• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kesimpulan

Dalam dokumen EXECUTIVE SUMMARY LAPUM BTP JABAR 2021 (Halaman 53-57)

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Bidang Prasarana

a. Jalan Jembatan

1) Berdasarkan hasil suvei di lapangan pada jalur eksisting masih banyak ditemukan permasalahan pada komponen jalan rel dan badan jalan kereta api. Seperti rel defect, bantalan pecah atau lapuk, kecrotan (Mud pumping) dan balas yang masih kurang.

2) Berdasarkan hasil survei di lapangan pada jalur eksisting terdapat beberapa perlintasan liar yang dibuat oleh warga sekitar yang dapat merusak komponen jalan rel.

3) Berdasarkan hasil survei di lapangan terdapat timbunan sampah pada bawah jembatan yang dapat menyebabkan daerah rawan banjir pada jembatan.

b. Bangunan Stasiun

Berdasarkan Analisa dan perhitungan yang telah dilakukan pada stasiun, maka dapat disimpulkan bahwa rata-rata kondisi stasiun di lintas Kiaracondong – Cicalengka masih belum memenuhi ketentuan yang diatur dalam PM No.29 Tahun 2011 (mengenai persyaratan teknis bangunan stasiun), PM No.33 Tahun 2011 (mengenai jenis,kelas dan kegiatan distasiun kereta api), PM No.63 Tahun 2019 (mengenai Standar Pelayanan Minimum Angkutan Orang Dengan Kereta Api).

Pada sample stasiun yang dilakukan perhitungan (Cicalengka)

didapat Panjang peron peron yang belum sesuai standar PM No.29

Tahun 2011.Arus sirkulasi penumpang di stasiun Cicalengka berada

pada level of service E, dan kondisi eksisting fasilitas stasiun yang

masih belum sesuai dengan PM No.63 Tahun 2019,dengan semakin

bertambahnya minat pengguna jasa kereta api dari tahun ke tahun

terutama 5 tahun kedepan,stasiun di lintas Kiaracondong

Cicalengka perlu di adakan peningkatan pelayanan dan

pengembangan stasiun guna memberikan pelayanan yang baik dan

kepuasan kepada penumpang, serta memenuhi persyaratan

berdasarkan peraturan yang berlaku.

Executive Summary Laporan Umum TIM PKL BTP Jawa Barat 2021

Politeknik Transportasi Darat Indonesia-STTD Angkatan XL | 54 c. Fasilitas Operasi

1) Pada lintas studi Kiaracondong - Cicalengka menggunakan dua jenis sistem persinyalan yang berbeda, yaitu pada stasiun Kiaracondong dan stasiun Gedebage menggunakan sistem persinyalan elektrik jenis Solid State Interlocking (SSI) dan pada stasiun Cimekar - Cicalengka mengunakan sistem persinyalan S&H Blok.

2) Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, kondisi peralatan persinyalan di lintas studi Kiaracondong - Cicalengka setelah dibaningkan dengan PM No. 44 Tahun 2018 secara garis besar sudah memenuhi persyaratan teknis, akan tetapi terdapat beberapa peralatan persinyalan elektrik atau mekanik baik peralatan luar maupun peralatan dalam yang belum berfungsi dengan baik dan tidak memenuhi persyaratan teknis seperti : a) Indikator petak jalan di Visual Display Unit (VDU) stasiun

Kiaracondong tidak menyala sehingga dapat mengakibatkan PPKA menjadi salah tafsir.

b) Catu daya GDI error saat PLN mati sesaat di stasiun Gedebage sehingga menyebabkan terganggunya pelayanan Kereta Api.

c) Output sinyal modul padam di sinyal keluar stasiun Kiaracondong yang mengakibatkan terganggunya perjalanan Kereta Api.

d) Warta aman dari stasiun Gedebage sering tidak sampai ke stasiun Cimekar yang menyebabkan andil kelambatan.

e) Sinyal BI/III, tidak bisa di tarik aman di stasiun Rancaekek sehingga mengakibatkan perjalanan Kereta Api terganggu.

f) Saluran FO dan tembaga putus di KM 174+3/4 (BH 800) akibat Vandalisme pencurian / pemotongan kabel oleh orang tidak dikenal (OTK) sehingga membahayakan perjalanan Kereta Api.

3) Menurut data gangguan sintelis, dapat diketahui bahwa

gangguan yang memiliki durasi gangguan terlama yaitu

gangguan yang terjadi pada Saluran FO dan Tembaga putus di

lintas Haurpugur - Rancaekek yaitu selama 885 menit.

Executive Summary Laporan Umum TIM PKL BTP Jawa Barat 2021

Politeknik Transportasi Darat Indonesia-STTD Angkatan XL | 55

2. Bidang Keselamatan

a. Kecelakaan paling banyak terjadi pada tahun 2016. Dengan jenis kecelakaan terbanyak yaitu KA yang tertemper orang. Kecelakaan yang terdapat pada lintas Kiaracondong – Cicalengka banyak terjadi kereta tertemper orang di perlintasan sebidang liar.

b. Dari survei inventarisasi fasilitas keselamatan di stasiun lintas Kiaracondong – Cicalengka masih ada rambu yang belum terpenuhi dan/atau dalam keadaan rusak.

c. Kondisi maksimum gradien jalur di perlintasan sebidang yang tidak sesuai dengan standar PM Nomor 36 Tahun 2011 tentang Perpotongan dan/atau persinggungan antara jalur KA dengan bangunan lain dapat memicu kecelakaan yang ada diperlintasan sebidang dan kerusakan jalur akibat genangan air yang tertampung.

d. Sesuai dengan PM 94 tahun 2018 tentang peningkatan keselamatan perlintasan sebidang antara jalur KA dan jalan raya, perlintasan sebidang harus diajukan menjadi perlintasan tidak sebidang dikarenakan :

1) Jumlah kereta yang melintas pada lokasi tersebut lebih dari 25 kereta/hari.

2) Hasil perkalian antara volume lalu lintas harian rata-rata (LHR) dengan frekuensi KA lebih dari 12.500 SMPK yaitu sebesar 15.708 SMPK untuk arah jalan Gedebage Selatan – Derwati.

3) Memiliki derajat kejenuhan sebesar 0,8 dengan panjang antrian yang panjang dengan LHR pada interval 300-500.

e. Kurangnya kesadaran masyarakat baik yang ada disekitar jalan KA maupun masyarakat pengguna jalan raya pada perlintasan sebidang.

3. Bidang Perencanaan

a.

Berdasarkan hasil survei wawancara rumah tangga (Home Interview) pada wilayah studi Kecamatan Cicalengka, sebagian besar penduduk melakukakn perjalanan dari satu zona ke zona lainnya menggunakan moda sepeda motor dengan maksud perjalanan untuk bekerja.

b.

Bedasarkan hasil survei wawancara rumah tangga (Home Interview)

bangkitan terbesar terdapat pada zona 3 dimana pada zona tersebut

Executive Summary Laporan Umum TIM PKL BTP Jawa Barat 2021

Politeknik Transportasi Darat Indonesia-STTD Angkatan XL | 56 terdapat wilayah pemukiman penduduk, sedangkan tarikan terbesar terdapat pada zona 1 dimana pada zona tersebut terdapat Stasiun Cicalengka yang menjadi satu-satunya stasiun bagi penduduk Kecamatan Cicalengka dan sekitarnya.

c.

Dari data hasil survei pencacahan lalu lintas (Traffic Counting) terhadap akses jalan dari dan menuju stasiun diperoleh V/C Ratio pada ruas Jalan Raya Barat Cicalengka sebesar 0,33 dan V/C Ratio pada ruas Jalan Raya Cicalengka-Majalaya sebesar 0,27, maka hasil tersebut termasuk kedalam tingkat pelayanan B dimana arus stabil tetapi kecepatan operasi dibatasi oleh kondisi lalu lintas dan pengemudi mempunyai kebebasan yang cukup untuk memilih kecepatan. Jadi untuk kondisi yang akan datang kapasitas jalan masih dapat memenuhi lalu lintas kendaraan.

d.

Berdasarkan hasil survey pencacahan lalu lintas (Traffic Counting), diketahui bahwa periode tersibuk pada jalan di pintu masuk dan keluar Stasiun Cicalengka adalah pada pukul 07.00-08.00 di pagi hari dan 17.00-18.00 di sore hari dengan kendaraan terbanyak adalah kendaraan pribadi.

e.

Berdasarkan hasil survei wawancara penumpang di Stasiun, Sebagian besar penumpang melakukan perjalanan dalam wilayah studi menuju ke Stasiun Cicalengka untuk bekerja dan pulang.

f.

Berdasarkan hasil survei wawancara penumpang di Stasiun, Sebagian besar penumpang menyatakan setuju terhadap usulan pengembangan Stasiun Cicalengka.

g.

Berdasarkan data sekunder berupa detail engineering design hanya terdapat desain dasar stasiun cicalengka dimana desain tersebut hanya membahas tentang rencana arus pergerakan penumpang di stasiun tanpa membahas fasilitas pelayanan stasiun yang harus ditingkatkan.

h.

Berdasarkan analisis data sekunder tentang jumlah penumpang Stasiun Cicalengka, diketahui bahwa jumlah penumpang meningkat setiap tahunnya.

i.

Berdasarkan arah pengembangan Stasiun Cicalengka, diketahui bahwa kondisi Stasiun Cicalengka saat ini :

1) Hanya melayani perjalanan KA Lokal (berdasarkan Gapeka 2021)

Executive Summary Laporan Umum TIM PKL BTP Jawa Barat 2021

Politeknik Transportasi Darat Indonesia-STTD Angkatan XL | 57 2) Hanya memiliki 3 jalur dengan jalur 2 sebagai jalur lurus.

3) Terdapat beberapa fasilitas yang dibutuhkan namun belum tersedia/masih kurang seperti :

a) Belum tersedianya fasilitas pos Kesehatan.

b) Toilet yang belum memenuhi standar pelayanan minimum.

c) Ketersediaan ruang boarding yang belum sesuai dengan standar pelayanan minimum.

d) Fasilitas naik turun penumpang yang tidak memadai (Peron Rendah).

e) Belum tersediannya fasilitas khusus bagi penyandang disabilitas.

4) Selain itu, terdapat juga fasilitas dengan permintaan peningkatan yang tinggi meskipun fasilitas tersebut telah tersedia dan beberapa diantaranya telah memenuhi SPM diantaranya :

a) Akses keluar masuk stasiun.

b) Ketersediaan fasilitas ruang ibadah.

c) Ketersediaan fasilitas ruang tunggu.

d) Ketersedaan fasilitas tempat parkir.

Dalam dokumen EXECUTIVE SUMMARY LAPUM BTP JABAR 2021 (Halaman 53-57)

Dokumen terkait