• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerangka Konsep

Dalam dokumen KOLABORASI MEMBANGUN NEGERI (Halaman 71-75)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Kerangka Konsep

58 | M. Husni Tam rin , S.AP ., M.KP., d kk.

pengelolaan pariwisata dikelola oleh pemerintah daerah atau desa, dan dikelola bersama berdasarkan kategori objek. Pantai Klayar (terlihat pada Gambar 2), memiliki po- tensi yang sangat besar sehingga akan lebih maksimal jika dikelola bersama-sama oleh pemerintah kabupaten dan pemerintah desa.

Tahap Penilaian Assesment

Tahap Inisiasi

Tahap Deliberasi

Tahap Implementasi

PENGEMBANGAN WISATA BAHARI PANTAI KLAYAR

KABUPATEN PACITAN Tahapan Pelaksanaan

Collaborative Governance

Gambar 2.2

Kerangka Konsep Penelitian oleh M. Husni dan Wildan Taufik Raharja (2021)

Sumber: Diolah penulis dari Ricardo S. Morse and John B. Stephens

Teaching Collaborative governance: Phases, Competencies, and Case- Based Learning” (2012)

60 | M. Husni Tam rin , S.AP ., M.KP., d kk.

BAB 3

62 | M. Husni Tam rin , S.AP ., M.KP., d kk.

M ETODE P ENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif (qualitative research). Bogdan dan Taylor (Moleong, 2007) men- definisikan metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Pendekatan ini diarahkan

pada latar dari individu tersebut secara holistik (utuh).

Jadi dalam hal ini tidak boleh mengisolasikan individu atau organisasi ke dalam variabel atau hipotesis, tapi perlu memandangnya sebagai bagian dari suatu keutuhan.

Menurut Nasution (2003), penelitian kualitatif ada- lah mengamati orang dalam lingkungan, berinteraksi dengan mereka dan menafsirkan pendapat mereka ten- tang dunia sekitar, kemudian Nana Syaodih Sukma- dinata (2005: 60) menyatakan bahwa penelitian kuali- tatif (qualitative research) adalah suatu penelitian yang ditujukan untuk mendiskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktifitas sosial, sikap, keper- cayaan, persepsi, pemikiran orang secara individu maupun kelompok. Penelitian kualitatif ini secara spesifik lebih diarahkan pada penggunaan metode studi kasus. Sebagaimana pendapat Lincoln dan Guba (Sayekti Pujosuwarno, 1992: 34) yang menyebutkan bahwa pendekatan kualitatif dapat juga disebut dengan case study ataupun qualitative, yaitu penelitian yang mendalam dan mendetail tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan subjek penelitian. Lebih lanjut Sayekti Pujosuwarno (1986: 1) mengemukakan pendapat dari Moh. Surya dan Djumhur yang menyatakan bahwa studi kasus dapat diartikan sebagai suatu teknik mem- pelajari seseorang individu secara mendalam untuk membantunya memperoleh penyesuaian diri yang baik.

Menururt Lincoln dan Guba (Dedy Mulyana, 2004:

201), penggunaan studi kasus sebagai suatu metode

64 | M. Husni Tam rin , S.AP ., M.KP., d kk.

penelitian kualitatif memiliki beberapa keuntungan, yaitu:

1. Studi kasus dapat menyajikan pandangan dari subjek yang diteliti.

2. Studi kasus menyajikan uraian yang menye- luruh yang mirip dengan apa yang dialami pembaca kehidupan sehari-hari.

3. Studi kasus merupakan sarana efektif untuk menunjukkan hubungan antara peneliti dan responden.

4. Studi kasus dapat memberikan uraian yang mendalam yang diperlukan bagi penilaian atau transferabilitas.

Pada dasarnya penelitian dengan jenis studi kasus bertujuan untuk mengetahui tentang sesuatu hal secara mendalam. Maka dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan metode studi kasus untuk me- nganalasa Tata Kelola Pengembangan Wisata Pantai Klayar dalam Perspektif Collaborative Governance.

Dengan demikian pendekatan yang dianggap sesuai untuk menjawab dan menjelaskan permasalahan ter- sebut adalah pendekatan kualitatif.

Hakikat penelitian kualitatif bertujuan untuk mengkaji kehidupan manusia dalam kasus-kasus yang terbatas sifatnya, namun mendalam (in depth) dan menyeluruh (holistic), dalam arti tak mengenal pemilihan- pemilihan gejala secara konsepsional ke dalam aspek-

aspeknya yang ekslusif yang kita kenal dengan variabel (Soetandyo, 1997). Penelitian kualitatif ini juga sangat sesuai untuk mengungkap dan memahami sesuatu dibalik fenomena yang baru sedikit diketahui (Straus &

Corbin, 2003).

Pertimbangan lain, dalam penelitian yang ber- sifat kualitatif tidak hanya mengungkapkan peristiwa riil, tetapi juga dapat mengungkapkan nilai tersembunyi (hidden value). Selain itu, penelitian kualitatif juga lebih peka terhadap informasi-informasi yang bersifat des- kriptif, dan secara relatif berusaha mempertahankan keutuhan obyek yang diteliti. Penelitian kualitatif (Aminuddin, 2002) ini tidak dimaksudkan untuk peme- cahan masalah ataupun menguji teori melainkan membangun dan mengartikulasikan pemahaman secara akumulatif yang dalam konteks penelitian ini adalah

“Tata Kelola Pengembangan Wisata Bahari dalam Pers- pektif Collaborative Governance”.

.

3.2. Lokasi Penelitian

Penelitian yang dilakukan berlokasi di Pacitan, Jawa Timur. Penentuan lokasi penelitian ini dilakukan dengan alasan bahwa data statistik Kabupaten Pacitan Pantai Klayar mengalami lonjakan pengunjung tiap tahunnya. Pada tahun 2017, tingkat pengunjung Pantai Klayar mencapai 142.942 juta pengunjung kemudian di tahun 2018 naik menjadi 396.300 juta pengunjung dan

66 | M. Husni Tam rin , S.AP ., M.KP., d kk.

di tahun 2019 hingga awal 2020 pengunjung mencapai 699.429 juta (BPS kabupaten Pacitan). Hal ini tentunya menjadikan objek wisata Pantai Klayar sebagai tujuan wisata yang diminati oleh wisatawan.

3.3. Fokus Penelitian

Permasalahan pada penelitian kualitatif bertumpu pada suatu fokus. Adapun maksud dalam merumuskan masalah penelitian dengan jalan memanfaatkan fokus, yaitu: 1) Penetapan fokus dapat membatasi studi, 2) Penetapan fokus berfungsi untuk memenuhi inklusi- inklusi atau kriteria masuk-keluar (inclusion-exclusion criteria) atau informasi baru yang diperoleh di lapangan (Moleong, 2004). Dalam metode kualitatif, fokus pe- nelitian berguna untuk membatasi bidang inquiry.

Tanpa adanya fokus penelitian, peneliti akan terjebak oleh banyaknya data yang diperoleh di lapangan.

Fokus penelitian digunakan untuk membatasi kajian peneliti dalam melakukan penelitian serta menentukan sasaran yang akan diteliti sehingga dapat mengklasi- fikasikan data yang akan dikumpulkan, dianalisis dan yang akan diolah mengenai Tata Kelola Pengembangan Wisata Bahari dalam Perspektif Collaborative Governance.

Adapun fokus penelitian akan dijabarkan sebagai berikut.

Tahapan dalam proses kolaborasi adalah:

1. Tahap Penilaian (Assessment)

Tahap ini membahas tentang kondisi awal yang memengaruhi apakah kolaborasi diperlukan dan memungkinkan atau tidak. Tahapan ini dapat diartikan sebagai tahap penilaian. Yaitu penilaian dalam rangka mengidentifikasi apakah kolaborasi dibutuhkan atau tidak untuk dilaksanakan.

Tahapan penilaian meliputi beberapa kegiatan yaitu:

a) Memahami faktor-faktor kontekstual misalnya sejarah, kerjasama dan insentif kelembagaan atau kendala kerjasama (Ansell dan Gash, 2008: Bryson et al., 2006 (dalam Morse dan Stephens, 2012: 568))

b) Identifikasi stakeholder (chrisslip, 2002; Gray, 1989; Linden, 2010; Luke, 1998 dalam Morse dan Stephens (2012: 568));

c) Kesepakatan umum mengenai masalah atau tujuan bersama yang hendak dicapai (Bryson et al, 2006; Gray, 1989; Linden, 2010 dalam Morse dan Stephens (2012: 568))

d) Komitmen untuk mengejar solusi kolaboratif (Linden, 2010 dalam Morse dan Stephens (2010: 568))

68 | M. Husni Tam rin , S.AP ., M.KP., d kk.

e) Identifikasi peran kunci yang termasuk konvener, sponsor serta identifikasi sumber daya (Carson, 2007; Chrislip, 2002; Gray, 1989;

Bryson et al, 2006 dalam Morse dan Stephens (2012:568)).

2. Tahapan Inisiasi

Tahapan ini mencakup kegiatan rapat stake- holder, membangun kelompok kerja dan proses desain (Carlson, 2007; Chrislip, 2002; Gray, 1989, Luke 1998 (dalam Morse dan Stephens, 2012; 568)).

Berbeda dengan tahapan penilaian yang lebih me- nekankan pada kegiatan analisis kemampuan, tahapan inisiasi lebih menekankan pada soft skill penyelenggaraan kerjasama, membangun kerja- sama dan membentuk tim (Alexander, 2006 dalam Morse dan Stephens (2012; 568)).

3. Tahapan Musyawarah (Deliberation)

Tahapan ini mencakup kegiatan membangun aturan dasar (Gray, 1989; Luke, 1998 (dalam Morse dan Stephens, 2012; 568). Kegiatan selanjutnya adalah mengadakan musyawarah dan dialog se- bagai bagian proses belajar bersama yang ber- tujuan untuk menciptakan dan mengeksplorasi pilihan (Carlson, 2007; Chrislip, 2002; Gray, 2008 (dalam Morse dan Stephens, 2012; 568)). Pada

akhirnya, tahapan musyawarah akan mencapai kesepakatan kolaboratif) Carlson, 2007; Chirslip, 2002; Gray, 1989; Luke 1998 (dalam Morse dan Stephens 2012: 568)).

4. Tahapan Terakhir dalam membangun kolaborasi governance yang didalamnya terdapat kegiatan- kegiatan berikut ini:

a) Merancang struktur governance (Ansell dan Gash, 2008; Bryson et al, 2006; Gray 1998;

Luke, 1998 dalam Morse dan Stephens (2012;

569));

b) Membangun dukungan konstituen (Chrislip, 2002, Gray, 1989; Linden, 2010; Gray, 1998;

Luke, 1998 dalam Morse dan Stephens (2012:

569)).

c) Memantau perjanjian, evaluasi hasil dan me- ngelola kerjasama (Chrislip, 2002, Gray, 1998;

Linden, 2010; Gray, 1998; Luke, 1998 dalam Morse dan Stephens (2012: 569)).

3.4. Jenis dan Sumber Data

Jenis dan sumber data yang dipergunakan dalam penelitian di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur ini secara mendalam dijabarkan sebagai berikut.

70 | M. Husni Tam rin , S.AP ., M.KP., d kk.

3.4.1. Jenis Data

Jenis data yang dipakai dalam penelitian ini adalah data yang bersifat kualitatif maupun yang bersifat kuantitatif. Data kualitatif adalah data yang tidak berupa angka-angka, melainkan dalam bentuk deskripsi berupa berbagai keterangan menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan materi penelitian ini seperti misalnya, menyangkut sinergitas stake- holder, pengembangan wisata halal, dan seterusnya.

Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka-angka yang dapat dihitung, antara lain seperti data yang menyangkut jumlah kunjungan wisatawan ke daerah tujuan wisata, jumlah Biro Perjalanan yang menjual paket wisata, lama tinggal wisatawan, hal- hal yang menarik bagi wisatawan, jumlah penduduk dan lain-lain (Antara, 2008).

3.4.2. Sumber Data

Sumber data yang dipakai dalam penelitian ini adalah bersumber dari data primer dan data se- kunder sebagai berikut:

a. Data primer, yaitu data yang langsung di- peroleh dari sumber data pertama dari lokasi penelitian baik berupa hasil observasi mau- pun dengan memberikan daftar pertanyaan wawancara mendalam dengan aparat peme- rintah, Kelompok Sadar Wisata, ahli ekowisata

bahari, industri wisata bahari, tokoh masya- rakat, dengan organisasi masyarakat, UMKM, dan wisatawan tentang hal yang berhubu- ngan dengan pengembangan Ekowisata Bahari Pantai Klayar Pacitan.

b. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh bukan dari sumber langsung tetapi data yang telah dikumpulkan oleh orang atau instansi lain. Instansi yang dimaksud adalah Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pacitan, dan lembaga-lembaga lainnya.

3.5. Informan Penelitian

Informan penelitian merupakan orang yang me- miliki informasi tentang penelitian. Adapun informan dalam penelitian ini adalah:

a. Kepala Dinas Pariwisata Pacitan

b. Ketua Kelompok Sadar Wisata Pantai Klayar c. Pemilik UMKM di Pantai Klayar

d. Pengunjung Pariwisata

3.6. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan

72 | M. Husni Tam rin , S.AP ., M.KP., d kk.

data. Oleh karena itu, untuk memperoleh data yang valid dan relevan dalam penelitian ini, maka Peneliti menggunakan metode pengumpulan data sebagai berikut (Moleong, 2009):

1. Wawancara (interview) merupakan teknik pengumpulan data dimana Peneliti berhada- pan langsung dengan narasumber untuk mendapatkan informasi yang sesuai dengan data yang berkaitan dengan judul penelitian ini.

2. Observasi merupakan cara memperoleh data dengan cara dengan melakukan pengamatan langsung terhadap obyek penelitian dengan menggunakan seluruh alat indra.

3. Dokumentasi merupakan metode yang dipakai dalam mengumpulkan data yang diperoleh dari benda-benda tertulis, seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan- peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan sebagainya.

3.7. Teknis Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penilitian ini adalah analisis data kualitatif, mengikuti konsep yang diberikan Miles and Huberman (1992) adalah model interaksi yang terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara

bersamaan setelah masa pengumpulan data yaitu:

1. Reduksi data yaitu dengan menajamkan, mengolongkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasikan data dengan cara sedemikian rupa sehingga kesimpulan- kesimpulan finalnya dapat ditarik dan di- verifikasi.

2. Penyajian data yaitu sekumpulan informasi yang tersusun dan memberikan kemung- kinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.

3. Menarik kesimpulan/verifikasi dilakukan se- cara longgar, tetapi terbuka dan dirumuskan secara rinci dan mengakar dengan kokoh

Lebih lanjut, Miles (1992) mengemukakan bahwa ketiga hal utama, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifi- kasi sebagai suatu yang jalin menjalin pada saat sebelumnya, selama dan sesudah pengumpulan data dalam bentuk yang sejajar, untuk membangun wawasan umum yang disebut analisis. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada deskripsi gambar pada halaman berikut ini.

74 | M. Husni Tam rin , S.AP ., M.KP., d kk.

Pengumpulan Data

Penyajian Data

Reduksi Data

Kesimpulan-kesimpulan Penarikan Verifikasi

(sumber : Miles and Huberman, (1992)

Model Interaktif

Adapun tahapan untuk mereduksi data yang digunakan berdasarkan Miles

BAB 4

76 | M. Husni Tam rin , S.AP ., M.KP., d kk.

G AMBARAN U MUM L OKASI P ENELITIAN

4.1. P rofil Kabupaten Pacitan

Kabupaten Pacitan terletak pada koordinat 110°

55’-111° 5’ bujur timur (BT) dan 7° 55’-8° 17’ lintang selatan (LS), dengan luasan wilayah 1.389,8716 km2 atau 138.987,16 Ha. Kabupaten Pacitan sebagian besar wilayahnya adalah pegunungan kapur yang merupakan rangkaian dari barisan pegunungan kidul (selatan) yang kurang sesuai untuk aktivitas pertanian. Kawasan perbukitan/pegunungan di Kabupaten Pacitan tersebut juga merupakan kawasan yang belum banyak terjamah oleh aktivitas dan modernisasi pembangunan, meng-

ingat di kawasan tersebut seringkali ditemuan fosil manusia purba dan alat-alat purbakala.

Dari jumlah luasan yang telah disebutkan sebe- lumnya, 85% di antaranya merupakan kawasan perbu- kitan dan terdapat gunung-gunung kecil sebanyak kurang lebih 300 gunung yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Pacitan. Untuk batas wilayahnya, Kabupaten Pacitan berbatasan langsung antara lain dengan:

a. Kabupaten Wonogiri dan Provinsi Jawa Tengah di sebelah barat;

b. Kabupaten Trenggalek di sebelah timur;

c. Samudra Hindia di sebelah selatan, dan;

d. Kabupaten Ponorogo di sebelah utara.

Seperti umumnya di daerah lain di pulau Jawa, di Kabupaten Pacitan terdapat dua musim, yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Dalam Data BPS Kabupaten Pacitan 2020, tercatat bahwa musim peng- hujan di Kabupaten Pacitan terjadi pada bulan Fe- bruari-April dan bulan November-Desember. Di antara bulan tersebut, hari hujan terbanyak terjadi pada bulan Januari sebanyak 21 hari hujan. Musim kemarau di Kabupaten Pacitan terjadi pada bulan Mei-Oktober Bulan Maret mempunyai rata-rata curah hujan yang terbesar yaitu 7.063 mm3, sedangkan bulan dengan rata-rata curah hujan terkecil yaitu bulan September

78 | M. Husni Tam rin , S.AP ., M.KP., d kk.

sebesar 2 mm3 karena sepanjang bulan ini hanya terjadi hujan satu hari saja.

Berdasarkan aspek topografi wilayah, Kabupaten Pacitan memiliki bentang daratan yang bervariasi dengan beberapa pembagian kemiringan yakni sebagai berikut:

a. Datar dengan kelas kelerengan 0-5% seluas 55,59 km2 atau 4% dari seluruh luasan wilayah Kabupaten Pacitan;

b. Berombak dengan kelas kelerengan 6-10%

seluas 138,99 km2 atau 10% dari seluruh luasan wilayah Kabupaten Pacitan;

c. Berelombang dengan kelas kelerengan 11- 30% seluas 333,57 km2 atau 24% dari seluruh luasan wilayah Kabupaten Pacitan;

d. Berbukit dengan kelas kelerengan 31-50%

seluas 722,73 km2 atau 52% dari seluruh luasan wilayah Kabupaten Pacitan;

e. Bergunung dengan kelas kelerengan >52%

seluas 138,99 km2 atau 10% dari seluruh luasan wilayah Kabupaten Pacitan;

Gambar. Peta Wilayah Kabupaten Pacitan Sumber. Pemerintah Kabupaten Pacitan (2021)

Kabupaten Pacitan terletak di ujung barat daya dari Provinsi Jawa Timur. Kabupaten tersebut memiliki wilayah yang sebagian terletak di pesisir selatan Pulau Jawa dan terhubung secara langsung dengan Provinsi Jawa Tengah. Kabupaten Pacitan memiliki luasan sebesar 1.390 km2 dengan jumlah populasi sebesar 596.570 jiwa.

80 | M. Husni Tam rin , S.AP ., M.KP., d kk.

Gambar. Pembagian Luasan Kecamatan di Kabupaten Pacitan Sumber. BPS Kabupaten Pacitan (2021)

Secara pembagian administrasi, di wilayah Kabu- paten Pacitan terdapat sebanyak 12 kecamatan antara lain:

a. Kecamatan Donorojo yang beribukota di Donorojo dengan luasan 109,09 Km2;

b. Kecamatan Punung yang beribukota di Pununung dengan luasan 108,81 Km2;

c. Kecamatan Pringkuku yang beribukota di Ngadirejan dengan luasan 132,93 Km2;

d. Kecamatan Pacitan yang beribukota di Sidoharjo dengan luasan 77,11 Km2;

e. Kecamatan Kebonagung yang beribukota di Kebonagung dengan luasan 124,85 Km2;

f. Kecamatan Arjosari yang beribukota di Arjosari dengan luasan 117,06 Km2;

g. Kecamatan Nawangan yang beribukota di Nawangan ddengan luasan 124,06 Km2;

h. Kecamatan Bandar yang beribukota di Bandar dengan luasan 117,34 Km2;

i. Kecamatan Tegalombo yang beribukota di Tegalombo dengan luasan 149,26 Km2;

j. Kecamatan Tulakan yang beribukota di Tulakan dengan luasan 161,62 Km2;

k. Kecamatan Ngadirojo yang beribukota di Ngadirojo dengan luasan 95,91 Km2, dan;

l. Kecamatan Sudimoro yang beribukota di Sudirejo dengan luasan 71,86 Km2.

Dari 12 kecamatan tersebut, terdapat 159 kelurahan/

desa di Kabupaten Pacitan. Untuk jumlah penduduk per- kecamatan dijelaskan dalam grafik pada halaman berikut ini.

82 | M. Husni Tam rin , S.AP ., M.KP., d kk.

Gambar. Jumlah Penduduk per Kecamatan di Kabupaten Pacitan Sumber. BPS Kabupaten Pacitan (2020)

Penduduk Kabupaten Pacitan berdasarkan proyeksi penduduk tahun 2019 sebanyak 596,570 ribu jiwa (BPS Kabupaten Pacitan, 2020). Dibandingkan dengan proyeksi jumlah penduduk tahun 2018, penduduk Pacitan mengalami pertumbuhan sebesar 0,16 %. Sementara itu besarnya angka rasio jenis kelamin tahun 2019 penduduk laki-laki terhadap penduduk perempuan sebesar 95,40.

Gambar. Kepadatan Penduduk per Kecamatan di Kabupaten Pacitan Sumber. BPS Kabupaten Pacitan (2020)

Kepadatan penduduk di Kabupaten Pacitan tahun 2019 mencapai rata-rata 400 jiwa/km2. Kepadatan Penduduk di 12 kecamatan cukup beragam dengan kepadatan penduduk tertinggi terletak di kecamatan Pacitan dengan kepadatan sebesar 1.011 jiwa/km2 dan terendah di Kecamatan Pringkuku sebesar 280 jiwa/km2. Sebagian besar kecamatan memiliki kepadatan di bawah rata-rata antara lain Kecamatan Donorojo, Punung, Pringkuku, Kebonagung, Arjosari, Bandar, dan Tegalombo. Sedangkan sisanya memiliki kepadatan penduduk di atas rata-rata Kabupaten Pacitan.

84 | M. Husni Tam rin , S.AP ., M.KP., d kk.

Tabel. Angkatan Kerja di K abupaten Pacitan

Sumber. BPS Kabupaten Pacitan (2020)

Jumlah Angkatan Kerja di Kabupaten Pacitan 2019 sebesar 356.302 orang, dengan rincian laki-laki sebanyak 191.434 orang dan perempuan sebanyak 164.868 orang. Pengangguran terbuka sebesar 3.389 orang. Proporsi terbesar pengangguran terbuka ber- pendidikan terakhir Sekolah Menengah Atas dan sederajat sebesar 2.407 orang.

Tabel. Jumlah Penduduk menurut Agama di Kabupaten Pacitan

Sumber. BPS Kabupaten Pacitan (2020)

Mayoritas penduduk Kabupaten Pacitan meru- pakan pemeluk agama Islam yaitu sebesar 99,86 % diikuti dengan Kristen dan Katholik masing-masing sebesar 0,09% dan 0,05% sedang sisanya yang hanya 0,001% beragama Hindu dan Budha. Hal ini sebanding dengan jumlah tempat peribadatan yang ada di mana jumlah masjid, langgar dan musala mencapai 99,74%

86 | M. Husni Tam rin , S.AP ., M.KP., d kk.

dan sisanya 0,26% adalah gereja. Sampai saat ini tidak ada pura dan wihara di Kabupaten Pacitan.

Salah satu sektor yang dikembangkan di Kabu- paten Pacitan adalah sektor pertanian. Jenis lahan pertanian yang ada di Kabupaten Pacitan adalah sawah dengan sistem irigasi seluas 8.565 hektar atau 67%

dari keseluruhan sawah yang ada. Sisanya 33% adalah lahan sawah non irigasi. Total luas panen padi selama setahun 33.063 hektar. Luas panen padi terluas di Kecamatan Punung yaitu sebesar 5.372 hektar, sedang- kan terkecil di Kecamatan Sudimoro yaitu 1.122 hektar.

Tabel. Luas Lahan Sawah, Tegal/Kebun, Ladang/Huma, dan Lahan yang Sementara Tidak Diusahakan menurut

Kecamatan (ha) di Kabupaten Pacitan

Sumber. BPS Kabupaten Pacitan (2020)

Sementara itu total luas panen jagung tahun 2019 mencapai 14.786 hektar, yang terluas ada di Kecamatan Pringkuku yaitu 3.788 hektar (25,62 %).

Sedangkan luas panen total ubi kayu 11.010 hektar, yang terluas 2.974 hektar ada di Kecamatan Donorojo (27,01 %). Sementara itu tanaman pangan terluas ketiga adalah kacang tanah 7.649 hektar dengan 3.393 hektar (44,36 %) ada di Kecamatan Punung. Sedangkan luas panen total kedelai 1.172 hektar, terluas ada di kecamatan Pacitan sebesar 452 hektar (38,57 %).

Tabel. Produksi Tanaman Sayuran da n Buah–Buahan Semusim menurut Jenis Tanaman di Kabupaten Pacitan (ton)

. BPS Kabupaten Pacitan (2020)

88 | M. Husni Tam rin , S.AP ., M.KP., d kk.

Hasil tanaman selain tanaman pangan adalah tanaman sayuran dan tanaman buah-buahan. Luas panen untuk tanaman cabai di Kabupaten Pacitan mempunyai luas panen sebesar 593 hektar naik jika dibandingkan tahun lalu sebesar 454 hektar. Untuk produksi cabai mencapai 2.243 ton dengan terbanyak di Kecamatan Bandar yaitu 1.029 ton (45,91 %).

Sedangkan tanaman buah-buahan yang produksinya terbesar adalah buah pisang yaitu 33.862 ton dengan produksi terbesar di Kecamatan Nawangan yaitu 15.534 ton atau 45,87 %.

Gam bar. P roduksi P erkebunan di K abupat en Pac itan

Sumber. BPS Kabupaten Pacitan (2020)

Kolaborasi Membangun N egeri | 89 Selain padi, palawija, sayur, dan buah masih ada hasil pertanian perkebunan, diantaranya kelapa, kopi, kakao dan tembakau. Kelapa memiliki luas areal tanaman sebesar 23.607 hektar. Sedangkan dengan luas tanaman kopi mencapai 2.129 hektar, kakao seluas 5.694 hektar, dan tembakau seluas 230 hektar.

Produksi Kelapa mencapai 21.136 ton dengan kecamatan Tulakan memiliki produksi terbanyak yaitu 2.922 kg (13,82 %). Sementara produksi kopi sebanyak 400 ton, sebanyak 123 ton (30,75 %) terdapat di Kecamatan Nawangan.

Tabel. Jumlah Populasi Ternak Menurut Jenis Ternak dan Kecamatan (ekor) di Kabupaten Pacitan

90 | M. Husni Tam rin , S.AP ., M.KP., d kk.

Selain pertanian tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan hasil pertanian Kabupaten Pacitan antara lain berupa binatang ternak dan unggas.

Binatang ternak yang dibudidayakan antara lain: sapi, kerbau, kuda, kambing dan domba. Populasi terbanyak binatang ternak adalah kambing dengan populasi 217.989 ekor. Untuk unggas, populasi terbanyak adalah ayam kampung yaitu 2.398.570 ekor.

Tabel. Juml ah R um ah T angga Peri kanan T angkap menurut K ecamatan di K abupaten P aci tan

Sumber. BPS Kabupaten Pacitan (2020)

Kabupaten Pacitan berada di pesisir pantai laut selatan sehingga perikanan laut menjadi salah satu mata pencaharian penduduk pesisir. Terdapat kenaikan jumlah rumah tangga perikanan tangkap yang semula 4.068 menjadi 4.540 rumah tangga (ruta) dengan 4.391 ruta adalah ruta perikanan laut. Produksi perikanan didominasi oleh perikanan laut yang mencapai 8.860.865 Kg atau 94,79 % produksi ikan di Kabupaten Pacitan.

4.2. Profil Kepariwisataan di Kabupaten Pacitan Berdasarkan popularitas wilayah tentang kepari- wisataan, Kabupaten Pacitan dikenal sebagai “Kota Seribu Goa” karena memiliki goa-goa yang terkenal seperti Goa Gong (goa terindah se-Asia Tenggara), Goa Tabuhan (goa dengan elemen batu yang yang dapat dipukul dan berbunyi ketika dimainkan seperti alat musik), Goa Kalak (goa pertapaan), dan Goa Luweng Jaran (yang merupakan kompleks goa terluas se-Asia Tenggara). Kabupaten Pacitan memiliki potensi berupa keberadaan pariwisata alam yang membentang dari pesisir timur Pulau Jawa hingga barat. Pariwisata tersebut mulai dari pariwisata alam, budaya, hingga buatan. Pacitan dikenal dengan nama Kota Pariwisata atau Kota Seribu Gua. Hal ini dikarenakan kekayaan alam dan ekstika Pacitan yang sungguh luar biasa dan sangat memikat para pengunjung.

Dalam dokumen KOLABORASI MEMBANGUN NEGERI (Halaman 71-75)

Dokumen terkait