• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V SANITASI DAN K3

C. Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Kesehatan kerja adalah kondisi yang bebas dari gangguan fisik, mental emosi, atau rasa sakit yang disebabkan oleh lingkungan kerja. Sedangkan keselamatan kerja adalah pengawasan terhadap orang, mesin, material, dan metode yang mencakup lingkungan kerja agar supaya pekerja tidak mengalami cedera (Mangkunegara dalam Sayuti,2013).

Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) merupakan salah satu upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Keselamatan berasal dari bahasa Inggris yaitu kata

safety’ dan biasanya selalu dikaitkan dengan keadaan terbebasnya seseorang dari peristiwa celaka (accident) atau nyaris celaka (near-miss). Keselamatan kerja secara filosofi diartikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya serta hasil budaya dan karyanya. Dari segi keilmuan diartikan sebagai suatu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

Menurut Sedarmayanti (2011) ada 3 (tiga) tujuan dari sistem manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) yaitu sebagai berikut:

1. Sebagai alat mencapai derajat kesehatan tenaga kerja yang setinggi- tingginya baik buruh, petani, nelayan, pegawai negeri, atau pekerja bebas.

2. Sebagai upaya mencegah dan memberantas penyakit dan kecelakaan akibat kerja, memelihara, dan meningkatkan kesehatan dan gizi tenaga kerja, merawat dan meningkatkan efisiensi dan daya produktivitas tenaga manusia, memberantas kelelahan kerja dan melipat gandakan gairah serta kenikmatan bekerja.

3. Memberi perlindungan bagi masyarakat sekitar perusahaan agar terhindar dari bahaya pengotoran bahan proses industrialisasi yang bersangkutan, dan perlindungan masyarakat luas dari bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh produk industri.

Sumber daya manusia telah banyak memberikan kontribusi bagi kemajuan perusahaan dan salah satu aset berharga bagi perusahaan, oleh sebab itu sumber daya manusia yang ada harus dijaga dan juga harus mendapatkan kesejahteraan yang layak dalam segi finansial, kesehatan, keamanan dan kenyamanan di lingkungan tempatnya bekerja. CV. Sudirman menyediakan beberapa fasilitas guna untuk mencegah terjadinya kecelakaan dan meningkatkan kinerja atau aktivitas karyawan pada saat proses produksi berlangsung, yaitu sebagai berikut:

32

1. Fasilitas Sanitasi

Sanitasi merupakan suatu pemeliharaan yang terancam terhadap lingkungan sekitas perusahaan, peralatan, bahan baku, dan kelangsungan kegiatan kerja di pabrik. Untuk dapat menciptakan sanitasi yang baik, maka disediakan fasilitas sanitasi, yaitu sebagai berikut:

a. Air Bersih

b. Kamar mandi dan WC 2. Fasilitas Keselamatan Kerja

a. APD (Alat Pelindung Diri).

b. P3K dan obat-obatan lainnya.

33 BAB VI TUGAS KHUSUS A. Landasan Teori

1. Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Keselamatan dan kesehatan kerja secara har’fiah terdiri dari tiga suku kata yaitu kesehatan, keselamatan, dan kerja. Kesehatan dalam bahasa inggris disebut health, kesehatan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 adalah keselamatan dan kesehatan kerja atau K3 adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga kerja melalui upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.

Keselamatan dan kesehatan kerja adalah suatu ilmu multi disiplin yang menerapkan upaya pemeliharaan dan peningkatan kondisi lingkungan kerja, keselamatan dan kesehatan tenaga kerja serta melindungi tenaga kerja terhadap risiko bahaya dalam melakukan pekerjaannya serta mencegah terjadinya kerugian akibat kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja, kebakaran, peledakan, dan pencemaran lingkungan. Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja khususnya, dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budaya untuk menuju masyarakat adil dan makmur (Sibarani,2012).

34

Keselamatan kerja merupakan salah satu faktor yang harus dilakukan selama bekerja. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang menginginkan terjadinya kecelakaan. Keselamatan kerja sangat bergantung pada jenis, bentuk dan lingkungan dimana pekerjaan itu dilaksanakan. Unsur-unsur penunjang keselamatan kerja adalah sebagai berikut:

a. Adanya unsur-unsur keamanan dan kesehatan kerja.

b. Adanya kesadaran dalam menjaga keamanan dan kesehatan kerja.

c. Melaksanakan prosedur kerja dengan memperhatikan keamanan dan kesehatan kerja.

d. Teliti dalam melakukan pekerjaan.

2. Potensi Bahaya

Bahaya merupakan segala kondisi yang dapat merugikan baik cidera maupun kerugian lainnya, atau bahaya adalah sumber, situasi atau tindakan yang berpotensi menciderai manusia atau sakit penyakit kombinasi dari semuanya.

Bahaya juga dapat diartikan sebagai semua keadaan yang mempunyai potensi penyebab kerusakan pada manusia, fasilitas, hak miliki atau lingkungan. Bahaya ini tidak dapat diukur sehingga tidak mungkin dapat dikella tapi penting bahwa bahaya tetaplah bahaya yang tidak ada pengaruhnya dengan pekerjaan kecuali terpapar dengan pekerja, peralatan dan lainnya maka hal tersebut berisiko. Sebagai contoh, bahaya bekerja di ketinggian tanpa menggunakan pengaman atau menggunakan

pengaman tanpa sesuai standar yang ditentukan, kerusakan jalan raya yang mengakibatkan kecelakaan pengendara bermotor, dan lain-lain.

Potensi bahaya di tempat kerja yang berisiko menyebabkan terjadinya kecelakaan bahaya disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu sebagai berikut:

a. Kegagalan komponen, anatar lain berasal dari:

1) Rancangan komponen pabrik termasuk peralatan/mesin dan tugas- tugas yang tidak sesuai dengan kebutuhan pemakai.

2) Kegagalan yang bersifat mekanis.

3) Kegagalan sistem pengaman yang disediakan.

b. Kondisi yang menyimpang dari suatu pekerjaan diakibatkan:

1) Kegagalan pengawasan atau monitoring.

2) Kegagalan pemakaian dari bahan baku.

3) Kegagalan dalam prosedur pemakaian bahan baku.

4) Terjadinya pembentukan potensi bahaya dari limbah.

c. Kesalahan manusia dan organisasi, seperti:

1) Kesalahan operator manusia.

2) Kesalahan sistem pengaman.

3) Kesalahan pada perawatan dan/ atau perbaikan alat.

4) Melakukan pekerjaan tidak sesuai prosedur.

d. Pengaruh kecelakaan dari luar, yaitu terjadinya kecelakaan dalam suatu industri akibat kecelakaan lain yang terjadi di luar pabrik, seperti:

36

1) Kecelakaan pada waktu pengangkutan produk.

2) Kecelakaan pada saat penyelesaian produk di luar pabrik.

3) Kecelakaan pada pabrik di sekitarnya.

3. Kecelakaan Kerja

Kecelakaan kerja adalah kejadian yang jelas tidak dikehendaki dan sering tidak terduga yang dapat menimbulkan kerugian baik berupa waktu, harta benda, maupun korban jiwa yang terjadi di dalam suatu proses kerja industri.

Kecelakan dapat terjadi karena kondisi peralatan maupun material yang kurang baik dan berbahaya. Kecelakaan kerja juga dapat dipicu oleh kondisi lingkungan kerja seperti kondisi udara, penerangan, maupun kebisingan. Disamping itu, kecelakaan juga dapat bersumber dari manusia yang melakukan kegiatan di tempat kerja dan menangani peralatan ataupun material (Soehatman,2010).

a. Penyebab dasar dari kecelakaan

Adanya control yang tidak memadai akan menyebabkan timbulnya peluang pada penyebab dasar kecelakaan, yang meliputi faktor:

1) Komitmen manajemen perusahaan dalam penerapan K3 di perusahaan.

2) Manusia atau pekerja.

3) Kondisi tempat, sarana dan prasarana, dan lingkungan kerja.

b. Penyebab langsung

Jika penyebab dasar terjadi, maka secara tidak langsung terbukalah peluang untuk menjadi kondisi tidak aman.

c. Kondisi tidak aman

Kondisi fisik yang berbahaya atau keadaan yang berbahaya yang membuka peluang terjadinya kecelakaan, yaitu sebagai berikut:

1) Peralatan pengaman yang tidak cukup.

2) Bahaya kebakaran atau peledakan.

3) Sistem peringatan yang tidak memadai.

4) Kondisi lingkungan yang buruk.

d. Kejadian

Bila kondisi tidak aman tersebut tidak dilakukan kontrol, maka akan menyebabkan insiden. Insiden adalah kejadian yang tidak diinginkan yang kemungkinan mengakibatkan bahaya fisik bagi manusia, kerusakan harta benda, dan terhambatnya sebuah proses dalam industri. Kecelakaan akibat adanya sabotase, yang bisa dilakukan oleh orang luar atau dalam pabrik, biasanya hal ini akan sulit diatasi atau dicegah, namum faktor ini sangat kecil frekuensinya.

4. Job Safety Analysis (JSA)

JSA adalah suatu alat yang dapat menganalisis satu potensi risiko kerja dalam suatu pekerjaan, JSA dapat diterapkan untuk mengurangi potensi risiko kecelakaan kerja (Glenn, 2011). JSA atau sering juga

38

disebut dengan Job Hazard Analysis merupakan upaya untuk mempelajari/menganalisa dan serta pencatatan tiap-tiap urutan langkah kerja suatu pekerjaan, dilanjutkan dengan identifikasi potensi-potensi bahaya di dalamnya kenudian diselesaikan dengan menentukan upaya terbaik untuk mengurangi, menghilangkan atau mengendalikan bahaya- bahaya pada pekerjaan yang dianalisa tersebut (Adzim, 2014). Menurut Ramli (2010) JSA digunakan sebagai upaya untuk mengidentifikasi bahaya-bahaya yang terdapat di lingkungan kerja, beserta cara pengendalian atau penanggulangan guna mencegah kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang mungkin timbul dari suatu pekerjaan. JSA diharapkan dapat meminimasi kecelakaan kerja yang memiliki potensi terjadi selama proses produksi dengan melakukan tindakan pencegahan sedini mungkin untuk meningkatkan tingkat keselamatan dan kesehatan kerja, proses produksi yang efektif dan efisien serta produktivitas tinggi pada perusahaan.

Langkah umum yang biasanya dilaksanakan dalam melakukan identifikasi bahaya, penilaian risiko dan menentukan pengendaliannya meliputi:

a. Menentukan Personil Penilai

Penilai risiko dapat berasal dari intern perusahaan atau dibantu oleh petugas yang berkompeten di bidang tersebut. Tergantung dari kebutuhan, pada tempat kerja yang luas personil dapat berupa suatu team yang terdiri dari beberapa orang.

b. Menentukan Obyek yang Akan Dinilai

Obyek atau bagian yang akan dinilai dapat dibedakan menurut departemen yang ada, jenis pekerjaan, proses produksi dan sebagainya.

c. Kunjungan/Inspeksi Tempat Kerja

Kegiatan ini bersifat umum, prinsip utama dalam kegiatan ini adalah melihat, mendengar dan mencatat semua keadaan di tempat kerja baik mengenai proses produksi kondisi lingkungan maupun peralatan yang digunakan.

Berdasarkan penjelasan tersebut, pelaksanaan identifikasi bahaya, penilaian risiko dan menentukan pengendalianya berupa:

1) Identifikasi Bahaya

Identifikasi bahaya merupakan langkah awal dalam suatu upaya sistematis untuk mengetahui adanya bahaya dalam aktivitas organisasi. Identifikasi bahaya merupakan landasan manajemen risiko untuk menjawab pertanyaan apa potensi bahaya yang dapat terjadi atau menimpa organisasi/perusahaan dan

bagaimana terjadinya (Soehatman,2010).

2) Penilaian Risiko

Risiko adalah perwujudan dari potensi bahaya yang mengakibatkan kemungkinan kerugian menjadi lebih besar, tergantung dari cara pengelolaanya, tingkat risiko mungkin berbeda dari yang paling ringan sampai ke tahap yang paling berat.

40

Sedangkan penilaian risiko adalah melakukan perhitungan atau penilaian akibat dari risiko yang telah teridentifikasi, besar kecilnya akibat risiko akan dapat dikategorikan atau diklasifikasi (Norken,2015).

3) Pengendalian Bahaya

Pengendalian risiko dilakukan terhadap seluruh bahaya yang ditemukan dalam proses identifikasi bahaya dan mempertimbangkan peringkat risiko untuk menentukan prioritas dan cara pengendalianya, dan dalam cara pengendalian harus mempertimbangkan hirarki pengendalian.

4) Review

Pelaksanaan manajemen K3 harus dipantau secara berkala dari waktu ke waktu untuk memastikan bahwa sistem berjalan sesuai rencana. Peninjauan ulang dapat dilakukan melalui observasi, laporan tertulis, atau pada rapat peninjauan K3.

B. Pengumpulan Data

Pengumpulan dan pengolahan data mengenai aktivitas-aktivitas pada proses produksi permesinan, material, maupun data kecelakaan kerja yang terjadi di CV. Sudirman Klaten dilakukan dengan cara melakukan observasi dan wawancara langsung dengan narasumber maupun karyawan di CV.

Sudirman Klaten. Data yang telah dikumpulkan tersebut diolah dengan melakukan analisa keselamatan kerja, menghitung tingkat keparahan risiko kerja, menghitung kemungkinan terjadinya suatu risiko kerja dan menyusun

matriks perhitungan nilai risiko. Selanjutnya dilakukan analisis dari hasil pengolahan data. Berdasarkan hasil analisis, maka dapat ditarik kesimpulan dari penelitian tersebut.

C. Pembahasan dan Analisis Data

Keselamatan dan kesehatan kerja adalah suatu pemikiran dan upaya menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani maupun rohani tenaga kerja untuk menuju masyarakat adil dan makmur.

Keselamatan kerja dapat diartikan sebagai keadaan terhindar dari bahaya selama melakukan pekerjaan. Dengan kata lain keselamatan kerja merupakan salah satu faktor yang harus dilakukan selama bekerja, karena tidak yang menginginkan terjadinya kecelakaan di dunia ini. Keselamatan kerja sangat bergantung pada jenis, bentuk, dan lingkungan dimana pekerjaan itu dilaksanakan (Slamet,2012).

Berikut merupakan area kerja dalam pengamatan untuk penelitian Job Safety Analysis (JSA) di CV. Sudirman Klaten, area tersebut adalah sebagai berikut:

1. Area Gudang Penyimpanan Produk

Pada area gudang penyimpanan produk ini yaitu dimana gudang tersebut menyimpan produk-produk yang sudah jadi atau yang siap untuk di bawah ke konsumen dengan menggunakan truk. Gudang penyimpanan produk ini berada paling depan pabrik bertujuan agar truk atau mobil dapat dengan mudah masuk untuk pengangkutan produk.

42

2. Area Dept. Perawatan Alat Mesin

Untuk departemen perawatan alat dan mesin yaitu digunakan untuk tempat merawat atau memperbaiki alat yang rusak atau kurang layak dipakai.

3. Area Dept. Produksi

Area deprtemen produksi ini yaitu dimana tempat berlangsungnya pengecoran logam dilakukan, tidak hanya penungan tetapi dimulai dari pemanasan skrap dalam tungku induksi dan juga pembuatan cetakan serta pembongkaran hasil.

4. Area Dept. Pengolahan Limbah

Pada departemen pengolahan limbah ini berada tepat di belakang area produksi agar mempermudah pemindahan limbah.

5. Area Gudang Bahan Baku

Gudang bahan baku berada dekat dengan area produksi yang bertujuan untuk mempermudah pengambilan bahan baku dan mempersingkat waktu serta jarak.

6. Area Gudang Penyimpanan Alat

Area Gudang penyimpanan alat digunakan untuk menyimpan alat yang belum terpakai atau alat baru.

7. Area Finishing

Area finishing berada paling belakang pabrik yang dimana area finishing ini mencangkup proses blasting dan juga pengecatan produk.

CV. Sudirman Klaten telah menerapkan prosedur mengenai identifikasi bahaya, penilaian risiko pada pekerja atau aktivitas yang dilakukan di lingkungan kerja. Berdasarkan kegiatan Kerja Praktek yang dilakukan pada tanggal 17 Oktober – 18 November 2020 terdapat 6 proses produksi yang mendasar dalam pembuatan produk manhole.

Pada tahap pengolahan data, untuk mengukur tingkat kemungkinan terjadinya suatu kejadian digunakan rating likelihood. Adapun rating likelihood dapat dilihat pada tabel 6.1.

Tabel 6.1 Kerangka Pengukuran Likelihood (Setiawan, 2012) Probabilitas

Kriteria

Rating %

1 0 – 10 Sangat tidak mungkin

2 10 – 30 Kecil kemungkinan tadi tidak mustajil 3 30 – 50 Kemungkinan terjadi

4 50 – 90 Sering terjadi 5 >90 Hampir pasti terjadi

Pada tahap pengolahan data, untuk mengukur tingkat keparahan suatu risiko kerja digunakan rating severity. Adapun rating severity dilihat pada tabel 6.2.

44

Tabel 6.2 Kerangka Pengukuran Severity (Setiawan, 2012)

Level Rating

Severity Keterangan

5 Sangat tinggi

Mengancam program dan organisasi serta stakeholder. Kerugian sangat besar bagi organisasi dari segi keuangan maupun politik 4 Tinggi Mengancam fungsi program yang efektif dan organisasi. Kerugian

cukup besar bagi organisasi dari segi keuangan maupun politik 3 Menengah Mengganggu administrasi program. Kerugian keuangan dan politik

cukup besar

2 Kecil Mengancam efisiensi dan keefektifan beberapa aspek program.

Kerugian kurang material dan sedikit mempengaruhi stakeholder 1 Sangat

rendah

Dampak dapat ditangani pada tahap kegiatan rutin. Kerugian kurang material dan tidak mempengaruh stakeholder

Untuk mengetahui proses-proses produksi yang terkait dengan proses pembuatan produk manhole dilakukan teknik wawancara. Tujuan dari wawancara adalah untuk mengetahui proses-proses yang memiliki potensi risiko kecelakaan kerja dan membahas langkah apa saja yang perlu dilakukan untuk menanggulangi potensi risiko kecelakaan kerja tersebut agar dapat dihindari dan diminimalisasi.

Langkah pertama yang harus dilakukan untuk menganalisis risiko kecelakaan kerja adalah menetapkan kemungkinan dan probabilitas terjadinya suatu kecelakaan kerja pada CV. Sudirman. Batasan masalah pada penelitian ini yaitu analisis risiko potensi kecelakaan kerja hanya diteliti pada lantai produksi.

Dengan meranking risiko kecelakaan kerja berdasarkan tingkat kemungkinan yang terjadinya suatu kecelakaan kerja, dengan ranking 1 sebagai yang hampir mustahil terjadi dan ranking 5 sebagai yang hampir pasti terjadi. Tingkat kemungkinan berdasarkan data jumlah kejadian di perusahaan. Langkah kedua, melakukan

ranking atas dampak keparahan untuk setiap kecelakaan kerja. Perolehan ranking, pada langkah satu dan langkah dua didapat dari brainstorming dengan responden, dimana setiap respoden meranking dampak keparahan dan probabilitas terjadinya kecelakaan kerja tersebut (Kustiyaningsih, 2011). Langkah ketiga merupakan langkah dimana potensi risiko kecelakaan kerja dipetakan dan diberikan status.

Formula untuk menghitung status risiko adalah sebagai berikut:

SL = Severity x Likelyhood

Potensi kecelakaan tersebut disajikan dalam bentuk matrik untuk dapat mengetahui kategori level dari masing-masing potensi kecelakaan yang telah dianalisis pada Gambar 6.1 Tabel Matriks Risiko

Gambar 6.1 Tabel Matriks Risiko Keterangan:

Risiko: Peluang:

1. Sangat Ringan 1. Sangat Jarang

2. Ringan 2. Jarang

3. Sedang 3. Mungkin Terjadi

4. Berat 4. Sering

5. Fatal 5. Pasti Terjadi

46

Skala Penilaian:

Rendah (1 - 3) = Warna Hijau Sedang (4 - 9) = Warna Kuning Tinggi (5 - 16) = Warna Merah Ekstrim (15 - 25) = Warna Biru

Jika suatu risiko kecelakan kerja terdapat pada kolom berwarna biru, maka dinyatakan bahwa risiko kecelakaan kerja tersebut harus diprioritaskan dalam penanganannya dan merupakan kecelakaan kerja yang paling merugikan, karena meyebabkan cacat pada pekerja, berhentinya proses produksi yang menyebabkan kerugian besar. Bila suatu risiko kecelakaan terletak pada kolom warna merah maka dinyatakan bahwa risiko kecelakaan tersebut cukup merugikan karena dapat membuat terhambatnya proses produksi, dan cedera yang berbahaya. Apabila suatu risiko kecelakan kerja terletak pada kolom kuning, kecelakaan kerja dapat ditoleransi tetapi sebaiknya diminimalisasi. Nilai dari potensi risiko kecelakan kerja yang terdapat pada kolom berwarna hijau dapat diterima karena memiliki dampak yang kecil.

Pada langkah keempat, menentukan respon terhadap risiko kecelakaan kerja, respon dapat berupa usulan perbaikan. Untuk langkah kelima, memberikan informasi mengenai risiko kecelakaan kerja yang dapat terjadi dan memberikan usulan perbaikan untuk menanggulangi potensi risiko kecelakaan kerja tersebut.

Penjelasan risiko setiap proses kerja serta penjelasannya dapat dilihat tabel 7.1.

Tabel 6.3 Identifikasi Bahaya & Penilaian Risiko

No

Urutan Langkah-langkah

Dasar Bahaya Risiko Akibat Penilaian Risiko

(Risk Assesment)

Squence of Basic Steps Hazard Risk Consequence Peluang Risiko

Peringkat Risiko Nilai Tingkat

Bahaya 1

.

Pembuatan Cetakan - Palu terjatuh atau patah - Terjepit

- Terkena palu

- Tangan dan kaki terjepit

- Lecet - Memar - Luka

ringan/sedang

2 3 6 Sedang

2 .

Peleburan - Semburan logam panas - Terbakar - Luka terbakar 2 4 8 Sedang

3 .

Penuangan Logam Cair - Semburan logam panas - Rantai/seling putus

- Terbakar

- Material mengenai pekerja

- Luka terbakar - Material rusak - Luka ringan/

sedang/berat

3 5 15 Ekstrim

4 .

Pembongkaran Hasil Cetakan

- Terkena material panas pada saat pembongkaran

- Terbakar - Kulit tangan

melepuh /terbakar 1 3 3 Sedang

48

Lanjutan Tabel 6.3 Identifikasi Bahaya & Penilaian Risiko

No

Urutan Langkah-langkah

Dasar Bahaya Resio Akibat Penilaian Risiko

(Risk Assesment)

Squence of Basic Steps Hazard Risk Consequence Peluang Risiko

Peringkat Risiko Nilai Tingkat

Bahaya 5

.

Blasting - Semburan korak logam

material yang dipotong - Kebisingan suara

- Penerangan terhalang debu

- Mengenai mata pekerja - Gangguan pendengaran - Penglihatan terganggu

- Kerusakan pada mata atau buta - Dalam jangka

Panjang dapat menyebabkan tuli

4 5 20 Ekstrim

6 .

Pengecatan - Bau menyengat dari cat - Terhirup ke dalam paru- paru

- Gangguan pernapasan dan sakit pada paru - Sakit kepala

karna dampak dari bau cat

2 4 8 Tinggi

Hasil identifikasi potensi bahaya dan penilaian risiko di bagian produksi CV. Sudirman Klaten menunjukan bahwa pada bagian-bagian tersebut terdapat potensi bahaya yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Hal tersebut berasal dari mesin atau peralatan, perilaku tenaga kerja, proses kerja, dan lingkungan kerja.

Tingkat bahaya dan nilai yang terdapat pada tabel 7.1 yaitu identifikasi bahaya dan penilaian risiko didapat dari hasil perkalian gambar 7.1 yaitu tabel matriks risiko yang dimana frekuensi yaitu sebagai peluang di kali dengan tingkat dampak risiko, sehingga dapat dilihat ada beberapa yang memang nilai nya kecil tetapi sekali terjadinya bahaya tersebut keparahan yang terjadi sangat fatal atau berat.

Terdapat 10 sumber potensi bahaya yang teridentifikasi dari 6 kegiatan proses produksi di area Dept. Produksi dan finishing yang ada di CV. Sudirman Klaten. Sumber potensi bahaya tersebut meliputi: 2 sumber potensi bahaya pada proses pembuatan cetakan dengan tingkat bahaya yaitu sedang, 1 sumber potensi bahaya pada proses peleburan skrap baja dengan tingkat bahaya sedang, 2 potensi bahaya pada proses penuangan logam cair dengan tingkat bahaya ekstrim, 1 potensi bahaya pada proses pembongkaran hasil cetakan dengan tingkat bahaya sedang, 3 potensi bahaya pada proses blasting dengan tingkat bahaya ekstrim, 1 potensi bahaya pada proses pengecatan dengan tingkat bahaya tinggi.

50

1. Pengendalian Risiko / Control

Tabel 6.4 Pengendalian Risiko / Control

No Proses Produksi Risiko Pengendalian 1 Pembuatan

Cetakan

Terkena palu Menekankan pekerja

menggunakan safety shoes dan sarung tangan

Tangan dan kaki terjepit

2 Peleburan Terbakar Pekerja menggunakan APD

seperti wearpack dan sarung tangan anti panas

3 Penuangan Logam Cair

Terbakar Pekerja menggunakan APD seperti wearpack, sarung tangan anti panas, dan safety shoes Material mengenai

pekerja 4 Pembongkaran

Hasil Cetakan

Terbakar Pekerjan menggunakan sarung tangan anti panas

5 Blasting Mengenai mata

pekerja

Pekerja diberikan kacamata dan ear plug

Gangguan pendengaran Penglihatan terganggu

6 Pengecatan Terhirup ke dalam paru-pari

Pekerja menggunakan masker khusus proses pengecatan

Dengan matriks perhitungan nilai risiko, dapat diketahui risiko yang menjadi prioritas perbaikan. Prioritas utama adalah risiko yang berada di area biru. Area biru akan diprioritaskan untuk tindakan perbaikan karena merupakan risiko yang paling merugikan dan dapat menghambat proses produksi, seperti: pekerja mengalami luka bakar terkena material, dan pekerja mengalami gangguan penglihatan dan pendengaran, risiko berikut dapat

diminimalisasi dengan menggunakan APD seperti wearpack, sarung tangan anti panas, dan safety shoes serta pekerja diberikan kacamata dan ear plug.

Pada risiko yang terletak pada area merah, seperti gangguan pernapasan dan sakit paru-paru serta sakit kepala karena dampak dari bau cat, risiko-risiko ini dapat ditangani pekerjan menggunakan masker khusus proses pengecatan.

Untuk risiko pada tabel kuning pekerja mengalami luka lecet, memar pada tangan dan kaki terkena palu saat pembuatan cetakan dan pekerja mengalami luka bakar atau melepuh akibat semburan logam panas dan terkena material panas pada saat pembongkaran, risiko ini dapat diterima dengan pengawasan dan kewaspadaan (pekerja menggunakan APD seperti wearpack dan sarung tangan anti panas).

Dokumen terkait