RINGKASAN EKSEKUTIF
Teknologi digital membawa perubahan besar pada tidak hanya struktur ekonomi, melainkan juga struktur kehidupan masyarakat global. Digitalisasi menghasilkan potensi besar sekaligus disrupsi bagi masyarakat global, negara, dan pasar.
Seiring dengan hal ini mulai timbul kesadaran dan kebutuhan untuk memaksimalkan potensi ekonomi digital yang memerlukan pemahaman mendalam dan komprehensif mengenai isu-isu penting digitalisasi yang perlu dibicarakan dalam forum G20.
Dalam penelitian yang kami lakukan, ketimpangan digital (digital inequality) adalah isu kunci yang perlu dibahas lebih jauh. Ketimpangan digital, baik dalam hal antar-negara, antar-warga negara, maupun antara pengguna dan korporasi, bukanlah fenomena baru. Namun, pandemi COVID-19 telah menyingkap lebih jelas problematika ketimpangan digital ini. Ketimpangan digital ini terutama sekali terwujud dalam tiga bentuk. Pertama, ketimpangan infrastruktur digital. Kedua, ketimpangan literasi digital. Ketiga, ketimpangan keamanan digital.
Terhadap tiga bentuk ketimpangan digital tersebut, Indonesia dapat menjadi proponen untuk membahas rekomendasi guna mengurangi ketimpangan digital tersebut. Kebijakan yang dapat Tim Penulis:
Dr. Herdito Sandi Pratama, M.Hum.
Departemen Filsafat, Fakultas Ilmu
Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia Dr. Sonya Puspasari Suganda, S.S., M.A.
Departemen Linguistik, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia Dr. Meutia Irina Mukhlis, B.A., M.Si.
Departemen Filsafat, Fakultas Ilmu
Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia
*korespondensi: [email protected];
Kerangka Kerja Pengurangan
Pendahuluan
1
Pandemi COVID-19 mengubah dunia secara drastis, terutama ketika mobilitas harus dibatasi, interaksi masyarakat global lebih banyak mengandalkan teknologi digital. Meskipun teknologi digital bukan hal baru, pandemi ini membuka kembali problematika dunia digital yang patut dicermati dan diteliti lebih jauh. Pada dasarnya, teknologi digital telah membawa perubahan yang begitu besar pada berbagai aspek kehidupan masyarakat di dunia. Era digital sering disebut sebagai revolusi industri keempat karena mampu mentransformasi semua aspek kehidupan sehari-hari manusia, dari mulai bagaimana manusia membuat keputusan dan berinteraksi dengan sesamanya, hingga aspek ekonomi seperti meningkatkan efisiensi dan menciptakan model-model bisnis yang baru serta mengingkatkan kualitas pengalaman konsumen (McKinsey, 2016). Fenomena digitalisasi tidak dipungkiri merefleksikan suatu bentuk kemajuan yang menawarkan potensi riil bagi pemerintah dan masyarakat global. Utamanya, fenomena digitalisasi berpotensi meningkatkan inovasi, efisiensi dan pelayanan di bidang ekonomi sehingga berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan bersama. Namun di sisi lain, digitalisasi juga memiliki mampu mendisrupsi kehidupan manusia melalui berbagai perubahan yang dibawanya. Hal ini berpotensi menimbulkan persoalan-persoalan mengenai privasi, keamanan data dan keamanan bertransaksi di platform digital, kompetisi, inovasi, kebijakan konsumen, pekerjaan-pekerjaan dan keterampilan-keterampilan khusus yang dibutuhkan, dan sebagainya. Kegagalan untuk mengatasipersoalan-persoalan tersebut akan mengakibatkan terjadinya inefisensi ekonomi, pertumbuhan ekonomi yang melambat, meningkatnya ketidakadilan dan ketimpangan ekonomi dan sosial serta menggerus kehidupan sosial/budaya suatu masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah di berbagai negara perlu menyusun kebijakan secara cermat agar dapat memaksimalkan potensi yang ditawarkan oleh fenomena digitalisasi dan menghindari peluang terjadinya disrupsi negatif di tengah masyarakat.
Di sisi lain, masyarakat juga perlu ditingkatkan pemahaman dan literasinya tentang teknologi digital agar dapat menggunakan teknologi tersebut secara cerdas dan tidak menjadi korban penipuan di ruang digital atau serangan siber.
Perkembangan teknologi digital yang begitu cepat dan kemampuan teknologi tersebut untuk mengubah struktur ekonomi dan kehidupan masyarakat global membuat isu digitalisasi turut menjadi agenda pembahasan forum ekonomi G20. Pada forum G20 sendiri, isu digitalisasi dapat dikatakan sebagai isu yang cukup baru dan masuk sebagai agenda pembahasan forum G20 pertama kali pada tahun 2017 setelah adanya tuntutan untuk memperluas cakupan isu yang dibahas di dalam forum tersebut pada pertemuan G20 sebelumnya di Seoul, Korea Selatan. Oleh karena itu pada pertemuan G20 di Hamburg, Jerman, di bulan Juli 2017, upaya untuk mempromosikan digitalisasi termasuk di dalam kategori isu utama forum yang menekankan pada perluasan manfaat dari globalisasi (Hajnal, 2019).
ditawarkan akan jauh lebih baik jika berangkat dari pemahaman mengenai posisi negara-negara berkembang yang tidak dalam posisi setara dengan negara maju dalam hal infrastruktur, literasi, maupun keamanan digital. Hal ini bertujuan tidak hanya untuk menunjukkan keberpihakan kepada percepatan proses digitalisasi yang baik di negara berkembang, melainkan juga untuk mendorong ekonomi global yang dapat mempercepat pemulihan ekonomi global, terutama negara-negara
G20. Secara umum, rekomendasi yang ditawarkan adalah Indonesia dapat mendorong pembentukan kerangka kerja (framework) digital yang peka terhadap ketimpangan digital dan dapat menjadi basis dalam mengurangi ketimpangan digital tersebut demi menghasilkan prospek pemulihan ekonomi dan kesejahteraan global.
Keywords: ketimpangan digital, infrastruktur digital,
literasi digital, keamanan digital
2
Saat ini, dunia sedang bergerak menuju pembentukan masyarakat berbasis informasi dan pengetahuan (information and knowledge based society). Banyak hal yang harus dipersiapkan terkait itu. Jika masih terdapat ketimpangan dalam angka PDB per-kapita, tingkat literasi, dan Indeks Pendidikan PBB, maka hal itu akan memengaruhi angka penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), khususnya angka penetrasi internet, penggunaan smartphones, dan juga layanan internet. Akan tetapi, penelitian Ünver (2021) yang menghitung tingkat digital divide dan digital inequality dilihat dari dari tingkat pendidikan dan standar ekonomi di 150 negara di dunia menunjukkan hasil yang menarik bahwa ternyata penggunaan TIK berkembang lebih cepat daripada perkembangan dalam hal kekayaan ekonomi dan pendidikan secara umum. Data ini menunjukkan bahwa fenomena digital divide ini mengalami penurunan dalam kurun waktu lebih dari 1 dekade (tahun 2000 sampai 2013). Saat ini, terdapat semakin banyak orang di dunia pengguna smartphones dan internet, meski mereka tidak memiliki tingkat pendidikan dan ekonomi yang cukup tinggi.
Penelitian kami menemukan bahwa isu yang sangat penting dalam hal dunia digital adalah adanya ketimpangan digital (digital inequality), baik di dalam populasi setiap negara, antar-negara, maupun antara pengguna dan perusahaan teknologi digital. Kami menggunakan istilah ketimpangan digital (digital inequality) dibandingkan istilah yang pernah popular pada 1990an yaitu kesenjangan digital (digital divide) karena lebih deskriptif dan lebih mampu menggambarkan keadaan yang sesungguhnya di suatu negara karena parameter penghitungannya lebih kompleks, yaitu melibatkan data demografi, data ekonomi, dan data dari bidang pendidikan. Lebih jauh, isu lainnya yang terkait dan juga sangat penting adalah mengenai literasi digital dan keamanan digital.
2.1. Ketimpangan Infrastruktur Digital
Meski digitalisasi telah masuk menjadi agenda utama pembahasan G20 pada tahun 2017, fakta
bahwa isu digitalisasi tidak menjadi isu utama yang terpisah dan dibahas secara eksklusif saat itu mengindikasikan bahwa isu tersebut belum menjadi prioritas tertinggi. Selain itu, meski negara-negara anggota telah sepakat untuk mempromosikan digitalisasi, kemampuan masing- masing negara anggota G20 untuk merangkul proses digitalisasi dan mengintegrasikan teknologi digital ke dalam sistem perekonomian guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi mereka masih sangat timpang. Beberapa negara ekonomi maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Kanada dan Jepang terlihat lebih dapat memaksimalkan potensi yang ditawarkan oleh digitalisasi mengingat infrastruktur yang sudah mapan, kekuatan ekonomi dan politik yang mereka miliki serta fakta bahwa perusahaan- perusahaan besar TI (teknologi informasi) berada di negara-negara tersebut. Selain itu, mereka juga didukung oleh sumber daya manusia yang memiliki literasi digital yang lebih tinggi sehingga mereka lebih dapat memanfaatkan teknologi secara cermat untuk kehidupan mereka. Meski demikian, tidak berarti bahwa penyebaran teknologi digital di negara-negara ekonomi maju seperti di Amerika Serikat tidak menyisakan masalah apapun.
Persoalan keamanan digital dan penyebaran berita palsu seperti hoaks dan disinformasi/misinformasi yang memenuhi alam digital menjadi permasalahan yang hingga kini belum dapat diatasi (Culloty &
Suiter, 2021). Maraknya disinformasi/misinformasi dan ujaran kebencian di ruang digital juga turut mempengaruhi masyarakat di negara-negara maju dan menimbulkan berbagai konsekuensi yang tidak diinginkan.
Di sisi lain, di negara-negara dengan ekonomi berkembang seperti Indonesia, potensi digitalisasi belum dapat dikembangkan secara maksimal.
Meski Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi digital yang menjanjikan, misalnya karena adanya bonus demografi di mana mayoritas penduduknya berada pada usia produktif, tingginya angka pengguna smartphones dan internet di Indonesia, tingginya animo masyarakat terhadap proses digitalisasi dan adanya komitmen tinggi dari pemerintah untuk mendukung agenda
Identifikasi Masalah
2
digitalisasi, namun Indonesia masih menghadapi berbagai kendala di bidang infrastruktur digital dan kualitas sumber daya manusia dalam kaitannya dengan literasi digital. Dalam hal koneksi internet misalnya, meskipun tingkat penetrasi internet di Indonesia cukup tinggi dan akses internet cukup terjangkau, namun kualitas internet di Indonesia (dari sisi kecepatan dan bandwith) masih cukup rendah dibandingkan negara-negara lain seperti Malaysia, Thailand, Brazil, China, AS, Rusia, Inggris (Mckinsey, 2016). Kendala-kendala tersebut adalah kendala yang cukup besar mengingat keberhasilan suatu negara mengintegrasikan proses digitalisasi ke dalam masyarakatnya bergantung pada kedua aspek tersebut. Oleh karena itu untuk benar-benar dapat mengambil manfaat dari fenomena digitalisasi maka Indonesia harus lebih menggalakkan pembangunan infrastruktur digital dan di saat yang sama meningkatkan akses masyarakat pada pendidikan dan memperbaiki kualitas pendidikan sebagai komponen dasar dari literasi digital.
2.2. Ketimpangan Literasi Digital
Definisi digital literacy dari Paul Gilster (Pangrazio dan Sefton-Green, 2017, hlm. 20) adalah kemampuan mengasimilasi, mengevaluasi, dan mereintegrasi informasi digital. Sebagaimana yang diketahui bersama, dunia digital ini selalu berkembang dengan cepat, maka kemampuan literasi digital ini juga harus berkelanjutan agar masyarakat dapat selalu mengikuti perkembangan dan sewaktu-waktu tidak kehilangan status ‘literate’.
Kami menemukan bahwa permasalahan utama yang masih menghambat proses adopsi digitalisasi dan transformasi digital pada konteks masyarakat di negara-negara berkembang yang tergabung dalam kelompok G20 adalah adanya kesenjangan digital yang masih cukup tinggi di antara negara- negara anggota G20. Terdapat tiga area/bentuk di mana tingkat kesenjangan yang ditemukan masih cukup tajam yaitu pembangunan infrastruktur digital, literasi digital, dan keamanan digital. Namun dengan menyatakan hal tersebut, tim peneliti tidak bermaksud untuk menyangkal banyaknya kemajuan yang telah dicapai oleh pemerintah negara-negara G20, khususnya di negara-negara berkembang seperti Indonesia, tetapi hanya menggarisbawahi bahwa meski dengan adanya beberapa kemajuan dan pencapaian tersebut,
permasalahan ketimpangan digital di antara negara- negara G20 belum teratasi secara menyeluruh.
Sebagai konsekuensi, ketimpangan digital tersebut mengakibatkan terjadinya ketidakmerataan dalam kemampuan untuk memaksimalkan potensi digitalisasi untuk mengakselerasi pembangunan, baik di bidang sosial maupun ekonomi, antara negara- negara maju dan negara-negara berkembang yang tergabung di dalam kelompok G20.
Oleh karena itu kemampuan literasi digital masyarakat menjadi semakin mutlak dan harus dijadikan fokus oleh para pemangku kebijakan.
Negara harus mampu menyediakan pendidikan literasi digital yang komprehensif. Literasi digital membutuhkan kemampuan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar membaca, menulis, dan berhitung. Kemampuan ini harus ‘dibekali’ oleh negara, salah satunya dalam bentuk pendidikan.
Pendidikan akan membuat warga suatu negara menjadi semakin aman dan percaya diri berinteraksi dalam dunia digital. Sebaliknya, interaksi yang sering dalam dunia digital diharapkan akan semakin mengasah literasi digital, sehingga pada akhirnya akan terbentuk masyarakat berbasis informasi dan pengetahuan yang dapat menjadi bagian dari pencapaian kesejahteraan global.
2.3. Ketimpangan Keamanan Digital
Ketimpangan lain yang juga perlu menjadi perhatian semua pihak terkait dengan kemampuan manusia, organisasi atau negara untuk melindungi diri mereka dari serangan siber. Pada ruang digital, manusia tidak hadir sebagai entitas fisik tetapi sebagai sekumpulan angka-angka atau informasi (Mitra, 2010). Elemen keterselubungan dan anonimitas pada ruang digital memberikan kebebasan kepada individu untuk berinteraksi dengan individu lain dengan berbagai cara, misalnya dengan tidak menggunakan identitas asli mereka. Selain itu pemahaman masyarakat umum mengenai teknologi digital dan konteks politik-ekonomi yang melatarbelakangi fenomena digitalisasi juga terbatas.
Pengetahuan mengenai TIK adalah pengetahuan yang hanya dimiliki oleh kelompok tertentu dan terbatas. Ketidaktahuan masyarakat umum terhadap proses yang terjadi di balik percakapan dan aktivitas mereka di media sosial, seperti di Whatsapp, Facebook, Instragram, dan sebagainya
membuat mereka hanya mengetahui informasi yang terbatas tentang teknologi yang mereka gunakan.
Sedangkan pengetahuan yang lebih lengkap dan utuh mengenai teknologi ini hanya diketahui oleh para pemilik dari aplikasi-aplikasi tersebut dan mereka yang memahami secara khusus cara kerja aplikasi dan dunia digital, termasuk di dalamnya mengenai perangkat komputer (baik hardware maupun software) dan teknologi internet. Kondisi ini juga diperburuk dengan adanya penolakan dari beberapa perusahaan sosial media besar untuk bersikap transparan terhadap cara kerja algoritma dari produk aplikasi mereka (Culloty & Suiter, 2021). Dengan demikian, kondisi ini menghadirkan suatu ketimpangan nyata antara para pengguna teknologi/aplikasi digital dengan para pemilik perusahaan terknologi/aplikasi digital di mana kelompok pemilik perusahaan teknologi lebih diuntungkan secara strategis. Lebih jauh lagi, dalam konteks ini, kelompok-kelompok rentan seperti anak-anak, perempuan, kelompok lanjut usia, kelompok minoritas, kelompok dengan disabilitas, secara khusus perlu lebih diberdayakan dan dilindungi ketika berinteraksi dalam dunia digital.
Saat ini, bahkan di negara maju seperti di AS, permasalahan keamanan di ruang digital masih menjadi permasalahan yang sangat kompleks dan sulit. Permasalahan keamanan di ruang digital menjadi sejenis blackhole, di mana mereka mengetahui keberadaan dan jenis-jenisnya namun mereka tidak selalu memiliki informasi yang lengkap mengenai proses atau pelakunya dan bagaimana cara mengatasinya. Di sini perlu dicatat bahwa kemampuan setiap negara untuk mengatasi persoalan keamanan digital berbeda- beda. Negara-negara besar seperti AS, Inggris, Rusia, China dan sebagainya lebih memiliki sumber daya, kemampuan, dan kapabilitas untuk mengatasi persoalan tersebut dibandingkan negara-negara berkembang seperti Indonesia, Thailand, atau Filipina. AS misalnya, dapat mengidentifikasi pelaku kejahatan siber lintas negara yang canggih namun mengalami kesulitan dalam menindak mereka secara hukum (Carter, 2019). Sementara di Indonesia kemampuan mengatasi masalah kejahatan di dunia maya masih terbatas pada kasus-kasus penipuan yang cukup sederhana. Hal itu karena negara berkembang seperti Indonesia biasanya masih dihadapkan dengan sejumlah
persoalan yang berkaitan dengan keterbatasan infrastruktur, dana, dan sumber daya manusia.
Selain itu penanganan masalah keamanan siber juga memerlukan biaya, energi yang sangat besar, dan waktu yang lama (time-consuming).
Karena ketiga hal tersebut, banyak negara dan juga perusahaan-perusahaan yang belum memprioritaskan aspek keamanan ini, kecuali negara-negara maju dan perusahaan-perusahaan besar. Pemerintah AS misalnya, mengalokasikan dana sebesar US$ 66 miliar untuk keamanan digital pada tahun 2018. Jumlah ini meningkat dari jumlah alokasi dana pada tahun sebelumnya yaitu sebesar US$60.4 miliar (Carter, 2019). AS dilaporkan terus meningkatkan alokasi dana untuk cyber security dari tahun ke tahun. Di Asia, jumlah alokasi dana untuk keamanan digital juga bervariasi, dengan Singapura misalnya mengalokasikan 0.22% dari GDP mereka untuk cyber security pada tahun 2017 (urutan ketiga tertinggi secara global) dan Indonesia hanya 0.02% dari GDP (Beschorner, 2021). Namun infrastruktur keamanan siber di negara-negara di kawasan Asia Tenggara baik infrastruktur
‘keras’ dan ‘lunak’ dinilai masih terbatas. Secara umum, negara-negara anggota ASEAN hanya mengalokasikan sekitar 0.07% dari GDP mereka untuk keamanan siber (di bawah rata-rata alokasi global yaitu sebesar 0.13%).
Terkait dengan regulasi ruang digital, beberapa negara sudah memiliki regulasi tersebut termasuk Indonesia. Hanya saja biasanya dalam banyak kasus implementasi di lapangan masih jauh dari yang diharapkan. Selain itu berbagai upaya untuk menyusun suatu kode etik digital secara global juga masih menemui berbagai kendala meskipun pembahasan mengenai kode etik digital terus dilakukan komunitas internasional (OECD, 2017).
Semua persoalan ini membuat ruang digital secara de facto saat ini masih menjadi ruang yang hanya sedikit tersentuh oleh kode etik dan regulasi/hukum.
Dengan demikian, fenomena digital bukanlah suatu fenomena yang dapat disepelekan atau ditanggapi secara naif, khususnya bagi negara- negara dengan ekonomi berkembang. Negara- negara itu perlu benar-benar memahami struktur dari dunia digital dan relasi ekonomi dan kuasa di balik fenomena digital agar fenomena tersebut dapat benar-benar berkontribusi pada pembangunan dan pertumbuhan ekonomi masing-
masing negara. Mereka perlu memahami bahwa terdapat ketimpangan digital yang cukup besar yang harus dihadapi khususnya oleh negara-negara berkembang. Ketimpangan tersebut membuat pemerintah di negara-negara berkembang berada pada posisi yang sulit. Di satu sisi mereka masih harus menghadapi permasalahan-permasalahan tradisional seperti bagaimana mengatasi kemiskinan, meningkatkan akses masyarakat kepada pendidikan dan Kesehatan, dan secara umum meningkatkan taraf hidup masyarakatnya; di sisi lain mereka diharuskan untuk mengikuti arus digitalisasi global
yang dipromosikan sebagai suatu terobosan baru yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu negara dan meningkatkan efisiensi perekonomian dengan cepat. Terdapat lompatan begitu jauh yang harus dilakukan oleh kelompok negara-negara berkembang jika mereka ingin mengambil manfaat dari proses digitalisasi dibandingkan dengan negara-negara maju.
Kesadaran akan hal ini diharapkan dapat membuat pemerintah di negara-negara berkembang lebih bijak dalam merumuskan kebijakan yang tepat untuk rakyatnya.
Rekomendasi Kebijakan
3
ingin dihubungkan. Peran tokoh masyarakatdiperlukan untuk memicu perubahan perilaku masyarakat agar proses adaptasi digital dapat berjalan dengan lancar.