• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pola Kerjasama Lintas Negara Anggota G-20 dalam Bidang

Dalam dokumen Arsitektur Kesehatan Global 1 (Halaman 57-62)

Pendidikan, Penelitian dan Pelayanan Dermatologi dan Venereologi

POLICY BRIEF

POLICY BRIEF

global dan sarana prasarana penelitian yang belum mendukung, perlunya hilirisasi produk penelitian yang bermanfaat untuk masyarakat, dan adanya potensi kerja sama dengan negara-negara anggota G-20 dalam bidang penelitian. Dari sisi pengabdian masyarakat, diharapkan melibatkan seluruh IPDS DV di Indonesia untuk kegiatan pengabdian masyarakat dengan negara anggota G-20. Hasil dari analisis jawaban kuesioner dari 63 responden yang terdiri dari staf dan PPDS DV dari 11 IPDS DV di Indonesia selaras dengan hasil wawancara dengan para pengajar senior. Dengan ini kami mengusulkan untuk menentukan negara yang akan

dijadikan benchmark bidang pendidikan dengan keunggulan masing - masing di bidang dermatologi.

Terdapat pusat studi diantara negara-negara anggota G20 yang dapat dijadikan lahan kerjasama ranah penelitian, terutama penelitian multisenter, penelitian kolaborasi topik unggulan program studi dan penelitian multiyears berkesinambungan. Perlu peluang kerja sama dalam bidang pengabdian masyarakat bersama badan sejenis/terkait yang terdapat di negara-negara anggota G20.

Keywords: dermatologi dan venereologi, pola kerjasama, G-20

Pendahuluan

1

Kesadaran akan pentingnya aksi kolektif dan kolaborasi inklusif antara berbagai negara maju dan berkembang di seluruh dunia selalu menjadi tujuan utama G20. Pandemi global telah mendorong digitalisasi global dan menyadarkan terhadap pentingnya infrastruktur dan arsitektur kesehatan serta kesenjangan dalam kapasitas negara dalam hal arsitektur kesehatan dan digitalisasi. Kepresidenan G20 Indonesia 2022 berfokus pada tiga pilar utama: Arsitektur Kesehatan Global, Transisi Energi Berkelanjutan, dan Transformasi Digital (G20).

Pencapaian potensi sebenarnya dari digitalisasi ekonomi global yang cepat membutuhkan lanskap baru kerjasama antar negara dan semua pemangku kepentingan untuk mengamankan kesejahteraan bersama di era digital. Memanfaatkan digitalisasi atau transformasi digital sangat penting dalam mengatasi berbagai masalah baik komunikasi, kesehatan, pendidikan, dan pelatihan untuk menciptakan Indonesia yang lebih lebih maju, inklusif dan kolaboratif (G20).

Dermatologi dan venereologi (DV) adalah sebuah spesialisasi yang unik karena sebagian besar diagnosis ditegakkan melalui anamnesis dengan pasien dan pengamatan visual baik secara langsung maupun melalui foto klinis kulit pasien (Janagond 555; Ashique 138). Fotografi klinis juga telah menjadi bagian integral pada pelayanan standar dalam bidang dermatologi

dan venereologi (Janagond 555). Fotografi klinis digital semakin banyak digunakan di kalangan komunitas profesional pelayanan kesehatan untuk mendokumentasikan lesi kulit, melakukan konsultasi jarak jauh terkait diagnosis dan tatalaksana dan pemenuhan kebutuhan dokumentasi penelitian serta pelatihan calon spesialis DV dan dokter umum (Marin-Gomez 215013272093783; Scheinfeld 473-6).

Kemajuan dalam teknologi digital termasuk internet, email, dan smartphone yang cepat dan terjangkau telah merevolusi sektor kesehatan dan kedokteran baik dalam pelayanan pasien, komunikasi antar sejawat, pendidikan dan penelitian (Janagond 555; Wiweko 66-70).

Dengan meningkatnya kebutuhan akan alat pendukung untuk pengambilan keputusan medis, untuk mengakses informasi medis terbaru dan kebutuhan akan kemudahan transfer informasi atau data sharing, mengakibatkan teknologi seluler telah mengubah profesi medis (Wiweko 66-70).

Dampaknya terlihat pada peningkatan efisiensi dalam organisasi pelayanan kesehatan dengan mempromosikan manajemen waktu dan komunikasi yang lebih baik antar sejawat melalui internet yang memungkinkan transfer informasi bukan hanya antar sejawat di satu negara namun antar negara (Wiweko 66-70).

Berdasarkan keunikan dari bidang DV dan kemajuan teknologi, sebagian metode pendidikan,

2

3

penelitian dan pelayanan di bidang DV dapat dilakukan melalui media komunikasi, misalnya melalui email, aplikasi pesan instan, atau layanan konferensi video. Kemajuan teknologi ini juga memudahkan komunikasi tidak hanya antar sesama dokter spesialis DV di Indonesia namun juga sesama spesialis DV secara global. Hal ini

mendorong dokter spesialis DV untuk menggarap kerjasama dengan kolega dokter di negara-negara anggota G20 dalam bidang pendidikan, penelitian dan pelayanan melalui media komunikasi diatas (email, WA, zoom). Namun, belum ada bentuk/pola kerjasama yang baku dan lebih jauh lagi, belum tersedianya aturan yang berlaku untuk hal tersebut.

Identifikasi Masalah

2

Sebelas Maret, Universitas Brawijaya, Universitas

Diponegoro, Universitas Airlangga, Universitas Sam Ratulangi, Universitas Hasanuddin, dan Universitas Udayana. Penelitian diawali dengan mewawancarai dua orang guru besar atau staf pengajar senior dari masing-masing IPDS DV tersebut tentang bagaimana pandangan, ide, masukan dan harapan mereka terhadap bentuk kerjasama lintas negara anggota G-20 ini. Kemudian dari hasil wawancara tersebut akan dibuat instrumen berupa kuesioner yang akan disebarkan kepada minimal 100 orang staf pengajar dan residen DV di 13 IPDS dengan berbagai tingkatan usia, lama bekerja, pendidikan (S2/S3), jabatan (Asisten Ahli, Lektor, Lektor Kepala dan Guru Besar). Hasil isian kuesioner tersebut akan dianalisis secara statistik.

Sampai saat ini belum ada bentuk/pola kerjasama yang baku dan belum tersedianya aturan yang berlaku untuk kerjasama dengan kolega dokter spesialis DV di negara-negara anggota G-20 dalam bidang pendidikan, penelitian dan pelayanan.

Sehingga perlu kajian untuk Memformulasikan bentuk kerjasama antar negara-negara anggota G-20 dengan dokter spesialis DV di Indonesia, demi semakin maju dan berkembangnya ilmu DV di Indonesia.

Metode penelitian diterapkan dengan melibatkan tiga belas (13) institusi pendidikan dokter spesialis (IPDS) DV di Indonesia yaitu Universitas Indonesia, Universitas Sumatera Utara, Universitas Sriwijaya, Universitas Andalas, Universitas Padjadjaran, Universitas Gadjah Mada, Universitas

Rekomendasi Kebijakan

3

tematik tentang pendidikan, penelitian dan

pengabdian masyarakat sebagai berikut:

Hasil studi kualitatif in depth interview dengan pengajar senior di 13 IPDS mendapatkan analisis TABEL 1. Temuan analisis tematik studi kualitatif

Temuan Analisis tematik studi kualitatif Contoh Pernyataan pendukung Tema Pendidikan

1. Pendidikan IPDV sudah cukup efektif dengan keberhasilan tatalaksana yang memadai, namun masih memerlukan kesamaan sistem dan kurikulum pendidikan.

…muatan pendidikan dalam PPDSp1 telah disusun sedemikian rupa oleh KDVI sebagai standar yang telah disetujui Konsil Kedokteran Indonesia, dan berdasarkan kebutuhan pelayanan DV masyarakat di Indonesia pada umumnya serta ketersediaan prasarana-sarana penunjang pembelajaran…

Temuan Analisis tematik studi kualitatif Contoh Pernyataan pendukung

… perlu diperbaiki adalah pertama dilakukan kesamaan sistem dan kurikulum Pendidikan di 13 Prodi Dermatologi Venereologi…

2. Interaksi dan kerjasama antar program studi DV di Indonesia dan serta terwujudnya kerjasama antar negara khususnya G20 sangat penting. Kerjasama pendidikan diharapkan akan meningkatkan kompetensi untuk kasus yang sulit yang membutuhkan pertukaran ketrampilan dan teknik tindakan terbaru

… selanjutnya diadakan kerja sama diantara ke 13 Prodi DV di Indonesia terutama di bidang penelitian dan pengabdian masyarakat dan ditingkatkan publikasi publikasi ilmiah dari penelitian penelitian multi center…

3. Beberapa negara G20 diidentifikasi memiliki potensi untuk kerjasama pendidikan spesialis DV yaitu di Asia (Jepang, Korea Selatan, Singapura dan India) serta Eropa (Belanda, Jerman, Inggris, Perancis).

… beberapa negara yang memiliki keunggulan di bidang dermatologi dan bisa dijadikan benchmark antara lain adalah: Jepang terutama dalam bidang kanker kulit, bedah kulit dan rekonstruksi, Korea Selatan terutama bidang dermatologi kosmetik, prosedur estetik, India terutama dalam bidang bedah kulit dan penyakit infeksi dan morbus Hansen

4. Penting untuk Benchmarking ke negara G20, untuk mempelajari sistem Pendidikan, penyediaan lahan pendidikan kerjasama dengan rumah sakit dan standarisasi kompetensi, sehingga lulusan SpDV di Indonesia dapat diakui sertifikasinya, dapat bekerja dan diterima di luar negeri

…Pendidikan PPDSp1 DV di banyak negara Eropa (Belanda, Jerman, Inggris, Perancis), juga di Australia, Singapura, Jepang merupakan pelatihan (Specialist Training), bukan Pendidikan masal seperti pendidikan akademik. Jumlah peserta didik (residen) juga tidak sebanyak di Indonesia, karena mereka sebagai pekerja di RS sehingga mereka digaji oleh RS. Namun, RS yang dianggap layak (disetujui dan disahkan oleh Kolegium) bisa menerima residen, sehingga jumlahnya bisa banyak…

Tema Penelitian

1. Ranah penelitian pada PPDSp1 DV di Indonesia sudah sangat relevan karena sudah mempunyai standar penelitian sesuai pendidikan. Perlu penyesuaian dengan agenda G20 yaitu sistem ketahanan kesehatan global, serta terapeutik dan diagnostik, yang ditunjang dengan perbaikan sarana prasarana penelitian pendukung

….Saat ini ranah penelitian di 13 prodi DV sudah mengikuti jejak penelitian di negara-negara G20 sebagai negara panutan. Contoh ranah penelitian pada PPDSp1 DV yang sudah dilakukan secara berkesinambungan adalah penelitian terkait klinis mengenai diagnosis, terapi terkini dan mutakhir, sampai dengan topik penelitian biologi molekuler…

… Belum semua (penelitian DV di Indonesia) relevan, dari segi sarana prasarana (terutama laboratorium) dan pendanaan masih belum memadai terutama bila dibandingkan dengan institusi besar di negara G20. Perlu sokongan dari pemerintah dan pihak swasta (user)…

Temuan Analisis tematik studi kualitatif Contoh Pernyataan pendukung 2. Perlu hilirisasi produk penelitian yang

bermanfaat sepenuhnya untuk masyarakat dalam menghadapi penyakit yang

banyak ditemukan, khususnya potensi pengembangan sumber daya herbal di Indonesia melalui penelitian RCT

… di Indonesia beberapa penyakit yang banyak ditemukan di masyarakat, seperti scabies, kusta, dermatomikosis dan penyakit infeksi lain, telah banyak diteliti… Namun penelitian untuk penyakit tersebut.. hasilnya belum banyak yang diproses hilirisasi sehingga produk penelitiannya belum bisa bermanfaat sepenuhnya bagi masyarakat…

…mengacu pada trend saat ini lebih baik menggunakan RCT untuk mengetahui khasiat herbal-herbal asli Indonesia, masih banyak herbal di Indonesia yang belum diteliti secara baik.

Sangat memungkinkan jika ditemukan kandungan- kandungan baru yang dapat merubah tren terapi kulit baik di bidang alergi, infeksi, maupun kosmetik…

3. Potensi pengembangan kerjasama penelitian dengan negara G20 misalnya Australia, USA, Singapore, Belanda, Jepang, Korea Selatan dan Cina untuk pengembangan penelitian DV di bidang infeksi tropis (Kusta, HIV/AIDS, Skin related Neglected Tropical Diseases, Occupational Dermatosis, Sexual Transmitted Disease) dan kosmetik

… Beberapa PT memiliki MoU dengan PT di Luar Negeri bahkan antara FK di Indonesia dengan Fk di LN anggota G20, seperti: Australia (Uni Melbourne, Monash University, Uni v New South Wales, Flinders University dll), USA (Harvard University, Yale University dll), Singapore (NUS, NTU), Belanda (UvA, VU, Univ Leiden, Univ Groningen dll). Dalam MoU biasanya lingkup Kerjasama meliputi bidang Pendidikan dan penelitian baik oleh staf maupun mahasiswa….

… hasil penelitian yang di publikasi pada jurnal bereputasi negara Jepang, Cina, dan Korea Selatan sangat baik dan menonjol hasil penelitiannya. Sehingga layak bagi kita untuk menjalin kerjasama dengan negara-negara tersebut untuk semua IPDS…

Tema Pengabdian Masyarakat

1. Pengembangan kerjasama pengabdian masyarakat yang berkesinambungan, terstruktur dan tidak insidentil melibatkan seluruh prodi IPDV di Indonesia

…Peluang melakukan kerja sama dapat kepada seluruh negara-negara G20 dengan mengirimkan beberapa peserta didik dan didampingi oleh dosen (saling bertukar antar negara) untuk periode waktu tertentu secara berkesinambungan bagi seluruh IPDS melalui pemerintah pusat dengan diberikan biaya oleh pemerintah pusat secara hibah…

..Diharapkan adanya kerjasama diantara prodi Sp1 DV di Indonesia, terutama dalam hal pengabdian masyarakat dalam skala besar..

Temuan Analisis tematik studi kualitatif Contoh Pernyataan pendukung 2. Potensi kerjasama pengabdian

masyarakat dengan negara G20 dengan mengembangkan best practice aktivitas dermatologi sosial untuk mengakses populasi yang kurang terlayani dengan melibatkan peningkatan kapasitas masyarakat untuk deteksi dini penyakit kulit

…. Metode yang dapat dilakukan untuk

meningkatkan dermatologi sosial dengan peserta G20 dengan cara memanfaatkan Pemrograman yang Ditawarkan Melalui Asosiasi American Academy of Dermatology (AAD) yang telah mengembangkan program di mana fakultas, residen, dan dokter kulit praktik swasta melakukan layanan masyarakat yang menargetkan populasi yang kurang terlayani…

…. SPOT me, program skrining kanker kulit, adalah program kesehatan masyarakat terlama AAD yang menyediakan formulir skrining, selebaran, dan iklan gratis untuk memfasilitasi skrining kanker kulit. AccessDerm adalah program teledermatologi filantropi AAD yang memberikan perawatan dermatologis kepada komunitas yang kurang terlayani. Camp Discovery dan Program Hibah Struktur Naungan adalah inisiatif tambahan yang dipromosikan oleh AAD untuk mendukung layanan sukarelawan bagi masyarakat sambil belajar tentang dermatologi…

Sedangkan hasil studi kuantitatif berupa kuesioner berisi pertanyaan tertutup yang disebar ke 13 IPDS di Indonesia, telah direspons oleh responden pengajar senior dan junior, residen DV senior di 11 IPDS di Indonesia dengan total 64 responden, memberikan laporan deskriptif tentang

Dalam dokumen Arsitektur Kesehatan Global 1 (Halaman 57-62)