• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I: PENDAHULUAN

H. Teknik Penulisan

Adapun teknik dalam penulisan skripsi ini, penulis berpedoman kepada buku “Penulisan Proposal dan Skripsi Institut Ilmu Al-Qur‟an (IIQ)” yang diterbitkan oleh LPPI IIQ Jakarta Tahun 2017.

Merupakan pedoman penulisan karya ilmiah mahasiswi IIQ Jakarta.

I. Sistematika Penulisan

Bab pertama yaitu pendahuluan, bab ini berisi tentang latar belakang, identifikasi masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metodologi penelitian, teknik penulisan, dan sistematika penulisan.

Bab kedua, bab ini berisi tentang sejarah penulisan Al-Qur‟an dimulai sejak zaman Nabi Muhammad SAW hingga pembukuan pada masa Usman bin Affan dan sejarah ditetapkannya dhabth atau tanda baca Al-Qur‟an.

Bab ketiga, bab ini berisi tentang profil Mushaf Standar Indonesia dan Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-„Utsmânî.

Bab keempat yaitu berupa analisis persamaan dan perbedaan penulisan berdasarkan aspek dhabth Al-Qur‟an pada Mushaf Standar Indonedia dan Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-„Utsmânî.

Bab kelima yaitu penutup, bab ini berisi kesimpulan dari bab- bab sebelumnya, serta saran-saran yang akan diberikan penulis.

20

SEJARAH PENULISAN AL-QUR‟AN DAN DHABTH A. Sejarah Penulisan Al-Qur‟an

Al-Qur‟an diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril secara berangsur-angsur. Al-Qur‟an diturunkan kurang lebih 23 tahun dengan proses pertama diturunkan dari Lauh al-Mahfuzh ke Baitul Izzah atau langit dunia dan kemudian diturunkan dari langit dunia ke bumi secara berangsur-angsur kurang lebih 23 tahun. Seperti yang telah diketahui, alasan Al-Qur‟an diturunkan berangsur-angsur karena agar dapat mengukuhkan dan meneguhkan hati Nabi SAW dan juga agar Al-Qur‟an mudah dihafal dan dipahami oleh kaum muslimin.

1. Pengumpulan Al-Qur‟an pada Masa Nabi Muhammad SAW Pada zaman Nabi SAW, Al-Qur‟an diturunkan tidak berupa tulisan atau berbentuk satu jilid yang tersusun rapih, melainkan berupa wahyu. Untuk itu, ada dua cara yang dilakukan oleh umat Islam untuk menjaga dan memelihara kitab suci ini, yakni dengan cara menghafalnya dan menuliskannya.16 Penulisan yang dilakukan tidak serta merta menggunakan lembaran khusus yang tersusun rapih seperti saat ini, melainkan masih dalam bentuk kepingan- kepingan tulang, pelepah-pelepah kurma, ataupun batu-batu.17 Adapun penulis wahyu pada saat itu adalah Ali bin Abi Thalib,

16 Billy Muhammad Rodibillah, dkk, “Sejarah Penulisan Al-Qur‟an Mushaf Sundawi di Bandung Tahun 1995-1997”, dalam Jurnal Ilmu Sejarah, Vol. 2 No. 2 2018, h. 26

17 Nasruddin, “Sejarah Penulisan Al-Qur‟an (Kajian Antropologi Budaya)”, dalam Jurnal Rihlah, Vol. 2 No. 1 Mei 2015, h. 56

Mu‟awiyah, Ubay bin Ka‟ab, dan Zaid bin Tsabit.18 Disamping itu, sahabat terkemuka yang menghafal Al-Qur‟an diantaranya, Abdullah bin Mas‟ud, Mu‟adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, Abu Darda, Salim bin Muqa‟il (Maula Abu Hudzaifah), dan Abu Zaid bin Sukûn. Para ulama pun sepakat bahwa pengumpulan Al-Qur‟an merupakan tauqifi yakni menurut petunjuk Nabi SAW yang diberitahukan Malaikat Jibril atas perintah Allah, artinya susunanya berdasarkan perintah Allah.19 Proses penulisan Al-Qur‟an akan terus dilanjutkan di masa setelahnya.

2. Pengumpulan Al-Qur‟an pada Masa Abu Bakar

Setelah Rasulullah SAW wafat, kepemimpinan Islam dialihkan kepada Khalifah Abu Bakar Al-Shiddiq atas persetujuan kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Pada masa ini Al-Qur‟an kembali dikumpulkan karena banyaknya para hufazh yang gugur saat perang Yamamah. Perang ini terjadi pada tahun 12 H/632 M disebabkan karena setelah Islam tersebar luas dan banyaknya orang-orang Islam yang belum kuat imannya menjadi murtad dari agama Islam.20 Banyak pula orang munafik, mereka inilah yang menolak membayar zakat serta adanya nabi palsu, seperti Musailamah Al-Kadzdzâb.

Dari kejadian inilah, Umar bin Khattab takut jika Al-Qur‟an akan hilang dan musnah. Kemudian, ia mengusulkan kepada Abu Bakar untuk mengumpulkan serta membukukan Al-Qur‟an. Usulan

18 Ahmad Bahrul Ulum, “Sejarah Pemberian Titik dan Syakal dalam Al-Qur‟an”, Skripsi, (Bandung: UIN Sunan Gunung Djati, 2017), h. 2

19 Kalimatul „Ulya dan Saidah, “Rijalul Qur‟an: Membincang Sejarah Para Penulis Wahyu”, dalam Jurnal Qof, Vol. 1 No. 1 Januari 2017, h. 54

20 Muslimin, “Pembukuan dan Pemeliharaan Al-Qur‟an”,

file:///C:/Users/My/Downloads/181-Article%20Text-651-1-10-20151118%20(1).pdf diakses tanggal 9 April 2020 pukul 15.19 WIB

ini tidak serta merta langsung diterima oleh Abu Bakar, karena ia menganggap bahwa perbuatan ini tidak dilakukan pada zaman Nabi SAW. Namun, Umar bin Khattab tetap terus membujuknya, sehingga Allah SWT membukakan hati Abu Bakar21 untuk menyetujui usulan Umar bin Khattab, yang kemudian ia memerintahkan Zaid bin Tsabit sebagai ketua tim penulis dari kegiatan ini, karena dilihat dari kedudukan dan kemampuan dalam masalah qira‟ât, pemahaman, dan kecerdasan, serta kehadirannya pada pembacaan yang terakhir kali kepada Rasulullah SAW.22 Abu Bakar juga mengangkat tiga orang sahabat untuk menjadi kepanitiaan penulisan Al-Qur‟an, mereka adalah Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan Ubay bin Ka‟ab.

Setelah selesai pengumpulan Al-Qur‟an dengan urutan yang telah ditetapkan Rasulullah SAW, Zaid bin Tsabit menyerahkan mushaf tersebut kepada Khalifah Abu Bakar yang dibawa hingga akhir hayatnya. Setelah itu, mushaf Al-Qur‟an dipindahkan kepada Umar bin Khattab selaku khalifah kedua. Setelah ia wafat, mushaf dipegang oleh Hafshah, putri Umar yang juga merupakan istri Rasulullah SAW. sampai masa pembukuan Khalifah Usman bin Affan.23

3. Pembukuan Al-Qur‟an pada Masa Usman bin Affan

Pembukuan Al-Qur‟an di masa kekhalifahan Usman bin Affan dilatabelakangi dengan ekspansi Islam pada masa Khalifah Usman dan para penghafal Al-Qur‟an pun semakin tersebar luas di

21 Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Ilmu Al-Qur‟an dan Tafsir, (Semarang:

Pustaka Rizki Putra, 2009), Ed. 3, Cet. I, h. 72-73

22 Nasruddin, “Sejarah Penulisan Al-Qur‟an (Kajian Antropologi Budaya)”, h. 58 23 Kalimatul „Ulya dan Saidah, “Rijalul Qur‟an: Membincang Sejarah Para Penulis Wahyu”, h. 55

berbagai wilayah. Banyak qari‟ yang dikirimkan ke berbagai wilayah untuk mengajarkan Al-Qur‟an,24 seperti Ubay bin Ka‟ab di Syam, Abdullah bin Mas‟ud di Kufah, dan Abu Musa al-Asy‟ari di wilayah lainnya.25 Selain mengajarkan Al-Qur‟an, para sahabat ini juga mengajarkan qira‟at di wilayahnya masing-masing. Cara pembacaan (qira‟at) Al-Qur‟an yang dibawakan mereka berbeda- beda sejalan dengan perbedaan “huruf” yang dengannya Al-Qur‟an diturunkan.

Ketika terjadi peperangan antara Armenia dan Azerbaijan dengan penduduk Irak, Hudzaifah bin al-Yaman yang merupakan salah satu orang yang ikut menyerbu kedua tempat itu melihat adanya perbedaan qira‟at atau cara baca Al-Qur‟an, yang mana perbedaan itu bercampur dengan kesalahan bahkan menganggap bahwa bacaan yang mereka peroleh paling benar dan mengkafirkan lainnya.26 Hal ini tentunya mengusik hati Hudzaifah yang kemudian langsung melaporkan hal ini kepada Khalifah Usman bin Affan. Melihat fenomena yang terjadi Khalifah Usman mengutus seseorang untuk meminjam mushaf yang ada pada Hafshah istri Rasulullah SAW untuk disalin dan diperbanyak. Kemudian, Usman bin Affan juga membentuk kepanitiaan dalam menyalin Al-Qur‟an yang dipimpin oleh Zaid bin Tsabit27 dan dianggotai oleh Abdullah bin Zubair, Sa‟ad bin al-„Ash, dan Abdurrahman bin al-Harits.28 Zaid bin Tsabit merupakan sahabat yang berasal dari kaum Anshar

24 Nasruddin, “Sejarah Penulisan Al-Qur‟an (Kajian Antropologi Budaya)”, h. 60 25 Ilhamni, “Pembukuan Al-Qur‟an pada Masa Usman bin Affan (644-656)”, dalam Jurnal Ulunnuha, Vol. 6 No. 2 Desember 2017, h. 134

26 Nasruddin, “Sejarah Penulisan Al-Qur‟an (Kajian Antropologi Budaya)”, h. 61 27 Ahmad „Abdul „Al al-Thahthawi, 150 Kisah „Uthman bin „Affan, dari 150 Qishah min Hayati „Uthman bin „Affan oleh Tubagus Kesa Purwasandy, (Bandung: Mizania, 2016), h.

55-56

28 Ilhamni, “Pembukuan Al-Qur‟an pada Masa Usman bin Affan (644-656)”, h. 137

yakni dari Madinah, sedangkan, ketiga sahabat lainnya merupakan kaum Muhajirin yakni dari Makkah. Kemudian, Usman bin Affan berpesan kepada ketiga orang penulis yang berasal dari suku Quraisy, “Apabila kalian (bertiga) berselisih pendapat dengan Zaid bin Tsabit dalam penulisan Al-Qur‟an, maka, tulislah dengan Bahasa Quraisy, karena sesungguhnya Al-Qur‟an diturunkan dengan bahasa mereka”.29 Tidak menutup kemungkinan bahwa jumlah mereka ada 12 yang bertugas sebagai penyalin mushaf yang juga dikirim ke berbagai daerah, diantaranya adalah Nafi‟ bin Zubair bin Amr bin Naufal, Ubay bin Ka‟ab, Khatir bin Aflah, Anas bin Malik, Abdullah bin Abbas, Malik bin Abi Amir, Abdullah bin Umar, dan Abdullah bin Amr bin al-„Ash.30

Setelah penyalinan Al-Qur‟an selesai dilakukan, Usman bin Affan mengembalikan lembaran-lembaran asli Al-Qur‟an kepada Hafshah. Kemudian, Usman bin Affan memerintahkan untuk membakar lembaran-lembaran lainnya yang telah ditulis sebelumnya dan mengirimkan mushaf ke berbagai wilayah31 diantaranya, Makkah, Syiria, Bashrah, Kufah, dan Madinah.

Mushaf yang ditinggal di Madinah ini yang menjadi rujukan utama mushaf lainnya dan dikenal dengan “Mushaf al-Imâm”.

Dengan demikian, jika ada orang yang ingin membaca Al- Qur‟an dengan tujuh huruf sudah tidak dapat ditemukan lagi, karena telah dimusnahkan dan bekas-bekasnya pun sudah tidak ada, bahkan kaum muslimin pun telah menolak qira‟at tersebut tanpa

29 Abdu al-Tawwâb Mursî Hasan al-Akrat, Al-Dhabtu Al-Mushafî, (Kairo: Maktabah al- Adâb, 2008), h. 44

30 Dian Febrianingsing, “Sejarah Perkembangan Rasm Utsmani”, dalam Jurnal Al Murabbi, Vol. 2 No. 2 Januari 2016, h. 297-298

31 Al-Suyuthi, Studi Al-Qur‟an Komprehensif, terj. dari al-Itqan fi Ulumil Qur‟an oleh Tim Editor Indiva, (Surakarta: Indiva Pustaka, 2008), Cet. 1, h. 250

mengingkari kebenarannya atau sebagian dari padanya. Hal ini dilakukan demi kebaikan kaum muslimin sendiri.

B. Sejarah Dhabth Al-Qur‟an

Dhabth berasal dari bahasa Arab yang secara etimologi adalah sampainya sesuatu pada tujuan dalam menjaga sesuatu. Sedangkan secara terminologi adalah ilmu untuk mengetahui maksud dari suatu huruf baik dari segi harakat, bentuk sukûn, syiddah, tanda mad, dan sebagainya. Dhabth juga merupakan sinonim dari kata syakl.32

Naqth terbagi menjadi dua; naqth al-i‟rab dan naqth al-i‟jam.

Naqth al-i‟rab adalah tanda yang berfungsi membedakan kedudukan suatu kata dalam sebuah kalimat.

Ada perbedaan pendapat mengenai orang pertama yang membubuhkan tanda baca dalam bentuk titik kecil bulat sebagai syakl.

Namun, pendapat yang shahih menurut al-Dânî (w. 444 H/1052 M), Abû Dâud Sulaiman bin Najâh (w. 496 H/1102 M), Abû Bakar al- Sajastânî (316 H/928 M) adalah Abû al-Aswad al-Du‟alî (w. 69 H)33, atas perintah Ziyad bin Abi Ziyad (w. 53 H/672 M) seorang gubernur Bashrah pada masa khalifah Mu‟âwiyah bin Abî Sufyân (w. 60 H/679 M).34

Permasalahan ini diawali ketika masa Dinasti Umayyah (661- 750 M) yaitu ketika Mu‟awiyah mengutus Ziyad untuk mengirim anaknya (Ubaidillah bin Ziyad) untuk menghadapnya, sesampai Ubaidillah bin Ziyad kepada Mu‟awiyah, Mu‟awiyah mendapati banyak tata bahasa Ubaidillah yang salah, melihat ini Mu‟awiyah

32 Muhammad Salim Muhaisin, Irsyâdu al-Thâlibîn ilâ Dhabt al-Kitâb al-Mubîn, (Kairo:

Dar al-Muhaisin, 2002), h. 5

33 Ahmad Fathoni, Petunjuk Praktis Tahsin Tartil Al-Qur‟an Metode Maisura, (Tangerang Selatan: Yayasan Bengkel Metode Maisura, 2017), Edisi X, h. 363

34 Muhammad Salim Muhaisin, Irsyâdu al-Thâlibîn ilâ Dhabt al-Kitâb al-Mubîn, h. 5

mengirimkan surat kepada Ziyad dan mengecamnya karena membiarkan anaknya bertutur bahasa yang tidak sesuai dengan kaidah.35 Hal ini juga disebabkan karena kekuasaan Islam semakin meluas sehingga banyak orang non Arab yang masuk Islam dan berbaur dengan orang Arab, akibatnya bahasa Arab menjadi rusak ketika membaur dengan bahasa lain.36 Fenomena ini dikhawatirkan akan terus berpengaruh kepada bacaan Al-Qur‟an. Melihat ini, Ziyad yang merupakan gubernur Bashrah pada saat itu, segera mendatangi Abu al-Aswad al-Du‟ali untuk memintanya menyusun dasar-dasar suatu ilmu yang dapat memperbaiki kerusakan bahasa dan meng- i‟rabkan Al-Qur‟an.37 Namun, ketika itu Abu al-Aswad langsung menolaknya dengan alasan bahwa tugas ini sangatlah berat. Mengenai hal ini, Ziyad tak berputus asa hingga ia memerintahkan seseeorang untuk duduk dimana tempat tersebut sering dilalui oleh Abu al-Aswad dan seorang itu sengaja menyalahkan bacaannya. Ketika Abu al- Aswad al-Du‟ali hendak melewati seorang tersebut yang sengaja menyalahkan bacaan Al-Qur‟an, sontak Abu al-Aswad kaget dan segera mendatangi Ziyad untuk menyatakan kesediaannya dalam menuliskan Al-Qur‟an.38 Kesalahan tersebut terletak pada harakat di ujung kalimat yaitu Q.S. al-Taubah [9]: 3,

...













 ...



35 Muhammad Salim Muhaisin, Irsyâdu al-Thâlibîn ilâ Dhabt al-Kitâb al-Mubîn, h. 5 36 Zulfan Afdhilla, “Sejarah Pemberian Tanda Baca pada Al-Qur‟an (Dhabtil Qur‟an)”, http://www.zulfanafdhilla.com/2017/10/sejarah-pemberian-tanda-baca-pada-al.html diakses pada tanggal 23 April 2020 Pukul 13.52 WIB

37 Abdul Fattah al-Qadhi, Tarikh al-Mushaf al-Syarif, (tt.p..: Maktabah al-, t.t), h. 44 38 Imam Muttaqien Muslim, “Bid‟ah Hasanah: Asal-Usul Tanda Baca Al-Qur‟an”, https://alif.id/read/imm/bidah-hasanah-tanda-baca-alquran-b217755p/ diakses pada tanggal 21 April 2020 Pukul 15.10 WIB

“... bahwa Sesungguhnya Allah dan RasulNya berlepas diri dari orang-orang musyrikin ....” (Q.S. al-Taubah [9]: 3)

pada ayat ini seorang tersebut membaca dengan harakat kasrah yakni

“rasûlih”. Hal ini tentu merubah makna yang terkandung dalam ayat 3 di atas. Kalimat yang semestinya “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang Musyrikin” berubah menjadi

“Sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang-orang Musyrik dan Rasul-Nya”. Jika hal ini terus terjadi maka, akan berbahaya, karena dapat merusak aqidah seseorang.39 Demi menjalankan tugasnya Abu al-Aswad meminta Ziyad untuk mencari seseorang yang dapat dijadikan asistennya, dan didapatkan 30 ulama terkenal yang didatangkan Ziyad. Kemudian, Abu al-Aswad menyaring kembali menjadi 10 orang, dan terpilihlah seorang dari Abdul Qais yang merupakan seorang laki-laki berasal dari suku Quraisy.40

Setelah dipilihnya Abdul Qais, Abu al-Aswad al-Du‟ali memerintahkannya untuk menulis apa yang diucapkan oleh Abu al- Aswad. Abu al-Aswad berkata: “Ambillah mushaf dan dan tandailah dengan warna yang berbeda dari tulisan yang ada dalam Al-Qur‟an.

Jika bibirku membaca fathah, maka tulislah satu titik di atas huruf.

Jika bibirku membaca dhammah, maka tulislah titik di depan huruf.

Jika bibirku membaca kasrah, maka tulislah titik di bawah huruf.

Jika aku memberikan membaca ghunnah tanwîn - maka tambahkan satu titik di atas titik huruf yang sudah ada.41 Jadilah huruf itu bertitik dua. Titik yang di bawah adalah titik huruf, sedangkan titik

39 Fathurrohman, “Abul Aswad Ad-Duali, Sang Peletak Tanda Baca Al-Qur‟an”, https://muslimobsession.com/abul-aswad-ad-duali-sang-peletak-tanda-baca-al-quran/2/

diakses pada tanggal 18 April 2020 Pukul 15.08

40 Abȗ „Amr Utsmân bin Saîd al-Dânî, Al-Muhkam fî Naqthi al-Mashâhif, (Damaskus:

Dar al-Fikr, 1997), Cet. 2, h. 3-4

41 Muhammad Sâlim Muhaisin, Irsyâdu al-Thâlibîn ilâ Dhabt al-Kitâb al-Mubîn, h. 6

tambahan di atasnya adalah melambangkan bunyi nun mati yang tidak tertulis atau disebut tanwîn.42 Dan ada yang menambahkan bahwa tanda tasydid berasal dari kepala huruf syîn, tanda sukûn berasal dari kepala huruf khâ‟, dan lain sebagainya.43

Dan dikatakan pula bahwa tanda-tanda syiddah, sukûn, al- ikhtilâs, al-isymâm, dan hamzah dibuat pada masa Dinasti Abbasiyah (750 M-1258 M) yakni masa setelah Khalil bin Ahmad al-Farâhidî (w. 170 H/786 M).

Naqth al-I‟jâm adalah titik yang diletakkan di atas atau di bawah huruf yang masih samar untuk membedakan huruf yang satu dengan huruf yang lain.44 Penulisan titik pada huruf-huruf yang berbentuk sama dengan meletakkan titik pada huruf-huruf adalah upaya untuk menghilangkan kekeliruan.45 Adapun huruf-huruf tersebut terbagi menjadi lima belas, yakni

, ت ب , ث , ج , خ , ذ, ز,

ش

, ض , ظ , غ , ف , ق , ن , ي

. Huruf-huruf yang bertitik ini dinamakan al-hurûf al-mu‟jamah. Sedangkan huruf-huruf yang tanpa titik dinamakan al-hurûf al-muhmalah yakni terbagi menjadi tiga belas diantaranya,

و , ه , م , ل , ك , ع , ط , ص , س , ر , د , ح أ ,

.46

Ada beberapa pendapat yang berbeda mengenai orang pertama yang membubuhkan tanda titik kecil bulat pada huruf. Namun, pendapat yang shahih adalah Nashr bin „Âshim (w. 89 H/703 M) dan

42 Hisyami bin Yazid, Risâlât „Ilmi Dhabthi al-Qu‟ân li Hâl al-Musykilah al-Hadîtsah Mâ fî Rasm al-Mushafi al-‟Utsmâni, (Banda Aceh: Ar-Rijal Publisher, 2012), h. 38-39 43 Muhammad Salim Muhaisin, Irsyâdu al-Thâlibîn ilâ Dhabt al-Kitâb al-Mubîn, h. 6 44 Ghânim Qaddȗrî al-Hamd, “Muwâzanah baina al-Dhabthi fî Rasmi al-Mushafî wa Rasmi al-Qiyâsî”, dalam Majalah al-Buhȗts al-Dirâsât al-Qur‟âniyyah, No. 7 Tahun 4, h. 31 45 Ahmad Fathoni, Petunjuk Praktis Tahsin Tartil Al-Qur‟an Metode Maisura, h. 364 46 Muhammad Salim Muhaisin, Irsyâdu al-Thâlibîn ilâ Dhabt al-Kitâb al-Mubîn, h. 7

Yahyâ bin Ya‟mar (w. 70 H/690 M), atas perintah Al-Hajjâj bin Yûsuf al-Tsaqafî gubernur Iraq pada masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwân (265-682 H/879-1283 M).47

Sebab dibuatnya tanda baca titik kecil bulat pada huruf menurut jumhur ulama adalah karena semakin luasnya perkembangan Islam di dunia dan banyaknya orang-orang non Arab („ajam) yang memeluk Islam sehingga banyak dari mereka yang keliru dalam memahami Bahasa Arab, dan ditakutkan kesalahan ini akan terjadi pada Al-Qur‟an. Pada akhirnya, Khalifah Abdul Malik bin Marwan memerintahkan al-Hajjaj bin Yusuf untuk melakukan upaya pencegahan terhadap penyimpangan tersebut agar tidak sampai terjadi terhadap Al-Qur'an, dan dipilihlah Nashr bin „Asim dan Yahya bin Ya‟mar, keduanya merupakan ulama yang paling ahli dalam ilmu qira‟at dan bahasa.48 Setelah melewati berbagai pertimbangan, keduanya lalu memutuskan untuk menghidupkan kembali tradisi nuqath al-i‟jâm yaitu pemberian titik untuk membedakan pelafalan huruf yang memiliki bentuk sama, dan muncullah metode al-ihmâl dan al-i‟jâm.49 Ini dilakukan demi keselamatan Al-Qur‟an dari terjadinya lahn atau penyimpangan yang terjadi pada saat itu.

Penulisan Al-Qur‟an masih terus berlanjut pada masa Dinasti Abbasiyah yakni pada masa Khalîl bin Ahmad Al-Farâhidî (w. 170 H). Beliau adalah pendiri madzhab Nahwu (tata bahasa Arab) “al-

47 Ahmad Fathoni, Petunjuk Praktis Tahsin Tartil Al-Qur‟an Metode Maisura, h. 365 48 Ahmad Muhammad Abû Zaihtâr, Al-Sabîl ilâ Dhabti Kalimât Al-Tanzîl, (Kuwait: t.p, 2009), h. 14-15

49 Rizal Mubit, “Sejarah Pemberian Titik dan Harakat pada Huruf Al-Qur‟an”, https://islami.co/sejarah-pemberian-titik-dan-harakat-pada-huruf-al-quran/ diakses pada tanggal 24 April 2020 Pukul 11.15 WIB

Bashrah”50 dan juga seorang ensiklopedis Bahasa Arab terkemuka kala itu. Pada masa inilah mulai diberikan tanda baru berupa fathah, kasrah, dan dhammah guna untuk memperindah dan memudahkan umat Islam dalam membaca Al-Qur‟an.51

Maka, dapat disimpulkan dari beberapa penjelasan di atas bahwa proses penulisan tanda baca Al-Qur‟an ada empat tahap,

1. Bahwasanya materi pertama yang dibahas di dalam mushaf adalah naqth al-i‟râb yang digagas oleh Abu Al-Aswad Al- Du‟ali.

2. Materi kedua yang dibahas di dalam mushaf adalah naqth al-i‟jam yang digagas oleh Nashr bin „Ashim dan Yahya bin Ya‟mar.

3. Materi ketiga ini adalah materi mengenai al-naqth al- muthawwal yang kita kenal dengan syakl merupakan gagasan Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi yang dibuat sebagai pengganti dari nuqath yang digagas oleh Abu al- Aswad.

4. Naqth al-I‟râb yang juga disebut dengan dhabth wa syakl lebih dahulu dibuat dibandingkan naqth al-i‟jâm, karena masa pemerintahan Ziyad dan Abu al-Aswad lebih dahulu dibandingkan masa pemerintahan al-Hajjaj dan Nashr bin Ashim dan Yahya bin Yamar.52

50 Moh. Pribadi, “Sumbangan dalam Perkembangan Nahwu Arab”, dalam Jurnal Adabiyyât, Vol. 1 No. 1 Juni 2017, h. 74

51 Agus Sasongko, “Sejarah Pemberian Tanda Baca dan Tajwid”,

https://republika.co.id/berita/p6a89n313/sejarah-pemberian-tanda-baca-dan-tajwid diakses pada tanggal 24 April 2020 Pukul 21.34 WIB

52 Ahmad Muhammad Abû Zaihtâr, Al-Sabîl ilâ Dhabti Kalimât Al-Tanzîl, h. 15

Menurut Muhammad Salim Muhaisin dalam kitabnya Irsyâdu al-Thâlibîn ilâ Dhabt al-Kitâb al-Mubîn kajian ilmu dhabth mencakup lima aspek pembahasan. (1) harakat, (2) bentuk sukûn, (3) syiddah, (4) tanda mad, (5) hamzah.53

Adapun perbedaan antara ilmu rasm dan ilmu dhabth adalah sebagai berikut,

1. Ilmu rasm adalah ilmu yang mempelajari tentang penulisan mushaf Al-Qur‟an yang dilakukan dengan cara khusus, baik dalam penulisan lafal-lafalnya maupun bentuk-bentuk huruf yang digunakan.54

2. Ilmu dhabth adalah ilmu yang membahas tentang simbol atau tanda yang nampak huruf Al-Qur‟an seperti titik, harakat, sukȗn, tasydîd, hamzah, dan lain sebagainya. Di Indonesia ilmu dhabth dikenal dengan ilmu “tanda baca”.55

C. Ruang Lingkup Tanda Baca (Dhabth) 1. Fathah

Fathah adalah tanda/harakat yang berbentuk garis horizontal yang terletak di atas huruf Arab (

), yang melambangkan bunyi huruf a. Secara bahasa, fathah berarti membuka/pembukaan yaitu, membuka mulut saat mengucapkan bunyi huruf a. Ketika suatu huruf diberi harakat fathah di atasnya, maka huruf tersebut akan berbunyi a.56 Harakat fathah yang dikembangkan Khalîl bin Ahmad al-Farâhidî (w. 175 H) berasal dari alif yang dibentangkan

53 Muhammad Salim Muhaisin, Irsyâdu al-Thâlibîn ilâ Dhabt al-Kitâb al-Mubîn, h. 8 54 Oom Mukarromah, Ulumul Qur‟an, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), Cet. 1, h. 33 55 Deni Hudaeni, dkk., Tanya Jawab tentang Mushaf Al-Qur‟an Standar Indonesia dan Layanan Pentashihan,(Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur‟an, 2019), h. 30

56 Abdurrauf, Pengenalan, Penulisan, dan Tanda Baca Huruf Arab, (tt.p: t.p, t.t.), h. 1.26

Dokumen terkait