PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Pantai Klayar merupakan salah satu tempat wisata yang banyak diminati pengunjung baik mancanegara maupun dalam negeri. Untuk wisata alam pantai, kawasan pantai Klayar menjadi salah satu destinasi wisata yang populer.
Rumusan Masalah
Morse dan Stephens juga menjelaskan bahwa ada beberapa tahapan dalam penerapan pengelolaan kolaboratif, antara lain tahap penilaian, inisiasi, musyawarah, dan pelaksanaan. Apa Model Pengelolaan Pengembangan Wisata Bahari Dalam Perspektif Pengelolaan Kolaboratif Pada Ekowisata Bahari Pantai Klayar Kabupaten Pacitan.
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Lokasi penelitian berada di kawasan Pantai Klayar yang merupakan salah satu dari 9 (sembilan) destinasi wisata prioritas di Kabupaten Pacitan. Penelitian Sri Yuliani, dkk (2020) mempunyai relevansi dengan tema peneliti khususnya dalam kaitannya dengan Ekowisata Pantai Klayar Pacitan. Penelitian Galih Larasati (2015) relevan dengan tema peneliti khususnya dalam kaitannya dengan Ekowisata Pantai Klayar Pacitan.
Penentuan lokasi penelitian ini dilakukan atas dasar data statistik Pantai Pacitan Kabupaten Klayar mengalami lonjakan pengunjung setiap tahunnya. Hal ini tentunya menjadikan objek wisata Pantai Klayar menjadi tujuan wisata yang digemari wisatawan. Pantai Klayar merupakan destinasi utama peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) di Kabupaten Pacitan.
Prioritas ini didasarkan pada tinjauan kinerja pemerintah Kabupaten Pacitan dan RPJMD sebelumnya yang menetapkan Pantai Klayar sebagai destinasi wisata ekowisata geopark unggulan (RPJMD Kabupaten Pacitan 2016-2021). Masyarakat bukan sekedar penonton, melainkan pelaku usaha dan pengembangan Ekowisata Pantai Klayar di Kabupaten Pacitan. Kondisi tersebut diperkuat dengan wawancara yang dilakukan peneliti dengan pemerintah daerah di Kabupaten Pacitan dan saat konfirmasi lapangan terhadap upaya masyarakat yang dilakukan di Pantai Klayar.
TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan Penelitian Terdahulu
Landasan Konseptual
- Collaborative Governance
- Ekowisata Bahari
- Objek Wisata Pantai Klayar Pacitan
Struktur administrasi dalam kerjasama mempunyai kedudukan sentral untuk mengkoordinasikan komunikasi, pengorganisasian dan penyebaran informasi, serta memungkinkan pihak-pihak yang bekerja sama untuk bersama-sama mengelola hubungannya, begitulah Freitag dan Winkler menyebutnya. Dalam kerjasama, masing-masing aktor akan menunjukkan kesediaan untuk berkomunikasi secara kerjasama jika aktor lain juga menunjukkan kesediaan yang sama. Pada tahap ini akan diidentifikasi beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya partisipasi pihak-pihak yang terlibat dalam suatu kolaborasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi para pihak untuk berpartisipasi dalam suatu proses kolaborasi antara lain: 1).
Dengan komunikasi langsung, para aktor yang terlibat dalam kolaborasi menjadi lebih objektif dalam berinteraksi. Kemenangan kecil ini akan meningkatkan ekspektasi setiap aktor yang bekerja sama sehingga kepercayaan dan komitmen dapat meningkat.
Kerangka Konsep
Jenis lahan pertanian di Kabupaten Pacitan adalah sawah beririgasi seluas 8.565 Ha atau 67%. Tujuan kerjasama yang dilaksanakan dalam program pengembangan pariwisata di Kabupaten Pacitan adalah untuk meningkatkan sasaran kinerja sektor pariwisata daerah. Pengalaman di Kabupaten Pacitan menunjukkan bahwa penguatan komitmen antar operator dalam rangka pengembangan ekowisata di Pantai Klayar penting untuk mengantisipasi ego sektoral antar lembaga dan saling transfer tanggung jawab dalam pembangunan dan pelaksanaan pembangunan.
Ekowisata Pantai Klayar di Kabupaten Pacitan sebagai destinasi wisata unggulan jangka panjang masih memerlukan komitmen dari pelaksana berupa keterlibatan dalam pengembangan jaringan dan upaya inovatif untuk pengembangan lebih lanjut. Menyoroti fokus pengelolaan kolaboratif, selain pola penyeimbangan dampak sosial dan kesejahteraan ekonomi, juga sangat disarankan untuk melihat aspek pelestarian lingkungan dan dukungan masyarakat dalam pengembangan ekowisata Pantai Klayar di Kabupaten Pacitan.
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Surya dan Djumhur menyatakan studi kasus dapat diartikan sebagai suatu teknik mempelajari seseorang secara mendalam untuk membantunya beradaptasi dengan baik. Pada dasarnya penelitian jenis studi kasus dimaksudkan untuk mengetahui sesuatu secara lebih mendalam. Oleh karena itu, dalam penelitian ini peneliti akan menggunakan metode studi kasus untuk menganalisis tata kelola pengembangan pariwisata di Pantai Klayar dari perspektif Collaborative Governance.
Penelitian kualitatif ini juga sangat cocok untuk mengungkap dan memahami sesuatu di balik fenomena yang kurang diketahui (Straus & Corbin, 2003). Penelitian kualitatif ini (Aminuddin, 2002) tidak dimaksudkan untuk memecahkan masalah atau menguji teori, melainkan untuk membangun dan mengartikulasikan pemahaman akumulatif, seperti halnya dalam konteks penelitian ini.
Lokasi Penelitian
Selain itu, penelitian kualitatif juga lebih peka terhadap informasi deskriptif, dan relatif berusaha menjaga keutuhan objek yang diteliti.
Fokus Penelitian
Fase ini membahas tentang kondisi awal yang mempengaruhi perlu atau tidaknya kerjasama. Berbeda dengan tahap pengkajian yang lebih menekankan pada kegiatan analisis kapasitas, tahap inisiasi lebih menekankan pada soft skill pengorganisasian kolaborasi, membangun kolaborasi, dan pembentukan tim (Alexander, 2006 dalam Morse dan Stephens. Kegiatan selanjutnya adalah mengadakan musyawarah dan dialog sebagai bagian dari proses pembelajaran bersama yang bertujuan untuk menciptakan dan mengeksplorasi kemungkinan (Carlson, 2007; Chrislip, 2002; Gray, 2008 (dalam Morse dan Stephens.
Jenis dan Sumber Data
- Jenis Data
- Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif adalah data yang tidak berupa angka-angka, namun berupa deskripsi berupa berbagai informasi mengenai kondisi yang berkaitan dengan bahan penelitian ini, seperti misalnya tentang sinergi pemangku kepentingan, pengembangan wisata halal, dan lain-lain. . Data kuantitatif merupakan data yang berbentuk angka-angka yang dapat dihitung, antara lain data mengenai jumlah kunjungan wisatawan ke destinasi wisata, jumlah biro perjalanan yang menjual paket perjalanan, lama tinggal wisatawan, hal-hal yang menarik bagi wisatawan, jumlah warga dan lain-lain (Antara, 2008).
Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari sumber data pertama dari lokasi penelitian, baik berupa hasil observasi maupun dengan memberikan daftar pertanyaan wawancara mendalam kepada pejabat pemerintah, kelompok Sadar Pariwisata, pakar ekowisata. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh bukan dari sumber langsung, melainkan data yang dikumpulkan oleh orang atau instansi lain.
Informan Penelitian
Teknik Pengumpulan Data
Wawancara merupakan suatu teknik pengumpulan data dimana peneliti bertemu langsung dengan sumber untuk memperoleh informasi yang sesuai dengan data yang berkaitan dengan judul penelitian ini. Observasi adalah suatu cara memperoleh data dengan melakukan pengamatan langsung terhadap objek penelitian dengan menggunakan seluruh indera. Dokumentasi adalah suatu cara yang digunakan untuk mengumpulkan data yang diperoleh dari benda-benda tertulis, seperti buku, jurnal, dokumen, peraturan, risalah rapat, catatan harian, dan lain-lain.
Teknis Analisis Data
Daerah Kabupaten Pacitan yang berbukit/bergunung juga merupakan daerah yang belum banyak terkena dampak kegiatan pembangunan dan modernisasi. Seperti umumnya wilayah lain di Pulau Jawa, Kabupaten Pacitan mempunyai dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Produksi perikanan didominasi oleh perikanan laut yang mencapai 8.860.865 kg atau 94,79% dari produksi ikan di Kabupaten Pacitan.
Dinamika Perkembangan Ekowisata Pantai Klayar Pantai Klayar di Kabupaten Pacitan adalah Pantai Klayar di Kabupaten Pacitan, merupakan kawasan destinasi ekowisata bahari yang terletak di selatan provinsi Jawa Timur, dengan jarak 35-40 kilometer dari pusat kota. Kompleksitas peluang positif dan negatif dalam komitmen pengembangan Ekowisata Pantai Klayar di Kabupaten Pacitan memerlukan kesepakatan bahwa pengembangan dan pengembangan akan dilakukan oleh banyak aktor dan dalam jangka waktu yang panjang.
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
Profil Kabupaten Pacitan
Pada data BPS Kabupaten Pacitan tahun 2020 tercatat musim hujan di Kabupaten Pacitan terjadi pada bulan Februari-April dan November-Desember. Luas panen tanaman cabai di Kabupaten Pacitan memiliki luas panen sebesar 593 hektar, meningkat dibandingkan tahun lalu sebesar 454 hektar. Selain pertanian, hortikultura, dan perkebunan, hasil pertanian Kabupaten Pacitan antara lain peternakan dan unggas.
Kabupaten Pacitan berada di pesisir selatan, sehingga penangkapan ikan di laut menjadi salah satu mata pencaharian warga pesisir. Kabupaten Pacitan mempunyai potensi berupa wisata alam yang terbentang dari pesisir timur Pulau Jawa hingga ke barat.
Dinamika Pengembangan Ekowisata Pantai Klayar 98
- Pola Pembangunan Kepercayaan antar Aktor
- Pemahaman dan Kesepakatan (Common
Prospek kunjungan ke Pantai Klayar pada tahun 2011 hingga tahun 2020 terus meningkat, namun hanya mengalami penurunan pada tahun 2017. Hal ini juga sebagai upaya penguatan karakter ekowisata di Pantai Klayar, serta pola jaringan yang dikembangkan. Tentu saja tudingan tersebut berpotensi menghambat pembangunan dan menghambat tercapainya tujuan pengembangan ekowisata di Pantai Klayar, Pacitan.
Penguatan terbangunnya kepercayaan antar pelaku pelaksana merupakan landasan awal bagi pihak-pihak yang berperan dalam pengembangan ekowisata di Pantai Klayar, Pacitan. Pemahaman dan kesepakatan tersebut dipahami dengan baik oleh para pelaku pelaksana pembangunan di Pantai Klayar secara umum.
Keberpihakan Publik, Partisipasi, dan Konservasi
Pembangunan dan pengembangan ekowisata Pantai Klayar selama ini telah memberikan dampak sosial ekonomi terhadap masyarakat sekitar Kecamatan Onorejo dan Kabupaten Pacitan, khususnya dalam hal pendapatan ekonomi. Hal ini dicapai seiring dengan keputusan pemerintah daerah yang menjadikan ekowisata Pantai Klayar sebagai destinasi wisata unggulan berbasis lokal. Pihak pemerintah daerah dan non-pemerintah, termasuk masyarakat setempat, berkomitmen menjadikan Pantai Klayar sebagai ekowisata berkelanjutan.
Dinamika wisatawan yang berkunjung ke destinasi Ekowisata Pantai Klayar semakin meningkat setiap tahunnya meskipun terjadi penurunan akibat bencana alam. Harapan utamanya adalah tujuan keberlanjutan ekowisata bahari di pantai Klayar dapat terlaksana secara berkelanjutan melalui peran kerjasama antara pemerintah dan pihak non-pemerintah.
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Kesimpulan Rekomendasi Hasil Penelitian
Selain itu, kemajuan yang dicapai saat ini telah menunjukkan dampak positif terhadap sosial ekonomi masyarakat setempat dengan pelestarian alam yang telah dilaksanakan, hal ini hendaknya dapat dipertahankan dan terus ditingkatkan seiring dengan peluang pertumbuhan pariwisata di masa yang akan datang. Penelitian ini menghasilkan implikasi dan data bahwa kerjasama yang dilakukan oleh pemerintah daerah di Kabupaten Pacitan dan lembaga swadaya masyarakat pada umumnya telah menunjukkan dampak yang positif. Namun analisis dan hasil lapangan yang dilakukan peneliti menunjukkan bahwa perlunya perhatian lebih terhadap saling pengertian dan kesepakatan (Common Understanding) dalam kerangka keharmonisan antar pihak, mengingat tantangan yang dihadapi dalam pembangunan dengan banyak aktor adalah banyak. kompleks dan berpotensi menjadi hambatan dalam proses pengembangan dan pengembangan suatu program atau variabel tertentu.
Rekomendasi Penelitian Lanjutan
Tata kelola kolaboratif di Amerika Serikat dan Korea: Contoh pembuatan kebijakan dan pemberian layanan yang dinegosiasikan. Reformasi Administrasi Publik, Reformasi Birokrasi dan Kepemimpinan Masa Depan (Mewujudkan Pelayanan Prima dan Good Governance), Bandung: PT Refika Aditama.