BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
5.3. Keberpihakan Publik, Partisipasi, dan Konservasi
Penekanan fokus collaborative governance se- lain pada pola keseimbangan dampak sosial dan kesejahteraan ekonomi, juga sangat dianjurkan untuk melihat aspek konservasi lingkungan dan keberpihakan public selama dilakukan pengembangan ekowisata Pantai Klayar di Kabupaten Pacitan. Secara teoretis, collaborative governance memiliki misi dalam rangka perluasan hubungan antara pemerintah dan sektor non-pemerintah yang salah satunya adalah meng- akomodir kepentingan masyarakat untuk kesejahteraan (Chang, 2014; Doberstein, 2016). Penekanan tersebut memberikan arti bahwa keberpihakan masyarakat merupakan salah satu inti utama dari skema collaborative governance. Keberpihakan tersebut yakni dengan mengedepankan orientasi bahwa masyarakat adalah subyek utama dalam pembangunan kawasan, baik sebagai subjek secara secara langsung maupun tidak langsung sebagai obyek yang mendapatkan dampak positif ekowisata.
Ekowisata Pantai Klayar Pacitan masuk dalam kategori community-based tourism (CBT). Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Nugroho & Purnawan (2015) yang menyatakan bahwa konsep aktivitas kepariwisataan yang mampu mendukung wisata ber- basis CBT salah satunya berupa ekowisata (eco- tourism). Artinya bahwa optimasi ekowisata nantinya
112 | M. Husni Tam ri n, S.AP ., M.KP., d kk.
berperan dalam menunjukkan sekaligus menerapkan bentuk-bentuk sinergitas berbagi masalah (problem sharing), berbagi peran (role sharing), dan berbagi manfaat (benefit sharing) antara kolaborasi pemerintah serta bermitra dengan masyarakat dalam pengem- bangan ekowisata. Masyarakat bukan hanya menjadi penonton, tetapi lebih pada pelaku usaha dan pe- ngembangan Ekowisata Pantai Klayar di Kabupaten Pacitan. Dalam hal ini, kepemimpinan yang kuat dibutuhkan untuk memutuskan fasilitasi pembangunan wisata dan proyeksi apa yang harus dilaksanakan terkait pemrioritasan masyarakat sebagai subjek dalam collaborative governance (Hwang, 2017).
Pembangunan dan pengembangan ekowisata Pantai Klayar sejauh ini telah memberikan dampak sosial ekonomi bagi masyarakat lokal di Kecamatan onorejo dan Kabupaten Pacitan, terlebih dari sisi pendapatan ekonomi. Dampak tersebut diperoleh seiring dengan keputusan pemerintah daerah dengan menjadikan ekowosata Pantai Klayar sebagai destinasi wisata unggulan berbasis komunitas (masyarakat).
Destinasi unggulan tersebut kemudian terbuka bagi masyarakat desa lokal untuk turut berpartisipasi khususnya dalam hal keikutsertaan membuka usaha atau mengelola titik-titik strategis agar dapat memperolah penghasilan. Tahun 2019 misalnya, berdasar pada bentuk keberpihakan pemerintah daerah dalam mengakomodir kepentingan masyarakat desa, maka kemudia terjadi peningkatan pendapatan yang
diperoleh di Pantai Klayar bahkan melampaui target pendapatan yang diperoleh sebelumnya. Kondisi tersebut terkonfirmasi melalui wawancara yang dilakukan peneliti kepada pemerintah daerah di Kabupaten Pacitan dan saat melakukan konfirmasi lapangan terkait usaha-usaha masyarakat yang dilaksanakan di Pantai Klayar.
Pemerintah daerah dan pihak-pihak di luar pemerintah termasuk masyarakat lokal berkomitmen untuk menjadikan Pantai Klayar sebagai ekowisata secara berkelanjutan. Hal ini membawa konsekuensi bahwa upaya menjaga kualitas lingkungan dalam bentuk konservasi alam adalah komitmen penting s4elama pembangunan dan pengembangan wisata dilaksanakan. Peningkatan pengunjung secara signi- fikan dari tahun ke tahun tentunya di satu sisi mem- berikan dampak sosial ekonomi secara positif pagi lingkungan usaha dan pariwisata. Namun harus di- sadari bahwa semakin tinggi jumlah wisatawan, maka terdapat ancaman penurunan kualitas lingkungan seperti sampah, perubahan tata guna lahan, ketidak- pahaman wisatawan dalam berinteraksi dengan ling- kungan ekowisata, dan kondisi-kondisi lainnya yang mengakibatkan kerusakan ekowisata pesisir (Khris- namurti et al, 2017; Yuliani et al, 2019).
114 | M. Husni Tam ri n, S.AP ., M.KP., d kk.
Gambar 2. Mapping Zonasi di Pantai Klayar Sumber. Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga
Kabupaten Pacitan (2021)
Upaya kolaborasi dalam rangka konservasi ling- kungan baik pada kondisi pasca bencana 2017 maupun ancaman dari adanya peningkatan wisatawan dilaksa- nakan guna keberlanjutan kepariwisataan dan meng- atasi ancaman bencana di masa mendatang. Dalam mengatasi adanya bencana, pemerintah daerah telah melaksanakan mapping kawasan berdasarkan peta rawan bencana yang mengedepankan keselamatan wisatawan dan pelaku pariwisata. Pada kawasan bahaya, kawasan tersebut sekaligus merupakan kawa- san konservasi yang dilakukan upaya menjaga ke- lestarian kawasan ekowisata. Strategi yang dilakukan antara lain dengan merencanakan pembangunan sarana prasarana kawasan wisata dengan pertim- bangan lingkungan, menjaga kebersihan kawasan
wisata, tidak merubah tata guna lahan kawasan atau membangun bangunan permanen, penataan sarana jalan dan transportasi wisatawan, dan melaksanakan pengembangan kawasan hijau di lokasi ekowisata guna mencegah abrasi (mitigasi bencana).
116 | M. Husni Tam ri n, S.AP ., M.KP., d kk.
BAB 6
118 | M. Husni Tam ri n, S.AP ., M.KP., d kk.
K ESIMPULAN DAN
R EKOMENDASI
6.1. Kesimpulan Rekomendasi Hasil Penelitian
Dinamika wisatawan yang berkunjung ke desti- nasi Ekowisata Pantai Klayar semakin meningkat di setiap tahunnya meskipun sempat terjadi penurunan akibat bencana alam. Namun meskipun begitu, Peme- rintah melalui skema kolaborasi yang dilakukan telah
berhasil membangun kepercayaan dan komitmen dalam pengembangan destinasi unggulan tersebut. Melihat proyeksi ke depan, bahwa pemerintah daerah harus menyiapkan strategi-strategi lanjutan dalam konteks pemahaman bersama tentang pengembangan ekowisata.
Selain itu, progress hari ini yang telah menunjukkan dampak positif sosial ekonomi lokal dengan konservasi alam yang sudah dilaksanakan, hal tersebut harus mampu dipertahankan dan terus ditingkatkan seiring dengan adanya peluang peningkatan wisatawan di masa mendatang. Harapan utamanya adalah tujuan keber- lanjutan dari ekowisata bahari di Pantai Klayar mampu terlaksana secara berkelanjutan melalui peran kola- borasi antara pihak pemerintah dengan non-pemerintah.
Penelitian ini menghasilkan implikasi dan masukan bahwa kolaborasi yang dilaksanakan oleh pihak peme- rintah daerah di Kabupaten Pacitan dan non-pemerintah secara general telah menunjukan dampak positif. Namun dari analisis dan hasil lapangan yang dilakukan peneliti menunjukkan bahwa perlu diperhatikan kembali terkait pemahaman dan kesepakatan bersama (Common Under- standing) dalam lingkup keselarasan antara pihak-pihak tersebut, mengingat tantangan yang dihadapi dalam pembangunan multi-aktor sangatlah kompleks dan ber- potensi menjadi hambatan dalam suatu proses pem- bangunan dan pengembangan program atau variable- variabel tertentu.
120 | M. Husni Tam ri n, S.AP ., M.KP., d kk.
6.2. Rekomendasi Penelitia n Lanjutan
Meskipun kajian ini telah membahas pola colla- borative governance terkait wisata beserta dampaknya (sosial, ekonomi, dan ligkungan), namun penelitian ini masih memiliki keterbatasan khususnya dari segi ka- jian pola pengelolaan wisata oleh komunitas beserta dampaknya (secara mikro) dan kolaborasi dalam upaya pelestarian dan konservasi ekowisata. Untuk itu, dibutuhkan kajian yang lebih mendalam terkait 2 aspek antara lain:
a. Pertama, kajian pola pengelolaan wisata oleh komunitas beserta dampaknya (secara mikro), yang mana hal tersebut secara khusus mengkaji seputar bagaimana pembangunan modal sosial yang tercipta dalam masyarakat pengelola ka- wasan wisata dan upaya saling berbagi manfaat secara rinci, dan;
b. Kedua, kajian seputar collaborative governance dalam upaya konservasi alam di lingkup kawasan wisata Pantai Klayar di Kabupaten Pacitan, yang mana kajian tersebut berupaya lebih dalam untuk menganalisis strategi-strategi dalam upaya pe- lestarian aam guna pengembangan pariwisata secara berkelanjutan dan terus mempertahankan serta meningkatkan daya tarik ekowisata melalui panorama alam Pantai Klayar.
122 | M. Husni Tam ri n, S.AP ., M.KP., d kk.
D AFTAR P USTAKA
Agranoff, Robert dan Michael McGuire. 2003. Collaborative Public Management: New Strategies for Local Governments. Washington DC: Georgetown University ress.
Ansell, C., Doberstein, C., Henderson, H., Siddiki, S., & Hart, P. (2020). Understanding inclusion in collaborative governance: a mixed methods approach. Policy and
Society, 39(4), 570-591.
https://doi.org/10.1080/14494035.2020.1785726 Ansell, C., & Gash, A. (2007). Collaborative Governance in
Theory and Practice. Journal of Public Administration,
18(4), 543-571.
https://doi.org/10.1093/jopart/mum032
Borrini-feyerabend. (1996). Collaborative Management of Protected Areas: Tailoring the Approach to the Context. Social Policy. https://doi.org/7041
Chang, H. J. (2014). Collaborative Governance in Welfare Service Delivery: Focusing on Local Welfare System in Korea. International Review of Public Administration,
13(1), 75-90.
https://doi.org/10.1080/12294659.2009.10805141
Chin, C., Law, F. Y., Lo, M. C., & Ramayah, T. (2018). The impact of accessibility quality and accommodation quality on tourist satisfaction and revisit intention to rural tourism destination in Sarawak: The moderating role of local communities’ attitude. Global Business and Management Research: An International Journal, 10(2), 115-127. http://ir.unimas.my/id/eprint/22428 Debbie Roberts, Rene van Wyk, dan Nalesh Dhanpat. 2016.
Exploring Practices for Effective Collaboration.
Proceedings of the 28th Annual Conference of the Southem African Institute of Management Science.
ISBN:978-0620- 71797-7.
Doberstein, C. (2016). Designing Collaborative Governance Decision-Making in Search of a Collaborative Advantage. Public Management Review, 18(6), 819- 841. https://doi.org/10.1080/14719037.2015.1045019 Emerson, K., Nabatchi, T., & Balogh, S. (2012). An Integrative
Framework for Collaborative Governance. Journal of Public Administration Research and Theory, 22(1), 1- 29. https://doi.org/10.1093/jopart/mur011
Farandi Rahadian. 2018. Implementasi Bi Language pada Sistem Informasi Geografis di Kabupaten Pacitan.
Program Studi Sistem Informasi. Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputerakakom:
yogyakarta.
124 | M. Husni Tam ri n, S.AP ., M.KP., d kk.
Gray, B. 1989. Collaborating: finding Common Ground for Multiparty Problems. Jossey-Bass Publishers. San Fransisco.
Hanajayani, G., & Sariffuddin, S. (2018). Mengatur Desa Wisata: Peran Tokoh Masyarakat Membangun Inisiatif Kolektif dalam Pengembangan Pariwisata Berbasis Komunitas. Tataloka, 195-204.
Hwang, S. (2017). Collaborative governance and information technology innovation: public-nonprofit partnership to build neighborhood information system. International Review of Public Administration, 22(4), 321-3.
https://doi.org/10.1080/12294659.2017.1368005 Johnston, E. W., Hicks, D., Nan, N., & Auer, J. C. (2010).
Managing the Inclusion Pocess in Collaborative Govenance. Journal of Public Administration Research
and Theory, 21(4), 699-721.
https://doi.org/10.2307/41342601
Jung, Y. D., Mazmanian, D., & Tang, S. Y. 2009. Collaborative governance in the united states and korea: Cases in negotiated policymaking and service delivery.
International Review of Public Administration.
https://doi.org/10.1080/12294659.2009.10805136 Khrisnamurti, Utami, H., & Darmawan, R. (2016). Dampak
pariwisata terhadap lingkungan d Pulau Tidung Kepulauan Seribu. Jurnal Kajian, 21(3), 257-273.
https://jurnal.dpr.go.id/index.php/kajian/artikel/view/
779
Lindeke, Linda L. and Sieckert, Ann M. 2005. Nurse- Physician Workplace Collaboration, OJIN: The Online Journal of Issues in Nursing. Volume 10 Number 1, Manuscript 4.
Moleong, Lexy J. 2009. Metode Penelitian Kualitatif.
Bandung: Remaja Rosdakarya
Pramudhita, S. W., Pitana, T. S., & Yuliani, S. (2016). Resor Klayar dengan Pendekatan Fenomenologi Arsitektur di Kawasan Wisata Pantai Klayar Pacitan. Arsitektura,
14(1), 334-312.
http://dx.doi.org/10.20961/arst.v14i1.12236
Purnawan, D. (2018, June 10). Pantai Klayar tetap Jadi Sumber PAD Andalan Pacitan Selama Libur Lebaran.
Diskominfo Kabupaten Pacitan.
https://pacitan.go.id/pantai-klayar-tetap-jadi- sumber-pad-andalan-pacitan-selama-libur-lebaran Salman, D. (2012). Manajemen Perencanaan Berbasis
Komunitas dan Mekanisme Kolaborasi Serta Peran Fasilitator. Makassar: Sulawesi Capacity Development Project (Kerjasama Kemendagri & JICA).
Salmon, I. P. P., Ismail, Pujianto, W. E., & Nadyah, F. (2020).
Embrio Destinasi Wisata Religi Baru: Identifikasi Komponen 3A berbasis Wisata Ziarah Desa Balun, Lamongan. Jurnal Ilmiah Syiar, 20(1), 33-45.
http://dx.doi.org/10.29300/syr.v20i1.2948
126 | M. Husni Tam ri n, S.AP ., M.KP., d kk.
Santosa, Pandji. 2008. Administrasi Publik (Teori dan Aplikasi Good Governance), Bandung: PT. Refika Aditama.
Sedarmayanti, 2010. Reformasi Administrasi Publik, Reformasi Birokrasi, dan Kepemimpinan Masa Depan (Mewujudkan Pelayanan Prima dan Kepemerintahan yang Baik), Bandung: PT Refika Aditama.
Sucahyo, N. (2018, July 20). Pariwisata Pacitan, 6 Bulan Pasca Badai Cempaka (The Pacitan’s Tourism, 6 Months After Tropical Cyclone Cempaka). VOA Indonesia.
https://www.voaindonesia.com/pariwisata-pacitan- enam-bulan-pasca-bada-cempaka
Tawil, M., Tawil, Y. P., Rahmarini, G. M., & Salmon, I. P. P.
Public Services, Public Acceptance, and Satisfaction:
Macro Evaluation of Governement Service in Sigi Regency. Journal of Governance, 6(1), 117-134.
http://dx.doi.org/10.31506/jog.v6i1.10831
Titisari, E. Y., & Asikin, D. (2015). Penataan Lansekap pada Program Kampung Agropreneur di Tembalangan Malang. RUAS, 12-19.
Victoria, Sambodo, L., Widodo, S., Hermantoro, H., Hartati, C.,
& Vitriani, D. (2012). Buku Panduan Pengembangan Desa Wisata Hijau. Jakarta: Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia
Waardenburg, M., Groenleer, M., Jong, J., & Keijser, B.
(2019). Paradoxes of collaborative governance:
investigating the real-life dynamics of multi-agency collaboration using a quasi-experimental action- research approach. Public Management Review, 22(3), 386-407.
http://doi.org/10.1080/14719037.2019.1599056 Yuliani, S., Setyaningsih, W., & Winarto Y. (2019). Strategi
Penataan Kawasan Pantai Klayar Pacitan sebagai Destinasi Pariwisata Berkelanjutan dengan Prinsip Arsitektur Ekologis. Jurnal RUAS, 16(2), 1-12.
https://dx.doi.org/10.21776/ub.ruas.2018.016.02.1