• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kegiatan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Dalam dokumen LAPORAN DELEGASI REPUBLIK INDONESIA (Halaman 57-62)

VI. PERTEMUAN BILATERAL DAN MULTILATERAL

6.1 Kegiatan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan

6.1.1 High-Level Dialogue on the Integrative Global Agenda to Protect the Marine Environment from Land-based Activities, dan Bureau Meeting dari The Fourth Intergovernmental Review Meeting on the Implementation of the Global Programme of Action (GPA) for the Protection of the Marine Environment from Land-based Activities (IGR-4), 12 Desember 2018

Pertemuan dihadiri oleh anggota bureau dari setiap representasi UN Regional Group lainnya, yaitu Seychelles (African Group), Georgia (Eastern European Group), dan Jerman (WEOG). Kolombia yang mewakili GRULAC tidak hadir dalam pertemuan.

Selain itu, hadir pula Menteri Lingkungan Hidup Jepang dan delegasi Amerika Serikat untuk GPA dialogue.

Pertemuan membahas langkah konkrit dan inisiatif dalam menangani pencemaran dan kerusakan lingkungan laut pasca IGR-4. Menteri LHK menekankan pelaksanaan ”Bali Declaration on the Protection of the Marine Environment from Land Based Activities”

yang cukup strategis serta komitmen solusi dan fleksibility negara anggota yang diperlukan dalam penyelesaian kompleksitas IGR-GPA.

Selanjutnya, Indonesia mengungkapkan ide pembentukan Regional Centre for Capacity Initiative to Protect Marine Pollution Connected to Land Based Activities dan menyatakan kesiapannya menjadi Centre untuk kelompok Asia Pasifik. Beberapa negara menyambut baik hal ini, namun terdapat perhatian untuk menyelesaikan keberlanjutan GPA terlebih dahulu sebelum inisiatif regional centre. Pertemuan Biro menghasilkan beberapa modalitas yang diperlukan untuk the way forward GPA dalam pembahasannya di UNEA-4 mendatang.

6.1 .2 Kegiatan Bilateral MENLHK

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr. Siti Nurbaya, dalam kesempatan Katowice Climate Change Conference mengadakan pertemuan tingkat tinggi secara bilateral dengan beberapa Menteri dari mitra Internasional dengan hasil sebagai berikut:

a. Indonesia dengan United Kingdom (7 Desember 2018)

Delegasi Indonesia diwakili oleh: (1) Menteri LHK; (2) Dirjen PPI KLHK; (3) Kepala BLI KLHK; (4) Kabag Multilateral Biro KLN KLHK ; (5) Diah Suradiredja (Kehati); (6) Monica Tanuhandaru (Kemitraan); dan (7) Dr. M. Zahrul Muttaqin (BLI KLHK).

Sementara itu, delegasi United Kingdom (UK) diwakili oleh: (1) Hon. Mark Field MP, Minister of State for Asia and the Pacific at the Foreign and Commonwealth Office;

(2) Therese Coffey MP, Parliamentary Under Secretary of State for the Environment;

(3) Olivia; dan (4) Gemma.

47

Pada pertemuan ini Menteri LHK menyampaikan apresiasi kepada UK atas kerjasama erat berdasarkan asas saling hormat (mutual respect) dan saling percaya (mutual trust) dan telah dilaksanakan cukup lama serta menghasilkan banyak hal yang bersifat sistemik dalam kerangka memperbaiki tatakelola kehutanan di Indonesia.

Menteri LHK mengusulkan adanya kerja sama baru terkait dengan penanganan pencemaran plastik di laut, pengelolaan International Tropical Peatland Centre (ITPC), dan dukungan atas upaya Indonesia untuk meningkatkan kelestarian produk kelapa sawit yang ramah lingkungan.

Pemerintah UK merespon dengan baik usulan Indonesia terkait dengan kerjasama baru tanpa harus mengesampingkan kerjasama erat yang telah ada selama ini.

Terkait dengan penanganan sampah plastik di laut, UK menyatakan bersedia untuk menyediakan dukungan teknis dan pendanaan untuk peningkatan kapasitas pengelolaan taman nasional laut yang terancam kenekaragaman hayatinya oleh pencemaran plastik laut. UK menekankan perlunya konservasi keanekaragaman hayati laut dengan tetap mempertimbangkan mata pencaharian masyarakat setempat.

Lebih lanjut, Pemerintah UK menekankan pentingnya kerjasama penurunan emisi di tingkat lapangan melalui Bio-Carbon Fund Initiative for Sustainable Landscape (ISFL) karena akan memberikan dampak yang baik bagi pertumbuhan yang ramah lingkungan bagi Indonesia. UK menyambut baik peran baru Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB untuk jangka waktu 2 tahun ke depan karena salah satu konflik di dunia diakibatkan oleh konflik lingkungan. Indonesia berpengalaman dalam menangani masalah konflik yang terkait dengan lingkungan hidup. Sebagai penutup, UK menyatakan tertarik untuk menginisiasi kerjasama dalam pengananan Mangrove di Indonesia mengingat peran sentral mangrove dalam mitigasi perubahan iklim dan penyediaan mata pencaharian bagi masyarakat.

Para Menteri dari kedua negara juga sepakat untuk menata kembali perjanjian kerja sama (MoU) khususnya untuk mengakomodasi kerja sama baru terkait antara lain dukungan kepada International Tropical Peatland Centre (ITPC), dukungan tata kelola kelapa sawit berkelanjutan, dukungan mengatasi polusi laut dan pengelolaan limbah plastik serta dukungan untuk mangrove. Ibu Menteri mengundang perwakilan UK untuk melakukan kunjungan kerja lapangan dan melihat capaian Indonesia dalam implementasi perubahan iklim.

b. Indonesia dengan Australia,10 Desember 2018

Delegasi Indonesia diwakili oleh: (1) Menteri LHK; (2) Dirjen PPI KLHK; (3) Kepala BLI KLHK; (4) NFP-UNFCCC; (5) Kabag Multilateral Biro KLN KLHK; (6) Monica Tanuhandaru (Kemitraan); dan (7) Dr. M. Zahrul Muttaqin (BLI KLHK). Delegasi Australia diwakili oleh Menteri Lingkungan Australia, Melissa Price, yang didampingi oleh beberapa staf.

48

Dalam pertemuan bilateral ini, tujuan utama adalah perkenalan Menteri Melissa Price yang baru saja ditunjuk pada Bulan Agustus 2018. Namun demikian juga dibahas beberapa kerja sama yang telah dilakukan oleh Indonesia dan Australia, terutama terkait dengan upaya membentuk Working Group on Climate Change and Environment dalam kerangka kerja sama bilateral Indonesia-Australia. Selama ini kerja sama antara Australia dan Indonesia di bidang lingkungan hidup dan kehutanan lebih banyak dibahas dalam kerangka Task Force on Forestry (TFF) - Working Group on Agriculture, Food and Forestry Cooperation (WGAFFC). Di samping itu kerjasama penelitian di bidang kehutanan juga sudah dilaksanakan sejak 30 tahun yang lalu dengan Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR). Indonesia juga mengapresiasi kerjasama dengan Australia dalam perubahan iklim pada kurun waktu 2007 – 2014 yang telah menghasilkan sistem penghitungan dan pemantaun emisi gas rumah kaca yaitu Indonesian National Accounting System (INCAS).

Australia menyatakan bahwa prioritas mereka terkait dengan lingkungan hidup adalah dukungan terhadap implementasi Paris Agreement dan dukungan pada sektor lahan, terutama terkait dengan pertanian berkelanjutan. Australia juga mendorong pengembangan blue-carbon dalam mencapai NDC. Terkait dengan Asia Pacific Rain Forest Summit (APRS), Australia akan tetap mendukung inisiatif tersebut.

c. Indonesia dengan Peru, 10 dan 11 Desember 2018

Delegasi Indonesia diwakili oleh: (1) Menteri LHK; (2) Dirjen PPI KLHK; (3) Kepala BLI KLHK; (4) Kabag Multilateral Biro KLN KLHK; (5) Monica Tanuhandaru (Kemitraan); dan (6) Dr. M. Zahrul Muttaqin (BLI KLHK). Delegasi Peru diwakili oleh Menteri Lingkungan Peru, Fabiola Martha Muñoz-Dodero, yang didampingi oleh beberapa staf. Dalam pertemuan ini juga dihadiri oleh delegasi dari CIFOR yang banyak melakukan penelitian tentang gambut di Indonesia dan Peru.

Dalam kesempatan ini, Menteri LHK menjelaskan bagaimana upaya Indonesia dalam melakukan tindakan korektif atas pengelolaan hutan dan lahan, terutama gambut. Ibu Menteri juga menyatakan bahwa sebagai negara pemilik hutan tropis, Indonesia dan Peru dapat bekerja sama dalam mewujudkan pengelolaan hutan lestari dan mendukung upaya mengatasi perubahan iklim dunia. Indonesia juga meminta Peru untuk tetap aktif dalam kerja sama multilateral penanganan gambut dalam kerangka Global Peatland Initiatives (GPI) dan International Tropical Peatland Centre (ITPC).

Menteri Fabiola berterima kasih pada Indonesia dan meminta maaf karena tidak bisa hadir dalam acara peluncuran sekretariat International Tropical Peatland Centre (ITPC) di Indonesia pada akhir Oktober silam. Peru, sebagai salah satu negara inisiator Global Peatland Initiatives (GPI) bersama Indonesia dan Republik Kongo serta Republik Demokratik Kongo (dahulu bernama Zaire) tetap berkomitmen untuk bekerja sama dalam kerangka multilateral tersebut. Lebih lanjut, Menteri Fabiola

49

menyatakan bahwa kerjasama antara Indonesia dan Peru perlu lebih ditekankan pada kegiatan di lapangan. Dalam hal ini Ibu Menteri menyatakan bahwa Peru dapat mengirimkan staf kementerian ke Indonesia untuk studi banding dan dilatih dalam pengelolaan dan restorasi gambut.

d. Indonesia dengan Italia, 11 Desember 2018

Delegasi Indonesia diwakili oleh: (1) Dirjen PPI KLHK; (2) Kepala BLI KLHK; (3) Kabag Multilateral Biro KLN KLHK; (4) Monica Tanuhandaru (Kemitraan); dan (5) Dr.

M. Zahrul Muttaqin (BLI). Delegasi Italia diwakili oleh Mr. Francesco La Camera, Direktur Jenderal Pembangunan Berkelanjutan, Energi dan Iklim, Kementerian Lingkungan, Lahan dan Laut.

Dalam pertemuan ini dibahas mengenai usulan Italia untuk bekerja sama dengan Indonesia dalam kerangka REDD+. Italia telah melakukan kerja sama di bidang REDD+ dengan negara-negara antara lain Vietnam, Myanmar, Malaysia, Ekuador dan Ghana. Mereka menyatakan sudah mengirimkan draft MoU yang perlu ditindaklanjuti oleh Indonesia. Dalam hal ini, Dirjen PPI menegaskan bahwa akan segera menindaklanjuti draft MoU agar segera dapat dibentuk joint committee antara kedua negara dan selanjutnya menyusun rencana kerja.

e. Indonesia dengan Norwegia, 11 Desember 2018

Delegasi Indonesia diwakili oleh: (1) Menteri LHK; (2) Dirjen PPI KLHK; (3) Kepala BLI KLHK; (4) Kabag Multilateral Biro KLN KLHK; (5) Diah Suradiredja (Kehati); (6) Monica Tanuhandaru (Kemitraan); (7) Dr. M. Zahrul Muttaqin (BLI), dan (8) Dr.

Belinda Margono (DJPPI). Sementara itu, delegasi Norwegia diwakili oleh Hon. Ola Elvestuen, Menteri Iklim dan Lingkungan Norwegia, didampingi beberapa staf.

Pada pertemuan ini Ibu Menteri menyampaikan apresiasi kepada Norwegia atas kerjasama erat di bidang perubahan iklim terutama dalam hal REDD+. Lebih lanjut Ibu Menteri menyatakan bahwa program REDD+ yang didukung oleh Norwegia melalui Letter of Intent (LoI) dengan Pemerintah RI telah ikut memberikan jalan bagi peningkatan tatakelola hutan dan lahan dan bahkan saat ini Indonesia juga mendapatkan dukungan dari parlemen dan institusi peradilan dalam mengelola hutan dan lahan dalam mendukung pengendalian perubahan iklim. Indonesia juga mempercpat proses perhutanan sosial untuk memberikan akses yang lebih luas kepada masyarakat dalam pengelolaan hutan. Khusus terkait dengan kerja sama REDD+ dalam kerangka LoI, saat ini seharusnya sudah memasuki fase ketiga, namun demikian Indonesia meminta agar fase dua tetap dijalankan sambil masuk ke dalam fase tiga karena pada beberapa hal masih memerlukan peningkatan kapasitas. Terkait dengan pengelolaan gambut, Menteri LHK meminta dukungan Norwegia pada inisiatif International Tropical Peatland Centre (ITPC).

Menteri LHK menyatakan bahwa dukungan Norwegia pada Lembaga non pemerintah dan organisasi masyarakat madani telah mendukung demokratisasi pengelolaan sumber daya alam di Indonesia. Namun demikian, Menteri LHK juga

50

meminta agar evaluasi keberhasilan program-program pemerintah disamping melibatkan organisasi independent, juga pemerintah diikutsertakan dalam memberikan masukan agar hasil yang diperoleh tidak bias.

Pemerintah Norwegia merespon dengan baik hal-hal yang diungkapkan oleh Indonesia tersebut dan menyetujui usulan Indonesia untuk melaksanakan proyek fase 3 sambil tetap melaksanakan fase 2. Di samping itu, Menteri Ola juga dijadwalkan untuik berkunjung ke Indonesia awal tahun depan untuk melihat sendiri perkembangan proyek kerjasama pengendalian perubahan iklim di Indonesia.

Norwegia menyatakan bahwa di tingkat sub-nasional, pemerintah provinsi Papua perlu mendapatkan perhatian khusus dalam hal peningkatakn kapasitas. Menteri Ola juga menyatakan bahwa mereka tertarik untuk mengembangkan mitigasi perubahan iklim berbasis mangrove dan blue-carbon di Indonesia. Terhadap usulan Indonesia terkait dukungan pada ITPC, Menteri Ola menyatakan kesiapannya untuk mendukung inisiatif tersebut.

f. Indonesia dengan Parlemen Uni Eropa, 12 Desember 2018

Delegasi Indonesia diwakili oleh: (1) Menteri LHK; (2) Kepala BRG; (3) Dirjen PPI KLHK; (4) Kepala BLI KLHK; (5) PSM Bidang PPI dan Konvensi Internasional; (6) Kabag Multilateral Biro KLN KLHK; (7) Diah Suradiredja (Kehati); dan (8) Dr. M.

Zahrul Muttaqin (BLI KLHK). Sementara itu, delegasi Parlemen EU diwakili oleh: (1) A.I. Valean (Italia); (2) Julie Girling (UK); (3) Miapetra Kumpula-Natri (Finlandia); (4) Jytte Guteland (Swedia); (5) Gerben-Jan Gerbrandy (Belanda); dan (6) Bas Eickhout (Belanda).

Parlemen Uni Eropa mengawali pertemuan yang dipimpin oleh Ibu Valean dengan mengapresiasi kesediaan delegasi Indonesia untuk hadir dalam pertemuan yang baru pertama kali ini dilaksanakan. Ketua delegasi Parlemen Uni Eropa tersebut menanyakan pandangan Indonesia terkait perkembangan COP24. Terkait dengan hal ini, Ibu Menteri Siti Nurbaya menyatakan bahwa saat ini yang menjadi permasalahan utama adalah perbedaan pandangan antara negara berkembang dan negara maju terkait dengan transparansi dan fleksibilitas pendanaan perubahan iklim, Indonesia merasa tidak ada masalah dengan penyiapan data yang harus dilakukan oleh negara berkembang sebelum memperoleh dukungan finansial dari negara maju terkait dengan upaya penanganan perubahan iklim global. Dalam hal ini Indonesia menganut prinsip transparan dan terbuka, namun tetap memperhatikan perbedaan yang ada di tiap-tiap negara.

Pada pertemuan ini Ibu Menteri juga menyampaikan beberapa isu terkait dengan hubungan Indonesia dengan Uni Eropa terutama terkait dengan FLEGT. Ibu Menteri juga menceritakan perkembangan pengelolaan hutan dan lahan di Indonesia terutama dalam melakukan penegakan hukum dan perbaikan gambut yang terdegradasi. Hal ini telah ditunjukkan oleh menurunnya angka deforestasi secara signifikan. Terkait dengan isu Indirect Land Use Change yang diinisiasi oleh Parlemen Uni Eropa terhadap komoditas-komoditas perdagangan yang masuk ke

51

Uni Eropa, Indonesia meminta agar ada joint review team untuk menangani masalah ini.

Dalam dokumen LAPORAN DELEGASI REPUBLIK INDONESIA (Halaman 57-62)

Dokumen terkait