• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerangka Teori

Dalam dokumen tradisi marhaban dalam pembangunan rumah (Halaman 31-50)

BAB I PENDAHULUAN

F. Kerangka Teori

Adapun teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori Ritus Peralihan Oleh Van Gennep dan Teori Solidaritas Sosial oleh Emile Durkheim.

1) Teori Ritus Peralihan oleh van Gennep

Arnold Van Gennep (1873-1957) manganggap bahwa ritus maupun upacara religi secara universal pada asasnya berfugsi sebagai aktivitas untuk menimbulkan kembali semangat kehidupan bersosial antara warga masyarakat. Karena kehidupan sosial dalam setiap masyarakat yang hidup di dunia dilakukan secara berulang, dengan interval dan dengan waktu tertentu, sehingga membutuhkan regenerasi atau semangat kehidupan sosial. Hal itu disebabkan karena akan ada

saat-saat dimana semangat kehidupan sosial bisa saja menurun seiring berjalannya waktu yang mengakibatkan kelesuan dalam masyarakat.14

Penganut teori ini berpendapat bahwa dalam setiap tahap-tahap pertumbuhan sebagai suatu individu (lahir masa kanak-kanak, dewasa, menikah, tua, dan meninggal) manusia akan mengalami perubahan- perubahan biologis serta perubahan dalam lingkungan kehidupan sosal dan kebudayaan yang dapat mempengaruhi jiwa dan menimbulkan krisis mental.

Maka dari itu dalam lingkaran hidupnya manusia memerlukan regenerasi atau semangat kehidupan.15

Menurut teori ini sebuah ritual peralihan yang berhubungan dengan perpindahan orang-orang dari kelompok dalam wilayah tertentu menuju status baru, misalnya masa pertunangan dan perkawinan, kehamilan dan kelahiran, dan upacara-upacara keselamatan dan pemakaman, juga dalam ritual-ritual dalam teori ini mejelaskan bahwa semua kebudayaan memiliki kelompok ritual yang akan memperingati setiap masa peralihan

14Yuahana Catur Saputra, “Tradisi Mapas di Desa Karangtengah Kecamatan Banjarnegara Kabupaten Banjarnegara", (Skripsi, FADIB UIN Kalijaga Yogyakarta, Yogyakarta, 2015), hlm.8.

15Ibid.

individu dari suatu status sosial ke status sosial yang baru.

Telaah sebuah ritus peralihan tidak terlepas dari tiga konsep ritus peralihan, yaitu:

a. Perpisahan (sepration).

Perpisahan biasanya dilambangkan dengan kematian, maupun perubahan pada manusia itu sendiri. Sehingga dapat diartikan dimana seseorang itu tidak lagi terlibat dalam peran atau status sosial yang lama. Biasanya terdiri dari tindakan-tindakan yang melambangkan perpisahan itu sendiri. Bisa juga dilambangkan dengan ritual-ritual tertentu.

b. Peralihan (marge).

Peralihan ini dapat ditandai dengan dimana seorang sedang yang beradaptasi dengan perubahan yang sedang terjadi pada dirinya sendiri, yang dilakukan agar bisa menyesuaikan dengan peran baru dan keadaan baru dengan menghilangkan status lama dalam kehidupan bermasyarakat.

c. Integrasi (agregration).

Adalah pengukuhan individu maupun kelompok.

Pengukuhan ini dilakukan kedalam kehidupan serta lingkungan sosial yang baru sehingga secara pralambang

individu maupun kelompok tertentu merasa seakan- akan mereka dilahirkan kembali.16

Dari ketiga fase ritual ini memiliki tujuan untuk mecegah perubahan yang tidak diinginkan. Perubahan yang dimaksud merupakan perubahan yang terbilang kecil, suatu koreksi yang akan menimbulkan suatu keseimbangan dan status quo, juga untuk melestarikan gerakan sistem sosial yang memiliki ikatan-ikatan, misalnya saja ritual keselamatan, ritual keselamatan dalam membangun rumah panggung ini memiliki arti yang melambangkan suatu tradisi tradisional sebagai tanda syukur, keselamatan, solidaritas, doa dan kebahagian bagi orang yang memiliki rumah juga bagi masyarakat setempat.17

Berdasarkan paparan dari teori di atas, peneliti menyimpulkan bahwa tradisi merupakan sebuah aktivitas yang dapat menimbulkan kembali semangat kehidupan bersosial jika dilakukan secara berulang dengan kurun waktu tertentu. Tradisi juga dapat

16Ibid., hlm.9.

17Suhupawati,dkk, “Upacara Adat Kelahiran Sebagai Nilai Sosial Budaya Pada Masyarakat Suku Sasak Desa pengandangan(Arikel Vol, 2, Nomor. 2, Desember 2017),hlm.16.

mengalami kelesuan sehingga membutuhkan regenerasi serta semangat hidup sosial.

Maka dari itu Peneliti menggunakan Teori ini meneliti mengenai Tradisi Marhaban dalam membangun rumah panggung pada masyarakat Desa Sambori.

Karena akan ada saat dimana sebuah Tradsi yang hidup di lingkungan bermasyarakat mengalami penurunan sehingga mengakibatkan kelusuan sehingga membutuhkan regenerasi dan semangat hidup bersosial.

2) Pengertian Tradisi

Adat atau Tradisi adalah segala sesuatu yang turun temurun dari nenek moyang terdahulu yang dapat dijaga dan dipelihara. Tradisi juga merupakan kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus dan sudah disepakati pemberlakuannya dalam sebuah komunitas masyarakat yang hidup pada wilayah tertentu. Dalam kamus bahasa Indonesia, Adat atau Tradisi diartikan sebagai kebiasan turun temurun dari nenek moyang yang masih dijalankan pada kehidupan masyarakat. Kata Tradisi sendiri merupakan serapan dari kata Tradition sedangkan dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah Turath yang merupakan bentuk

Masdar dari kata Waratha yang diartikan sebagai segala sesuatu yang diwariskan oleh nenek moyang terdahulu.

Dengan demikian Tradisi adalah sesuatu yang diwariskan secara terun temurun baik itu berupa sikap, cara berpikir ataupun cara bertindak dengan tetap berpegang teguh pada norma dan adat kebiasaan yang telah disepakati pemberlakuannya dalam suatu komunitas masyarakat tertentu.18

3) Tujuan Tradisi

Tradisi bertujuan untuk memperkuat nilai-nilai seperti kekebasan, integrasi, pendidikan yang baik, rasa tanggung jawab, etos kerja yang kuat, dan memberikan nilai yang tidak mementingkan diri sendiri. Semua tujuan ini bisa terlaksanakan jika manusia bisa hidup rukun, saling menghormati satu sama lain dan sebisa mungkin menjalankan Tradisi yang sudah ada dengan baik, dan menyesuaikan dengan aturan yang hidup dalam masyarakat.19

4) Fungsi Tradisi

Ada beberapa fungsi dari Tradisi yaitu:

18Sainun, Tradisi Merari’ Potret Asimilasi Penikahan Masyarakat Sasak, (Mataram:Institut Agama Islam Negeria IAIN Mataram, Mataram, 2016), hlm.14.

19Dosen sosiologi.com, “Pengertian tradisi, ciri, jenis, tujuan, manfaat dan contohnya”, dalam https://dosensosiologi.com/pengertian-tradisi/, diakses tanggal 9 februari 2021, pukul 17:41.

a. Tradisi berfungsi sebagai fregmen warisan historis yang dipandang bermanfaat. Tradisi digunakan sebagai onggokan dan gagasan material yang dapat dipergunakan dalam setiap tindakan masa kini dan untuk membangun masa depan berdasarkan pengalaman dari masa lalu. Tradisi juga dapat dijadikan sebagai acuan untuk kehidupan yang akan datang.

b. Memberi legitimasi terhadap pandangan hidup, fungsi lain dari Tradisi adalah sebagai pemberi legitimasi pada pandangan hidup, keyakinan, pranata, maupun aturan yang sudah ada. Dan semua ini memberlukan pembenaran agar dapat mengikat anggotanya. Seperti wewenang seseorang raja yang disahkan oleh Tradisi dari seluruh dinasti terdahulu.

c. Memberikan simbol identitas kolektif yang meyakinkan, memperkuat loyalitas primordial terhadap bangsa, komunitas maupun anggota kelompok seperti Tradisi Nasional dengan Lagu, Bendera, Emblem, Mitologi dan Ritual Umum. Tradisi Nasional selalui di kaitkan dengan Sejarah, dan

menggunakan masa lalu untuk memelihara Persatuan Bangsa.20

5) Konsep Marhaban

a) Pengertian Marhaban

Marhaban adalah Tradisi masyarakat Desa Sambori berupa acara doa dan shalawat yang bertujuan untuk memohon keselamatan bagi anggota keluarga atau yang mempunyai rumah, lewat lantunan doa dan shalawat terhadap Nabi Muhammad SAW yang syairnya ditulis dalam buku yang biasa disebut dengan kitab Al-Barjanzi.

Marhaban berasal dari bahasa Arab yaitu Marhaban, dikarenakan dalam Tradisi ini dibacakan syair shalawat yang dituliskan dalam buku yang biasa disebut dengan kitab Al-Barjanzi yang berbunyi “ya Nabi salam „alaika, mahall al-qiyam”. Shalawat ini pada masyarakat Desa Sambori dikenal dengan Marhaban, oleh karena itu Tradisi ini biasa dikenal dengan Tradisi Marhaban.21

20Piotr Sztompkz, Sosiologi Perubahan Sosial, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2014), hlm.74-75.

21Ridhoul Wahidi, “Budaya dan Agama Sebagai Indentiats Islam Nusantara: Kajian Atas Tradisi Marhaba’an/Maulid Nabi Di Tanah Sunda”

Jurnal Madania,Vol.5,Nomor 2,2015,hlm.202.

Tradisi Marhaban dilakukan dimasing-masing rumah anggota masyarakat, kegiatan ini dilakukan pada malam hari, mulai dari ba‟da isya‟ sampai selesai. Acara Marhaban ini tidak memiliki batas waktu tertentu. Setelah acara Marhaban ini selesai makan akan dilanjutkan dengan acara makan-makan bersama anggota keluarga dan masyarakat yang hadir dalam kegiatan Marhaban tersebut. Pada hakekatnya acara Marhaban ini adalah sarana untuk mengumpulkan dan mempertemukan anggota keluarga dan masyarakat.

b) Sejarah Lahirnya Tradisi Marhaban

Pada zaman naka (pra-sejarah), masyarakat dari Bima pada umumnya menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Animisme dan dinamisme yaitu mempercayai adanya parafu, roh nenek moyang, roh, benda-benda roh yang berada di gunung-gunung, pepohonan, batu, bulan dan matahari, demikian juga dengan masyarakat Desa Sambori. Masyarakat Desa Sambori mempercayai bahwa roh dan benda tersebut dianggap sebagai dewa (tuhan) penolong yang setiap waktu dapat dimintai pertolongan, wujud dari kepercayaan tersebut dapat dilihat dari adanya batu-

batu persembahan atau tempat persembahan (bungke) di sekitar wilayah Desa Sambori yang mereka sakralkan.

Seiring dengan berjalannya waktu banyak masyarakat lain yang masuk dalam wilayah Bima, seperti orang-orang Makasar atau Goa pada abad ke- 17 atau sekitar tahun 1940 Masehi dari kesultanan Goa (Makasar) membawa misi Islam ke kesultanan Bima agar masyarakat Bima dapat menerima Islam sebagai kepercayaan atau keyakinanya untuk masyarakat Desa Sambori. Pada zaman kesultanan Bima, masyarakat Bima pada umumnya sangat taat dan patuh terhadap kesultanan Bima atau kepada Rajanya.

Kemudian seiring berjalannya waktu masyarakat Bima sedikit demi sedikit meninggalkan ajaran animisme dan dinamisme untuk menenerima kepercayaan agama Islam khususnya masyarakat Desa Sambori. Meskipun ajaran agama Islam tidak di terima secara utuh, tetapi sedikit demi sedikit masyarakat Desa Sambori melihat dan menyaksikan sendiri bagaimana ajaran Agama Islam merupakan agama yang baik, dengan cara menyalurkan agama

Islam melalui kegiatan-kegiatan keagamaan, karena pada zaman dahulu upacara maupun ritual merupakan bagian terpenting dalam kehidupan masyarakat Desa Sambori. Karena seluruh fase kehidupan manusia tidak terlepas dari upacara maupun prosesi adat. Pada Zaman dahulu, dikalangan warga Desa Sambori memiliki beberapa upacara maupun ritual baik itu ritual keagamaan maupun ritual kegiatan sosial, yaitu antara lain upacara kelahiran, Suna Ro Ndoso (khitanan), Nika Ro Neku (Pernikahan), kanggihi (pertanian), Ngaha Ncore (tolak bala), serta upacara dan ritual kematian maupun Tradisi Marhaban dalam membangun rumah panggung.

Dalam perjalanan misi untuk menyebarkan ajaran Islam, belum diketahui dengan jelas kapan masyarakat Desa Sambori mulai menjalankan serta mempelajari kesenian maupun Tradisi Marhaban dalam membangun rumah panggung. Namun bertolak dari kegiatan Marhaban tentu saja dengan tujuan menyiarkan ajaran agama Islam. Sehingga masyarakat dapat dikumpulkan lewat perkumpulan kesenian hadrah maupun lewat Dzikir, dan Marhaban

dengan berkeyakinan mendapatkan ridho, berkah, keselamatan dan jauh dari segala marabahaya.

Kegiatan Marhaban kini hidup dan sudah menjadi bagian dari prosesi adat pada masyarakat Sambori pada saat masyarakat ingin membangun rumah panggung”.22

6) Konsep Rumah Panggung

a) Pengertian Rumah Panggung

Rumah panggung adalah rumah yang dibangun dari sebagian besar bahanya adalah kayu jati, sedangkan atapnya terbuat dari seng. Bangunanya tersususun dari beberapa bagian yang memiliki fungsi yang berbeda-beda.23 Rumah panggung ini bisa ditemukan pada masyarakat yang tinggal diperdesaan, seperti yang ada di Desa Sambori.

b) Fungsi Rumah Panggung

Rumah adalah salah satu kebutuhan pokok manusia. Rumah adalah tempat yang dijadikan sebagian besar orang untuk tempat pulang, istrahat, tempat bertemunya anggota kelurga dan

22Iksan Ridwan,Tokoh Budaya Desa Sambori,Wawancara, di Desa Sambori,pada tanggal 06 Agustus 2021.

23Faisal Al Faisal, Mengenal Rancangan Bangunan Rumah Adat di Indonesia,(Jakarta:Badang Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017), hlm.30.

tempat untuk bermusyawah dan memiliki banyak fungsi lainya. yang membedakannya hanyalah bentuk dan bahan dalam pembuatan masing-masih rumah tersebut.

7) Konsep Solidaritas Sosial

a) Pengertian solidaritas sosial

Solidaritas sosial merupakan suatu kelompok masyarakat yang dibentuk oleh pekerjaan dan pengalaman yang sama sehingga memiliki nilai serta kepentingan bersama.24 Menurut Emile Durkheim solidaritas sosial adalah kesamaan dan kekompakan yang merujuk pada suatu hubungan antara indivdu maupun kelompok masyarakat sehingga dapat membentuk sistem yang tetap yang didasari oleh perasaan moral dan kepercayaan bersama dan di diperkuat oleh pengalaman bersama.25

b) Macam-macam solidaritas sosial menurut Emile Durkheim

1) Solidaritas mekanis adalah solidaraitas yang didasari oleh kesadaran kolektif yang lebih kuat pada masyarakat yang sama yang terdiri dari

24George Ritzier, Dkk, Teori Sosiologi Dari Teori Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmoderen, (Bantul: Kreasi Wacana, 2012),hlm.89.

25 Ibid., hlm. 85.

pemahaman, norma dan kepercayaan bersama.

Hal ini sesuai dengan pernyataan Emile Durkheim tentang solidaritas mekanis didasari oleh suatu kesadaran kolektif bersama yang menunjukan pada kesamaan dan kepercayaan pada suatu kelompok masyarakat. Hal ini merupakan solidaritas yang memiliki ketergantungan pada individualis sehingga tidak berkembang, karena dipengaruhi oleh tekanan yang besar.26

2) Solidaritas organis

Solidaritas organis adalah solidaritas sosial yang ditandai dengan masyarakat yang kompleks, yang mulanya berawal dari masyarakat yang saling bergantungan tetapi dipisahkan oleh pembagian pekerjaan sehingga tidak lagi memiliki kepentingaan bersama. Oleh Karena itu teori ini juga merupakan bukti yang dapat menjelsakan bahwa teori sosiologi menunjuk pada kepentingan dan gagasan-gagasan

26George Ritzer, Dkk, Teori Sosiologi Dari Teori Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Mutakthir Teori Sosial Postmodern, hlm.92.

bersama untuk memenuhi kebutuhan bermasyarakat.27

Dari dua macam solidaris yang dipaparkan diatas, yang digunakan adalah solidaritas mekanis. kaitan teori solidaritas sosial dengan penelitian ini yaitu masyarakat Sambori merupakan makhluk sosial yang yang sadar akan pentingnya nilai kerjasama, sehingga sejalan dengan teori mekanis yang mengatakan bahwa kesadaran kolektif yang kuat itu dilandasi oleh pemahaman, norma dan kepercayaan bersama, sehingga searah dengan dengan masyarakat Sambori yang dimana pada masyarakat ini rasa solidaritas sudah tertanam dari setiap diri inividu yaitu melalui kegiatan religi atau kegiatan sosial yang membentuk kesadaran kolektif yang kuat sehingga menghasilkan nilai yang seimbang pada masyarakat Desa Sambori Kecamatan Lambitu Kabupaten Bima.

27 Ibid.

c) Bentuk- Bentuk Solidaritas Sosial 1) Kerja sama

Kerja sama merupakan bentuk solidaritas yang bisa temui dikalangan masyarakat, terutama pada masyarakat primitif. Kerja sama merupakan kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama dengan bermaksud untuk mencapai tujuan bersama yang sebelumnya telah disepakati secara musyawarah.28 Kerja sama ini lebih banyak dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di pedesaan jika di bandingkan dengan masyarakat yang tinggal diperkotaan, sehingga pada masyarakat pedesaan bentuk kerjasama ini masih dipertahankan hingga sekarang. Misalanya kerja sama dalam membangun rumah panggung pada masyarakat Desa Sambori. Tentunya dalam pembangunan rumah panggung ini membutuhkan bantuan serta kerja sama dengan anggota masyarakat yang lainnya, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri sehingga membutuhkan kerja sama dengan orang lain.

28Desti Mulyani, Peningkatan Karakter Gotong Royong di Sekolah Dasar, Jurnal Pendidikan,Vol.11 Nomor 2,Agustus 2020, hlm.230.

2) Kebersamaan (Tolong menolong)

Tolong menolong merupakan suatu kegiatan yang muncul dalam hati nurani, dengan kesadaran sendiri. Tolong menolong ini dapat melahirkan rasa kebersamaan secara alami dalam suatu lingkungan masyarakaat sehingga mendorong rasa ingin bekerjasama dengan orang lain. Gotong royong sendiri mempunyai tujuan tertentu, misalnya dalam membangun fasilitas umum maupun pribadi secara bersama-sama, dengan anggapan bahwa manusia itu tidak bisa hidup secara individual melainkan membutuhkan bantuan dan keterlibatan dari manusia lainnya dalam berbagai aspek kehidupan.29

G. Metode Penelitian

1. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif, metode ini digunakan untuk meneliti informan sebagai subjek penelitian dalam lingkungan hidup kesehariannya. Dalam penggunaan metode kualitatif ini peneliti diharuskan untuk berinteraksi secara dekat

29Adi Mandala Putra, dkk, Eksistensi Kebudayaan Tolong Menolong ( Kaseise) Sebagai Bentuk Solidaritas Sosial Pada Masyarakat Muna, Neo Societal;

Vol. 3, Nomor 2, 2018, hlm.480.

dengan sumber informan, mengenal, mengamati serta mengikuti alur kehidupan informan secara wajar, karena peneliti pada penelitian ini adalah instrument kunci.30 Alasan peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif, adalah karena pada penelitian kualitatif ini memiliki dasar deskriptif dimana peneliti sebagai instrument kunci yang dapat dipergunakan untuk memahami lebih mendalam serta bisa ikut serta dalam kehidupan dan keseharian para informan yang akan diteliti guna untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Sedangkan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiologis. Pendekatan sosiologis adalah pendekatan yang dilakukan oleh peneliti yang menjadikan masyarakat sebagai subjek pada penelitian. Pendekatan ini bertujuan untuk mempelajari tingkah laku masyarakat dalam kehidupan bersosial dengan cara berinteraksi langsung dengan subjek penelitian agar dapat memahami subjek yang akan diteliti

30Muhammad Idrus, Metode Penelitian Sosial Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif, (Jakarta: Erlangga, 2009), hlm.23-24.

sehingga mendapatkan hasil yang sesuai dengan yang diharapkan.31

Dalam penelitian kualitatif, peneliti berperan sebagai instrument kunci dan sekaligus sebagai pengumpul data sehingga kehadirannya di lokasi tempat penelitian mutlak diperlukan. Kehadiran peneliti perlu digambarkan secara jelas dalam laporan penelitian. Perlu juga dijelaskan apakah kehadiran peneliti sebagai partisipan penuh, pengamat penuh, atau pengamat partisipan. Demikian juga perlu dijelaskan apakah subyek atau informan mengetahui kehadiran penelitian dalam statusnya sebagai peneliti.32

2. kehadiran peneliti

Dalam penelitian kualitatif, kehadiran peneliti di lokasi penelitian mutlak diperlukan karena peneliti adalah instrumen kunci (key-instrumen). Karena penelitilah yang melakukan observasi, membuat catatan, serta malakukan wawancara ketika melakukan penelitian lapangan. Dalam hal ini, kehadiran peneliti perlu digambarkan secara rinci, apakah kehadiran peneliti sebagai partisipan penuh, pengamat partisipan, atau sebagai pengamat penuh. Perlu

31Nasehudi, “Analisis Kehidupan Masyarakat Melalui Pendekatan Sosiologi Pendidikan”, Jurnal Edueksos Vo. III, Nomor 2, Juli- Desember 2004, hlm. 87-88.

32Ibid, hlm.15.

juga dijelaskan apakah informan atau subjek dalam penelitian mengetahui keberadaan peneliti dalam statusnya sebagai peneliti.33

a. Subjek Penelitian

Dalam penelitian, subjek diartikan sebagai individu, benda, maupun organisme lainnya yang bisa dijadikan sebagai sumber informasi yang di butuhkan oleh seseorang peneliti. Istilah subjek yang digunakan oleh peneliti yaitu responden, orang, atau benda yang dapat memberikan informasi atau sesuatu yang dibutuhkan oleh seorang peneliti. Dalam penelitian ini subjek penelitian dapat di bagi menjadi dua yaitu:

1) porpusive sampling, merupakan teknik pengumpulan sampel berdasarkan keahlian informan, dengan tujuan agar peneliti mendapatkan informasi yang lebih akurat sesuai dengan data yang diinginkan. Dalam menggunakan porpusive sampling, peneliti biasanya memilih data yang dapat dijadikan sebagai informan yang sudah ditentukan,34

33Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja

Dalam dokumen tradisi marhaban dalam pembangunan rumah (Halaman 31-50)

Dokumen terkait