BAB II. KERANGKA TEORITIS
C. Populasi dan Sampel
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Suharsimi, 2002:108), dalam penelitian ini adalah atlet Perkumpulan Renang Tirta Kalung Padang 2011 yang berjumlah sebanyak 32 orang, dengan rincian 22 orang putera dan 10 orang puteri.
35
Tabel 1 : Populasi Penelitian
NO Populasi Jumlah (orang)
1. Putera 22
2. Puteri 10
Total 32
Sumber : Administrasi Perkumpulan Renang Tirta Kalung Padang 2011.
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Menurut Suharsimi (2002:108) menyatakan bahwa “Penentuan sampel secara purposive dilandasi oleh tujuan atau pertimbangan-pertimbangan tertentu terlebih dahulu, dalam hal ini adalah atlet putera saja. Dengan demikian pengambilan sampel ditentukan dengan pertimbangan yang telah ditetapkan sebelumnya”. Pertimbangan tersebut adalah adanya perbedaan kemampuan fisik antara atlet putera dengan atlet puteri, sehingga diambil sampelnya putera saja sebanyak 22 orang. Rincian jumlah populasi dan sampel dapat dilihat pada tabel 2 berikut:
Tabel 2 :
Populasi dan Sampel Penelitian
Jenis Kelamin Populasi Sampel
Putera Puteri
22 10
22 -
Total 32 22
Sumber : Administrasi Perkumpulan Renang Tirta Kalung Padang 2011.
D. Definisi Operasional
Untuk menghindari kesalahan dalam penafsiran terhadap istilah yang digambarkan dalam penelitian ini perlu dikemukakan definisi operasional sebagai berikut:
1. Kekuatan Otot Tungkai
Kekuatan Otot Tungkai adalah kemampuan kontraksi otot-otot tungkai yang terlibat secara kuat untuk mengupayakan prestasi Renang Gaya Dada 100 meter yang maksimal. Kekuatan Otot Tungkai ini diukur dengan stopwatch melalui half squat jump test dengan menghitung banyaknya jumlah pengulangan half squat jump test yang dilakukan selama 30 detik.
2. Prestasi Renang Gaya Dada 100 Meter
Prestasi Renang Gaya Dada 100 meter adalah hasil yang diperoleh dari kemampuan seorang perenang pada nomor Renang Gaya Dada 100 meter yang melibatkan seluruh kemampuan anggota tubuh untuk mencapai finish secepat-cepatnya. Prestasi Renang Gaya Dada 100 meter ini diukur dengan alat ukur stopwatch melalui tes keterampilan berenang gaya dada jarak 100 meter dengan mengukur waktu tempuh renang yang dicapainya dalam satuan detik.
E. Jenis dan Sumber Data 1. Jenis Data
Sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, maka jenis data dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.
a. Data primer
Data primer adalah data yang langsung diambil dari tes dan pengukuran terhadap atlet yang terpilih menjadi sampel, data tersebut meliputi :
1) Kekuatan Otot Tungkai
2) Prestasi Renang Gaya Dada 100 Meter b. Data sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari dokumen- dokumen yang diberikan oleh administrasi Perkumpulan Renang Tirta Kalung Padang 2011 seperti, nama-nama atlet yang terpilih sebagai sampel.
2. Sumber data
Data yang diperoleh bersumber dari hasil tes Kekuatan Otot Tungkai dan Prestasi Renang Gaya Dada 100 Meter atlet Perkumpulan Renang Tirta Kalung Padang yang terpilih sebagai sampel.
F. Teknik Pengumpulan Data
Prestasi renang gaya dada 100 meter diukur dengan stopwatch, agar pelaksanaan pengumpulan data secara teratur, sistematis dan tertib, maka perlu adanya langkah-langkah yang harus dipersiapkan dengan jelas yakni:
1. Menyiapkan alat-alat instrumen secara lengkap sesuai dengan yang diperlukan (dibutuhkan).
2. Menyiapkan atlet atau sampel yang akan melakukan tes.
3. Memberikan penjelasan dan mendemonstrasikan tentang instrumen.
4. Menyiapkan blangko dan alat tulis yang diperlukan dalam pengumpulan data.
5. Menetapkan operator/pelaksana pengumpul data dan bekerja sesuai dengan masing-masing tugas yang telah diberikan penjelasan dan arahan.
G. Instrumen Penelitian
Adapun instrumen yang akan digunakan dalam penelitian ini nantinya adalah:
1. Prestasi Renang Gaya Dada 100 Meter Diukur dengan Stopwatch Melalui Tes Prestai Renang Gaya Dada 100 Meter (PB. PRSI, 2002:7).
a. Tujuan : untuk mengukur prestasi renang gaya dada 100 meter.
b. Tingkat umur : atlet renang usia 13 – 15 tahun.
c. Jenis kelamin : laki-laki.
d. Reliabilitas : 0,89
e. Validitas : face validity dengan kriteria "teknik test-ratest".
f. Perlengkapan :
1. pakaian renang 2. kaca mata renang
3. kolam renang sepanjang 50 meter (sesuai standar Nasional),
4. stopwatch (alat ukur waktu yang sudah di tera terlebih dahulu pada UPTD Balai Metrologi kota Padang),
5. alat-alat tulis.
g. Pelaksanaan :
1. testee berdiri di atas balok start,
2. ketika aba-aba (pluit) dibunyikan testee segera berenang dengan teknik renang gaya dada dengan jarak 100 meter secepat mungkin menuju finish (testee harus menyentuh dinding dengan dua tangan sejajar).
h. Penilaian (scoring) : menghitung waktu tempuh testee dalam renang gaya dada 100 meter. Setiap testee diberi kesempatan dua kali pengulangan dan data yang diambil berdasarkan waktu tercepat.
i. Catatan : : dalam mengukur prestasi renang gaya dada 100 meter testee harus menampilkan kemampuan maksimum dan tidak dibenarkan mengganti teknik renang gaya dada dengan teknik renang gaya lainnya.
Agar lebih jelasnya bentuk pelaksanaan tes prestasi renang gaya dada 100 meter dapat dilihat pada gambar sebagai berikut:
Gambar 16.
Bentuk pelaksanaan tes prestasi renang gaya dada 100 meter Sumber: Dokumentasi, penelitian, 2011.
2. Kekuatan Otot Tungkai Diukur dengan Stopwatch Melalui half squat jump test (Johnson,1986:137).
Pelaksanaan:
a. Tujuan : Untuk mengukur kemampuan Kekuatan Otot Tungkai.
b. Tingkat umur : atlet renang usia 13 – 15 tahun.
c. Jenis kelamin : Laki-laki.
d. Reliabilitas : 0,87
e. Validitas : face validity dengan kriteria "teknik test-ratest".
f. Perlengkapan : 1) Tali,
2) Pluit,
3) Stopwatch (alat ukur waktu yang sudah di tera terlebih dahulu pada UPTD Balai Metrologi kota Padang),
4) Alat-alat tulis.
g. Pelaksanaan :
1) Tester mengukur tingkatan tali agar sejajar dengan tempurung lutut bagian bawah peserta tes dengan ketinggian tali 30 cm.
2) Peserta tes menjalin jemari kedua tangan dan diletakan di belakang kepala. Salah satu kaki peserta tes ditekuk sehingga menyentuh permukaan tempat duduk, sedangkan salah satu kaki sedikit ke depan dari kaki yang lain.
3) Ketika aba-aba (pluit) dibunyikan testee segera melakukan tolakan/melompat sehingga kaki lurus dan langsung merubah posisi kaki.
4) Gerakan ini diulang lagi sebanyak mungkin.
h. Penilaian (scoring) :
Nilainya didapat dari setiap gerakan half squat jump yang benar selama 30 detik. Nilai half squat jump yang benar adalah ketika salah satu kaki peserta tes ditekuk sehingga menyentuh permukaan tempat duduk, sedangkan salah satu kaki sedikit ke depan dari kaki yang lain.
Setiap testee diberi kesempatan dua kali pengulangan dan data yang diambil berdasarkan frekwensi terbanyak.
i. Catatan :
1) Hanya sekali percobaan dibolehkan, karena testee bisa melakukan lebih baik lagi pada kesempatan kedua.
2) Ayunan dan gerakan cepat harus dihindari.
3) Testeer bisa mengecek dengan menyentuh permukaan tempat duduk (tali).
4) Ketika testee melakukan tolakan/melompat, maka kaki harus lurus dan langsung merubah posisi kaki.
5) Gerakan kaki yang tidak lurus ketika posisi berdiri tegak saat melompat harus dihindari, karena tidak akan dihitung sebagai skor.
6) Apabila kedua tangan terlepas atau tidak memegang kepala, maka tidak dihitung sebagai skor.
Agar lebih jelasnya bentuk pelaksanaan pengukuran Kekuatan Otot Tungkai dapat dilihat pada gambar sebagai berikut:
Gambar 17.
Bentuk pelaksanaan pengukuran Kekuatan Otot Tungkai dengan tes half squat jump.
Sumber: Dokumentasi, penelitian, 2011.
Sebelum pelaksanaan tes terlebih dahulu diberi pengarahan dan petunjuk dengan ketentuan yang akan digunakan oleh Drs. Zirfan Effendi, selaku ketua Perkumpulan Renang Tirta Kalung Padang. Agar lebih jelasnya tenaga pelaksana tes dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:
Tabel 3.
Tenaga Pelaksana Tes
No Nama Jabatan Tugas
1 Efendy Firdaus, S.Pd Pelatih Perkumpulan Renang Tirta Kalung Padang
Koordinator pelaksanaan tes
2 Rico Lesmana Pelatih Perkumpulan
Renang Tirta Kalung Padang
Starter
Riko Rahmat Saputra, S.Pd, Anggri Dwi Nata, S.Pd dan Fadli Surahman, S.Pd
Pelatih Perkumpulan Renang Lumba-lumba Padang, Profi Swimming Club Padang dan Perkumpulan Renang Tirta Kalung Padang
Pencatat hasil tes (timer)
3 Hari Azwar Mahasiswa Jurusan
Kepelatihan FIK UNP
Peneliti
H. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis korelasi sederhana. Hipotesis diuji dengan korelasi sederhana dan dilanjutkan dengan mencari koefisien Diterminasinya. Sebelum dilakukan uji hipotesis dipaparkan terlebih dahulu masing-masing masing-masing variabel penelitian dengan analisis statistik deskriptif dan distribusi frekuensi yang disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Selanjutnya, dilakukan uji persyaratan analisis, yaitu : 1. Uji Normalitas untuk mengetahui apakah data berasal dari populasi yang
berdistribusi normal, dilakukan dengan uji Lilliefors pada taraf signifikan α 0,05 (Adnan Fardi, 2010:10).
2. Uji Linearitas regresi Xatas Y menggunakan teknik regresi sederhana.
Hipotesis penelitian dianalisis dengan rumus korelasi product moment oleh Pearson dalam Sudjana (1992:382) dapat dilihat sebagai berikut:
2 2 2 2
Y Y
n X X
n
Y X XY
rxy n
Keterangan :
rxy = Koefisien korelasi antara variabel X dengan variabel Y
∑X = Jumlah data X
∑Y = Jumlah data Y
∑X2 = Jumlah data kuadrat X
∑Y2 = Jumlah data kuadrat Y n = Jumlah data (sampel)
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Deskriptif Data
1. Kekuatan Otot Tungkai (X)
Berdasarkan hasil tes Kekuatan Otot Tungkai, diperoleh skor maksimum adalah 23 kali pengulangan dan skor minimum 15 kali pengulangan. Di samping itu diperoleh nilai mean (rata-rata) = 19 kali pengulangan, median = 19, modus = 19 kali pengulangan, Standar Deviasi
= 2,11, dan variance = 4,47. Agar lebih jelasnya deskripsi data Kekuatan Otot Tungkai dapat dilihat pada Tabel dan Histogram berikut :
Tabel 4. Distribusi Frekuensi Kekuatan Otot Tungkai (X)
No Kelas Interval (kali)
Frekuensi Absolut
(fa)
Relatif (%)
1 22 – 23 4 18,18
2 20 – 21 4 18,18
3 18 – 19 8 36,36
4 16 – 17 5 22,72
5 14 – 15 1 4,54
Jumlah 22 100
Untuk lebih jelasnya, dapat juga dilihat pada Histogram berikut:
Gambar 18 : Histogram Kekuatan Otot Tungkai (X) 46
Berdasarkan Histogram di atas dari 22 orang sampel, 4 orang (18,18%) memiliki Kekuatan Otot Tungkai berkisar antara 22 – 23 tergolong kategori baik sekali, 4 orang (18,18%) memiliki 20 – 21 tergolong kategori baik, 8 orang (36,36%) memiliki 18 – 19 tergolong kategori cukup, 5 orang (22,72%) memiliki 16 – 17 tergolong kategori kurang dan 1 orang (14,15%) memiliki 14 – 15 tergolong kategori kurang sekali.
2. Prestasi Renang Gaya Dada 100 Meter (Y)
Berdasarkan hasil tes Prestasi Renang Gaya Dada 100 meter, diperoleh skor maksimum adalah 2,01 menit dan skor minimum 1,11 menit. Di samping itu diperoleh nilai mean (rata-rata) = 1,48 menit, median = 1,40, modus = 1,52 menit, Standar Deviasi = 0,29 dan variance
= 0,08. Agar lebih jelasnya deskripsi data Prestasi Renang Gaya Dada 100 meter dapat dilihat pada Tabel dan Histogram berikut :
Tabel 5. Distribusi Frekuensi Prestasi Renang Gaya Dada 100 Meter (Y)
No Kelas Interval (menit)
Frekuensi Absolut
(fa)
Relatif (%)
1 1,11 – 1,29 9 40,90
2 1,30 – 1,48 3 13,63
3 1,49 – 1,67 4 18,18
4 1,68 – 1,86 3 13,63
5 1,87 – 2,05 3 13,63
Jumlah 22 100
Untuk lebih jelasnya, dapat juga dilihat pada Histogram berikut:
Gambar 19 : Histogram Prestasi Renang Gaya Dada 100 Meter (Y)
Berdasarkan Histogram di atas dari 22 orang sampel, 9 orang (40,90%) memiliki Prestasi Renang Gaya Dada 100 meter berkisar antara 1,11 – 1,29 tergolong kategori baik sekali, 3 orang (13,63%) memiliki 1,30 – 1,48 tergolong kategori baik, 4 orang (18,18%) memiliki 1,49 – 1,67 tergolong kategori cukup, 3 orang (13,63%) memiliki 1,68 – 1,86 tergolong kategori kurang dan 3 orang (13,63%) memiliki 1,87 – 2,05 tergolong kategori kurang sekali.
B. Pengujian Persyaratan Analisis
Sebelum dilakukan pengujian hipotesis tentang Kekuatan Otot Tungkai (X) terhadap Prestasi Renang Gaya Dada 100 meter (Y), terlebih dahulu dilakukan uji persyaratan analisis yaitu uji Normalitas sebaran data dengan uji Lilliefors dan uji Linearitas dengan Uji Regresi Sederhana. Setelah data diuji dengan persyaratan analisis dilakukan uji hipotesis. Agar lebih jelasnya pengujian persyaratan analisis dapat dilihat diuraikan sebagai berikut:
1. Uji Normalitas Sebaran Data
Hasil analisis Normalitas sebaran data masing-masing variabel disajikan dalam tabel di bawah ini :
Tabel 6
Rangkuman Uji Normalitas Sebaran Data Dengan Uji Liliefors
No Variabel n Lo Ltab Distribusi
1 Kekuatan Otot Tungkai (X) 22 0,162 0,181 Normal 2 Prestasi Renang Gaya Dada 100
Meter (Y)
22 0,174 0,181 Normal
Tabel di atas menunjukkan bahwa hasil pengujian untuk Kekuatan Otot Tungkai (X), skor Lo = 0,162 dengan n = 22, sedangkan Ltab pada taraf pengujian signifikan α = 0,05 diperoleh 0,181 yang lebih besar dari Lo sehingga dapat disimpulkan bahwa skor yang diperoleh dari Kekuatan Otot Tungkai berdistribusi normal. Agar lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran.
Selanjutnya hasil tes Prestasi Renang Gaya Dada 100 meter (Y), skor Lo = 0,174 dengan n = 22, sedangkan Ltab pada taraf pengujian signifikan α = 0,05 diperoleh 0,181 yang lebih besar dari Lo sehingga dapat disimpulkan bahwa skor yang diperoleh dari Prestasi Renang Gaya Dada 100 meter berdistribusi normal. Agar lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran.
Berdasarkan uraian di atas ternyata semua variabel X dan Y datanya tersebut secara normal, karena masing-masing variabel skor Lo nya kecil dari pada Ltab pada taraf pengujian signifikan α = 0,05. Hal ini berarti bahwa data masing-masing variabel penelitian ini tersebut secara normal atau populasi dari mana data sampel diambil berdistribusi normal.
2. Uji Linearitas dengan analisis Regresi Sederhana
Hubungan antara Kekuatan Otot Tungkai terhadap Prestasi Renang Gaya Dada 100 Meter dianalisis dengan menggunakan regresi dan korelasi sederhana. Dari hasil perhitungan diperoleh a = 3,48 dan b = -0,13.
Dengan memasukkan harga a dan b ke dalam persamaan regresi, maka diperoleh persamaan regresi linear sederhana Ŷ = 3,48 + -0,13 X.
Sebelum digunakan untuk keperluan prediksi.
Selanjutnya untuk menguji kekuatan hubungan Kekuatan Otot Tungkai (X) terhadap Prestasi Renang Gaya Dada 100 Meter (Y), maka dilakukan uji linearitas dan signifikan koefisien regresi. Hasil analisis terhadap sumber variasi menghasilkan nilai dapat dilihat pada tabel 10.
Tabel 7.
Anava untuk Pengujian Signifikansi dan Linearitas Regresi Ŷ = 3,48 + -0,13 X
Sumber Variasi
Dkm ikm
JK KT Fh Ftα=0.05 kesimpulan
Total 22 50.3496 -
Koefisien (a)
1 1,48 - 0,54 0,35 Signifikan
(Berarti) Regresi
(b/a)
1 1,2818 1,28
Sisa 20 47,5878 2,38
Tuna Cocok
7 47,1098 6,73 168,2 2,81 Regresi tidak linear
Galat 13 0,478 0,04
Keterangan:
Dk = Derajat kebebasan JK = Jumlah kuadrat KT= kuadrat total
** regresi signifikan (Fh = 0,54 > Ft = 0,35)
Ns = tidak signifikan, berarti regresi tidak linear (Fh = 168,2 > Ft = 2,81)
Dari tabel 10 dapat dilihat bahwa untuk menguji signifikansi regresi diperoleh Fhitung = 0,54 > Ftabel (α0,05) = 0,35. Hal ini dapat disimpulkan bahwa regresi Y dan X signifikan, sedangkan untuk menguji linearitas diperoleh Fhitung = 168,2 > Ftabel (0,05) = 2,81. Kesimpulannya ini berarti regresi tidak linear.
Berdasarkan tabel anava di atas dapat disimpulkan bahwa hubungan antara kekuatan otot tungkai (X) terhadap kemampuan renang gaya dada 100 meter (Y) adalah signifikan tetapi tidak linear. Persamaan regresi Ŷ = 3,48 + -0,13 X dapat digunakan untuk menjelaskan dan mengambil kesimpulan lebih lanjut mengenai hubungan Kekuatan Otot Tungkai terhadap Prestasi Renang Gaya Dada 100 Meter dapat dilihat pada Gambar 8.
Y
70 60 50 40
-0,13 X Y =3,48
30 20 10
X
0 10 20 30 40 50 60
Gambar 20. Diagram Garis Regresi Ŷ = 3,48 + -0,13 X
kekuatan otot tungkai
Prestasi Renang Gaya Dada 200 Meter
Gambar 8 menunjukkan bahwa setiap kenaikan satu skor Kekuatan Otot Tungkai (X) dapat menyebabkan bertambah cepatnya Prestasi Renang Gaya Dada 100 Meter (Y) hingga bertambah kecil waktu tempuh yang dibutuhkan hingga mencapai -0,13 pada konstanta = 3,48.
C. Pengujian Hipotesis
Hipotesis penelitian berbunyi “Kekuatan Otot Tungkai berkontribusi terhadap Prestasi Renang Gaya Dada 100 meter”. Untuk mengetahui kontribusi ini pertama sekali dilakukan analisis korelasi sederhana yang dilanjutkan dengan koefisien determinan. Rangkuman hasil perhitungan dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 8. Rangkuman Hasil Analisis Korelasi Sederhana dan Koefisien Determinan Kekuatan Otot Tungkai (X) Terhadap Prestasi Renang Gaya Dada 100 Meter (Y)
Korelasi
Koefisien korelasi
(r)
Koefisien Determinan
(r2)
Taraf Signifikan α
= 0,05 Kekuatan Otot Tungkai
Terhadap Prestasi Renang Gaya Dada 100 Meter
0,757 0,573 0,423
Hasil perhitungan pada tabel di atas menunjukkan bahwa koefisien korelasi antara Kekuatan Otot Tungkai terhadap Prestasi Renang Gaya Dada 100 meter adalah positif, hal ini terlihat bahwa dari analisis statistik yang dilakukan diperoleh r hitung sebesar 0,757 dan r tabel dalam taraf α = 0,05 sebesar 0,423, dengan demikian r hitung > r tabel. Hal ini berarti Ho ditolak dan Ha diterima. Jadi terdapat hubungan yang signifikan antara Kekuatan Otot Tungkai dengan Prestasi Renang Gaya Dada 100 meter.
Selanjutnya, untuk mengetahui besarnya kontribusi, dihitung melalui koefisien determinan Kekuatan Otot Tungkai terhadap Prestasi Renang Gaya Dada 100 meter yaitu diperoleh nilai r2 = 0,573. Hal ini berarti bahwa Kekuatan Otot Tungkai memberikan kontribusi terhadap Prestasi Renang Gaya Dada 100 meter sebesar 57,30% ( r2 x 100% ). Oleh sebab itu hipotesis dalam penelitian ini diterima kebenarannya secara empiris dan lebihnya yang 42,7% dikontribusi dari variabel lain.
D. Pembahasan
Kekuatan Otot Tungkai Berkontribusi Terhadap Prestasi Renang Gaya Dada 100 Meter Sebesar 57,30%.
Kekuatan Otot Tungkai merupakan kemampuan kontraksi otot-otot tungkai yang terlibat secara kuat dan berulang-ulang dalam rentang waktu yang lama tanpa mengalami kelelahan untuk mengupayakan Prestasi Renang Gaya Dada 100 meter yang maksimal. Apabila jumlah frekuensi gerakan tungkai perenang lebih banyak dapat menghasilkan tenaga dorong yang kuat untuk menggerakkan laju tubuh secara cepat untuk mengupayakan Prestasi Renang Gaya Dada 100 meter yang maksimal tanpa mengalami kelelahan.
Tungkai atlet dalam olahraga renang adalah satu sumber kayuhan untuk mendorong maju ke depan.
Tungkai bisa menggambarkan seberapa jauh Prestasi Renang Gaya Dada 100 meter dengan melihat keterlibatan otot-otot tungkai yang berkontraksi secara isokinetik pada stroke tungkai untuk melakukan kayuhan
tanpa mengalami kelelahan. Sebaliknya, apabila seorang perenang tidak memiliki Kekuatan Otot Tungkai yang baik, maka akan mudah mengalami kelelahan pada otot-otot tungkai sehingga jumlah frekuensi gerakan tungkai lambat dan tidak dapat menghasilkan tenaga dorong yang kuat untuk menggerakkan laju tubuh secara cepat mengupayakan Prestasi Renang Gaya Dada 100 meter yang maksimal.
Untuk mencapai prestasi maksimal pada olahraga renang, otot rangka dituntut untuk menghasilkan kekuatan dan otot yang baik. Kekuatan otot adalah penentu penampilan yang penting pada banyak kegiatan olahraga. Pate, Rotella, Mc Clenaghan dalam Kasiyo (1993:181), menyatakan kebanyakan penampilan olahraga melibatkan gerakan-gerakan yang disebabkan oleh kekuatan, yang salah satunya dihasilkan oleh kontraksi otot. Oleh sebab itu otot sebagai penghasil kekuatan melalui kontraksi, sangat penting dalam menunjang Prestasi Renang Gaya Dada 100 meter yang maksimal.
Berdasarkan pendapat di atas sangat penting Kekuatan Otot Tungkai dalam membantu peningkatan kualitas Prestasi Renang Gaya Dada 100 meter.
Jadi, Kekuatan Otot Tungkai dapat memberikan kontribusi terhadap Prestasi Renang Gaya Dada 100 meter.
Hasil penelitian membuktikan bahwa terdapat kontribusi secara signifikan antara Kekuatan Otot Tungkai terhadap Prestasi Renang Gaya Dada 100 meter dengan tingkat persentase sebesar = 57,30%. Artinya, variabel Kekuatan Otot Tungkai dapat memberikan kontribusi terhadap Prestasi Renang Gaya Dada 100 meter. Oleh sebab itu unsur Kekuatan Otot Tungkai harus diberikan kepada perenang.
Kekuatan Otot Tungkai yang dihasilkan dari latihan merupakan sekelompok otot untuk bergerak dengan motorik tinggi dalam waktu yang lama tanpa mengalami kelelahan dan berfungsi untuk mempermudah mempelajari teknik yang sangat bergantung dari masing-masing kemampuan individu. Oleh sebab itu, unsur Kekuatan Otot Tungkai harus dapat dikembangkan ke dalam bentuk latihan yang terprogram secara sistematis agar memiliki kontribusi yang lebih besar terhadap peningkatan kualitas Prestasi Renang Gaya Dada 100 meter.
Pada Prestasi Renang Gaya Dada 100 meter, Kekuatan Otot Tungkai yang baik dapat mempermudah penguasaan teknik renang secara efektif dan efisien di dalam pemberian tenaga, salah satunya dapat dilakukan dengan latihan weight training. Latihan weight training seperti latihan dengan mengangkat beban atau menarik katrol beban. Lebih lanjut, seorang atlet harus mengetahui faktor-faktor yang dapat menentukan tingkat Kekuatan Otot Tungkai seseorang dan dilakukan dengan latihan yang terprogram serta berkesinambungan seperti squat-jump dan naik turun bangku untuk mengukur Kekuatan Otot Tungkai.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian di muka, maka dapat disimpulkan bahwa Kekuatan Otot Tungkai memberikan kontribusi sebesar 57,3% terhadap Prestasi Renang Gaya Dada 100 Meter. Hal ini berarti, bahwa Prestasi Renang Gaya Dada 100 meter sebagian besar di kontribusi oleh variabel Kekuatan Otot Tungkai, sisanya sebesar 42,7 % dikontribusi oleh variabel lain.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka disarankan kepada : 1. Pelatih
i. Untuk lebih melatih unsur Kekuatan Otot Tungkai pada atlet dalam melatih renang gaya dada 100 meter.
ii. Meningkatkan Prestasi Renang Gaya Dada 100 Meter atlet melalui berbagai macam bentuk latihan yang meningkatkan Kekuatan Otot Tungkai.
2. Atlet
i. Agar atlet lebih sering meningkatkan Prestasi Renang Gaya Dada 100 meter dengan cara melakukan latihan secara sistematis dan berkesinambungan.
ii. Agar atlet memperkuat latihan Kekuatan Otot Tungkai untuk lebih maksimal dalam Prestasi Renang Gaya Dada 100 meter.
56
3. Peneliti yang ingin melanjutkan penelitian ini agar dapat menjadikan penelitian ini sebagai bahan informasi dan meneliti populasi atau sampel dengan variabel lain yang mempengaruhi Prestasi Renang Gaya Dada 100 meter tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Adnan Fardi. 2010. Statistik. Program Pascasarjana UNP Silabus Mata Kuliah Statistik. Padang: UNP Padang.
Bompa, O. T. 1983. Theory and Methodology of Training. Kendall:
Hunt Publishing Company.
Chalid Marzuki (Ed). 1999. Renang Dasar. Padang: FIK DIP Universitas Negeri Padang.
Depdiknas. 2009. Kamus Umum Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:
Balai Pustaka.
Haller, David. Tanpa Tahun. Belajar Renang. Terjemahan oleh Tim Editor Pionir Jaya.Bandung: Pionir Jaya.
Harsono. 1988. Latihan Kondisi Fisik. Makalah disajikan dalam Penyegaran atau Penataran Para Pelatih Olahraga.
Bandung.
Johnson, Barry L. and Nelson, Jack K. 1986. Practical Measurement for Evaluation In Physical Education. Fourt Edition.
Macmillan Publishing Company, New York. Collier Macmillan Publishers, London.
Leonard, John. Tanpa Tahun. Sains Dalam Kepelatihan Renang.
Terjemahan oleh Chalid Marzuki. 2004. Padang: Dibiayai oleh Dana SP4 Jurusan Pendidikan Olahraga FIK UNP
Tahun 2004.
Maidarman (Ed). 1999. Renang Pendalaman. Padang: FIK DIP
Universitas Negeri Padang.
Marta Dinata dan Tina Wijaya. 2006. Renang. Jakarta: Cerdas Jaya.
Mochammad Sajoto. 1989. Kekuatan dan Kondisi Fisik. Semarang:
Effhara Daharsa Prize.
Pate, Russell R, McClenaghan, and Rotella, Robert. Tanpa Tahun.
Dasar-dasar Ilmiah Kepelatihan. Terjemahan oleh Kasiyo Dwijowinoto. 1993. Semarang: IKIP Semarang Press.
PB. PRSI. 2002. Instrumen Pemanduan Bakat Renang. Jakarta:
Direktorat Olahraga Pelajar dam Mahasiswa Direktorat sJenderal Olahraga Departemen Pendidikan Nasional.
Pearce, Evelyn C. 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis.
Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Soebroto. M. 1977. Masalah-Masalah dalam Kedokteran Olahraga.
Latihan Olahraga dan Coaching. (Terjemahan oleh : M.
Soebroto). Jakarta. Dirjen PLSO. Depdikbud.
Soekarman, R. 1989. Dasar Olahraga untuk Pembinaan Pelatih dan Atlet. Jakarta: Intidayu Press.
Sudjana. 1992. Metode Statistik (edisi IV ). Bandung : Tarsito.
Suharsimi Arikunto. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatna dan Praktek. (Edisi Revisi). Jakarta : Rineka Cipta.
Syafruddin. 1999. Dasar-Dasar Kepelatihan Olahraga. Padang : FIK UNP.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional. Jakarta: Diperbanyak oleh Biro Humas dan Hukum Kementerian pemuda dan olahraga Republik Indonesia.