• Tidak ada hasil yang ditemukan

analisis strategi pengembangan museum negeri nusa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "analisis strategi pengembangan museum negeri nusa"

Copied!
149
0
0

Teks penuh

(1)

i

ANALISIS STRATEGI PENGEMBANGAN MUSEUM NEGERI NUSA TENGGARA BARAT SEBAGAI SALAH SATU OBJEK WISATA

BUDAYA DI KOTA MATARAM

Oleh YULIANA NIM 170503004

JURUSAN PARIWISATA SYARIAH FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM

MATARAM 2021

(2)

ii

ANALISIS STRATEGI PENGEMBANGAN MUSEUM NEGERI NUSA TENGGARA BARAT SEBAGAI SALAH SATU OBJEK WISATA

BUDAYA DI KOTA MATARAM

Skripsi

Diajukan Kepada Universitas Islam Negeri Mataram Untuk Melengkapi Persyaratan Mencapai Gelar

Sarjana Ekonomi

Oleh YULIANA NIM 170503004

JURUSAN PARIWISATA SYARIAH FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM

MATARAM 2021

(3)

iii

(4)

iv

(5)

vi

(6)

vii MOTTO

Libatkan Allah dalam setiap perjuangan,

Jangan patah semangat karena keadaan, Jika salah maka perbaiki dan jangan diulangi

(7)

viii

PERSEMBAHAN

Skripsi ini saya persembahkan untuk:

1. Untuk kedua orang tuaku tercinta, yakni bapak Anep dan ibu Giyut yang telah percaya dan memberikan izin untuk melanjutkan pendidikan keperguruan tinggi, yang selalu senantiasa berjuang, mendukung dan mendoakan dalam setiap perjalanan hidup untuk menggapai kesuksesanku dan untuk selalu melakukan yang terbaik dalam setiap kebaikan.

2. Untuk kedua adikku tercinta (Marlina dan Rina Sartika), bibiku (Enam), nenekku (Papuk Katok dan Papuk Genter) dan Uwakku (Nenak/Inak Tres) yang selalu memberikan semangat dan kepercayaan disaat yang lain meragukanku.

3. Untuk keluarga besar yang tak bisa kusebut satu persatu, terima kasih atas dukungan dan motivasinya untuk menggapai kesuksesan.

4. Untuk dosen pembimbingku, ibu Dewi Sartika Nasution, M.Ec. dan ibu Any Tsalasatul Fitriyah, S.Si., M.Si yang dengan sabar dan telaten memberikan bimbingan, arahan dalam mengerjakan skripsi, menginspirasi dan memotivasiku.

5. Untuk guru-guruku dari SD, Mts dan MAN serta Dosen-dosenku di UIN Mataram yang telah memberikan banyak ilmunya kepadaku.

6. Untuk Almamater kebanggaan masa depanku UIN Mataram.

7. Untuk teman-teman seperjuangan dari Pariwisata Syariah terutama kelas A angkatan 2017/2018, teman-teman KKP dan PKL, teman kos, terima kasih kebersamaan kisah dan ceritanya.

8. Untuk orang-orang baik yang telah membantu namun tak sempat ku kenal, terima kasih.

9. Untuk diriku sendiri yang sudah berjuang dan berusaha sampai saat ini.

10. Untuk seseorang yang selalu memberikan semangat dan dukungan, terima kasih dan semangat juga untuk menyelesaikan tugas akhir.

(8)

ix

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah swt, Tuhan yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan ridho-Nya, sehingga skripsi yang berjudul “Analisis Pengembangan Museum Negeri Nusa Tenggara Barat Sebagai Salah Satu Objek Wisata Budaya di Kota Mataram” dapat terselesaikan tepat pada waktunya.

Solawat dan salam kepada junjungan alam nabi besar Nabi Muhammad saw. yang telah membimbing umatnya dari zaman jahiliyah menuju islamiyah sehingga kita bisa menikmati nikmatnya agama disisi Allah yaitu agama Islam.

Penulis menyadari bahwa proses penyelesaikan skripsi ini tidak akan sukses tanpa bantuan dan keterlibatan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis memberikan penghargaan setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu sebagai berikut:

1. Ibu Dewi Sartika Nasution, M.Ec. dan ibu Any Tsalasatul Fitriyah, S.Si., M.Si, selaku dosen pembimbing yang senantiasa memberi dukungan, arahan dalam menyusun dan menyelesaikan skripsi dengan baik.

2. Prof. Dr. H. Mutawali, M. Ag. Selaku Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram.

3. Dr. H. Amir Aziz, M. Ag. Selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram.

4. Drs. Makruf, S. H., M. Ag. selaku ketua Jurusan Pariwisata Syariah.

5. Muhammad Johari, M. Si. Selaku Sekertaris Jurusan Pariwisata Syariah.

(9)

x

6. Dosen dan Karyawan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islamvi Negeri (UIN) Mataram, yang telah dengan sabar membimbing dan memberikan ilmu dengan sepenuh hatinya.

7. Keluarga besarku tercinta yang selalu memberikan doa serta dukungan untuk mempercepat selesainya skripsi ini.

8. Kepada Pengelola Museum Negeri Nusa Tenggara Barat dan wisatawan yang berkunjung serta semua yang terkait yang sudah meluangkan waktu untk menjadi narasumber bagi saya dalam menyelesaikan skripsi ini.

9. Dan semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah berkontribusi dalam menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun demi kesempurnaan penelitian selanjutnya. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca umumnya, bagi penulis khususnya, aamiin.

Mataram, 28 Juni 2021 Penulis

Yuliana 170503004

(10)

xi DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

NOTA DINAS PEMBIMBING ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... v

PENGESAHAN DEWAN PENGUJI ... vi

HALAMAN MOTTO ... vii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiv

ABSTRAK ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 7

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7

D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian ... 9

E. Telaah Pustaka ... 9

F. Kerangka Teori ... 16

G. Metode Penelitian ... 37

H. Sistematika Pembahasan ... 48

BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN ... 50

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 50

1. Sejarah Museum Negeri Nusa Tenggara Barat ... 50

(11)

xii

2. Kondisi Geografis Dan Struktur Museum Negeri Nusa

Tenggara Barat ... 53

3. Visi Misi Museum Negeri Nusa Tenggara Barat ... 57

4. Struktur Organisasi Museum Negeri Nusa Tenggara Barat ... 57

5. Data Kunjungan Museum Negeri Nusa Tenggara Barat 5 Tahun Terakhir ... 59

6. Koleksi Museum Negeri Nusa Tenggara Barat ... 61

7. Kegiatan Museum Negeri Nusa Tenggara Barat ... 63

B. Strategi Pengembangan Museum Negeri Nusa Tenggara Barat Sebagai Salah Satu Objek Wisata Budaya di Kota Mataram ... 67

C. Dampak Pelaksanaan Strategi Pengembangan Museum Negeri Nusa Tenggara Barat Terhadap Kemajuan Museum Negeri Nusa Tenggara Barat Sebagai Salah Satu Objek Wisata Budaya di Kota Mataram ... 94

BAB III PEMBAHASAN ... 98

A. Analisis Strategi Pengembangan Museum Negeri Nusa Tenggara Barat Sebagai Salah Satu Objek Wisata Budaya di Kota Mataram ... 98

1. Aksesibilitas ... 99

2. Kompatibilitas dengan kegiatan lain ... 101

3. Karakteristik sarana pariwisata ... 102

(12)

xiii

4. Interaksi sosial ... 103

5. Tingkat akseptabilitas komunitas lokal terhadap keberadaan wisatawan ... 105

6. Derajat manajemen kontrol ... 107

7. Strategi Pengembangan Museum Nusa Tenggara Barat Sebagai Salah Satu Objek Wisata di Kota Mataram ... 108

B. Analisis Dampak Pelaksanaan Strategi Pengembangan Museum Negeri Nusa Tenggara Barat Terhadap Kemajuan Museum Negeri Nusa Tenggara Barat Sebagai Salah Satu Objek Wisata Budaya di Kota Mataram ... 115

BAB IV PENUTUP ... 117

A. Kesimpulan ... 117

B. Saran ... 118

DAFTAR PUSTAKA ... 120

LAMPIRAN ... 123

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... 133

(13)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 : Data Pengunjung Museum Negeri Nusa Tenggara Barat

Dari Tahun 2016-2020 ... 5 Tabel 2.1 : Struktur Organisasi Museum Negeri Nusa Tenggara Barat ... 60 Tabel 2.2 : Data Jumlah Pengunjung Museum Negeri Nusa Tenggara

Barat 5 Tahun Terakhir ... 60

(14)

xv

STRATEGI PENGEMBANGAN MUSEUM NEGERI NUSA TENGGARA BARAT SEBAGAI SALAH SATU OBJEK WISATA BUDAYA DI KOTA

MATARAM Oleh:

Yuliana NIM:170503004

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi pengembangan Museum Negeri Nusa Tenggara Barat sebagai objek wisata budaya di Kota Mataram. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data dengan cara reduksi data, penyajian data dan kesimpulan. Informan dalam penelitian ini adalah pengelola dan pengunjung Museum Negeri Nusa Tenggara Barat. Hasil penelitian yang diperoleh peneliti dari Strategi Pengembangan Museum Negeri Nusa Tenggara Barat sebagai Objek Wisata Budaya di Kota Mataram, yaitu Penyediaan daya tarik wisata, Sarana prasarana, Pengembangan kemitraan/kerjasama, Peningkatan kualitas pelayanan/pemandu dan Pemasaran dan promosi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pengembangan Museum Negeri Nusa Tenggara Barat sudah berjalan dengan bagus. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan jumlah pengunjung dari tahun ke tahun kecuali tahun 2020 akibat pandemi Covid 19. Selain itu manajemen pengelolaan dan fasilitas yang disediakan untuk mendukung kegiatan wisata terus dimaksimalkan.

Kata Kunci: Strategi Pengembangan, Museum, Wisata Budaya.

(15)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pariwisata merupakan salah satu kegiatan perekonomian yang mampu memberikan kontribusi terhadap kesejahteraan suatu negara. Pembangunan pariwisata mampu meningkatkan aktivitas bisnis dengan berbagai manfaat sosial, budaya dan ekonomi yang sangat berdampak positif bagi suatu negara. Dalam hal ini, kegiatan pariwisata direncanakan dengan baik agar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Pengembangan dan pengelolaan potensi pariwisata diharapkan mampu memberikan manfaat bagimasyarakat.1

Pemerintah pusat maupun daerah dapat berusaha mengoptimalkan pengelolaan tempat wisata secara maksimal dengan tujuan untuk memberikan daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Usaha-usaha yang dapat mendatangkan wisatawan antara lain menjaga keaslian bangunan atau benda-benda dan mempromosikan obyek wisata sebagai daya tarik wisata, yaitu dengan menjaga keaslian dan kelestarian keindahan alam, seni budaya dan keramahtamahan penduduknya.2

1Si’ar Ramadhan, “Strategi Pengembangan Objek Wisata Air Terjun Takapala Di Malino Kabupaten Gowa”, (Skripsi, Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Muhammadiyah, Makassar, Makassar, 2019), Hlm. 1.

2 Munanda Pradana Nenggala, “Strategi Pengembangan Potensi dan Daya Tarik Wisata Museum Tuanku Imam Bonjol Di Kabupaten Pasaman”, JOM Fekon, Vol. 4, No. 1, Februari 2017, Hlm. 187-188.

(16)

2

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam yang memiliki keanekaragaman budaya dan kesenian. Salah satu keunikan Indonesia yang mengagumkan dan diakui dunia adalah keberagaman budaya dari ratusan suku yang ada. Menurut sensus BPS tahun 2010 setidaknya terdapat 1.340 suku bangsa bermukim di berbagai pelosok Nusantara.

Masing-masing suku dengan latar ragam agama, adat budaya, dan kondisi sosial tersebut tentu saja menyimpan banyak hal yang dapat menarik kedatangan wisatawan.3

Provinsi Nusa Tenggara Barat merupakan salah satu provinsi dengan objek wisata yang memiliki beragam daya tarik wisata, seperti daya tarik wisata alam, budaya, seni dan buatan manusia. Ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat berpusat di Kota Mataram yang terletak di Pulau Lombok.

sebagai pusat kota, Kota Mataram telah memiliki potensi-potensi pariwisata tidak kalah menarik dengan daerah-daerah lain yang ada di provinsi Nusa Tenggara Barat yang bisa dikembangkan dan dilestarikan.4

Salah satu daya tarik potensial Kota Mataram untuk mendukung kepariwisataan sebagai ibu kota provinsi adalah wisata budaya. Wisata budaya yang sangat erat kaitannya dengan provinsi Nusa Tenggara Barat bahkan mewakili budaya-budaya daerah lainnya yang ada di Nusa Tenggara Barat adalah Museum Negeri Nusa Tenggara Barat, dimana peninggalan- peninggalan sejarah, miniatur tradisi masyarakat Nusa Tenggara Barat

3 Tri Amanat, “Strategi pengembangan Destinasi Wisata berbasis Folklor Ziarah Mitos:

Lahan Baru Pariwisata Indonesia”, Jurnal Pariwisata Terapan, Vol. 3, No. 1, 2019, Hlm 66.

4 Rizal Kurniansah dan Muhammad Sultan Hali, “Kajian Potensi Pariwisata Perkotaan (Urban Tourism) Sebagai Daya Tarik Wisata kota Mataram Provinsi Nusa Tenggara Barat”, Jurnal Media Bina Ilmiah, Vol.13, No.2, September 2018, Hlm. 925

(17)

3

tergambarkan di Museum Negeri Nusa Tenggara Barat. Museum Negeri Nusa Tenggara Barat ditetapkan sebagai museum tingkat provinsi berdasarkan surat keputusan Mendikbud RI No. 022/0/1/1992 tanggal 21 januari 1982 dengan jumlah koleksi sampai tahun 2019 sebanyak 7.698 buah koleksi. Koleksi tersebut diperoleh melalui ganti rugi atau pembelian, hibah, penukaran dan titipan dari masyarakat serta hasil evakuasi atau temuan (imbalan jasa).5

Koleksi museum seperti peninggalan sejarah, purbakala, dan kebudayaan dapat dijadikan sebagai objek tujuan wisata oleh masyarakat, terutama wisata budaya. Berdasarkan Undang-Undang No. 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan, pada bab III pasal IV disebutkan bahwa museum merupakan salah satu objek dan daya tarik wisata hasil karya manusia (wisata budaya). Salah satu daya tarik wisata di museum adalah keunikan bangunan museum serta bentuk dan sejarah kebudayaan dari koleksinya.6 1. Bangunan, arsitektur gedung utama dibuat seperti rumah adat sasak

dengan atap khas sasak berbentuk gunungan.

2. Koleksi, seperti benda-benda peninggalan sejarah perjalanan Nusa Tenggara Barat dan masyarakatnya, batu-batuan yang mengandung mineral, peninggalan kesultanan bima berupa baju-baju perang hingga stempel dokumen, pakaian adat sasak, samawa dan mbojo, koleksi perhiasan seperti keris, hiasan kepala, hiasan telinga, gelang tangan,

5 Dokumentasi, data profil Museum Negeri Nusa Tenggara Barat 2020, tanggal 25 Januari 2021.

6 Ibid.

(18)

4

naskah dengan huruf aksara, kain tenun ketiga suku di Nusa Tenggara Barat, benda-benda seni dan banyak lagi yang lain.

3. Fasilitas pendukung, seperti taman, musolla, berugak, pendopo dan lainnya.

Masyarakat yang berkunjung ke museum untuk tujuan wisata sangat banyak, baik dari sekolah yang dilakukan pada saat perpisahan dan kenaikan kelas, maupun masyarakat perorangan atau keluarga. Pengunjung yang datang berkunjung tidak hanya pengunjung lokal tetapi juga dari domestik dan mancanegara. Sebagai tempat tujuan wisata, sejak tahun 2009 Museum Negeri Nusa Tenggara Barat menjadi salah satu objek wisata budaya yang dikunjungi oleh wisatawan mancanegara (kapal pesiar).7

Tabel 1.1

Data Pengunjung Museum Negeri Nusa Tenggara Barat dari tahun 2016- 2020

Klasifikasi Data Pengunjung Museum Negeri Nusa Tenggara Barat

Tahun Uraian Jumlah Pengunjung Total

2016 1. Siswa:

TK SD SMP SMA 2. Mahasiswa 3. Peneliti

4. Wisatawan Asing

5. Tamu (Daerah dan Negara) 6. Umum

3.297 18.263 7.767 4.891 1.170 21 2.669 2.422 46.158

86.658

7 Ibid

(19)

5 2017 1. Siswa:

TK SD SMP SMA 2. Mahasiswa 3. Peneliti

4. Wisatawan Asing

5. Tamu (Daerah dan Negara) 6. Umum

11.438 22.772 16.398 10.041 3.666 6 1.667 107 21.960

88.055

2018 1. Siswa:

TK SD SMP SMA 2. Mahasiswa 3. Peneliti

4. Wisatawan Asing

5. Tamu (Daerah dan Negara) 6. Umum

17.136 20.885 11.675 10.959 1.107 13 1.323 29 25.120

88.247

2019 1. Siswa:

TK SD SMP SMA 2. Mahasiswa 3. Peneliti

4. Wisatawan Asing

5. Tamu (Daerah dan Negara) 6. Umum

19.398 19.851 11.022 5.360 1.071 2 1.562 - 32.135

90.401

2020 1. Siswa:

TK SD SMP SMA 2. Mahasiswa 3. Peneliti

4. Wisatawan Asing

5. Tamu (Daerah dan Negara) 6. Umum

2.199 1.652 711 789 348 11 391 25 3.262

9.338

Sumber: Data Museum Negeri Nusa Tenggara Barat 2020.

Dari tabel data pengunjung Museum Negeri Nusa Tenggara Barat diatas dapat dilihat bahwa pengunjung museum terus bertambah setiap

(20)

6

tahunnya. Pada tahun 2020 menurun drastis akibat adanya pandemi covid 19 karena adanya lockdown dan pembatasan aktivitas diluar rumah secara sosial. Rata-rata pengunjung sebagian besar berasal dari siswa sekolah dari jenjang TK, SD, SMP dan SMA. Kemudian diurutan kedua dari masyarakat umum, wisatawatan mancanegara dan mahasiswa.8

Museum sebagai salah satu objek wisata budaya yang tidak kalah menarik memiliki potensi yang tinggi untuk menarik kunjungan wisatawan.

Namun sangat disayangkan, bahwa museum sering dianggap hanya sebagai tempat-tempat barang seni atau galeri padahal banyak museum yang telah memiliki koleksi yang cukup memadai. Akan tetapi, tampilan dan penyajian yang kurang tertata dengan baik dan menarik sehingga belum mampu membangun ikatan emosional dengan para wisatawan. Seiring dengan perkembangan kepariwisataan, museum tidak hanya dinikmati oleh kalangan terbatas namun kini telah menjadi lebih terbuka untuk umum sebagai tempat edukasi dan rekreasi bagi wisatawan baik domestik maupun mancanegara. 9

Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Analisis Strategi Pengembangan Museum Negeri Nusa Tenggara Barat sebagai Salah Satu Objek Wisata Budaya di Kota Mataram”.

8 Ibid.

9 Ida Bagus Kade Subhiksu dan Gusti Bagus Rai Utama, Daya Tarik Wisata Museum dan perkembangannya di Ubud Bali, (Yogyakarta:Deepublish, 2018), Hlm. 28.

(21)

7 B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana strategi pengembangan Museum Negeri Nusa Tenggara Barat sebagai salah satu objek wisata budaya di Kota Mataram?

2. Sejauh mana dampak dari pelaksanaan strategi pengembangan Museum Negeri Nusa Tenggara Barat terhadap kemajuan Museum Negeri Nusa Tenggara Barat sebagai salah satu objek wisata budaya di Kota Mataram?

C. Tujuan dan Manfaat penelitian 1. Tujuan

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui strategi pengembangan Museum Negeri Nusa Tenggara Barat sebagai salah satu objek wisata budaya di Kota Mataram.

b. Untuk mengetahui dampak pelaksanaan strategi pengembangan Museum Negeri Nusa Tenggara Barat terhadap kemajuan Museum Negeri Nusa Tenggara Barat sebagai salah satu objek wisata budaya di Kota Mataram.

(22)

8 2. Manfaat Penelitian

a. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran secara teoritis maupun konseptual dalam perkembangan ilmu pengetahuan khususnya dibidang Pariwisata yang berhubungan dengan strategi pengembangan objek wisata.

b. Manfaat Akademik

Secara akademik, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai sumbangan ilmiah bagi jurusan pariwisata syariah khususnya untuk pengembangan penelitian menggunakan metode kualitatif untuk memberikan penjelasan yang lebih rinci dan objektif tentang analisis strategi pengembangan Museum Negeri Nusa Tenggara Barat sebagai salah satu objek wisata budaya di Kota Mataram.

c. Manfaat Praktis

1) Manfaat praktis untuk lembaga

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan masukan serta bahan evaluasi kepada lembaga terkait.

2) Manfaat praktis untuk penulis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat terutama bagi penulis dan mahasiswa jurusan pariwisata syariah serta mengembangkan kemampuan penulis secara khusus dan mahasiswa secara umum.

(23)

9 D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian

1. Ruang Lingkup

Untuk memperjelas penelitian ini, peneliti memberikan batasan dalam melakukan penelitian, yaitu difokuskan pada strategi pengembangan Museum Negeri Nusa Tenggara Barat sebagai salah satu objek wisata budaya di Kota Mataram serta dampak pelaksanaan strategi tersebut.

2. Setting Penelitian

Setting penelitian ini dilaksanakan di Museum Negeri Nusa Tenggara Barat yang terletak di tengah Kota Mataram, secara administrasi terletak di jalan Panji Tilar Negara No. 6, Kelurahan Taman Sari, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

E. Telaah Pustaka

1. Munanda Pradana Nenggala, “Strategi Pengembangan Potensi dan Daya Tarik Wisata Museum Tuanku Imam Bonjol Di Kabupaten Pasaman”, JOM Fekon, Vol. 4, No. 1, 2017.

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel menggunakan teknik accidental sampling dengan jumlah responden 100 orang pengunjung. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi lapangan, kuesioner wawancara dan studi pustaka. Metode untuk menganalisa data menggunakan analisis

(24)

10

SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi yang paling utama dalam pengembangan Museum Tuanku Imam Bonjol yaitu letaknya yang strategis, koleksi-koleksi dengan keaslian benda yang kaya akan sejarah. Dalam pengembangan perlu peningkatan promosi, sarana-prasarana dan sarana pendukung yang bersifat inovatif dan kreatif.10

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Munanda Pradana Nenggala memiliki kesamaan dan perbedaan dengan penelitian yang peneliti lakukan. Persamaannya adalah terkait dengan tema penelitian, yakni terkait dengan strategi pengembangan.

Sedangkan perbedaannya adalah metode penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis data dan objek penelitian yang dilakukan. Munanda Pradana Nenggala menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan observasi lapangan, kuesioner wawancara dan studi pustaka. Teknik analisis data menggunakan analisis SWOT, sedangkan peneliti menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan studi dokumentasi dan teknik analisis data dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dan verifikasi.

Objek penelitian yang dilakukan oleh Munanda Pradana Nenggala yaitu di Museum Tuanku Imam Bonjol Di Kabupaten Pasaman,

10Munanda Pradana Nenggala, “Strategi Pengembangan Potensi dan Daya Tarik Wisata Museum Tuanku Imam Bonjol Di Kabupaten Pasaman”, JOM Fekon, Vol. 4, No. 1, Februari 2017.

(25)

11

sedangkan objek penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu di Museum Negeri Nusa Tenggara Barat.

2. Budi Hasanah, “Strategi Pengembangan Museum dan Situs Kepurbakalaan Banten Lama Kota Serang”, Jurnal Sawala, Volume 4, Nomor 2, 2016.

Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Menggunakan teknik pengumpulan data dengan wawancara, observasi dan dokumentasi dan teknik analisis data dengan Pengumpulan data, Reduksi data, Sajian data, Kesimpulan/verifikasi data. Alat analisis yang digunakan adalah analisis SWOT. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa strategi pengembangan Museum dan Situs Kepurbakalaan Banten Lama Kota Serang agar dapat berfungsi optimal dan efektif adalah penambahan jumlah sumber daya manusia yang terpesialisasi sesuai kompetensi yang dimiliki ke dalam unit/departemen berdasarkan kebutuhan museum dan situs kepurbakalaan Banten Lama dengan cara mendatangkan tenaga yang berkompeten, rekrutmen pegawai sesuai backround dan melibatkan masyarakat setempat.11

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Budi Hasanah memiliki kesamaan dan perbedaan dengan penelitian yang peneliti lakukan.

Persamaannya adalah terkait dengan tema penelitian, metode yang digunakan dan teknik pengumpulan data yakni terkait dengan strategi

11 Budi Hasanah, “Strategi Pengembangan Museum dan Situs Kepurbakalaan Banten Lama Kota Serang”, Jurnal Sawala, Volume 4, Nomor 2, 2016.

(26)

12

pengembangan dan metode yang digunakan yaitu metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Sedangkan perbedaannya adalah teknik analisis data dan objek penelitian yang dilakukan. Budi Hasanah menggunakan teknik analisis data dengan Pengumpulan data, Reduksi data, Sajian data, Kesimpulan/verifikasi data dengan alat analisis SWOT, sedangkan peneliti menggunakan teknik analisis data yaitu dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dan verifikasi. Objek penelitian yang dilakukan oleh Budi Hasanah yaitu di Museum dan Situs Kepurbakalaan Banten Lama Kota Serang, sedangkan objek penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu di Museum Negeri Nusa Tenggara Barat.

3. Enny Mulyantari, “Strategi Pengembangan Situs Manusia Purba Sangiran Sebagai Daya Tarik Wisata Budaya”, Jurnal Media Wisata, Volume 14, Nomor 1, 2016.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan metode pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan, dokumentasi, penelusuran dan studi pustaka. Dalam proses analisis, penelitian ini menggunakan analisis SWOT dan hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam mewujudkan potensi dan kualitas produk wisata, penekanan nilai-nilai edukatif dan informatif itu penting disamping

(27)

13

rekreatif yang menghibur, Peningkatan promosi, keterlibatan masyarakat lokal dan hukum yang menaungi.12

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Enny Mulyantari memiliki kesamaan dan perbedaan dengan penelitian yang peneliti lakukan. Persamaannya adalah terkait dengan tema penelitian dan metode yang digunakan yakni terkait dengan strategi pengembangan dan metode yang digunakan yaitu metode kualitatif.

Sedangkan perbedaannya adalah teknik pengumpulan data, teknik analisis data dan objek penelitian yang dilakukan. Enny Mulyantari menggunakan teknik pengumpulan data dengan pengamatan, dokumentasi, penelusuran dan studi pustaka dan teknik analisis data dengan analisis SWOT, sedangkan peneliti menggunakan teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara dan dokumentasi, teknik analisis data yaitu dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dan verifikasi. Objek penelitian yang dilakukan oleh Enny Mulyantari yaitu di Situs Manusia Purba Sangiran, sedangkan objek penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu di Museum Negeri Nusa Tenggara Barat.

4. Desi Novita Sirait, “Strategi Pengembangan Wisata Budaya Museum T.B Silalahi Center Balige Kabupaten Toba Samosir”. Departemen Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, Medan, 2017.

12 Enny Mulyantari, “Strategi Pengembangan Situs Manusia Purba Sangiran Sebagai Daya Tarik Wisata Budaya”, Jurnal Media Wisata, Volume 14, Nomor 1, 2016.

(28)

14

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Desi Novita Sirait menggunakan metode pendekatan Kualitatif dengan Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis SWOT dan melihat seluruh aspek dari lingkungan internal dan eksternal di Museum T.B Silalahi Center. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pengembangan wisata budaya Museum T.B Silalahi Center sudah berjalan dengan maksimal. Hal ini dapat dilihat dengan pengelolaan museum yang maksimal dan peningkatan jumlah pengunjung setiap tahunnya baik domestik maupun mancanegara.13

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Desi Novita Sirait memiliki kesamaan dan perbedaan dengan penelitian yang peneliti lakukan. Persamaannya adalah terkait dengan tema penelitian, metode yang digunakan dan teknik pengumpulan data yakni terkait dengan strategi pengembangan dan metode yang digunakan yaitu metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Sedangkan perbedaannya adalah teknik analisis data dan objek penelitian yang dilakukan. Desi Novita Sirait menggunakan teknik analisis data dengan analisis SWOT, sedangkan peneliti menggunakan teknik analisis data yaitu dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dan verifikasi.

13 Desi Novita Sirait, “Strategi Pengembangan Wisata Budaya Museum T.B Silalahi Center Balige Kabupaten Toba Samosir”. (Skripsi, Departemen Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara, Medan, 2017).

(29)

15

Objek penelitian yang dilakukan oleh Desi Novita Sirait yaitu di Museum T.B Silalahi Center Balige Kabupaten Toba Samosir, sedangkan objek penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu di Museum Negeri Nusa Tenggara Barat.

5. Erwin Ahmadi, “Strategi Pengembangan Pariwisata Halal Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang”. Jurusan Manajemen Dakwah (MD) Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo, Semarang, 2019.

Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan analisis deskriptif yang menggunakan sumber data primer dan sekunder dengan teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Dalam menganalisis data yang telah ditemukan menggunakan teknik analisis data yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil dalam penelitian ini adalah kota Semarang memiliki potensi yang bagus untuk pengembangan pariwisata halal. Adapun strategi yang dapat dilakukan dalam pengembangan pariwisata halal di kota semarang, yaitu pembinaan terhadap pelaku industri dalam bidang pariwisata terkait dengan konsep halal, promosi dan sosialisasi melalui sosial media terkait dengan wisata halal, melakukan kerjasama dengan MUI dan BPOM terkait dengan sertifikasi halal dan menyediakan paket-paket wisata halal diberbagai destinasi yang ada dikota Semarang serta

(30)

16

perbaikan dan inovasi objek-objek wisata yang ada di kota Semarang.14

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Erwin Ahmadi memiliki kesamaan dan perbedaan dengan penelitian yang peneliti lakukan.

Persamaannya adalah terkait dengan tema penelitian, metode dan pendekatan penelitian yakni terkait dengan strategi pengembangan, dan metode yang digunakan yaitu metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Sedangkan perbedaannya adalah objek penelitian yang dilakukan. Objek penelitian yang dilakukan oleh Erwin Ahmadi yaitu di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang sedangkan objek penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu di Museum Negeri Nusa Tenggara Barat.

F. Kerangka Teori 1. Pariwisata

Pariwisata merupakan kegiatan yang dapat dipahami dari banyak pendekatan. Dalam Undang-undang RI nomor 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan dijelaskan bahwa pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, dan pemerintah.15

14Erwin Ahmadi, “Strategi Pengembangan Pariwisata Halal Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang”. (Skripsi, Jurusan Manajemen Dakwah (MD), Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas Islam Negeri Walisongo, Semarang, 2019).

15 Isdarmanto. Dasar-Dasar Kepariwisataan dan Pengelolaan Destinasi Pariwisata.

(Yogyakarta:Penerbit Gerbang Media Aksara dan STiPrAm Yogyakarta, 2017). Hlm. 8-9

(31)

17

Suwantoro mendefinisikan istilah pariwisata, yaitu suatu perubahan tempat tinggal sementara seseorang diluar tempat tinggalnya karena suatu alasan dan bukan untuk melakukan kegiatan yang menghasilkan upah.16 Sedangkan Wahab menjelaskan pariwisata adalah salah satu jenis industri baru yang mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang cepat dalam penyediaan lapangan kerja, peningkatan penghasilan, standart hidup serta menstimulasi sektor- sektor produktivitas lainnya. Sebagai sektor yang kompleks, pariwisata juga meliputi industri-industri klasik seperti kerajinan tangan dan cindera mata, penginapan, transportasi secara ekonomi juga dipandang sebagai industri.17

Pada dasarnya bagian-bagian dari gejala pariwisata terdiri dari tiga unsur:18

1. Manusia (unsur insani sebagai pelaku kegiatan pariwisata).

2. Tempat (unsur fisik yang sebenarnya tercakup oleh kegiatan itu sendiri).

3. Waktu (unsur tempo yang dihabiskan dalam perjalanan itu sendiri selama berdiam ditempat tujuan).

16 Anastasia Murdiastuti, dkk, Kebijakan Pengembangan Pariwisata Berbasis Democratic Governance, (Surabaya: Penerbit Buku Pustaka Radja, 2014), Hlm 35.

17 Ibid, Hlm. 39.

18 Isdarmanto. Dasar-Dasar…,Hlm. 14.

(32)

18

Unsur-unsur Pariwisata yang mutlak sangat menentukan dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan adalah unsur pengelolaan dari:19

a. Daya Tarik Wisata (Attractions), merupakan salah satu unsur yang membentuk dan menentukan suatu daerah menjadi destinasi pariwisata. Setiap destinasi pariwisata memiliki daya tarik berbeda-beda sesuai dengan kemampuan atau potensi yang dimiliki. Di bawah ini adalah jenis daya tarik wisata yang biasanya ditampilkan di destinasi pariwisata:

1. Daya tarik wisata alam (natural tourist attractions), segala bentuk daya tarik yang dimiliki oleh alam, misalnya: laut, pantai, gunung, danau, lembah, bukit, air terjun, sungai, hutan.

2. Daya tarik wisata buatan manusia (man-made tourist attractions), meliputi: Daya tarik wisata budaya (cultural tourist attractions), misalnya: tarian, wayang, upacara adat, lagu, upacara ritual dan daya tarik wisata yang merupakan hasil karya cipta, misalnya: bangunan seni, bangunan bersejarah, Museum, seni pahat, ukir, lukis.

b. Fasilitas dan Jasa Pelayanan Wisata (Amenities), adalah segala fasilitas pendukung yang bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan wisatawan selama berada di destinasi. Amenitas

19 Ibid, Hlm. 59-60.

(33)

19

berkaitan dengan ketersediaan sarana akomodasi baik secara langsung maupun secara tidak langsung.

c. Kemudahan untuk mencapai destinasi wisata (Accesibility), faktor yang tidak kalah penting yang mempengaruhi kunjungan wisatawan disebuah detinasi wisata adalah aksesibilitas yang tersedia yakni kemudahan untuk mencapai destinasi tujuan.

Dalam hal ini aksesibilitas yang dimaksud yaitu sarana dan infratstruktur menuju destinasi tujuan, seperti jalan yang memadai, papan informasi, transportasi (darat, laut dan udara).

d. Keramahtamahan (Ancilliary/Hospitality), yakni berkaitan dengan ketersediaan sebuah organisasi atau orang-orang yang mengurus destinasi tersebut. Mereka yang menjadi pelaku pariwisata yang menjadi tuan rumah didestinasi wisata. Sebagai sebuah industri, pariwisata juga memerlukan manajemen dan pengelolaan yang baik agar tetap berlangsung dan dapaat dinikmati oleh wisatawan yang berkunjung.

Pengembangan suatu destinasi pariwisata harus memenuhi tiga kriteria agar obyek destinasi wisata tersebut dapat diminati pengunjung, yaitu:20

1 Something to see adalah obyek wisata tersebut harus mempunyai sesuatu yang bisa di lihat atau daya tarik khusus yang bisa di jadikan tontonan oleh pengunjung wisata.

20 Ibid, Hlm. 59-60.

(34)

20

2 Something to do adalah agar wisatawan yang melakukan pariwisata di sana bisa melakukan sesuatu yang berguna atau bermanfaat untuk memberikan perasaan senang, bahagia, pengalaman, wawasan yang baru.

3 Something to buy adalah fasilitas untuk wisatawan dapat berbelanja yang berupa souvenir, produk kemasan yang pada umumnya adalah merupakan ciri khas atau icon dari daerah atau destinasi tersebut, sehingga bisa dijadikan sebagai oleh-oleh.

2. Strategi Pengembangan

Banyak variasi mengenai definisi strategi dalam manajemen strategi jika dilihat fokusnya. Tetapi intinya adalah sama yaitu strategi adalah rencana. Strategi menurut James Brian Quinn, merupakan pola atau rencana yang mengintegrasikan tujuan-tujuan utama, kebijakan- kebijakan, urutan-urutan aksi kedalam keseluruhan yang saling terkait.21

Stanton dalam Budhita menyatakan strategi sebagai suatu rencana dasar yang luas dari suatu tindakan organisasi untuk mencapai suatu tujuan. Rencana dalam mencapai tujuan tersebut sesuai dengan lingkungan eksternal dan internal. Sedangkan menurut Chandler dalam Rangkuti Strategi adalah suatu rencana dasar yang luas dari suatu tindakan organisasi untuk mencapai suatu tujuan. Strategi

21 Syarafuddin Alwi, Manajemen Sumber Daya Manusia Strategi Keunggulan Kompetitif, (Yogyakarta:BPFE-Ygyakarta, 2001), Cet. Pertama, Hlm. 78-79

(35)

21

merupakan alat untuk mencapai tujuan perusahaan dalam kaitannya dengan tujuan jangka panjang, program tidak lanjut serta prioritas alokasi sumber daya.22

Stoner, Freeman dan Gilbert, memberikan pengertian strategi dengan dua persepektif.23

a. Melihat dari apa yang organisasi ingin lakukan, strategi dipandang sebagai program untuk menentukan dan mencapai tujuan organisasi dan melaksanakan misinya.

b. Melihat dari apa yang organisasi akhirnya lakukan, strategi dipandang sebagai suatu pola tanggap atau respon organisasi terhadap lingkungan secara terus menerus sepanjang waktu.

Strategi dalam manajemen strategi itu memiliki beberapa level (tingkatan-tingkatan), yaitu:24

1. Level korporat, yaitu strategi yang dirumuskan oleh kantor pusat untuk mengendalikan perusahaan yang memiliki beberapa anak perusahaan.

2. Level bisnis, yaitu strategi yang dirumuskan dan diimplementasikan oleh unit bisnis.

3. Level fungsional, yaitu strategi fungsi dari masing-masing devisi atau bagian dalam perusahaan.

22 Munanda Pradana Nenggala, “Strategi Pengembangan Potensidan Daya Tarik Wisata Museum Tuanku Imam Bonjol Di Kabupaten Pasaman”, JOM Fekon, Vol. 4, No. 1, Februari 2017, Hlm. 190

23 Abd. Rohman, Dasar-Dasar Manajemen Publik, (Malang:Empatdua, 2018), Hlm. 206.

24 (Chand) Suhardi, Pengantar Manajemen Dan Aplikasinya, (Yogyakarta:Penerbit Gava Media, 2018), Cet.ke-1, Hlm 87.

(36)

22

Dalam konteks bisnis, strategi adalah metode untuk berkompetisi melalui tindakan pengefektifan alokasi sumber-sumber daya yang diperlukan untuk mencapai tujuan perusahaan. Manajemen strategik didefinisikan sebagai kumpulan keputusan dan tindakan yang merupakan hasil rumusan dan implementasi pada rencana yang dibuat untuk mencapai tujuan perusahaan serta bagaimana mengevaluasi dan melaksanakan tindakan tersebut demi tercapainya tujuan perusahaan yang mencakup perumusan, implementasi dan evaluasi rencana strategi. Proses manajemen strategik terdiri atas tiga tahapan utama, yaitu perumusan strategi, implementasi strategi, serta evaluasi dan pengendalian strategi yang diawali dengan pengamatan lingkungan. 25 Menurut Moekijat, pengembangan adalah setiap usaha untuk memperbaiki pelaksanaan pekerjaan yang sekarang maupun yang akan datang dengan memberikan informasi, mempengaruhi sikap-sikap atau menambah kecakapan-kecakapan, dengan kata lain pengembangan adalah kegiatan yang dimaksudkan untuk mengubah prilaku yang terdiri dari pengetahuan, kecakapan dan sikap.26

Pada prinsipnya, pengembangan merupakan kegiatan pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan umum jangka panjang.

Istilah pengembangan (Development) dapat dimaknai sebagai upaya

25Musa Hubeis dan Mukhamad Najib, Manajemen Strategik Dalam Pengembangan Daya Saing Organisasi, (Jakarta:PT Elex Media Komputindo, 2014), Hlm. 19 dan 23-28.

26 Aras Solong, Manajemen Pengembangan Sumber Daya Manusia Menunjang Kinerja Aparatur Berkualitas, (Yogyakarta:Penerbit Deepublish, 2020), Cet. Pertama, Hlm. 25.

(37)

23

meningkatkan segala sesuatu yang dimiliki agar bertambah menjadi lebih baik atau lebih besar dari sebelumnya.27

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa strategi pengembangan adalah suatu rangkaian aktivitas pengambilan keputusan untuk upaya kemajuan kearah yang lebih baik secara bertahap, terencana, teratur dan berkelanjutan yang menjurus ke sasaran yang diharapkan.28

Strategi pengembangan kepariwisataan bertujuan untuk mengembangkan produk dan pelayanan yang berkualitas, seimbang, dan bertahap. Menurut Suwantoro, Langkah pokok dalam strategi pengembangan kepariwisataan:29

a. Dalam jangka pendek dititikberatkan pada optimasi, terutama untuk mempertajam dan memantapkan citra kepariwisataan, meningkatkan mutu tenaga kerja, meningkatkan mutu pengelolaan, memanfaatkan produk yang ada, memperbesar saham dari pasar pariwisata yang telah ada.

b. Dalam jangka menengah dititik-beratkan pada konsolidasi, terutama dalam memantapkan cara kepariwisataan Indonesia, mengkonsolidasikan kemampuan pengelolaan, mengembangkan

27 Nurul Ulfatin dan Teguh Triwiyanto, Manajemen Sumber Daya Manusia Bidang Pendidikan, (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 2016), Ed. Ke-1, Cet. Ke-1, Hlm. 138.

28Enny Mulyantari, “Strategi Pengembangan Situs Manusia Purba Sangiran Sebagai Daya Tarik Wisata Budaya”, Jurnal Media Wisata, Volume 14, Nomor 1, 2016, Hlm 335.

29 Meiwany A. K. Tapatfeto dan Juita L.D Bessie, “Strategi Pengembangan Objek Wisata Dalam Upaya Peningkatan Kunjungan (Studi Pada Objek Wisata Pantai Oetune Kabupaten Tts)”, Journal Of Management (SME’s) Vol. 6, No.1, 2018, p1-20, Hlm. 4-5.

(38)

24

dan diversifikasi produk, mengembangkan jumlah dan mutu tenaga kerja.

c. Dalam jangka panjang dititik-beratkan pada pengembangan dan penyebaran dalam pengembangan kemampuan pengelolaan, pengembangan dan penyebaran produk dan pelayanan, pengembangan pasar pariwisata baru, pengembangan mutu dan jumlah tenaga kerja.

Menurut Marpaung, pengembangan kepariwisataan bertujuan memberikan keuntungan baik bagi wisatawan maupun warga setempat. Sebaliknya kepariwisataan dikembangkan melalui penyediaan tempat tujuan wisata. Konsep pengembangan tersebut dikembangkan melalui pemeliharaan kebudayaan, sejarah dan daya tarik wisata lain sesuai dengan potensi yang dimiliki.30

Lebih lanjut, Pitana menjelaskan bahwa teknik pengembangan harus menggabungkan beberapa aspek penunjang. Aspek-aspek tersebut adalah aspek aksesibilitas (transportasi dan saluran pemasaran), karakteristik infrastruktur pariwisata, tingkat interaksi sosial, keterkaitan/kompatibilitas dengan sektor lain, daya tahan akan dampak pariwisata, tingkat resistensi komunitas lokal dan seterusnya.31

30 Ibid, Hlm. 335.

31 Ibid, Hlm. 336.

(39)

25

Dalam bukunya, Pitana menjelaskan ada 8 teknik dalam pengembangan pariwisata, yakni:32

d. Carring Capacity (daya dukung kawasan)

e. Recreational Carring Capacity (daya dukung rekreasi)

f. Recreational Opportunity Spectrum (spectrum peluang rekreasi) g. Limits of Acceptable Change (batas perubahan yang dapat

diterima)

h. Visitor Impact Management Model (model pengelolaan dampak pengunjung)

i. Visitor Experience and Resource Protection Model (pengalaman pengunjung dan model perlindungan sumber daya)

j. Visitor Activity Management (manajemen aktivitas pengunjung) k. Tourism Opportunity Spectrum (spectrum peluang pariwisata)

Dalam hal ini, peneliti menggunakan Tourism Opportunity Spectrum sebagai teknik pengembangan pariwisata dalam menganalisis Strategi Pengembangan Museum Negeri Nusa Tenggara Barat sebagai Objek Wisata Budaya di Kota Mataram.

Butler dan Waldbrook memperkenalkan teknik perencanaan ekowisata yang dikenal dengan Tourism Opportunity Spectrum (TOS).

Secara detail, TOS menganut asumsi bahwa spectrum pengukuran dan penilaian indikator perencanaan yang digunakan harus:33

1. Dapat diamati dan diukur.

32 I Gede Pitana dan I Ketut Surya Dirata, Pengantar Ilmu Pariwisata, (Yogyakarta:Andi, 2019),Ed. Ke-1, Hlm 134-145.

33 Ibid, Hlm. 145

(40)

26

2. Secara langsung dapat dikendalikan dibawah manajemen kontrol.

3. Terkait langsung dengan preferensi wisatawan dan memengaruhi keputusannya untuk melakukan wisata atau tidak ketempat tersebut.

4. Mempunyai karakteristik dengan kondisi tertentu.

Elemen-elemen dalam konsep Tourism Opportunity Spectrum adalah sebagai berikut:34

a. Aksesibilitas

Dalam pengembangan pariwisata sebagai sebuah sistem, faktor aksesibilitas baik berupa perencanaan perjalanan, penyediaan informasi mengenai rute dan destinasi, ketersediaan saran transportasi akomodasi ataupun kemudahan lain untuk mencapai destinasi menjadi penentu peluang pengembangan destinasi.

Aksesibilitas juga menyangkut manajemen informasi kawasan pengembangan bagi calon wisatawan mengingat keunikan destinasi. Akses informasi bisa dari mulut kemulut, dari keluarga dan teman, buku-buku pariwisata dan brosur, tabloid, iklan dan sejenisnya. Dalam Tourism Opportunity Spectrum, semakin mudah aksesibilitas kedestinasi pariwisata

34 Ibid, Hlm. 145-149

(41)

27

maka semakin besar peluang keberhasilan pengembangannya, dan vice versa.

b. Kompatibilitas dengan kegiatan lain

Keberhasilan pengembangan destinasi pariwisata sangat ditentukan oleh kompatibilitasnya terhadap aktivitas lain dikawasan pengembangan. Sifat interdependensi, baik sumber daya maupun dampak suatu kegiatan disuatu kawasan terhadap kawasan lain, menajadi salah satu faktor penentu keberhasilan pengembangan destinasi pariwisata. Yang perlu diperhatikan adalah sampai level mana sebuah pengembangan kawasan dapat memengaruhi kawasan lain dan kondisi yang bagaimana yang paling optimal dan baik untuk menunjang kawasan pengembangan.

c. Karakteristik sarana pariwisata

Penyediaan sarana pariwisata sangat menentukan peluang pengembangan sebuah destinasi pariwisata. On site management, penataan sarana pariwisata, termasuk didalamnya pengadaan fasilitas baru, penanaman atau introduksi vegetasi, akomodasi, tempat perbelanjaan, fasilitas hiburan serta penataan akses lalu lintas kekawasan. Pembangunan sarana pariwisata ini memerlukan modifikasi kawasan yang bisa saja berakibat sangat kompleks. Hal ini harus mempunyai karakteristik yang sesuai dengan kawasan yang dikembangkan.

(42)

28 d. Interaksi sosial

Dalam sistem kepariwisataan, ada dua kondisi interaksi manusia yang harus dipertimbangkan. Pertama, interaksi manusia dengan lingkungan/ekosistem yang memengaruhi ekosistem alam. Kedua, interaksi antara wisatawan dengan komunitas lokal yang dapat memengaruhi ekosistem sosial.

Interaksi ini dapat berupa adaptasi atau peningkatan kadar gangguan yang dirasakan oleh komunitas seiring dengan jumlah peningkatan wisatawan yang melampaui ambang batas atau daya dukung sosial. Semakin besar dampak positif yang ditimbulkan pariwisata terhadap kualitas interaksi sosial manusia dengan ekosistem sosial dan ekosistem lingkungannya maka peluang pengembangan destinasi pariwisata akan semakin besar.

e. Tingkat akseptabilitas komunitas lokal terhadap keberadaan wisatawan

Keberadaan orang baru disuatu wilayah akan mengakibatkan terjadinya keseimbangan baru pada sistem sosial diwilayah tersebut untuk memastikan sistem sosial tersebut tetap stabil. Tingkat penerimaan atau akseptabilitas komunitas lokal terhadap datangnya wisatawan dikawasan tersebut akan menimbulkan reaksi dalam derajat tertentu. Sifat dan tingkat reaksi (damai/konflik) sangat ditentukan oleh derajat akibat

(43)

29

yang akan ditimbulkannya dan kemampuan pengendalian (kontrol) oleh komunitas lokal. Akibat dan control keduanya harus dikelola sebaik mungkin. Semakin buruk sistem kendali terhadap kedua faktor tersebut maka peluang pengembangan destinasi pariwisata akan semakin kecil, dan vice versa.

f. Derajat manajemen control

Derajat manajemen control mencerminkan kelenturan pengelolaan destinasi wisata agar mampu memuaskan sifat petualangan dari wisatawan. Konsekuensinya pengelolaan destinasi pariwisata memerlukan paket wisata yang individual dan personal. Keberhasilan manajemen control dalam menyeimbangkan hasrat wisatawan yang menginginkan pengalaman dan petualangan yang spesifik dengan penyediaan atraksi wisata yang sesuai akan menentukan tingkat keberhasilan peluang pengembangan destinasi wisata.

3. Museum

Museum adalah sebuah lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan, melayani masyarakat, terbuka untuk umum, yang mengumpulkan, merawat, menghubungkan dan memamerkan, untuk tujuan-tujuan studi, pendidikan dan hiburan, barang-barang pembuktian manusia dan lingkungannya (definisi menurut ICOM =

(44)

30

International Council of Museum/Organisasi Permuseuman Internasional dibawah UNESCO).35

The International Council of Museums definition: A museum is a non-profit making, permanent institution in the service of society and of its development, and open to the public, which acquires, conserves, researches, communicates and exhibits, for purposes of study, education and enjoyment, material evidence of people and their environment (Dewan Permuseuman Internasional mendefinisikan:

Museum adalah lembaga permanen yang tidak mencari keuntungan, melayani masyarakat dan pengembangannya, dan terbuka untuk umum, yang memperoleh, melestarikan, meneliti, mengkomunikasikan, dan memamerkan, untuk tujuan studi, pendidikan dan hiburan, bukti material dari manusia dan lingkungannya.36

Melengkapi pengertian museum seperti yang dimaksud di atas, ICOM mengakui yang sesuai dengan definisi di atas adalah:37

a. Lembaga-lembaga konservasi dan ruangan-ruangan pameran yang secara tetap diselenggarakan oleh perpustakaan dan pusat- pusat kearsipan.

35 N.E. Sri Hastuti, Melawat ke Museum, (Sukoharjo:CV Graha Printama Selaras, 2019), Hlm. 5

36 Timothy Ambrose dan Crispin Paine, “Museum Basics”, (Routledge2 Park Square:Taylor

& Francis e-Library, 2006), Hlm. 8.

37 Moh. Amir Sutaarga, Pedoman Penyelenggaraan Dan Pengelolaan Museum, (Jakarta:Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Proyek Pembinaan Permuseuman Jakarta1997/1998, 1997), Cetakan ke-4, Hlm. 15-16.

(45)

31

b. Peninggalan dan tempat-tempat alamiah, arkeologis dan etnografis, peninggalan dan tempat-tempat bersejarah yang mempunyai corak museum, karena kegiatan-kegiatannya dalam hal pengadaan, perawatan dan komunikasinya dengan masyarakat.

c. Lembaga-lembaga yang memamerkan mahkluk-mahkluk hidup, seperti kebun tanaman dan binatang, akuarium, mahkluk dan tetumbuhan lainnya, dan sebagainya.

d. Suaka alam;

e. Pusat-pusat Pengetahuan dan planetarium.

Sedangkan pengertian museum menurut peraturan pemerintah No. 19/1995 dan keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No.

KM.33/PI.303/MKP/2004, adalah lembaga tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan benda-benda material hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa.38 Museum mempunyai fungsi sebagai berikut:39

1. Pusat dokumentasi dan penelitian ilmiah.

2. Pusat penyaluran ilmu untuk umum.

3. Pusat penikmatan karya seni.

4. Pusat perkenalan kebudayaan antardaerah dan antarbangsa.

5. Objek wisata.

38 Direktorat Museum, Dirjen Sejarah dan Purbakala dan Depbudpar, Pedoman Pengelolaan Museum, (2017), Hlm 12.

39 N.E. Sri Hastuti, Melawat…, Hlm. 11-12.

(46)

32

6. Media pembinaan pendidikan kesenian dan ilmu pengetahuan.

7. Suaka alam dan suaka budaya.

8. Cerminan sejarah manusia, alam dan kebudayaan.

9. Sarana untuk bertakwa dan bersyukur kepada Tuhan yang Maha Esa.

Di indonesia, museum diklasifikasikan menjadi beberapa jenis klasifikasi, yaitu jenis museum berdasarkan status penyelenggaranya, jenis berdasarkan koleksi yang dimiliki dan jenis berdasarkan kedudukannya.40

a. Jenis museum berdasarkan status penyelenggaranya diklasifikasikan menjadi museum swasta dan museum pemerintah.

b. Jenis museum berdasarkan koleksi yang dimiliki, terdiri dari 2 jenis museum, yakni:

1. Museum umum, yaitu museum yang memiliki koleksi dari berbagai cabang ilmu, antara lain ilmu pengetahuan alam, sosial dan ilmu-ilmu lainnya. Selain itu, yang disebut museum umum adalah museum yang memiliki berbagai jenis koleksi dari berbagai kurun waktu dan lokasi. Contoh museum umum adalah museum nasional dan museum- museum negeri provinsi.

40Direktorat Museum, Dirjen Sejarah dan Purbakala dan Depbudpar, Pedoman…,Hlm 12.

(47)

33

2. Museum khusus, yakni museum yang memiliki koleksi dari satu cabang ilmu pengetahuan atau memiliki satu jenis koleksi saja, antara lain museum satu cabang ilmu pengetahuan, Museum Biologi, Museum Geologi, Museum Zoology, Museum Ethography, Museum Seni, Museum Sejarah, museum yang memiliki satu jenis koleksi seperti Museum Kereta Api, Museum Wayang dan sebagainya.

c. Jenis museum berdasarkan kedudukannya, terdiri dari 3 jenis museum, yakni:

1. Museum nasional, yakni museum yang memiliki koleksi yang mewakili cabang ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya dari seluruh wilayah di Indonesia.

2. Museum regional/provinsi, yakni museum yang memiliki koleksi yang mewakili cabang ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya dari satu wilayah provinsi.

3. Museum lokal, yakni yang memiliki koleksi yang memiliki koleksi yang mewakili cabang ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya dari seluruh wilayah di satu wilayah kabupaten/kota.

(48)

34 4. Wisata budaya

Budaya itu merupakan elemen pariwisata yang paling menarik minat wisatawan baik wisatawan domestik ataupun wisatawan mancanegara untuk datang ke indonesia. Dimana perkembangan pariwisata dapat merangsang perkembangan kebudayaan karena disengaja atau tidak, kebudayaan akan terus berkembang. Yang dimaksud dengan wisata budaya sendiri adalah kegiatan perjalanan wisata yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu baik seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat-tempat tertentu dengan tujuan untuk mempelajari daya tarik budaya atau memanfaatkan potensi budaya dari tempat yang dikunjungi.41

Dengan wisata budaya, wisatawan dapat mengetahui dan mempelajari pola prilaku sosial warga masyarakat, adat istiadat, kebiasaan, serta warisan seni budaya lainnya. Jadi, secara umum tujuan dari wisata budaya bisa melestarikan alam, lingkungan, dan sumber daya, memajukan kebudayaan, mengangkat citra bangsa, memupuk rasa cinta tanah air, memperkukuh jati diri dan kesatuan bangsa, mempererat persahabatan antar bangsa.42

Menurut Pendit, wisata budaya merupakan perjalanan yang dilakukan atas dasar keinginan untuk memperluas pandangan hidup dengan jalan mengadakan kunjungan atau peninjauan ketempat lain,

41 Tim Edukasi. Wisata Budaya Di Indonesia. (Yogyakarta:Sentra Edukasi Media, 2020), Hal. 6-7

42 Ibid, Hlm. 7

(49)

35

mempelajari keadaan rakyat, kebiasaan dan asat istiadat mereka, cara hidup, budaya dan seni mereka.43

Istilah “budaya” bukan saja merujuk pada sastra dan seni, tetapi juga pada keseluruhan gaya hidup yang dipraktikkan manusia yang dipraktikkan sehari-hari yang ditransmisikan dari satu generasi ke kegenerasi berikutnya, serta mencakup pengertian yang lebih luas dari lifestyle dan folk heritage. Sumber daya budaya yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata adalah sebagai berikut:44 a. Bangunan bersejarah, situs, monumen, museum, galeri seni,

situs budaya kuno, dan sebagainya.

b. Seni dan patung kontemporer, arsitektur, tekstil, pusat kerajinan tangan dan seni, pusat desain, studio artis, industry film dan penerbit, dan sebagainya.

c. Seni pertunjukan, drama, sendratari, lagu daerah, teater jalanan, eksibisi foto, festival dan even khusus lainnya.

d. Peninggalan keagamaan seperti pura, candi, masjid, situs dan sejenisnya.

e. Kegiatan dan cara hidup masyarakat lokal, sistem pendidikan, sanggar, teknologi tradisional, cara kerja, dan sistem kehidupan setempat.

f. Perjalanan (treckking) ketempat bersejarah menggunakan alat transportasi unik (berkuda, dokar, cikar dan sebagainya).

43 Enny Mulyantari, “Strategi Pengembangan Situs Manusia Purba Sangiran Sebagai Daya Tarik Wisata Budaya”, Jurnal Media Wisata, Volume 14, Nomor 1, 2016, Hlm 336.

44 I Gede Pitana dan I Ketut Surya Dirata, Pengantar…, Hlm 74-76.

(50)

36

g. Mencoba kuliner (masakan setempat), melihat persiapan, cara membuat, menyajikan dan cara menyantapnya merupakan atraksi budaya yang sangat menarik bagi wisatawan.

Pariwisata yang menggunakan sumber daya budaya sebagai modal uatama dalam atraksi wisata dikenal sebagai pariwisata budaya.

Jenis wisata ini memberikan variasi yang luas menyangkut budaya, antara lain:45

1. Wisata Religi, yaitu wisata yang biasanya dilakukan oleh orang- orang dengan satu kepercayaan utama untuk mengunjungi tempat-tempat menurut mereka memberikan makna spiritual.

2. Wisata edukasi, yaitu wisata yang biasanya dilakukan oleh orang atau anak-anak dengan tujuan untuk mempelajari sesuatu dari objek wisata yang dikunjunginya.

3. Wisata sejarah, yaitu wisata yang biasanya dilakukan oleh orang-orang dengan tujuan untuk mengetahui sejarah atau melihat benda-benda bersejarah dan mempelajari masa lalu dari sebuah objek wisata yang dikunjunginya.

4. Wisata kota, yaitu wisata yang dilakukan oleh orang-orang untuk mengunjungi kota lain dan menyusuri kota tersebut sambil mempelajari budaya baru yang berbeda dengan daerah domisili mereka.

45 Tim Edukasi. Wisata…, Hlm. 8-9

(51)

37

5. Wisata adat, yaitu wisata yang dilakukan oleh orang-orang yang mengunjungi wisata adat dengan tujuan untuk mengetahui pola, potensi, arsitektur serta kebiasaan masyarakat adat dari sebuah daerah.

6. Wisata seni, yaitu wisata yang dilakukan oleh orang-orang yang mengunjungi sebuah objek wisata yang memiliki kesenian tinggi, baik seni pertunjukan maupun seni rupa.

Wisata budaya itu memiliki banyak manfaat baik daerah yang dikunjungi ataupun manfaat untuk wisatawannya sendiri. Berikut ada beberapa manfaat wisata budaya antara lain melestarikan budaya bangsa, menambah wawasan kebudayaan, mempelajari sejarah, mengangkat citra bangsa, memupuk rasa cinta tanah air, memperkukuh jati diri, mempererat persahabatan antar bangsa, melestarikan alam, mempelajari keunikan sebuah daearah, menambah pengalaman, mempersatukan bangsa, menambah ekonomi nasional, menambah kosa kata bahasa tertentu, mempelajari konsep arsitektur adat, mendapatkan kesan wisata yang sakral dan suci. 46

G. Metode Penelitian

1. Pendekatan Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian ini merupakan metode penelitian yang

46 Ibid, Hlm. 10-15

(52)

38

berusaha menggambarkan dan mendeskripsikan serta menginterpretasikan objek sesuai dengan kenyataan dilapangan.

Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.47 Secara harfiah, penelitian deskriptif adalah penelitian yang bermaksud untuk membuat pemaparan (deskripsi) mengenai situasi-situasi atau kejadian-kejadian.48

2. Kehadiran Peneliti

Dalam penelitian ini, peneliti secara langsung sebagai instrumen kunci dalam melakukan observasi lapangan untuk mengamati secara langsung objek yang diteliti. Dalam hal ini, peneliti melalui pengamatan langsung dan wawancara dengan informan untuk mendapatkan data yang diperlukan mengenai Analisis Strategi pengembangan Museum Negeri Nusa Tenggara Barat bagai salah satu objek wisata budaya di Kota Mataram. Kehadiran peneliti dilapangan sebisa mungkin dilakukan dilapangan dengan efektif dan efesien untuk mendapatkan data-data yang dibutuhkan.

47 Beni Ahmad Saebani dan Yana Sutisna. Metode Penelitian, (Bandung:CV Pustaka Setia, 2018), Hlm. 122.

48 Ni Made Eka Mahadewi. Metodologi Penelitian Pariwisata, Usaha Perjalanan, dan Hospitaliti dari Konsep ke Implementasi, (Depok:PT Raja Grafindo Persada, 2018), Hlm 33.

(53)

39 3. Sumber dan Jenis Data

a. Sumber Data

Dalam penelitian ini, sumber data diperoleh dari pihak- pihak, seperti pimpinan dan pegawai Museum Negeri Nusa Tenggara Barat dan pengunjung museum yang berada dalam lingkup Museum Negeri Nusa Tenggara Barat.

b. Jenis data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1) Data Primer adalah informasi yang diperoleh dari sumber- sumber primer, yakni yang asli, informasi dari tangan pertama atau narasumber.49 Data primer yang dikumpulkan berdasarkan penelitian dilapangan berupa data laporan yang akan diperoleh dari hasil wawancara dan observasi.

2) Data sekunder adalah informasi yang diperoleh tidak secara langsung dari narasumber, tetapi dari pihak ketiga.50 Data sekunder yang diperoleh adalah data-data yang bersumber dari buku kepustakaan, catatan, dan dokumen profil Museum Negeri Nusa Tenggara Barat.

4. Teknik Pengumpulan Data

Dalam melakukan penelitian ini, peneliti memperoleh data dengan menggunakan beberapa metode dalam pengumpulan data.

49Wardiyanta, Metode Penelitian Pariwisata, (Yogyakarta: CV. ANDI, 2010), Hlm. 28.

50 Ibid, Hlm. 28.

(54)

40

berikut metode dalam pengumpulan data lapangan yang digunakan oleh peneliti, yaitu:

a. Observasi

Metode observasi adalah cara mengumpulkan data berlandaskan pada pengamatan langsung terhadap gejala fisik objek penelitian.51 Observasi ialah pengamatan dengan pencatatan yang sistematis terhadap gejala-gejala yang diteliti.52

Dalam melakukan penelitian ini, peneliti menggunakan observasi partisipatif dalam bentuk partisipasi moderat (moderate participation), yaitu terdapat keseimbangan antara peneliti menjadi orang dalam dengan orang luar. Peneliti dalam mengumpulkan data ikut observasi partisipatif dalam beberapa kegiatan tapi tidak semuanya.53

Dalam hal ini, aspek-aspek yang akan di observasi adalah tempat, pelaku/narasumber dan aktivitas atau kegiatan.

1. Tempat, yakni lokasi yang menjadi tempat penelitian, yaitu lingkungan Museum Negeri Nusa Tenggara Barat.

2. Pelaku/narasumber, yakni orang-orang yang berada dan menjadi bagian dari lingkup lingkungan Museum Negeri Nusa Tenggara Barat.

Gambar

Tabel  1.1  :  Data  Pengunjung  Museum  Negeri  Nusa  Tenggara  Barat
Foto  koleksi  Museum  Negeri  Nusa  Tenggara  Barat  yang  di  pajang  di  Outdoor

Referensi

Dokumen terkait

Manfaat teoritis adalah bahwa penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan untuk memperkaya khasanah ilmu

Adapun manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat menambah kekayaan ilmu pengetahuan dalam dunia pendidikan khususnya mengenai manajemen kesiswaan dan pengembangan

Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmiah bagi ilmu pengetahuan hukum dalam pengembangan hukum pidana, khususnya pengetahuan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan yang bernilai ilmiah bagi pengembangan khazanah ilmu pengetahuan secara akademik bagi warga sekitar masjid

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa stretegi pengembangan wisata syariah di Sumatera Barat adalah menjadikan pariwisata sebagai sektor unggulan,

Manfaat teoritis, diharapkan hasil penelitian ini dapat bermanfaat dalam menambah, teoritis, kajian referensi, wawasan dan pengembangan keilmuan khususnya yang

Manfaat teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan teori pendidikan khususnya tentang strategi pembelajaran dengan penerapan metode

a) Secara teoretis penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai sumbangan pemikiran untuk menambah khazanah intelektual dalam ekonomi Islam, khususnya tentang implementasi harga