• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kecerdasan Emosional

BAB I PENDAHULUAN

F. Kerangka Teori

6. Kecerdasan Emosional

a. Pengertian kecerdasan emosi

Menurut salovey dan Mayer yang di kutip oleh Lawrence, mengatakan bahwa EQ (Emotional Quotient) merupakan himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan dan emosi baik pada diri sendiri maupun pada orang lain, memilah-milah semuanya, dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan.

Sebenarnya pada tahun 1920, Thorndike meletakkan dasar-dasar teori EQ ( Emotional Quotient), saat ia berbicara tentang teori kecerdasan sosial yang di definisannya sebagai kemampuan untuk berperilaku bijaksana dalam berhubungan dengan sesama manusia.

Namun istilah ini belum di teliti dan dikaji secara mendalam, sampai suatu saat Howardgardner tahun 1983 berbicara tentang apa yang di sebutnya sebagai kecerdasan majmuk. Tampaknya setelah itu, istilah kecerdasan Emosional (Emotional Intelligence) dikenalkan kembali oleh Psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan Johan Mayer dari University of New Hampshire pada tahun 1990.49 Namun pengetahuan tentang kecerdasan emosional baru menyebar luas di masyarakat setelah

49 Makmun Mubayyidh, Kecerdasan dan Kesehatan Emosional Anak (Jakarta: Pustaka Al

Kautsar, 2006), h. 5.

terbitnya buku best seller karya Danial Goleman pada tahun 1995 yang mendefinisikan Emotional Quotient sebagai kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenagan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berfikir, berempati dan berdo’a.50

Istilah Emotional Quotient pada awalnya merupakan pengembangan dari kata emosi yang merujuk pada suatu kecerdasan dalam mengelola emosi secara tepat. Emosi berperan penting karena emosi adalah penyambung hidup bagi kesadaran diri dan kelangsungan diri yang secara mendalam menghubungkan kita dengan diri kita sendiri dan orang lain serta dengan alam dan kosmos. Lebih jauh Goleman berpendapat bahwa emosi merujuk pada suatu perasan dan pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis serta serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi juga dapat digambarkan sebagai suatu keadaan jiwa yang bereaksi terhadap lingkungannya ataupun terhadap kamauan internalnya (motivasi) yang diwujudkan dalam bentuk rasa persepsi dan tingkah laku yang tertentu.51

Sehingga dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Kecerdasan emosional (Emotional Quotient) adalah kemampuan seseorang untuk mengenali perasaannya sendiri dan orang lain, kemampuan untuk beradaptasi pada situasi dan kondisi yang berbeda

50 Daniel Goleman, Emotional Intelligence ...h. 45.

51 Ibid., h.46

dan kemampuan untuk mengendalikan atau menguasai emosi sendiri atau orang lain pada situasi dan kondisi tertentu serta mampu mengendalikan reaksi serta perilakunya. Selanjutnya dalam penelitian ini yang dimaksud dengan kecerdasan emosional adalah kemampuan siswa untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi diri, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain.

b. Kegunaan kecerdasan emosinal

Menurut para ahli sosiologi dalam Golamen menunjuk pada keunggulan perasaan dibandingkan nalar pada saat-saat kritis semacam itu bila mereka menyimpulkan tentang mengapa evolusi menempatkan emosi sebagai titik pusat jiwa manusia. Menurut para ahli tersebut, emosi menuntun kita menghadapi saat-saat kritis dan tugas-tugas yang terlampau riskan bila hanya diserahkan kepada otak, bahaya, kehilangan yang menyedihkan, bertahan mencapai tujuan kendati dilanda kekecewaan, keterikatan dengan pasangan, membina keluarga. Setiap emosi menawarkan pola persiapan tindakan tersendiri, masing-masing menuntun kita ke arah yang telah terbukti berjalan baik ketika menangani tantangan yang berulang-ulang dalam hidup manusia.

Pandangan mengenai kodrat manusia yang mengabaikan kekuatan emosi jelaslah pandangan yang amat picik. Sebutan homo sapiens, spesies yang berpikir, merupakan hal yang keliru dalam pola pemahaman serta visi baru yang ditawarkan oleh sains saat ini tentang emosi dalam

kehidupan kita. Sebagaimana kita tahu dari pengalaman, apabila masalahnya menyangkut pengambilan keputusan dan tindakan, aspek perasaan sama pentingnya dan sering kali lebih penting daripada nalar.

Kita sudah terlampau lama menekankan pentingnya nilai dan makna rasional murni yang menjadi tolok ukur IQ dalam kehidupan manusia.

Bagaimanapun, kecerdasan tidaklah berarti apa-apa bila emosi yang berkuasa.52

c. Faktor / unsur kecerdasan emosional

Sebelumnya perlu di ketahui bahwa, kemutlakan peran IQ (Intelegency Quotient) yang dulu begitu di agung-agungkan kini sedikit tergeser posisinya dengan keberadaan EQ (Emotional Quotient) yang begitu menghebohkan.53 Senada dengan itu, Laurence E Shapiro mengatakan bahwa penelitian-penelitian sekarang menemukan bahwa ketrampilan sosial dan emosional mungkin lebih penting bagi keberhasilan hidup dari pada kemampuan intelektual. Dengan kata lain memiliki EQ tinggi mungkin lebih penting dalam mencapai keberhasilan dari pada IQ tinggi yang hanya di di ukur berdasarkan uji standar tehadap kecerdasan kognitif verbal dan non verbal.54

Sebenarnya ketrampilan EQ bukanlah lawan dari IQ. Namun keduanya bersinergi secara dinamis, baik pada tingkatan konseptual

52 Ibid., h.4-5

53 Ary Ginanjar Agustian, Rahasia sukses Membangun ESQ (Emotional Spiritual Quotient) berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam (Jakarta: Arga, 2001), h. XII.

54 Lawrence E. Shapiro, Mengajarkan Emotional Intelligence pada Anak (Jakarta:Gramedia,1999), h. 20.

maupun di dunia nyata. Idealnya seseorang dapat menguasai ketrampilan kognitif sekaligus ketrampilan sosial dan emosional, sebagaimana di tunjukkan oleh negarawan- negarawan besar dunia.55 Menurut Alfred Binet bersama Theodore Simon, seorang tokoh utama perintis pengukuran intelegensia mendefinisikan bahwa IQ terdiri atas tiga komponen yaitu kemampuan untuk mengarahkan fikiran atau tindakan, kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan tersebut telah di laksanakan, dan kemampuan untuk mengeritik diri sendiri atau melakukan autocriticism.56

Dari komponen yang di miliki IQ tesebut ternyata telah masuk dalam cakupan kajian EQ (Emotional Quotient). Sebagaimana Daniel Goleman menyebutkan bahwa dasar kecakapan emosi dan sosial mencakup unsur-unsur sebagai berikut:57

1) Kesadaran diri mengetahui apa yang kita rasakan pada suatu saat, dan menggunakannya untuk memandu pengambilan keputusan diri sendiri, memiliki tolak ukur yang ralistis atas kemampuan diri dan kepercayaan diri yang kuat.

2) Pengaturan diri menangani emosi kita sedemikian sehingga berdampak positif kepada pelaksanaan tugas, peka terhadap kata hati dan sanggup menunda kenikmatan sebelum tercapai suatu sasran, mampu pulih kembali dalam tekanan emosi.

55 Makmun Mubayyidh, Kecerdasan dan Kesehatan Emosional Anak (Jakarta: Pustaka AlKautsar, 2006), h. 9

56 Saifuddin Azwar, Reliabilitas dan Validitas (Yogyakarta: Pustaka Belajar Offset,1996), h. 5.

57 Daniel Goleman. Emotional Intelligence ..., h. 513-514.

3) Motivasi menggunakan hasrat kita yang paling dalam untuk menggerakan dan menuntun kita menuju sasaran, membantu kita mengambil inisiatif dan bertindak sangat efektif, dan untuk bertahan menghaapi kegagalan dan frustasi.

4) Empati merasakan yang dirasakan orang lain, mampu memahani perspektif mereka, menumbuhkan hubungan saling percaya dan menyelaraskan diri dengan bermacam- macam orang.

5) Keterampilan sosial menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain dan dengan cerat membaca situasi dan jaringan sosial, berinteraksi dengan lancar.

Berdasarkan uraian di atas, penulis mengambil komponen- komponen utama dan prinsip-prinsip dasar dari kecerdasan emosional sebagai teori pendukung untuk instrumen kecerdasan emosional. Seperti Penelitian yang dilakukan oleh Sri indayani, Tri atmojo dkk dengan judul Profil Pemahaman Siswa Terhadap Luas dan Keliling Bangun Datar yang Digunakan dalam Memecahkan Masalah Matematika Ditinjau Dari Keerdasan Emosional. Terdapat perbedaan antara siswa yang antara siswa yang memiliki kecerdasan emosional tinggi dan siswa yang memiliki kecerdasan emosional rendah.

Penelitian yang dilakukan oleh Firdaus Daud dalam jurnal pendidikan dan pembelajaran UNM makassar, tetang “pengaruh kecerdasan emosional (EQ) dan motivasi belajar tehadap hasil belajar Biologi, menunjukkan bahwa kecerdasan emosional dan motifasi belajar

berpengaruh positif dan nyata terhadap prestasi belajar Biologi siswa di SMA Negeri dikota Palopo.

Dari kedua penelitian di atas menggunakan angket untuk menentukan kecerdasan emosional siswa dan dalam penelitian ini penenliti juga akan menggunakan angket untuk mengetahui tingkat kecerdasan emosional anak.

7. Kerangka Berpikir

Kecerdasan emosional (EQ) bekerja secara sinergi dengan kecerdasan intelektual (IQ). Seseorang akan berprestasi tinggi bila memiliki keduanya. Namun apabila seseorang yang tingkat kecerdasan emosionalnya kurang akan mempengaruhi intelektualnya. EQ meningkatkan pada ukuran standar kecerdasan otak atau IQ. IQ tanpa EQ dapat membuat keberhasilan dalam mendapatkan nilai tinggi tetapi tidak membuat berhasil dalam kehidupan. Bila siswa memiliki EQ tinggi, siswa akan mampu memahami pelbagai perasaan secara mendalam ketika perasaan- perasaan ini muncul dan benar-benar dapat mengenali diri sendiri. 58

Kecerdasan emosional dapat mempengaruhi proses belajar siswa yang salah satunya adalah kemampuan menyelesaikan soal. Siswa yang memilik EQ tinggi , belum tentu memiliki kemampuan dan kesalahan yang sama dalam mengerjakan soal. Apalagi siswa yang memiliki EQ

58 Vivi Rosida “Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Hasil Belajar Matematikasiswa Kelas VII Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Makassar “Jurnal Sainsmat”

Vol 4 Nomor 2 September 2015 H.88

rendah , kecenderungan perbedaan kemampuan dan kesalahan yang dimilikinya lebih besar dalam menyelesaikan soal. 59Oleh karena itu, untuk mengetahui kesalahan-kesalahan siswa yang mempunyai kecerdasan emosional (EQ) tinggi dan kecerdasan emosional (EQ) rendah dalam menyelesaiakan soal trigonometri, diidentifikasi kesalahan-kesalahannya pada tiap-tiap langkah pengerjaan dari suatu soal trigonometri.

Kesalahan siswa juga berhubungan dengan bagaimana tingkat kecerdasan siswa dalam mengolah suasana hati, kepercayaan diri dan pengetahuan yang didapat untuk menyelesaikan soal trigonometri. Salah satu kecerdasan yang dimiliki siswa adalah kecerdasan emosional yang merupakan kemampuan yang dimiliki siswa untuk mengelola emosi dalam belajar, baik berkaitan dengan cara penerimaan (pengetahuan) dan mengolah informasi atau mengolah pengetahuan yang diterima, motivasi, percaya diri dan cara pemecahan masalah. Kecerdasan emosional terdiri dari kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi, empati, dan keterampila sosial. Siswa yang memiliki EQ tinggi lebih cenderung paham terhadap dirinya sehingga ketika merasa kesulitan tidak segan untuk bertanya dan tidak mudah menyerah. Siswa yang memiliki EQ rendah cenderung tidak percaya diri dan mudah menyerah dalam mengerjakan soal maupun dalam proses belajarnya. Proses untuk menyelesaikan soal trigonometri diperlukan serangkaian langkah-langkah penyelesaian. Jika salah satu atau lebih langkah-langkah penyelesaian yang digunakan siswa untuk

59 Daniel Goleman emotional ...47

menyelesaikan soal trigonometri, maka akan menyebabkan siswa mengalami kesalahan dalam melakukan proses penyelesaian dari suatu soal trigonometri. Adapun kesalahan-kesalahan yang akan diidentifikasi dalam menyelesaikan soal trigonometri, antara lain: (1) kesalahan membaca soal, (2) kesalahan memahami masalah, (3) kesalahan transformasi (4) kesalahan keterampilan proses (5) kesalahan penulisan jawaban. Kesalahan siswa dalam mengerjakan soal perlu diungkap sebagai bahan untuk evaluasi atau perbaikan guru dalam proses belajar mengajar, guru bisa bisa lebih menekankan pembelajaran pada letak kesalahan siswa dan lebih banyak memberikan latihan- latihan.

Keberagaman kemampuan dalam menaggapi respon yang berkaitan dengan pengelolaan emosi dalam aktivitas yang dilakukan siswa selama di sekolah maupun di luar sekolah. Selain dipengeruhi kecerdasan intelektual dan landasan spiritual, masing-masing siswa penting memilik tingkat kecerdasan emosional yang baik agar kematangan dalam merespon suatu permasalahan akan terarah dalam perilaku yang positif. Analisis kesalahan ini merujuk pada teori yng di kembangkan oleh mewman (clement,1980

Bagan Kerangka Berfikir

G. Metode penelitian

1. Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan mixed method. Mixed method menurut Creswell yaitu suatu langkah penelitian dengan menggabungkan dua bentuk pendekatan dalam penelitian yaitu kuanitatif dan kualitatif. 60

2. Kehadiran Peneliti

Kehadiran peneliti dalam penelitian kualitatif berperan sebagai instrumen kunci, di mana peneliti hendaknya terjun langsung ke lapangan

60 John Creswell, Research Design Pendekatan Kualitatif, kuantitatif, dan mixed (yogyakarta :prustaka pelajar, 2014),h.5 dalam batukehidupan.blogspot.com/2015 diakses pada tanggal 15 juli 2018

Siswa

Kecerdasan Emosional

Kecerdasan Intelektual

Proses penyelesaian

Hasil

mat Materi Trigonometri

dan memang harus dilakukan oleh peneliti sendiri, sebab peneliti akan lebih banyak berbicara tentang fenomena-fenomena atau realita di lapangan yang riil apa adanya.61

Dalam hal kehadiran peneliti di lapangan bukan bertujuan mempengaruhi subjek yang diteliti, akan tetapi hanya untuk mendapatkan data-data yang akurat mengenai hal-hal yang ingin diperoleh dan dicapai oleh peneliti sendiri. Dengan demikian, peneliti di dalam memperoleh data-data tidak menyimpang dari keadaan yang sebenarnya.

3. Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di MA Dakwah Islamiyah Putri Nurul Hakim Kediri, dengan responden yang akan peneliti pilih ialah kelas X.IPA 1

4. Instrumen Penelitian

a. Angket kecerdasan emosinal

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket kecerdasan emosional. Instrumen kecerdasan emosional mengelompokkan siswa menjadi dua yaitu kecerdasan emosional tinggi, dan kecerdasan emosional rendah.

Ketentuan penilaian dalam skala likert unuk mengukur pendapatdan persepsi seseorang atau kelompok orang tentang fenomenal sosial. Dengan skala likert, maka variabel yang akan diukur

61Tim Penyususn, Pedoman Penulisan Skripsi IAIN Mataram(Mataram:IAIN Mataram 2015), h.51.

dijabarkan menjai indikator variabel. Jawaban setiapitem instrumen yang menggunakan skala likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai dengan negatif. sistem penilaian skala dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1) Item positif : sangat setuju (4), setuju (3), tidak setuju (2), sangat tidak setuju (1)

2) Item negatif : sangat setuju (1), setuju (2), tidak setuju (3), sangat tidak setuju (4).62

b. Soal trigonometri/ Instrumen Tes

Soal trigonometri dalam penelitian ini merupakan instrumen bantu yang akan digunakan pada metode pengumpulan data dengan tes. Tes yang akan digunakan berbentuk soal subjektif atau uraian, yaitu soal yang jawabannya menuntut peserta tes untuk mengorganisasikan setiap langkah penyelesaian dari soal yang diberikan pada tes uraian yang terdiri dari 3 soal. Materi yang digunakan untuk menyusun tes adalah materi trigonometri.

Adapun langkah-langkah penyusunan instrumen tes adalah sebagai berikut.

1) Pembatasan terhadap materi yang diteskan.

Materi yang diteskan adalah materi trigonometri 2) Menentukan bentuk soal.

62 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D (Bandung : Alfabet 2010), h. 93.

Soal yang digunakan untuk tes merupakan soal yang berbentuk soal cerita/ uraian

3) Menentukan waktu yang disediakan.

Waktu yang disediakan untuk mengerjakan soal tes adalah 60 menit

4) Menentukan jumlah soal.

Jumlah soal yang diteskan sebanyak 3 soal 5) Menentukan kisi-kisi soal.

Soal yang dibuat, disesuaikan dengan kisi-kisi soal 5. Sumber Data

Data utama dalam penelitian ini kualitatif ialah kata- kata dan tindakan selbihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain- lain.

Berkaitan dengan hal tersebut, sumber dan jenis kualitatif adalah observasi, wawancara, dokumen pribadi dan resmi, foto, rekaman, gambar dan percakapan informal.63

Sumber data dalam penelitian ini adalah data hasil angket kecerdasan emosional siswa yang akan menggolongkan siswa ke tipekecerdasan emosional tinggi atau rendah, data hasil tes siswa yang akan berupa kesalahan-keslahan siswa dalam menyelesaikan soaltrigonometri, dan hasil wawancara mengenai kesalahan yang akan dialami siswa dalam menyelesaikan soal pertidaksamaan rasional.

63 Emzir, Metedologi Penelitian Kualitatif: Analisis Data, k(Jakarta: Rajawali Pers,2010), h. 37.

Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X IPA 1 MA Dakwah Islamiyah Putri Nurul Hakim Kediri yang mengalami kesulitan dan kesalahan dalam menyelesaikan soal trigonometri. Penentuan subjek yang akan diwawancarai menggunakan purposive sampling (sampel bertujuan), yaitu subjek dipilih dengan pertimbangan dan tujuan tertentu.64

6. Prosedur Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data.65 Teknik pengumpulan data pada rancangan penelitian ini adalah tes dan wawancara.

a. Kuesioner (angket)

Kuesioner merupaka teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyatan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.

Pemberian angket dilakukan untuk mempermudah peneliti untuk mengukur kecerdasan emosional siswa, dan menjadi responden dalam pengisian angket adalah siswa X IPA1 MA Dakwah Islamiyah Putri kediri sebanyak 20 orang.

Tabel. 2 Kisi-kisi angket kecerdasan emosional No Variabel

Indikator Sub indikator Nomor item

Jumlah + -

64 Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2013), hlm. 52.

65 Ibid., hlm. 224.

1 Kecerdasan emosional

-Kesadaran diri

1) Menyeadari emosi yang dirasakan

1 4 3

2) Menyadari penyebab emosi yang dirasakan

7

-Pengaturan diri

1) Mampu mengelola emosi

2 8 3

2) Mampu memulihka n emoi negatif

9

-Motivasi 1) Optimis 10 11 3 2) Mampu

bangkit dari kegagalan

3

-Empati 1) Peka membaca reaksi emosi orang lain

5,12 15 3

-Keterampilan sosial

1) Mampu menangani perelisihan yang muncul

6,16 5 3

Total 10 5 15

b. Metode Tes

Metode tes adalah cara pengumpulan data yang menghadapkan sejumlah pertanyaan-pertanyaan atau intruksi-intruksi kepada subyek.

Tes merupakan suatu alat pengumpul informasi yang bersifat resmi karena penuh dengan batasan-batasan yang disusun secara sistematis dan obyektif, berbentuk tugas yang terdiri dari pertanyaan/perintah yang diberikan kepada individu/kelompok. Bahwa dengan tes dan

waktu yang singkat dapat diperoleh keterangan-keterangan yang diperlukan.66

Adapun bentuk tes yang akan diberikan kepada siswa pada penelitian ini adalah Tes soal uraian diberikan setelah materi trigonometri selesai dipelajari, dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman tentang materi yang sudah dipelajari, yaitu materi trigonometri. Masing-masing siswa diberikan selembar soal yang berisi tiga (3) butir soal untuk dijawab sesuai dengan petunjuk yang ada pada soal tersebut.

c. Wawancara

Wawancara adalah proses untuk memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara si penanya atau pewawancara dengan si penjawab atau responden/

panduan wawancara.

Menurut Hasan (1963) dalam Garabiyah (1981:43) yang dikutip Emzir dalam bukunya yang berjudul “Metodologi Penelitian Kualitatif, Analisis Data” menyatakan bahwa

Wawancara dapat didefinisikan sebagai interaksi Bahasa yang berlangsung antara dua orang dalam situasi saling berhadapan salah seorang, yaitu yang melakukan wawancara meminta informasi atau ungkapan kepada orang yang diteliti yang berputar di sekitar pendapat dan keyakinannya.67

Adapun bentuk wawancara yang akan dilakukan dalam penelitian ini yaitu, berbentuk wawancara yang tidak terstruktur ketat melainkan

66 Sulistyorini, Evaluasi Pendidikan, (Yogyakarta: Teras, 2009), hlm. 87.

67 Emzir, Metodologi Penelitian Kualitatif, Analisis Data, (Jakarta: Rajawali Pers, 2010), hlm. 50.

berbentuk wawancara mendalam. Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan.68

Tabel 3. Kisis-kisi pedoman wawancara berdasarkan teori Newman

No. Indikator

1 Cara siswa dalam membaca soal trigonometri yang diberikan Pemahaman siswa terhadap soal trigonometri yang diberikan.

2 Rencana yang akan dilakukan siswa untuk menyelesaikan soal trigonometri.

3 Mentrasformasi soal cerita trigonometri ke betuk matematis 4 Kemampuan keteampilan siswa dalam proses penyelesaian

yang akan dilakukan untuk menyelesaikan soal trigonometri.

5 Penulisan jawaban yang dilakukan siswa terhadap solusi yang didapat.

Wawancara atau percakapan dilakukan pada minimal dua siswa yang kecerdasan emosioanal tinggi, serta minimal dua siswa yang kecerdasan emosional rendah yang akan dianalisis kesalahan yang dilakukan sesuai dengan lembar jawaban masing-masing. Siswa tersebut dipilih berdasarkan cluster sampel (sampel kelompok), yaitu subjek dipilih dengan pertimbangan dan tujuan tertentu. Melalui wawancara ini peneliti akan mengetahui penyebab siswa melakukan kesalahan ketika menjawab soal trigonometri yang ditinjau dari kecerdasan emosional.

68 Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2013), hlm. 74.

7. Teknik Analisis Data a. Angket

Ketentuan penilaian dalam skala likert unuk mengukur pendapatdan persepsi seseorang atau kelompok orang tentang fenomenal sosial. Dengan skala likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjai indikator variabel. Jawaban setiapitem instrumen yang menggunakan skala likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai dengan negatif. sistem penilaian skala dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

3) Item positif : sangat setuju (4), setuju (3), tidak setuju (2), sangat tidak setuju (1)

4) Item negatif : sangat setuju (1), setuju (2), tidak setuju (3), sangat tidak setuju (4).69

b. Analisis hasil tes siswa dalam menyelesaikan soal trigonometri Analisis hasil tes siswa dalam menyelesaikan soal trigonometri dengan menggunakan teori newman yaitu membaca soal, memahami masalah, transformasi, keterampilan proses dan penulisan jawaban c. wawancara

Teknik Analisis data kualitatif yang akan peneliti gunakan pada penelitian ini adalah menggunakan model Miles and Huberman yaitu melalui tiga proses antara lain: reduksi data (data reduction), penyajian

69 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D (Bandung : Alfabet 2010), h. 93.

data (data display) dan penarikan kesimpulan (Conclusion Drawing)/verifikasi.

a. Reduksi data

Data hasil tes dan data hasil wawancara akan dibandingkan untuk mendapatkan data yang valid, kemudian dilakukan reduksi data yang berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya.70 Proses reduksi data bertujuan untuk menghindari penumpukan data/informasi dari siswa, kemudian data yang sudah valid disediakan.

b. Penyajian data

Setelah data direduksi, langkah selanjutnya adalah menyajikan data. “Penyajian data dapat dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart, dan sejenisnya”71. Namun yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif. Dengan menyajikan data, maka akan memudahkan peneliti untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah difahami tersebut.

c. Penarikan Kesimpulan (Conclusion Drawing)/Verifikasi

Langkah ketiga dalam analisis data menurut Miles and Huberman adalah penarikan kesimpulan.

70 Ibid., h. 247

71 Ibid., h. 249

Dokumen terkait