• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

F. Kerangka Teori

Pariwisata merupakan kegiatan yang dapat dipahami dari banyak pendekatan. Dalam Undang-undang RI nomor 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan dijelaskan bahwa pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, dan pemerintah.15

14Erwin Ahmadi, “Strategi Pengembangan Pariwisata Halal Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang”. (Skripsi, Jurusan Manajemen Dakwah (MD), Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas Islam Negeri Walisongo, Semarang, 2019).

15 Isdarmanto. Dasar-Dasar Kepariwisataan dan Pengelolaan Destinasi Pariwisata.

(Yogyakarta:Penerbit Gerbang Media Aksara dan STiPrAm Yogyakarta, 2017). Hlm. 8-9

17

Suwantoro mendefinisikan istilah pariwisata, yaitu suatu perubahan tempat tinggal sementara seseorang diluar tempat tinggalnya karena suatu alasan dan bukan untuk melakukan kegiatan yang menghasilkan upah.16 Sedangkan Wahab menjelaskan pariwisata adalah salah satu jenis industri baru yang mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang cepat dalam penyediaan lapangan kerja, peningkatan penghasilan, standart hidup serta menstimulasi sektor- sektor produktivitas lainnya. Sebagai sektor yang kompleks, pariwisata juga meliputi industri-industri klasik seperti kerajinan tangan dan cindera mata, penginapan, transportasi secara ekonomi juga dipandang sebagai industri.17

Pada dasarnya bagian-bagian dari gejala pariwisata terdiri dari tiga unsur:18

1. Manusia (unsur insani sebagai pelaku kegiatan pariwisata).

2. Tempat (unsur fisik yang sebenarnya tercakup oleh kegiatan itu sendiri).

3. Waktu (unsur tempo yang dihabiskan dalam perjalanan itu sendiri selama berdiam ditempat tujuan).

16 Anastasia Murdiastuti, dkk, Kebijakan Pengembangan Pariwisata Berbasis Democratic Governance, (Surabaya: Penerbit Buku Pustaka Radja, 2014), Hlm 35.

17 Ibid, Hlm. 39.

18 Isdarmanto. Dasar-Dasar…,Hlm. 14.

18

Unsur-unsur Pariwisata yang mutlak sangat menentukan dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan adalah unsur pengelolaan dari:19

a. Daya Tarik Wisata (Attractions), merupakan salah satu unsur yang membentuk dan menentukan suatu daerah menjadi destinasi pariwisata. Setiap destinasi pariwisata memiliki daya tarik berbeda-beda sesuai dengan kemampuan atau potensi yang dimiliki. Di bawah ini adalah jenis daya tarik wisata yang biasanya ditampilkan di destinasi pariwisata:

1. Daya tarik wisata alam (natural tourist attractions), segala bentuk daya tarik yang dimiliki oleh alam, misalnya: laut, pantai, gunung, danau, lembah, bukit, air terjun, sungai, hutan.

2. Daya tarik wisata buatan manusia (man-made tourist attractions), meliputi: Daya tarik wisata budaya (cultural tourist attractions), misalnya: tarian, wayang, upacara adat, lagu, upacara ritual dan daya tarik wisata yang merupakan hasil karya cipta, misalnya: bangunan seni, bangunan bersejarah, Museum, seni pahat, ukir, lukis.

b. Fasilitas dan Jasa Pelayanan Wisata (Amenities), adalah segala fasilitas pendukung yang bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan wisatawan selama berada di destinasi. Amenitas

19 Ibid, Hlm. 59-60.

19

berkaitan dengan ketersediaan sarana akomodasi baik secara langsung maupun secara tidak langsung.

c. Kemudahan untuk mencapai destinasi wisata (Accesibility), faktor yang tidak kalah penting yang mempengaruhi kunjungan wisatawan disebuah detinasi wisata adalah aksesibilitas yang tersedia yakni kemudahan untuk mencapai destinasi tujuan.

Dalam hal ini aksesibilitas yang dimaksud yaitu sarana dan infratstruktur menuju destinasi tujuan, seperti jalan yang memadai, papan informasi, transportasi (darat, laut dan udara).

d. Keramahtamahan (Ancilliary/Hospitality), yakni berkaitan dengan ketersediaan sebuah organisasi atau orang-orang yang mengurus destinasi tersebut. Mereka yang menjadi pelaku pariwisata yang menjadi tuan rumah didestinasi wisata. Sebagai sebuah industri, pariwisata juga memerlukan manajemen dan pengelolaan yang baik agar tetap berlangsung dan dapaat dinikmati oleh wisatawan yang berkunjung.

Pengembangan suatu destinasi pariwisata harus memenuhi tiga kriteria agar obyek destinasi wisata tersebut dapat diminati pengunjung, yaitu:20

1 Something to see adalah obyek wisata tersebut harus mempunyai sesuatu yang bisa di lihat atau daya tarik khusus yang bisa di jadikan tontonan oleh pengunjung wisata.

20 Ibid, Hlm. 59-60.

20

2 Something to do adalah agar wisatawan yang melakukan pariwisata di sana bisa melakukan sesuatu yang berguna atau bermanfaat untuk memberikan perasaan senang, bahagia, pengalaman, wawasan yang baru.

3 Something to buy adalah fasilitas untuk wisatawan dapat berbelanja yang berupa souvenir, produk kemasan yang pada umumnya adalah merupakan ciri khas atau icon dari daerah atau destinasi tersebut, sehingga bisa dijadikan sebagai oleh-oleh.

2. Strategi Pengembangan

Banyak variasi mengenai definisi strategi dalam manajemen strategi jika dilihat fokusnya. Tetapi intinya adalah sama yaitu strategi adalah rencana. Strategi menurut James Brian Quinn, merupakan pola atau rencana yang mengintegrasikan tujuan-tujuan utama, kebijakan- kebijakan, urutan-urutan aksi kedalam keseluruhan yang saling terkait.21

Stanton dalam Budhita menyatakan strategi sebagai suatu rencana dasar yang luas dari suatu tindakan organisasi untuk mencapai suatu tujuan. Rencana dalam mencapai tujuan tersebut sesuai dengan lingkungan eksternal dan internal. Sedangkan menurut Chandler dalam Rangkuti Strategi adalah suatu rencana dasar yang luas dari suatu tindakan organisasi untuk mencapai suatu tujuan. Strategi

21 Syarafuddin Alwi, Manajemen Sumber Daya Manusia Strategi Keunggulan Kompetitif, (Yogyakarta:BPFE-Ygyakarta, 2001), Cet. Pertama, Hlm. 78-79

21

merupakan alat untuk mencapai tujuan perusahaan dalam kaitannya dengan tujuan jangka panjang, program tidak lanjut serta prioritas alokasi sumber daya.22

Stoner, Freeman dan Gilbert, memberikan pengertian strategi dengan dua persepektif.23

a. Melihat dari apa yang organisasi ingin lakukan, strategi dipandang sebagai program untuk menentukan dan mencapai tujuan organisasi dan melaksanakan misinya.

b. Melihat dari apa yang organisasi akhirnya lakukan, strategi dipandang sebagai suatu pola tanggap atau respon organisasi terhadap lingkungan secara terus menerus sepanjang waktu.

Strategi dalam manajemen strategi itu memiliki beberapa level (tingkatan-tingkatan), yaitu:24

1. Level korporat, yaitu strategi yang dirumuskan oleh kantor pusat untuk mengendalikan perusahaan yang memiliki beberapa anak perusahaan.

2. Level bisnis, yaitu strategi yang dirumuskan dan diimplementasikan oleh unit bisnis.

3. Level fungsional, yaitu strategi fungsi dari masing-masing devisi atau bagian dalam perusahaan.

22 Munanda Pradana Nenggala, “Strategi Pengembangan Potensidan Daya Tarik Wisata Museum Tuanku Imam Bonjol Di Kabupaten Pasaman”, JOM Fekon, Vol. 4, No. 1, Februari 2017, Hlm. 190

23 Abd. Rohman, Dasar-Dasar Manajemen Publik, (Malang:Empatdua, 2018), Hlm. 206.

24 (Chand) Suhardi, Pengantar Manajemen Dan Aplikasinya, (Yogyakarta:Penerbit Gava Media, 2018), Cet.ke-1, Hlm 87.

22

Dalam konteks bisnis, strategi adalah metode untuk berkompetisi melalui tindakan pengefektifan alokasi sumber-sumber daya yang diperlukan untuk mencapai tujuan perusahaan. Manajemen strategik didefinisikan sebagai kumpulan keputusan dan tindakan yang merupakan hasil rumusan dan implementasi pada rencana yang dibuat untuk mencapai tujuan perusahaan serta bagaimana mengevaluasi dan melaksanakan tindakan tersebut demi tercapainya tujuan perusahaan yang mencakup perumusan, implementasi dan evaluasi rencana strategi. Proses manajemen strategik terdiri atas tiga tahapan utama, yaitu perumusan strategi, implementasi strategi, serta evaluasi dan pengendalian strategi yang diawali dengan pengamatan lingkungan. 25 Menurut Moekijat, pengembangan adalah setiap usaha untuk memperbaiki pelaksanaan pekerjaan yang sekarang maupun yang akan datang dengan memberikan informasi, mempengaruhi sikap-sikap atau menambah kecakapan-kecakapan, dengan kata lain pengembangan adalah kegiatan yang dimaksudkan untuk mengubah prilaku yang terdiri dari pengetahuan, kecakapan dan sikap.26

Pada prinsipnya, pengembangan merupakan kegiatan pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan umum jangka panjang.

Istilah pengembangan (Development) dapat dimaknai sebagai upaya

25Musa Hubeis dan Mukhamad Najib, Manajemen Strategik Dalam Pengembangan Daya Saing Organisasi, (Jakarta:PT Elex Media Komputindo, 2014), Hlm. 19 dan 23-28.

26 Aras Solong, Manajemen Pengembangan Sumber Daya Manusia Menunjang Kinerja Aparatur Berkualitas, (Yogyakarta:Penerbit Deepublish, 2020), Cet. Pertama, Hlm. 25.

23

meningkatkan segala sesuatu yang dimiliki agar bertambah menjadi lebih baik atau lebih besar dari sebelumnya.27

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa strategi pengembangan adalah suatu rangkaian aktivitas pengambilan keputusan untuk upaya kemajuan kearah yang lebih baik secara bertahap, terencana, teratur dan berkelanjutan yang menjurus ke sasaran yang diharapkan.28

Strategi pengembangan kepariwisataan bertujuan untuk mengembangkan produk dan pelayanan yang berkualitas, seimbang, dan bertahap. Menurut Suwantoro, Langkah pokok dalam strategi pengembangan kepariwisataan:29

a. Dalam jangka pendek dititikberatkan pada optimasi, terutama untuk mempertajam dan memantapkan citra kepariwisataan, meningkatkan mutu tenaga kerja, meningkatkan mutu pengelolaan, memanfaatkan produk yang ada, memperbesar saham dari pasar pariwisata yang telah ada.

b. Dalam jangka menengah dititik-beratkan pada konsolidasi, terutama dalam memantapkan cara kepariwisataan Indonesia, mengkonsolidasikan kemampuan pengelolaan, mengembangkan

27 Nurul Ulfatin dan Teguh Triwiyanto, Manajemen Sumber Daya Manusia Bidang Pendidikan, (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 2016), Ed. Ke-1, Cet. Ke-1, Hlm. 138.

28Enny Mulyantari, “Strategi Pengembangan Situs Manusia Purba Sangiran Sebagai Daya Tarik Wisata Budaya”, Jurnal Media Wisata, Volume 14, Nomor 1, 2016, Hlm 335.

29 Meiwany A. K. Tapatfeto dan Juita L.D Bessie, “Strategi Pengembangan Objek Wisata Dalam Upaya Peningkatan Kunjungan (Studi Pada Objek Wisata Pantai Oetune Kabupaten Tts)”, Journal Of Management (SME’s) Vol. 6, No.1, 2018, p1-20, Hlm. 4-5.

24

dan diversifikasi produk, mengembangkan jumlah dan mutu tenaga kerja.

c. Dalam jangka panjang dititik-beratkan pada pengembangan dan penyebaran dalam pengembangan kemampuan pengelolaan, pengembangan dan penyebaran produk dan pelayanan, pengembangan pasar pariwisata baru, pengembangan mutu dan jumlah tenaga kerja.

Menurut Marpaung, pengembangan kepariwisataan bertujuan memberikan keuntungan baik bagi wisatawan maupun warga setempat. Sebaliknya kepariwisataan dikembangkan melalui penyediaan tempat tujuan wisata. Konsep pengembangan tersebut dikembangkan melalui pemeliharaan kebudayaan, sejarah dan daya tarik wisata lain sesuai dengan potensi yang dimiliki.30

Lebih lanjut, Pitana menjelaskan bahwa teknik pengembangan harus menggabungkan beberapa aspek penunjang. Aspek-aspek tersebut adalah aspek aksesibilitas (transportasi dan saluran pemasaran), karakteristik infrastruktur pariwisata, tingkat interaksi sosial, keterkaitan/kompatibilitas dengan sektor lain, daya tahan akan dampak pariwisata, tingkat resistensi komunitas lokal dan seterusnya.31

30 Ibid, Hlm. 335.

31 Ibid, Hlm. 336.

25

Dalam bukunya, Pitana menjelaskan ada 8 teknik dalam pengembangan pariwisata, yakni:32

d. Carring Capacity (daya dukung kawasan)

e. Recreational Carring Capacity (daya dukung rekreasi)

f. Recreational Opportunity Spectrum (spectrum peluang rekreasi) g. Limits of Acceptable Change (batas perubahan yang dapat

diterima)

h. Visitor Impact Management Model (model pengelolaan dampak pengunjung)

i. Visitor Experience and Resource Protection Model (pengalaman pengunjung dan model perlindungan sumber daya)

j. Visitor Activity Management (manajemen aktivitas pengunjung) k. Tourism Opportunity Spectrum (spectrum peluang pariwisata)

Dalam hal ini, peneliti menggunakan Tourism Opportunity Spectrum sebagai teknik pengembangan pariwisata dalam menganalisis Strategi Pengembangan Museum Negeri Nusa Tenggara Barat sebagai Objek Wisata Budaya di Kota Mataram.

Butler dan Waldbrook memperkenalkan teknik perencanaan ekowisata yang dikenal dengan Tourism Opportunity Spectrum (TOS).

Secara detail, TOS menganut asumsi bahwa spectrum pengukuran dan penilaian indikator perencanaan yang digunakan harus:33

1. Dapat diamati dan diukur.

32 I Gede Pitana dan I Ketut Surya Dirata, Pengantar Ilmu Pariwisata, (Yogyakarta:Andi, 2019),Ed. Ke-1, Hlm 134-145.

33 Ibid, Hlm. 145

26

2. Secara langsung dapat dikendalikan dibawah manajemen kontrol.

3. Terkait langsung dengan preferensi wisatawan dan memengaruhi keputusannya untuk melakukan wisata atau tidak ketempat tersebut.

4. Mempunyai karakteristik dengan kondisi tertentu.

Elemen-elemen dalam konsep Tourism Opportunity Spectrum adalah sebagai berikut:34

a. Aksesibilitas

Dalam pengembangan pariwisata sebagai sebuah sistem, faktor aksesibilitas baik berupa perencanaan perjalanan, penyediaan informasi mengenai rute dan destinasi, ketersediaan saran transportasi akomodasi ataupun kemudahan lain untuk mencapai destinasi menjadi penentu peluang pengembangan destinasi.

Aksesibilitas juga menyangkut manajemen informasi kawasan pengembangan bagi calon wisatawan mengingat keunikan destinasi. Akses informasi bisa dari mulut kemulut, dari keluarga dan teman, buku-buku pariwisata dan brosur, tabloid, iklan dan sejenisnya. Dalam Tourism Opportunity Spectrum, semakin mudah aksesibilitas kedestinasi pariwisata

34 Ibid, Hlm. 145-149

27

maka semakin besar peluang keberhasilan pengembangannya, dan vice versa.

b. Kompatibilitas dengan kegiatan lain

Keberhasilan pengembangan destinasi pariwisata sangat ditentukan oleh kompatibilitasnya terhadap aktivitas lain dikawasan pengembangan. Sifat interdependensi, baik sumber daya maupun dampak suatu kegiatan disuatu kawasan terhadap kawasan lain, menajadi salah satu faktor penentu keberhasilan pengembangan destinasi pariwisata. Yang perlu diperhatikan adalah sampai level mana sebuah pengembangan kawasan dapat memengaruhi kawasan lain dan kondisi yang bagaimana yang paling optimal dan baik untuk menunjang kawasan pengembangan.

c. Karakteristik sarana pariwisata

Penyediaan sarana pariwisata sangat menentukan peluang pengembangan sebuah destinasi pariwisata. On site management, penataan sarana pariwisata, termasuk didalamnya pengadaan fasilitas baru, penanaman atau introduksi vegetasi, akomodasi, tempat perbelanjaan, fasilitas hiburan serta penataan akses lalu lintas kekawasan. Pembangunan sarana pariwisata ini memerlukan modifikasi kawasan yang bisa saja berakibat sangat kompleks. Hal ini harus mempunyai karakteristik yang sesuai dengan kawasan yang dikembangkan.

28 d. Interaksi sosial

Dalam sistem kepariwisataan, ada dua kondisi interaksi manusia yang harus dipertimbangkan. Pertama, interaksi manusia dengan lingkungan/ekosistem yang memengaruhi ekosistem alam. Kedua, interaksi antara wisatawan dengan komunitas lokal yang dapat memengaruhi ekosistem sosial.

Interaksi ini dapat berupa adaptasi atau peningkatan kadar gangguan yang dirasakan oleh komunitas seiring dengan jumlah peningkatan wisatawan yang melampaui ambang batas atau daya dukung sosial. Semakin besar dampak positif yang ditimbulkan pariwisata terhadap kualitas interaksi sosial manusia dengan ekosistem sosial dan ekosistem lingkungannya maka peluang pengembangan destinasi pariwisata akan semakin besar.

e. Tingkat akseptabilitas komunitas lokal terhadap keberadaan wisatawan

Keberadaan orang baru disuatu wilayah akan mengakibatkan terjadinya keseimbangan baru pada sistem sosial diwilayah tersebut untuk memastikan sistem sosial tersebut tetap stabil. Tingkat penerimaan atau akseptabilitas komunitas lokal terhadap datangnya wisatawan dikawasan tersebut akan menimbulkan reaksi dalam derajat tertentu. Sifat dan tingkat reaksi (damai/konflik) sangat ditentukan oleh derajat akibat

29

yang akan ditimbulkannya dan kemampuan pengendalian (kontrol) oleh komunitas lokal. Akibat dan control keduanya harus dikelola sebaik mungkin. Semakin buruk sistem kendali terhadap kedua faktor tersebut maka peluang pengembangan destinasi pariwisata akan semakin kecil, dan vice versa.

f. Derajat manajemen control

Derajat manajemen control mencerminkan kelenturan pengelolaan destinasi wisata agar mampu memuaskan sifat petualangan dari wisatawan. Konsekuensinya pengelolaan destinasi pariwisata memerlukan paket wisata yang individual dan personal. Keberhasilan manajemen control dalam menyeimbangkan hasrat wisatawan yang menginginkan pengalaman dan petualangan yang spesifik dengan penyediaan atraksi wisata yang sesuai akan menentukan tingkat keberhasilan peluang pengembangan destinasi wisata.

3. Museum

Museum adalah sebuah lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan, melayani masyarakat, terbuka untuk umum, yang mengumpulkan, merawat, menghubungkan dan memamerkan, untuk tujuan-tujuan studi, pendidikan dan hiburan, barang-barang pembuktian manusia dan lingkungannya (definisi menurut ICOM =

30

International Council of Museum/Organisasi Permuseuman Internasional dibawah UNESCO).35

The International Council of Museums definition: A museum is a non-profit making, permanent institution in the service of society and of its development, and open to the public, which acquires, conserves, researches, communicates and exhibits, for purposes of study, education and enjoyment, material evidence of people and their environment (Dewan Permuseuman Internasional mendefinisikan:

Museum adalah lembaga permanen yang tidak mencari keuntungan, melayani masyarakat dan pengembangannya, dan terbuka untuk umum, yang memperoleh, melestarikan, meneliti, mengkomunikasikan, dan memamerkan, untuk tujuan studi, pendidikan dan hiburan, bukti material dari manusia dan lingkungannya.36

Melengkapi pengertian museum seperti yang dimaksud di atas, ICOM mengakui yang sesuai dengan definisi di atas adalah:37

a. Lembaga-lembaga konservasi dan ruangan-ruangan pameran yang secara tetap diselenggarakan oleh perpustakaan dan pusat- pusat kearsipan.

35 N.E. Sri Hastuti, Melawat ke Museum, (Sukoharjo:CV Graha Printama Selaras, 2019), Hlm. 5

36 Timothy Ambrose dan Crispin Paine, “Museum Basics”, (Routledge2 Park Square:Taylor

& Francis e-Library, 2006), Hlm. 8.

37 Moh. Amir Sutaarga, Pedoman Penyelenggaraan Dan Pengelolaan Museum, (Jakarta:Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Proyek Pembinaan Permuseuman Jakarta1997/1998, 1997), Cetakan ke-4, Hlm. 15-16.

31

b. Peninggalan dan tempat-tempat alamiah, arkeologis dan etnografis, peninggalan dan tempat-tempat bersejarah yang mempunyai corak museum, karena kegiatan-kegiatannya dalam hal pengadaan, perawatan dan komunikasinya dengan masyarakat.

c. Lembaga-lembaga yang memamerkan mahkluk-mahkluk hidup, seperti kebun tanaman dan binatang, akuarium, mahkluk dan tetumbuhan lainnya, dan sebagainya.

d. Suaka alam;

e. Pusat-pusat Pengetahuan dan planetarium.

Sedangkan pengertian museum menurut peraturan pemerintah No. 19/1995 dan keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No.

KM.33/PI.303/MKP/2004, adalah lembaga tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan benda-benda material hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa.38 Museum mempunyai fungsi sebagai berikut:39

1. Pusat dokumentasi dan penelitian ilmiah.

2. Pusat penyaluran ilmu untuk umum.

3. Pusat penikmatan karya seni.

4. Pusat perkenalan kebudayaan antardaerah dan antarbangsa.

5. Objek wisata.

38 Direktorat Museum, Dirjen Sejarah dan Purbakala dan Depbudpar, Pedoman Pengelolaan Museum, (2017), Hlm 12.

39 N.E. Sri Hastuti, Melawat…, Hlm. 11-12.

32

6. Media pembinaan pendidikan kesenian dan ilmu pengetahuan.

7. Suaka alam dan suaka budaya.

8. Cerminan sejarah manusia, alam dan kebudayaan.

9. Sarana untuk bertakwa dan bersyukur kepada Tuhan yang Maha Esa.

Di indonesia, museum diklasifikasikan menjadi beberapa jenis klasifikasi, yaitu jenis museum berdasarkan status penyelenggaranya, jenis berdasarkan koleksi yang dimiliki dan jenis berdasarkan kedudukannya.40

a. Jenis museum berdasarkan status penyelenggaranya diklasifikasikan menjadi museum swasta dan museum pemerintah.

b. Jenis museum berdasarkan koleksi yang dimiliki, terdiri dari 2 jenis museum, yakni:

1. Museum umum, yaitu museum yang memiliki koleksi dari berbagai cabang ilmu, antara lain ilmu pengetahuan alam, sosial dan ilmu-ilmu lainnya. Selain itu, yang disebut museum umum adalah museum yang memiliki berbagai jenis koleksi dari berbagai kurun waktu dan lokasi. Contoh museum umum adalah museum nasional dan museum- museum negeri provinsi.

40Direktorat Museum, Dirjen Sejarah dan Purbakala dan Depbudpar, Pedoman…,Hlm 12.

33

2. Museum khusus, yakni museum yang memiliki koleksi dari satu cabang ilmu pengetahuan atau memiliki satu jenis koleksi saja, antara lain museum satu cabang ilmu pengetahuan, Museum Biologi, Museum Geologi, Museum Zoology, Museum Ethography, Museum Seni, Museum Sejarah, museum yang memiliki satu jenis koleksi seperti Museum Kereta Api, Museum Wayang dan sebagainya.

c. Jenis museum berdasarkan kedudukannya, terdiri dari 3 jenis museum, yakni:

1. Museum nasional, yakni museum yang memiliki koleksi yang mewakili cabang ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya dari seluruh wilayah di Indonesia.

2. Museum regional/provinsi, yakni museum yang memiliki koleksi yang mewakili cabang ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya dari satu wilayah provinsi.

3. Museum lokal, yakni yang memiliki koleksi yang memiliki koleksi yang mewakili cabang ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya dari seluruh wilayah di satu wilayah kabupaten/kota.

34 4. Wisata budaya

Budaya itu merupakan elemen pariwisata yang paling menarik minat wisatawan baik wisatawan domestik ataupun wisatawan mancanegara untuk datang ke indonesia. Dimana perkembangan pariwisata dapat merangsang perkembangan kebudayaan karena disengaja atau tidak, kebudayaan akan terus berkembang. Yang dimaksud dengan wisata budaya sendiri adalah kegiatan perjalanan wisata yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu baik seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat-tempat tertentu dengan tujuan untuk mempelajari daya tarik budaya atau memanfaatkan potensi budaya dari tempat yang dikunjungi.41

Dengan wisata budaya, wisatawan dapat mengetahui dan mempelajari pola prilaku sosial warga masyarakat, adat istiadat, kebiasaan, serta warisan seni budaya lainnya. Jadi, secara umum tujuan dari wisata budaya bisa melestarikan alam, lingkungan, dan sumber daya, memajukan kebudayaan, mengangkat citra bangsa, memupuk rasa cinta tanah air, memperkukuh jati diri dan kesatuan bangsa, mempererat persahabatan antar bangsa.42

Menurut Pendit, wisata budaya merupakan perjalanan yang dilakukan atas dasar keinginan untuk memperluas pandangan hidup dengan jalan mengadakan kunjungan atau peninjauan ketempat lain,

41 Tim Edukasi. Wisata Budaya Di Indonesia. (Yogyakarta:Sentra Edukasi Media, 2020), Hal. 6-7

42 Ibid, Hlm. 7

35

mempelajari keadaan rakyat, kebiasaan dan asat istiadat mereka, cara hidup, budaya dan seni mereka.43

Istilah “budaya” bukan saja merujuk pada sastra dan seni, tetapi juga pada keseluruhan gaya hidup yang dipraktikkan manusia yang dipraktikkan sehari-hari yang ditransmisikan dari satu generasi ke kegenerasi berikutnya, serta mencakup pengertian yang lebih luas dari lifestyle dan folk heritage. Sumber daya budaya yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata adalah sebagai berikut:44 a. Bangunan bersejarah, situs, monumen, museum, galeri seni,

situs budaya kuno, dan sebagainya.

b. Seni dan patung kontemporer, arsitektur, tekstil, pusat kerajinan tangan dan seni, pusat desain, studio artis, industry film dan penerbit, dan sebagainya.

c. Seni pertunjukan, drama, sendratari, lagu daerah, teater jalanan, eksibisi foto, festival dan even khusus lainnya.

d. Peninggalan keagamaan seperti pura, candi, masjid, situs dan sejenisnya.

e. Kegiatan dan cara hidup masyarakat lokal, sistem pendidikan, sanggar, teknologi tradisional, cara kerja, dan sistem kehidupan setempat.

f. Perjalanan (treckking) ketempat bersejarah menggunakan alat transportasi unik (berkuda, dokar, cikar dan sebagainya).

43 Enny Mulyantari, “Strategi Pengembangan Situs Manusia Purba Sangiran Sebagai Daya Tarik Wisata Budaya”, Jurnal Media Wisata, Volume 14, Nomor 1, 2016, Hlm 336.

44 I Gede Pitana dan I Ketut Surya Dirata, Pengantar…, Hlm 74-76.

36

g. Mencoba kuliner (masakan setempat), melihat persiapan, cara membuat, menyajikan dan cara menyantapnya merupakan atraksi budaya yang sangat menarik bagi wisatawan.

Pariwisata yang menggunakan sumber daya budaya sebagai modal uatama dalam atraksi wisata dikenal sebagai pariwisata budaya.

Jenis wisata ini memberikan variasi yang luas menyangkut budaya, antara lain:45

1. Wisata Religi, yaitu wisata yang biasanya dilakukan oleh orang- orang dengan satu kepercayaan utama untuk mengunjungi tempat-tempat menurut mereka memberikan makna spiritual.

2. Wisata edukasi, yaitu wisata yang biasanya dilakukan oleh orang atau anak-anak dengan tujuan untuk mempelajari sesuatu dari objek wisata yang dikunjunginya.

3. Wisata sejarah, yaitu wisata yang biasanya dilakukan oleh orang-orang dengan tujuan untuk mengetahui sejarah atau melihat benda-benda bersejarah dan mempelajari masa lalu dari sebuah objek wisata yang dikunjunginya.

4. Wisata kota, yaitu wisata yang dilakukan oleh orang-orang untuk mengunjungi kota lain dan menyusuri kota tersebut sambil mempelajari budaya baru yang berbeda dengan daerah domisili mereka.

45 Tim Edukasi. Wisata…, Hlm. 8-9

Dokumen terkait