun 2017 tentang Penerapan Prinsip Mengenali Pengguna Jasa Bagi Advokat
• Peraturan Kepala PPATK Nomor 11 Tahun 2017 tentang Penerapan Prinsip Mengenali Pengguna Jasa Bagi Pejabat Pembuat Akta Tanah
• Peraturan Kepala PPATK Nomor 17 Tahun 2017 tentang Penerapan Prinsip Mengenali Pengguna Jasa Bagi Penyelenggara Pos
2
Tahun 2015 PPATK telah menginisiasi dibentuknya Counter Terorist Financing (CTF) Summit penanganan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme yang sekaligus menjadi kegiatan CTF Summit Pertama. CTF Summit secara rutin diadakan satu kali dalam setahun untuk membahas dan memaparkan perkembangan terorisme dikawasan Asia Tenggara serta hasil join riset lintas negara yang dilajukan. Sampai saat ini sudah 4 kali kegiatan CTF Summit diadakan yang telah menghasilkan dokumen RRA.
3 Telah dilaksanakannya Indeks Persepsi Publik mengenai TPPU dan TPPT pada tahun 2016-2018 untuk menilai pemahaman publik sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai APU PPT.
4
Tahun 2018 PPATK telah memberikan 9 rekomendasi terkait Pemutakhiran ISIL (Daesh) dan Al-Qaida Sanctions List dan Permintaan Bantuan Pemblokiran berdasarkan Daftar Terduga Teroris dan Organisasi Teroris yang disampaikan melalui Surat Kepala PPATK
64
No Keberhasilan Mitigasi
5 Tahun 2018 PPATK telah melakukan delapan kali penyelenggaraan asistensi para penegak hukum dalam penanganan perkara TPPU diantaranya di provinsi Sumut (2x), Jawa Timur (3x), Jawa Barat, Aceh dan Papua
6
Sebagai upaya menindaklanjuti rekomendasi FATF, pada tahun 2018 PPATK mengoordinasikan delegasi Indonesia untuk menghadiri pertemuan-pertemuan internasional yang terkait dengan kegiatan FATF, antara lain:
a. Tanggal 17-24 Februari 2018 di Perancis untuk menghadiri FATF Plenary Meeting;
b. Tanggal 1-4 Mei 2018 di Korea Selatan untuk menghadiri FATF Trein Joint Expert Meeting and Risk Assessment Workshop
c. Tangal 24-29 Juni 2018 di Perancis untuk menghadiri FATF Plenary d. Tanggal 20-28 Juli 2018 di Nepal untuk menghadiri APG Annual Meeting e. Tanggal 2-8 September 2018 di Korea Selatan untuk menghadiri APG on
MLRegional Pre-ME Workshop
f. Tanggal 14-19 Oktober 2018 di Perancis untukmenghadiri FATF Plenary g. Tanggal 3-5 Desember 2018 di Rusia untukmenghadiri APG Typologies
Workshop.
b. OTORITAS JASA KEUANGAN (OJK)
No Keberhasilan Mitigasi
1
OJK telah melakukan mitigasi dengan menerbitkan beberapa regulasi yang di dalamnya terdapat norma yang mengatur penyedia jasa keuangan untuk dapat mencegah digunakannya penyedia jasa keuangan sebagai sarana pendapaan terorisme. Beberapa regulasi tersebut adalah:
• Peraturan OJK Nomor 12/POJK.01/2017 Tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme di Sektor Jasa Keuangan;
• Surat Edaran OJK Nomor 32/SEOJK.03/2017 Tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme di Sektor Perbankan;
• Surat Edaran OJK Nomor 47/SEOJK.04/2017 Tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme di Sektor Pasar Modal;
65
No Keberhasilan Mitigasi
• Surat Edaran OJK Nomor 37/SEOJK.05/2017 Tentang Pedoman Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme di Sektor Industri Keuangan Non-Bank;
• Surat Edaran OJK Nomor 38/SEOJK.01/2017 Tentang Pedoman Pemblokiran Secara Serta Merta atas Dana Nasabah di Sektor Jasa Keuangan yang Identitasnya Tercantum Dalam Daftar Terduga Teroris dan Organisasi Teroris.
2
Dalam peraturan tersebut, OJK telah meminta penyedia jasa keuangan melakukan mitigasi risiko terkait pencegahan pendanaan terorisme, antara lain dengan melakukan:
• Memelihara daftar terduga teroris dan organisasi teroris;
• Mengklasifikasikan Calon Nasabah, Nasabah, Pemilik Manfaat (Beneficial Owner), atau Walk in Customer (WIC) yang tercantum dalam daftar terduga teroris dan organisasi teroris sebagai Calon Nasabah, Nasabah, Pemilik Manfaat (Beneficial Owner), atau Walk in Customer (WIC) yang berisiko tinggi;
• Menolak transaksi, membatalkan transaksi, dan/atau menutup hubungan usaha dengan Calon Nasabah atau Nasabah terdapat dalam daftar terduga teroris dan organisasi teroris;
• Melakukan identifikasi dan memastikan secara berkala nama Nasabah yang memiliki kesamaan nama dan informasi lain atas Nasabah dengan nama dan informasi yang tercantum dalam daftar terduga teroris dan organisasi teroris;
• Melakukan pemblokiran secara serta merta apabila ditemukan kesamaan nama Nasabah dan kesamaan informasi lainnya dengan nama yang tercantum dalam daftar terduga teroris dan organisasi teroris;
• Melaporkan transaksi yang melibatkan orang perseorangan atau Korporasi yang identitasnya tercantum dalam DTTOT dalam bentuk laporan sebagai laporan transaksi keuangan mencurigakan terkait Pendanaan Terorisme.
3
Kebijakan dan peraturan yang OJK terbitkan bagi penyedia jasa keuangan sebagaimana tersebut diatas, bertujuan untuk mencegah digunakannya sektor jasa keuangan sebagai sarana moving dalam pendanaan terorisme dengan cara membatasi ruang gerak keuangan dari terduga teroris dan organisasi teroris serta mencegah pula pendanaan dari pihak lain yang diberikan kepada terduga teroris dan organisasi teroris tersebut.
c. BANK INDONESIA (BI)
NO Keberhasilan Mitigasi
1
Bank Indonesia telah mengeluarkan Kebijakan, Peraturan Perundang-undangan, Pedoman bagi PTD berizin bukan bank dan KUPVA bukan bank, yaitu:
• Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.14/23/PBI/2012 tentang Transfer Dana;
66
NO Keberhasilan Mitigasi
• PBI No.14/2/PBI/2012 tentang Perubahan Atas PBI No.11/11/PBI/2009 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Alat Pembayaran Dengan Menggunakan Kartu;
• PBI No.18/20/PBI/2016 tentang Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank;
• PBI No.18/9/PBI/2016 tentang Pengaturan dan Pengawasan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah;
• PBI No.18/40/PBI/2016 tentang Penyelenggaraan Pemrosesan Transaksi Pembayaran;
• PBI 19/10/PBI/2017 tentang Penerapan Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme bagi Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran Selain Bank dan Penyelenggara Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank;
• PBI No. 19/12/PBI/2017 tentang Penyelenggaraan Teknologi Finansial;
• PBI No.20/2/PBI/2018 perihal Perubahan atas PBI No.19/7/PBI/2017 tentang Pembawaan Uang Kertas Asing (UKA) ke Dalam dan Keluar Pabean Indonesia;
dan
• PBI No.20/6/PBI/2018 tentang Uang Elektronik.
Selain itu, Bank Indonesia juga menerbitkan pedoman sebagai panduan bagi Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran Selain Bank dan Penyelenggara Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank dalam mencegah pendanaan terorisme, yaitu:
• Sectoral Risk Assessment (SRA) TPPU dan TPPT di sektor KUPVA BB dan PTD BB;
• Pedoman Penerapan APU PPT Berbasis Risiko bagi Pengawas dan Penyelenggara KUPVA BB serta PTD BB;
• Risk Based Tools bagi Pengawas dan Penyelenggara KUPVA BB serta PTD BB;
• Pedoman Pemblokiran Daftar Teroris dan Pedoman Pemblokiran Daftar Proliferasi (Updated);
• Pedoman Penanganan KUPVA BB Tidak Berizin;
• Framework Pengawasan;
• Pedoman Pengawasan Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran;
• Pedoman Monitoring Sanksi termasuk Sistem Monitoring; dan
• Surat No.20/271/DKSP/SRT/B tanggal 24 Mei 2018 perihal Pemberitahuan terkait Larangan Resirkulasi Uang Kertas Asing (UKA) Pecahan Sepuluh Ribu Dolar Singapura (10.000 SGD).
2
Capaian yang telah dilakukan oleh Bank Indonesia adalah sebagai berikut:
• Pada tahun 2019 telah dibentuk Kelompok Pemenuhan Prinsip Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme dalam struktur organisasi Bank Indonesia;
• Telah memperluas Memorandum of Understanding antara (i) Bank Indonesia dengan Bangko Sentral Ng Pilipinas; serta (i) Bank Indonesia dengan bank of
67
NO Keberhasilan Mitigasi
Thailand dalam rangka kerjasama implementasi APU PPT. Modalitas dalam MoU tersebut meliputi: (1) policy dialogue; (2) exchange of data and information; dan (3) capacity building;
• Penerapan E-Licensing untuk PJSP, KUPVA BB, PTD BB, dan Pembawaan Uang Kertas Asing sejak tahun 2018;
• Penerapan inovasi QR Code pada logo KUPVA BB dan PTD BB berizin untuk memberi kemudahan mengidentifikasi antara penyelenggara berizin dan tidak berizin dari Bank Indonesia;
• Proses Bisnis Pembawaan UKA merupakan kegiatan ekspor dan impor UKA ke dalam dan keluar Pabean Indonesia yang hanya dilakukan oleh Badan Berizin dengan nominal setara >Rp1 miliar. Pengaturan ini bertujuan untuk pencegahan TPPU, memperoleh statistik data Pembawaan UKA dan pengendalian UKA palsu, serta penguatan system informasi terkait uang tunai;
• Telah melakukan kerjasama dengan Dirjen Bea Cuka – Kementerian Keuangan terkait dengan kegiatan pembawaan UKA melalui 3 (tiga) sistem yang terintegrasi yaitu e-licensing Bank Indonesia, Indonesia National Single Windows (INSW), dan Custom Excise Information System and Automation (CESA). Sampai dengan bulan Mei 2019 secara nasional telah terdapat 20 Badan Berizin (8 Bank dan 12 KUPVA Bukan Bank). Berdasarkan data pengawasan, untuk Badan Berizin di wilayah kerja KPw Provinsi DKI Jakarta, Nominal persetujuan untuk impor UKA dalam Triwulan IV/2018 mencapai sebesar Rp 20 Triliun (realisasinya Rp 13 Triliun atau 66%). Sedangkan untuk ekspor disetujui Rp 16 Triliun sementara realisasinya Rp 7 Triliun (46%);
• Penerapan Risk-Based Approach (RBA) baik dalam penilaian profil risiko, pengawasan dan pemeriksaan BI maupun implementasi oleh penyelenggara. Tim Assessor APG telah mengakui bahwa pengawasan yang dilakukan Bank Indonesia sudah proporsional dan memberikan efek jera;
• Joint audit bersama PPATK dan K/L terkait terhadap KUPVA BB dan PTD BB;
• Penertiban KUPVA BB tidak berizin dan PTD BB ilegal berkoordinasi dengan Kepolisian RI dan K/L terkait. Tim Assessor APG telah mengakui bahwa penertiban KUPVA BB tidak berizin dan PTD BB ilegal menjadi “the most significant sanction”;
• Pengenaan sanksi (administrasi dan pencabutan izin) terhadap KUPVA BB dan PTD BB yang kurang patuh dan melanggar ketentuan;
• Pada 2017, KPwBI Bali bekerjasama dengan Kepolisian melakukan penertiban terhadap ATM Bitcoin;
• Capacity building secara terprogram untuk para pengawas BI seluruh Indonesia maupun PTD BB dan KUPVA BB melalui rapat koordinasi, workshop maupun coaching clinic;
• Pemberian keterangan Ahli Transfer Dana dan Penukaran Uang dalam perkara Tindak Pidana yang ditangani Polri, Kejaksaan dan Pengadilan;
68
NO Keberhasilan Mitigasi
• Penyusunan dan pelaksanaan rencana aksi APU dan PPT Bank Indonesia 2017- 2019, dengan pencapaian 100%. Pelaksanaan strategi atau pilar STRANAS APU dan PPT Bank Indonesia terdiri dari penetapan dan penerapan risk-based approach, PDG Kerangka Kebijakan SP dan PUR, PBI Pengaturan dan Pengawasan dan lainnya; dan
• Larangan untuk seluruh Penyelenggara Sistem Pembayaran dan Penyelenggara Teknologi Finansial di Indonesia untuk memproses transaksi pembayaran melalui virtual currency
B. MITIGASI YANG TELAH DILAKUKAN TERHADAP MODUS TERKINI PENDANAAN TERORISME PERIODE 2016-2018
a. Tahap Pengumpulan Dana (Collecting)
Donasi Anggota Kepada
Kelompok Teror Mitigasi Yang Telah Dilakukan
• BIN terus melakukan kegiatan operasional intelijen berupa penggembosan NPO terdaftar dan tidak terdaftar yang diduga melakukan pendanaan terorisme
• Pemerintah telah melakukan upaya penerbitan regulasi untuk npo dimana organisasi teror dilarang/bukan NPO.
• BNPT telah melakukan kontra narasi dan kontra propaganda
Pendanaan Sendiri
(Self Funding) Mitigasi Yang Telah Dilakukan
• BNPT telah melakukan sosialisasi kontra narasi dan kontra propaganda kepada masyarakat yang teridentifikasi ajaran radikal.
• BNPT telah melakukan deradikalisasi yang dilakukan di luar lapas dengan menyasar pada mantan napiter, warga binaan pemasyarakatan dan keluarga teror.
• BNPT telah melakukan peningkatan daya tangkal masyarakat dan kewaspadaan dalam media literasi melalui website dan media sosial, seperti damailahIndonesiaku.com
69
Pendanaan Melalui Media Sosial Mitigasi Yang Telah Dilakukan
• BNPT dan BIN telah melakukan koordinasi dengan kementerian lembaga terkait untuk mengidentifikasi platform dan akun media sosial yang berisiko disalahgunakan untuk pendanaan terorisme.
• BNP dan BIN telah melakukan koordinasi dengan kementerian Lembaga terkait apabila terdapat akun medsos yang akan di shutdown maka akan diteruskan contoh yang sudah di shutdown seperti shoutussalam
• BNPT bersama dengan Kemenkominfo secara rutin telah melakukan assessment terhadap website atau media sosial yang terpapar radikal maupun indikasi pendanaan terorisme
• Pemerintah Indonesia telah resmi memblokir layanan percakapan instan Telegram karena Telegram dapat membahayakan keamanan negara karena tidak menyediakan SOP dalam penanganan kasus terorisme.
Kemenkominfo mengatakan pihaknya telah meminta Internet Service Provider (ISP) untuk melakukan pemutusan akses (pemblokiran) terhadap sebelas Domain Name System (DNS) milik Telegram27.
• Konten yang direkomendasikan oleh BNPT untuk diblokir KEMENKOMINFO hingga saat ini berjumlah 662.
• Saat ini media online propaganda yang kerap terbukti dijadikan alat propaganda yang mempengaruhi individu/kelompok teror telah terblokir, diantaranya yakni, Shoutussalam, Al Muqawamah, Syamnews, bahrunnaim.com, etc.
• Tim Penanggulangan Pendanaan Terorisme BNPT/Satgas CTF BNPT kerap melakukan pemantauan terhadap NPO yang diduga melakukan pendanaan terorisme.
• Pelaksanaan proses deradikalisasi oleh BNPT di dalam dan di luar lapas serta di lingkungan masyarakat meliputi pembinaan terhadap Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) terkait tindak pidana terorisme, pembentukan
27 https://www.bbc.com/Indonesia/trensosial-40606074
70
sistem pengawasan mantan WBP, keluarga dan jaringannya untuk menghindari proses residivisme.
• BNPT telah melaksanakan sosialisasi bahaya kejahatan terorisme di lembaga pendidikan, rumah ibadah, media massa, organisasi kemasyarakatan dan instansi Pemerintah terkait.
b. Tahap Pemindahan Dana (Moving)
Pembawaan Uang Tunai Mitigasi Yang Telah Dilakukan
• Pembawaan uang tunai adalah hasil dari self funding. Oleh karenanya bentuk migitasi yang telah dilakukan BNPT adalah sebagai berikut:
─ BNPT telah melakukan sosialisasi kontra narasi dan kontra propaganda kepada masyarakat yang teridentifikasi ajaran radikal.
─ BNPT telah melakukan deradikalisasi yang dilakukan di luar lapas dengan menyasar pada mantan napiter, warga binaan pemasyarakatan dan keluarga teror.
• Mitigasi yang telah dilakukan BI adalah:
─ Sejak diberlakukannya PBI No. 20/2/PBI/2018 tanggal 5 Maret 2018 Tentang Perubahan Atas PBI Pembawaan uang ketas asing (UKA) ke dalam dan keluar Pabean Indonesia, Pembawaan UKA wajib dilakukan oleh Badan Berizin dan memperoleh persetujuan Bank Indonesia. Proses bisnis Pembawaan UKA merupakan kegiatan ekspor dan impor UKA ke dalam dan keluar Pabean Indonesia yang hanya dilakukan oleh Badan Berizin dengan nominal equivalent Rp 1 miliar.
─ Pengaturan ini bertujuan untuk pencegahan TPPU, memperoleh statistik data Pembawaan UKA dan pengendalian UKA palsu, serta penguatan sistem informasi terkait uang tunai.
─ Kegiatan pembawaan UKA ini dilakukan bekerja sama BI, Kemenku Dirjen Bea Cukai melalui 3 sistem yang teritegrasi yaitu e-licensing BI, INSW (Indonesia National Single Windows) dan CESA (Custom Excise Information System and Automation).
71
─ Update data statistik: Sampai dengan bulan Mei 2019 secara nasional telah terdapat 20 Badan Berizin (8 Bank dan 12 KUPVA Bukan Bank). Berdasarkan data pengawasan, untuk Badan Berizin di wilayah kerja KPw Provinsi DKI Jakarta, sbb: Nominal persetujuan untuk impor UKA dalam Triwulan IV/2018 mencapai sebesar Rp 20 Triliun (realisasinya Rp 13 Triliun atau 66%). Sedangkan untuk ekspor disetujui Rp 16 Triliun sementara realisasinya Rp 7 Triliun (46%).
Penggunaan Sistem Perbankan Mitigasi Yang Telah Dilakukan
• OJK telah meminta PJK memelihara daftar terduga teroris dan organisasi teroris; untuk meningkatkan literacy terhadap DTTOT
• OJK telah meminta PJK mengklasifikasikan calon nasabah, nasabah, pemilik manfaat (Beneficial Ownership), atau walk in customer (WIC) yang tercantum dalam daftar terduga teroris dan organisasi teroris sebagai calon nasabah, nasabah, pemilik manfaat (Beneficial Ownership), atau walk in customer (WIC) yang berisiko tinggi;
• OJK telah meminta PJK menolak transaksi, membatalkan transaksi, dan/atau menutup hubungan usaha dengan calon nasabah atau nasabah terdapat dalam daftar terduga teroris dan organisasi teroris;
• OJK telah meminta PJK melakukan identifikasi dan memastikan secara berkala nama nasabah yang memiliki kesamaan nama dan informasi lain atas nasabah dengan nama dan informasi yang tercantum dalam daftar terduga teroris dan organisasi teroris;
• OJK telah meminta PJK melakukan pemblokiran secara serta merta apabila ditemukan kesamaan nama nasabah dan kesamaan informasi lainnya dengan nama yang tercantum dalam daftar terduga teroris dan organisasi teroris;
• OJK telah meminta PJK melaporkan transaksi yang melibatkan orang perseorangan atau korporasi yang identitasnya tercantum dalam DTTOT dalam bentuk laporan sebagai laporan transaksi keuangan mencurigakan terkait pendanaan terorisme.