• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Pembangunan Desa Sambori

Dalam dokumen tradisi marhaban dalam pembangunan rumah (Halaman 70-74)

BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN

A. Sejarah Desa Sambori

3. Sejarah Pembangunan Desa Sambori

Pada masa awal-awal pembangunan Desa Sambori, menurut penuturan turun-temurun dari kaum tua, bahwa segala kegiatan untuk kepentingan umum dilakukan secara gotong-royong. Hal tersebut terlihat dari struktur pemerintahan yang dipakai pada saat itu, dimana ada jabatan setingkat kaur saat ini yang bertugas sebagai koordinator gotong royong. Pembangun fasilitas umum yang dimaksud adalah pembangunan gedung sekolah, sarana ibadah, pembukaan jalan dari Desa Roka menuju Desa Sambori dan lain-lain.

Berdasarkan pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa pembangunan Desa Sambori pada masa permulaan dulu umumnya bersumber dari swadaya masyarakat. Selain untuk fasilitas umum, kegiatan gotong royong juga hadir dan melekat dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat seperti pada acara pernikahan warga desa, acara do‟a anggota masyarakat seperti acara do‟a Marhaban dalam pembangungunan rumah panggung, acara sunatan, khataman Al-Qur‟an dan pekerjan pertanian. Khusus pada pekerjaan pertanian dilakukan dengan cara membentuk kelompok masing-masing. Biasanya antara 10-15 KK per kelompok. Cara seperti ini bagi masyarakat Desa Sambori,

dianggap cukup membantu dalam hal mengurangi kebutuhan penggunaan modal finansial yang diperlukan dalam menyelesaikann pekerjaan pertaniannya. Kegiatan gotong royong dan kerja sama yang sudah tertanam sejak dahulu kala (diperkiran sebelum zaman penjajahan belanda) tersebut masih terbilang cukup tinggi sampai saat ini.

Hal ini serupa dengan pernyatan dari bapak Syamsudin Kamal selaku mantan kepala desa juga tokoh Agama, mengatakan bahwa63:

masyarakat Desa Sambori sangat menjunjung nilai kebersamaan dan gotong royong, rasa kepedulian dan nilai kerjasama sudah tertanam sejak dahulu hingga saat sekarang ini, hal ini bisa ditemukan pada saat masyarakat mengadakan kegiatan-kegiatan perbaikan masjid, pembersihan masjid setiap hari jum’at, ataupun kegiatan lainya seperti dalam kegiatan Marhaban dalam membangun rumah panggung. Gotong royong dan kerjasama dalam kegiatan seperti ini biasa ditemukan pada kehidupan masyarakat Desa Sambori”.

Pada saat ini, pelaksanaan pembangunan di Desa Sambori berasal dari anggaran pemerintahan (pusat, propinsi dan pusat), walaupun sebagiannya masih bersifat swadaya.

Semangat gotong royong masih cukup tinggi tersebut menjadi modal yang sangat berharga bagi Desa dalam rangka menyukseskan program pembangunann yang dirancangkan

63Syamsudin Kamal, Wawancara, di Masjid Sambori, pada tanggal 06 Agustus 2021.

oleh pemerintah adalah untuk kebaikan dan kemajuan masyarakat secara keseluruhan.

Gambar 2.2

Kegiatan Perbaikan masjid di Desa Sambori

4. Keadaan Sosial Budaya di Desa Sambori

Masyarakat Desa Sambori adalah masyarakat agraris beragama Islam yang corok kehidupan sosialnya dilandasi oleh semangat gotong royong dan kerja sama. Warga masyarakat yang tidak berprofesi di bidang pertanian sangat sedikit karena hampir semua warga masyarakat Desa Sambori adalah berstatus sebagai petani. Sistem pekerjaan pertanian yang dilakukan juga masih bersifat tradisional.

Hal ini disebabka oleh minimnya pengetahuan dan

menejemen pengelolaan pertanian yang dimilki oleh warga Desa.

Minimnya pengetahuan dan tidak maksimalnya penerapan menejemen tersebut sehingga mengahasilakan pekerjaan yang kurang maksimal. Hal ini tentu berpengaruh kepada segi kehidupan masyarakat yang lain, seperti tingkat pendidikan dan kesehatan. Dilihat dari segi pendidikan dan kesehatan, secara umum masyarakat Desa Sambori masih dikategorikan sebagai pendidikan yang tergolong rendah dan masih ada hal-hal yang harus diperhatikan pada faktor- faktor yang berkaitan dengan kesehatan.

1. Jumlah Penduduk Penduduk

(orang)

Tahun Perkembangan 2014 2015 %

Laki laki 955 1.005 1.05 50

Perempuan 951 1.011 1.06 60

Jumlah 1.906 2016 1.06 110

2. Jumlah keluarga

Kepala keluarga Tahun Perkembangan 2014 2015 %

Laki-laki 456 465 1.02 9

Perempuan

Jumlah 456 465 1.02 9

B. Bentuk Pelaksanaan Tradisi Marhaban Dalam Pembangunan Rumah Panggung Pada Masyarakat Desa Sambori

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara peneliti di Desa Sambori menemukan bahwa masyarakat yang hidup di lingkungan Desa Sambori masih melaksanakan Tradisi Marhaban pada saat ingin pembangunan rumah panggung.

Bagi masyarakat Desa Sambori setiap kali ingin membangun rumah panggung, dan sebelum membangun sebuah rumah panggung masyarakat Desa Sambori memiliki beberapa bentuk persyaratan yang harus dilakukan seperti yang dilakukan oleh nenek moyang terdahulu, seperti mengumpulkan bahan bangunan, menentukan hari, dan membuat sesajen.

Karena masyarakat Desa Sambori mempercayai bahwa setiap kali ingin membangun sebuah rumah panggung harus melaksanakan Tradisi Marhaban, karena Tradisi ini merupakan Tradisi turun temurun dan juga sebagai sarana permohonan keselamatan agar rumah yang di bangun mendapatkan berkah dan supaya diberi kelancara dalam setiap pelaksanaannya.

Seperti yang dijelaskan oleh bapak Iksan Ridwan selaku Tokoh Budaya Desa Sambori mengatakan:

Marhaban merupakan Tradisi turun temurun yang sudah menjadi bagian dari proses pembangunan rumah lengge, karena sekarang masyarakat Sambori baralih menggunakan rumah panggung sebagai tempat tinggal akan tetapi prosesi Marhaban tetap dilakukan, karena sudah menjadi tradisi turun temurun sebagai bagian dari pembangunan, baik itu untuk rumah lengge maupun pada rumah panggung”.64

Maksudnya yaitu setiap kali ada Masyarakat Desa Sambori ingin membangun rumah panggung maka akan melakukan Tradisi Marhaban, Meskipun pada awalnya Tradisi Marhaban dilakukan pada saat ingin membangun rumah Lengge (Rumah Adat), karena pada zaman dahulu masyarakat Desa Sambori pada umumnya menggunakan rumah Lengge sebagai tempat tinggal agar terhindar dari binatang buas dan dipercaya lebih aman, akan tetapi karena perkembangan zaman, masyarakat Desa Sambori kini menggunakan rumah panggung sebagai tempat tinggal.

Seperti yang dijelaskan oleh bapak Jafar Arsad selaku tokoh adat masyarakat Desa Sambori, mengatakan:

“kerena jaman sudah berubah dan rumah lengge tidak cukup untuk dijadikan sebagai tempat tinggal,melainkan hanya digunakan sebagai tempat untuk menyimpan hasil pertanian, seperti beras, jagung,serta umbia-umbian. Untuk itu masyarakat Desa

64Iksan Ridwan, Tokoh Budaya Dsa Sambori, Wawancara, di Desa Sambori, pada tanggal pada tanggal 06 Agustus 2021.

Sambori beralih menggunakan rumah panggung sebagai tempat tinggal”.65

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Tradisi Marhaban merupakan Tradisi turun temurun yang masih dilakukan hingga saat sekarang ini. Akan tetapi perbedaannya yaitu dahulu Tradisi Marhaban dilakukan pada saat ingin membangun Rumah Lengge, karena pada jaman dahulu masyarakat Desa Sambori pada umumnya menggungkan rumah Lengge sebagai tempat tinggal tetapi karena perkembangan jaman masyarakat Desa Sambori sekarang beralih menggunakan rumah panggung sebagai tempat tinggal, namun tidak ada yang berubah dalam proses pembangunan baik rumah Lengge maupun rumah panggung yaitu tetap dilaksanakannya kegiatan Marhaban.

Adapun prosesi sebelum melaksanakan kegiatan Marhaban adalah sebagai berikut:

1. Mengumpulkan bahan

Setiap pekerjaan yang dilakukan memerlukan bahan bangunan agar bisa mengerjakan suatu pekerjaan tertentu.

Seperti kegiatan membangun rumah panggung. Untuk membangun rumah panggung tentunya memerlukan bahan

65Jafar Arsad, Tokoh Adat, Wawancara, di Desa Sambori, pada tanggal 06 Agustus 2021.

berupa kayu untuk nantinya dijadikan satu rumah yang nantinya dapat ditempati oleh pemilik rumah.

Seperti yang dijelaskan bapak Syarif selaku Ketua RT Desa Sambori, mengatakan:

“sebelum melaksanakan kegiatan Marhaban, jauh sebelum melaksanakan prosesi Marhaban, bahan bangunan berupa kayu jati dan seng,maupun bahan material lainya seperti paku yang diperlukan untuk membangun satu rumah panggung sudah harus lengkap tanpa ada kukurangan satu bahanpun” 66

Untuk membuat rumah tentunya membutuhkan bahannya terlebih dahulu, terutama dalam membangun satu rumah panggung, hal yang pertama yang harus dilakukan oleh pemilik rumah yang akan di bangun yaitu menyiapkan terlebih dahulu bahan dan material seperti kayu, seng dan lain-lainya. Tetapi untuk membangun rumah panggung,khususnya bagi pemilik rumah, tidak melakukan secara sekaligus untuk melakukan pembangunan rumah. Melainkan melalui beberapa proses, baik dalam pengumpulan bahan material untuk pembangunan rumah maupun bahan lainnya.

Seperti yang dijelaskan oleh bapak Adi Syaputra selaku Tokoh Masyarakat Desa Sambori, mengatakan:

66Syarif, Ketua RT Desa Sambori, Wawancara, di Desa Sambori, pada tanggal 06 Agustus 2021.

dalam pengumpulan bahan bangunan dilakukan secara berangsur-angsur sesuai dengan kemampuan pemilik rumah. Lamanya pengumpulan bahan bangunan juga tergantung pada kemampuan pemilik rumah yang akan di bangun”.67

Seperti yang dijelaskan oleh bapak Iksan Ridwan, selaku Tokoh Budaya asyarakat Desa Sambori, mengatakan:

Karena mengumpulkan bahan bangunan untuk membuat satu rumah membutuhkan waktu yang cukup lama,cepat dan lamanya pembangumpulan bahan bangunan yaitu tergantung dari kondisi ekonomi pemilik rumah yang akan dibangun, untuk itu ada yang membangun rumah sekaligus dan ada juga melalui proses yang cukup panjang dalam mengumpulkan bahan bangunan karena dilakukan secara meyicil sedikit-dikit”.68

Adapun bahan bangunan yang dimaksud yang harus di sediakan oleh pemilik rumah yang akan dibangun adalah terdiri dari: paku, tiang rumah, bagian depan rumah, bagian belakang rumah, bagian kanan, bagian kiri bagian rumah, lantai rumah, seng rumah dan bagian tangga rumah,serta pintu depan dan belakang rumah.

Jika semua bahan bangunan yang sudah disebutkan sudah tersedia dan sudah lengkap tanpa adanya kekurangan satupun, maka akan bisa melaksanakan

67Adi Syaputra, Tokoh Masyarakat Desa Sambori, Wawancara, di Desa Sambori,pada tanggal 06 Agustus 2021.

68Iksan Ridwan, Tokoh Budaya Desa Sambori, Wawancara, di Desa Sambori, pada tanggal 06 Agustus 2021.

kegiatan Marhaban. Sedangkan dalam proses pengumpulan kayunya tentu dilakukan secara bersama sama dengan sesama masyarakat Desa Sambori.

Senada dengan yang dijelaskan oleh salah satu masyarakat Desa Sambori, mengatakan:

“pengumpulan bahan bangunan oleh kami masyarakat Sambori akan dilakuakan dengan cara membeli bahan bangunan yang masih kurang dan hal ini terus dilakukan sampai dengan terkumpul dengan lengkapnya bahan bangunan yang dibutuhkan untuk membangun satu rumah. Sedangkan apabila ada masyarakat yang memiliki tanaman jati sendiri, biasanya mengambil sendiri tanamannya dan proses pengambilan mulai dari penebangan pohon jati, pengangkutan, serta proses pengumpulan bahan bangunan pada satu tempat dilakukan secara sama- sama dengan para tetangga”

Karena syarat utama agar dapat melakukan kegiatan Marhaban dan untuk membangun rumah panggung adalah melengkapi bahan untuk membangun satu rumah panggung yang lengkap. Untuk itulah diharuskan untuk menyimpan bahan bangunan tersebut pada satu tempat supaya mempermudah prosesi Marhaban juga dapat mempermudah pada saat membangun rumah. Sedangakan dalam proses pengumpulan bahan bangunan dilakukan secara bersama-sama dilakukan secara sukarela oleh warga setempat karena masyarakat menyadari bahwa dengan

dilakukan secara bersama-sama akan lebih cepat dapat meringankan beban pemiliki rumah yang akan di bangun.

1. Penentuan Hari

Agar dapat membangun sebuah rumah panggung, salah satu kegiatan yang harus dilakukan oleh pemilik rumah adalah menentukan hari agar bisa melaksanakan kegiatan Marhaban. Tentu setelah pemilik rumah yang akan di bangun rumah sudah memenuhi semua persyaratan yang sudah menjadi ketentuan seperti meyiapkan bahan bangunan, pemilihan dan penentuan hari yang dilakukan mempunyai tujuan tersendiri yaitu supaya kegiatan yang akan dilakukan dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Dan menurut kepercayaan masyarakat Desa Sambori bahwa hari senin dan hari Kamis merupakan hari yang baik untuk bisa melaksanakan kegiatan Marhaban, dikarenakan pada hari senin dan kamis merupakan hari yang baik dalam Islam, yaitu hari dimana bisa melakukan puasa sunnah yaitu puasa sunnah senin dan kamis.

Seperti yang dijelaskan oleh masyarakat Desa Sambori, mengatakan:

pemilihan hari merupakan salah satu hal yang penting agar bisa melaksanakan kegiatan Marhaban, akan tetapi yang perlu diketahui bahwa pada masyarakat Desa Sambori mempercayai bahwa hari yang baik untuk melaksanakan kegiatan Marhaban yaitu antara hari senin dan kamis.”.69

Senada yang dijelaskan oleh bapak Jafar Arsad, Tokoh Adat masyarakat Desa Sambori, mengatakan:

“mengenai penentuan dan pemilihan hari yang baik untuk bisa melaksanakan kegiatan maupun ritual Marhaban antara hari senin dan hari kamis sudah menjadi hal yang biasa bagi pemilik rumah juga bagi masyarakat Desa Sambori, karena setiap kali ada masyarakat yang sudah siap untuk melakukan kegiatan Marhaban pasti akan dilaksanakan antara hari senin dan hari kamis dan tidak bisa dilakukan pada hari yang lain”70

Pemilihan hari yang baik agar bisa melaksanakan kegiatan Marhaban antara hari senin dan hari kamis pada kehidupan masyarakat Desa Sambori mempunyai arti tersendiri yaitu karena masyarakat Desa Sambori meyakini bahwa hari senin dan kamis merupakan hari yang baik dalam Islam. oleh karena itu prosesi Marhaban juga disesuaikan dengan puasa Sunnah yaitu puasa senin dan kamis. Dengan tujuan yang sama yaitu agar diberi kemudahan dan kelancaran dalam pelaksanaannya.

69Jafar Arsad, Tokoh Adat, Wawancara, di Desa Sambori, pada tanggal 06 Agustus 2021.

70Jafar Arsad, Tokoh Adat Desa Sambori, Wawancara, di Desa Sambori.

pada tanggal 14 Agustus 2021.

Seperti yang dijelaskan oleh masyarakat Desa Sambori, tokoh ini juga mengatakan:

“sudah benar apa yang di jelaskan oleh bapak Jafar Arsad, disini saya hanya akan menambahkan beberapa contoh dalam penentuan harinya yaitu Misalnya pada bulan februari ada masyarakat Desa Sambori yang sudah siap melaksanakan Marhaban maka bisa melaksanakan kegiatan Marhaban.

Karena masyarakat disini tidak melihat keistimewaan bulan dan tahun yang lain. Semua bulan dan tahun itu adalah sama-sama baik yaitu bisa melaksanakan kegiatan Marhaban”71

Senada dengan yang dijelaskan oleh bapak Hamid, selaku Masyarakat desa sambori, mengatakan:

sama Seperti yang sudah di paparkan sebelumnya yaitu misalnya pada hari senin bahan-bahan berupa kayu untuk membangun rumah sudah tersedia akan bisa dipastikan kegiatan marhaban dilaksanakan pada hari kamis, tidak bisa dilakukan pada hari-hari yang lain melainkan harus dilakukan pada malam kamis”.72

Prosesi Marhaban akan dilaksanakan pada malam kamis dan pada hari kamis pagi harinya akan bisa membangun rumah panggung. Karena kegiatan ini merupakan kegiatan yang diniatkan dengan tujuan yang baik, maka akan dipilih hari yang baik pula.

71Jafar Arsad, Tokoh Adat Desa Sambori, Wawancara, di Desa Sambori.

pada tanggal 14 Agustus 2021.

72Hamid, Masyarakat desa sambori, Wawancara di Desa Sambori, pada tanggal 06 Agustus 2021.

Setiap kegiatan yang dilakukan pasti pemilik rumah akan memilih hari yang baik agar kegiatan yang diselenggarakan mendapatkan keberkahan, sama halnya dengan kegiatan Marhaban dalam pembangunan rumah panggung pada masyarakat Desa Sambori secara turun temurun meyakini bahwa hari senin dan kamis merupakan hari yang baik untuk melaksanakan kegiatan Marhaban.

3. Menyiapkan Soji (Sesajen)

Sesajen merupakan salah satu persyaratan penting yang harus dipenuhi dalam setiap Tradisi yang hidup dalam setiap daerah tempat hidup masyarakat tertentu, disetiap daerah juga memiliki Tradisi yang berbeda dalam setiap proses penyiapan sesajen.

Akan tetapi Sesajen pada masyarakat Desa Sambori berbeda dengan sesejen pada Umumnya, yang dimana Sesajen atau Soji pada masyarakat Desa Sambori memiliki makna yang mendalam, dan juga Sesajen yang sudah disiapkan akan dimana secara bersama-sama dengan para tamu undangan yang berkesempatan hadir dalam pelaksanaan Tradisi Marhaban.

Seperti yang dijelaskan oleh bapak Syarif selaku Ketua RT Desa Sambori masyarakat Desa Sambori, mengatakan:

sebelum melaksanakan kegiatan yang perlu di lakukan adalah menyiapkan sesajen. Sesajen itu sendiri merupakan salah satu persyarat yang sangat penting agar dapat melaksanakan kegiatan Marhaban, tanpa sesajen maka kegiatan Marhaban belum bisa terselenggarakan”73

Senada dengan yang dijelaskan oleh ibu kalisom selaku masyarakat Desa Sambori, mengatakan:

“kami masyarakat Desa Sambori setiap kali ingin melaksanakan kegiatan Marhaban, biasanya pemilik rumah yang akan dibangun diharuskan untuk menyiapkan bahan dan alat untuk dijadikan sebagai sesajen yang terdiri dari:nasi kebuli: yang terdiri dari empat warna yaitu warna merah, hitam, kuning, putih, pisang,ketupat,dodol,karodo adalah beras ketan yang ditumbuk dan dicampur dengan air serta daging kelapa muda, tape, nasi nasi ketan, kelapa, daun sirih dan buah pinang, kapur sirih,daun lontar,ayam bakar”.74

Senada dengan yang dijelaskan bapak jainudin selaku masyarakat Desa Sambori, mengatakan:

“sudah benar apa yang sudah dijelaskan oleh bapak, setelah menyiapakan bahan untuk membuat sesajen tersebut di haruskan juga untuk menyediakan alat pelengkap lainya yang terdiri dari: emas atau uang,sabeti ,tampi (doku), dan

73Syarif, Ketua RT Desa Sambori, Wawancara, di Desa Sambori,pada tanggal 14 Agustus 2021.

74Kalisom,Masyarakat Desa Sambori,Wawancara, di Desa Sambori,pada tanggal 14 Agustus 2021.

semua bahan yang sudah di sebutkan harus ada tanpa ada kekurangan satu bahan dan alat.”75

Sesajen yang terdiri dari beberapa macam makanan yang harus di sediakan memiliki makna dan arti yang penting dan mendalam bagi masyarakat Desa Sambori seperti nasi kebuli yang terdiri dari empat warna yaitu warna, merah, hitam, kuning, putih. Yang dimana empat warna ini warna ini didasari oleh warna darah yang ada di dalam tubuh manusia itu sendiri, yang dipercaya dapat membersihkan hati dan pikiran pemilik rumah.

Sedangkan bahan lainya hanyalah bahan pelengkap sesajen.

Sedangkan bahan untuk sesajen ini harus lengkap dan tidak boleh kurang satupun, kalaupun tidak tersedia dirumah yang mempunyai kegiatan maka bisa meminta kepada tetangga, sampai dengan terkumpul semua persayaratan yang sudah menjadi ketentuan sebelum Marhaban dilaksanakan. Tidak ada sanki apabila bahan untuk membuat sesajen itu kurang, tetapi tetap saja harus di lengkapi, karena bahan untuk membuat sesajen merupakan bahan yang mudah di dapatkan dan sudah tersedia di rumah masyarakat Desa Sambori sendiri.

75Jainudin, masyarakat desa sambori, Wawancara, di desa sambori, pada tanggal 14 agustus 2021.

4. Marhaban

Setelah melalui proses yaitu mulai dari pengumpulan bahan bangunan, menentukan hari yang baik, dan pembuatan sesajen maka kegiatan yang terakhir agar bisa membangun rumah panggung yaitu melakukan prosesi Marhaban yang dirangkaikan dengan pembacaan kitab barjanzi yang berisikan do‟a dan shalawat di dalamnya. Prosesi Marhaban dilakukan pada malam hari dengan cara mengundang tetangga dan sanak saudara.

Seperti yang dijelaskan bapak Jafar Arsad selaku Tokoh Adat di Desa Sambori, mengatakan:

dalam kegiatan pembangunan rumah panggung pada masyarakat Desa Sambori tidak terlepas pada kegiatan Marhaban yaitu pambacaan kitab al- barzanji yang berisikan sholawat dan do’a yang merupakan pujian kepada Nabi Muhammad Saw, yang dimana dalam pembacaan kitab Barjanzi ini juga sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah Swt atas segala nikmat kesehatan dan kesempatan yang telah diberikan”76.

Tradisi Marhaban merupakan tradisi turun temurun yang dilakukan oleh masyarakat desa sambori sebagai salah satu tradisi yang harus dilaksanakan ketika ingin membangun rumah panggung. Tradisi ini

76Jafar Arsad, Tokoh Adat Desa Sambori, Wawancara, di Desa Sambori.

pada tanggal 14 Agustus 2021.

merupakan ritual yang dilakukan pada malam hari, sehari sebelum dibangunya rumah panggung pada pagi hari.

Prosesi Marhaban di lakukan di setiap rumah masyarakat Desa Sambori yang memiliki Kegiatan Marhaban bisa juga dilakukan pada rumah kerabat dan saudara.

Barjanzi merupakan kitab yang berisikan sholawat yang mengandung doa juga yang berisikan pujian kepada Nabi Muhammad Saw. Pada masyarakat Desa Sambori pembacaan kitab Barjanji ini dilakukan ketika melaksanakan kegiatan Marhaban dalam pembangunan rumah panggung dengan anggapan dengan membacakan Kitab Barjanji ini dalam pelaksanaan Marhaban sebagai sarana sebagai permohonan agar kegiatan yang dilakukan dapat berjalan sesuai dengan keinginan dan supaya mendapatkan Syafaat Daripada Nabi Muhammad Saw.

Seperti yang dijelaskan oleh bapak Syamsudin Kamal selaku Tokoh Agama di Desa Sambori, mengatakan:

Barjanzi adalah pembacaan do’a dan pujian yang menceritakan riwayat hidup Nabi Muhammad Saw, dengan kegiatan pembacaan kitab Barjanzi diharapkan supaya kegiatan pembangunan rumah yang akan dilakukan mendapatkan syafaat dan diberi kemudahan dalam setiap pelaksanaannya77

77Syamsudin Kamal, Tokoh Agama Desa Sambori, Wawancara, di Desa Sambori,pada tanggal 14 Agustus 2021.

Tradisi Marhaban pada masyarakat Desa Sambori merupakan kegiatan yang identik dengan pembacaan kitab Barjanzi, yang dimana dalam pembacaan kitab ini terdapat doa-doa yang berisikan pujian serta sebagai sarana permohonan keselamatan dan keberkahan agar kegiatan dan juga rumah yang akan di bangun mendapatkan keberkahan dalam setiap pelaksanaanya.

Untuk itulah kegiatan Marhaban ini tetap dilaksanakan oleh masyarakat Desa Sambori.

Seperti yang dijelaskan oleh bapak Jafar Arsad selaku Tokoh Adat di Desa Sambori, mengatakan:

“ketika pembacaan barjanzi inilah kegiatan marhaban dimulai yaitu sesajen yang sudah disiapkan di simpan ditengah-tengah masyarakat yang akan melakukan Marhaban, masyarakat yang dimaksud bukan hanya dikalangan yang tua saja, tetapi seluruh lapisan masyarakat selagi bisa menghadiri kegiatan Marhaban” 78

Dalam kegiatan Marhaban ini tidak ada batasan usia agar bisa mengikuti rangaian prosesi Marhaban, dengan artian setiap anggota masyarakat Desa Sambori akan bisa ikut serta melaksanakan ritual Marhaban, baik itu anak kecil, remaja, dewasa, bahkan sampai anak bayipu diperbolehkan untuk ikut serta dalam kegiatan Marhaban,

78Jafar Arsad, Tokoh Adat Desa Sambori, Wawancara, di Desa Sambori.

pada tanggal 06 Agustus 2021.

Dalam dokumen tradisi marhaban dalam pembangunan rumah (Halaman 70-74)

Dokumen terkait