Keluarga sakinah merupakan sebuah ilustrasi dalam perwujudan keluarga yang maslahah. Untuk mencapai keluarga yang maslahah diperlukannya kerjasama antar pasangan dalam segala aspek. Hal ini tentunya sangat diperlukan agar keseimbangan dan kesakinahan dalam keluarga terus terjaga. Pada intinya sebuah kemaslahatan dalam keluarga dan kesakinahannya akan terus terjaga dengan menerapkan nilai-nilai mubadalah secara adil.244
Perspektif kesalingan mengakar pada tauhid sosial yang menegaskan kesetaraan, keadilan, kasih sayang dan penghormatan kemanusiaan.
Sebagaimana Ibnu al Qayyim al Jauziyah, ketentuan-ketentuan ajaran dan hukum Islam mewujudkan empat pilar nilai, yakni keadilan, kearifan, kasih sayang dan kemaslahatan.245 Gagasan mubadallah meniscayakan kesetaraan dan keadilan dalam berelasi antara laki-laki dan perempuan, dan mendorong hadirnya kerja sama yang partisipatif, adil dan memberi manfaat kepada keduanya tanpa diskriminasi. Ruang publik tidak hanya diperuntukan bagi kaum laki-laki, sementara ruang domestik juga tidak hanya dibebankan kepada kaum perempuan saja. Partisipasi di keduanya,
243 RI, Al-Qur’an Dan Terjemahnya.
244 Wilis Werdiningsih, “Penerapan Konsep Mubadalah Dalam Pola Pengasuhan Anak” 1, no. 1 (2020): 10–11.
245 Werdiningsih, 101.
baik publik maupun domestik harus dibuka seluas-luasnya bagi laki-laki maupun perempuan secara adil.
Berbicara tentang mewujudkan keluarga yang sakinah mawaddah warahmah memang bukan perkara yang mudah. Sehingganya diperlukan keseimbangan antara pasangan dan kesiapan bekal untuk mengarunginya.
Karena keluarga bahagia bukan hanya sekedar kesetaraan antar pasangan, akan tetapi bagaimana kesalingan untuk mengasuh anak dan menghadapi pasang surut hubungan suami istri.246
Berikut ini akan dijelaskan mengenai konsep keluarga sakinah melalui penanaman nilai-nilai mubadalah. Untuk memuluskan harapan samara ini, al-qur’an telah menetapkan empat pilar pernikahan dan berkeluarga, bahwa pernikahan harus dipandang sebagai:247
1. Perkawinan adalah ikatan yang kuat (mitsaqan ghalizhan) yang harus dipelihara bersama. Hal ini berdasarkan QS. An-Nisa/4:21, yang menjelaskan bahwasanya sendi-sendi untuk menyangga kehidupan rumah tangga adalah dengan memaknai perkawinan sebagai ikatan yang kokoh.
2. Pernikahan adalah ikatan berpasangan (zawaj), dimana suami adalah pakaian bagi istri dan istri juga pakaian bagi suami (Al- Baqarah/2:187). Suami dan istri laksana dua sayap burung yang terbang. Maksudanya sebagai pasangan suami istri hendaknya saling melengkapi, saling menopang, dan saling kerjasama.
3. segala perilaku dalam berkeluarga harus didasarkan pada kesalingan untuk kebaikan (mu’asyarah bil ma’ruf) hal ini tersinyalir dalam QS. An-Nisa/4:19). Nilai mu’asyaroh bil ma’ruf yang dimaksud adalah hendaknya seorang suami harus selalu berfikir, berupaya dan melakukansegala yang terbaik untuk istri. Begitupun sang istri berbuat hal yang sama kepada suaminya.
4. Pengelolaannya didasarkan pada kemauan bersama (taradhin) dan rembug bersama musyawarah (QS. Al-Baqarah/2:23). Perkawinan mesti dikelola dengan musyawarah. Musyawawaarah adalah cara yang sehat untuk berkomunikasi, meminta masukan, menghormati
246 Zahra Amin, “Mengelola Dinamika Berkeluarga,” https://mubadalah.id/mengelola- dinamika-berkeluarga/, 8 November 2021.
247 Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah, Fondasi Keluarga Sakinah Bacaan Mandiri Calon Pengantin (Jakarta: Subdit Bina Keluarga Sakinah, 2017), 9–10.
pandangan pasangan, dan mengambil keputusan yang terbaik..
Dengan empat pilar tersebut, relasi kesalingan akan mudah ditumbuhkan, prinsip kerjasama akan mudah dilaksanakan, harapan kebahagiaan dan cinta kasih juga akan mudah dipenuhi dalam sebuah keluarga Islam. Melalui empat pilar ini, masing-masing anggota keluarga dituntut untuk mengokohkan pondasi keluarga, menghadirkan segala kebaikan, dan menghalau segala keburukan (jalbul-mashalih wa dar‟ulmafasid). Baik suami maupun istri, orang tua maupun anak, saudara maupun pekerja rumah tangga. Dari suasana keluarga seperti ini diharapkan akan lahir pribadi yang kokoh, pasangan yang salih/salihah, keluarga yang tangguh, generasi yang baik, dan masyarakat yang adil dan sejahtera.
Menikah dalam perspektif tauhid Islam adalah bukan proses penghambaan seorang perempuan kepada laki-laki. Tetapi proses mengikatkan diri pada perjanjian kemitraan (zawaj) antara mereka.
Dengan menikah dan berkeluarga, masing-masing tetap hanya menghamba kepada Allah Swt semata. Tidak boleh ada yang menghambakan atau menjadi hamba pada yang lain.248
Sehingga relasi satu sama lain yang harus dibangun adalah kesalingan untuk kebahagiaan (sakinah), kebaikan (sholaah) dan kesejahteraan (falaah). Yaitu relasi yang menumbuhkan agar masing-masing saling mencintai (tahaabub), saling tolong menolong (ta‟aawun) dan saling melayani (mu’asyarah bil ma’ruf). Antara suami dan istri. Serta antara orang tua dan anak. Hukum Keluarga Islam, dengan demikian, harus menerjemahkan perspektif ketauhidan yang mengantar pada relasi kesalingan antara suami dan istri, juga orang tua dan anak.
Mengutip pendapat Alisa wahid menyebutkan bahwa keluarga maṣlaḥah setidaknya harus mempunyai pondasi, pilar, dinding dan atapnya. Ibarat sebuah rumah, maka bangunan keluarga harus dibangun di atas fondasi yang kokoh. Pondasi-pondasi tersebut diantaranya keadilan (mu’adalah), kesalingan (mubadalah), dan keseimbangan (muwazanah).
Sementara pilar keluarga yang dimaksud adalah perspektif zawaj, mitsaqan ghalidhzan, mu’asyarah bi al-ma’ruf, musyawarah, dan taradhin. Dengan
248 Muhammad Sofyan Yusuf, “PERSEPEKTIF MUBADALAH TERHADAP INSTRUKSI PRESIDEN NO. 9 TAHUN 2000 TENTANG PENGARUSUTAMAAN GENDER DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL” (Bandar Lampung, UIN Raden Intan Lampung, 2020), 22–26.
pondasi yang kuat dan pilar yang kokoh, maka dinding yang mengitarinya juga akan menjadi kuat, dan bangunan keluarga maṣlaḥah akan terbentuk dengan memciptakan suasana jiwa yang Sakinah (menentramkan), mawaddah (penuh cinta), dan rahmah (kasih sayang). Kemudian bagian atap bangunan tersebut adalah prinsip kemaslahatan.
Cara pandang mubadalah mencerminkan suatu kesetaraan dan keadilan dalam relasi antara laki-laki dan perempuann, yang kemudian dapat mendorong sikap kerja sama yang partisipatif, adil dan memberi manfaat kepada keduanya tanpa diskriminatif. Ruang publik tidak hanya diperuntukkan bagi kaum laki-laki, sementara ruang domestik pun juga tidak hanya dibebankan kepada kaum perempuan saja. Partisipasi keduanya disemua ruang, publik dan domestik, harus dibuka seluasluasnya secara adil sekalipun dilakukan dengan cara, model, dan pilihan yang berbeda-beda. 249
Bentuk partisipatif dari kedua belah pihak ini semata untuk memastikan penghormatan kemanusiaan benar nyata hadir dalam dua ranah. Hal ini juga untuk memastikan hadirnya prinsip-prinsip ta’awun (saling menolong), tahabub (saling mencintai), tasyawur (saling memberi pendapat), taradhin (saling rela), dan ta’ashur bil ma’ruf (saling memperlakukan secara baik) dalam relasi laki-laki dan perempuan, baik di ranah domestik maupun publik.
Keluarga yang sehat dan harmonis bukan berarti keluarga yang tanpa konflik dan masalah. tetapi keluarga yang dapat membangun relasi yang baik tanpa ada dominasi dan kekerasan di dalamnya, yang terdapat bentuk kesalingan dan tanggung jawab dari masing-masing anggota keluarga.
Seperti saling menghormati, saling bekerja sama, saling mendukung, saling menciptakan suasana yang nyaman sehingga akan menciptakan kebaikan dan kemaslahatan dalam keluarga, sebagaimana ayat Al-Qur’an yaitu: Fa Imsaakun bi ma’ruufin aw tasriihun bi ihsaanin : “ikatan keluarga itu harus dikelola dalam kebaikan, dan jika berpisah juga harus dengan kebaikan pula”.
Penulis cenderung pada suatu argumen yang mengatakan bahwa problematika dalam rumah tangga merupakan hal yang tidak terelakkan, namun upaya terhadap penyelesaian di setiap problem adalah hal yang
249 Ramdan Wagianto, “Konsep Keluarga Maṣlaḥah Dalam Perspektif Qira’ah Mubadalah Dan Relevansinya Dengan Ketahanan Keluarga Di Masa Pandemi Covid-19,” Jurnal Ilmiah Syari‘ah Volume 20, Nomor 1 (Juni 2021): 7–8.
harus dibarengi dengan Ketersalingan antara suami istri, agar tujuan dari rumah tangga harmonis dapat terpenuhi.