Kelumpuhan Appelate Body (AB) dari WTO menegaskan urgensi reformasi WTO untuk menciptakan MTS yang berfungsi dengan baik.
DSM, termasuk AB, telah memberikan keamanan dan prediktabilitas yang sangat dibutuhkan dalam MTS. Dalam kajian ini, reformasi WTO diusulkan untuk dimulai dari prinsip-prinsip umum DSM, namun juga memperhatikan langkah-langkah yang disarankan dari berbagai proposal, termasuk untuk amandemen tentang Kesepakatan dan Tata Cara Penyelesaian Sengketa (Understanding of Rules and Procedures Governing Dispute Resolution) (Lihat tabel 1 dalam lampiran).
Dengan melihat permasalahan kelumpuhan AB secara menyeluruh, dapat disimpulkan bahwa penanganan masalah yang sudah berlangsung lama, terutama terkait dengan negara-negara berkembang, merupakan salah satu kunci untuk penyelesaian masalah ini. González dan Jung (2020) berpendapat bahwa negara-negara berkembang dapat mendesak untuk mempertahankan S&DT sebagai titik awal dari kalah-mengalah dalam proses negosiasi untuk mempertahankan dan memperbaiki proses banding WTO. Fasilitas bantuan teknis dan dukungan pengembangan kapasitas juga merupakan hal yang krusial untuk dapat mengatasi kesenjangan kapasitas antara negara maju dan berkembang, terutama dalam penanganan prosedur penyelesaian sengketa yang panjang dan mahal yang harus direformasi. Negara maju sebagai negara anggota dengan kapasitas hukum yang cenderung lebih baik seringkali diuntungkan dalam proses penyelesaian sengketa dengan kesempatan menang yang lebih besar.
Kekurangan sumber daya merupakan salah satu permasalahan WTO dengan adanya peningkatan beban kerja, seluk-beluk perselisihan serta argumentasi hukum di dalam penyelesaian sengketa (Van den Bossche, 2022). Selain itu, kebanyakan negara-negara anggota cenderung mengambil langkah litigasi untuk memenangkan sengketa perdagangan, dibandingkan penyelesaian melalui negosiasi—hal ini menjadi permasalahan yang menyoroti kesenjangan yang berkembang antara cabang yudikatif dan negosiasi WTO.
Lemahnya DSM meningkatkan keraguan terkait efektivitas dan kemampuan WTO sebagai entitas global yang mengatur perdagangan internasional.
Hal ini menjadi tekanan untuk dilakukannya reformasi WTO.
Terdapat beberapa proposal reformasi DSM (Lihat Tabel 1 dalam Lampiran) yang bisa diadopsi untuk mengatasi beberapa permasalahan dalam keanggotaan WTO. G20 sendiri telah mengakui perlunya amandemen tersebut dalam pertemuan G20 pada tahun 2019. Oleh karena itu, inisiatif tersebut perlu ditindaklanjuti secara aktif ke depannya agar dapat dilaksanakan dengan baik.
Kesimpulan
4
anggota G20 dapat membantu mendorongreformasi ini melalui komitmen untuk melakukan de- eskalasi ketegangan perdagangan dan mencegah tindakan sepihak dan kebijakan perdagangan diskriminatif. Langkah tersebut dapat membawa kepastian dalam penerapan peraturan, memperbaiki masalah rantai pasokan, dan juga meningkatkan kepercayaan investor dan membangun iklim bisnis untuk memperkuat pertumbuhan, yang pada akhirnya mengarah pada ‘reglobalisasi’ (Swanson, 2021).
Proposal ini menekankan pada perubahan dalam proses perjanjian WTO terkait dengan penerapan fleksibilitas yang memadai yang didasari ketentuan S&DT yang efektif untuk memungkinkan negara-negara anggota untuk membuat komitmen reformasi sesuai dengan kapasitas nasional masing- masing6.
Pendekatan konstruktif tersebut dinilai akan memberikan ruang untuk negara-negara anggota untuk secara sukarela terlibat dalam perjanjian plurilateral menggunakan prinsip Common but Differentiated Responsibilities and Respective Capabilities (CBDR–RC), dan untuk dapat terbuka dalam menerima tekanan dari negara-negara mitra selama masih dalam batas sehat.
Proposal ini ditujukan untuk memastikan bahwa negosiasi perdagangan yang terbuka, transparan, dan tidak diskriminatif, serta melalui proses yang inklusif dan adil dapat berlangsung di dalam ruang lingkup WTO sendiri dan bukan di luar WTO.
Dengan adanya sentralitas sistem perdagangan G20 sebagai forum internasional yang merupakan
kelompok dominan dengan gabungan kekuatan ekonomi dan politik, memiliki tugas untuk mendorong reformasi WTO secara inklusif, transparan, dan adil3. Proposal yang disebutkan di atas, termasuk yang berkaitan dengan DSM, dapat dilaksanakan melalui langkah-langkah berikut:
(i) Sebagai Presiden G20 di tahun 2022, Indonesia perlu memimpin dalam tindak lanjut proposal ini dengan memasukkannya ke dalam agenda Kelompok Kerja Perdagangan, Industri dan Investasi dan menyoroti bahwa topik reformasi WTO telah lama dibahas di G204. Indonesia harus dapat memastikan Deklarasi Pemimpin Negara G20 (Leaders Declaration) di Bali memprioritaskan perlunya reformasi WTO secara cepat.
(ii) Setelah berakhirnya pertemuan G20 di Indonesia, para anggota G20 harus mulai mengumpulkan dukungan untuk reformasi WTO melalui asosiasi kerjasama perdagangan, ekonomi, dan politik regional masing-masing.
Dalam pembicaraan dengan blok regional, anggota G20 harus menyampaikan pentingnya mereformasi WTO dengan menghilangkan aturan dan proses yang sudah ketinggalan zaman dan mengatasi ketidakseimbangan antara negara berkembang dan maju yang sudah berlangsung lama.
Dalam rangka melanjutkan upaya reformasi WTO di G20 Arab Saudi dan Italia sebelumnya5,
3 G20 telah menegaskan berulang kali terkait dukungan politiknya untuk reformasi WTO dari tahun ke tahun. Presidensi G20 Arab Saudi menyelenggarakan peluncuran Inisiatif Riyadh tentang Masa Depan WTO atau Riyadh Initiative, yang bertujuan untuk mengidentifikasi kesamaan dan prinsip-prinsip bersama untuk 25 tahun WTO ke depan. Deklarasi Pemimpin G20 Roma juga menekankan upaya berkelanjutan G20 untuk memainkan peran penting dalam memberikan dukungan politik dalam diskusi reformasi WTO. Oleh karena itu, Presidensi G20 Indonesia menawarkan kesempatan penting untuk meneruskan masalah ini dan membahas langkah-langkah reformasi secara lebih konkrit untuk memperoleh kesimpulan akhir untuk permasalahan ini.
4 Beberapa poin dalam pernyataan Pertemuan Menteri Perdagangan dan Investasi G20 tahun 2020 mengacu pada pengakuan G20 tentang perlunya reformasi WTO dan komitmen G20 untuk memfasilitasi reformasi WTO.
5 Inisiatif Riyadh tentang Masa Depan WTO di G20 Arab Saudi dan penegasannya kembali dalam Deklarasi Pemimpin Negara pada G20 Roma.
6 Pendekatan multidimensi direkomendasikan untuk dapat turut mempertimbangkan kekhawatiran negara-negara anggota yang berada dalam tingkat pembangunan yang beragam.
multinasional, pemetaan langkah-langkah konkrit yang dapat dilakukan untuk mendukung pemulihan ekonomi global dalam waktu dekat dan mengatasi
masalah perdagangan yang berkembang di era pascapandemi7.
7 Membuat MTS lebih efektif melalui reformasi WTO penting untuk mengatasi tantangan dalam pemulihan secara luas dari krisis yang sedang berlangsung. Sementara agenda reformasi WTO diperkirakan akan menonjol dalam pertemuan G20 tahun 2022, negara-negara anggota perlu menunjukkan kesediaan yang lebih besar dengan memobilisasi kemauan politik yang diperlukan untuk menetapkan arah dan ruang lingkup proses reformasi.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Congressional Research Service, World Trade Organization: Overview and Future Direction, (2021) R45417. https://sgp.fas.org/crs/row/R45417.pdf [2] M. S. Akman, A. Berger, F. Botti, P. Draper, A.
Freytag, C. Schmucker, Boosting G20 Cooperation for WTO Reform: Leveraging the Full Potential of Plurilateral Initiatives, G20 Insights Policy Brief, 2021.
https://www.g20-insights.org/policy_briefs/boosting- g20-cooperation-for-wto-reform-leveraging-the-full- potential-of-plurilateral-initiatives/
[3] World Trade Organization, The legal status of ‘joint statement initiatives’ and their negotiated outcomes, (WT/GC/W/819), 2021. https://docs.wto.org/dol2fe/
Pages/SS/directdoc.aspx?filename=q:/WT/GC/W819.
pdf&Open=True
[4] Geneva Trade Platform, WTO Plurilaterals, https://
wtoplurilaterals.info/, 2022
[5] J. Crawford dan R. V. Fiorentino, The Changing Landscape of Regional Trade Agreements, Discussion Paper No: 8, World Trade Organization, 2005. https://www.wto.org/english/res_e/booksp_e/
discussion_papers8_e.pdf
[6] D. Dollar, The future of global supply chains:
What are the implications for international trade, Reimagining the global economy, Brookings Institute, 2020. https://www.brookings.edu/research/
the-future-of-global-supply-chains-what-are-the- implications-for-international-trade/
[7] R. Baldwin, WTO 2.0: Governance of 21st Century Trade. The Review of International Organizations, Springer, vol. 9(2), hal. 261-283, (2014). https://ideas.
repec.org/a/spr/revint/v9y2014i2p261-283.html
[8] Y. Duval dan K. Mengjing, Digital trade facilitation:
Paperless trade in regional trade agreements, ADBI Working Paper Series No: 747), Asian Development Bank Institute, 2017. https://www.adb.org/sites/
default/files/publication/321851/adbi-wp747.pdf [9] A. Estevadeordal, K. Suominen, dan R. Teh, eds.
Regional rules in the global trading system.
Cambridge University Press, 2009. https://www.wto.
org/english/res_e/booksp_e/region_rules09_e.pdf [10] R. Baldwin, S. J. Evenett, dan P. Low, Beyond
Tariffs: Multilateralising Deeper RTA Commitments.
79-141, 2009. https://www.wto.org/english/tratop_e/
region_e/con_sep07_e/baldwin_evenett_low_e.pdf [11] R. Baldwin, dan P. Low, eds., Multilateralizing
regionalism: challenges for the global trading system.
Cambridge University Press, 2009. https://www.wto.
org/english/res_e/booksp_e/multila_region_e.pdf [12] A. González dan E. Jung, Developing Countries Can
Help Restore the WTO’s Dispute Settlement System (Policy Brief 20-1), Peterson Institute for International Economics. Januari 2020. https://www.piie.com/
publications/policy-briefs/developing-countries-can- help-restore-wtos-dispute-settlement-system [13] P. Van den Bossche, Is there a Future for the WTO
Appellate Body and WTO Dispute Settlement?. WTI Working Paper No. 01, 2022. https://www.wti.org/
research/publications/1344/is-there-a-future-for-the- wto-appellate-body-and-wto-dispute-settlement/
[14] A. Swanson, W.T.O. chief calls for deeper global trade to address supply chain disruptions, The New York Times, 2021. https://www.nytimes.
com/2022/03/21/business/world-trade-organization- supply-chains.html
LAMPIRAN
TABLE 1: Proposals for Amending the DSU
Initiator Format Proposed ideas
Canada WTO
Communication JOB/GC/201 24 September, 2018
In safeguarding and strengthening the DSM, Canada suggests that the WTO should:
1. resolve certain disputes or issues through negotiation instead of adjudication through high-level endorsement of actions that would reduce reliance on formal dispute settlement.
2. streamline adjudicative proceedings so that they can be more flexible and adaptable to the diverse nature of disputes, developing alternative procedures tailored to specific kinds of disputes, supplementary procedures for specific features of existing proceedings and a mechanism for more interaction between panel and appeal levels.
3. address members’ concerns regarding AB’s systemic and procedural practices by introducing thematic discussions of issues that arise in disputes, narrowing the scope for “advisory opinions”, focusing appellate review on legal issues, promoting a more robust adjudicative dialogue and developing guidance related to consultations.
European Union (EU) +Australia, Brazil, Canada, Chile, Japan, Kenya, South Korea,
Mexico, New Zealand, Norway, Singapore, Switzerland
Ottawa Ministerial Conference 25 October, 2018
These countries acknowledge that the blocking of the appointment of the AB members is instigated by the concerns raised regarding the functioning of the DSM.
Accordingly, discussions to advance ideas to safeguard and strengthen the DSM need to be conducted. Moreover, they acknowledge the need to reinvigorate the WTO’s negotiating function.
EU, China, Canada, India, Norway, New Zealand, Switzerland, Australia, Republic of Korea, Iceland, Singapore and Mexico
WTO
Communication WT/GC/W/752 26 November, 2018
These countries acknowledge that concerns have been raised about the functioning of the DSM. They propose to amend certain provisions of the Understanding on Rules and procedures Governing the Settlement of Disputes (“DSU”):
1. An outgoing AB member shall complete the disposition of a pending appeal in which a hearing has already taken place during that member’s term.
2. To amend the 90-days rule in Article 17.5 of the DSU by providing an enhanced consultation and.
transparency obligation for the AB.
3. To clarify, for greater certainty, that issues of law covered in the panel report and legal interpretations developed by the panel.
Initiator Format Proposed ideas
4. To amend Article 17.12 of the DSU to provide that the AB shall address only of the issues raised on appeal by the parties to the dispute to the extent this is necessary for the resolution of the dispute.
5. To have annual meetings which are held between the AB and WTO Members (in the DSM) where Members could express their views in a manner unrelated to the adoption of particular reports (as laid down currently in Article 17.14 of the DSU).
EU, China and India
WTO
Communication WT/GC/W/753 26 November, 2018
Regarding concerns which have been raised about the functioning of the dispute settlement system, these countries proposed the following ideas:
1. To provide AB members with single but longer (6-8 years) term.
2. To raise the number of AB members from 7 to 9.
3. To provide that the membership of the AB is the exclusive occupation of the members.
4. The outgoing AB members should continue discharging their duties until their places have been filled but not longer than for a period of two years.
5. The selection process to replace outgoing AB members shall be automatically launched no later than a certain period of time [e.g. 6 months] before their term of office expires.
RINGKASAN EKSEKUTIF
Data telah menjadi faktor produksi dalam ekonomi digital di era Big Data seperti saat ini. Data dapat dikumpulkan, diproses, dikelola, dan didistribusikan kembali oleh pihak-pihak di luar negara itu, termasuk korporasi teknologi (big tech) maupun negara lain melalui state surveillance. Namun demikian, belum ada aturan dan kebijakan global yang mengatur secara pasti bagaimana data harus dipindahkan melintasi batas negara, dengan standar hukum dan keamanan yang berbeda-beda. Policy brief ini mencoba menyasar pertanyaan praktis tentang bagaimana transfer data lintas batas negara perlu diatur secara konkret untuk melindungi kepentingan nasional serta ketahanan digital Indonesia serta bagaimana aspek kepercayaan diterapkan dalam hal transfer data lintas batas negara guna mendukung perekonomian negara. Kebijakan yang diusulkan dalam policy paper ini adalah tiap-tiap negara berdaulat memiliki kewenangan untuk menentukan pendekatan masing-masing untuk mengatur tata kelola data dengan memerhatikan kepercayaan antar negara dalam mengelola data warga negaranya maupun negara lainnya, pun demikian dengan Indonesia. Indonesia perlu merumuskan suatu kebijakan perlindungan data Tim Penulis:
Edmon Makarim
Fakultas Hukum Universitas Indonesia
*korespondensi: [email protected]