• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dari pemaparan diatas, dapat diketahui bahwa kepala sekolah mengevaluasi kekurangan-kekurangan yang ada pada waktu proses pembelajaran dan dicarikan solusi yang tepat melalui forum MGMPS.

baik, maka dapat memberikan gambaran atau prosedur yang jelas untuk mencapai tujuan supervisi akademik dan memudahkan untuk mengukur ketercapaiannya.

Perencanaan dalam fungsi manajemen pendidikan merupakan bagian yang sangat penting dan menjadi salah satu fungsi urutan pertama,

Menurut Sutikno perencanaan adalah “rangkaian kegiatan yang diambil untuk melakukan tindakan pada masa yang akan datang. Dalam perencanaan meliputi kegiatan menetapkan apa yang ingin dicapai, bagaimana mencapai, berapa lama, berapa orang yang diperlukan, dan berapa banyak biayanya”.15

Perencanaan merupakan fungsi keputusan yang menghubungkan lingkungan suatu organisasi melakukan kegiatan, sumber-sumber daya yang dimiliki siap melayani serta dapat diharapkan mengenai tujuan yang ingin dicapai demi kelangsungan hidup organisasi.

Sedangkan bila merujuk dalam buku Danim, kompetensi perencanaan supervisi yang seharusnya dimiliki kepala sekolah dalam rangka melaksanakan supervisi akademik di sekolahnya masing-masing, adalah sebagai berikut :

Tabel 4.4

Kompetensi Perencanaan Supervisi

Kompetensi : Sub kompetensi : Indikator Kompetensi :

Merencanakan program supervisi

akademik dalam

a) Memahami landasan teoritik supervisi akademik

a) Memahami landasan filosofis, sosiologis, dan psikologis supervisi

15 Sobry Sutikno, Manajemen Pendidikan Langkah Praktis Mewujudkan Lembaga Pendidikan yang Unggul(Tinjauan Umum dan Islami), (Lombok : Holisca : 2012), 22

meningkatkan Kompetensi Paedagogik pendidik

akademik sebagai sebuah proses pendidikan orang dewasa.

b) Memahami berbagai pengertian, prinsip- prinsip, pendekatan, dan teknik supervisi

akademik yang

dikembangkan

berdasakan berbagai landasan filosofis, psikologis , dan sosiologis dibidang pendidikan.

c) Memahami faktor-faktor yang menentukan keefektifan pendekatan supervisi akademik, seperti tujuan supervisi, karakteristik

individual/kelompok guru mata pelajaran, kawasan supervisi, serta kondisi lingkungan dan budaya sekolah

d) Memahami tujuan dan sasaran supervisi akademik pada masing- masing kawasan:

pengembangan

kurikulum, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran, dan penelitian tindakan kelas.

b) Memahami landasan hukum dan kebijakan pemerintah di bidang

kurikulum dan

pembelajaran

Memahami landasan hukum dan kebijakan pemerintah pusat dan daerah yang terkait dengan

kurikulum dan

pembelajaran, antara lain : a) UU Sisdiknas nomor

20 tahun 2003

b) UU nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen

c) PP nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan d) Permendiknas nomor

22, 23, dan 24 tentang standar isi dan standar kompetensi lulusan e) Permendiknas nomor

16 tahun 2007 tentang Standar Kompetensi guru

c) Menyusun rencana supervisi secara sistematis sesuai dengan landasan teori dan peraturan yang berlaku

1. Mengidentifikasi masalah/kebutuhan pengembangan

pembelajaran dan mengelompokkan masalah/kebutuhan pengembangan pembelajaran berdasarkan

pengawasan supervisi akademik

2. Merumuskan tujuan supervisi akademik yang meliputi keluaran langsung (output) dan dampak (outcomes) 3. Mengidentifikasi dan

menetapkan pendekatan supervisi akademik yang efektif dan tepat dengan masalah yang dikembangkan

4. Menetapkan

mekanisme dan rancangan operasional supervisi akademik sesuai dengan tujuan, pendekatan, dan strategi yang dipilih

5. Mengidentifikasi dan menetapkan

sumberdaya (manusia, informasi, peralatan, dan dana) yang dibutuhkan untuk kegiatan supervisi akademik

6. Menyusun jadwal pelaksanaan supervisi akademik

7. Menyusun prosedur dan mekanisme monitoring

dan evaluasi supervisi akademik. 16

Dalam hal ini, perencanaan supervisi akademik kepala sekolah di SMAN 4 Jember tahun pelajaran 2014-2015 masih belum maksimal dikarenakan temuan data dari peneliti, masih belum memenuhi standar kompetensi perencanaan supervisi akademik. Namun, telaah lebih mendalam, perencanaan supervisi akademik di SMAN 4 Jember tahun pelajaran 2014-2015 telah memenuhi prinsip- prinsip perencanaan.

Seperti yang sudah dijelaskan pada temuan data, perencanaan supervisi akademik di SMAN 4 Jember sudah terlaksana, namun belum maksimal, hal ini terlihat dari prosedur perencanaan, perencanaan jadwal supervisi yang sudah dibuat dan hal-hal yang akan disupervisi. Perencanaan masih belum menggunakan prinsip perencanaan.

b. Pelaksanaan Supervisi Akademik kepala Sekolah di SMAN 4 Jember tahun pelajaran 2014/2015

Pelaksanaan Supervisi Akademik kepala sekolah di SMAN 4 Jember tahun pelajaran 2014/2015 tentunya menggunakan teknik-teknik supervisi akademik. Hal ini bertujuan untuk mencapai tujuan supervisi yang telah ditentukan, Menurut Sahertian, teknik supervisi dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu :

a. Teknik individual

16 Sudarman Danim, Otonomi Manajemen Sekolah(Bandung : Alfabeta, 2010), 155

1) Mengadakan kunjungan kelas (class room visitation)

Kunjungan kelas yaitu kunjungan sewaktu-waktu yang dilakukan oleh seorang supervisor (kepala sekolah, penilik, pengawas). Tujuannya untuk mengobservasi bagaimana guru mengajar, apakah sudah memenuhi syarat- syarat didaktik atau metode yang sesuai. Kegiatan ini untuk melihat apa kekurangan atau kelemahan yang sekiranya masih perlu diperbaiki dalam proses belajar mengajar.

Kepala sekolah di SMAN Jember telah melaksanakan Supervisi akademik melalui kunjungan kelas. Seperti yang dipaparkan pada temuan data, kepala sekolah mengadakan pertemuan awal terlebih dulu dengan guru, memastikan waktu dan tempat supervisi, guru melengkapi persiapan yang dibutuhkan dalam supervisi tersebut. Pada proses pelaksanaan supervisi kunjungan kelas, selama 2 jam pelajaran kepala sekolah mensupervisi guru, pada 15 menit akhir kepala sekolah melaksanakan evaluasi terkait proses pembelajaran. Evaluasi ini berupa keaktifan peserta didik dan sebagainya.

Namun kekurangan guru diberikan di lain waktu yang waktu sehingga tidak merendahkan guru di depan murid.

2) Mengadakan kunjungan observasi (observation visits)

Kepala sekolah menugaskan guru untuk melihat atau mengamati seorang guru yang sedang mendemonstrasikan cara-cara mengajar suatu mata pelajaran tertentu. Misalnya cara alat atau media yang baru, seperti Audio- Visual Aids, cara dengan metode tertentu, seperti sosiodrama, problem solving, diskusi panel, fish bowl, metode penemuan (discovery), dan sebagainya.

Kunjungan observasi dapat dilakukan sendiri (intrashool visit atau dengan mengadakan kunjungan ke sekolah lain (interschool visits).

Dalam hal ini, kepala sekolah melaksanakan supervisi akademik teknik kunjungan observasi ini yaitu menugaskan guru untuk mengamati guru lain yang sedang melaksanakan proses pembelajaran. Seperti yang sudah dijelaskan dalam temuan data, bahwa kepala sekolah meminta masing-masing guru untuk selalu mengembangkan kemampuan pedagogiknya dengan cara mengunjungi guru lain yang sedang belajar. Hal ini dibuktikan dengan guru pendidikan agama Islam yang saling mengunjungi kelas lain untuk melihat, mengamati proses pembelajaran.

3) Membimbing guru-guru tentang cara-cara mempelajari pribadi siswa dan atau mengatasi problema yang dijalani siswa.

Banyak masalah yang dialami guru dalam mengatasi kesulitan-kesulitan belajar siswa. Misalnya siswa yang nakal, siswa yang mengalami perasaan rendah guru dan kurang dapat bergaul dengan teman-temannya dan siswa yang lamban dalam belajar. Meskipun dibeberapa sekolah mungkin telah dibentuk bagian bimbingan dan konseling untuk mengatasinya, tapi tidak lepas dari guru atau wali kelas karena mereka adalah pembimbing yang utama.

Dalam hal ini kepala sekolah tidak terlalu memberikan pembinaan atau bimbingan, dikarenakan guru di SMAN 4 Jember sudah senior dan mampu untuk mengatasi problem siswa. Namun jika ada kesulitan, kepala sekolah siap untuk memberikan bantuan untuk mengatasi problem siswa.

4) Membimbing guru-guru dalam hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan kurikulum sekolah, antara lain :

a) Menyusun program semester.

b) Menyusun atau membuat program satuan pelajaran.

c) Mengorganisasikan kegiatan-kegiatan pengelolaan kelas.

d) Melaksanakan teknik-teknik evaluasi pengajaran.

e) Menggunakan media dan sumber dalam proses mengajar.

f) Mengorganisasikan kegiatan-kegiatan siswa dalam bidang ekstrakurikuler, studi tour dan sebagainya.

Pada awal tahun pelajaran, kepala sekolah dibantu oleh waka kurikulum mensupervisi perangkat pembelajaran dari kalender akademik, protap, promes, silabus, RPP dan sebagainya. Sehingga nanti pada proses pembelajaran guru akan lebih siap dalam memfasilitasi siswa.

b. Teknik Kelompok

Dalam teknik ini supervisi dilakukan secara kelompok. Adapun kegiatan ini dapat dilakukan antara lain :

1) Mengadakan pertemuan atau rapat (meeting)

Seorang kepala sekolah yang baik umumnya menjalankan tugas-tugasnya berdasarkan rencana yang telah disusunnya. Termasuk didalam perencanaan itu antara lain mengadakan rapat-rapat secara periodik dengan guru-guru. Berbagai hal dapat dijadikan bahan yang berhubungan dengan pelaksanaan dan pengembangan kurikulum, pembinaan administrasi atau tata laksana sekolah.

Seperti yang sudah dipaparkan dalam temuan data, kepala sekolah tiap 2 minggu sekali melakukan rapat dengan guru. Atau rapat dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan, biasanya juga mengambil jam istirahat, tanpa mengganggu proses pembelajaran. Rapat ini bukan hanya membahas supervisi, namun juga membahas hal lain.

2) Mengadakan diskusi kelompok (group discussions)

Diskusi kelompok dapat diadakan dengan membentuk kelompok- kelompok guru bidang studi sejenis. Kelompok-kelompok yang telah terbentuk itu diprogramkan untuk mengadakan pertemuan atau diskusi guna membicarakan hal- hal yang berhubungan dengan usaha pengembangan dan peranan proses belajar mengajar. Didalam setiap diskusi supervisor atau kepala sekolah dapat memberikan pengarahan, bimbingan, nasehat-nasehat ataupun saran-saran yang diperlukan.

Seperti yang sudah dipaparkan dalam temuan data, pertemuan guru bidang studi atau disebut dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran sekolah dilaksanakan pada 2 minggu sekali, sedangkan Musyawarah Guru Mata Pelajaran kabupaten diadakan pada 1 bulan sekali. Kepala sekolah memberikan bimbingan terkait pengembangan pedagogik di musyawarah guru mata pelajaran sekolah (MGMPS).

3) Mengadakan penataran (In-Service Training)

Teknik supervisi kelompok dilakukan melalui penataran sudah banyak dilakukan. Misalnya penataran untuk guru-guru bidang studi tertentu. Penataran tentang metodologi pengajaran dan penataran tentang administrasi pendidikan.17

Tiap tahun kepala sekolah SMAN 4 Jember memberikan motivasi dan mengirim guru-guru untuk mengikuti pelatihan baik pelatihan pengembangan profesi, penataran, dan pendidikan latihan pengembangan guru. Dan sekolah membiayai guru untuk mengikuti acara tersebut.

c. Evaluasi Supervisi Akademik kepala Sekolah di SMAN 4 Jember tahun pelajaran 2014-2015

Evaluasi sebagaimana yang dikutip dalam Daryanto bahwa “evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk menilai alternative keputusan”.18

Sedangkan menurut Muhaimin, evaluasi bertujuan untuk mengetahui apakah program sekolah mencapai sasaran yang diharapkan. Evaluasi menekankan pada aspek hasil (output). Konsekuensinya, evaluasi baru dapat dilakukan jika program, sekolah sudah berjalan dalam satu periode, sesuai dengan tahapan sasaran yang dirancang.19

Dalam melaksanakan tugas, seorang supervisor melakukan berbagai macam model evaluasi, yaitu evaluasi formatif dan evaluasi sumatif, keduanya akan dibahas satu persatu.

a) Evaluasi Formatif

17 Ngalim Purwanto, 120-122.

18 Daryanto, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. RIneka Cipta, 1999), 2

19 Muhaimin, Manajemen Pendidikan, Aplikasinya dalam penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah/Madrasah. ( Jakarta: Kencana, 2010), 374

Arikunto dan Yuliana menjelaskan bahwa, bentuk evaluasi formatif ditandai dengan adanya kegiatan evaluasi yang dilakukan supervisor untuk melihat suatu rangkaian kegiatan dengan kegiatan sebelum dan sesudahnya pada tingkat ketercapaiannya.20 Menurut Indra Fahrudi, penilaian formatif ini diharapkan dua hal, yaitu guru dapat memperbaiki program pengajaran dan strategi pelaksanaannya.21

Realitasnya, kepala sekolah telah melaksanakan evaluasi formatif, artinya kepala sekolah SMAN 4 Jember telah mengadakan perbaikan, masukan, saran kepada guru untuk memperbaiki proses pembelajaran, evaluasi ini disampaikan pada saat setelah supervisi atau saat ada Musyawarah mata guru pelajaran sekolah. Disitu guru dibimbing oleh kepala sekolah untuk perbaikan kompetensi pedagogiknya.

Temuan kekurangan pada saat supervisi di kelas disampaikan pada musyawarah ini agar nantinya dapat mengatasi saat situasi dan kondisi yang sama terjadi.

b) Evaluasi Sumatif

Evaluasi sumatif menurut Purwanto yaitu “penilaian yang dilakukan setiap catur wulan atau semester.22 Dalam kegiatan evaluasi sumatif, supervisor melakukan evaluasi global kegiatan, tidak sekuensial. Sementara dalam kegiatan ia evaluasi di akhir kegiatan.

Evaluasi adalah sesuatu yang didemonstrasikan atau dipraktekkan oleh orang sedang dievaluasi. Karena alat evaluasi yang digunakan adalah panca indera yaitu mata. Dalam pendidikan, teknik ini sering digunakan terutama dalam

20 Suharsimi Arikunto dan Yuliana, 396

21 Indra Fahrudi, Mengantar Bagaimana Memimpin Sekolah yang Baik, (Jakarta : Kencana , 1995), 111

22 Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, 60

menilai sesuatu yang memerlukan kebenaran dalam gerak atau membutuhkan pengamatan yang seksama dari supervisor.

Menurut Arikunto dan Yuliana dalam aktifitas mengevaluasi, ada tiga kegiatan besar yang biasanya dilakukan supervisor, yaitu

1) Identifikasi tujuan evaluasi

2) Penyusunan desain dan metodologi evaluasi 3) Pengukuran

Aspek-aspek yang dievaluasi oleh seseorang supervisor meliputi tiga hal, yaitu : 1) Personil, Aspek personil yang dievaluasi mengacu kepada kemampuan

professional, dimensi sosial, dan individual

2) Material, Aspek material berkaitan dengan evaluasi substasi bahan ajar dan variable pendukungnya, misalnya alat-alat pendidikan

3) Operasional, Aspek operasional hal ini berkaitan dengan implementasi proses belajar mengajar di kelas.

Kepala sekolah SMAN 4 Jember belum maksimal dalam melaksanakan evaluasi sumatif. Hal ini dikarenakan kepala sekolah terlalu fokus dalam melaksanakan evaluasi secara operasional, tidak terlalu melaksanakan evaluasi personil dan material, dikarenakan kesibukannya yang padat.

Dari kegiatan penelitian berupa observasi, interview dan dokumentasi, yang diikuti dengan analisis data terkait implementasi supervisi akademik kepala SMAN 4 Jember tahun pelajaran 2014-2015 dapat diperoleh kesimpulan :

1. Kesimpulan umum :

Implementasi supervisi akademik kepala sekolah di SMAN 4 Jember tahun pelajaran 2014-2015 terlaksana meskipun belum maksimal.

2. Kesimpulan khusus :

a. Perencanaan supervisi akademik kepala sekolah di SMAN 4 Jember tahun pelajaran 2014-2015 disusun sebelum kegiatan belajar mengajar dilaksanakan yaitu awal tahun ajaran baru dengan memasukkan program tersebut dalam program kerja sekolah dan perencanaan tersebut melibatkan semua komponen sekolah, penjadwalan, sosialisasi jadwal hingga pertemuan awal dilaksanakan pada proses ini.

b. Pelaksanaan supervisi akademik kepala sekolah di SMAN 4 Jember tahun pelajaran 2014/2015 dilakukan oleh kepala sekolah secara langsung, namun karena dengan berbagai kesibukannya yang padat, kepala sekolah juga dibantu oleh waka kurikulum dan guru-guru senior yang sudah memiliki kualifikasi.

Kepala sekolah melaksanakan supervisi akademik dengan menggunakan teknik individu dan teknik kelompok. Secara individu, kepala sekolah melaksanakan kunjungan kelas, kunjungan observasi, dan memberikan

bimbingan. Secara kelompok, kepala sekolah melaksanakan supervisi melalui mengadakan rapat, diskusi kelompok yaitu MGMP/S dan pelatihan-pelatihan.

c. Evaluasi supervisi akademik kepala sekolah di SMAN 4 Jember tahun pelajaran 2014/2015 telah dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip evaluasi sumatif dan formatif diperoleh keterangan bahwa, penerapan supervisi akademik yang dilakukan kepala sekolah dapat meningkatkan kemampuan pedagogiek pendidik, karena dan respon guru terhadap pelaksanaan supervisi sangat antusias, karena supervisi bagi para guru merupakan sarana untuk mengetahui sejauh mana unjuk kerjanya dalam membantu siswa. Dari hasil supervisi akan diketahui kelebihan dan kekurangan untuk kemudian hari dicarikan solusi yang tepat. Dari keseluruhan aspek kepala sekolah dalam meningkatkan kompetensi pedagogiek berhasil dilaksanakan secara maksimal A. Saran

Sebagai tindak lanjut terakhir dari kegiatan penelitian ini, ada beberapa saran yang perlu disampaikan peneliti kepada seluruh komponen SMAN 4 Jember terkait hasil penelitian yang telah dilaksanakan. Beberapa saran yang tepat disampaikan peneliti untuk dijadikan pertimbangan antara lain :

1. Kepala SMAN 4 Jember hendaknya secara terus menerus melakukan perbaikan-perbaikan dalam pelaksanaan supervisi akademik. Baik dari proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi supervisi. Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah dengan melakukan kordinasi secara sistematis dengan pengawas sekolah yang bertujuan untuk memberikan pembinaan kepada guru- guru agar dapat melaksanakan tugasnya secara efektif dan efisien.

2. Bagi guru, perlu kiranya terus menerus untuk meningkatkan kompetensinya, khususnya kompetensi pedagogiek. Karena guru merupakan ujung tombak dalam proses pembelajaran. Guru harus kompeten dengan segala sesuatu tentang pembelajaran itu sendiri.

Nama : Arief Rachmat Hadi

Nomor Induk Mahasiswa : 084 103 123

Tempat, Tanggal Lahir : Jember, 11 Oktober 1990

Alamat : Jl Tidar 2b

Fakultas/Prodi : Tarbiyah Dan ilmu keguruan & MPI

Riwayat Pendidikan : SDN. Kepatihan 17 Jember

SMP. Negeri 3 Jember

Dokumen terkait