• Tidak ada hasil yang ditemukan

tradisi marhaban dalam pembangunan rumah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "tradisi marhaban dalam pembangunan rumah"

Copied!
134
0
0

Teks penuh

(1)

Oleh Erni Janiarti NIM. 170602041

JURUSAN SOSIOLOGI AGAMA

FAKULTAS USHULUDDIN DAN STUDI AGAMA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)

MATARAM 2021

(2)

TRADISI MARHABAN DALAM PEMBANGUNAN RUMAH PANGGUNG PADA MASYARAKAT DESA SAMBORI KECAMATAN

LAMBITU KABUPATEN BIMA.

Skripsi

diajukan kepada Universitas Islam Negeri Mataram untuk melengkapi persyaratan mencapai gelar

Sarjana Sosial (S.Sos)

Oleh Erni Janiarti NIM 170602041

JURUSAN SOSIOLOGI AGAMA

FAKULTAS USHULUDDIN DAN STUDI AGAMA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)

MATARAM 2021

(3)

iii

(4)

iv

(5)

vi

(6)

vii MOTTO

َّللا لوُسر َّنأ ٍدوُعْسم نبا نعو ًةَلاَص ًَّلَع مُهُرَثْكَأ ِةماٌِقْلا َم ْوٌ ًِب ِساَّنلا ىل ْوَأ :َلاَق

يذمرتلا هاور

“Manusia yang berhak bersamaku pada hari kiamat ialah yang paling banyak membaca shalawat kepadaku” (HR.Tirmidzi).

(7)

viii

PERSEMBAHAN

“Kupersembahkan skripsi ini untuk Ibuku Hatijah Ratuhu dan Bapakku Sayang Allah dan Mukhtar,Bibiku Salmah dan Kartini, Kakakku Rubiati, serta Adikku Irfan, Sinta Cahaya,dan Kalil Zafran Arsa, yang selalu memberiku dukungan dan semangat hingga bisa bertahan sampai dititik ini.

Terimakasih. untuk alamamaterku, semua guru dan dosenku.”

(8)

ix

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada Makhluk CiptaanNya sehinga penulis dapat menyelesaikan tugas dan kewajibannya atas izinNya yaitu menyusun Skripsi.

Shalawat serta Salam senantiasa tercurahkan kepada Junjungan kita semua, Nabi Muhammad SAW yang telah mengantarkan manusia dari zaman kegelapan ke zaman yang terang benderang seperti saat sekarang ini.

Dalam penyusunan skripsi yang berjudul “Tradisi Marhaban Dalam Pembangunan Rumah Panggung Pada Masyarakat Desa Sambori Kecamatan Lambitu Kabupaten Bima ini penulis menyadari ada banyak sekali hambatan maupun rintangan yang penulis hadapi, namun pada akhirnya Allhamdulillah penulis dapat melaluinya karena adanya bantuan dari berbagai bela pihak. Untuk itu dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terimakasih kepada:

1. Dr.Abdul Wahid.M.Pd. sebagai dosen pembimbing I dan Lutfatul Azizah, M.Hum sebagai pembimbing II yang telah meluangkan waktu dan kesempatnya untuk membimbing penulis dalam proses penulisan skripsi.

2. Dr.Nuruddin,S.Ag.,M.Si. Selaku penguji I dan Nursyamsu,M.Ud. Selaku penguji II Yang telah bersedia memberikan saran serta masukan dalam menyempurnakan skripsi ini.

3. Dr.Nuruddin,S.Ag.,M.Si. selaku Ketua jurusan Sosiologi Agama

(9)

x

4. Dr.H. Lukman Hakim,M.Pd selaku Dekan Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama.

5. Prof. Dr. H. Masnun, M. Ag. selaku rektor UIN Mataram yang telah memberikan tempat bagi penulis untuk menuntut ilmu dan memberikan bimbingan dan peringatan untuk tidak berlama-lama di kampus tanpa pernah selesai.

6. Pihak lembaga penelitian.

Penulis menyadari dalam penulisan skripsi ini masih terdapat banyak kesalahan kata maupun kalimat. Penulis memohon maaf atas kesalahan yang pernah dilakuka. Untuk itu penulis mengharapkan Kritik dan saran yang bersifat membangun agar peneliti dapat menyempurnakan penulisan pada karya ilmiah lainya. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penelitian - penelitian yang akan datang. Terimakasih.

Mataram,

Peneliti,

Erni Janiarti 170602041

(10)

xi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Kartu konsultasi Pembimbing 1 dan pembimbing 2 Lampiran 2 Surat Keterangan Observasi dan Penelitian

Lampiran 3 Surat Balasan Izin Penelitian Lampiran 4 Foto Dokumentasi Wawancara Lampiran 5 Hasil Cek Plagiasi Skripsi

(11)

xii DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

NOTA DINAS PEMBIMBING ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... v

PENGESAHAN DEWAN PENGUJI ... vi

HALAMAN MOTTO ... vii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xi

ABSTRAK ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah... 8

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 8

D. Ruang Lingkup dan Setting penelitian ... 9

E. Telaah Pustaka ... 10

F. Kerangka Teori ... 16

G. Metode Penelitian ... 32

H. Sistematika Pembahasan ... 49

(12)

xiii

BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN ... 51

A. Sejarah Desa Sambori ... 51

1. Asal Usul Desa Sambori ... 51

2. Gambaran Umum Demografi Desa Sambori ... 54

3. Sejarah Pembangunan Desa Sambori ... 55

4. Keadaan Sosial Budaya Desa Sambori ... 57

B. Bentuk Pelaksanaan Tradisi Marhaban Dalam Pembangunan Rumah Panggung Pada Masyarakat Desa Sambori Kecamatan Lambitu Kabupaten Bima ... 59

C. Fungsi dan Makna Tradisi Marhaban Dalam Pembangunan Rumah Panggung Pada Masyarakat Desa Sambori Kecamatan Lambitu Kabupaten Bima. ... 76

BAB III PEMBAHASAN ... 82

A. Bentuk Pelaksanaan Tradisi Marhaban Dalam Pembangunan Rumah Panggung ... 82

B. Fungsi dan Makna Tradisi Marhaban Dalam Pembangunan Rumah Panggung ... 86

BAB IV PENUTUP ... 102

A. Kesimpulan ... 102

B. Saran ... 104

Daftar Pustaka ... 106

(13)

xiv

LAMPIRAN-LAMPIRAN.

(14)

xv

TRADISI MARHABAN DALAM PEMBANGUNAN RUMAH PANGGUNG PADA MASYARAKAT DESA SAMBORI KECAMATAN LAMBITU

KABUPATEN BIMA

Oleh Erni Janiarti NIM 170602041

ABSTRAK

Indonesia merupakan Negara kepulauan dan memiliki wilayah yang luas, terbentang dari Aceh sampai ke Papua, Indonesia juga dikenal karena memiliki banyak sekali budaya dan Tradisi, termasuk Tradisi Marhaban dalam pembangunan rumah panggung pada Masyarakat Desa Sambori Kecamatan Lambitu Kabupaten Bima. Dimana Tradisi ini merupakan Tradisi yang sudah diwarisakan secara turun-temurun dan masih dilaksanakan hingga saat ini. Tradisi ini memiliki bentuk, fungsi, serta makna yang sangat mendalam pada setiap pelaksanaannya, Tradisi ini juga sebagai sarana untuk masyarakatnya dapat saling bekerjasama dan saling menguatkan satu dengan yang lainnya.

Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan bantuan dari orang lain dalam segala aspek kehidupnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang Tradisi Marhaban yaitu bagaimana bentuk pelaksanaan Tradisi Marhaban dalam pembangunan rumah panggung pada Mayarakat Desa Sambori Kecamatan Lambitu Kabupaten Bima, kemudian Apa fungsi dan makna yang terkandung dalam pelaksanaan pembangunan rumah panggung pada Mayarakat Desa Sambori Kecamatan Lambitu Kabupaten Bima.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriftip, dengan sumber utama, pengumpulan data ini dilakukan dengan cara obsesrvasi, wawancara, dan dokumentasi. Data ini di analisis penyajian data dan menarik kesimpulan atau verifikasi.

Keabsahan data menggunakan trianggulasi sumber. Dan hasil penelitian ini menunjukan beberapa hal, yakni Bentuk kegiatan marhaban dalam kehidupan masyarakat Sambori sangat berperan

(15)

xvi

penting yaitu untuk membentuk, mengukuhkan, serta menguatkan kembali rasa solidaritas, serta kerja sama antar masyarakat Sambori. Oleh karena itulah tradisi marhaban ini masih dilaksanakan.

Kata Kunci: Sambori,Tradisi marhaban, Kerja sama.

(16)

1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Indonesia sebagai Negara kepulauan memiliki wilayah yang luas, terbentang dari Aceh sampai ke Papua. Ada 17.504 pulau yang tersebar di seluruh Indonesia, yang terdiri atas 8.651 pulau yang bernama dan 8.853 pulau yang belum bernama. Di samping kekayaan alam dengan keberagaman hayati dan nabati.1 Indonesia juga dikenal sebagai Negara yang kaya akan budaya dan Tradisi, setiap daerah yang ada di Indonesia mempunyai Tradisi serta kebudayaanya masing- masing seperti di Pulau Sumatra, Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, termasuk Pulau Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat.2

Tradisi maupun kebudayaan merupakan upaya masyarakat untuk terus menerus secara dialektis menjawab tantangan yang dihadapkan kepadanya dengan menciptakan berbagai prasarana dan sarana. Sistem religi dan Tradisi untuk meminta keselamatan merupakan unsur Tradisi yang memiliki cari khas dari masing-masing daerah tertentu. Sehingga sistem religi dan Tradisi keselamatan menjadi hal yang sakral dan

1Heny Gustini Nuraeni, dkk, Studi Budaya Di Indonesia, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2012), hlm.19.

2Saepurohman, “Tradisi Aurodan di Ujung Selatan Garut”, Al-Tsaqafa Jurnal Ilmu Peradaban Islam, Vol. 17, Nomor 2, Desember 2020. hlm.1.

(17)

memilki arti tersendiri bagi masyarakatnya. Salah satunya yaitu adat-istiadat seperti Tradisi Marhaban dalam pembangunan rumah panggung pada masyarakat Desa Sambori sebagai Tradisi keagamaan yang masih dilestarikan hingga saat ini.

Tradisi Marhaban dilaksanakan dalam peristiwa penting dalam kehidupan seseorang. Peristiwa tersebut seperti, penikahan, cukuran rambut bayi, serta upacara permohonan keselamatan, dan masih banyak lagi peristiwa-peristiwa lainnya. Akan tetapi Marhaban pada masyarakat Desa Sambori hanya dikhususkan ketika ingin membangun ruma panggung.3

Dalam Tradisi masyarakat Bima, Tradisi yang dilakukan masih dengan sarat dan pengaruh budaya lokal, seperti keyakinan Animisme dan Dinamisme, sehingga dengan kedatangan Islam mulai mempengaruhi Tradisi dengan nilai- nilai Islam. Pada setiap siklus kehidupan manusia mulai dari kandungan, kelahiran, sunatan, pernikahan, serta ritual permohonan keselamatan, terdapat Tradisi lokal yang akulturasi dengan unsur-unsur keIslaman.

Peralihan status dalam masyarakat merupakan suatu hal yang sering dilakukan dalam kehidupan masyarakat. Setiap peralihan status diiringi dengan Tradisi Kagamaan untuk mengindari sesuatu yang tidak diinginkan. Tanda peralihan

3Ahmad Khalil, Islam Jawa, Sufisme dalam Etika dan Tradisi Jawa (Malang: Universitas Islam Negeri Malang Press, 2008), hlm. 278.

(18)

pada masyarakat Sambori ditandai dengan dilaksanakannya Tradisi Marhaban. Marhaban adalah Tradisi masyarakat Desa Sambori berupa pujian kepada Nabi dan Rasulnya dan disempurnakan dengan Pembacaan kitab Al-barzanji.4 Tradisi Marhaban merupakan Tradisi yang bernafaskan Islam yang dilaksanakan pada malam hari, sebelum dibangunnya rumah panggung pada pagi hari. Dahulu kegiatan Marhaban dilakukan pada saat ingin membangun rumah lengge (rumah adat masyarakat suku Bima/Mbojo), karena jaman dulu masyarakat Desa Sambori menggunakan rumah lengge sebagai tempat tinggal, oleh karena itulah Tradisi Marhaban pada masyarakat Desa Sambori hanya dilakukan pada saat ingin membangun rumah panggung saja, sedangkan dalam pembangunan rumah biasa (Batu) tidak dilaksanakan kegiatan Marhaban.5

Tujuan Tradisi Marhaban adalah untuk memohon agar diberi keselamatan dan kelancaran, juga bertujuan agar rumah yang akan dibangun mendapatkan keberkahan, rezeki yang banyak, dijauhkan dari segala mara bahaya, dan agar diberi kesehatan bagi pemilik rumah. Tradisi ini biasanya dilaksanakan apabila semua persyaratan yang menjadi ketentuan sudah tersedia dan sudah lengkap, seperti

4Raja Malki Nur Andrian, “Tradisi Ikat Nama Di Desa Harapan Kecamatan Sungai Apit Kabupaten Siak”, Jom fisip vol.6, Edisi 11 Juli-Desember 2019.

hlm.3.

5 Alan Malingi, Sambori, ( Bima: Polydoor.2011), hlm.7.

(19)

mengumpulkan bahan bangunan berupa kayu, penentuan hari agar bisa melaksanakan kegiatan Marhaban, dan menyiapkan bahan makanan untuk membuat sesajen. Sesajen yang dimaksud disini berbeda dengan sesajen yang biasa disimpan pada pohon-pohon atau bebatuan untuk dipersembahkan kepada roh-roh yang indentik dengan perbuatan yang mengarah pada hal-hal yang syirik. Akan tetapi pada masyarakat Desa Sambori Sesajen atau yang biasa dikenal dengan nama Soji ini adalah salah satu persyaratan penting yang memiliki makna yang cukup mendalam bagi masyarakat Desa Sambori, dimana Sesajen yang dibuat ini nantinya akan dimakan secara bersama-sama oleh masyarakat Desa Sambori yang berkesempatan hadir dalam kegiatan Marhaban6. Setelah semua persyaratan sudah disiapkan kemudian dilanjutkan dengan kegiatan Marhaban yang dihadiri oleh anggota keluarga dan warga masyarakat setempat. Pada kehidupan masyarakat Desa Sambori setiap kali ingin membangun rumah panggung akan melaksanakan Tradisi Marhaban, karena Tradisi Marhaban merupakan Tradisi untuk memohon agar diberi keselamatan, Tradisi ini merupakan Tradisi yang bernafaskan Islam yang sudah diyakini secara turun-temurun oleh warga masyarakat Desa.

6 Observasi Penelitian, pada tgl 05 Agustus 2021.

(20)

Pada pelaksanaan Tradisi Marhaban ini terdapat nilai keagamaan seperti adanya pembacaan Sholawat yang terdapat pada kitab Al-Barjanzi, juga memiliki fungsi serta makna yang mendalam yaitu sebagai sarana untuk memohon keselamatan,mempererat hubungan silaturahim antara anggota keluarga maupun dengan anggota masyarakat lain. Pada kegiatan Tradisi Marhaban ini juga dapat memberikan rasa solidaritas sosial kepada anggota keluarga dan sesama anggota masyarakat yaitu masyarakat dapat saling berperan membantu satu sama lain dan saling berpartisipasi untuk bekerja sama agar kegiatan Marhaban dapat dilaksanakan.7 Oleh karena itu perlu adanya kajian yang mendalam tentang Tradisi Marhaban dalam pembangunan rumah panggung sebagai bentuk kegiatan ritual keagamaan serta sebagai bentuk kegiatan sosial pada masyarakat Desa Sambori.

Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan oleh peneliti, Tradisi Marhaban pada masyarakat Desa Sambori masih dilaksanakan oleh masyarakat Desa Sambori apabila ingin membangun rumah panggung, masyarakat Desa Sambori meyakini bahwa Tradisi Marhaban merupakan sebuah Tradisi yang dapat mendekatkan diri kepada Sang Pancipta lewat

7Agus Saputra, “Fungsi Tradisi Barzanji Dalam Perkawinan Masyarakat Melayu Desa Bangun Rejo:Kajian Falkor”, (Skripsi, Fakultas Ilimu Budaya Universitas Sumetera Utara, Medan, 2017), hlm.6.

(21)

lantunan Sholawat yang dibacakan, dalam kegiatan Marhaban masyarakat Desa Sambori dapat memperkuat rasa solidaritas sosial maupun kepedulian antar sesama masyarakat.8 Solidaritas sosial merupakan rasa kebersamaan, sehingga dapat saling bekerjasama dengan tujuan untuk mencapai tujuan bersama. Salah satu aktivitas yang mencerminkan kerja sama pada masyarakat Desa Sambori bisa dilihat apabila masyarakat memiliki kegiatan baik untuk kepentingan individu ataupun kepetingan bersama.

Seperti ketika ada kegiatan memperbaiki masjid dan membersihkan masjid setiap hari jum‟at. Masyarakat Desa Sambori akan berkerjasama untuk memperbaiki masjid dan membersihkan secara bersama-sama masjid tersebut. Sama halnya ketika masyarakat ingin mengadakan kegiatan Marhaban dan membangun rumah panggung. Masyarakat setempat akan saling membantu satu sama lain, sehingga dapat menciptakan hubungan yang harmonis, tali silaturahim tetap terhubung, memiliki rasa kepedulian, rasa simpati untuk berkerjasama dengan anggota masyarakat setempat.

Oleh sebab itu Tradisi Marhaban ini masih dilakukan sampai sekarang. Masyarakat Sambori percaya bahwa Tradisi Marhaban berfugsi sebagai aktivitas untuk menimbulkan

8Observasi Penelitian, pada tgl 05 Agustus 2021.

(22)

kembali semangat kehidupan bersosial antara warga masyarakat. Karena dalam kehidupan bersosial akan ada semangat kehidupan bersosial menurun karena disibukkan dengan kepentingan individual sehingga dapat menurunkan semangat kerja sama dan mengakibatkan kelesuan dalam kehidupan bermasyarakat.9

Oleh karena itu Tradisi Marhaban harus dipertahankan dan dilestarikan agar tidak luntur. Selain sebagai Tradisi yang dapat mendekatkan diri kepada sang pencipta lewat lantunan sholawat yang dibacakan melalui Kitab Al-Barjanzi, Tradisi Marhaban ini juga dapat meningkatkan kembali nilai kerja sama antar kehidupan bermasyarakat di Desa Sambori lewat kegiatan pembangunan rumah panggung. Dikatakan sebagai salah satu kegiatan yang dapat meningkatkan kembali nilai kerja sama karena pada kegiatan pembangunan rumah panggung masyarakat dapat saling bertemu dan betegur sapa kembali ditengah kesibukan masing-masing.10

Dari latar belakang diatas, maka peneliti merumuskan judul yaitu “Tradisi Marhaban dalam pembangunan rumah panggung pada masyarakat Desa Sambori Kecamatan Lambitu Kabupaten Bima”.

9Yuahana Catur Saputra, “Tradisi Mapas di Desa Karangtengah Kecamatan Banjarnegara Kabupaten Banjarnegara, (Skripsi, FADIB UIN Kalijaga Yogyakarta, 2015), hlm.8.

10Observasi Penelitian, pada tgl 05 Agustus 2021.

(23)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dari latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana bentuk pelaksanaan Tradisi Marhaban dalam pembangunan rumah panggung pada masyarakat Desa Sambori Kecamatan Lambitu Kabupaten Bima?

2. Apa fungsi dan makna Tradisi Marhaban dalam pembangunan rumah panggung pada masyarakat Desa Sambori Kecamatan Lambitu Kabupaten Bima?

C. Tujuan dan Manfaat 1) Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah :

a. Untuk mengetahui bentuk pelaksanaan Tradisi Marhaban dalam pembangunan rumah panggung pada masyarakat Desa Sambori Kecamatan Lambitu Kabupaten Bima.

b. Untuk mengetahui fungsi dan makna yang terkandung pada Tradisi Marhaban dalam pembangunan rumah panggung pada masyarakat Desa Sambori Kecamatan Lambitu Kabupaten Bima melestarikan Manfaat Penelitian.

2) Manfaat Penelitian.

(24)

Berdasarkan tujuan penelitian di atas maka manfaat dari penelitian ini adalah :

a. Secara Teoritis

Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi para akademisi dan dapat menambah wawasan dan khazanah keilmuan di bidang sosiologi agama, khususnya terkait dengan Tradisi Marhaban dalam pembangunan rumah panggung pada masyarakat Desa Sambori Kecamatan Lambitu Kabupaten Bima.

b. Secara Praktis

Secara praktis hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi pemahaman dan informasi mengenai Tradisi Marhaban dalam pembangunan rumah panggung pada masyarakat Desa Sambori Kecamatan Lambitu Kabupaten Bima.

D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian

Agar tidak kehilangan arah, maka penelitian karya ilmiah ini membatasi cakupan dalam penelitian sehingga penelitian yang akan dilakukan benar-benar fokus pada Tradisi Marhaban dalam pembangunan rumah panggung pada masyarakat Desa Sambori Kecamatan Lambitu Kabupaten Bima.

(25)

Setting penelitian atau tempat yang dijadikan sebagai lokasi penelitian ini adalah di Desa Sambori Kecamatan Lambitu Kabupaten Bima. Alasan peneliti memilih desa Sambori sebagai tempat penelitian adalah kerena masyarakat Desa Sambori memiliki Budaya dan Tradisi yang sangat beragam dan terbilang unik juga dalam Tradisi pada masyarakat Desa Sambori memiliki arti serta tujuan tertentu, seperti Tradisi Marhaban dalam pembangunan rumah panggung pada masyarakat Desa Sambori Kecamatan Lambitu Kabupaten Bima. Tradisi ini masih dilaksanakan sampai saat sekarang. Hal inilah alasan mengapa peneliti memilih Desa Sambori sebagai tempat penelitian.

E. Telaah Pustaka

Untuk mendukung penelitian ini maka dilakukan telaah pustaka pada penelitian terdahulu yang berkaitan dengan tema yang akan diteliti yaitu:

1. Skripsi oleh Zairi Amarullah tentang, “Tradisi Cukuran Bayi Masyarakat Muslim Seberang Kota Jambi Menurut Hukum Islam”. Dari skripsi Zairi Amarullah menyimpulkan bahwa kebudayaan mencukur rambut bayi ini merupakan suatu nilai yang telah dilakukan secara turun temurun, sehingga apapun kepercayaan yang dianut di Indonesia, hal ini tetap dilakukan. Asalkan nilai-nilai tersebut tidak menyimpang

(26)

dari ajaran Islam. Pada Tradisi Kukur Rambut Bayi ini senantiasa pula dilakukan Marhabaan dan barjanzi yang memuji kebesaran akan Nabi Allah, Nabi Muhammad SAW.11 Sedangkan Marhaban pada masyarakat Desa Sambori di lakukan ketika hendak membangun rumah panggung, setelah melakukan berbagai rituan seperti mengumpulkan bahan-bahan untuk membangun rumah panggung pada satu tempat guna untuk membedakan mana kayu hasil curian atau bukan. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan pendekataan yuridis empiris dengan metode pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Perbedaan penelitian sekarang dengan penelitian yang dilakukan oleh Zairil Amarullah terletak pada lokasi penelitian, konteks persoalan yang dikaji dimana pada penelitian ini membahas tentang Tradisi Marhaban dalam pembangunan rumah panggung pada masyarakat Desa Sambori Kecamatan Lambitu Kabupaten Bima, Sedangkan pada penelitian Zairil Amarullah mengkaji tentang Tradisi Cukuran Rambut Bayi pada masyarakat muslim Seberang kota Jambi menurut Hukum Islam. Perbedaan lainya

11Zairil Amarullah, “Tradisi Cukuran Bayi Masyarakat Muslim Seberang Kota Jambi Menurut Hukum Islam, (Skripsi, Fakultas Syari‟ah UIN Sultan Thaha Saifuddin, Jambi, 2018), hlm.57.

(27)

terletak pada konteks penggunaan Marhaban dan pembacaan Barjanzi, dimana pada penelitian Zairil Amarullah Marhaban dan pembacaan Barjanzi dilakukan ketika hendak menyelengarakan acara Cukuran Rambut Bayi, Sedangkan pada penelitian ini Marhaban dan pembacaan Barjanzi diselenggarakan ketika masyarakat Desa Sambori hendak ingin membangun rumah panggung.

Persamaan penelitian sekarang dengan penelitian Zairil Amarullah terletak pada teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Persamaan lainya terletak pada sama-sama membahas tentang Marhaban dan pembacaan Barjanzi saat di selenggarakannya Tradisi Keagamaan. Persamaan lainya terletak pada maksud dan tujuan dari Tradisi Keagamaan Marhaban yang dilakukan, dimana Tradisi yang dilakukan mempunyai tujuan untuk meminta keselamatan dalam kehidupan keluarga dan anggota keluarga, maupun bagi angota masyarakat yang berkesempatan hadir dalam acara Marhaban dan merupakan sarana untuk mengumpulkan anggota keluarga dan anggota masyarakat.

2. Skripsi oleh Agus Saputra tentang, “Fungsi Tradisi Barjanzi Dalam Perkawinan Masyarakat Melayu Desa Bangun Rejo:

Kajian Folkor”. Dari skripsi Agus Saputra menyimpulkan

(28)

bahwa Tradisi Barzanji memiliki peranan yang sangat penting dalam pelaksanaan perkawinan pada masyarakat melayu, Karena Tradisi Barzanji merupakan kelengkapan yang harus ada dalam perkawinan masyarakat melayu.

Tradisi Barzanji juga berfungsi sebagai sarana mempererat hubungan antara keluarga dan anggota masyarakat.

Disamping itu dalam Tradisi Barzanji juga terkandung nilai religius, nilai sosial, dan nilai budaya.12 Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif yang bersifat deskripstif, dan teknik pengumpulan data yang digunakan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh Agus Saputra terletak pada lokasi penelitian, konteks persoalan yang di kaji dimana pada penelitian ini akan membahas tentang Tradisi Marhaban dalam pembangunan rumah panggung pada masyarakat Desa Sambori Kecamatan Lambitu Kabupaten Bima. Sedangkan pada penelitian Agus Saputra mengkaji tentang fungsi Tradisi Barjanzi dalam perkawinan masyarakat Melayu desa Bangun Rejo : kajian folkor. Perbedaan lainnya terletak pada konteks penggunaan Tradisi Marhabaan dan pembacaan

12Agus Saputra, “Fungsi Tradisi Barjanzi Dalam Perkawinan Masyarakat Melayu Desa Bangun Rejo : Kajian Folkor”, (Skripsi, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, Medan, 2017), hlm. 70.

(29)

Barjanzi, dimana pada penelitian ini Tradisi Marhaban diselenggarakan ketika hendak ingin membangun rumah panggung, sedangkan pada penelitian Agus Saputra Marhaban dan pembacaan Barjanzi dilakukan ketika hendak ingin menyelenggarakan acara pernikahan.

Persamaan penelitian sekarang dengan penelitian Agus Saputra terletak pada teknik pengumpulan data yang digunakan antara lain observasi, wawancara, dan dokumentasi. Persamaan lainnya terletak pada sama-sama membahas tentang Marhaban dan pembacaan Barjanzi, maksud dan tujuan diselengarakannya Tradisi keagamaan Marhaban yaitu sebagai upaya untuk meminta keselamatan dalam kehidupan keluarga maupun anggota keluarga lain serta sebagai sarana untuk saling bertemu dan bersilaturrahim dengan sesama anggota keluarga dan anggota masyarakat.

3. Skripsi oleh Novi Febrina tentang, “Pergeseran Tradisi keagamaan Marhaban di desa Sampan Kecamatan Pemali Kebupaten Bangka”. Dari skripsi Novi Febrina menyimpulkan bahwa Tradisi Marhaban di Desa Sempan ini masih dpertahankan meskipun dalam perkembangannya sudah mengalami pergeseran. Pergeseran Tradisi Marhaban dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti adanya kontak

(30)

dengan kebudayaan asing, penduduk yang heterogen, dan di pengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin maju.13 Metode yang digunakan dalam teknik pengumpulan data digunakan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis pengumpulan data dengan reduksi data, verifikasi dan penarikan kesimpulan.

Perbedaan penelitian sekarang dengan penelitian Novi Febriana terletak pada lokasi penelitan, konteks persoalan yang dikaji dimana pada penelitian ini membahas tentang Tradisi Marhaban dalam pembangunan rumah panggung pada masyarakat Desa Sambori Kecamatan Lambitu Kabupaten Bima, sedangkan penelitian Novi Febriana membahas tentang pergeseran Tradisi keagamaan Marhaban di Desa Sampan Kecamatan Pemali Kebupaten Bangka.

Perbedaan lainya terletak pada konteks permasalahan, dimana pada rumusan masalahnya Novi Febriana membahas tentang faktor-faktor yang menyebabkan pergeseran Tradisi Keagamaan Marhaban di Desa Sempan.

Sedangkan pada penelitian ini membahahas tentang bagaimana bentuk pelaksanaan serta fungsi dan makna

13Novi Febrina Tentang, “Pergeseran Tradisi Keagamaan Marhaban di Desa Sampan Kecamatan Pemali Kebupaten Bangka”, (Skripsi, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Bangka Belitung,Balunijuk 2016), hlm. 4.

(31)

yang terkandung pada Tradisi Marhaban dalam pembangunan rumah rumah panggung pada masyarakat Desa Sambori Kecamatan Lambitu Kabupaten Bima.

Persamaan penelitian ini dengan penelitian Novi Febriana terletak pada teknik pengumpulan data yang digunakan dengan observasi, wawancara, dan dukumentasi. serta persamaan lainnya terletak pada sama-sama membahas tentang Tradisi Marhaban sebagai Tradisi Keagamaan yang masih dipertahakan.

F. Kerangka Teori

Adapun teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori Ritus Peralihan Oleh Van Gennep dan Teori Solidaritas Sosial oleh Emile Durkheim.

1) Teori Ritus Peralihan oleh van Gennep

Arnold Van Gennep (1873-1957) manganggap bahwa ritus maupun upacara religi secara universal pada asasnya berfugsi sebagai aktivitas untuk menimbulkan kembali semangat kehidupan bersosial antara warga masyarakat. Karena kehidupan sosial dalam setiap masyarakat yang hidup di dunia dilakukan secara berulang, dengan interval dan dengan waktu tertentu, sehingga membutuhkan regenerasi atau semangat kehidupan sosial. Hal itu disebabkan karena akan ada

(32)

saat-saat dimana semangat kehidupan sosial bisa saja menurun seiring berjalannya waktu yang mengakibatkan kelesuan dalam masyarakat.14

Penganut teori ini berpendapat bahwa dalam setiap tahap-tahap pertumbuhan sebagai suatu individu (lahir masa kanak-kanak, dewasa, menikah, tua, dan meninggal) manusia akan mengalami perubahan- perubahan biologis serta perubahan dalam lingkungan kehidupan sosal dan kebudayaan yang dapat mempengaruhi jiwa dan menimbulkan krisis mental.

Maka dari itu dalam lingkaran hidupnya manusia memerlukan regenerasi atau semangat kehidupan.15

Menurut teori ini sebuah ritual peralihan yang berhubungan dengan perpindahan orang-orang dari kelompok dalam wilayah tertentu menuju status baru, misalnya masa pertunangan dan perkawinan, kehamilan dan kelahiran, dan upacara-upacara keselamatan dan pemakaman, juga dalam ritual-ritual dalam teori ini mejelaskan bahwa semua kebudayaan memiliki kelompok ritual yang akan memperingati setiap masa peralihan

14Yuahana Catur Saputra, “Tradisi Mapas di Desa Karangtengah Kecamatan Banjarnegara Kabupaten Banjarnegara", (Skripsi, FADIB UIN Kalijaga Yogyakarta, Yogyakarta, 2015), hlm.8.

15Ibid.

(33)

individu dari suatu status sosial ke status sosial yang baru.

Telaah sebuah ritus peralihan tidak terlepas dari tiga konsep ritus peralihan, yaitu:

a. Perpisahan (sepration).

Perpisahan biasanya dilambangkan dengan kematian, maupun perubahan pada manusia itu sendiri. Sehingga dapat diartikan dimana seseorang itu tidak lagi terlibat dalam peran atau status sosial yang lama. Biasanya terdiri dari tindakan-tindakan yang melambangkan perpisahan itu sendiri. Bisa juga dilambangkan dengan ritual-ritual tertentu.

b. Peralihan (marge).

Peralihan ini dapat ditandai dengan dimana seorang sedang yang beradaptasi dengan perubahan yang sedang terjadi pada dirinya sendiri, yang dilakukan agar bisa menyesuaikan dengan peran baru dan keadaan baru dengan menghilangkan status lama dalam kehidupan bermasyarakat.

c. Integrasi (agregration).

Adalah pengukuhan individu maupun kelompok.

Pengukuhan ini dilakukan kedalam kehidupan serta lingkungan sosial yang baru sehingga secara pralambang

(34)

individu maupun kelompok tertentu merasa seakan- akan mereka dilahirkan kembali.16

Dari ketiga fase ritual ini memiliki tujuan untuk mecegah perubahan yang tidak diinginkan. Perubahan yang dimaksud merupakan perubahan yang terbilang kecil, suatu koreksi yang akan menimbulkan suatu keseimbangan dan status quo, juga untuk melestarikan gerakan sistem sosial yang memiliki ikatan-ikatan, misalnya saja ritual keselamatan, ritual keselamatan dalam membangun rumah panggung ini memiliki arti yang melambangkan suatu tradisi tradisional sebagai tanda syukur, keselamatan, solidaritas, doa dan kebahagian bagi orang yang memiliki rumah juga bagi masyarakat setempat.17

Berdasarkan paparan dari teori di atas, peneliti menyimpulkan bahwa tradisi merupakan sebuah aktivitas yang dapat menimbulkan kembali semangat kehidupan bersosial jika dilakukan secara berulang dengan kurun waktu tertentu. Tradisi juga dapat

16Ibid., hlm.9.

17Suhupawati,dkk, “Upacara Adat Kelahiran Sebagai Nilai Sosial Budaya Pada Masyarakat Suku Sasak Desa pengandangan(Arikel Vol, 2, Nomor. 2, Desember 2017),hlm.16.

(35)

mengalami kelesuan sehingga membutuhkan regenerasi serta semangat hidup sosial.

Maka dari itu Peneliti menggunakan Teori ini meneliti mengenai Tradisi Marhaban dalam membangun rumah panggung pada masyarakat Desa Sambori.

Karena akan ada saat dimana sebuah Tradsi yang hidup di lingkungan bermasyarakat mengalami penurunan sehingga mengakibatkan kelusuan sehingga membutuhkan regenerasi dan semangat hidup bersosial.

2) Pengertian Tradisi

Adat atau Tradisi adalah segala sesuatu yang turun temurun dari nenek moyang terdahulu yang dapat dijaga dan dipelihara. Tradisi juga merupakan kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus dan sudah disepakati pemberlakuannya dalam sebuah komunitas masyarakat yang hidup pada wilayah tertentu. Dalam kamus bahasa Indonesia, Adat atau Tradisi diartikan sebagai kebiasan turun temurun dari nenek moyang yang masih dijalankan pada kehidupan masyarakat. Kata Tradisi sendiri merupakan serapan dari kata Tradition sedangkan dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah Turath yang merupakan bentuk

(36)

Masdar dari kata Waratha yang diartikan sebagai segala sesuatu yang diwariskan oleh nenek moyang terdahulu.

Dengan demikian Tradisi adalah sesuatu yang diwariskan secara terun temurun baik itu berupa sikap, cara berpikir ataupun cara bertindak dengan tetap berpegang teguh pada norma dan adat kebiasaan yang telah disepakati pemberlakuannya dalam suatu komunitas masyarakat tertentu.18

3) Tujuan Tradisi

Tradisi bertujuan untuk memperkuat nilai-nilai seperti kekebasan, integrasi, pendidikan yang baik, rasa tanggung jawab, etos kerja yang kuat, dan memberikan nilai yang tidak mementingkan diri sendiri. Semua tujuan ini bisa terlaksanakan jika manusia bisa hidup rukun, saling menghormati satu sama lain dan sebisa mungkin menjalankan Tradisi yang sudah ada dengan baik, dan menyesuaikan dengan aturan yang hidup dalam masyarakat.19

4) Fungsi Tradisi

Ada beberapa fungsi dari Tradisi yaitu:

18Sainun, Tradisi Merari’ Potret Asimilasi Penikahan Masyarakat Sasak, (Mataram:Institut Agama Islam Negeria IAIN Mataram, Mataram, 2016), hlm.14.

19Dosen sosiologi.com, “Pengertian tradisi, ciri, jenis, tujuan, manfaat dan contohnya”, dalam https://dosensosiologi.com/pengertian-tradisi/, diakses tanggal 9 februari 2021, pukul 17:41.

(37)

a. Tradisi berfungsi sebagai fregmen warisan historis yang dipandang bermanfaat. Tradisi digunakan sebagai onggokan dan gagasan material yang dapat dipergunakan dalam setiap tindakan masa kini dan untuk membangun masa depan berdasarkan pengalaman dari masa lalu. Tradisi juga dapat dijadikan sebagai acuan untuk kehidupan yang akan datang.

b. Memberi legitimasi terhadap pandangan hidup, fungsi lain dari Tradisi adalah sebagai pemberi legitimasi pada pandangan hidup, keyakinan, pranata, maupun aturan yang sudah ada. Dan semua ini memberlukan pembenaran agar dapat mengikat anggotanya. Seperti wewenang seseorang raja yang disahkan oleh Tradisi dari seluruh dinasti terdahulu.

c. Memberikan simbol identitas kolektif yang meyakinkan, memperkuat loyalitas primordial terhadap bangsa, komunitas maupun anggota kelompok seperti Tradisi Nasional dengan Lagu, Bendera, Emblem, Mitologi dan Ritual Umum. Tradisi Nasional selalui di kaitkan dengan Sejarah, dan

(38)

menggunakan masa lalu untuk memelihara Persatuan Bangsa.20

5) Konsep Marhaban

a) Pengertian Marhaban

Marhaban adalah Tradisi masyarakat Desa Sambori berupa acara doa dan shalawat yang bertujuan untuk memohon keselamatan bagi anggota keluarga atau yang mempunyai rumah, lewat lantunan doa dan shalawat terhadap Nabi Muhammad SAW yang syairnya ditulis dalam buku yang biasa disebut dengan kitab Al-Barjanzi.

Marhaban berasal dari bahasa Arab yaitu Marhaban, dikarenakan dalam Tradisi ini dibacakan syair shalawat yang dituliskan dalam buku yang biasa disebut dengan kitab Al-Barjanzi yang berbunyi “ya Nabi salam „alaika, mahall al-qiyam”. Shalawat ini pada masyarakat Desa Sambori dikenal dengan Marhaban, oleh karena itu Tradisi ini biasa dikenal dengan Tradisi Marhaban.21

20Piotr Sztompkz, Sosiologi Perubahan Sosial, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2014), hlm.74-75.

21Ridhoul Wahidi, “Budaya dan Agama Sebagai Indentiats Islam Nusantara: Kajian Atas Tradisi Marhaba’an/Maulid Nabi Di Tanah Sunda”

Jurnal Madania,Vol.5,Nomor 2,2015,hlm.202.

(39)

Tradisi Marhaban dilakukan dimasing-masing rumah anggota masyarakat, kegiatan ini dilakukan pada malam hari, mulai dari ba‟da isya‟ sampai selesai. Acara Marhaban ini tidak memiliki batas waktu tertentu. Setelah acara Marhaban ini selesai makan akan dilanjutkan dengan acara makan-makan bersama anggota keluarga dan masyarakat yang hadir dalam kegiatan Marhaban tersebut. Pada hakekatnya acara Marhaban ini adalah sarana untuk mengumpulkan dan mempertemukan anggota keluarga dan masyarakat.

b) Sejarah Lahirnya Tradisi Marhaban

Pada zaman naka (pra-sejarah), masyarakat dari Bima pada umumnya menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Animisme dan dinamisme yaitu mempercayai adanya parafu, roh nenek moyang, roh, benda-benda roh yang berada di gunung-gunung, pepohonan, batu, bulan dan matahari, demikian juga dengan masyarakat Desa Sambori. Masyarakat Desa Sambori mempercayai bahwa roh dan benda tersebut dianggap sebagai dewa (tuhan) penolong yang setiap waktu dapat dimintai pertolongan, wujud dari kepercayaan tersebut dapat dilihat dari adanya batu-

(40)

batu persembahan atau tempat persembahan (bungke) di sekitar wilayah Desa Sambori yang mereka sakralkan.

Seiring dengan berjalannya waktu banyak masyarakat lain yang masuk dalam wilayah Bima, seperti orang-orang Makasar atau Goa pada abad ke- 17 atau sekitar tahun 1940 Masehi dari kesultanan Goa (Makasar) membawa misi Islam ke kesultanan Bima agar masyarakat Bima dapat menerima Islam sebagai kepercayaan atau keyakinanya untuk masyarakat Desa Sambori. Pada zaman kesultanan Bima, masyarakat Bima pada umumnya sangat taat dan patuh terhadap kesultanan Bima atau kepada Rajanya.

Kemudian seiring berjalannya waktu masyarakat Bima sedikit demi sedikit meninggalkan ajaran animisme dan dinamisme untuk menenerima kepercayaan agama Islam khususnya masyarakat Desa Sambori. Meskipun ajaran agama Islam tidak di terima secara utuh, tetapi sedikit demi sedikit masyarakat Desa Sambori melihat dan menyaksikan sendiri bagaimana ajaran Agama Islam merupakan agama yang baik, dengan cara menyalurkan agama

(41)

Islam melalui kegiatan-kegiatan keagamaan, karena pada zaman dahulu upacara maupun ritual merupakan bagian terpenting dalam kehidupan masyarakat Desa Sambori. Karena seluruh fase kehidupan manusia tidak terlepas dari upacara maupun prosesi adat. Pada Zaman dahulu, dikalangan warga Desa Sambori memiliki beberapa upacara maupun ritual baik itu ritual keagamaan maupun ritual kegiatan sosial, yaitu antara lain upacara kelahiran, Suna Ro Ndoso (khitanan), Nika Ro Neku (Pernikahan), kanggihi (pertanian), Ngaha Ncore (tolak bala), serta upacara dan ritual kematian maupun Tradisi Marhaban dalam membangun rumah panggung.

Dalam perjalanan misi untuk menyebarkan ajaran Islam, belum diketahui dengan jelas kapan masyarakat Desa Sambori mulai menjalankan serta mempelajari kesenian maupun Tradisi Marhaban dalam membangun rumah panggung. Namun bertolak dari kegiatan Marhaban tentu saja dengan tujuan menyiarkan ajaran agama Islam. Sehingga masyarakat dapat dikumpulkan lewat perkumpulan kesenian hadrah maupun lewat Dzikir, dan Marhaban

(42)

dengan berkeyakinan mendapatkan ridho, berkah, keselamatan dan jauh dari segala marabahaya.

Kegiatan Marhaban kini hidup dan sudah menjadi bagian dari prosesi adat pada masyarakat Sambori pada saat masyarakat ingin membangun rumah panggung”.22

6) Konsep Rumah Panggung

a) Pengertian Rumah Panggung

Rumah panggung adalah rumah yang dibangun dari sebagian besar bahanya adalah kayu jati, sedangkan atapnya terbuat dari seng. Bangunanya tersususun dari beberapa bagian yang memiliki fungsi yang berbeda-beda.23 Rumah panggung ini bisa ditemukan pada masyarakat yang tinggal diperdesaan, seperti yang ada di Desa Sambori.

b) Fungsi Rumah Panggung

Rumah adalah salah satu kebutuhan pokok manusia. Rumah adalah tempat yang dijadikan sebagian besar orang untuk tempat pulang, istrahat, tempat bertemunya anggota kelurga dan

22Iksan Ridwan,Tokoh Budaya Desa Sambori,Wawancara, di Desa Sambori,pada tanggal 06 Agustus 2021.

23Faisal Al Faisal, Mengenal Rancangan Bangunan Rumah Adat di Indonesia,(Jakarta:Badang Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017), hlm.30.

(43)

tempat untuk bermusyawah dan memiliki banyak fungsi lainya. yang membedakannya hanyalah bentuk dan bahan dalam pembuatan masing-masih rumah tersebut.

7) Konsep Solidaritas Sosial

a) Pengertian solidaritas sosial

Solidaritas sosial merupakan suatu kelompok masyarakat yang dibentuk oleh pekerjaan dan pengalaman yang sama sehingga memiliki nilai serta kepentingan bersama.24 Menurut Emile Durkheim solidaritas sosial adalah kesamaan dan kekompakan yang merujuk pada suatu hubungan antara indivdu maupun kelompok masyarakat sehingga dapat membentuk sistem yang tetap yang didasari oleh perasaan moral dan kepercayaan bersama dan di diperkuat oleh pengalaman bersama.25

b) Macam-macam solidaritas sosial menurut Emile Durkheim

1) Solidaritas mekanis adalah solidaraitas yang didasari oleh kesadaran kolektif yang lebih kuat pada masyarakat yang sama yang terdiri dari

24George Ritzier, Dkk, Teori Sosiologi Dari Teori Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmoderen, (Bantul: Kreasi Wacana, 2012),hlm.89.

25 Ibid., hlm. 85.

(44)

pemahaman, norma dan kepercayaan bersama.

Hal ini sesuai dengan pernyataan Emile Durkheim tentang solidaritas mekanis didasari oleh suatu kesadaran kolektif bersama yang menunjukan pada kesamaan dan kepercayaan pada suatu kelompok masyarakat. Hal ini merupakan solidaritas yang memiliki ketergantungan pada individualis sehingga tidak berkembang, karena dipengaruhi oleh tekanan yang besar.26

2) Solidaritas organis

Solidaritas organis adalah solidaritas sosial yang ditandai dengan masyarakat yang kompleks, yang mulanya berawal dari masyarakat yang saling bergantungan tetapi dipisahkan oleh pembagian pekerjaan sehingga tidak lagi memiliki kepentingaan bersama. Oleh Karena itu teori ini juga merupakan bukti yang dapat menjelsakan bahwa teori sosiologi menunjuk pada kepentingan dan gagasan-gagasan

26George Ritzer, Dkk, Teori Sosiologi Dari Teori Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Mutakthir Teori Sosial Postmodern, hlm.92.

(45)

bersama untuk memenuhi kebutuhan bermasyarakat.27

Dari dua macam solidaris yang dipaparkan diatas, yang digunakan adalah solidaritas mekanis. kaitan teori solidaritas sosial dengan penelitian ini yaitu masyarakat Sambori merupakan makhluk sosial yang yang sadar akan pentingnya nilai kerjasama, sehingga sejalan dengan teori mekanis yang mengatakan bahwa kesadaran kolektif yang kuat itu dilandasi oleh pemahaman, norma dan kepercayaan bersama, sehingga searah dengan dengan masyarakat Sambori yang dimana pada masyarakat ini rasa solidaritas sudah tertanam dari setiap diri inividu yaitu melalui kegiatan religi atau kegiatan sosial yang membentuk kesadaran kolektif yang kuat sehingga menghasilkan nilai yang seimbang pada masyarakat Desa Sambori Kecamatan Lambitu Kabupaten Bima.

27 Ibid.

(46)

c) Bentuk- Bentuk Solidaritas Sosial 1) Kerja sama

Kerja sama merupakan bentuk solidaritas yang bisa temui dikalangan masyarakat, terutama pada masyarakat primitif. Kerja sama merupakan kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama dengan bermaksud untuk mencapai tujuan bersama yang sebelumnya telah disepakati secara musyawarah.28 Kerja sama ini lebih banyak dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di pedesaan jika di bandingkan dengan masyarakat yang tinggal diperkotaan, sehingga pada masyarakat pedesaan bentuk kerjasama ini masih dipertahankan hingga sekarang. Misalanya kerja sama dalam membangun rumah panggung pada masyarakat Desa Sambori. Tentunya dalam pembangunan rumah panggung ini membutuhkan bantuan serta kerja sama dengan anggota masyarakat yang lainnya, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri sehingga membutuhkan kerja sama dengan orang lain.

28Desti Mulyani, Peningkatan Karakter Gotong Royong di Sekolah Dasar, Jurnal Pendidikan,Vol.11 Nomor 2,Agustus 2020, hlm.230.

(47)

2) Kebersamaan (Tolong menolong)

Tolong menolong merupakan suatu kegiatan yang muncul dalam hati nurani, dengan kesadaran sendiri. Tolong menolong ini dapat melahirkan rasa kebersamaan secara alami dalam suatu lingkungan masyarakaat sehingga mendorong rasa ingin bekerjasama dengan orang lain. Gotong royong sendiri mempunyai tujuan tertentu, misalnya dalam membangun fasilitas umum maupun pribadi secara bersama-sama, dengan anggapan bahwa manusia itu tidak bisa hidup secara individual melainkan membutuhkan bantuan dan keterlibatan dari manusia lainnya dalam berbagai aspek kehidupan.29

G. Metode Penelitian

1. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif, metode ini digunakan untuk meneliti informan sebagai subjek penelitian dalam lingkungan hidup kesehariannya. Dalam penggunaan metode kualitatif ini peneliti diharuskan untuk berinteraksi secara dekat

29Adi Mandala Putra, dkk, Eksistensi Kebudayaan Tolong Menolong ( Kaseise) Sebagai Bentuk Solidaritas Sosial Pada Masyarakat Muna, Neo Societal;

Vol. 3, Nomor 2, 2018, hlm.480.

(48)

dengan sumber informan, mengenal, mengamati serta mengikuti alur kehidupan informan secara wajar, karena peneliti pada penelitian ini adalah instrument kunci.30 Alasan peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif, adalah karena pada penelitian kualitatif ini memiliki dasar deskriptif dimana peneliti sebagai instrument kunci yang dapat dipergunakan untuk memahami lebih mendalam serta bisa ikut serta dalam kehidupan dan keseharian para informan yang akan diteliti guna untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Sedangkan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiologis. Pendekatan sosiologis adalah pendekatan yang dilakukan oleh peneliti yang menjadikan masyarakat sebagai subjek pada penelitian. Pendekatan ini bertujuan untuk mempelajari tingkah laku masyarakat dalam kehidupan bersosial dengan cara berinteraksi langsung dengan subjek penelitian agar dapat memahami subjek yang akan diteliti

30Muhammad Idrus, Metode Penelitian Sosial Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif, (Jakarta: Erlangga, 2009), hlm.23-24.

(49)

sehingga mendapatkan hasil yang sesuai dengan yang diharapkan.31

Dalam penelitian kualitatif, peneliti berperan sebagai instrument kunci dan sekaligus sebagai pengumpul data sehingga kehadirannya di lokasi tempat penelitian mutlak diperlukan. Kehadiran peneliti perlu digambarkan secara jelas dalam laporan penelitian. Perlu juga dijelaskan apakah kehadiran peneliti sebagai partisipan penuh, pengamat penuh, atau pengamat partisipan. Demikian juga perlu dijelaskan apakah subyek atau informan mengetahui kehadiran penelitian dalam statusnya sebagai peneliti.32

2. kehadiran peneliti

Dalam penelitian kualitatif, kehadiran peneliti di lokasi penelitian mutlak diperlukan karena peneliti adalah instrumen kunci (key-instrumen). Karena penelitilah yang melakukan observasi, membuat catatan, serta malakukan wawancara ketika melakukan penelitian lapangan. Dalam hal ini, kehadiran peneliti perlu digambarkan secara rinci, apakah kehadiran peneliti sebagai partisipan penuh, pengamat partisipan, atau sebagai pengamat penuh. Perlu

31Nasehudi, “Analisis Kehidupan Masyarakat Melalui Pendekatan Sosiologi Pendidikan”, Jurnal Edueksos Vo. III, Nomor 2, Juli- Desember 2004, hlm. 87-88.

32Ibid, hlm.15.

(50)

juga dijelaskan apakah informan atau subjek dalam penelitian mengetahui keberadaan peneliti dalam statusnya sebagai peneliti.33

a. Subjek Penelitian

Dalam penelitian, subjek diartikan sebagai individu, benda, maupun organisme lainnya yang bisa dijadikan sebagai sumber informasi yang di butuhkan oleh seseorang peneliti. Istilah subjek yang digunakan oleh peneliti yaitu responden, orang, atau benda yang dapat memberikan informasi atau sesuatu yang dibutuhkan oleh seorang peneliti. Dalam penelitian ini subjek penelitian dapat di bagi menjadi dua yaitu:

1) porpusive sampling, merupakan teknik pengumpulan sampel berdasarkan keahlian informan, dengan tujuan agar peneliti mendapatkan informasi yang lebih akurat sesuai dengan data yang diinginkan. Dalam menggunakan porpusive sampling, peneliti biasanya memilih data yang dapat dijadikan sebagai informan yang sudah ditentukan,34

33Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2001),hlm.332.

34Muri Yusuf, Metode Penlitian Kuantitattif, Kualitatif dan Penelitian Gabungan, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2014 ),hlm.351.

(51)

2) snowball sampling, merupakan teknik pengumpulan sampel sumber data yang mula-mula jumlahnya sedikit, lama kelamaan menjadi banyak.35

Adapun subjek yang digunakan pada penelitian ini adalah sampling purposive, karena sampling purposive memiliki teknik dan ketentuan sesuai dengan kriteria yang ditentukan, karena informan merupakan subjek yang sangat penting dalam menggali informasi tentang hal-hal yang ingin diketahui sampai datanya menjadi akurat.

3.Lokasi penelitian

Lokasi dari penelitian ini adalah di Desa Sambori Kecamatan Lambitu Kabupaten Bima. Alasan peneliti memilih lokasi di Desa sambori adalah karena masyarakat Sambori masih melaksanakan Tradisi Marhaban ketika ingin membangun rumah panggung dan masyarakat tetap melestarikan Tradisi tersebut.

4. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ada dua yaitu sumber data primer dan sekunder.

a. Sumber Data Primer

35Ibid, hlm.369.

(52)

Sumber data primer merupakan sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data, dan sumber data pada penelitian ini adalah masyarakat yang melaksanakan Marhaban, tokoh masyarakat, tokoh adat,tokoh budaya dan tokoh agama, yang hidup dilingkungan tempat penelitian.36

b. Sumber Data Sekunder

Sumber data sekunder merupakan sumber data yang tidak langsung memberikan informasi kepada peneliti.37 Sumber data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari orang lain atau lewat dokumen, seperti makalah, majalah, buku, jurnal dan internet.

d. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah awal dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka penelitian tidak akan mendapatkan data yang

36Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, hlm.308.

37Ibid,309.

(53)

memenuhi standar yang sudah ditetapkan.38 Adapun teknik pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah :

a. Observasi

Observasi adalah pengamatan secara sistematis terhadap objek penelitian dengan menggunakan seluruh alat indra untuk mendapatkan data atau informasi yang benar dan lengkap. Melalui observasi, peneliti belajar tentang perilaku, dan makna dari perilaku tersebut.39

1) Observasi Partisipan adalah suatu bentuk dimana peneliti adalah bagian dari keadaan ilmiah tempat dilakukannya observasi. Dalam observasi ini peneliti dapat menjadi anggota dari sebuah kelompok sumber data dengan beberapa cara, atau dapat pula peneliti bekerjasama dengan sumber data agar dapat mengamati secara langsung dengan ikut serta melakukan apa yang dikerjakan oleh sumber data.40 Dengan tujuan agar peneliti dapat merasakan suka dan duka sumber data. Dengan observasi partisipan

38Ibid., hlm.309.

39Ibid., hlm. 310.

40James A.Black, Metode dan Masalah Penelitian Sosial, (Bandung: Refika Aditama, 1999), hlm.289.

(54)

ini, maka peneliti dapat memperoleh data lebih lengkap, tajam, sampai mengetahui pada tingkah makna dari setiap perilaku yang tampak.41

2) Observasi Non Partisipan, Observasi ini merupakan suatu bentuk observasi yang dimana peneliti mengamati tingkah laku sember data dalam keadaan alamiah, tetapi tidak melakukan partisipan terhadap kegiatan di lingungan sumber data.42 Dengan kata lain peneliti tidak ikut langsung pada kegiatan orang yang diteliti, dalam hal ini peneliti hanya menjadi penonton saja tanpa harus terjun langsung ke lapangan.43

Adapun observasi yang digunakan oleh peneliti adalah observasi partisipan, dimana pada observasi ini peneliti menjadi bagian yang ikut serta di dalam kehidupan orang yang di observasi. Dalam observasi ini, peneliti hanya bertindak sebagai objek dan subjek. Observasi ini di gunakan untuk memperoleh informasi yang lengkap serta akurat, sampai mengetahui

41Muri Yusuf, Metode Penlitian Kuantitattif, Kualiatif dan Penelitian Gabungan, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2014), hlm.384.

42James A.Black, Metode dan Masalah Penelitian Sosial,,.hlm.289.

43Ibid.

(55)

pada tingkah makna dari setiap perilaku yang sesuai dengan apa yang ingin diperoleh data mengenai Tradisi Marhaban dalam membangun rumah panggung pada masyarakat Desa Sambori Kecamatan Lambitu Kabupaten Bima.

b. Wawancara

Wawancara adalah suatu interaksi antara pewawancara dangan sumber informasi atau orang yang diwawancarai melalui komunikasi langsung.44 Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, tetapi apabila juga peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam.45

a) Wawancara terstuktur, digunakan sebagai teknik pengumpulan data, apabila peneliti sebagai pengumpul data telah mengetahui dengan pasti tentang informasi yang diperoleh dilapangan tempat penelitian. Oleh karena itu peneliti telah menyiapkan instrument

44Muri Yusuf, Metode Penlitian Kuantitattif, Kualitatif dan Penelitian Gabungan, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2014),hlm.373.

45Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D,hlm.317.

(56)

pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternatif dan jawabannyapun sudah disiapkan. Dengan wawancara ini setiap responden diberi pertanyaan yang sama dan peneliti mencatat setiap informasi yang sudah diperoleh.46

b) Wawancara tidak terstruktur, merupakan wawancara yang bebas dimana peneliti tidak memiliki pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan.47

c) Wawancara semi struktur, merupakan wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan.48

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan wawancara terstruktur, karena pada penelitian ini

46Ibid, hlm.319.

47Ibid., hlm.320.

48Ibid.

(57)

proses pengumpulan datanya dilakukan secara sistematis dan terarah. Sehingga poin-poin penting dari informan bisa didapatkan secara tepat dan cepat guna untuk mempersingkat waktu penelitian.

No Informan Identitas Waktu 1 Jafar

Arsad

Tokoh adat 06 Agustus 2021

2 Samsudin Kamal

Tokoh Agama 06 Agustus 2021

3 Iksan ridwan

Tokoh Budaya

06 Agustus 2021

4 kalisom Tokoh masyarakat

14 Agustus 2021

5 Hamid Masyarakat 14 Agustus 2021

6 Syarif Ketua Rt 14 Agustus 2021

7 Adi

syaputra

Masyarakat 03 September 2021

8 Sudirman Masyarakat 03 September 2021

(58)

c. Dokumentasi

Dokumen adalah catatan atau karya tetang sesuatu yang pernah terjadi dimasa lalu, yang bisa berbetuk teks tertulis, artefacts,gambar maupun foto. Dokumen tertulis yaitu berupa sejarah kehidupan, biografi, karya tulis, dan cerita.

Disamping itu adapula material budaya, atau hasil karya seni yang dapat dijadikan sebagai sumber informasi dalam melakukan penelitian.49 Maka dalam penelitian ini studi dokumentasi sangatlah dibutuhkan dalam proses penelitian, karena dalam teknik pengumpulan data perlu adanya dokumen- dokumen yang relevan dengan kasus yang diteliti yang bertujuan untuk memperkuat penelitian ilmiah. Sehingga data yang dibutuhkan mudah untuk didapatkan seperti, sumber-sumber tertulis berupa dokumen tertulis, makalah penelitian terdahulu, maupun buku-buku yang relevan dengan hasil yang diteliti.

Adapun data dokumentasi yang peneliti cari yaitu: Sejarah Desa, Demografi desa, Sejarah pembangunan Desa, Jumlah Penduduk, serta hasil

49Muri Yusuf, Metode Penelitian Kuantitattif, Kualitatif dan Penelitian Gabungan,,,.hlm.384.

(59)

dokumentasi kegiatan, maupun data-data lainnya yang diperlukan dalam proses penelitian.

e. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, dan bahan-bahan lain, sehingga data yang terkumpul mudah dipahami, dan temuannya dapat dinformasikan kepada orang lain. Ada dua proses analisis data pada saat melakukan penelitian lapangan yaitu: 1) analisis sebelum di lapangan dan 2) analisis selama di lapangan.50

Dalam penelitian ini, peneliti akan menganalisis data dan informasi melalui aktivitas analisis dari Miles dan Huberman, yang terdiri dari tiga proses yaitu:

a. Reduksi Data

Reduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dan membuang hal-hal yang tidak dibutuhkan.

Dengan demikian data yang telah direduksi dapat memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data yang diperlukan. Sehingga dengan

50Afifudi, Metodelogi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Pustaka Setia, 2012), hlm.183.

(60)

mereduksi data dengan cara merangkum, mengambil data yang penting, dan membuat kategorisasi, maka peneliti tetap berada dalam data.51

Tujuan dari reduksi data adalah untuk menyederhanakan data yang diperoleh selama melakukan penelitian, karena pada saat melakukan penelitian pasti terdapat banyak penemuan-penemuan baru yang tidak dikenal, dan belum memiiliki pola yang tidak ada kaitannya dengan tema penelitian.

Pada penelitian ini, peneliti telah merangkum, memilih, dan memilah hal-hal yang pokok, dan memfokuskan pada hal yang penting dan relevan dengan data penelitian.

b. Penyajian Data

Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah men-displaykan data. Dalam penelitian kualitatif, penyajian data dapat digunakan dalam bentuk uraian singkat,bagan, hubungan antara kategori flowchart dan sejenisnya. Dalam penelitian ini yang paling banyak digunakan untuk menyajikan data

51 Ibid, hlm.184.

(61)

adalah penelitian kualitatif atau teks dengan kata sifat naratif.52

Pada penelitian ini penyajian data yaitu: 1) bentuk pelaksanaan Tradisi Marhaban,2) fungsi dan makna Tradisi Marhaban dalam pembangunan rumah panggung pada masyarakat Desa Sambori Kecamatan Lambitu Kabupaten Bima.

c. Penarikan Kesimpulan/ verification

Langkah ketiga dalam menganalisis data kualitatif adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi.

Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap awal pengumpulan data selanjutnya. Tetapi, apabila kesimpulan pada tahap awal didukung oleh bukti- bukti yang valid dan konsisten saat penelitian kembali ke lapangan untuk proses pengumpulan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.53

Berdasarkan penjelasan di atas, maka peneliti menyimpulkan temuan-temuan atau data-data yang

52 Ibid.

53Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualittatif dan R&D…, hlm. 345.

Referensi

Dokumen terkait

Positifnya bisa saling bertukar pikiran antar sesama mahasiswa, melatih kepercayaan diri, meningkatkan solidaritas, memupuk rasa tanggung jawab dan dengan berorganisasi, maka

Dalam melestarikan kohesivitas pada masyarakat, dibutuhkan kerja bersama sebagai satu kesatuan, hubungan saling keterikatan dan saling membantu di antara sesama keluarga, bersama- sama

Dengan latar belakang tingginya rasa gotong royong, saling percaya, saling peduli, soliditas, solidaritas dan peran serta aktif dari semua elemen masyarakat Desa Sri

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tradisi Kumpul Kope yang diadakan sebagai bentuk solidaritas sosial pada masyarakat Desa Terong, Kecamatan Satarmese. Faktor

Keunikan dalam tradisi rokat tek-tek kemanten ini terdiri dari keanekaragaman mulai dari solidaritas sosial masyarakat yang sangat tinggi perpaduan tradisi Islam

Bentuk Solidaritas Sosial Pada Tradisi Songkabala di Bontocina Kabupaten Maros Solidaritas sosial pada tradisi songkabala di Bontocina Kabupaten Maros merupakan suatu perkumpulan

Di dalam nilai Pancasila sebagai warga negara yang baik harus memiliki rasa saling menghargai dan saling tolong menolong, nilai kebersaman dalam pelaksanaan tradisi Balale Nugal dapat

KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis, maka dapat disimpulkan bahwa ada dua model solidaritas masyarakat dalam pelaksanaan tradisi pesta ponan di desa poto kabupaten Sumbawa yaitu