24 „ Jumlah 68 orang
3. Kehidupan Beragama
a. Klasifikasi Kehidupan Beragama.
Islam :
Keadaan tempat-tempat peribadatan bagi umat Islam sudah tidak sesuai lagi dibandingkan dengan jumlah jemaah telah melebihi ka- pasitasnya dan kegiatannya cukup banyak dan bervariasi.
Sementara im pelaksanaan hari-hari besar atau dalam bulan suci Ramadhon penuh khikmat dan meriah, berkat meningkatnya orga- nisasi keagamaan yang ada, terutama di bidang pendidikan Agama.
Dakwah dan penyebaran agama dilaksanakan secara langsung, khu- sus kepada pemeluk agama Islam, dengan Frekwensi kegiatannya cukup meningkat.
Kristen Protestan :
Jumlah umat Kristen Protestan yang beribadat di tempat-tempat peribadatan dirasakan cukup bertambah dan banyak serta bervariasi kegiatannya.
Suasana kehidupan beragama dirasakan cukup khikmat dan meriah terutama pada peringatan hari-hari besar seperti Natal. Perkembang- an lembaga-lembaga keagamaan yang ada semakin bertambah, demi- kian juga kegiatan organisasi keagamaan yang ada. Untuk menyebar- kan ajaran Kristen Protestan dilaksanakan dakwah secara langsung kepada jemaatnya yang semakin meningkat perkembangannya.
Katolik :
Kapasitas peribadatan bagi umat Katolik di Kotamadya Surakarta dirasakan sudah tidak sesuai lagi karena jumlah jemaah yang sema- kin bertambah.
Suasana kehidupan beragama akan sangat terasa dan khikmad teru- tama dalam perayaan hari suci Natal bagi umat Katolik dengan me- laksanakan berbagai kegiatan yang banyak dan bervariasi. Perkem- bangan lembaga-lembaga pendidikan Katolik dirasakan masih tetap kendati tidak dikatakan sebagai mundur, namun dalam beberapa segi masih tetap dirasakan kemajuannya terutama dalam bidang organisasi. Pelaksanaan dakwah dan penyebaran agama khusus ke- pada pemeluk agama Katolik yang dilaksanakan secara langsung dengan perkembangan semakin meningkat.
58
Hindu
Umat Hindu di Kotamadya Surakarta dalam melaksanakan sangat melimpah jika dibandingkan dengan kapasitasnya.
Mereka sangat sederhana tetapi penuh khidmat dalam melaksanakan perayaan hari-hari besar agamanya. Namun sangat disayangkan Lem- baga Pendidikan Agama- khusus bagi umat Hindu hingga kini belum ada, kendati kegiatan organisasi keagamaan yang ada dirasakan cu- kup meningkat.
Pelaksanaan dakwah dan penyebaran agama dilakukan secara lang- sung yang sasarannya umatnya sendiri. Kegiatan pelaksanaan dak- wah bagi umat Hindu dirasakan cukup banyak dan semakin me- ningkat.
Budha :
Tidak ada catatan data.
b. Kerukunan Intern Umat Beragama.
Intern Islam :
Pembangunan tempat-tempat peribadatan bagi umat Islam dilaksa- nakan atas biaya yang diperoleh dari swadaya masyarakat dan ban- tuan dari Pemerintah.
Sementara im penyebaran dan penyiaran agama Islam dilaksanakan oleh organisasi-organisasi keagamaan yang ada melalui ceramah-cera-
mah, pidato, diskusi, mass media, dan lain-lain.
Kegiatan bersama intern umat Islam disamping melaksanakan pe- nyiaran dan penyebaran agama juga melaksanakan kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial kemasyarakatan, seperti perayaan hari-hari besar keagamaan, sosial budaya dan lain-lain. Kegiatan im diprakarsai oleh N.U. dan Muhammadiyah.
Kristen Protestan :
Umat Kristen Protestan melalui organisasi-organisasi keagamaan yang ada memprakarsai kegiatan dalam pembangunan tempat-tem- pat peribadatan, mengadakan penyiaran dan pengembangan agama yang pelaksanaannya melalui ceramah, khutbah, pidato, diskusi, mass media, melalui paket/bingkisan, kunjungan dari rumah keru- mah dll. Sementara itu kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial kema- syarakatan senantiasa dilaksanakan seperti perayaan hari-hari besar keagamaan, menyemarakan ajaran agama, penyebaran agama dan lain-lain.
59
Intern Katolik :
Tempat-tempat peribadatan bagi umat Katolik dibangun dibiayai yang diperoleh dari hasil swadaya umatnya sendiri, di samping ada bantuan dari Pemerintah baik Pusat maupun Daerah. Umat Katolik dalam memberikan bimbingan dan pembinaan jiwa keagamaan di- lakukan melalui berbagai pidato, ceramah, khutbah, diskusi, simpo- sium, pengarahan, juga melalui mass media.
Sementara im di bidang sosial kemasyarakatan juga dilakukan oleh para umat Katolik seperti dalam penyelenggaraan hari-hari besar keagamaan, serta kegiatan penyelenggaraan hari-hari besar keagama- an, serta kegiatan sosial budaya lainnya.
Intern Hindu :
Bagi umat Hindu di Kotamadya Surakarta, kerukunan intern umat- nya masih dirasakan cukup mantap. Dalam pembangunan tempat- tempat peribadatan dilakukan oleh para jemaatnya secara swadaya di samping dari para dermawan lainnya.
Organisasi-organisasi keagamaan yang ada melakukan berbagai ke- giatan baik yang menyangkut tentang penyebaran dan penyiaran agama yang dilakukan dengan cara berkhotbah, ceramah dan me- lalui mass-media, juga melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial kemasyarakatan seperti perayaan hari-hari besar keagamaan, menyemarakkan ajaran-ajaran agama dan lain-lain.
Intern Umat Budha : Tidak ada catatan data.
c. Kerukunan Antar Umat Beragama.
Hubungan antar umat beragama di Kodya Surakarta menunjuk- kan kerukunan yang dapat dibanggakan sekalipun pada tahun 1977 pernah terjadi terganggunya hubungan non fisik antara umat Islam dan umat Kristen Protestan yang berpokok pangkal dogmatika ajaran intern Kristen Protestan. Hal ini dapat dimaklumi bahwa intern umat Kristen Protestan di daerah im terdapat 26 buah Sekte/aliran dan 5 buah organisasi keagamaan.
Letupan masalah keagamaan tersebut di atas dapat diatasi oleh Pemerintah Daerah dengan cepat dan tepat dapat diterima oleh semua pihak.
. 60
Situasi dan lokasi tempat peribadatan cukup bervariasi dan saling berdekatan, tetapi pada umumnya berjauhan.
Kegiatan bersama dilakukan terbatas dalam masalah sosial ke- masyarakatan.
d. Musyawarah Antar Umat Beragama.
Di Kotamadya'Surakarta belum pernah diadakan musyawarah antar umat beragama, penyelesaian masalah 1977 diprakarsai oleh pihak yang berwenang dan antar umat beragama mendapatkan peri- ngatan serta pengarahan tentang cara dan tehnik kemkunan hidup antar umat beragama sehari-hari.
Sebagian besar responden menyatakan di daerah Kotamadya Surakarta belum pernah dibentuk Badan Konsultasi Antar Umat Beragama, namun Rohaniawan Kristen Protestan telah terbentuk dengan pengurus Saudara Drs. Suharto, Sukarso dan M. Alam tanpa menjelaskan apa dan bagaimana struktur organisasi im didirikan dan ketiga Saudara yang dimaksud apa kedudukan dan fungsi da- lam Badan Konsultasi im.
e. Kerukunan Antara Umat Beragama Dengan Pemerintah .
Kebijaksanaan Pemerintah Daerah tentang tatacara penyebaran agama dan bantuan luar negeri kepada lembaga-lembaga keagamaan sesuai dengan Keputusan Menteri Agama No. 70 dan 77 tahun 1978 serta Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Ne- geri No. 1 tahun 1979.
Untuk memasyarakatkan kebijaksanaan-kebijaksanaan Pemerin- tah yang menyangkut tentang tata kehidupan beragama, para pejabat Departemen Agama dan para pemimpin Lembaga Keagamaan beiu- saha untuk memberikan penjelasan kebijaksanaan tersebut di atas.
Namun hingga kini antara pejabat Departemen Agama, Laksusda, Pemda dan Lembaga-lembaga keagamaan di Daerah im belum per- nah diadakan pertemuan dan konsultasi, karena tidak adanya biaya.
Tindakan-tindakan Instansi Pemerintah, Lembaga Keagamaan dan instansi Pemerintah dengan Lembaga Keagamaan secara ber- sama tidak bertentangan/sesuai dengan maksud SK Menag dan SKB
(.1
Mendagri dan Menag. Sikap para pemimpin Lembaga Keagamaan dalam menghadapi hal ini acuh dan memperhatikan. Kenyataan mereka aktip mengadakan pengecekan kebawah dan menciptakan mekanisme kerjasama dengan aparatur Departemen Agama, Lak- susda dan Pemda.
Lembaga-lembaga Keagamaan yang aktif/selalu dalam penyalur- an bantuan yang bersifat kemanusiaan, pendidikan, sosial adalah Yayasan Kristen unmk Kesehatan Umum, Perhimpunan Pendidikan Kristen Surakarta, Yayasan Pendidikan Kristen Indonesia dan Panti Wredha.
Bantuan-bantuan im dalam bentuk kesehatan, pendidikan dan Panti- panti Wredha. Lembaga/Instansi yang mengetahui/atau mengawasi kegiatan bantuan kemanusiaan im adalah Syrode Gereja Kristen Jawa dan Synode Gereja Kristen Indonesia, Synode GKJ lawa Te- ngah dan G.K.I. Jawa Tengah serta Badan Antar Gereja Kristen Surakarta. Ternyata tidak ada gejala-gejala penyimpangan bantuan yang bersifat kemanusiaan unmk usaha penyiaran/pengembangan suatu agama. Dan tidak pernah ditemui permasalahan yang timbul akibat sikap pihak-pihak yang sengaja tidak mengindahkan tata pergaulan hidup beragama.
Lembaga-lembaga Keagamaan Katolik yang pernah/selalu aktif dalam penyaluran bantuan yang bersifat kemanusiaan, pendidikan, sosial dan ekonomi, adalah Yayasan Karya Bakti; Yayasan Pembi- naan Katekis Vikep Ska; Yayasan Xaverius; Yayasan Biarawati Ursulin; Yayasan Marsudirini; Yayasan Pengudiuhur; Yayasan Bra- yat Minulyo; Yayasan Kanisius; Yayasan P. Ilahi; Yayasan Keluarga
dan Yayasan Pignatelli, Instansi/lembaga yang mengetahui/atau mengawasi kegiatan bantuan kemanusiaan im adalah M.A.W.I. Sum- ber bantuan yang bersifat kemanusiaan adalah nasional.
— o o —
62
Dalam dokumen
HNAMIKA KERUKUNAN HIDUP BERAGAMA DI DAERAH
(Halaman 72-77)