• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEGIATAN BELAJAR 6

Dalam dokumen Kalkulus peubah banyak (Halaman 96-119)

BAB II. TURUNAN PARSIAL

D. KEGIATAN BELAJAR 6

D. KEGIATAN BELAJAR 6

Jika C adalah adalah kurva terletak pada permukaan S dan melalui titik P, maka garis singgung C pada titik P juga terletak pada bidang singgung dari S. Dapat kita pahami bahwa bidang singgung dari S di titik P terdiri dari seluruh garis singgung yang mungkin pada P terhadap kurva yang terletak pada S dan melalui P. Bidang singgung pada P adalah bidang yang paling mendekati permukaan S di dekat titik P.

Persamaan garis yang melalui titik ๐‘ƒ(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0, ๐‘ง0) memiliki persamaan dalam bentuk

๐ด(๐‘ฅ โˆ’ ๐‘ฅ0) + ๐ต(๐‘ฆ โˆ’ ๐‘ฆ0) + ๐ถ(๐‘ง โˆ’ ๐‘ง0) = 0

Dengan membagi persamaan di atas dengan C dan andaikan ๐‘Ž =

โˆ’ ๐ด ๐ถโ„ dan ๐‘ = โˆ’ ๐ต ๐ถโ„ , maka kita dapat menulis persamaan di atas menjadi

๐‘ง โˆ’ ๐‘ง0 = ๐‘Ž(๐‘ฅ โˆ’ ๐‘ฅ0) + ๐‘(๐‘ฆ โˆ’ ๐‘ฆ0) ...(1)

Jika persamaan (1) merepresentasikan bidang singgung di titik P, maka perpotongannya dengan bidang ๐‘ฆ = ๐‘ฆ0 haruslah merupakan garis singgung ๐‘‡1. Maka persamaan (1) memberikan

๐‘ง โˆ’ ๐‘ง0 = ๐‘Ž(๐‘ฅ โˆ’ ๐‘ฅ0) ketika ๐‘ฆ = ๐‘ฆ0

Persamaan ini adalah persamaan garis dengan kemiringan a.

Karena garis singgung ๐‘‡1 = ๐‘“๐‘ฅ(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0), maka ๐‘Ž = ๐‘“๐‘ฅ(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0).

Dengan cara yang sama, untuk ๐‘ฅ = ๐‘ฅ0) didapatkan persamaan ๐‘ง โˆ’ ๐‘ง0 = ๐‘(๐‘ฆ โˆ’ ๐‘ฆ0) yaitu persamaan garis dengan kemiringan b.

Karena garis singgung ๐‘‡2 = ๐‘“๐‘ฆ(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0), maka ๐‘ = ๐‘“๐‘ฆ(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0).

Misalkan f memiliki turunan parsial yang kontinu. Persamaan bidang singgung ๐‘ง = ๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) di titik ๐‘ƒ(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0, ๐‘ง0) adalah

๐‘ง โˆ’ ๐‘ง0 = ๐‘“๐‘ฅ(๐‘ฅ โˆ’ ๐‘ฅ0) + ๐‘“๐‘ฆ(๐‘ฆ โˆ’ ๐‘ฆ0)

Contoh 1

Tentukan bidang singgung paraboloid eliptik ๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) = 2๐‘ฅ2+ ๐‘ฆ2 di titik (1, 1, 3).

Penyelesaian

Kita dapatkan turunan parsial f adalah

๐‘“๐‘ฅ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) = 4๐‘ฅ maka untuk (1,1) didapat ๐‘“๐‘ฅ(1,1) = 4 ๐‘“๐‘ฆ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) = 2๐‘ฆ maka untuk (1,1) didapat ๐‘“๐‘ฆ(1,1) = 2

Sehingga didapatkan persamaan bidang singgung f di titik (1, 1, 3) adalah

๐‘ง โˆ’ 3 = 4(๐‘ฅ โˆ’ 1) + 2(๐‘ฆ โˆ’ 1) ๐‘ง = 4๐‘ฅ + 2๐‘ฆ โˆ’ 3

Gambar 2.22 (a) berikut adalah grafik paraboloid eliptik f dan bidang singgungnya di titik (1, 1, 3)

Gambar 2.24 Tampilan f yang diperbesar terhadap titik (1,1,3) Gambar 2.22 (b) dan (c) adalah tampilan grafik f yang diperbesar terhadap titik (1, 1, 3), sehingga pada Gambar 2.22 (c) didapat grafik yang mendatar yang diperkirakan merupakan bidang singgungnya.

Gambar 2.23 adalah peta kontur ๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) = 2๐‘ฅ2+ ๐‘ฆ2 yang diperbesar tampilannya pada titik (1, 1), sehingga kurva-kurva ketinggiannya menyerupai garis-garis yang sejajar.

Gambar 2.25 Peta kontur f yang diperbesar terhadap titik (1,1,3) Aproksimasi Linier

Pada Contoh 1 kita dapatkan persamaan bidang singgung ๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) = 2๐‘ฅ2+ ๐‘ฆ2 di titik (1, 1, 3) adalah ๐‘ง = 4๐‘ฅ + 2๐‘ฆ โˆ’ 3.

Berdasarkan pandangan visual pada Gambar 2.23 dan 2.24, diperoleh fungsi dua peubah yang merupakan aproksimasi terhadap ๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) ketika (๐‘ฅ, ๐‘ฆ) mendekati (1, 1), yaitu:

๐ฟ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) = 4๐‘ฅ + 2๐‘ฆ โˆ’ 3

Fungsi L dinamakan linierisasi fungsi f pada (1, 1) dan aproksimasi

๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) โ‰ˆ 4๐‘ฅ + 2๐‘ฆ โˆ’ 3

dinamakan aproksimasi linier atau aproksimasi bidang singgung f pada (1, 1).

Secara umum, persamaan bidang singgung fungsi dua peubah f pada titik (a, b) adalah

๐‘ง = ๐‘“(๐‘Ž, ๐‘) + ๐‘“๐‘ฅ(๐‘Ž, ๐‘)(๐‘ฅ โˆ’ ๐‘Ž) + ๐‘“๐‘ฆ(๐‘Ž, ๐‘)(๐‘ฆ โˆ’ ๐‘)

Fungsi linier dimana grafik merupakan bidang singgungnya, dinyatakan sebagai

๐ฟ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) = ๐‘“(๐‘Ž, ๐‘) + ๐‘“๐‘ฅ(๐‘Ž, ๐‘)(๐‘ฅ โˆ’ ๐‘Ž) + ๐‘“๐‘ฆ(๐‘Ž, ๐‘)(๐‘ฆ โˆ’ ๐‘) dinamakan linierisasi fungsi f pada titik (a, b) dan aproksimasi

๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) โ‰ˆ ๐‘“(๐‘Ž, ๐‘) + ๐‘“๐‘ฅ(๐‘Ž, ๐‘)(๐‘ฅ โˆ’ ๐‘Ž) + ๐‘“๐‘ฆ(๐‘Ž, ๐‘)(๐‘ฆ โˆ’ ๐‘) dinamakan aproksimasi linier atau aproksimasi bidang singgung f pada titik (a, b).

Pertimbangkan fungsi dua peubah z = f(x, y) dan andaikan x berubah dari a ke ๐‘Ž + โˆ†๐‘ฅ dan y berubah dari b ke ๐‘ + โˆ†๐‘ฆ. Maka increment (penambahan) yang berkorespondensi dengan z adalah

โˆ†๐‘ง = ๐‘“(๐‘Ž + โˆ†๐‘ฅ, ๐‘ + โˆ†๐‘ฆ) โˆ’ ๐‘“(๐‘Ž, ๐‘)

Increment โˆ†๐‘ง merepresentasikan perubahan nilai f ketika (x, y) berubah dari (a, b) menjadi (๐‘Ž + โˆ†๐‘ฅ, ๐‘ + โˆ†๐‘ฆ). Sehingga kita dapat mendefinisikan keterdiferensialan suatu fungsi dua peubah sebagai berikut

Kadangkala sulit menggunakan definisi di atas untuk mengecek keterdiferensialan suatu fungsi. Teorema berikut memberikan suatu kondisi yang lebih mudah untuk mengetahui keterdiferensialan.

Contoh 2

Tunjukkan bahwa ๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) = ๐‘ฅ๐‘’๐‘ฅ๐‘ฆdapat didiferensialkan di (1, 0) dan temukan linierisasi pada titik tersebut. Kemudian gunakan aproksimasi f(1.1, -0.1).

Penyelesaian

Turunan parsialnya adalah ๐‘“๐‘ฅ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) = ๐‘’๐‘ฅ๐‘ฆ+ ๐‘ฅ๐‘ฆ๐‘’๐‘ฅ๐‘ฆ

๐‘“๐‘ฅ(1,0) = ๐‘’(1)(0)+ (1)๐‘’0 = ๐‘’0+ 0 = 1 ๐‘“๐‘ฆ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) = ๐‘ฅ2๐‘’๐‘ฅ๐‘ฆ

๐‘“๐‘ฆ(1, 0) = 12๐‘’(1)(0) = 1 Teorema

Jika turunan parsial ๐‘“๐‘ฅ dan ๐‘“๐‘ฅ berada di dekat (a, b) dan kontinu di (a, b), maka f dapat didiferensialkan di (a, b) Definisi

Jika z = f(x, y), maka f terdiferensialkan di (a, b) apabila โˆ†๐‘ง diekspresikan dalam bentuk

โˆ†๐‘ง = ๐‘“๐‘ฅ(๐‘Ž, ๐‘) + ๐‘“๐‘ฆ(๐‘Ž, ๐‘) + ๐œ€1โˆ†๐‘ฅ + ๐œ€2โˆ†๐‘ฆ

dimana ๐œ€1 dan ๐œ€2 โ†’ 0 sebagai (โˆ†๐‘ฅ, โˆ†๐‘ฆ) โ†’ (0,0)

Karena ๐‘“๐‘ฅ dan ๐‘“๐‘ฆ adalah fungsi yang kontinu, maka f dapat didiferensialkan. Linierisasinya adalah

๐ฟ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) = ๐‘“(1,0) + ๐‘“๐‘ฅ(1,0)(๐‘ฅ โˆ’ 1) + ๐‘“๐‘ฆ(1,0)(๐‘ฆ โˆ’ 0) = 1 + 1(๐‘ฅ โˆ’ 1) + 1 โˆ™ ๐‘ฆ = ๐‘ฅ + ๐‘ฆ

Sedangkan aproksimasi liniernya adalah

๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) โ‰ˆ ๐‘“(1,0) + ๐‘“๐‘ฅ(1,0)(๐‘ฅ โˆ’ 1) + ๐‘“๐‘ฆ(1,0)(๐‘ฆ โˆ’ 0) ๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) โ‰ˆ ๐‘ฅ + ๐‘ฆ

Sehingga

๐‘“(1.1, โˆ’0.1) โ‰ˆ 1.1 + (โˆ’0.1) = 1 ((1.1)๐‘’(1.1)(โˆ’0.1)โ‰ˆ 1 Kita bandingkan dengan nilai aktual

๐‘“(1.1, โˆ’0.1) = (1.1)๐‘’(1.1)(โˆ’0.1) = 1.1๐‘’โˆ’0.11 โ‰ˆ 0.9854

Diferensial Total

Untuk fungsi satu peubah y = f(x) yang dapat didiferensialkan, kita dapat mendefinisikan diferensial dx sebagai sebuah variabel independen, artinya dx dapat diberi nilai jika ada bilangan riil.

Maka diferensial y didefinisikan sebagai ๐‘‘๐‘ฆ = ๐‘“โ€ฒ(๐‘ฅ)๐‘‘๐‘ฅ

Pada fungsi dua variabel z = f(x, y) yang dapat didiferensialkan, kita dapat mendefinisikan diferensial dx dan dy sebagai variabel independen. artinya dx dan dy dapat diberi nilai jika ada bilangan riil. Maka diferensialkan dz, juga dinamakan diferensial toal, yang didefinisikan sebagai

Jika ๐‘‘๐‘ฅ = โˆ†๐‘ฅ = ๐‘ฅ โˆ’ ๐‘Ž dan ๐‘‘๐‘ฆ = โˆ†๐‘ฆ = ๐‘ฆ โˆ’ ๐‘, maka diferensial z menjadi

๐‘‘๐‘ง = ๐‘“๐‘ฅ(๐‘Ž, ๐‘)(๐‘ฅ โˆ’ ๐‘Ž) + ๐‘“๐‘ฆ(๐‘Ž, ๐‘)(๐‘ฆ โˆ’ ๐‘) ๐‘‘๐‘ง = ๐‘“๐‘ฅ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ)๐‘‘๐‘ฅ + ๐‘“๐‘ฆ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ)๐‘‘๐‘ฆ = ๐œ•๐‘ง

๐œ•๐‘ฅ๐‘‘๐‘ฅ +๐œ•๐‘ง

๐œ•๐‘ฆ๐‘‘๐‘ฆ

Sehingga aproksimasi linier dapat ditulis sebagai ๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) โ‰ˆ ๐‘“(๐‘Ž, ๐‘) + ๐‘‘๐‘ง

Contoh 3

a. Jika ๐‘ง = ๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) = ๐‘ฅ2 + 3๐‘ฅ๐‘ฆ โˆ’ ๐‘ฆ2, tentukan diferensial dz.

b. Jika x berubah dari 2 ke 2.05 dan y berubah dari 3 ke 2.96, bandingkan nilai โˆ†๐‘ง dan dz.

Penyelesaian

a. Diferensial total dz dinyatakan sebagai ๐‘‘๐‘ง =๐œ•๐‘ง

๐œ•๐‘ฅ๐‘‘๐‘ฅ +๐œ•๐‘ง

๐œ•๐‘ฆ๐‘‘๐‘ฆ

= (2๐‘ฅ + 3๐‘ฆ)๐‘‘๐‘ฅ + (3๐‘ฅ โˆ’ 2๐‘ฆ)๐‘‘๐‘ฆ

b. Substitusi ๐‘ฅ = 2, ๐‘‘๐‘ฅ = โˆ†๐‘ฅ = 2.05 โˆ’ 2 = 0.05, ๐‘ฆ = 3 dan ๐‘‘๐‘ฅ = โˆ†๐‘ฅ = 2.96 โˆ’ 3 = โˆ’0.4, sehingga kita dapatkan

๐‘‘๐‘ง = (2 โˆ™ 2 + 3 โˆ™ 3)(0.05) + (3 โˆ™ 2 โˆ’ 2 โˆ™ 3)(โˆ’0.04) = (13)(0.05) + (0)(โˆ’0.04) = 0.65

Perubahan z adalah

โˆ†๐‘ง = ๐‘“(2.05, 2.96) โˆ’ ๐‘“(2, 3)

= [(2.05)2+ 3(2.05)(2.96) โˆ’ (2.96)2] โˆ’ [(2)2+ 3(2)(3) โˆ’ (3)2]

= 0.6449

Perhatikan bahwa โˆ†๐‘ง โ‰ˆ ๐‘‘๐‘ง, tetapi dz lebih mudah dihitung Fungsi Tiga Peubah atau Lebih

Aproksimasi linier, keterdiferensial dan diferensial pada fungsi ini dapat didefinisikan sebagaimana pada fungsi dua peubah.

Aproksimasai linier pada fungsi tiga peubah diekspresikan sebagai

๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ, ๐‘ง) โ‰ˆ ๐‘“(๐‘Ž, ๐‘, ๐‘) + ๐‘“๐‘ฅ(๐‘Ž, ๐‘, ๐‘)(๐‘ฅ โˆ’ ๐‘Ž)

+๐‘“๐‘ฆ(๐‘Ž, ๐‘, ๐‘)(๐‘ฆ โˆ’ ๐‘) + ๐‘“๐‘ง(๐‘Ž, ๐‘, ๐‘)(๐‘ง โˆ’ ๐‘) Jika ๐‘ค = ๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ, ๐‘ง), maka increment dari w adalah

โˆ†๐‘ค = ๐‘“(๐‘Ž + โˆ†๐‘ฅ, ๐‘ + โˆ†๐‘ฆ, ๐‘ + โˆ†๐‘ง) โˆ’ ๐‘“(๐‘Ž, ๐‘, ๐‘)

Diferensial total dw didefinisikan sebagai

๐‘‘๐‘ค = ๐‘“๐‘ฅ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ, ๐‘ง)๐‘‘๐‘ฅ + ๐‘“๐‘ฆ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ, ๐‘ง)๐‘‘๐‘ฆ + ๐‘“๐‘ง(๐‘ฅ, ๐‘ฆ, ๐‘ง)๐‘‘๐‘ง

=๐œ•๐‘ค

๐œ•๐‘ฅ๐‘‘๐‘ฅ +๐œ•๐‘ค

๐œ•๐‘ฆ๐‘‘๐‘ฆ +๐œ•๐‘ค

๐œ•๐‘ง๐‘‘๐‘ง

b. Turunan Berarah dan Vektor Gradien

Peta cuaca pada Gambar 2.24 menunjukkan peta kontur fungsi suhu T(x, y) untuk wilayah California dan Nevada pada pukul 0.3.00 PM di suatu hari pada bulan Oktober. Kurva ketinggian atau isotermal menghubungkan lokasi dengan suhu yang sama.

Misalkan kita pilih wilayah Reno, maka turunan parsial ๐‘‡๐‘ฅ pada suatu lokasi adalah rata-rata perubahan suhu terhadap jarak jika kita bepergian ke arah timur dari Reno. ๐‘‡๐‘ฆ adalah rata-rata perubahan suhu terhadap jarak jika kita bepergian ke arah utara.

Tapi bagaimana jika kita ingin mengetahui rata-rata perubahan suhu ketika kita akan bepergian ke arah tenggara (menuju ke Las Vegas), atau menuju ke arah yang lain? Untuk menyelesaikan masalah tersebut kita gunakan Turunan Berarah, yang memungkinkan kita untuk menemukan rata-rata perubahan suatu fungsi dua peubah atau lebih pada berbagai arah.

Gambar 2.24 Peta kontur fungsi suhu T(x, y) di California dan Nevada pada bulan Oktober

Turunan Berarah

Jika z = f(x, y) maka turunan parsial ๐‘“๐‘ฅ dan ๐‘“๐‘ฆ didefinisikan sebagai ๐‘“๐‘ฅ(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0) = lim

โ„Žโ†’0

๐‘“(๐‘ฅ0+ โ„Ž, ๐‘ฆ0) โˆ’ ๐‘“(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0) โ„Ž

๐‘“๐‘ฆ(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0) = lim

โ„Žโ†’0

๐‘“(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0+ โ„Ž) โˆ’ ๐‘“(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0) โ„Ž

Kedua formula tersebut merepresentasikan rata-rata perubahan z pada arah x dan y, yaitu arah pada vektor satuan i dan j.

Misalkan kita ingin mengetahui rata-rata perubahan z pada titik (๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0) pada arah vektor satuan ๐ฎ = โŒฉ๐‘Ž, ๐‘โŒช. Pertimbangkan permukaan S dengan persamaan ๐‘ง = ๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) dan andaikan ๐‘ง0 = ๐‘“(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0) maka titik ๐‘ƒ(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0) melalui S. Bidang vertikal yang melalui P pada arah u memotong S pada suatu kurva C (sebagaimana pada Gambar 2.25). Kemiringan garis singgung T terhadap C pada titik P adalah rata-rata perubahan z pada arah u.

Jika Q(x, y, z) adalah titik lain di C. Sedangkan Pโ€™dan Qโ€™ adalah proyeksi dari P dan Q pada bidang-xy. Maka vektor ๐‘ƒ๐‘„โƒ—โƒ—โƒ—โƒ—โƒ—โƒ— paralel dengan u, sehingga

๐‘ƒ๐‘„โƒ—โƒ—โƒ—โƒ—โƒ—โƒ— = โ„Ž๐ฎ = โŒฉโ„Ž๐‘Ž, โ„Ž๐‘โŒช

untuk beberapa skalar h.

Oleh karena itu ๐‘ฅ โˆ’ ๐‘ฅ0 = โ„Ž๐‘Ž dan ๐‘ฆ โˆ’ ๐‘ฆ0 = โ„Ž๐‘, maka ๐‘ฅ = ๐‘ฅ0+ โ„Ž๐‘Ž dan ๐‘ฆ = ๐‘ฆ0+ โ„Ž๐‘, sehingga

โˆ†๐‘ง

โ„Ž = ๐‘ง โˆ’ ๐‘ง0

โ„Ž =๐‘“(๐‘ฅ0+ โ„Ž๐‘Ž, ๐‘ฆ0+ โ„Ž๐‘) โˆ’ ๐‘“(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0) โ„Ž

Jika kita mabil limitnya untuk โ„Ž โ†’ 0, kita dapatkan rata-rata perubahan z (terhadap jarak) pada arah u, yang dinamakan turunan berarah f pada arah u.

Gambar 2.25 Kemiringan garis singgung T terhadap C pada titik P

Jika ๐ฎ = ๐ข = โŒฉ1,0โŒช, maka ๐ท๐‘–๐‘“ = ๐‘“๐‘ฅ. Dan jika ๐ฎ = ๐ฃ = โŒฉ0, 1โŒช, maka ๐ท๐‘—๐‘“ = ๐‘“๐‘ฆ. Dengan kata lain, turunan parsial f terhadap x dan y adalah kasus khusus dari turunan berarah.

Contoh 4

Gunakan Gambar 2.24 untuk mengestimasi nilai turunan berarah fungsi suhu (temperatur) pada wilayah Reno menuju ke arah tenggara (atau arah ke Las Vegas).

Penyelesaian

Kita dapat memperkirakan turunan berarah DuT dengan menghitung rata-rata perubahan suhu antara titik dimana garis berpotongan dengan kurva ketinggian atau isotermal T = 50 dan T

Definisi

Turunan berarah f di titik ๐‘ƒ(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0) pada arah ๐ฎ = โŒฉ๐‘Ž, ๐‘โŒช

adalah

๐ท๐‘ข๐‘“(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0) = lim

โ„Žโ†’0

๐‘“(๐‘ฅ0+โ„Ž๐‘Ž,๐‘ฆ0+โ„Ž๐‘)โˆ’๐‘“(๐‘ฅ0,๐‘ฆ0)

โ„Ž

Jika limitnya ada

= 60. Suhu pada titik tenggara dari Reno adalah T = 60๏‚ฐF dan suhu pada titik barat laut dari Reno adalah T = 50๏‚ฐF. Jarak antara kedua titik diperkirakan 75 mil. Jadi rata-rata perubahan suhu pada arah tenggara adalah

๐ท๐‘ข๐‘‡ โ‰ˆ60 โˆ’ 50 75 =10

75โ‰ˆ 0.13โ„‰/mil

Untuk menghitung turunan berarah suatu fungsi dapat digunakan rumus pada Teorema berikut.

Bukti

Jika kita mendefinisikan suatu fungsi g dengan satu variabel h dimana

๐‘”(โ„Ž) = (๐‘ฅ0+ โ„Ž๐‘Ž, ๐‘ฆ0+ โ„Ž๐‘) Maka berdasarkan definisi turunan, kita dapatkan

๐‘”โ€ฒ(0) = lim

โ„Žโ†’0

๐‘”(โ„Ž) โˆ’ ๐‘”(0) โ„Ž = lim

โ„Žโ†’0

๐‘”(๐‘ฅ0+ โ„Ž๐‘Ž, ๐‘ฆ0+ โ„Ž๐‘) โˆ’ ๐‘”(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0) = ๐ท๐‘ข๐‘“(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0) โ„Ž

Di satu sisi, kita juga dapat menyatakan ๐‘”(โ„Ž) = ๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) dimana ๐‘ฅ = ๐‘ฅ0+ โ„Ž๐‘Ž, ๐‘ฆ = ๐‘ฆ0+ โ„Ž๐‘, sehingga didapat

๐‘”โ€ฒ(โ„Ž) =๐œ•๐‘“

๐œ•๐‘ฅ ๐‘‘๐‘ฅ ๐‘‘โ„Ž+๐œ•๐‘“

๐œ•๐‘ฆ ๐‘‘๐‘ฆ

๐‘‘โ„Ž = ๐‘“๐‘ฅ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ)๐‘Ž + ๐‘“๐‘ฆ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ)๐‘ Jika kita pilih h = 0, maka ๐‘ฅ = ๐‘ฅ0, ๐‘ฆ = ๐‘ฆ0 dan

๐‘”โ€ฒ(0) = ๐‘“๐‘ฅ((๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0)๐‘Ž + ๐‘“๐‘ฆ((๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0)๐‘ Sehingga diperoleh

๐ท๐‘ข๐‘“(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0) = ๐‘“๐‘ฅ((๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0)๐‘Ž + ๐‘“๐‘ฆ((๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0)๐‘ Teorema

Jika f adalah fungsi yang dapat didiferensialkan terhadap x dan y, maka f memiliki turunan berarah pada arah vektor satuan ๐ฎ = โŒฉ๐‘Ž, ๐‘โŒช dan

๐ท๐‘ข๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) = ๐‘“๐‘ฅ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ)๐‘Ž + ๐‘“๐‘ฆ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ)๐‘

Contoh 5

Tentukan turunan berarah ๐ท๐‘ข๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) jika ๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) = ๐‘ฅ3 โˆ’ 3๐‘ฅ๐‘ฆ + 4๐‘ฆ2

Pada titik (1,2) dan arah vektor satuan u dengan sudut ๐œƒ = ๐œ‹ 6โ„ . Penyelesaian

Jika vektor u membentuk suatu sudut ๏ฑ dengan sumbu-x (sebagaimana dalam Gambar 2.26), maka kita dapat menyatakan ๐ฎ = โŒฉcos ๐œƒ, sin ๐œƒโŒช. Sehingga kita peroleh

๐ฎ = โŒฉcos (๐œ‹

6) , sin (๐œ‹

6)โŒช = โŒฉ1 2โˆš3,1

2 โŒช

Selanjutnya kita tentukan turunan parsial f terhadap x dan y, yaitu ๐‘“๐‘ฅ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) = 3๐‘ฅ2โˆ’ 3๐‘ฆ

๐‘“๐‘ฆ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) = โˆ’3๐‘ฅ + 8๐‘ฆ Sehingga didapat

๐ท๐‘ข๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) = (3๐‘ฅ2โˆ’ 3๐‘ฆ) (1

2โˆš3) + (โˆ’3๐‘ฅ + 8๐‘ฆ) (1 2) =1

2[(3โˆš3๐‘ฅ2โˆ’ 3โˆš3๐‘ฆ) + (8๐‘ฆ โˆ’ 3๐‘ฅ)]

Maka didapat turunan berarah f pada titik (1, 2) dengan arah vektor satuan u adalah

๐ท๐‘ข๐‘“(1,2) = 1

2[(3โˆš3(1)2โˆ’ 3โˆš3(2)) + (8(2) โˆ’ 3(1))]

=13 โˆ’ 3โˆš3 2

Gambar 2.26. Turunan berarah f pada titik (1, 2) dengan arah vektor satuan u

Contoh 6

Andaikan ๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) = 1 + 2๐‘ฅ + ๐‘ฆ3. Tentukan turunan bearah f pada titik (2, 1) dengan arah dari P ke Q(14, 6).

Penyelesaian

Terlebih dahulu kita tentukan turunan parsial f terhadap x dan y, yaitu

๐‘“๐‘ฅ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) = 2 ๐‘“๐‘ฅ(2,1) = 2 ๐‘“๐‘ฆ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) = 3๐‘ฆ2 ๐‘“๐‘ฆ(2,1) = 3(1)2 = 3

Selanjutnya mencari arah yang bersesuaian, yaitu dari titik P(2,1) ke Q(14, 6). Maka didapat

๐‘ƒ๐‘„โƒ—โƒ—โƒ—โƒ—โƒ—โƒ— = โŒฉ14 โˆ’ 2, 6 โˆ’ 1โŒช = โŒฉ12, 5โŒช = 12๐ข + 5๐ฃ

Karena ๐‘ƒ๐‘„โƒ—โƒ—โƒ—โƒ—โƒ—โƒ— bukan sebuah vektor satuan, maka harus mengubahnya menjadi vektor satuan u, sehingga

๐ฎ = ๐‘ƒ๐‘„โƒ—โƒ—โƒ—โƒ—โƒ—โƒ—

|๐‘ƒ๐‘„โƒ—โƒ—โƒ—โƒ—โƒ—โƒ—|= 12๐ข + 5๐ฃ

โˆš122 + 52 = 12๐ข + 5๐ฃ

โˆš144 + 25

=12๐ข + 5๐ฃ 13 = โŒฉ12

13, 5 13โŒช

Maka didapat turunan berarah f pada titik (2, 1) dengan arah vektor satuan u adalah

๐ท๐‘ข๐‘“(2,1) = (2) (12

13) + (3) (5

13) = 24 + 15 13 = 3 Vektor Gradien

Turunan berarah suatu fungsi yang dapat didiferensialkan dapat ditulis sebagai hasil kali titik (dot product) dari dua vektor.

๐ท๐‘ข๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) = ๐‘“๐‘ฅ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ)๐‘Ž + ๐‘“๐‘ฆ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ)๐‘

= โŒฉ๐‘“๐‘ฅ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ), ๐‘“๐‘ฆ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ)โŒช โˆ™ โŒฉ๐‘Ž, ๐‘โŒช

= โŒฉ๐‘“๐‘ฅ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ), ๐‘“๐‘ฆ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ)โŒช โˆ™ ๐ฎ

Hubungan turunan berarah dan vektor gradien

Contoh 7

Tentukan turunan berarah ๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) = ๐‘ฅ๐‘’๐‘ฆ+ cos ๐‘ฅ๐‘ฆ pada titik (2, 0) dengan arah vektor ๐ฏ = 3๐ข โˆ’ 4๐ฃ.

Penyelesaian

Vektor satuan u dengan arah v adalah ๐ฎ = ๐ฏ

|๐ฏ|= 3๐ข โˆ’ 4๐ฃ

โˆš(3)2+ (โˆ’4)2 = 3๐ข โˆ’ 4๐ฃ

โˆš9 + 16

= 3๐ข โˆ’ 4๐ฃ

โˆš25 = 3 5๐ข โˆ’4

5๐ฃ = โŒฉ3 5, โˆ’4

5 โŒช

Turunan parsial f pada titik (2, 0) diberikan oleh ๐‘“๐‘ฅ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) = ๐‘’๐‘ฆโˆ’ ๐‘ฆ sin ๐‘ฅ๐‘ฆ

๐‘“๐‘ฅ(2,0) = ๐‘’0โˆ’ (0) sin(2 โˆ™ 0) = 1 ๐‘“๐‘ฆ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) = ๐‘ฅ๐‘’๐‘ฆโˆ’ ๐‘ฅ sin ๐‘ฅ๐‘ฆ

๐‘“๐‘ฆ(2,0) = (2)(๐‘’0) โˆ’ (2) sin(2 โˆ™ 0) = 2

Maka gradien f pada titik (2, 0) adalah

โˆ‡๐‘“(2,0) = ๐‘“๐‘ฅ(2,0)๐ข + ๐‘“๐‘ฆ(2,0)๐ฃ = ๐ข + 2๐ฃ = โŒฉ1, 2โŒช

Definisi

Jika f adalah fungsi dengan peubah x dan y, maka gradien dari f adalah fungsi vektor โˆ‡๐‘“ (dibaca โ€œdel fโ€) dapat didefinisikan sebagai

โˆ‡๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) = โŒฉ๐‘“๐‘ฅ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ), ๐‘“๐‘ฆ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ)โŒช =๐œ•๐‘“

๐œ•๐‘ฅ๐ข +๐œ•๐‘“

๐œ•๐‘ฆ๐ฃ

๐ท๐‘ข๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) =โˆ‡๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) โˆ™ ๐ฎ

Turunan berarah f pada titik (2, 0) dengan arah vektor satuan u adalah

๐ท๐‘ข๐‘“(2,0) = โŒฉ3 5, โˆ’4

5โŒชโˆ™โŒฉ1, 2โŒช=(3

5) (1)+(โˆ’4

5) (2)= โˆ’1

Gambar โˆ‡๐‘“ sebagai sebuah vektor ditunjukkan oleh Gambar 2.27.

Gambar yang sama juga menunjukkan beberapa kurva ketinggian dari f. Rata-rata dimana f berubah pada titik (2, 0) dengan arah u adalah -1.

Gambar 2.27 Hubungan โˆ‡๐‘“ dan kurva ketinggian dari f

Kita evaluasi dot product pada rumus berikut

๐ท๐‘ข๐‘“ =โˆ‡๐‘“ โˆ™ ๐ฎ =|โˆ‡๐‘“||๐ฎ|cos ๐œƒ =|โˆ‡๐‘“|cos ๐œƒ

dimana ๏ฑ adalah sudut antara vektor โˆ‡๐‘“ dengan u, sehingga didapat sifat-sifat berikut.

Turunan berarah dan gradien pada fungsi dua peubah, juga berlaku pada fungsi tiga peubah atau lebih.

Jika ๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ, ๐‘ง) adalah fungsi tiga peubah yang dapat didiferensialkan dan ๐ฎ = โŒฉ๐‘Ž, ๐‘. ๐‘โŒช, maka f memiliki turunan pada arah vektor satuan u yaitu

๐ท๐‘ข๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ, ๐‘ง) = ๐‘“๐‘ฅ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ, ๐‘ง)๐‘Ž + ๐‘“๐‘ฆ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ, ๐‘ง)๐‘ + ๐‘“๐‘ง(๐‘ฅ, ๐‘ฆ, ๐‘ง)๐‘

Vektor gradien f dinyatakan sebagai

โˆ‡๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ, ๐‘ง) = โŒฉ๐‘“๐‘ฅ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ, ๐‘ง), ๐‘“๐‘ฆ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ, ๐‘ง), ๐‘“๐‘ง(๐‘ฅ, ๐‘ฆ, ๐‘ง)โŒช

=๐œ•๐‘“

๐œ•๐‘ฅ๐ข +๐œ•๐‘“

๐œ•๐‘ฆ๐ฃ +๐œ•๐‘“

๐œ•๐‘ง๐ค

Turunan berarah f juga dapat dinyatakan sebagai ๐ท๐‘ข๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ, ๐‘ง) =โˆ‡๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ, ๐‘ง) โˆ™ ๐ฎ Sifat-sifat turunan berarah ๐‘ซ๐’–๐’‡ = |๐›๐’‡| ๐œ๐จ๐ฌ ๐œฝ

1. Fungsi f meningkat dengan cepat ketika ๏ฑ = 1 atau ๏ฑ = 0 dan u adalah arah dari โˆ‡๐‘“. Fungsi f meningkat lebih cepat pada arah vektor gradien โˆ‡๐‘“ di titik P. Turunan pada arah ini adalah

๐ท๐‘ข๐‘“ = |โˆ‡๐‘“| cos(0) = |โˆ‡๐‘“|

2. Dengan cara yang sama, fungsi f menurun dengan cepat ketika ๏ฑ = โ„ผ dan u adalah arah dari โˆ‡๐‘“. Fungsi f menurun lebih cepat pada arah โˆ’|โˆ‡๐‘“|. Turunan pada arah ini adalah

๐ท๐‘ข๐‘“ = |โˆ‡๐‘“| cos ๐œ‹ = โˆ’|โˆ‡๐‘“|

3. Setiap arah u yang ortogonal terhadap vektor gradien

โˆ‡๐‘“ โ‰  0 adalah arah perubahan nol pada f karena ๏ฑ = ๐œ‹

โ„2 dan

๐ท๐‘ข๐‘“ = |โˆ‡๐‘“| cos(๐œ‹ 2โ„ ) = |โˆ‡๐‘“| โˆ™ 0 = 0

Contoh 8

Tentukan arah dimana fungsi ๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) =1

2๐‘ฅ2+1 2๐‘ฆ2 a. Meningkat lebih cepat pada titik (1, 1) b. Menurun lebih cepat pada titik (1, 1)

c. Apakah arah perubahan nol dari f pada titik (1, 1)?

Penyelesaian

a. Fungsi f meningkat lebih cepat pada arah โˆ‡๐‘“ di titik (1, 1).

Gradiennya adalah

โˆ‡๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) = ๐‘ฅ๐ข + ๐‘ฆ๐ฃ

โˆ‡๐‘“(1,1) = ๐ข + ๐ฃ Arahnya adalah vektor satuan u yaitu

๐ฎ = โˆ‡๐‘“

|โˆ‡๐‘“|= ๐ข + ๐ฃ

โˆš12+ 12 = 1

โˆš2๐ข + 1

โˆš2๐ฃ

b. Fungsi f meningkat lebih cepat pada arah โˆ’โˆ‡๐‘“ di titik (1, 1), yaitu pada arah vektor satuan

โˆ’๐ฎ = โˆ’ 1

โˆš2๐ข โˆ’ 1

โˆš2๐ฃ

c. Arah perubahan nol dari f pada titik (1, 1) adalah ortogonal terhadap โˆ‡๐‘“ yaitu

๐ง = โˆ’ 1

โˆš2๐ข + 1

โˆš2๐ฃ dan โˆ’๐ง = 1

โˆš2๐ข + 1

โˆš2๐ฃ Contoh 8

Misalkan suhu pada titik (x, y, z) pada ruang dinyatakan oleh fungsi

๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ, ๐‘ง) = 80

(1 + ๐‘ฅ2+ 2๐‘ฆ2+ 3๐‘ง2)2

dimana T diukur dalam derajat Celsius, sedangkan x, y, z dalam meter. Pada arah mana suhu meningkat lebih cepat pada titik (1, 1, -2)? Berapakah rata-rata maksimum peningkatannya?

Penyelesaian

Gradien dari T adalah

โˆ‡๐‘‡(๐‘ฅ, ๐‘ฆ, ๐‘ง) =๐œ•๐‘‡

๐œ•๐‘ฅ๐ข +๐œ•๐‘‡

๐œ•๐‘ฆ๐ฃ +๐œ•๐‘‡

๐œ•๐‘ง๐ค

= โˆ’ 160๐‘ฅ

(1 + ๐‘ฅ2+ 2๐‘ฆ2+ 3๐‘ง2)2๐ข โˆ’ 320๐‘ฆ

(1 + ๐‘ฅ2+ 2๐‘ฆ2+ 3๐‘ง2)2๐ฃ

โˆ’ 480๐‘ง

(1 + ๐‘ฅ2+ 2๐‘ฆ2+ 3๐‘ง2)2๐ค

= 160

(1 + ๐‘ฅ2+ 2๐‘ฆ2+ 3๐‘ง2)2(โˆ’๐‘ฅ๐ข โˆ’ 2๐‘ฆ๐ฃ โˆ’ 3๐‘ง๐ค)

Gradien dari T pada titik (1, 1, -2) adalah

โˆ‡๐‘‡(1, 1, โˆ’2) = 160

(1 + 12+ 2 โˆ™ 12+ 3 โˆ™ 22)2(โˆ’๐ข โˆ’ 2๐ฃ + 6๐ค)

=160

256(โˆ’๐ข โˆ’ 2๐ฃ + 6๐ค) =5

8(โˆ’๐ข โˆ’ 2๐ฃ + 6๐ค)

Fungsi T meningkat dengan cepat di titik (1, 1, -2) pada arah โˆ‡๐‘‡ =

5

8(โˆ’๐ข โˆ’ 2๐ฃ + 6๐ค), atau ekuivalen dengan arah vektor โˆ’๐ข โˆ’ 2๐ฃ + 6๐ค atau pada arah vektor satuan

๐ฎ = โˆ’๐ข โˆ’ 2๐ฃ + 6๐ค

|โˆ’๐ข โˆ’ 2๐ฃ + 6๐ค|= โˆ’๐ข โˆ’ 2๐ฃ + 6๐ค

โˆš(โˆ’1)2+ (โˆ’2)2+ 62

= โˆ’๐ข โˆ’ 2๐ฃ + 6๐ค

โˆš41 =โˆ’ 1

โˆš41๐ข โˆ’ 2

โˆš41๐ฃ + 6

โˆš41๐ค

Rata-rata maksimum peningkatan f pada titik (1, 1, -2) adalah panjang skalar vektor gradiennya yaitu

|โˆ‡๐‘‡| = |5

8(โˆ’๐ข โˆ’ 2๐ฃ + 6๐ค)| =5 8โˆš41 Maka Rata-rata maksimum peningkatan suhu adalah 5

8โˆš41 โ„ƒ ๐‘šโ„ Turunan berarah dan Gradien terhadap Kurva Ketinggian Andaikan permukaan S adalah grafik fungsi dengan tiga peubah ๐น(๐‘ฅ, ๐‘ฆ, ๐‘ง) dengan persamaan kurva permukaan ๐น(๐‘ฅ, ๐‘ฆ, ๐‘ง) = ๐‘˜ dan andaikan titik ๐‘ƒ(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0, ๐‘ง0) berada pada S. Andaikan C sebagai kurva pada permukaan S dan melalui titik P. Kurva C dideskrisikan oleh fungsi vektor yang kontinu ๐ซ(๐‘ก) =

โŒฉ๐‘ฅ(๐‘ก), ๐‘ฆ(๐‘ก), ๐‘ง(๐‘ก)โŒช. Misalkan ๐‘ก0 adalah nilai parameter yang berkorespondensi dengan P, sehingga ๐ซ(๐‘ก0) = โŒฉ๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0, ๐‘ง0โŒช.

Karena C berada pada S, maka setiap titik (๐‘ฅ(๐‘ก), ๐‘ฆ(๐‘ก), ๐‘ง(๐‘ก)) harus memenuhi persamaan S, yaitu

๐น(๐‘ฅ(๐‘ก), ๐‘ฆ(๐‘ก), ๐‘ง(๐‘ก)) = ๐‘˜

Jika x, y dan z adalah fungsi yang dapat didiferensialkan terhadap t dan F juga dapat didiferensialkan, maka kita dapat menggunakan aturan rantai untuk mendiferensialkan kedua sisi pada persamaan di atas, yaitu

๐œ•๐น

๐œ•๐‘ฅ ๐‘‘๐‘ฅ

๐‘‘๐‘ก+๐œ•๐น

๐œ•๐‘ฆ ๐‘‘๐‘ฆ ๐‘‘๐‘ก +๐œ•๐น

๐œ•๐‘ง ๐‘‘๐‘ง ๐‘‘๐‘ก= 0

Karena โˆ‡๐น = โŒฉ๐น๐‘ฅ, ๐น๐‘ฆ, ๐น๐‘งโŒช dan ๐ซโ€ฒ(๐‘ก) = โŒฉ๐‘ฅโ€ฒ(๐‘ก), ๐‘ฆโ€ฒ(๐‘ก), ๐‘งโ€ฒ(๐‘ก)โŒช maka kita dapat menyatakan persamaan di atas menjadi sebuah dot product yaitu

โˆ‡๐น โˆ™ ๐ซโ€ฒ(๐‘ก) = 0

Secara khusus, ketika ๐‘ก = ๐‘ก0 kita dapatkan ๐ซ(๐‘ก0) = โŒฉ๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0, ๐‘ง0โŒช sehingga

โˆ‡๐น(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0, ๐‘ง0) โˆ™ ๐ซโ€ฒ(๐‘ก0) = 0

Hal ini menujukkan bahwa โˆ‡๐น(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0, ๐‘ง0) tegak lurus dengan ๐ซโ€ฒ(๐‘ก0). Jika โˆ‡๐น(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0, ๐‘ง0) โ‰  0, bidang singgung terhadap kurva ketinggian ๐น(๐‘ฅ, ๐‘ฆ, ๐‘ง) = ๐‘˜ pada titik ๐‘ƒ(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0, ๐‘ง0) adalah bidang yang melalui P dan memiliki vektor normal โˆ‡๐น(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0, ๐‘ง0), persamaannya adalah

Garis normal terhadap S adalah garis yang melalui P dan tegak lurus dengan bidang singgung. Arah garis normal ditentukan oleh vektor gradien โˆ‡๐น(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0, ๐‘ง0). Persamaan simetriknya adalah

๐‘ฅ โˆ’ ๐‘ฅ0

๐น๐‘ฅ(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0, ๐‘ง0)= ๐‘ฆ โˆ’ ๐‘ฆ0

๐น๐‘ฆ(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0, ๐‘ง0)= ๐‘ง โˆ’ ๐‘ง0 ๐น๐‘ง(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0, ๐‘ง0)

๐น๐‘ฅ(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0, ๐‘ง0)(๐‘ฅ โˆ’ ๐‘ฅ0)+๐น๐‘ฆ(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0, ๐‘ง0)(๐‘ฆ โˆ’ ๐‘ฆ0) + ๐น๐‘ง(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0, ๐‘ง0)(๐‘ง โˆ’ ๐‘ง0)= 0

Contoh 9

Tentukan persamaan bidang singgung adn garis normal pada titik (-2, 1, -3) terhadap elipsoid

๐‘ฅ2

4 + ๐‘ฆ2 +๐‘ง2 9 = 3 Penyelesaian

Elipsoid tersebut adalah bidang ketinggian (level surface) dengan k = 3 dari fungsi

๐น(๐‘ฅ, ๐‘ฆ, ๐‘ง) =๐‘ฅ2

4 + ๐‘ฆ2+๐‘ง2 9 Turun parsial pertama F pada titik (-2, 1, -3) adalah

๐น๐‘ฅ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ, ๐‘ง) =1

2๐‘ฅ, maka ๐น๐‘ฅ(โˆ’2,1, โˆ’3) = โˆ’1 ๐น๐‘ฆ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ, ๐‘ง) = 2๐‘ฆ, maka ๐น๐‘ฆ(โˆ’2,1, โˆ’3) = 2 ๐น๐‘ง(๐‘ฅ, ๐‘ฆ, ๐‘ง) = 29๐‘ง, maka ๐น๐‘ง(โˆ’2,1, โˆ’3) = โˆ’23

Persamaan bidang singgung pada titik (โˆ’2,1, โˆ’3) adalah

โˆ’1(๐‘ฅ + 2) + 2(๐‘ฅ โˆ’ 1) โˆ’2

3(๐‘ง + 3) = 0 Jika disederhanakan akan diperoleh persamaan

3๐‘ฅ โˆ’ 6๐‘ฆ + 2๐‘ง = 18 = 0 Persamaan simetrik dari garis normal adalah

๐‘ฅ + 2

โˆ’1 =๐‘ฅ โˆ’ 1

2 =๐‘ง + 3

โˆ’2 3 2. RANGKUMAN

Bidang Singgung dan Aproksimasi Linier

a. Misalkan f memiliki turunan parsial yang kontinu. Persamaan bidang singgung ๐‘ง = ๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) di titik ๐‘ƒ(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0, ๐‘ง0) adalah

๐‘ง โˆ’ ๐‘ง0 = ๐‘“๐‘ฅ(๐‘ฅ โˆ’ ๐‘ฅ0) + ๐‘“๐‘ฆ(๐‘ฆ โˆ’ ๐‘ฆ0) b. Linierisasi fungsi f pada titik (a, b) adalah

๐ฟ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) = ๐‘“(๐‘Ž, ๐‘) + ๐‘“๐‘ฅ(๐‘Ž, ๐‘)(๐‘ฅ โˆ’ ๐‘Ž) + ๐‘“๐‘ฆ(๐‘Ž, ๐‘)(๐‘ฆ โˆ’ ๐‘) c. Aproksimasi linier atau aproksimasi bidang singgung f pada

titik (a, b) adalah

๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) โ‰ˆ ๐‘“(๐‘Ž, ๐‘) + ๐‘“๐‘ฅ(๐‘Ž, ๐‘)(๐‘ฅ โˆ’ ๐‘Ž) + ๐‘“๐‘ฆ(๐‘Ž, ๐‘)(๐‘ฆ โˆ’ ๐‘) d. Jika z = f(x, y), maka f terdiferensialkan di (a, b) apabila โˆ†๐‘ง

diekspresikan dalam bentuk

โˆ†๐‘ง = ๐‘“๐‘ฅ(๐‘Ž, ๐‘) + ๐‘“๐‘ฆ(๐‘Ž, ๐‘) + ๐œ€1โˆ†๐‘ฅ + ๐œ€2โˆ†๐‘ฆ dimana ๐œ€1 dan ๐œ€2 โ†’ 0 sebagai (โˆ†๐‘ฅ, โˆ†๐‘ฆ) โ†’ (0,0)

e. Jika turunan parsial ๐‘“๐‘ฅ dan ๐‘“๐‘ฅ berada di dekat (a, b) dan kontinu di (a, b), maka f dapat didiferensialkan di (a, b)

f. Jika diketahui fungsi dua peubah ๐‘ง = ๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ), maka diferensial total dz adalah

๐‘‘๐‘ง = ๐‘“๐‘ฅ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ)๐‘‘๐‘ฅ + ๐‘“๐‘ฆ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ)๐‘‘๐‘ฆ = ๐œ•๐‘ง

๐œ•๐‘ฅ๐‘‘๐‘ฅ +๐œ•๐‘ง

๐œ•๐‘ฆ๐‘‘๐‘ฆ Turunan Berarah dan Vektor Gradien

a. Turunan berarah f di titik ๐‘ƒ(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0) pada arah ๐ฎ = โŒฉ๐‘Ž, ๐‘โŒช

adalah

๐ท๐‘ข๐‘“(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0) = lim

โ„Žโ†’0

๐‘“(๐‘ฅ0+โ„Ž๐‘Ž,๐‘ฆ0+โ„Ž๐‘)โˆ’๐‘“(๐‘ฅ0,๐‘ฆ0)

โ„Ž

jika limitnya ada

b. Jika f adalah fungsi yang dapat didiferensialkan terhadap x dan y, maka f memiliki turunan berarah pada arah vektor satuan ๐ฎ = โŒฉ๐‘Ž, ๐‘โŒช dan

๐ท๐‘ข๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) = ๐‘“๐‘ฅ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ)๐‘Ž + ๐‘“๐‘ฆ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ)๐‘

c. Jika f adalah fungsi dengan peubah x dan y, maka gradien dari f adalah fungsi vektor โˆ‡๐‘“ (dibaca โ€œdel fโ€) dapat didefinisikan sebagai

โˆ‡๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) = โŒฉ๐‘“๐‘ฅ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ), ๐‘“๐‘ฆ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ)โŒช =๐œ•๐‘“

๐œ•๐‘ฅ๐ข +๐œ•๐‘“

๐œ•๐‘ฆ๐ฃ d. Hubungan turunan berarah dan vektor gradien

๐ท๐‘ข๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) =โˆ‡๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) โˆ™ ๐ฎ

e. Fungsi f meningkat dengan cepat ketika ๏ฑ = 1 atau ๏ฑ = 0 dan u adalah arah dari โˆ‡๐‘“. Fungsi f meningkat lebih cepat pada arah vektor gradien โˆ‡๐‘“ di titik P. Turunan pada arah ini adalah

๐ท๐‘ข๐‘“ = |โˆ‡๐‘“|cos(0) =|โˆ‡๐‘“|

f. Fungsi f menurun dengan cepat ketika ๏ฑ = โ„ผ dan u adalah arah dari โˆ‡๐‘“. Fungsi f menurun lebih cepat pada arah โˆ’|โˆ‡๐‘“|.

Turunan pada arah ini adalah

๐ท๐‘ข๐‘“ = |โˆ‡๐‘“|cos ๐œ‹ = โˆ’|โˆ‡๐‘“|

g. Setiap arah u yang ortogonal terhadap vektor gradien โˆ‡๐‘“ โ‰  0 adalah arah perubahan nol pada f karena ๏ฑ = ๐œ‹

โ„2 dan

๐ท๐‘ข๐‘“ = |โˆ‡๐‘“|cos(๐œ‹

โ„ )2 =|โˆ‡๐‘“|โˆ™ 0 =

h. Persamaan bidang singgung terhadap kurva ketinggian ๐น(๐‘ฅ, ๐‘ฆ, ๐‘ง) = ๐‘˜ pada titik ๐‘ƒ(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0, ๐‘ง0) adalah

๐น๐‘ฅ(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0, ๐‘ง0)(๐‘ฅ โˆ’ ๐‘ฅ0)+๐น๐‘ฆ(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0, ๐‘ง0)(๐‘ฆ โˆ’ ๐‘ฆ0) + ๐น๐‘ง(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0, ๐‘ง0)(๐‘ง โˆ’ ๐‘ง0)= 0

i. Persamaan simetrik bidang singgung terhadap kurva ketinggian ๐น(๐‘ฅ, ๐‘ฆ, ๐‘ง) = ๐‘˜ pada titik ๐‘ƒ(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0, ๐‘ง0) adalah

๐‘ฅ โˆ’ ๐‘ฅ0

๐น๐‘ฅ(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0, ๐‘ง0)= ๐‘ฆ โˆ’ ๐‘ฆ0

๐น๐‘ฆ(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0, ๐‘ง0)= ๐‘ง โˆ’ ๐‘ง0 ๐น๐‘ง(๐‘ฅ0, ๐‘ฆ0, ๐‘ง0)

3. LATIHAN

Kerjakan soal-soal latihan berikut

Tentukan persamaan bidang singgung terhadap permukaan yang diberikan pada titik yang ditentukan

1. ๐‘ฅ2โˆ’ ๐‘ฆ2+ ๐‘ง2+ 1 = 0; (1, 3, โˆš7) 2. ๐‘ง = 2๐‘’3๐‘ฆcos(2๐‘ฅ) ; (๐œ‹ 3โ„ , 0, โˆ’1)

Jelaskan mengapa fungsi berikut terdiferensialkan pada titik yang diberikan. Kemudian tentukan linierisasi L(x) fungsi tersebut pada titik yang diberikan

3. ๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) = 1 + ๐‘ฅ ln(๐‘ฅ๐‘ฆ โˆ’ 5) ; (2, 3) 4. ๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) = ๐‘ฅ3๐‘ฆ4; (1, 1)

5. Tentukan seluruh titik pada permukaan ๐‘ง = ๐‘ฅ2โˆ’ 2๐‘ฅ๐‘ฆ โˆ’ ๐‘ฆ2โˆ’ 8๐‘ฅ + 4๐‘ฆ dimana bidang singgungnya adalah horizontal.

6. Tentukan seluruh titik pada permukaan ๐‘ง = 2๐‘ฅ2+ 3๐‘ฆ2 dimana bidang singgungnya sejajar dengan bidang 8๐‘ฅ โˆ’ 3๐‘ฆ โˆ’ ๐‘ง = 0

Tentukan turunan berarah f di titik P pada arah a 7. ๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) = ๐‘ฅ3๐‘ฆ; ๐‘ƒ = (1, 2); ๐š = 3๐ข โˆ’ 4๐ฃ

8. ๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) = 2๐‘ฅ2 + ๐‘ฅ๐‘ฆ โˆ’ ๐‘ฆ2; ๐‘ƒ = (3, โˆ’ 2); ๐š = ๐ข โˆ’ ๐ฃ

Tentukan gradient f, kemudian evaluasi gradient pada titik P dan tentukan rata-rata perubahan f di titik P pada arah vektor satuan u.

9. ๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) = sin(2๐‘ฅ + 3๐‘ฆ) ; ๐‘ƒ = (โˆ’6, 4); ๐ฎ =1

2(โˆš3๐ข โˆ’ ๐ฃ) 10. ๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) =๐‘ฆ2

๐‘ฅ ; ๐‘ƒ = (1, 2); ๐ฎ =1

3(2๐ข + โˆš5๐ฃ)

11. Ke arah manakah vektor u dimana ๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) = โˆ’๐‘ฅ2โˆ’ ๐‘ฆ2 menurun paling cepat pada titik P(-1, 2)?

12. Ke arah manakah vektor u dimana ๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) = sin(3๐‘ฅ โˆ’ ๐‘ฆ) menurun paling cepat pada titik ๐‘ƒ(๐œ‹ 6โ„ , ๐œ‹ 4โ„ )?

13. Ketinggian sebuah gunung di atas pemukaan laut pada titik (x, y) adalah 300๐‘’โˆ’((๐‘ฅ2+2๐‘ฆ2) 100โ„ ) meter. Sumbu x positif mengarah ke timur dan sumbu-y negatif mengarah ke utara.

Seorang pendaki tepat berada pada titik (10, 10). Jika pendaki tersebut bergerak kea rah barat laut, apakah ia akan mendaki atau menurun, dan pada kemiringan berapa?

14. Dekat sebuah pelampung, kedalaman sebuah danah pada titik dengan koordinat (x, y) adalah ๐‘ง = 200 + 0.02๐‘ฅ2 โˆ’ 0.001๐‘ฆ3, dimana x, y dan z diukur dalam meter. Seorang nelayan dengan sebuah perahu kecil berangkat pada titik (80, 60) dan bergerak ke arah pelampung, yang lokasinya pada (0, 0).

Apakah air di bawah perahu dalam atau dangkal saat perahu itu sampai pada pelampung tersebut? Jelaskan.

4. KUNCI JAWABAN

Kunci jawaban untuk soal-soal bernomor ganjil 1. (๐‘ฅ โˆ’ 1) โˆ’ 3(๐‘ฆ โˆ’ 3) + โˆš7(๐‘ง โˆ’ โˆš7)

3. ๐‘“๐‘ฅ = ๐‘ฅ๐‘ฆ

๐‘ฅ๐‘ฆโˆ’5+ ln(๐‘ฅ๐‘ฆ โˆ’ 5); ๐‘“๐‘ฆ = ๐‘ฅ2

๐‘ฅ๐‘ฆโˆ’5; ๐‘“๐‘ฅ(2,3) = 6 dan

๐‘“๐‘ฆ(2,3) = 4. Karena ๐‘“๐‘ฅ dan ๐‘“๐‘ฆ kontinu untuk ๐‘ฅ๐‘ฆ > 5, maka f kontinu di (2, 3). Linierisasi f pada titik (2, 3) adalah ๐ฟ(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) = 6๐‘ฅ + 4๐‘ฆ โˆ’ 23

5. (3, -1, -14) 7. 8

5

9. โˆ‡๐‘“(๐‘ฅ, ๐‘ฆ) = 2 cos(2๐‘ฅ + 3๐‘ฆ) ๐ข + 3 cos(2๐‘ฅ + 3๐‘ฆ)๐ฃ

โˆ‡๐‘“(โˆ’6,4) = 2๐ข + 3๐ฃ ๐ท๐‘ข๐‘“(โˆ’6, 4) = โˆš3 โˆ’32 11. 1

โˆš5(โˆ’๐ข + 2๐ฃ) 13. Turun; โˆ’300โˆš2 ๐‘’โˆ’3

E. KEGIATAN BELAJAR 7

Dalam dokumen Kalkulus peubah banyak (Halaman 96-119)

Dokumen terkait