BAB II. TURUNAN PARSIAL
D. KEGIATAN BELAJAR 6
D. KEGIATAN BELAJAR 6
Jika C adalah adalah kurva terletak pada permukaan S dan melalui titik P, maka garis singgung C pada titik P juga terletak pada bidang singgung dari S. Dapat kita pahami bahwa bidang singgung dari S di titik P terdiri dari seluruh garis singgung yang mungkin pada P terhadap kurva yang terletak pada S dan melalui P. Bidang singgung pada P adalah bidang yang paling mendekati permukaan S di dekat titik P.
Persamaan garis yang melalui titik ๐(๐ฅ0, ๐ฆ0, ๐ง0) memiliki persamaan dalam bentuk
๐ด(๐ฅ โ ๐ฅ0) + ๐ต(๐ฆ โ ๐ฆ0) + ๐ถ(๐ง โ ๐ง0) = 0
Dengan membagi persamaan di atas dengan C dan andaikan ๐ =
โ ๐ด ๐ถโ dan ๐ = โ ๐ต ๐ถโ , maka kita dapat menulis persamaan di atas menjadi
๐ง โ ๐ง0 = ๐(๐ฅ โ ๐ฅ0) + ๐(๐ฆ โ ๐ฆ0) ...(1)
Jika persamaan (1) merepresentasikan bidang singgung di titik P, maka perpotongannya dengan bidang ๐ฆ = ๐ฆ0 haruslah merupakan garis singgung ๐1. Maka persamaan (1) memberikan
๐ง โ ๐ง0 = ๐(๐ฅ โ ๐ฅ0) ketika ๐ฆ = ๐ฆ0
Persamaan ini adalah persamaan garis dengan kemiringan a.
Karena garis singgung ๐1 = ๐๐ฅ(๐ฅ0, ๐ฆ0), maka ๐ = ๐๐ฅ(๐ฅ0, ๐ฆ0).
Dengan cara yang sama, untuk ๐ฅ = ๐ฅ0) didapatkan persamaan ๐ง โ ๐ง0 = ๐(๐ฆ โ ๐ฆ0) yaitu persamaan garis dengan kemiringan b.
Karena garis singgung ๐2 = ๐๐ฆ(๐ฅ0, ๐ฆ0), maka ๐ = ๐๐ฆ(๐ฅ0, ๐ฆ0).
Misalkan f memiliki turunan parsial yang kontinu. Persamaan bidang singgung ๐ง = ๐(๐ฅ, ๐ฆ) di titik ๐(๐ฅ0, ๐ฆ0, ๐ง0) adalah
๐ง โ ๐ง0 = ๐๐ฅ(๐ฅ โ ๐ฅ0) + ๐๐ฆ(๐ฆ โ ๐ฆ0)
Contoh 1
Tentukan bidang singgung paraboloid eliptik ๐(๐ฅ, ๐ฆ) = 2๐ฅ2+ ๐ฆ2 di titik (1, 1, 3).
Penyelesaian
Kita dapatkan turunan parsial f adalah
๐๐ฅ(๐ฅ, ๐ฆ) = 4๐ฅ maka untuk (1,1) didapat ๐๐ฅ(1,1) = 4 ๐๐ฆ(๐ฅ, ๐ฆ) = 2๐ฆ maka untuk (1,1) didapat ๐๐ฆ(1,1) = 2
Sehingga didapatkan persamaan bidang singgung f di titik (1, 1, 3) adalah
๐ง โ 3 = 4(๐ฅ โ 1) + 2(๐ฆ โ 1) ๐ง = 4๐ฅ + 2๐ฆ โ 3
Gambar 2.22 (a) berikut adalah grafik paraboloid eliptik f dan bidang singgungnya di titik (1, 1, 3)
Gambar 2.24 Tampilan f yang diperbesar terhadap titik (1,1,3) Gambar 2.22 (b) dan (c) adalah tampilan grafik f yang diperbesar terhadap titik (1, 1, 3), sehingga pada Gambar 2.22 (c) didapat grafik yang mendatar yang diperkirakan merupakan bidang singgungnya.
Gambar 2.23 adalah peta kontur ๐(๐ฅ, ๐ฆ) = 2๐ฅ2+ ๐ฆ2 yang diperbesar tampilannya pada titik (1, 1), sehingga kurva-kurva ketinggiannya menyerupai garis-garis yang sejajar.
Gambar 2.25 Peta kontur f yang diperbesar terhadap titik (1,1,3) Aproksimasi Linier
Pada Contoh 1 kita dapatkan persamaan bidang singgung ๐(๐ฅ, ๐ฆ) = 2๐ฅ2+ ๐ฆ2 di titik (1, 1, 3) adalah ๐ง = 4๐ฅ + 2๐ฆ โ 3.
Berdasarkan pandangan visual pada Gambar 2.23 dan 2.24, diperoleh fungsi dua peubah yang merupakan aproksimasi terhadap ๐(๐ฅ, ๐ฆ) ketika (๐ฅ, ๐ฆ) mendekati (1, 1), yaitu:
๐ฟ(๐ฅ, ๐ฆ) = 4๐ฅ + 2๐ฆ โ 3
Fungsi L dinamakan linierisasi fungsi f pada (1, 1) dan aproksimasi
๐(๐ฅ, ๐ฆ) โ 4๐ฅ + 2๐ฆ โ 3
dinamakan aproksimasi linier atau aproksimasi bidang singgung f pada (1, 1).
Secara umum, persamaan bidang singgung fungsi dua peubah f pada titik (a, b) adalah
๐ง = ๐(๐, ๐) + ๐๐ฅ(๐, ๐)(๐ฅ โ ๐) + ๐๐ฆ(๐, ๐)(๐ฆ โ ๐)
Fungsi linier dimana grafik merupakan bidang singgungnya, dinyatakan sebagai
๐ฟ(๐ฅ, ๐ฆ) = ๐(๐, ๐) + ๐๐ฅ(๐, ๐)(๐ฅ โ ๐) + ๐๐ฆ(๐, ๐)(๐ฆ โ ๐) dinamakan linierisasi fungsi f pada titik (a, b) dan aproksimasi
๐(๐ฅ, ๐ฆ) โ ๐(๐, ๐) + ๐๐ฅ(๐, ๐)(๐ฅ โ ๐) + ๐๐ฆ(๐, ๐)(๐ฆ โ ๐) dinamakan aproksimasi linier atau aproksimasi bidang singgung f pada titik (a, b).
Pertimbangkan fungsi dua peubah z = f(x, y) dan andaikan x berubah dari a ke ๐ + โ๐ฅ dan y berubah dari b ke ๐ + โ๐ฆ. Maka increment (penambahan) yang berkorespondensi dengan z adalah
โ๐ง = ๐(๐ + โ๐ฅ, ๐ + โ๐ฆ) โ ๐(๐, ๐)
Increment โ๐ง merepresentasikan perubahan nilai f ketika (x, y) berubah dari (a, b) menjadi (๐ + โ๐ฅ, ๐ + โ๐ฆ). Sehingga kita dapat mendefinisikan keterdiferensialan suatu fungsi dua peubah sebagai berikut
Kadangkala sulit menggunakan definisi di atas untuk mengecek keterdiferensialan suatu fungsi. Teorema berikut memberikan suatu kondisi yang lebih mudah untuk mengetahui keterdiferensialan.
Contoh 2
Tunjukkan bahwa ๐(๐ฅ, ๐ฆ) = ๐ฅ๐๐ฅ๐ฆdapat didiferensialkan di (1, 0) dan temukan linierisasi pada titik tersebut. Kemudian gunakan aproksimasi f(1.1, -0.1).
Penyelesaian
Turunan parsialnya adalah ๐๐ฅ(๐ฅ, ๐ฆ) = ๐๐ฅ๐ฆ+ ๐ฅ๐ฆ๐๐ฅ๐ฆ
๐๐ฅ(1,0) = ๐(1)(0)+ (1)๐0 = ๐0+ 0 = 1 ๐๐ฆ(๐ฅ, ๐ฆ) = ๐ฅ2๐๐ฅ๐ฆ
๐๐ฆ(1, 0) = 12๐(1)(0) = 1 Teorema
Jika turunan parsial ๐๐ฅ dan ๐๐ฅ berada di dekat (a, b) dan kontinu di (a, b), maka f dapat didiferensialkan di (a, b) Definisi
Jika z = f(x, y), maka f terdiferensialkan di (a, b) apabila โ๐ง diekspresikan dalam bentuk
โ๐ง = ๐๐ฅ(๐, ๐) + ๐๐ฆ(๐, ๐) + ๐1โ๐ฅ + ๐2โ๐ฆ
dimana ๐1 dan ๐2 โ 0 sebagai (โ๐ฅ, โ๐ฆ) โ (0,0)
Karena ๐๐ฅ dan ๐๐ฆ adalah fungsi yang kontinu, maka f dapat didiferensialkan. Linierisasinya adalah
๐ฟ(๐ฅ, ๐ฆ) = ๐(1,0) + ๐๐ฅ(1,0)(๐ฅ โ 1) + ๐๐ฆ(1,0)(๐ฆ โ 0) = 1 + 1(๐ฅ โ 1) + 1 โ ๐ฆ = ๐ฅ + ๐ฆ
Sedangkan aproksimasi liniernya adalah
๐(๐ฅ, ๐ฆ) โ ๐(1,0) + ๐๐ฅ(1,0)(๐ฅ โ 1) + ๐๐ฆ(1,0)(๐ฆ โ 0) ๐(๐ฅ, ๐ฆ) โ ๐ฅ + ๐ฆ
Sehingga
๐(1.1, โ0.1) โ 1.1 + (โ0.1) = 1 ((1.1)๐(1.1)(โ0.1)โ 1 Kita bandingkan dengan nilai aktual
๐(1.1, โ0.1) = (1.1)๐(1.1)(โ0.1) = 1.1๐โ0.11 โ 0.9854
Diferensial Total
Untuk fungsi satu peubah y = f(x) yang dapat didiferensialkan, kita dapat mendefinisikan diferensial dx sebagai sebuah variabel independen, artinya dx dapat diberi nilai jika ada bilangan riil.
Maka diferensial y didefinisikan sebagai ๐๐ฆ = ๐โฒ(๐ฅ)๐๐ฅ
Pada fungsi dua variabel z = f(x, y) yang dapat didiferensialkan, kita dapat mendefinisikan diferensial dx dan dy sebagai variabel independen. artinya dx dan dy dapat diberi nilai jika ada bilangan riil. Maka diferensialkan dz, juga dinamakan diferensial toal, yang didefinisikan sebagai
Jika ๐๐ฅ = โ๐ฅ = ๐ฅ โ ๐ dan ๐๐ฆ = โ๐ฆ = ๐ฆ โ ๐, maka diferensial z menjadi
๐๐ง = ๐๐ฅ(๐, ๐)(๐ฅ โ ๐) + ๐๐ฆ(๐, ๐)(๐ฆ โ ๐) ๐๐ง = ๐๐ฅ(๐ฅ, ๐ฆ)๐๐ฅ + ๐๐ฆ(๐ฅ, ๐ฆ)๐๐ฆ = ๐๐ง
๐๐ฅ๐๐ฅ +๐๐ง
๐๐ฆ๐๐ฆ
Sehingga aproksimasi linier dapat ditulis sebagai ๐(๐ฅ, ๐ฆ) โ ๐(๐, ๐) + ๐๐ง
Contoh 3
a. Jika ๐ง = ๐(๐ฅ, ๐ฆ) = ๐ฅ2 + 3๐ฅ๐ฆ โ ๐ฆ2, tentukan diferensial dz.
b. Jika x berubah dari 2 ke 2.05 dan y berubah dari 3 ke 2.96, bandingkan nilai โ๐ง dan dz.
Penyelesaian
a. Diferensial total dz dinyatakan sebagai ๐๐ง =๐๐ง
๐๐ฅ๐๐ฅ +๐๐ง
๐๐ฆ๐๐ฆ
= (2๐ฅ + 3๐ฆ)๐๐ฅ + (3๐ฅ โ 2๐ฆ)๐๐ฆ
b. Substitusi ๐ฅ = 2, ๐๐ฅ = โ๐ฅ = 2.05 โ 2 = 0.05, ๐ฆ = 3 dan ๐๐ฅ = โ๐ฅ = 2.96 โ 3 = โ0.4, sehingga kita dapatkan
๐๐ง = (2 โ 2 + 3 โ 3)(0.05) + (3 โ 2 โ 2 โ 3)(โ0.04) = (13)(0.05) + (0)(โ0.04) = 0.65
Perubahan z adalah
โ๐ง = ๐(2.05, 2.96) โ ๐(2, 3)
= [(2.05)2+ 3(2.05)(2.96) โ (2.96)2] โ [(2)2+ 3(2)(3) โ (3)2]
= 0.6449
Perhatikan bahwa โ๐ง โ ๐๐ง, tetapi dz lebih mudah dihitung Fungsi Tiga Peubah atau Lebih
Aproksimasi linier, keterdiferensial dan diferensial pada fungsi ini dapat didefinisikan sebagaimana pada fungsi dua peubah.
Aproksimasai linier pada fungsi tiga peubah diekspresikan sebagai
๐(๐ฅ, ๐ฆ, ๐ง) โ ๐(๐, ๐, ๐) + ๐๐ฅ(๐, ๐, ๐)(๐ฅ โ ๐)
+๐๐ฆ(๐, ๐, ๐)(๐ฆ โ ๐) + ๐๐ง(๐, ๐, ๐)(๐ง โ ๐) Jika ๐ค = ๐(๐ฅ, ๐ฆ, ๐ง), maka increment dari w adalah
โ๐ค = ๐(๐ + โ๐ฅ, ๐ + โ๐ฆ, ๐ + โ๐ง) โ ๐(๐, ๐, ๐)
Diferensial total dw didefinisikan sebagai
๐๐ค = ๐๐ฅ(๐ฅ, ๐ฆ, ๐ง)๐๐ฅ + ๐๐ฆ(๐ฅ, ๐ฆ, ๐ง)๐๐ฆ + ๐๐ง(๐ฅ, ๐ฆ, ๐ง)๐๐ง
=๐๐ค
๐๐ฅ๐๐ฅ +๐๐ค
๐๐ฆ๐๐ฆ +๐๐ค
๐๐ง๐๐ง
b. Turunan Berarah dan Vektor Gradien
Peta cuaca pada Gambar 2.24 menunjukkan peta kontur fungsi suhu T(x, y) untuk wilayah California dan Nevada pada pukul 0.3.00 PM di suatu hari pada bulan Oktober. Kurva ketinggian atau isotermal menghubungkan lokasi dengan suhu yang sama.
Misalkan kita pilih wilayah Reno, maka turunan parsial ๐๐ฅ pada suatu lokasi adalah rata-rata perubahan suhu terhadap jarak jika kita bepergian ke arah timur dari Reno. ๐๐ฆ adalah rata-rata perubahan suhu terhadap jarak jika kita bepergian ke arah utara.
Tapi bagaimana jika kita ingin mengetahui rata-rata perubahan suhu ketika kita akan bepergian ke arah tenggara (menuju ke Las Vegas), atau menuju ke arah yang lain? Untuk menyelesaikan masalah tersebut kita gunakan Turunan Berarah, yang memungkinkan kita untuk menemukan rata-rata perubahan suatu fungsi dua peubah atau lebih pada berbagai arah.
Gambar 2.24 Peta kontur fungsi suhu T(x, y) di California dan Nevada pada bulan Oktober
Turunan Berarah
Jika z = f(x, y) maka turunan parsial ๐๐ฅ dan ๐๐ฆ didefinisikan sebagai ๐๐ฅ(๐ฅ0, ๐ฆ0) = lim
โโ0
๐(๐ฅ0+ โ, ๐ฆ0) โ ๐(๐ฅ0, ๐ฆ0) โ
๐๐ฆ(๐ฅ0, ๐ฆ0) = lim
โโ0
๐(๐ฅ0, ๐ฆ0+ โ) โ ๐(๐ฅ0, ๐ฆ0) โ
Kedua formula tersebut merepresentasikan rata-rata perubahan z pada arah x dan y, yaitu arah pada vektor satuan i dan j.
Misalkan kita ingin mengetahui rata-rata perubahan z pada titik (๐ฅ0, ๐ฆ0) pada arah vektor satuan ๐ฎ = โฉ๐, ๐โช. Pertimbangkan permukaan S dengan persamaan ๐ง = ๐(๐ฅ, ๐ฆ) dan andaikan ๐ง0 = ๐(๐ฅ0, ๐ฆ0) maka titik ๐(๐ฅ0, ๐ฆ0) melalui S. Bidang vertikal yang melalui P pada arah u memotong S pada suatu kurva C (sebagaimana pada Gambar 2.25). Kemiringan garis singgung T terhadap C pada titik P adalah rata-rata perubahan z pada arah u.
Jika Q(x, y, z) adalah titik lain di C. Sedangkan Pโdan Qโ adalah proyeksi dari P dan Q pada bidang-xy. Maka vektor ๐๐โโโโโโ paralel dengan u, sehingga
๐๐โโโโโโ = โ๐ฎ = โฉโ๐, โ๐โช
untuk beberapa skalar h.
Oleh karena itu ๐ฅ โ ๐ฅ0 = โ๐ dan ๐ฆ โ ๐ฆ0 = โ๐, maka ๐ฅ = ๐ฅ0+ โ๐ dan ๐ฆ = ๐ฆ0+ โ๐, sehingga
โ๐ง
โ = ๐ง โ ๐ง0
โ =๐(๐ฅ0+ โ๐, ๐ฆ0+ โ๐) โ ๐(๐ฅ0, ๐ฆ0) โ
Jika kita mabil limitnya untuk โ โ 0, kita dapatkan rata-rata perubahan z (terhadap jarak) pada arah u, yang dinamakan turunan berarah f pada arah u.
Gambar 2.25 Kemiringan garis singgung T terhadap C pada titik P
Jika ๐ฎ = ๐ข = โฉ1,0โช, maka ๐ท๐๐ = ๐๐ฅ. Dan jika ๐ฎ = ๐ฃ = โฉ0, 1โช, maka ๐ท๐๐ = ๐๐ฆ. Dengan kata lain, turunan parsial f terhadap x dan y adalah kasus khusus dari turunan berarah.
Contoh 4
Gunakan Gambar 2.24 untuk mengestimasi nilai turunan berarah fungsi suhu (temperatur) pada wilayah Reno menuju ke arah tenggara (atau arah ke Las Vegas).
Penyelesaian
Kita dapat memperkirakan turunan berarah DuT dengan menghitung rata-rata perubahan suhu antara titik dimana garis berpotongan dengan kurva ketinggian atau isotermal T = 50 dan T
Definisi
Turunan berarah f di titik ๐(๐ฅ0, ๐ฆ0) pada arah ๐ฎ = โฉ๐, ๐โช
adalah
๐ท๐ข๐(๐ฅ0, ๐ฆ0) = lim
โโ0
๐(๐ฅ0+โ๐,๐ฆ0+โ๐)โ๐(๐ฅ0,๐ฆ0)
โ
Jika limitnya ada
= 60. Suhu pada titik tenggara dari Reno adalah T = 60๏ฐF dan suhu pada titik barat laut dari Reno adalah T = 50๏ฐF. Jarak antara kedua titik diperkirakan 75 mil. Jadi rata-rata perubahan suhu pada arah tenggara adalah
๐ท๐ข๐ โ60 โ 50 75 =10
75โ 0.13โ/mil
Untuk menghitung turunan berarah suatu fungsi dapat digunakan rumus pada Teorema berikut.
Bukti
Jika kita mendefinisikan suatu fungsi g dengan satu variabel h dimana
๐(โ) = (๐ฅ0+ โ๐, ๐ฆ0+ โ๐) Maka berdasarkan definisi turunan, kita dapatkan
๐โฒ(0) = lim
โโ0
๐(โ) โ ๐(0) โ = lim
โโ0
๐(๐ฅ0+ โ๐, ๐ฆ0+ โ๐) โ ๐(๐ฅ0, ๐ฆ0) = ๐ท๐ข๐(๐ฅ0, ๐ฆ0) โ
Di satu sisi, kita juga dapat menyatakan ๐(โ) = ๐(๐ฅ, ๐ฆ) dimana ๐ฅ = ๐ฅ0+ โ๐, ๐ฆ = ๐ฆ0+ โ๐, sehingga didapat
๐โฒ(โ) =๐๐
๐๐ฅ ๐๐ฅ ๐โ+๐๐
๐๐ฆ ๐๐ฆ
๐โ = ๐๐ฅ(๐ฅ, ๐ฆ)๐ + ๐๐ฆ(๐ฅ, ๐ฆ)๐ Jika kita pilih h = 0, maka ๐ฅ = ๐ฅ0, ๐ฆ = ๐ฆ0 dan
๐โฒ(0) = ๐๐ฅ((๐ฅ0, ๐ฆ0)๐ + ๐๐ฆ((๐ฅ0, ๐ฆ0)๐ Sehingga diperoleh
๐ท๐ข๐(๐ฅ0, ๐ฆ0) = ๐๐ฅ((๐ฅ0, ๐ฆ0)๐ + ๐๐ฆ((๐ฅ0, ๐ฆ0)๐ Teorema
Jika f adalah fungsi yang dapat didiferensialkan terhadap x dan y, maka f memiliki turunan berarah pada arah vektor satuan ๐ฎ = โฉ๐, ๐โช dan
๐ท๐ข๐(๐ฅ, ๐ฆ) = ๐๐ฅ(๐ฅ, ๐ฆ)๐ + ๐๐ฆ(๐ฅ, ๐ฆ)๐
Contoh 5
Tentukan turunan berarah ๐ท๐ข๐(๐ฅ, ๐ฆ) jika ๐(๐ฅ, ๐ฆ) = ๐ฅ3 โ 3๐ฅ๐ฆ + 4๐ฆ2
Pada titik (1,2) dan arah vektor satuan u dengan sudut ๐ = ๐ 6โ . Penyelesaian
Jika vektor u membentuk suatu sudut ๏ฑ dengan sumbu-x (sebagaimana dalam Gambar 2.26), maka kita dapat menyatakan ๐ฎ = โฉcos ๐, sin ๐โช. Sehingga kita peroleh
๐ฎ = โฉcos (๐
6) , sin (๐
6)โช = โฉ1 2โ3,1
2 โช
Selanjutnya kita tentukan turunan parsial f terhadap x dan y, yaitu ๐๐ฅ(๐ฅ, ๐ฆ) = 3๐ฅ2โ 3๐ฆ
๐๐ฆ(๐ฅ, ๐ฆ) = โ3๐ฅ + 8๐ฆ Sehingga didapat
๐ท๐ข๐(๐ฅ, ๐ฆ) = (3๐ฅ2โ 3๐ฆ) (1
2โ3) + (โ3๐ฅ + 8๐ฆ) (1 2) =1
2[(3โ3๐ฅ2โ 3โ3๐ฆ) + (8๐ฆ โ 3๐ฅ)]
Maka didapat turunan berarah f pada titik (1, 2) dengan arah vektor satuan u adalah
๐ท๐ข๐(1,2) = 1
2[(3โ3(1)2โ 3โ3(2)) + (8(2) โ 3(1))]
=13 โ 3โ3 2
Gambar 2.26. Turunan berarah f pada titik (1, 2) dengan arah vektor satuan u
Contoh 6
Andaikan ๐(๐ฅ, ๐ฆ) = 1 + 2๐ฅ + ๐ฆ3. Tentukan turunan bearah f pada titik (2, 1) dengan arah dari P ke Q(14, 6).
Penyelesaian
Terlebih dahulu kita tentukan turunan parsial f terhadap x dan y, yaitu
๐๐ฅ(๐ฅ, ๐ฆ) = 2 ๐๐ฅ(2,1) = 2 ๐๐ฆ(๐ฅ, ๐ฆ) = 3๐ฆ2 ๐๐ฆ(2,1) = 3(1)2 = 3
Selanjutnya mencari arah yang bersesuaian, yaitu dari titik P(2,1) ke Q(14, 6). Maka didapat
๐๐โโโโโโ = โฉ14 โ 2, 6 โ 1โช = โฉ12, 5โช = 12๐ข + 5๐ฃ
Karena ๐๐โโโโโโ bukan sebuah vektor satuan, maka harus mengubahnya menjadi vektor satuan u, sehingga
๐ฎ = ๐๐โโโโโโ
|๐๐โโโโโโ|= 12๐ข + 5๐ฃ
โ122 + 52 = 12๐ข + 5๐ฃ
โ144 + 25
=12๐ข + 5๐ฃ 13 = โฉ12
13, 5 13โช
Maka didapat turunan berarah f pada titik (2, 1) dengan arah vektor satuan u adalah
๐ท๐ข๐(2,1) = (2) (12
13) + (3) (5
13) = 24 + 15 13 = 3 Vektor Gradien
Turunan berarah suatu fungsi yang dapat didiferensialkan dapat ditulis sebagai hasil kali titik (dot product) dari dua vektor.
๐ท๐ข๐(๐ฅ, ๐ฆ) = ๐๐ฅ(๐ฅ, ๐ฆ)๐ + ๐๐ฆ(๐ฅ, ๐ฆ)๐
= โฉ๐๐ฅ(๐ฅ, ๐ฆ), ๐๐ฆ(๐ฅ, ๐ฆ)โช โ โฉ๐, ๐โช
= โฉ๐๐ฅ(๐ฅ, ๐ฆ), ๐๐ฆ(๐ฅ, ๐ฆ)โช โ ๐ฎ
Hubungan turunan berarah dan vektor gradien
Contoh 7
Tentukan turunan berarah ๐(๐ฅ, ๐ฆ) = ๐ฅ๐๐ฆ+ cos ๐ฅ๐ฆ pada titik (2, 0) dengan arah vektor ๐ฏ = 3๐ข โ 4๐ฃ.
Penyelesaian
Vektor satuan u dengan arah v adalah ๐ฎ = ๐ฏ
|๐ฏ|= 3๐ข โ 4๐ฃ
โ(3)2+ (โ4)2 = 3๐ข โ 4๐ฃ
โ9 + 16
= 3๐ข โ 4๐ฃ
โ25 = 3 5๐ข โ4
5๐ฃ = โฉ3 5, โ4
5 โช
Turunan parsial f pada titik (2, 0) diberikan oleh ๐๐ฅ(๐ฅ, ๐ฆ) = ๐๐ฆโ ๐ฆ sin ๐ฅ๐ฆ
๐๐ฅ(2,0) = ๐0โ (0) sin(2 โ 0) = 1 ๐๐ฆ(๐ฅ, ๐ฆ) = ๐ฅ๐๐ฆโ ๐ฅ sin ๐ฅ๐ฆ
๐๐ฆ(2,0) = (2)(๐0) โ (2) sin(2 โ 0) = 2
Maka gradien f pada titik (2, 0) adalah
โ๐(2,0) = ๐๐ฅ(2,0)๐ข + ๐๐ฆ(2,0)๐ฃ = ๐ข + 2๐ฃ = โฉ1, 2โช
Definisi
Jika f adalah fungsi dengan peubah x dan y, maka gradien dari f adalah fungsi vektor โ๐ (dibaca โdel fโ) dapat didefinisikan sebagai
โ๐(๐ฅ, ๐ฆ) = โฉ๐๐ฅ(๐ฅ, ๐ฆ), ๐๐ฆ(๐ฅ, ๐ฆ)โช =๐๐
๐๐ฅ๐ข +๐๐
๐๐ฆ๐ฃ
๐ท๐ข๐(๐ฅ, ๐ฆ) =โ๐(๐ฅ, ๐ฆ) โ ๐ฎ
Turunan berarah f pada titik (2, 0) dengan arah vektor satuan u adalah
๐ท๐ข๐(2,0) = โฉ3 5, โ4
5โชโโฉ1, 2โช=(3
5) (1)+(โ4
5) (2)= โ1
Gambar โ๐ sebagai sebuah vektor ditunjukkan oleh Gambar 2.27.
Gambar yang sama juga menunjukkan beberapa kurva ketinggian dari f. Rata-rata dimana f berubah pada titik (2, 0) dengan arah u adalah -1.
Gambar 2.27 Hubungan โ๐ dan kurva ketinggian dari f
Kita evaluasi dot product pada rumus berikut
๐ท๐ข๐ =โ๐ โ ๐ฎ =|โ๐||๐ฎ|cos ๐ =|โ๐|cos ๐
dimana ๏ฑ adalah sudut antara vektor โ๐ dengan u, sehingga didapat sifat-sifat berikut.
Turunan berarah dan gradien pada fungsi dua peubah, juga berlaku pada fungsi tiga peubah atau lebih.
Jika ๐(๐ฅ, ๐ฆ, ๐ง) adalah fungsi tiga peubah yang dapat didiferensialkan dan ๐ฎ = โฉ๐, ๐. ๐โช, maka f memiliki turunan pada arah vektor satuan u yaitu
๐ท๐ข๐(๐ฅ, ๐ฆ, ๐ง) = ๐๐ฅ(๐ฅ, ๐ฆ, ๐ง)๐ + ๐๐ฆ(๐ฅ, ๐ฆ, ๐ง)๐ + ๐๐ง(๐ฅ, ๐ฆ, ๐ง)๐
Vektor gradien f dinyatakan sebagai
โ๐(๐ฅ, ๐ฆ, ๐ง) = โฉ๐๐ฅ(๐ฅ, ๐ฆ, ๐ง), ๐๐ฆ(๐ฅ, ๐ฆ, ๐ง), ๐๐ง(๐ฅ, ๐ฆ, ๐ง)โช
=๐๐
๐๐ฅ๐ข +๐๐
๐๐ฆ๐ฃ +๐๐
๐๐ง๐ค
Turunan berarah f juga dapat dinyatakan sebagai ๐ท๐ข๐(๐ฅ, ๐ฆ, ๐ง) =โ๐(๐ฅ, ๐ฆ, ๐ง) โ ๐ฎ Sifat-sifat turunan berarah ๐ซ๐๐ = |๐๐| ๐๐จ๐ฌ ๐ฝ
1. Fungsi f meningkat dengan cepat ketika ๏ฑ = 1 atau ๏ฑ = 0 dan u adalah arah dari โ๐. Fungsi f meningkat lebih cepat pada arah vektor gradien โ๐ di titik P. Turunan pada arah ini adalah
๐ท๐ข๐ = |โ๐| cos(0) = |โ๐|
2. Dengan cara yang sama, fungsi f menurun dengan cepat ketika ๏ฑ = โผ dan u adalah arah dari โ๐. Fungsi f menurun lebih cepat pada arah โ|โ๐|. Turunan pada arah ini adalah
๐ท๐ข๐ = |โ๐| cos ๐ = โ|โ๐|
3. Setiap arah u yang ortogonal terhadap vektor gradien
โ๐ โ 0 adalah arah perubahan nol pada f karena ๏ฑ = ๐
โ2 dan
๐ท๐ข๐ = |โ๐| cos(๐ 2โ ) = |โ๐| โ 0 = 0
Contoh 8
Tentukan arah dimana fungsi ๐(๐ฅ, ๐ฆ) =1
2๐ฅ2+1 2๐ฆ2 a. Meningkat lebih cepat pada titik (1, 1) b. Menurun lebih cepat pada titik (1, 1)
c. Apakah arah perubahan nol dari f pada titik (1, 1)?
Penyelesaian
a. Fungsi f meningkat lebih cepat pada arah โ๐ di titik (1, 1).
Gradiennya adalah
โ๐(๐ฅ, ๐ฆ) = ๐ฅ๐ข + ๐ฆ๐ฃ
โ๐(1,1) = ๐ข + ๐ฃ Arahnya adalah vektor satuan u yaitu
๐ฎ = โ๐
|โ๐|= ๐ข + ๐ฃ
โ12+ 12 = 1
โ2๐ข + 1
โ2๐ฃ
b. Fungsi f meningkat lebih cepat pada arah โโ๐ di titik (1, 1), yaitu pada arah vektor satuan
โ๐ฎ = โ 1
โ2๐ข โ 1
โ2๐ฃ
c. Arah perubahan nol dari f pada titik (1, 1) adalah ortogonal terhadap โ๐ yaitu
๐ง = โ 1
โ2๐ข + 1
โ2๐ฃ dan โ๐ง = 1
โ2๐ข + 1
โ2๐ฃ Contoh 8
Misalkan suhu pada titik (x, y, z) pada ruang dinyatakan oleh fungsi
๐(๐ฅ, ๐ฆ, ๐ง) = 80
(1 + ๐ฅ2+ 2๐ฆ2+ 3๐ง2)2
dimana T diukur dalam derajat Celsius, sedangkan x, y, z dalam meter. Pada arah mana suhu meningkat lebih cepat pada titik (1, 1, -2)? Berapakah rata-rata maksimum peningkatannya?
Penyelesaian
Gradien dari T adalah
โ๐(๐ฅ, ๐ฆ, ๐ง) =๐๐
๐๐ฅ๐ข +๐๐
๐๐ฆ๐ฃ +๐๐
๐๐ง๐ค
= โ 160๐ฅ
(1 + ๐ฅ2+ 2๐ฆ2+ 3๐ง2)2๐ข โ 320๐ฆ
(1 + ๐ฅ2+ 2๐ฆ2+ 3๐ง2)2๐ฃ
โ 480๐ง
(1 + ๐ฅ2+ 2๐ฆ2+ 3๐ง2)2๐ค
= 160
(1 + ๐ฅ2+ 2๐ฆ2+ 3๐ง2)2(โ๐ฅ๐ข โ 2๐ฆ๐ฃ โ 3๐ง๐ค)
Gradien dari T pada titik (1, 1, -2) adalah
โ๐(1, 1, โ2) = 160
(1 + 12+ 2 โ 12+ 3 โ 22)2(โ๐ข โ 2๐ฃ + 6๐ค)
=160
256(โ๐ข โ 2๐ฃ + 6๐ค) =5
8(โ๐ข โ 2๐ฃ + 6๐ค)
Fungsi T meningkat dengan cepat di titik (1, 1, -2) pada arah โ๐ =
5
8(โ๐ข โ 2๐ฃ + 6๐ค), atau ekuivalen dengan arah vektor โ๐ข โ 2๐ฃ + 6๐ค atau pada arah vektor satuan
๐ฎ = โ๐ข โ 2๐ฃ + 6๐ค
|โ๐ข โ 2๐ฃ + 6๐ค|= โ๐ข โ 2๐ฃ + 6๐ค
โ(โ1)2+ (โ2)2+ 62
= โ๐ข โ 2๐ฃ + 6๐ค
โ41 =โ 1
โ41๐ข โ 2
โ41๐ฃ + 6
โ41๐ค
Rata-rata maksimum peningkatan f pada titik (1, 1, -2) adalah panjang skalar vektor gradiennya yaitu
|โ๐| = |5
8(โ๐ข โ 2๐ฃ + 6๐ค)| =5 8โ41 Maka Rata-rata maksimum peningkatan suhu adalah 5
8โ41 โ ๐โ Turunan berarah dan Gradien terhadap Kurva Ketinggian Andaikan permukaan S adalah grafik fungsi dengan tiga peubah ๐น(๐ฅ, ๐ฆ, ๐ง) dengan persamaan kurva permukaan ๐น(๐ฅ, ๐ฆ, ๐ง) = ๐ dan andaikan titik ๐(๐ฅ0, ๐ฆ0, ๐ง0) berada pada S. Andaikan C sebagai kurva pada permukaan S dan melalui titik P. Kurva C dideskrisikan oleh fungsi vektor yang kontinu ๐ซ(๐ก) =
โฉ๐ฅ(๐ก), ๐ฆ(๐ก), ๐ง(๐ก)โช. Misalkan ๐ก0 adalah nilai parameter yang berkorespondensi dengan P, sehingga ๐ซ(๐ก0) = โฉ๐ฅ0, ๐ฆ0, ๐ง0โช.
Karena C berada pada S, maka setiap titik (๐ฅ(๐ก), ๐ฆ(๐ก), ๐ง(๐ก)) harus memenuhi persamaan S, yaitu
๐น(๐ฅ(๐ก), ๐ฆ(๐ก), ๐ง(๐ก)) = ๐
Jika x, y dan z adalah fungsi yang dapat didiferensialkan terhadap t dan F juga dapat didiferensialkan, maka kita dapat menggunakan aturan rantai untuk mendiferensialkan kedua sisi pada persamaan di atas, yaitu
๐๐น
๐๐ฅ ๐๐ฅ
๐๐ก+๐๐น
๐๐ฆ ๐๐ฆ ๐๐ก +๐๐น
๐๐ง ๐๐ง ๐๐ก= 0
Karena โ๐น = โฉ๐น๐ฅ, ๐น๐ฆ, ๐น๐งโช dan ๐ซโฒ(๐ก) = โฉ๐ฅโฒ(๐ก), ๐ฆโฒ(๐ก), ๐งโฒ(๐ก)โช maka kita dapat menyatakan persamaan di atas menjadi sebuah dot product yaitu
โ๐น โ ๐ซโฒ(๐ก) = 0
Secara khusus, ketika ๐ก = ๐ก0 kita dapatkan ๐ซ(๐ก0) = โฉ๐ฅ0, ๐ฆ0, ๐ง0โช sehingga
โ๐น(๐ฅ0, ๐ฆ0, ๐ง0) โ ๐ซโฒ(๐ก0) = 0
Hal ini menujukkan bahwa โ๐น(๐ฅ0, ๐ฆ0, ๐ง0) tegak lurus dengan ๐ซโฒ(๐ก0). Jika โ๐น(๐ฅ0, ๐ฆ0, ๐ง0) โ 0, bidang singgung terhadap kurva ketinggian ๐น(๐ฅ, ๐ฆ, ๐ง) = ๐ pada titik ๐(๐ฅ0, ๐ฆ0, ๐ง0) adalah bidang yang melalui P dan memiliki vektor normal โ๐น(๐ฅ0, ๐ฆ0, ๐ง0), persamaannya adalah
Garis normal terhadap S adalah garis yang melalui P dan tegak lurus dengan bidang singgung. Arah garis normal ditentukan oleh vektor gradien โ๐น(๐ฅ0, ๐ฆ0, ๐ง0). Persamaan simetriknya adalah
๐ฅ โ ๐ฅ0
๐น๐ฅ(๐ฅ0, ๐ฆ0, ๐ง0)= ๐ฆ โ ๐ฆ0
๐น๐ฆ(๐ฅ0, ๐ฆ0, ๐ง0)= ๐ง โ ๐ง0 ๐น๐ง(๐ฅ0, ๐ฆ0, ๐ง0)
๐น๐ฅ(๐ฅ0, ๐ฆ0, ๐ง0)(๐ฅ โ ๐ฅ0)+๐น๐ฆ(๐ฅ0, ๐ฆ0, ๐ง0)(๐ฆ โ ๐ฆ0) + ๐น๐ง(๐ฅ0, ๐ฆ0, ๐ง0)(๐ง โ ๐ง0)= 0
Contoh 9
Tentukan persamaan bidang singgung adn garis normal pada titik (-2, 1, -3) terhadap elipsoid
๐ฅ2
4 + ๐ฆ2 +๐ง2 9 = 3 Penyelesaian
Elipsoid tersebut adalah bidang ketinggian (level surface) dengan k = 3 dari fungsi
๐น(๐ฅ, ๐ฆ, ๐ง) =๐ฅ2
4 + ๐ฆ2+๐ง2 9 Turun parsial pertama F pada titik (-2, 1, -3) adalah
๐น๐ฅ(๐ฅ, ๐ฆ, ๐ง) =1
2๐ฅ, maka ๐น๐ฅ(โ2,1, โ3) = โ1 ๐น๐ฆ(๐ฅ, ๐ฆ, ๐ง) = 2๐ฆ, maka ๐น๐ฆ(โ2,1, โ3) = 2 ๐น๐ง(๐ฅ, ๐ฆ, ๐ง) = 29๐ง, maka ๐น๐ง(โ2,1, โ3) = โ23
Persamaan bidang singgung pada titik (โ2,1, โ3) adalah
โ1(๐ฅ + 2) + 2(๐ฅ โ 1) โ2
3(๐ง + 3) = 0 Jika disederhanakan akan diperoleh persamaan
3๐ฅ โ 6๐ฆ + 2๐ง = 18 = 0 Persamaan simetrik dari garis normal adalah
๐ฅ + 2
โ1 =๐ฅ โ 1
2 =๐ง + 3
โ2 3 2. RANGKUMAN
Bidang Singgung dan Aproksimasi Linier
a. Misalkan f memiliki turunan parsial yang kontinu. Persamaan bidang singgung ๐ง = ๐(๐ฅ, ๐ฆ) di titik ๐(๐ฅ0, ๐ฆ0, ๐ง0) adalah
๐ง โ ๐ง0 = ๐๐ฅ(๐ฅ โ ๐ฅ0) + ๐๐ฆ(๐ฆ โ ๐ฆ0) b. Linierisasi fungsi f pada titik (a, b) adalah
๐ฟ(๐ฅ, ๐ฆ) = ๐(๐, ๐) + ๐๐ฅ(๐, ๐)(๐ฅ โ ๐) + ๐๐ฆ(๐, ๐)(๐ฆ โ ๐) c. Aproksimasi linier atau aproksimasi bidang singgung f pada
titik (a, b) adalah
๐(๐ฅ, ๐ฆ) โ ๐(๐, ๐) + ๐๐ฅ(๐, ๐)(๐ฅ โ ๐) + ๐๐ฆ(๐, ๐)(๐ฆ โ ๐) d. Jika z = f(x, y), maka f terdiferensialkan di (a, b) apabila โ๐ง
diekspresikan dalam bentuk
โ๐ง = ๐๐ฅ(๐, ๐) + ๐๐ฆ(๐, ๐) + ๐1โ๐ฅ + ๐2โ๐ฆ dimana ๐1 dan ๐2 โ 0 sebagai (โ๐ฅ, โ๐ฆ) โ (0,0)
e. Jika turunan parsial ๐๐ฅ dan ๐๐ฅ berada di dekat (a, b) dan kontinu di (a, b), maka f dapat didiferensialkan di (a, b)
f. Jika diketahui fungsi dua peubah ๐ง = ๐(๐ฅ, ๐ฆ), maka diferensial total dz adalah
๐๐ง = ๐๐ฅ(๐ฅ, ๐ฆ)๐๐ฅ + ๐๐ฆ(๐ฅ, ๐ฆ)๐๐ฆ = ๐๐ง
๐๐ฅ๐๐ฅ +๐๐ง
๐๐ฆ๐๐ฆ Turunan Berarah dan Vektor Gradien
a. Turunan berarah f di titik ๐(๐ฅ0, ๐ฆ0) pada arah ๐ฎ = โฉ๐, ๐โช
adalah
๐ท๐ข๐(๐ฅ0, ๐ฆ0) = lim
โโ0
๐(๐ฅ0+โ๐,๐ฆ0+โ๐)โ๐(๐ฅ0,๐ฆ0)
โ
jika limitnya ada
b. Jika f adalah fungsi yang dapat didiferensialkan terhadap x dan y, maka f memiliki turunan berarah pada arah vektor satuan ๐ฎ = โฉ๐, ๐โช dan
๐ท๐ข๐(๐ฅ, ๐ฆ) = ๐๐ฅ(๐ฅ, ๐ฆ)๐ + ๐๐ฆ(๐ฅ, ๐ฆ)๐
c. Jika f adalah fungsi dengan peubah x dan y, maka gradien dari f adalah fungsi vektor โ๐ (dibaca โdel fโ) dapat didefinisikan sebagai
โ๐(๐ฅ, ๐ฆ) = โฉ๐๐ฅ(๐ฅ, ๐ฆ), ๐๐ฆ(๐ฅ, ๐ฆ)โช =๐๐
๐๐ฅ๐ข +๐๐
๐๐ฆ๐ฃ d. Hubungan turunan berarah dan vektor gradien
๐ท๐ข๐(๐ฅ, ๐ฆ) =โ๐(๐ฅ, ๐ฆ) โ ๐ฎ
e. Fungsi f meningkat dengan cepat ketika ๏ฑ = 1 atau ๏ฑ = 0 dan u adalah arah dari โ๐. Fungsi f meningkat lebih cepat pada arah vektor gradien โ๐ di titik P. Turunan pada arah ini adalah
๐ท๐ข๐ = |โ๐|cos(0) =|โ๐|
f. Fungsi f menurun dengan cepat ketika ๏ฑ = โผ dan u adalah arah dari โ๐. Fungsi f menurun lebih cepat pada arah โ|โ๐|.
Turunan pada arah ini adalah
๐ท๐ข๐ = |โ๐|cos ๐ = โ|โ๐|
g. Setiap arah u yang ortogonal terhadap vektor gradien โ๐ โ 0 adalah arah perubahan nol pada f karena ๏ฑ = ๐
โ2 dan
๐ท๐ข๐ = |โ๐|cos(๐
โ )2 =|โ๐|โ 0 =
h. Persamaan bidang singgung terhadap kurva ketinggian ๐น(๐ฅ, ๐ฆ, ๐ง) = ๐ pada titik ๐(๐ฅ0, ๐ฆ0, ๐ง0) adalah
๐น๐ฅ(๐ฅ0, ๐ฆ0, ๐ง0)(๐ฅ โ ๐ฅ0)+๐น๐ฆ(๐ฅ0, ๐ฆ0, ๐ง0)(๐ฆ โ ๐ฆ0) + ๐น๐ง(๐ฅ0, ๐ฆ0, ๐ง0)(๐ง โ ๐ง0)= 0
i. Persamaan simetrik bidang singgung terhadap kurva ketinggian ๐น(๐ฅ, ๐ฆ, ๐ง) = ๐ pada titik ๐(๐ฅ0, ๐ฆ0, ๐ง0) adalah
๐ฅ โ ๐ฅ0
๐น๐ฅ(๐ฅ0, ๐ฆ0, ๐ง0)= ๐ฆ โ ๐ฆ0
๐น๐ฆ(๐ฅ0, ๐ฆ0, ๐ง0)= ๐ง โ ๐ง0 ๐น๐ง(๐ฅ0, ๐ฆ0, ๐ง0)
3. LATIHAN
Kerjakan soal-soal latihan berikut
Tentukan persamaan bidang singgung terhadap permukaan yang diberikan pada titik yang ditentukan
1. ๐ฅ2โ ๐ฆ2+ ๐ง2+ 1 = 0; (1, 3, โ7) 2. ๐ง = 2๐3๐ฆcos(2๐ฅ) ; (๐ 3โ , 0, โ1)
Jelaskan mengapa fungsi berikut terdiferensialkan pada titik yang diberikan. Kemudian tentukan linierisasi L(x) fungsi tersebut pada titik yang diberikan
3. ๐(๐ฅ, ๐ฆ) = 1 + ๐ฅ ln(๐ฅ๐ฆ โ 5) ; (2, 3) 4. ๐(๐ฅ, ๐ฆ) = ๐ฅ3๐ฆ4; (1, 1)
5. Tentukan seluruh titik pada permukaan ๐ง = ๐ฅ2โ 2๐ฅ๐ฆ โ ๐ฆ2โ 8๐ฅ + 4๐ฆ dimana bidang singgungnya adalah horizontal.
6. Tentukan seluruh titik pada permukaan ๐ง = 2๐ฅ2+ 3๐ฆ2 dimana bidang singgungnya sejajar dengan bidang 8๐ฅ โ 3๐ฆ โ ๐ง = 0
Tentukan turunan berarah f di titik P pada arah a 7. ๐(๐ฅ, ๐ฆ) = ๐ฅ3๐ฆ; ๐ = (1, 2); ๐ = 3๐ข โ 4๐ฃ
8. ๐(๐ฅ, ๐ฆ) = 2๐ฅ2 + ๐ฅ๐ฆ โ ๐ฆ2; ๐ = (3, โ 2); ๐ = ๐ข โ ๐ฃ
Tentukan gradient f, kemudian evaluasi gradient pada titik P dan tentukan rata-rata perubahan f di titik P pada arah vektor satuan u.
9. ๐(๐ฅ, ๐ฆ) = sin(2๐ฅ + 3๐ฆ) ; ๐ = (โ6, 4); ๐ฎ =1
2(โ3๐ข โ ๐ฃ) 10. ๐(๐ฅ, ๐ฆ) =๐ฆ2
๐ฅ ; ๐ = (1, 2); ๐ฎ =1
3(2๐ข + โ5๐ฃ)
11. Ke arah manakah vektor u dimana ๐(๐ฅ, ๐ฆ) = โ๐ฅ2โ ๐ฆ2 menurun paling cepat pada titik P(-1, 2)?
12. Ke arah manakah vektor u dimana ๐(๐ฅ, ๐ฆ) = sin(3๐ฅ โ ๐ฆ) menurun paling cepat pada titik ๐(๐ 6โ , ๐ 4โ )?
13. Ketinggian sebuah gunung di atas pemukaan laut pada titik (x, y) adalah 300๐โ((๐ฅ2+2๐ฆ2) 100โ ) meter. Sumbu x positif mengarah ke timur dan sumbu-y negatif mengarah ke utara.
Seorang pendaki tepat berada pada titik (10, 10). Jika pendaki tersebut bergerak kea rah barat laut, apakah ia akan mendaki atau menurun, dan pada kemiringan berapa?
14. Dekat sebuah pelampung, kedalaman sebuah danah pada titik dengan koordinat (x, y) adalah ๐ง = 200 + 0.02๐ฅ2 โ 0.001๐ฆ3, dimana x, y dan z diukur dalam meter. Seorang nelayan dengan sebuah perahu kecil berangkat pada titik (80, 60) dan bergerak ke arah pelampung, yang lokasinya pada (0, 0).
Apakah air di bawah perahu dalam atau dangkal saat perahu itu sampai pada pelampung tersebut? Jelaskan.
4. KUNCI JAWABAN
Kunci jawaban untuk soal-soal bernomor ganjil 1. (๐ฅ โ 1) โ 3(๐ฆ โ 3) + โ7(๐ง โ โ7)
3. ๐๐ฅ = ๐ฅ๐ฆ
๐ฅ๐ฆโ5+ ln(๐ฅ๐ฆ โ 5); ๐๐ฆ = ๐ฅ2
๐ฅ๐ฆโ5; ๐๐ฅ(2,3) = 6 dan
๐๐ฆ(2,3) = 4. Karena ๐๐ฅ dan ๐๐ฆ kontinu untuk ๐ฅ๐ฆ > 5, maka f kontinu di (2, 3). Linierisasi f pada titik (2, 3) adalah ๐ฟ(๐ฅ, ๐ฆ) = 6๐ฅ + 4๐ฆ โ 23
5. (3, -1, -14) 7. 8
5
9. โ๐(๐ฅ, ๐ฆ) = 2 cos(2๐ฅ + 3๐ฆ) ๐ข + 3 cos(2๐ฅ + 3๐ฆ)๐ฃ
โ๐(โ6,4) = 2๐ข + 3๐ฃ ๐ท๐ข๐(โ6, 4) = โ3 โ32 11. 1
โ5(โ๐ข + 2๐ฃ) 13. Turun; โ300โ2 ๐โ3
E. KEGIATAN BELAJAR 7