• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Kajian Teori

2. Kepala Sekolah

a. Pengertian Kepala Sekolah

Kata kepala sekolah merupakan gabungan dari dua kata, “kepala dan sekolah”. Kepala dapat diartikan ketua atau pimpinan dalam suatu organisasi atau lembaga, sedangkan sekolah adalah sebuah lembaga yang menjadi tempat menerima dan memberi pelajaran. Kepala sekolah merupakan motor penggerak, penentu arah kebijakan sekolah yang akan menentukan bagaimana tujuan-tujuan sekolah dan pendidikan pada umumnya direalisasikan.24

Dalam peraturan menteri pendidikan nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/ Sekolah adalah

b. Tugas Pokok dan Fungsi Kepala Sekolah

Kepala sekolah mempunyai tugas dan fungsi yang sangat vital dalam pengelolaan lembaga pendidikan. Atmodiwiro dan Totosiswanto menyebutkan bahwa tugas kepala sekolah adalah sebagai berikut:

1) Menentukan tujuan sekolah

2) Mengembangkan dan memacu harapan siswa untuk mencapai keberhasilan

3) Memacu dan menentukan standar akademik yang tinggi 4) Menilai dan memonitor penempatan siswa

5) Mempertahankan bobot waktu jam pengajaran 6) Mengkoordinir kurikulum

7) Memacu dan membantu perbaikan pengajaran

24 Mulyasa, Manajemen Beerbasis Sekolah , Konsep, Strategi, dan Implementasi, (Bandung :PT. Remaja Rosdakarya, 2006), 126

8) Mengadakan supervisi dan evaluasi terhadap pengajaran 9) Menciptakan lingkungan dan iklim kerja yang kondusif25

Sedangkan Anwar dan Amir mengemukakan bahwa “kepala sekolah sebagai pengelola pendidikan, memiliki tugas mengembangkan kinerja personel, terutama meningkatkan kompetensi profesional guru.” Perlu digarisbawahi bahwa yang dimaksud dengan kompetensi profesional di sini, tidak hanya berkaitan dengan penguasaan materi semata, tetapi mencakup seluruh jenis dan isi kandungan kompetensi yang harus dimiliki oleh guru. Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional, terdapat tujuh fungsi utama kepala sekolah yaitu, sebagai:

(1) educator (pendidik), (2) manajer, (3) administrator, (4) supervisor, (5) leader (pemimpin), (6) pencipta iklim kerja, dan (7) wirausahawan.26

Merujuk kepada tujuh peran kepala sekolah sebagaimana disampaikan oleh Depdiknas di atas, di bawah ini akan diuraikan secara ringkas hubungan antara peran kepala sekolah dengan peningkatan kompetensi guru.

1) Kepala sekolah sebagai educator (pendidik)

Kegiatan belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan dan guru merupakan pelaksana dan pengembang utama kurikulum di sekolah. Kepala sekolah yang menunjukkan komitmen tinggi dan fokus terhadap pengembangan kurikulum dan kegiatan belajar mengajar di sekolahnya tentu saja akan sangat memperhatikan tingkat kompetensi yang dimiliki gurunya, sekaligus juga akan senantiasa berusaha memfasilitasi dan mendorong agar para guru dapat secara

25 Atmodiwiro dan Totosiswanto (1991: 56)

26 Depdiknas, 42,

terus menerus meningkatkan kompetensinya, sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan efektif dan efisien.

2) Kepala sekolah sebagai manajer

Dalam mengelola tenaga kependidikan, salah satu tugas yang harus dilakukan kepala sekolah adalah melaksanakan kegiatan pemeliharaan dan pengembangan profesi para guru. Dalam hal ini, kepala sekolah seyogyanya dapat memfasiltasi dan memberikan kesempatan yang luas kepada para guru untuk dapat melaksanakan kegiatan pengembangan profesi melalui berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan, baik yang dilaksanakan di sekolah, –seperti : MGMP/MGP tingkat sekolah, in house training, diskusi profesional dan sebagainya, atau melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan di luar sekolah, seperti: kesempatan melanjutkan pendidikan atau mengikuti berbagai kegiatan pelatihan yang diselenggarakan pihak lain.

3) Kepala sekolah sebagai administrator

Kepala sekolah sebagai administrator memiliki hubungan yang sangat erat dengan berbagai aktivitas pengelolaan administrasi yang bersifat pencatatan, penyusunan, dan pendokumenan seluruh program sekolah. Sebagai seorang administrator, kepala sekolah harus memiliki kemampuan untuk memperbaiki dan mengembangkan semua fasilitas sekolah baik sarana maupun prasarana pendidikan. Kepala sekolah sebagai administrator pendidikan harus mampu menerapkan kemampuannya dalam tugas-tugas operasionalnya yakni kemampuan pengelolaan kurikulum, pengelolaan administrasi peserta didik, pengelolaan personalia, pengelolaan sarana dan prasarana, pengelolaan administrasi kearsipan,

dan pengelolaan administrasi keuangan. Khususnya berkenaan dengan pengelolaan keuangan, bahwa untuk tercapainya peningkatan kompetensi guru tidak lepas dari faktor biaya. Seberapa besar sekolah dapat mengalokasikan anggaran peningkatan kompetensi guru tentunya akan mempengaruhi terhadap tingkat kompetensi para gurunya. Oleh karena itu kepala sekolah seyogyanya dapat mengalokasikan anggaran yang memadai bagi upaya peningkatan kompetensi guru.

Serangkaian kegiatan dari perencanaan, pelaksanaan dan penilaian yang dilakukan oleh kepala sekolah untuk mengembangkan kemampuan guru dalam mengelola proses pembelajaran demi mencapai tujuan pendidikan.

4) Kepala sekolah sebagai supervisor

Untuk mengetahui sejauh mana guru mampu melaksanakan pembelajaran, secara berkala kepala sekolah perlu melaksanakan kegiatan supervisi, yang dapat dilakukan melalui kegiatan kunjungan kelas untuk mengamati proses pembelajaran secara langsung, terutama dalam pemilihan dan penggunaan metode, media yang digunakan dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran.27 Dari hasil supervisi ini, dapat diketahui kelemahan sekaligus keunggulan guru dalam melaksanakan pembelajaran, tingkat penguasaan kompetensi guru yang bersangkutan–, selanjutnya diupayakan solusi, pembinaan dan tindak lanjut tertentu sehingga guru dapat memperbaiki kekurangan yang ada sekaligus mempertahankan keunggulannya dalam melaksanakan pembelajaran.

27 Mulyasa, menjadi Kepala Sekolah yang Profesional dalam konteks menyukseskan MBS dan KBK, ( Bandung : Remaja Rosdakarya, 2008), 26.

Jones dkk. sebagaimana disampaikan oleh Sudarwan Danim mengemukakan bahwa “menghadapi kurikulum yang berisi perubahan-perubahan yang cukup besar dalam tujuan, isi, metode dan evaluasi pengajarannya, sudah sewajarnya kalau para guru mengharapkan saran dan bimbingan dari kepala sekolah mereka”.28 Dari ungkapan ini, mengandung makna bahwa kepala sekolah harus betul-betul menguasai tentang kurikulum sekolah. Mustahil seorang kepala sekolah dapat memberikan saran dan bimbingan kepada guru, sementara dia sendiri tidak menguasainya dengan baik

Kepala sekolah mempunyai tugas sebagai supervisor berperan untuk meningkatkan pengawasan dan pengendalian terhadap guru-guru dan personel lain untuk meningkatkan kinerja mereka. Kepala sekolah sebagai supervisor bertugas mengatur seluruh aspek kurikulum yang berlaku di sekolah agar dapat memberikan hasil yang sesuai dengan target yang telah ditentukan. Aspek-aspek kurikulum yang harus dikuasai oleh kepala sekolah sebagai supervisor adalah materi pelajaran, proses belajar mengajar, evaluasi kurikulum, pengelolaan kurikulum, dan pengembangan kurikulum.

Serangkaian kegiatan dari perencanaan, pelaksanaan dan penilaian yang dilakukan oleh kepala sekolah untuk mengembangkan kemampuan guru dalam mengelola proses pembelajaran demi mencapai tujuan pendidikan.

5) Kepala sekolah sebagai leader (pemimpin)

Gaya kepemimpinan kepala sekolah seperti apakah yang dapat menumbuh-suburkan kreativitas sekaligus dapat mendorong terhadap peningkatan

28 Sudarwan Danim, Inovasi Pendidikan : Dalam upaya peningkatan Profesionalisme tenaga kependidikan, (Bandung : Pustaka Setia, 2002), 71

kompetensi guru? Dalam teori kepemimpinan setidaknya kita mengenal dua gaya kepemimpinan yaitu kepemimpinan yang berorientasi pada tugas dan kepemimpinan yang berorientasi pada manusia. Dalam rangka meningkatkan kompetensi guru, seorang kepala sekolah dapat menerapkan gaya kepemimpinan tersebut secara tepat dan fleksibel, disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan yang ada. Kepemimpinan seseorang sangat berkaitan dengan kepribadian dan kepribadian kepala sekolah sebagai pemimpin akan tercermin dalam sifat-sifat sebagai barikut : (1) jujur; (2) percaya diri; (3) tanggung jawab; (4) berani mengambil resiko dan keputusan; (5) berjiwa besar; (6) emosi yang stabil, dan (7) teladan.29

Kepemimpinan pendidikan adalah kemampuan dan proses mempengaruhi, mengkoordinir, dan menggerakkan orang-orang lain yang ada hubungannya dengan pengembangan ilmu pendidikan dan pelaksanaan pendidikan dan pengajaran, agar kegiatan-kegiatan yang dijalankan dapat lebih efisien dan efektif dalam pencapaian tujuan-tujuan pendidikan dan pengajaran. Sejalan dengan hal tersebut, Sagala berpendapat bahwa kepemimpinan pendidikan adalah proses mempengaruhi, memerintah secara persuasif, memberi contoh, dan bimbingan kepada orang lain seperti guru, konselor, dan profesi kependidikan lainnya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.30

6) Sebagai Inovator

29 Mulyasa, 33.

30 Syaiful Sagala, Administrasi Pendidikan Kontempore, (Bandung, Alfabeta, 2006), 147

Kepala sekolah bertugas sebagai inovator. Kepala sekolah sebagai inovator berarti mempunyai kemampuan mencari dan menemukan gagasan baru untuk pembaharuan sekolah dan kemampuan melakukan pembaharuan di sekolah.

7) Kepala sekolah sebagai motivator

Pencipta iklim kerja, Budaya dan iklim kerja yang kondusif akan memungkinkan setiap guru lebih termotivasi untuk menunjukkan kinerjanya secara unggul, yang disertai usaha untuk meningkatkan kompetensinya. Oleh karena itu, dalam upaya menciptakan budaya dan iklim kerja yang kondusif, kepala sekolah hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut :

(a) para guru akan bekerja lebih giat apabila kegiatan yang dilakukannya menarik dan menyenangkan,

(b) tujuan kegiatan perlu disusun dengan dengan jelas dan diinformasikan kepada para guru sehingga mereka mengetahui tujuan dia bekerja, para guru juga dapat dilibatkan dalam penyusunan tujuan tersebut,

(c) para guru harus selalu diberitahu tentang dari setiap pekerjaannya,

(d) pemberian hadiah lebih baik dari hukuman, namun sewaktu-waktu hukuman juga diperlukan,

(e) usahakan untuk memenuhi kebutuhan sosio-psiko-fisik guru, sehingga memperoleh kepuasan31

8) Kepala sekolah sebagai interpeneur (wirausahawan)

Dalam menerapkan prinsip-prinsip kewirausahaan dihubungkan dengan peningkatan kompetensi guru, maka kepala sekolah seyogyanya dapat

31 E. Mulayasa, 56

menciptakan pembaharuan, keunggulan komparatif, serta memanfaatkan berbagai peluang. Kepala sekolah dengan sikap kewirauhasaan yang kuat akan berani melakukan perubahan-perubahan yang inovatif di sekolahnya, termasuk perubahan dalam hal-hal yang berhubungan dengan proses pembelajaran siswa beserta kompetensi gurunya.

Peran kepala sekolah diatas yang lebih dikenal dengan istilah EMASLIME dapat di gambarkan sebagai berikut: Edukator, Manager, Administrator, Supervisor, Leader, Inovator, Motivator, Enterpreneur.

Sejauh mana kepala sekolah dapat mewujudkan peran-peran di atas, secara langsung maupun tidak langsung dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kompetensi guru, yang pada gilirannya dapat membawa efek terhadap peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Beberapa paparan di atas dapat disimpulkan bahwa kepala sekolah merupakan penyelenggara pendidikan yang juga, yaitu :

(1) menjadi manajer lembaga pendidikan, (2) menjadi pemimpin,

(3) sebagai penggerak lembaga pendidikan, (4) sebagai supervisor atau pengawas,

(5) sebagai pencipta iklim bekerja dan belajar yang kondusif, (6) sebagai edukator,

(7) sebagai seorang administrator dan (8) sebagai seorang enterpreneur.

Penelitian ini menggunakan menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif.

penelitian kualitatif, yaitu untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll, secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah1. Tujuan penelitian deskriptif adalah untuk membuat pecandraan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu.2

Menurut Bogdan dan Biklen sebagaimana yang dikutip oleh Moleong (2006), penelitian ini memiliki ciri-ciri (a) penelitian kualitatif dilakukan pada latar alamiah (the natural setting) sebagai sumber data dan peneliti merupakan instrumen kunci (key instrument); (b) bersifat deskriptif yaitu menggambarkan situasi tertentu atau data yang dikumpulkan berbentuk kata-kata atau gambar dan angka; (c) lebih memperhatikan proses ketimbang hasil atau produk semata; (d) dalam menganalisis datanya cenderung induktif; dan (e) makna merupakan soal esensial yang paling penting bagi penelitian kualitatif.3

1 Moleong Lexy, 6

2 Sumadi, 75

3 Moleong Lexy, 7

Melalui pendekatan kualitatif, peneliti dapat mengenal subyek secara mendalam. Hal ini dapat mengekplorasi situasi, kondisi, atau peristiwa mengenai implementasi supervisi akademik kepala Sekolah di SMAN 4 Jember.

Adapun pendekatan deskriptif, karena peneliti mengadakan penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan mengungkap peristiwa implementasi supervisi akademik kepala Sekolah di SMAN 4 Jember.

Proses penelitian ini dimulai dengan eksplorasi yang luas, kemudian dilanjutkan dengan pengumpulan data yang terseleksi dan terfokus dan akhirnya data tersebut dianalisis, sehingga dapat diperoleh kesimpulan yang komprehensif mengenai implementasi supervisi akademik kepala Sekolah di SMAN 4 Jember tahun pelajaran 2014/2015.

Penelitian deskriptif kualitatif ini digunakan untuk menggambarkan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi supervisi akademik kepala Sekolah di SMAN 4 Jember.

B. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 4 Jember Jl. Hayam Wuruk No 145 Kelurahan Sempusari Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember Jawa timur.

Letak SMA Negeri 4 Jember secara geografis sangat strategis yaitu berada di pusat kota Jember.

Adapun alasan spesifik yang mendasari SMA Negeri 4 Jember dijadikan sebagai lokasi penelitian yaitu

1. Sekolah ini termasuk kategori sekolah negeri yang unggul di Kabupaten Jember

2. Berbagai prestasi yang diraih baik akademik maupun non akademik membuat SMA ini menjadi sekolah yang diperhitungkan di kabupaten jember.

C. Subyek Penelitian

Dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Menurut Sugiyono bahwa, Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu ini, misalnya orang tersebut yang dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan, atau mungkin dia sebagai penguasa sehingga akan memudahkan penelitian menjelajahi obyek/situasi sosial yang diteliti.4

Adapun populasi yang diambil adalah seluruh civitas SMA Negeri 4 Jember. Dan sampel yang diambil terdiri atas:

1. Kepala sekolah 2. Wakil kepala sekolah 3. Guru

4. Siswa

D. Teknik Pengumpulan data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data.

Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan.

4 Sugiyono, Metode penelitian pendidikan, 300

Sebuah penelitian membutuhkan sumber data yang valid dan aktual, sesuai dengan pendekatan yang digunakan dalam penelitian, maka peneliti dalam rangka pengumpulan data memakai beberapa metode yaitu: Observasi, interview, dan dokumentasi.5

1. Metode Observasi

Menurut Lexy J. Moleong bahwa, “Fokus dalam pengamatan penelitian kualitatif pada dasarnya sudah dirumuskan sejak studi itu dirancang dan merupakan satu unsur studi yang penting”. 6

Adapun jenis observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi non-partisipan. Menurut Nasution bahwa:

Banyak peneliti menggunakan metode observasi tanpa menjadi partisipan (non-partisipan) karena jika menggunakan partisipan peneliti mengalami banyak kesulitan yaitu kehadiran pengamat bisa mempengaruhi orang yang diamati, karena jika peneliti menggunakan observasi jenis partisipan berarti peneliti terlibat langsung dan merupakan bagian dari kelompok yang ditelitinya.7

Berdasarkan pendapat-pendapat diatas maka observasi yang digunakan adalah untuk mencari data-data sebagai berikut:

a. Keadaan fisik berupa situasi lingkungan sekolah, ruang guru, dan ruang kepala sekolah. (setting yang penting dan menarik didokumentasikan) .

5 Sugiyono, 308

6 Lexy J. Moleong, 128

7 Nasution, 142

b. Kegiatan guru berupa kegiatan guru di ruang guru, kegiatan guru piket, kegiatan evaluasi akhir semester secara kolektif.

c. Kegiatan inti, berupa supervise akademik kepala saat KBM berlangsung, supervisi akademik kepala saat melihat guru menyusun silabus, RPP, evaluasi dan sebagainya yang diperdalam dengan wawancara.

2. Metode Interview

Sutrisno Hadi mengemukakan bahwa, “Interview, sebagai suatu proses tanya jawab secara lisan, dimana dua orang atau lebih berhadapan secara fisik, interview juga dapat dipandang sebagai pengumpulan data dengan jalan tanya jawab sepihak yang dikerjakan dengan sistematik dan berlandaskan kepada tujuan penyelidikan”.8 Nasution juga mengemukakan bahwa, “Interview atau wawancara adalah suatu bentuk komunikasi verbal, jadi semacam percakapan yang bertujuan memperoleh informasi”.9

Interview yang peneliti gunakan dalam skripsi ini adalah interview berstruktur, maksudnya pertanyaan yang akan diberikan oleh peneliti kepada interviewee (yang diwawancarai) sudah direncanakan sebelumnya dengan maksud agar proses interview itu sesuai dengan tujuan penelitian. Nasution berpendapat bahwa, “Dalam wawancara berstruktur semua pertanyaan telah dirumuskan sebelumnya dengan cermat, biasanya secara tertulis, pewawancara bisa menggunakan daftar pertanyaan itu sewaktu melakukan interview. Dalam wawancara berstruktur lingkup masalah yang diselidiki dapat dibatasi karena

8 Sutrisno Hadi, Metodologi Research (Yogyakarta: Andi Offset. 1990),

9 S. Nasution, Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif, (Tarsito: Bandung, 2003), 149

pertimbangan waktu, biaya dan tenaga”.10 Menurut Moleong “Penelitian kualitatif sebaiknya menggunakan wawancara terbuka yang para subjeknya tahu bahwa mereka sedang diwawancarai dan mengetahui maksud wawancara itu”.11 Pendapat Moleong ini sesuai dengan pendapat Nasution, bahwa dalam interview berstrukturpun sifatnya terbuka, karena dalam interview berstruktur orang yang diwawancarai mengetahui maksud dan tujuan penelitian.

Metode interview ini digunakan untuk memperoleh data sebagai berikut:

1. Implementasi Supervisi Akademik Kepala Sekolah di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 4 Tahun Pelajaran 2014/2015.

3. Metode Dokumenter

Metode ini kami anggap penting untuk mengumpulkan data, karena di dalam dokumentasi terdapat beberapa data penting yang berkenaan dengan kejadian-kejadian atau kegiatan-kegiatan yang pernah dilakukan oleh lembaga yang akan diteliti dan juga kejadian-kejadian yang pernah terjadi dalam dunia pendidikan, Arikunto berpendapat bahwa, “Metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, dan transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, ligger, dan sebagainya”12

Adapun data yang akan diambil dalam metode dokumentasi dalam penelitian ini adalah :

10 Nasution,153-154

11 Lexy J Moleong, 137

12 Suharsimi, Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek , 206

a. Denah sekolah.

b. Sejarah Berdirinya Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 4 Jember.

c. Struktur organisasi Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 4 Jember.

d. Tentang pegawai-pegawai yang pernah mendapatkan pelatihan dan pengembangan.

e. Tentang daftar nama para pegawai TU dan tugas-tugasnya.

f. Nama-nama dewan Guru.

g. Tentang pembagian jam mengajar guru.

Disamping itu metode ini dapat digunakan sebagai koreksi terhadap suatu kebenaran dari metode observasi dan interview, dan juga dapat dijadikan sebagai alat untuk memperoleh informasi masa lalu.

E. Analisis data

Adapun yang dimaksud dengan teknik analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam pola kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data.13

Dalam penelitian ini menggunakan tehnik analisa data reflektif yaitu kombinasi yang kuat antara berfikir deduktif dan induktif atau dengan mendialogkan data teoritik dengan data empirik.

13 Lexy J. moleong, 103

Adapun data-data yang terkumpul adalah berupa data-data kualitatif, dimana tidak berupa angka-angka tetapi dinyatakan dalam bentuk simbul atau atribut-atribut tertentu, seperti struktur sosial, struktur perkawinan dan lain-lain. Menurut Miles dan Huberman (1992) dalam analisis kualiatatif ada tiga langkah yang harus dilakukan yaitu reduksi data, penyajian data dan kesimpulan atau verifikasi.

Dokumen terkait