• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik Analisis Data

Dalam dokumen SKRIPSI - Repository IAIN Bengkulu (Halaman 59-84)

BAB II LANDASAN TEORI

F. Teknik Analisis Data

Masing-masing data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis dengan menggunakan metode sebagai berikut dari data hasil mengamati dan mewawancarai anak pada anak-anak yang orang tua mengalami perceraian.

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, dokumentasi dan lainya. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode analisis daya yang bersifat deskriftif-kualitatif yaitu mendeskripsikan.Data kualitatif yang peneliti digunakan yaitu wawancara langsung kepada responden. Data yang digunakan berupa pendapat, argumen setiap anak pada masa akhir anak- anak terhadap dampak perceraian orang tua terhadap pendidikan agama Islam.

Adapun tahapan-tahapan yang dilakukan dalam menganalisis data adalah:

1. Pengumpulan Data: analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengupulan data dalam periode tertentu.

42Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. (Bandung; Alfabeta, 2014), h. 330

2. Reduksi Data: mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal yang penting. Tahapan ini dilakukan untuk memberikan gambaran yang jelas, mempermudah penelitian melakukan pengumpulan data, dan mencarinya bila diperlukan.

3. Kesimpulan: Penarikan kesimpulan atau verivikasi adalah suatu tahap lanjutan dimana pada tahap ini penelitian menarik kesimpulan dari temuan data. Ini adalah interprestasi penelitiatas temuan dari suatu wawancara atau sebuah dokumen. Setelah kesimpulan diambil peneliti, peneliti kemudian mengecek lagi kesahihan interprestasi dengan cara mengecek ulang proses dan penyajian data untuk memastikan tidak ada kesalahan yang dilakukan.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Fakta Temuan Penelitian

1. Riwayat singkat berdirinya Desa Giri Kencana

Giri Kencana adalah sebuah Desa di wilayah Kecamatan Ketahun, Kabupaten Bengkulu Utara yang memiliki luas wilayah 3.000Km2.

Jumlah penduduk Desa Giri Kencana menurut data yang berdomisili sebesar 8.325 jiwa yang mana jumlah laki-laki terdiri dari 2975 jiwa dan jumlah perempuan terdiri dari 5350 jiwa. Desa Giri Kencana yang terdiri dari Desa Bukit Makmur, Desa Marga Bakti, Desa Bumi Harjo, Desa Air Sekamanak, Desa Air Sebayur, Desa Air Simpang, Desa Sumber Mulya Desa Bukit Harapan, Desa Fajar Baru, Desa Melati Harjo, Desa Tanjung Muara, Desa Urai, dan Desa Bukit Tinggi semua Desa ini yang terletak pada wilayah Kecamatan Ketahun.

Desa Giri Kencana yang terdiri dari 6 Dusun, yaitu Dusun 1, Dusun 2, Dusun 3, Dusun 4, Dusun 5 dan Dusun 6. Dusun 1 memiliki 5 RT, Dusun 2 memiliki 3 RT, Dusun 3 memiliki 5 RT, Dusun 4 memiliki 4 RT, Dusun 5 memiliki 3 RT, dan Dusun 6 memiliki 3 RT. Jumlah keseluruhan penduduk di Desa Giri Kencana Kecamatan Ketahun Kabupaten Bengkulu Utara adalah sebanyak KK laki-laki sejumlah 1.682 KK dan perempuan sejumlah 92 KK dan total keseluruhan 1.774 KK.

48

2. Kondisi Wilayah Desa Giri Kencana

Seperti yang telah dijelaskan diatas, bahwa Desa Giri Kencana dengan batas wilayah seperti berikut:

Tabel 4.1

Batas Desa Giri Kencana

Batas Wilayah Kecamatan

Sebelah Utara Desa Bukit Tinggi Ketahun

Sebelah Selatan Desa Bukit Makmur Ketahun

Sebelah Timur Desa Pasar Ketahun Ketahun

Sebelah Barat Desa Pasar Ketahun Ketahun

Sumber Desa: Dokumentasi Desa Giri Kencana

Jarak Desa Giri Kencana dengan ibukota Kecamatan lebih kurang 12 Km, jarak Desa Giri Kencana ke ibukota Kabupaten 70 Km, jarak Desa Giri Kencana ke ibukota Provinsi 87 Km, dan jarak dari ibukota Negara 17.000 Km. Desa Giri Kencana Kecamatan Ketahun Kabupaten Bengkulu Utara terbagi atas 6 Rukun Warga (RW) dan 23 Rukun Tetangga (RT), dengan luas wilayah sekitar 3.000 Ha. Giri Kencana merupakan sentra perekomonian untuk Kecamatan Ketahun yang tempat dan posisinya sangat strategis yang dikelilingi perekebunan besar, dari arah Barat berasal dari PT Pamor Danda, dari arah Timur berasal dari PTPN VII, PT Jop, dari arah Utara berasal dari pertambangan PT Injatama.

3. Hasil Wawancara

Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, maka peneliti mendeskripsikan temuan-temuan pelalui observasi, wawancara dan dokumentasi dengan beberapa orang tua yang mengalami perceraian di Desa Giri Kencana Kecamatan Ketahun Kabupaten Bengkulu Utara.

Mengingat luasnya permasalahan ditempat peneliti maka peneliti membatasi masalah yaitu hanya memfokuskan pada orang tua yang mengalami perceraian yang mempunyai anak pada masa akhir anak- anak dari umur 6 tahun sampai 13 bagi perempuan dan laki-laki 14 tahun. Untuk mengetahui bagaimana pendidikan agama Islam anak dalam keluarga orang tua yang mengalami perceraian di Desa Giri Kencana Kencamantan Ketahun Kabupaten Bengkulu Utara dapat dilihat dari hasil observasi dan wawancara dengan beberapa orang tua yang mengalami percaraian dan anak yang orang tuanya bercerai.

a. Wawancara dengan Orang Tua yang bercerai 1. Mengtahui tentang Pendidikan Agama Islam.

Hasil wawancara dari ibu Lira Fauzan yang kini sudah berusia 22 tahun, tepatnya ia lahir pada 1 April 1997. Ia berdomisili di Desa Giri Kencana. Ibu Lira menikah pada tahun 2014, dimana saat itu berusia 17 tahun. Ironisnya pada saat usia pernikahan baru 3 tahun, ibu Lira terpaksa bercerai dengan suaminya pada tahun 2017. Ibu Lira mengatakan bahwa:

”menurut ibu Lira pendidikan agama Islam itu yang mengajarkan kebaikan kepada anak untuk memahami, mengenal

dan mengimani agama Islam, mengajarkan mana yang baik mana yang buruk, dan mana yang dibolehkan dan tidak dibolehkan sesuai yang Islam ajarkan. Contohnya tidak boleh mencuri mengambil barang orang lain yang bukan hak kita, tidak boleh melawan orang tua, terus kalau pergi-pergi keluar rumah atau sekolah harus berpamitan salam sama orang tua, sopan santun akhlak itu harus sangat diterapkan untuk anak, dari kecil sudah harus dikenalkan sholat dan belajar sholat 5 waktu, pokoknya mengajarkan anak tentang agama sangat penting dan bagi saya pendidikan anak nomer 1 untuk saya.43

Hasil wawancara dari bapak Suradi yang kini berusia 58 tahun, tepatnya ia lahir pada 02 Februari 1961. Ia berdomisili di Desa Giri Kencana, bapak Suradi menikah pada tahun 1984, dimana pada saat itu ia berusia 23 tahun. Bapak Suradi bercerai pada istrinya pada tahun 2012 pada saat bapak berusia 51 tahun.

Bapak Suradi mengatakan bahwa:

“menurut bapak Suradi mengajarkan pendidikan agama pada anak sangat penting, saya ingin memberikan pendidikan agama anak menjadi yang terbaik maka itu mbak saya memasukkan anak saya kesekolah-sekolah agama, yang SD saya masukkan ke MI dan yang SMP saya masukkan ke MTS, dan saya juga memasukkan anak saya ketempat belajar ngaji dirumah terdekat mbak”44

Hasil wawancara dengan dari ibu Mulyana yang kini berusia 46 tahun, tepatnya ia lahir pada 06 November 1973. Ia berdomisili di Desa Giri Kencana Kecamatan Ketahun, ibu Mulyana menikah 2 kali dan cerai 2 kali petama menikah pada tahun 1997 bercerai tahun 2005, yang kedua menikah tahun 2006 dan bercerai pada tahun 2017.

43Hasil wawancara dengan ibu Lira Fauzan pada tanggal 29 Juli 2019

44Hasil wawancara dengan bapak Suradi pada tanggal 01 Agustus 2019

“Pendidikan agama Islam untuk saya selalu mengajarkan anak agar jangan berbohong, selalu tanamkan kejujuran dimanapun mereka berada mbak, saya ingin mereka bisa bahagia dunia dan akhirat dengan menaati peraturan agama Islam, saya juga memasukkan anak saya ketempat belajar ngaji, dan kesekolah agama seperti MI, MAN.45

Hasil wawancara dengan ibu Elly Berti yang kini berusia 39 tahun, ia lahir pada tanggal 05 Agustus 1980. Ibu Elly menikah pada tahun 2009, dimana ia pada saat itu berusia 29 tahun. Dan ibu Elly bercerai pada tahun 2012.

“ kalau saya mbak ingin yang terbaik untuk anak saya, semenjak saya pisah saya hanya membesarkan anak saya seorang diri bagaimana pun saya ingin memberikan yang terbaik apalagi agama, saya masukkan anak saya ketempat belajar mengaji agar anak saya icha bisa mengaji, sholat belajar Al-Quran dengan benar”46

Hasil wawancara dengan ibu Eva Susanti yang kini berusia 45 tahun, ia lahir pada tanggal 07 Juli 1974. Ia menikah pada tahun 1989 dan bercerai pada 2008.

“saya membesarkan anak seorang diri sampai sekarang pun saya tidak menikah lagi, agama bagi saya sangat penting karna kita tak selama nya didunia, saya selalu mengajarkan kepada anak-anak untuk jangan tinggalkan sholat dan lakukan perintah Allah dan jauhi larangan-Nya, saya juga memasukkan anak saya ketempat ngaji dan kesekolah agama mbak”.47

Dari hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa orang tua mengartikan pendidikan agama Islam pada anak dengan mengajarkan membaca doa, mengaji, sholat, memberi nasehat kepada anak tentang jangan mencuri, berbohong dalam setiap

45Hasil wawancara dengan ibu Mulyana pada tanggal 01 Agustus 2019

46Hasil wawancara dengan ibu Elly pada tanggal 08 Agustus 2019

47Hasil wawancara dengan ibu Eva Susanti pada tanggal 15Agustus 2019

kegiatan sehari-hari dan ada juga yang memasukkan anak ke les mengaji.

2. Setelah berpisah anak tetap diberikan arahan pendidikan agama Islam.

Menurut daribapak Suradi, ia mengatakan bahwa :

“Kalau saya selalu berikan arahan untuk mana yang diboleh dikerjakan dan tidak boleh dikerjakan seperti makan dimulai dengan doa dari hal-hal kecil seperti itu, kalau untuk mantan istri saya sampai saat ini masih untuk menghubungi anak tapi jarang sekali”48

Sedangkan menurut hasil wawancara dari ibu Lira Fauzan ia mengatakan bahwa:

“Arahan untuk mengajar anak pasti dan saya juga mengajarkan anak mengaji dirumah setelah sholat magrib itu selalu kami lakukan, kalau untuk mantan suami saya mbak ngak ada lagi bertanggung jawab untuk itu, karena dia juga lagi ada dalam penjara karena ada kasus yang melibatkannya”49

Menurut hasil wawancara dengan ibu Eva ia mengatakan bahwa:

“Saya selalu ajarkan mereka untuk selalu membantu orang disekeliling mereka seperti membantu saya untu membersihkan rumah, saya selalu memberikan mereka ajaran agama dari hal kecil, kalau untuk papa mereka Alhamdulillah papa mereka bertanggung jawab untuk apapun yang mereka butuhkan sampai sekarang dan papa mereka juga yang membantu saya untuk menyekolahkan mereka sampai sekarang.50

Berdasarkan hasil wawancara dengan ibu mulyana mengatakan bahwa:

48 Menurut hasil wawancara dengan bapak Suradi pada tanggal 01 Agustus 2019

49 Menurut hasil wawancara dengan ibu Lira Fauzan pada tanggal 29 Juli 2019

50Menurut hasil wawancara dengan ibu Eva pada tanggal 15 Agustus 2019

“ Kalau saya selalu memberikan arahan kepada anak-anak saya untuk mereka selalu menghormati orang tua walaupun ayah dan ibu nya telah bercerai, karna menghormati mematuhi perintahan orang tua juga ajaran yang wajib bagi Islam, kalau untuk ayah mereka tidak ada pertanggung jawab anak-anak mereka ini juga yang menjadi salah satu faktor saya bercerai mbak, karna tadi ayah nya anak-anak lepas tangan untuk menafkahi mereka”.51

Menurut hasil wawancara dengan ibu Elly mengatakan bahwa :

“Menurut saya arahan untuk anak mulai dari dia kecil diajarkan mengaji, makanya saya masukkan anak saya ketempat belajar mengaji, kalau untuk mantan suami saya, ayah nya dari anak saya sesekali untuk menjenguk Icha, kadang kalau dia lagi di rumah orang tuanya yang tidak jauh dari rumah saya, ya dia yang mengantarkan Icha untuk Les mengaji sore hari”52

Dapat ditarik kesimpulan dari hasil wawancara beberapa keluarga diatas bahwa banyak macam pola asuh orang tua dalam mendidik anaknya, dan masih juga terdapat orang tua yang tidak lagi memperdulikan anak akibat perpisahan dengan mantan istri atau suami.

3. Apa yang telah diberikan orang tua dalam pendidikan agama anak.

Berdasarkan hasil wawancara dengan ibu Mulyana mengatakan bahwa:

“Sampai detik ini mbak, saya hanya baru memberikan yang kecil-kecil saja, seperti menyuruh mereka untuk sholat, membaca Quran seperti saya masukkan mereka ketempat ngaji”.53

Menurut ibu Eva, iamengatakan bahwa:

51Menurut hasil wawancara dengan ibu Mulyana pada tanggal 01 Agustus 2019

52 Menurut hasil wawancara dengan ibu Elly pada tanggal 08 Agustus 2019

53 Menurut hasil wawancara dengan ibu Mulyana pada tanggal 01 Agustus 2019

“Saya memang belum banyak mengajarkan pendidikan agama Islam dalam keluarga saya dan untuk anak-anak saya, tapi saya selalu memberikan yang terbaik untuk ajaran agama kepada anak saya, mereka harus baik dengan sesama saling tolong menolong dengan orang disekeliling mereka”.54

Menurut hasil wawancara dengan ibu Elly mengatakan bahwa:

“Saya lebih menyerahkan ajaran agama kepada sekolah dan tempat Icha mengaji, kalau dirumah saya hanya memberikan nasehat-nasehat kecil untuk Icha, bagaimana Icha kalau tidur harus berdoa, keluar rumah berdoa, dan harus selalu mendokan kedua orang tua nya”55

Menurut hasil wawancara dengan bapak Suradi mengatakan bahwa:

“Ya kalau saya hanya memberikan apa yang saya tau pada agama Islam untuk anak, yang jelas itu harus mereka lakukan agar mereka dapat memahami ajaran agama, makanya saya memasukkan mereka kesekolah agama, mereka pulang sekolah lanjut untuk mengaji, selalu begitu jadwal mereka sehari-hari”.56

Berdasarkan hasil wawancara dengan ibu Lira Fauzan mengatakan bahwa:

“ karena anak saya masih kecil dan baru mulai untuk bersekolah, saya hanya bisa memberikan kebiasaan kecil, seperti mengajarkan doa-doa, doa masuk masjid, doa makan, doa mau tidur, dank arena Via anak saya sekolah agama, saya juga selalu untuk menanyakan hafalan-hafalan apa aja disekolah dia, ya melatih dia agar menjadi anak sholehah”.57

Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa sebagai orang tua mereka telah mengajarkan hal-hal kecil kepada anak mereka tentang agama, seperti belajar menghafalkan

54 Menurut hasil wawancara dengan ibu Eva pada tanggal 15 Agustus 2019

55Menurut hasil wawancara dengan ibu Elly pada tanggal 08 Agustus 2019

56 Menurut hasil wawancara dengan bapak Suradi pada tanggal 01 Agustus 2019

57Menurut hasil wawancara dengan ibu Lira Fauzan pada tanggal 29 Juli 2019

doa, doa makan, doa mau tidur, doa masuk masjid, dan juga nasehat-nasehat untuk menghormati orang tua, saling tolong menolong.

4. Kesulitan yang dirasakan dalam memberikan pendidikan agama Islam pada anak.

Menurut hasil wawancara dengan ibu Eva mengatakan bahwa:

“ Kesulitan yang saya rasakan ya mbak, karena saya yang selalu 24jam sama anak-anak, dan saya sendiri membesarkan mereka, saya sendiri yang harus memaahami watak-watak mereka, kesulitannya kadang mereka tidak mau mendengarkan apa yang saya katakan, mereka kadang tidak bisa menahan emosi mereka mungkin diluar mereka lagi ada berantem sama teman-temannya, hingga emosi itu dibawak kerumah.Kadang juga kalau disuruh sholat mereka mengajuhkan perkataan saya, ya begitulah mbak sulitnya mengurus anak seorang diri”.58

Menurut ibu Elly yang telah saya wawancarai, ia mengatakan bahwa:

“Kalau saya perkerjaan saya berdagang, dan Icha sekarang kelas III SD, saya yang jarang untuk bermain sama Icha meluangkan waktu untuk mengajarkan Icha, Karena saya berdagang dari pagi sampai malam. Jadi saya sulit untuk mempunyai waktu yang khusus untuk mengajarkan Icha, kalau lagi berjualan Icha lagi bertanya kalau ada temanya yang ketahuan mencuri, jadi disitulah saya menjelaskan kalau mencuri itu tidak dibolehkan sama agama dan dosa, jadi kesulitan saya selama ini adalah kurangnya waktu memperhatikan anak saya.59

Menurut hasil wawancara dengan ibu Lira mengatakan

58Menurut hasil wawancara dengan ibu Eva pada tanggal 15 Agustus 2019

59 Menurut hasil wawancara dengan ibu Elly pada tanggal 08 Agustus 2019

bahwa:

”Saya kesulitan untuk memberikan pendidikan agama karena saya menikah pada saat itu masih sangat muda sekali, dan saya putus sekolah pada saat itu dengan kejadian fatal ini, ini membuat saya yang kurang matang nya pemikiran saya pada saat itu untuk membesarkan anak perempuan, tapi perlahan-lahan sekarang Alhamdulillah saya hijrah untuk ini semua, dan ingin memberikan yang terbaik untuk anak perempuan saya termaksud pendidikan agama Islam.”60 Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Suradi mengatakan bahwa:

“Pada saat itu saya ditinggal sama istri saya, dan saya membesarkan anak-anak yang berjumlah 7 ini sendiri, dimana saya seorang bapak tugas saya mencari nafkah untuk mereka sekolah dan apapun yang mereka inginkan saya berikan yang terbaik, jadi dulu anak saya yang besar sempat mabuk-mabukkan setelah ibu mereka pergi, saya sulit untuk menerapkan pendidikan agama dengan mendidik anak seorang diri, kalau dinasehatin mereka sudah tidak mendengarkan lagi, tapi saya selalu memberikan yang terbaik untuk mereka sampai mengerti dan paham mana yang terbaik untuk mereka setelah ibu mereka pergi.”61

Menurut hasil wawancara dengan ibu Mulyana mengatakan bahwa:

“Saya belum lancer mengaji mbak, maka itu sulit saya memberikan pendidikan agama apa lagi setelah bercerai saya berperan sebagai ayah juga untuk anak-anak dirumah, maka itu saya lebih memilih memasukkan anak-anak saya kesekolah agama dan ketempat belajar mengaji agar mereka bisa mengaji tidak seperti saya”.62

Dapat disimpulkan dari hasil wawancara diatas kesulitan- kesulitan yang dialami oleh para orang tua yang bercerai adalah sulitnya mereka untuk membagi waktu pada pekerjaan atau

60Menurut hasil wawancara dengan ibu Lira Fauzan pada tanggal 29 Juli 2019

61 Menurut hasil wawancara dengan bapak Suradi pada tanggal 01 Agustus 2019

62 Menurut hasil wawancara dengan ibu Mulyana pada tanggal 01 Agustus 2019

keluarga. Karena mereka hanya seorang diri dalam mengurus anak jadi mereka juga harus memikirkan kebutuhan-kebutuhan anak mereka maka dari itu mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk mencari uang, dan juga kesalahn di massalalu membuat salah satu orang tua ini masih belum desawa dalam membersarkan anak, dan ada juga salah satu diantara mereka orang tua yang masih belum bisa membaca Al-Quran.

5. Upaya orang tua dalam menggerakkan pendidikan agama pada anak.

Menurut hasil wawancara dengan ibu Elly mengatakan bahwa:

“Saya selalu mengupayakan anak untuk disiplin dirumah, walaupun saya kurang waktu untuk mengajarkan Icha tapi disela-sela saya berjualan saya tetap harus memperhatikan Icha, kapan waktu dia untuk belajar, les mengaji, dan kapan waktu untuk bermain dan istirahat tidur.”63

Menurut hasil wawancara dengan ibu Eva mengatakan bahwa:

“Ya saya harus berhati-hati agar mereka tidak salah dalam melangkah, kunci saya satu mbak, memperhatikan mereka sholat, karena harus di biasakan karna sholat adalah tiangnya agama.”64

Menurut hasil wawancara dengan ibu Lira mengatakan bahwa:

63 Menurut hasil wawancara dengan ibu Elly pada tanggal 08 Agustus 2019

64 Menurut hasil wawancara dengan ibu Eva pada tanggal 15 Agustus 2019

“Upaya saya selain mengajarkan ngaji dengan Via saya juga harus membiasakan Via untuk jujur sejak kecil, seperti Via dapat maianan dari mana, Via dapat uang dari mana, saya harus mendekatkan diri Via untuk selalu terbuka dengan saya, agar saya bisa membimbing maunya Via juga seperti apa.”65

Menurut hasil wawancara dengan bapak Suradi mengatakan bahwa:

“Zaman yang modern seperti sekarang mbak, saya lebih memilih untuk menghidupkan acara-acara televisi atau handphone mendengarkan ceramah, karena mengurus 7 anak itu tidak mudah dengan watak mereka yang berbeda dan saya hanya mengurusnya sendiri, selain saya memasukkan mereka kesekolah agama juga dan tempat mengaji maka itu juga saya lakukan, ya agar mereka paham mana yang boleh diperintahkan agama.”66

Menurut hasil wawancara dengan ibu Mulyana mengatakan bahwa:

“Kalau saya dalam rumah lebih memberikan contoh sama anak-anak, kalau perbuatan ini dampaknya jadi seperti ini, seperti yang saya rasakan, kalau kayak saya tidak bisa mengaji mereka dari kecil harus bisa mengaji, karena semakin mereka bertumbuh besar mereka makin banyak kesibukan lainnya, dan saya ingin anak-anak saya untuk taat dengan agama karena ada surga dan neraka mereka harus paham itu”.67

Jadi kesimpulan upaya orang tua dalam mendidik anak mereka tentang pendidikan agama pada anak dengan cara kedisiplinan kapan waktunya sholat, belajar, mengaji dan bermain.

Adapula memfokuskan pada pelaksanaan sholat untuk anak karena sholat adalah tiang agama, adapula dalam upaya kejujuran anak dan

65 Menurut hasil wawancara dengan ibu Lira pada tanggal 29 Juli 2019

66 Menurut hasil wawancara dengan bapak Suradi pada tanggal 01 Agustus 2019

67Menurut wawancara dengan ibu Mulyana pada tanggal 01 Agustus 2019

juga menggunakan media seperti siaran di televise dan dihandphone mendengarkan ceramah bersama anak-anak mereka.

b. Wawancara dengan anak yang orang tuanya bercerai 1. Pengetahuan tentang pendidikan agama Islam.

Hasil wawancara dengan Muhammad Ageng Prasetyo anak dari bapak Suradi yang berusia 13 tahun duduk di bangku kelas VII sekolah di MTsN Bengkulu Utara.

“Menurut Tyo, pendidikan agama Islam adalah ilmu yang mempelajari agama Islam seperti Akhidah Akhlak, Al- Qur‟an Hadist, Sejarah Kebudayaan Islam, seperti yang diajarkan disekolahan.”68

Hasil wawancara dengan Desvia Hayda Ningrum anak dari ibu Mulyana yang berusia 11 tahun duduk di bangku kelas V MIN Ketahun.

“Pendididikan agama Islam yang mengajarkan kebaikan, harus jujur dan saling tolong menolong. Belajar untuk sholat, menghafal doa-doa, menghafal surah Al- Qur‟an”69

Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan pendidikan agama Islam dari anak mengetahui tentang Akhlak, Al-Qur‟an Hadist dan pendidikan agama Islam juga mengajarkan kebaikan, sikap jujur dan saling tolong menolong sesama.

2. Orang tua juga mengajarkan pendidikan agama dirumah.

68Hasil wawancara dengan Muhammad Ageng Prasetyo pada tanggal 05 Agustus 2019

69Hasil wawancara dengan Desvia Hayda Ningrum pada tanggal 01 Agustus 2019

Dalam dokumen SKRIPSI - Repository IAIN Bengkulu (Halaman 59-84)

Dokumen terkait