• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keabsahan Data

Dalam dokumen penguatan pendidikan karakter (Halaman 131-200)

BAB III METODELOGI PENELITIAN

H. Keabsahan Data

mengimplementasikan penguatan pendidikan karakter dengan berbasis budaya madrasah guna membentuk sikap peserta didik.

b) Judul penelitian. Setelah peneliti melihat fenomena pada observasi awal di lapangan, maka dengan itu peneliti menetapkan judul penelitian yang kemudian diajukan kepada pihak kampus, yang dalam hal ini ialah kepala prodi PGMI pascasarjana UIN Khas Jember.

c) Latar belakang penelitian. Dalam latara belakang penelitian, peneliti memadukan beberapa landasan, yang antara lain; 1) Landasan teoritis, 2) Landasan yuridiks, 3) Landasan normatif, 4) Landasan empiris.

d) Fokus penelitian. Berdasarkan judul penelitian dan kajian teori dalam konteks penelitian, maka fokus penelitian ini mencakup dua hal yakni; 1) Bagaimana penerapan penguatan pendidikan karakter berbasis budaya madrasah dalam membentuk sikap spiritual peserta didik di MI Miftahul Ulum Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember?, 2) Bagaimana penerapan penguatan pendidikan karakter berbasis budaya madrasah dalam membentuk sikap sosial peserta didik di MI Miftahul Ulum Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember e) Tujuan penelitian. Berdasarkan fokus penelitian yang telah

ditetapkan, maka tujuan penelitian ini ialah; 1) Untuk

mendiskripsikan penerapan penguatan pendidikan karakter berbasis budaya madrasah dalam membentuk sikap spiritual peserta didik di MI Miftahul Ulum Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember, 2) Untuk mendiskripsikan penerapan penguatan pendidikan karakter berbasis budaya madrasah dalam membentuk sikap sosial peserta didik di MI Miftahul Ulum Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember.

f) Manfaat penelitian. Berdasarkan tujuan penelitian, maka hasil penelitian diharapkan memberi manfaat bagi semua pihak.

Karena itu, manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini ialah bisa bermanfaat secara teoritis dan praktis.

g) Metode pengumpulan data. Metode penilitian ini merupakan metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Adapun pengumpulan datanya menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi, analisis data model Miles, Huberman, dan Saldana, keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik.

h) Mengurus perizinan. Pengurusan surat perizinan pada tanggal 14 Juni 2020.

2) Menjajaki dan menilai lapangan. Setalah mendapat surat izin penelitian, peneliti melanjutkan datang ke lapangan untuk memberikan surat izin penelitian kepada kepala MI Miftahul Ulum Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember, dan sekaligus melihat

lagi fenomena yang terjadi dalam program penguatan pendidikan karakter berbasis budaya madrasah.

3) Menyiapkan perlengkapan penelitian. Dalam hal ini peneliti menyiapkan beberapa pedoman di dalam menggali data dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi.

b. Tahap Penelitian Lapangan

Setelah persiapan dianggap matang, maka tahap selanjutnya adalah melaksanakan penelitian. Dalam tahap ini, penelitia akan mengumpulkan data-data yang diperlukan.

c. Tahap Analisis Data

Setelah kegiatan penelitian selesai, peneliti akan mulai menyusun langkah-langkah dalam menyusun kerangka laporan hasil penelitian dengan menganalisa data yang telah dikonsultasikan kepada dosen pembimbing karena mungkin ada yang perlu direvisi untuk mencapai hasil penelitian yang maksimal.

BAB IV

PAPARAN DATA DAN ANALISIS A. Paparan Data dan Analisis

Pendidikan karakter bukanlah sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, lebih dari itu, pendidikan karakter menanamkan kebiasaan (habituation) tentang hal mana yang baik sehingga peserta didik menjadi paham (kognitif) tentang mana yang benar dan salah, mampu merasakan (afektif) nilai yang baik dan biasa melakukannya (psikomotor). Dengan basis budaya madrasah pendidikan karakter yang baik harus melibatkan bukan saja aspek “pengetahuan yang baik (moral knowing), akan tetapi juga “merasakan dengan baik atau loving good (moral feeling), dan perilaku yang baik (moral action), dengan kata lain penguatan pendidikan karakter berbasis budaya madrasah menekankan pada habit atau kebiasaan yang terus-menerus dipraktekkan dan dilakukan.

1. Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Madrasah Dalam Membentuk Sikap Spiritual Peserta didik di MI Miftahul Ulum Kecamatan Jenggawah.

Dalam penguatan pendidikan karakter berbasis budaya madrasah dalam membentuk sikap spiritual peserta didik di MI Miftahul Ulum Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember memiliki konsep dan cara tersendiri. Dalam beberapa data yang telah dikumpulkan terkait penguatan pendidikan karakter berbasis budaya madrasah dalam membentuk sikap spiritual peserta didik di MI Miftahul Ulum Kecamatan Jenggawah Kabupaten Jember adalah sebagi berikut.

115

Program penguatan pendidikan karakter berbasis budaya madrasah tersebut, tidak lepas dari kebijakan kepala sekolah yang didasari oleh budaya madrasah yang diwujudkan dalam perilaku peserta didik dan guru MI Miftahul Ulum Kecamatan Jenggawah. Sebagaimana yang dinyatakan oleh bapak Aminuddin Latif selaku kepala MI Miftahul Ulum Kecamatan Jenggawah yaitu;

Alasan saya sebagai kepala sekolah untuk memasukkan kebijakan penguatan pendidikan karakter dalam ranah membentuk sikap spiritual itu awalanya dari pengamatan saya ketika menjadi kepala madrasah di madrasah ini, ketika itu saya lihat peserta didik MI Miftahul Ulum Kecamatan Jenggawah ini perlu dibangun sikap spiritualnya sebagai pondasi dasar dan bekal dan pengembangan dari pelajaran keagamaanya, sehingga saya pikir perlunya penetapan nilai karakter religius sebagai acuan perumusan visi-misi madrasah ini nantinya. Nah, dari situlah saya pribadi mempunyai hasrat untuk mengembangkan penguatan pendidikan karakter dalam ranah membentuk sikap spiritual peserta didik melalui budaya madrasah.131

Budaya madrasah memberikan arahan terhadap nilai-nilai atau norma yang terjaga di dalamnya. Situasi yang terkontrol diatur dalam lingkungan madrasah memberikan ruang gerak yang terarah dengan beberapa aturan-aturan tertentu. Penting mengedepankan nilai karakter religius berbasis budaya madrasah dalam membangun sikap spiritual peserta didik, selayaknya situasi akan memberikan arahan kepada peserta didik dalam membiasakan diri.

Selanjutnya, menurut Bapak Aminuddin Latif selaku kepala MI Miftahul Ulum Kecamatan Jenggawah, setelah beliau berangan-angan untuk mengembangkan penguatan pendidikan karakter dalam ranah

131 Aminuddin Latif, Wawancara, MI Miftahul Ulum, Jember, 4 Nopember 2021.

membentuk sikap spiritual peserta didik melalui budaya madrasah, dasar utama penguatan pendidikan karakter berbasis budaya madrasah dalam membentuk sikap spiritual peserta didik yang diterapkan di madrasah ini dibentuk sesuai dengan visi dan misi madrasah yang mengacu pada penetapan nilai karakter religius sebagai nilai karakter utama yang dikembangkan di MI Miftahul Ulum Kecamatan Jenggawah, sebagaimana pernyataan beliau;

Penguatan pendidikan karakter berbasis budaya madrasah ini mas tidak terlepas dari visi dan misi madrasah, yang mana visi dan misi ini kami rumuskan bersama dewan guru, serta pihak yayasan. Visi madrasah ini ialah “terwujudnya insan yang berakhlakul karimah serta unggul dalam prestasi”, sedangan misi mas yakni; (1) mewujudkan insan madrasah yang berprilaku sesuai dengan nilai- nilai agama Islam. Nilai-nilai agama Islam ini salah satunya beriman itu membangun sikap spiritual peserta didik, (2) mewujudkan insan madrasah yang berprilaku sesuai dengan norma- norma dalam kehidupan masyarakat. Saya juga menekankan kepada temen-temen guru bahwa guru itu adalah sumber inspirasi.

Kalau biasa guru itu memberi teladan apa saja sudah, (3) mewujudkan insan madrasah yang brilmu pengetahuan dan mampu mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.132

Dari pernyataan bapak Aminuddin Latif di atas, dapat dipahami bahwa langkah pertama yang dilakukan dalam mengembangkan penguatan pendidikan karakter dalam ranah membentuk sikap spiritual peserta didik melalui budaya madrasah, yakni dengan merumuskan visi dan misi MI Miftahul Ulum Kecamatan Jenggawah dalam membentuk akhlak mulia sebagai pondasi awal dalam penguatan karakter peserta didik.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti di MI Miftahul Ulum Kecamatan Jenggawah, didapati bahwa benar adanya visi

132 Aminuddin Latif, Wawancara, MI Miftahul Ulum, Jember, 4 Nopember 2021.

dan misi, serta beberapa tujuan madrasah, juga program unggulan pembiasaan diri dengan brand “madrasah religi” yang telah dirumuskan bersama oleh kepala madrasah, dewan guru, serta pihak yayasan dalam menunjang program penguatan pendidikan karakter dalam ranah membentuk sikap spiritual peserta didik melalui budaya madrasah.133 Data observasi di atas didukung pula dengan data dokumentasi sebagai berikut.

Gambar 4.1

Visi dan misi MI Mifathul Ulum Jenggawah134

Terkait pengembangan penguatan pendidikan karakter di MI Miftahul Ulum Kecamatan Jenggawah dalam ranah membentuk sikap spiritual peserta didik melalui budaya madrasah, juga dijelaskan oleh Bapak Faiq al-Himam selaku guru mapel akidah Akhlak, menurut beliau;

133 Observasi, MI Miftahul Ulum, Jember, 4 Januari 2022.

134 Dokumentasi, MI Miftahul Ulum, Jember, 4 Januari 2022.

Untuk menciptakan pembiasaan atau budaya dalam mengembangkan sikap spiritual yang baik terhadap peserta didik itu yang mengawali dari semua pihak pak, yang pasti dari sekolah membangun sistem, budaya, kemudian guru melaksanakannya dengan memberi contoh teladan yang baik buat peserta didik, yang jelas kita tidak keluar dari visi dan misi kita pak, apa visinya? Ya itu, terwujudnya insan yang berakhlakul karimah serta unggul dalam prestasi.135

Pernyataan Bapak Faiq al-Himam menegaskan bahwa penguatan pendidikan karakter berbasis budaya madrasah dalam ranah sikap spiritual tidak terlepas dari yang ada pada visi dan misi madrasah, sehingga untuk merealisasikan penguatan pendidikan karakter perlu dibentuk aturan, sistem yang dapat menunjang penguatan pendidikan karakter di madrasah, yakni visi dan misi madrasah itu sendiri.

Pernyataan bapak Aminuddin Latif dan bapak Faiq al-Himam juga diperkuat oleh pernyataan Ibu Miftahur Rahmah selaku guru kelas 1, yang mana beliau manyatakan bahwa,

Filosofi ajaran islamlah yang menjadi pondasi atau landasan awal pembentukan sikap spiritual yang ada di madrasah ini pak.

Madrasah ini lebih mementingkan pada kekuatan iman, akhlak, dan prestasi peserta didik dalam proses pendidikan yang kita lakukan saat ini. Maka untuk mewujudkan semua itu kami dengan semua guru dan juga kepala madrasah serta pihak yayasan merumuskan visi dan misi madrasah ini pak, kalau dalam ranah sikap spiritual kita rumuskan misinya ialah mewujudkan insan madrasah yang berprilaku sesuai dengan nilai-nilai agama Islam, sedangkan dalam ranah sikap sosial ialah mewujudkan insan madrasah yang berprilaku sesuai dengan norma-norma dalam kehidupan masyarakat.136

Pernyataan di atas, menjelaskan bahwa penguatan pendidikan karakter dalam ranah membentuk sikap spiritual peserta didik melalui

135 Faiq al-Himam, Wawancara, MI Miftahul Ulum, Jember, 5 Januari 2022.

136 Miftahur Rahmah, Wawancara, MI Miftahul Ulum, Jember, 5 Januari 2022.

budaya madrasah yang dikembangkan melalui penetapan visi dan misi madrasah yang bersumber dari filosofi ajaran Islam. Dalam hal ini, MI Miftahul Ulum Kecamatan Jenggawah tidak menitikberatkan kepada materi nilai yang diajarkan namun lebih kepada pelaksanaan nilai karakter di lingkungan madrasah yang mana semua itu diawali dengan merumuskan visi dan misi madrasah.

Selanjutnya, dalam program penguatan pendidikan karakter berbasis budaya madrasah dalam membentuk sikap spiritual peserta didik di madrasah dengan berpijak pada visi dan misi lembaga yang berlandaskan filosofi ajaran islam, maka dari visi dan misi itu MI Miftahul Ulum Kecamatan Jenggawah, dan dengan menetapkan nilai religius sebagai nilai karakter utama dalam misi membentuk sikap spiritual peserta didik, dan nilai jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, toleran, menghargai perbedaan sebagai nilai karakter pendukung untuk diinternalisasikan dalam membentuk sikap sosial peserta didik. Dalam hal ini, sebagaimana yang di jelaskan oleh bapak Aminuddin Latif selaku kepala madrasah, yang menyatakan bahwa;

Di sekolah MI Miftahul Ulum ini terdapat lima nilai karakter yang menjadi fokus pembentukan sikap spiritual dan sikap sosial peserta didik pak, dan sudah tercantum dalam kurikulum pak, yaitu nilai religius dalam ranah membentuk sikap spiritual sebagai nilai utama, dan nilai integritas dalam ranah membentuk sikap jujur, santun,dan tanggung jawab, nilai mandiri dalam ranah sikap disiplin, nilai nasionalis dan gotong royong dalam ranah sikap jiwa persatuan pak. Kelima nilai tersebut menjadi dasar utama dari visi dan misi madrasah. Nah, terkait membentuk sikap spiritual peserta

didik mas, kami menekankan pada penanaman nilai religius terhadap peserta didik melalui kegiatan-kegiatan keagaman.137 Pernyataan yang sama juga disampaikan oleh Guru kelas kelas V, yakni ibu Nia Eko Sri Ningsih, yang menyatakan bahwa;

Satu nilai karakter utama dan empat nilai karakter pendukung yang menjadi fokus di MI Miftahul Ulum ini dan tercantum dalam kurikulum yaitu religius, jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, toleran, menghargai perbedaan, dan jiwa persatuan. Nilai religius inilah yang nantinya akan kita tanamkan mas, ya yang nantinya tetap akan ditanamkan pada peserta didik melalui kegiatan-kegiatan yang Islami. Kelima nilai tersebut merupakan modal awal atau dasar. Ke depannya tidak hanya itu, tetapi nilai-nilai karakter yang lain bisa ditambahkan dan bertahap untuk fokus ke nilai-nilai yang lain.138

Berdasarkan pemaparan data wawancara di atas, maka dapat dipahami bahwa nilai karakter yang ditetapkan dalam program penguatan pendidikan karakter dalam ranah membentuk sikap peserta didik melalui budaya madrasah di MI Miftahul Ulum Kecamatan Jenggawah terdiri dari lima nilai karakter, yaitu nilai religius, nilai integritas dalam ranah membentuk sikap jujur, santun,dan tanggung jawab, nilai mandiri dalam ranah sikap disiplin, nilai nasionalis dan gotong royong dalam ranah sikap jiwa persatuan. Nilai religius sebagai pondasi nilai dalam ranah membentuk sikap spiritual peserta didik, yang kemudian empat nilai yang lain sebagai landasan nilai pendukung dalam membentuk sikap sosial peserta didik.

Data wawancara sebagaimana di atas, juga didukung data observasi dan dokumentasi yang diperoleh peneliti di lapangan, yang mana

137 Aminuddin Latif, Wawancara, MI Miftahul Ulum, Jember, 26 Januari 2022.

138 Nia Eko Sri Ningsih, Wawancara, MI Miftahul Ulum, Jember, 3 Pebruari 2022.

kedelapan nilai ini benar adanya dan tercantum pada visi, dan misi madrasah serta di dalam buku program PPK MI Miftahul Ulum Kecamatan Jenggawah. Dalam buku tersebut tercantum bahwa nilai yang ditekankan dalam program PPK berbasis budaya madrasah terdapat lima nilai, yakni nilai religius dalam ranah membentuk sikap spiritual, nilai integritas dalam ranah membentuk sikap jujur, santun,dan tanggung jawab, nilai mandiri dalam ranah sikap disiplin, nilai nasionalis dan gotong royong dalam ranah sikap jiwa persatuan.139

Selanjutnya, setelah menetapkan visi, dan misi serta menetapkan nilai religius sebagai landasan nilai karakter utama dalam membentuk sikap spiritual peserta didik melalui program penguatan pendidikan karakter berbasis budaya madrasah, kepala madrasah serta dewan guru, dan staf MI Miftahul Ulum Kecamatan Jenggawah merumuskan dan memprogram kegiatan-kegiatan, atau tradisi yang membudaya dalam menanamkan nilai religius serta empat nilai karakter lainya kepada peserta didik, yang sehingga peserta didik nantinya memiliki sikap spiritual dan sosial yang kuat. Adapun kegiatan-kegiatan, atau tradisi yang membudaya di dalam menerapkan penguatan pendidikan karakter yang dikembangkan melalui budaya madrasah di MI Miftahul Ulum Kecamatan Jenggawah, antara lain ialah:

139 Obseravasi, Dokumentas, MI Miftahul Ulum, Jember, 5 Pebruari 2022.

a. Budaya shalat dhuha dan duhur berjamaah.

Budaya shalat dhuha dan duhur berjamaah adalah termasuk salah satu budaya islami yang selama ini dan terus-menerus dikembangkan di MI Miftahul Ulum Kecamatan Jenggawah dalam rangka membentuk sikap spiritual peserta didik, sebagaimana pernyataan bapak Aminuddin Latif selaku kepala madrasah, yang menyatakan bahwa;

Penguatan karakter melalui budaya madrasah dalam membentuk sikap spiritual yang dilaksanakan itu bukan pekerjaan biasa, ini pekerjaan sulit luar biasa, butuh kerja keras, kerja sama antar semua pihak mas. Untuk itu kami menerapkan proses pembentukan sikap dan perilaku yang relatif menetap dan bersifat otomatis melalui proses pembiasaan yang berulang-ulang, maka dari itu saya menetapkan nilai religius diinternalisasikan dalam kegiatan madrasah untuk membentuk sikap spiritual peserta didik mas.

Nah kegiatan itu mas antarnya, shalat dhuha berjamaah, shalat duhur berjamaah.140

Pernyataan Bapak Aminuddin Latif menegaskan bahwa pengembangan norma dan tradisi, serta budaya madrasah yang Islami dalam membentuk sikap spiritual peserta didik dibentuk dengan menentukan nilai utama program yang dapat menunjang kegiatan penguatan pendidikan karakter di madrasah, serta diimplementasikan melalui proses pembiasaan yang berulang-ulang, seperti halnya budaya shalat dhuha dan duhur berjamaah.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Ibu Uswatun Hasanah selaku guru kelas 2. Pernyataan beliau adalah sebagai berikut;

140 Aminuddin Latif, Wawancara, MI Miftahul Ulum, Jember, 11 Pebruari 2022.

Penerapan penguatan karakter di MI Miftahul Ulum Kecamatan Jenggawah tidak lepas dengan norma atau pembiasaan sehari-hari di madrasah. Kayak sikap spiritual kita mengembangkan nilai religius dengan membentuk kegiatan-kegiatan keagamaan, tapi kita langsung praktik, seperti halnya shalat dhuha berjamaah, shalat duhur berjamaah.141

Pernyataan bapak Aminuddin Latif dan Ibu Uswatun Hasanah tentang pelaksanaan penguatan pendidikan karakter berbasis budaya madrasah dalam membentuk sikap spiritual peserta didik dengan cara pengembangan norma dan tradisi madrasah yang Islami juga diperkuat oleh bapak Kholid Kurniawan selaku waka kurikulum dan guru kela 4, yang menyatakan bahwa;

Dalam hal pelaksanaan penguatan pendidikan karakter, saya dan guru-guru selalu diingatkan oleh kepala madrasah untuk memberikan contoh yang baik bukan hanya menyuruh peserta didik saja tetapi guru juga melakukannya, seperti budaya pembiasaan shalat dhuha, pembiasaan shalat dzuhur berjamaah dan sebagainya. Jadi intinya guru harus memberi contoh dan keteladanan terlebih dahulu kepada peserta didik sehingga peserta didik akan mengikutinya.142

Dari data wawancara yang diperoleh peneliti sebagaimana di atas, dapat dipahami bahwa pembentukan sikap spiritual peserta didik dalam penguatan pendidikan karakter berbasis budaya madrasah dilakukan dengan membentuk kegiatan-kegiatan keagamaan di lingkungan madrasah yang tidak lepas dengan norma atau tradisi yang telah ditetapkan oleh pihak lembaga madrasah, seperti halnya budaya pembiasaan shalat dhuha, pembiasaan shalat

141 Uswatun Hasanah, Wawancara, MI Miftahul Ulum, Jember, 11 Pebruari 2022.

142 Kholid Kurniawan, Wawancara, MI Miftahul Ulum, Jember, 14 Pebruari 2022.

dzuhur berjamaah yang dilaksanakan oleh peserta didik maupun guru sebagai contoh.

Selanjutnya, dari data observasi juga diperoleh bahwa dalam pelaksanaan penguatan pendidikan karakter melalui budaya pembiasaan sholat dhuha, dan pembiasaan shalat dzuhur berjamaah dalam membentuk sikap spiritual peserta didik MI Miftahul Ulum Kecamatan Jenggawah juga didukung dengan lapisan artifak yang terdiri dari perwujudan fisik. Bentuk perwujudan fisik dalam membentuk sikap spiritual peserta didik melalui budaya pembiasaan sholat dhuha, dan pembiasaan shalat dzuhur berjamaah yaitu penggunaan fasilitas sekolah berupa musholla untuk sholat.143 Data observasi di atas juga didukung dengan data dokumentasi sebagai berikut.

Gambar 4.2

Musholla MI Miftahul Ulum Jenggawah144

143 Observasi, MI Miftahul Ulum, Jember, 16 Pebruari 2022.

144 Dokumentasi, MI Miftahul Ulum, Jember, 16 Pebruari 2022.

Musholla tersebut sangat layak digunakan, karena kondisinya masih sangat baik. Pernyataan ini sesuai dengan hasil wawancara dengan kepala sekolah yakni Bapak Aminuddin Latif yang menyatakan bahwa;

Di sekolah ini memiliki fasilitas musholla yang dalam keadaan baik, walau bagunannya cukup baik, tetapi masih butuh perbaikan-perbaikan. Jadi fasilitas inilah yang menjadi penunjang terlaksananya budaya pembiasaan sholat dhuha, dan pembiasaan shalat dzuhur berjamaah dalam membentuk sikap spiritual pada peserta didik.145

Dari pernyataan di atas, musholla menjadi salah satu bentuk pewujudan fisik untuk menunjang program penguatan pendidikan karakter melalui budaya pembiasaan sholat dhuha, dan pembiasaan shalat dzuhur berjamaah dalam ranah membentuk sikap spiritual peserta didik dalam hal menjalankan ibadah tepat pada waktunya.

Ibu Miftahur Rahmah selaku guru kelas 1 juga menguatkan bahwa budaya pembiasaan sholat dhuha, dan pembiasaan shalat dzuhur berjamaah merupakan proses kegiatan penguatan pendidikan karakter dalam membentuk sikap spiritual peserta didik di MI Miftahul Ulum Jenggawah, agar nantinya peserta didik memiliki sikap dalam hal menjalankan ibadah tepat pada waktunya. Sesuai dengan penjelasan beliau yang menyatakan bahwa;

Disini ketika akan sholat dhuhur peserta didik laki-laki secara bergantian untuk untuk memimpin adzan dan iqomah agar mereka percaya diri menghadapi teman-temannya. Budaya pembiasaan sholat dhuha, dan pembiasaan shalat dzuhur berjamaah di madrasah ini diharapkan untuk bisa diterapkan

145 Aminuddin Latif, Wawancara, MI Miftahul Ulum, Jember, 16 Pebruari 2022.

di rumah, dalam hal menjalankan ibadah tepat pada waktunya, karena kalau cuma di madrasah kurang maksimal.

Kami juga mengadakan sholat dhuhur berjamaah yang dilaksanakan semua warga sekolah baik guru maupun peserta didik tak terkecuali.146

Iklim atau suasana budaya pembiasaan sholat dhuha, dan pembiasaan shalat dzuhur berjamaah di MI Miftahul Ulum Jenggawah dimulai pada pukul 06.45, yakni seluruh peserta didik harus berada di musholla semua. Tentunya peserta didik akan memastikan hadir di sekolah sebelum itu dan meletakkan tas di kelas masing-masing. Budaya yang dibiasakan dalam membentuk sikap spiritual diawali hari saat peserta didik melangkahkan kaki ke sekolah adalah dengan mengucapkan salam, terbiasa dengan budaya senyum yang disambut oleh seluruh guru yang piket. Lalu peserta didik siap di dalam musholla pukul 06.45 untuk solat dhuha berjamaah dan pukul 11.30 untuk shalat dhuhur berjamaah.147 Data observasi di atas juga didukung dengan data dokumentasi sebagai berikut.

Gambar 4.3

Kegitan rutin shalat dhuha dan shalat dhuhur berjamaah148

146 Siti Maimunah, Wawancara, MI Miftahul Ulum, Jember, 21 Pebruari 2022.

147 Observasi, MI Miftahul Ulum, Jember, 21 Pebruari 2022

148 Dokumentasi, MI Miftahul Ulum, Jember, 21 Pebruari 2022.

Dalam dokumen penguatan pendidikan karakter (Halaman 131-200)

Dokumen terkait