BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
membuktikan kebenaran dari pernyataan tersebut dengan menanyakan kembali kepada dua informan yang mengetahui hal tersebut. Pernyataan diatas didukung dengan hasil wawancara yang dilaklukan kepada bapak kepala seksi penyehatan lingkungan di Dinas Lingkungan Hidup kab.
Takalar dalam wawancara penelitian yang dilakukan peneliti.
“Kalau saya pemilik saya kasih makan polisi sekitar supaya aman karena sepanjang jalan tidak ada yang tahan tahan karena kita tahu itu modus-modus oknum sepanjang jalan. itu informasi yang saya dapat dan itu bukan pengawalan tapi memasang dan itu tidak resmi”. (Wawancara, Djabar Rumpang, Takalar, 15 Maret 2021).
Jawaban dari pertanyaan apakah betul pihak kepolisian terlibat dalam aktivitas tambang. Di jawab oleh bapak Djabar dengan jawaban perumpamaan yang menunjukan bahwa hal tersebut terjadi sebagaimana dia banyak mengetahui aktivitas pertambangan di Kecamatan Galesong dan siapa-siapa yang terlibat dalamnya.
Selanjutnya tambahan dari salah satu mantan kepala dusun di desa Kalukuang sekaligus mantan staf Desa, yang menginformasikan kepada Penulisterkait keterlibatan Lembaga pemerintah dalam aktivitas pertambangan. Menyatakan dengan beraninya bahwa:
“Itu pertambangan tersebut, lima juta masuk ke bupati perbulan.
Alasan logisnya tidak mungkin mulus jalannya Kalau tidak ada yang masuk ke pemerintah.” (Wawancara, Idris HT, Takalar, 25 Maret 2021).
Pernyataan dari ketiga informasi tersebut menunjukkan bahwa kegiatan atau aktivitas pertambangan di kecamatan Galesong selain ada yang tidak memiliki izin atau dalam hal ini ilegal ada juga transaksi bisnis politik atau dalam hal ini terjadi pembagian fee dari aktivitas pertambangan.
Sama halnya dengan yang dikatakan aktivis WALHI kota Makassar yakni,
“Mayoritas terjadi dipemerintahan mendapat pembagian fee dari situ.” (Wawancara, Muhammad Asrul, WALHI Makassr, 21 Maret 2021).
Hal tersebut untuk memuluskan jalannya aktivitas tambang di Galesong yang sebenarnya telah melanggar aturan dari segi izin, Perda, Pembiaran, WP, WIUP, dan perilaku koruptif yang melibatkan beberapa instansi. Ekonomi dalam hal ini berindak sebagai A way of acting atau cara untuk melakukan tindakan. Sedangkan politik berperang sebagai a place to act atau ruang untuk tindakan tersebut.
3. Kelembagaan Sebagai Pengatur Hubungan Kepemilikan
Lapis ketiga kelembagaan adalah sebagai pengatur hubungan kepemilikan. Sebagai pengatur hubungan kepemilikan, kelembagaan dianggap sebagai aransemen sosial yang mengatur: (1) individu atau kelompok pemilik, (2) objek nilai bagi pemilik dan orang lain, serta (3) orang dan pihak lain yang terlibat dalam suatu kepemilikan. Mathews (1986) mendefinisikan institusi sebagai perangkat perangkat kepemilikan dan kewajiban-kewajiban yang mempengaruhi kehidupan ekonomi masyarakat(Deliarnov, 2006).
Terbitnya IUP disalah satu Desa yang berada dikecamatan Galesong, yakni di Desa Kalukuang menimbulkan beberapa aksi penolakan terhadap izin tersebut. Serta tanda tanya besar dari alasan terbitnya izin tersebut yang pada dasarnya jika mengacu pada Perda RT/RW Kab.
Takalar, wilaya izin usah pertambagan (WIUP) dan RPJMD Kab. Takalar.
Lokasi yang diberikan IUP oleh pihak PTSP Provinsi Sulawesi Selatan atas dasar rekomendasi dari beberapa Lembaga di Kab. Takalar memunculkan kecurigaan dan pelanggaran dalam penerbitan dan pemberian rekomendasi.
Gambar 4.9: IUP Pihak Penambang di Desa Kalukuang, Kecamatan Galesong.
CV AQJ Mandiri merupakan salah satu perusahaan yang berada di Kabupaten Gowa dan dianggap tidak bergerak dalam usaha pertambangan.
Tetapi mendapatkan IUP Operasi Produksi untuk melakukan operasi produksi dan penjualan. Dalam Perda No 4 Tahun 2019 Tentang Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 4 Tahun 2018 Tentang Pengelolaan Pertambangan Mineral Dan Batubara Pasal 1 Nomor 26
menjelaskan “Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi Khusus untuk pengangkutan dan penjualan yang selanjutnya disebut IUP Operasi Produksi Khusus untuk pengangkutan dan penjualan adalah izin usaha yang diberikan kepada perusahaan untuk membeli, mengangkut, dan menjual komoditas tambang mineral dan batubara”.
Keseluruhan peraturan yang menjadi dasar dalam IUP diatas juga membahas tentang pertambangan yang jelas-jelas mengarah pada satu aktivitas yakni, aktivitas pertambangan. Jadi, bila pihak pemerintah mengatakan itu adalah percetakan kolam maka bisa dipastikan pihak pemerintah menutupi kebenaran dan berusaha melindungi dengan alasan demikian. Dari izin diatas juga, Nama yang tercantum sebagai direktur adalah Satriana dardi, namun yang dikenal pemilik tambang dimasyarakat serta pemerintahan adalah H. Tarra yang merupakan bos serta pengusaha besar di Desa Kalukuang. Sebagaimana informasi yang diberikan oleh kepala seksi penyehatan lingkungan DLH Kab. Takalar
“Punyanya H. Tarra itu, memang ada izinya di Provinsi tapi ada penolakan. H. Tarra itu sponsor, tapi kita tahu bahwa dia itu (Pemiliki Tambang di Desa kalukuang.” (Wawancara, Djabar Rumpang, Takalar, 15 Maret 2021).
Setelah mengetahui pemilik asli dari pertambangan di Desa kalukuang tersebut, Penulislangsung menemui salah satu pihak penambang yang bertugas sebagai pihak pembebasan lahan. Pihak penambang tersebut juga merupakan mantan kepala dusun di Dusun salewatang, Desa kalukuang, Kecamatan Galesong. Penulismenkonfirmasi kebenaran pemilik tambang tersebut dan informan tersebut dengan berterus-terang mengatakan
“H. Tarra punya dan tangan kanannya itu Sudar Dg Sibali (Kepala Dusun Salewatang, Desa Kalukuang).” (Wawancara, Hamija, Takalar, 18 Maret 2021).
Pernyataan tersebut menjadi sangat strategis karena disampaikan oleh Pihak pemerintah dari DLH Kab. Takalar hingga pihak penambang yang diasumsikan banyak mengetahu hal tersebut. Setelah mengetahui pemilik asli dari IUP tersebut, Penulismemperdalam penelitian dengan mencari tahu siapa H. Tarra Sebenarnya kenapa penguruan IUP-nya dipermudah oleh pemerintah Desa dan pemerintah Kabupaten. Dari ketiga informan yang dianggap mengetahui banyak tentang H. Tarra, yakni dari pihak DLH Kab. Takalar, pihak penambang, BUMDes Desa Kalukuang dan Mantan Staf Desa Kalukuang.
C. Prosedur Penerbitan IUP
Berdasarkan tumpang tindih perizinan pertambangan yang terjadi di kecamatan Galesong, sebagaimana hasil penelitian yang diterangkan oleh Penulis berdasarkan pernyataan informan dalam proses wawancara. Penulis berisiatif untuk memaparkan secara gamblang tahapan pembuatan izin usaha pertambangan berdasarkan tahapan pembuatan izin yang telah ditetapkan oleh pihak PTSP Provinsi Sulawesi Selatan. Berikut tahapan-tahapannya.
Gambar 4.10: Tabel Tahapan Penerbitan Izin Usaha Pertambangan (Diakses di simap.sulselprov.go.id)
Tahapan perizinan yang dibahas adalah perizinan operasional produksi yang mengarah kepada perizinan yang diterbitkan untuk aktivitas pertambangan di Desa Kalukuang, Kecamatan Galesong, Kab. Takalar. Berdasarkan dengan poin gambar peta tahapan perizinan diatas. IUP Produksi yang dimiliki oleh pihak penambang pasir di Desa Kalukuang dilakukan dengan lima tahapan saja, yakni mulai dari:
1. Rekomendasi dari Pemerintah Kabupaten Takalar
Rekomendasi dalam hal ini (Pemdes, DLH, Keputusan Pemda Takalar,dll) 2. Bermohon Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP)
Pemohon mengajukan WIUP dengan memenuhi persyaratan;
Meniapkan dasar hokum, persyaratan pelayanan, dan Prosedur pelayanan yang terdiri dari:
a. Pemohon menuju touchscreen atau Customer Services :
1) Mencari informasi pelayanan yang dibutuhkan;
2) Mengambil Formulir Permohonan;
b. Petugas Loket Informasi/Customer Services:
1) Apabila pemohon masih dalam rangka mencari informasi maka petugas informasi memberikan penjelasan tentang persyaratan dan prosedur pengajuan permohonan pelayanan;
2) Apabila pemohon tersebut adalah pemohon yang telah siap dengan kelengkapan peryaratan pengajuan permohonan, dipersilahkan menuju ke Loket Pendaftaran;
c. Pemohon menyerahkan berkas permohonan ke Loket Pendaftaran/Desk Pelayanan dengan melampirkan persyaratan yang telah ditentukan;
d. Petugas Loket Pendaftaran/Desk Pelayanan :
1) Meneliti berkas persyaratan, dan setelah persyaratan permohonan dinyatakan lengkap maka berkas diterima;
2) Petugas pendaftaran memberikan tanda terima kepada pemohon;
3) Menginformasikan waktu penyelesaian dan biaya yang harus dibayar apabila dikenakan biaya pelayanan/retribusi;
e. Tim Teknis :
1) Menerima berkas dari loket pendaftaran/desk pelayanan yang sudah dinyatakan lengkap;
2) Melakukan validasi terhadap berkas;
3) Apabila berkas telah lengkap dan valid, selanjutnya diserahkan ke Kepala Seksi (korektor) untuk diproses lebih lanjut;
4) Apabila permohonan izin dimaksud memerlukan kajian teknis, maka dibuatkan pengantar ke Kepala Seksi (korektor);
f. Kepala Seksi (korektor):
1) Melakukan verifikasi terhadap berkas permohonan;
2) Membuat pengantar ke Unit Reaksi Cepat (URC) SKPD dan diserahkan ke Kepala Bidang Penyelenggaran Pelayanan Perizinan (Verifikator);
3) Memerintahkan pencetakan surat izin untuk permohonan yang telah lengkap, valid dan memenuhi persyaratan;
g. Loket Penyerahan :
Setelah Sub Bagian Tata Usaha menomor izin/rekomendasi menyerahkan surat izin/rekomendasi ke pemohon melalui petugas loket penyerahan, dengan meminta tanda bukti pendaftaran, bukti pembayaran retribusi dan membuat tanda terima.
Setelah itu memenuhi waktu pelayanan, biaya/tarif, Produk pelayanan, dan pengelolaan pengaduan. Produk pelayanan yang dimaksud adalah Persetujuan Penetapan Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) diterima oleh pemohon yang dicetak dengan spesifikasi sebagai berikut:
a. 1 (satu) rangkap ASLI;
b. Kertas ukuran F4, Tebal 80 gram;
c. Tanda tangan an. Gubernur Sulawesi Selatan selaku Administrator Perizinan dan cap stempel basah DPMPTSP Provinsi Sulawesi Selatan;
d. Nomor Izin berdasarkan automasi penomoran Sistem Informasi Manajemen Administrasi Perizinan (SIMAP) oleh DPMPTSP Provinsi Sulawesi Selatan;
e. Tanggal Izin berdasarkan tanggal terbitnya izin;
Sah dimata hukum sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Sedangkan untuk pengelolaan pengaduan terbagi atas tiga poin penting, diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Pelayanan Informasi dan Pengaduan ditangani oleh dua orang Petugas;
b. Petugas Pelayanan Informasi dan Pengaduan Masyarakat memiliki kompetensi sebagai berikut :
1) Memiliki sikap dan perilaku yang sopan dan ramah;
2) Menguasai teknik berkomunikasi yang baik;
3) Memiliki latar belakang pendidikan komunikasi dan psikologi;
c. Dilengkapi sarana dan prasarana informasi pelayanan untuk setiap jenis layanan dan penerimaan pengaduan meliputi telepon/fax, Formulir Pengaduan/Buku Agenda Pengaduan, SMS Pengaduan, Pengaduan via email, rak arsip, computer.
Persyaratan diatas dapat diakses di website PTSP Provinsi Sulawesi Selatan dengan link (http://simap.sulselprov.go.id/layanan-207-penetapan- wilayah-izin-usaha-pertambangan-wiup-untuk-iup.html). Serta dapat mendapatkan mengakses SOP Perizinanya dilink yang terterah.
(http://simap.sulselprov.go.id/libs/download_izin.php?id=207). Sebelum WIUP diterbitkan, PTSP Provinsi Sulawesi Selatan meminta rekomendasi
dari Dinas energi dan Sumber Daya mineral tentang Kajian teknis atau hasil ploting peta yang dibuat oleh pemohon yakni apakah peta yang dimohon sudah masuk wilayah pertambangan dan meminta rekomendasi dari Bupati sesuai dengan lokasi yang dimohon.
3. Bermohon Izin Usaha Pertambangan Eksplorasi (IUP – E)
Pemohon mengajukan permohonan ditujukan ke Kepala Dinas Penanaman Modal dan PTSP Provinsi Sulawesi Selatan dan melengkapi persyaratan-persyaratan yang bisa dilihat dibawah ini
i. Dasar Hukum
ii. Persyaratan Pelayanan iii. Prosedural Pelayanan iv. Waktu Pelayanan
v. Biaya/Tarif vi. Produk Pelayanan vii. Pengelolaan Pengaduan
Persyaratan diatas dapat diakses dan dilihat di http://simap.sulselprov.go.id/layanan-68-izin-usaha-pertambangan-iup- eksplorasi-baru.html. Serta SOPnya dapat di download dilink http://simap.sulselprov.go.id/libs/download_izin.php?id=68.
4. Bermohon Izin Prinsip Pemanfaatan Ruang Kawasan Strategis Nasional
Permohonan ini bersifat khusus dan hanya difokuskan kepada perusahaan pertambangan yang ini melakukan aktivitas pertambangan
dikawasan maminasata (Jika Lokasi Pertambangannya berada di Lokasi Minahasa (Kab.Gowa), Kab. Takalar dan Kota Makassar).
5. Bermohon SKKL dan Izin Lingkungan
Jika Skala Kegiatannya kecil misalnya kegiatan pertambangan maksimal 5 hektar, Dokumen yang diajukan oleh pemohon yakni doumen UKL/UPL dan Jika kegiatan yang dilakukan dalam skala besar pemohon mengajukan Dokumen Amdal RKL-RPL. Untuk dokumen Amdal UKL-UPL mengajukan permohonan ke Kab/kota terkait sesuai dengan lokasi penambangan. Untuk dokumen Amdal RKL-RPL diawali dengan mengakujukan permohonan Kerangka Acuan (KA) ke Dinas Penanaman Modal dan PTSP Prov. Sulsel, kemudian setelah itu bermohon Surat Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup (SKKLH) dan Izin lingkungan. (DPMPTSP: 2021)
6. Bermohon Izin Operasi Produksi
Pemohon mengajukan permohonan Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi yang ditujukan ke Kepala Dinas Penanaman Modal dan PTSP Provinsi Sulawesi Selatan dan melengkapi persyaratan-persyaratan sebagai berikut:
i. Dasar Hukum
ii. Persyaratan Pelayanan iii. Prosedural Pelayanan iv. Waktu Pelayanan
v. Biaya/Tarif vi. Produk Pelayanan
vii. Pengelolaan Pengaduan
Atau bisa di akses langsung di (
http://simap.sulselprov.go.id/layanan-178-izin-usaha-pertambangan- operasi-produksi-baru.html).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Analisis ekonomi politik kelembagaan dalam perizinan pertambanagan pasir di Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar ini menunjukkan secara eksplisit bahwa isu terbitnya IUP ini tidak bisa dilepaskan dari proses interaksi atau hubungan yang intim dan dinamis antara politik dan ekonomi atau antara pengaruh politik, tata kelola, admisitrasi publik dengan industri ekstraktif pertambangan yang ada di Takalar. Interaksi tersebut merupakan hubungan dua arah yang saling menguntungkan. Metode konkret dari bekerjanya ekonomi politik kelembagaan dalam penerbitan IUP ini megaambil berbagi bentuk mekanisme.
1. Mekanisme yang pertama adalah norma-norma dan konvensi yang berupa pemberian dukungan finansial langsung oleh perusahaan pertmbangan terhadap kandidat kepala daerah (bupati atau desa) yang dianggap memiliki potensi memberikan umpan balik.
2. Mekani kedua adalah kelembagaan sebagai aturan main merupakan procedural yang dimainkan dalam penerbitan IUP dengan terjadinya lobi anatar lembaga. Hal tersebut menjadi kegiatan strategis untuk dilakukan guna mempermudah atau memperlancar terbitnya IUP.
3. Mekanisme ketiga yaitu kelembagaan yang dipandang sebagai hak milik untuk menguji interaksi antara pengaruh ekonomi dan politik/birokrasi dapat dilihat dari mekanisme atau pola hak milik yang dikalim. Mekanisme ini secara khusus merujuk pada kenyataan bahwa bagi pertambangan yang
72
sudah mendapatkan IUP diharuskan untuk memberikan sejumlah setoran tertentu agar perusahaan tersebut beroperasi dengan aman.