• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ketentuan Waris

BAB II LANDASAN TEORI

C. Sengketa Waris

2. Ketentuan Waris

Dalam hukum Islam, hukum kewarisan ini menduduki tempat amat penting. ayat Al-Qur'an mengatur hukum kewarisan dengan jelas dan terperinci. Seperti Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa’

ayat 176:

اَكَنوُت فَ ت سَي اِلُق ا

اُّللا ا ا مُكيِت فُ ي ا ا

اِف اِةَلَلَك لا ا ا

اِنِإ ا ؤُر ما ا اَكَلَه ا اَس يَل ا

ُهَل اا ا دَلَو ا اُهَلَو ا ا

ا ت خُأ اَهَلَ ف ا اُف صِن ا اَما ا

اَكَرَ ت اَوُهَو ا اَهُ ثِرَي ا ا اا َّلّا نِإ نُكَي اََّلَّا ا ا دَلَو نِإَف ا اَتَ ناَك اا اِ يَْ تَ ن ثا ا ا

57 Moh. Muhibbin, Abdul Wahid, Hukum Kewarisan Islam, Sebagai Pembaruan Hukum Positif di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2011), h. 22-30

اَمُهَلَ ف اِناَثُلُّ ثلا ا

ا اَِّمِ

اَكَرَ ت ا نِإَو ا ا اوُناَك اا ااةَو خِإ ا االاَجِّر ا ءاَسِنَو ا

اِرَكَّذلِلَف ا اُل ثِم ا

اِّظَح ا ا

اِ يَْ يَ ثنُلأا اُِّيَْ بُ ي ا

اُّللا ا ا مُكَل ا ا نَأ ا اوُّلِضَت ا اُّللاَو ا اِّلُكِب ا ا ء يَش ا ا ميِلَع ا ا

﴿ ١٧٦

Artinya: “Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan.”58

Ayat di atas telah jelas-jelas menjelaskan bahwa bagi laki-laki dan perempuan sudah dipastikan bagiannya masing-masing dalam pembagiannya sesuai dengan bagiannya yang sudah ditetapkan dari harta peninggalan orang tua mereka.

Perihal ayat ini, Imam Ibnu Kasir menjelaskan sebagai berikut:

Yakni perihal mewaris secara kalalah. Lafaz yang disebutkan ini menunjukkan adanya lafaz yang tidak disebutkan. Dalam pembahasan yang lalu telah diterangkan makna lafaz kalalah dan akar katanya, bahwa kalalah itu diambil dari pengertian untaian bunga yang dikalungkan di atas kepala sekelilingnya. Karena itulah mayoritas ulama menafsirkannya dengan pengertian orang yang meninggal dunia dalam keadaan tidak mempunyai anak, tidak pula orang tua. Menurut salinan yang lain, tidak mempunyai anak, tidak pula cucu. Sebagian ulama mengatakan bahwa kalalah ialah orang yang tidak mempunyai anak.59

Dalam hal ini, Mahmud Yunus menjelaskan bahwa agar kiranya dalam pembagian harta pusaka sesuai dengan ketentuan yang berlaku di dalam Al-Qur’an serta peraturan-peraturan kewarisan yang ada. Dalam bukunya ia mengatakan:

58 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: Diponegoro, 2005), h.

226

59 Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Tafsir Ibnu Kasir, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2000), h. 134-135

Allah menganjurkan, supaya kaum muslimin menurut peraturan pembagian harta pusaka, sebagaimana termaktub dalam kitab suci Al-Qur’an dan menjanjikan siksa neraka bagi orang yang melanggar peraturan itu. Karena siapa yang mengambil hak orang lain dengan tiada suka hati yang empunya, samalah halnya dengan merampok atau mencuri pada sisi Allah, meskipun ia terlepas dari hukuman di atas dunia.”60

Berbicara mengenai hukum waris, Masjfuk Zuhdi mengemukakan pendapatnya di dalam bukunya Masail Fiqhiyah, bahwa:

“Di negara kita RI ini, hukum waris yang berlaku secara nasional belum terbentuk, dan hingga kini ada 3 (tiga) macam hukum waris yang berlaku dan diterima oleh masyarakat Indonesia, yakni hukum waris yang berdasarkan hukum Islam, hukum adat, dan hukum perdata Eropa (BW). Hal ini adalah akibat warisan hukum yang dibuat oleh pemerintah colonial Belanda untuk Hindia Belanda dahulu.”61

Sedangkan dalam KUH Perdata pasal 127 dijelaskan bahwa:

“setelah salah seorang dan suami isteri meninggal, maka bila ada meninggalkan anak yang masih di bawah umur, pihak yang hidup terlama wajib untuk mengadakan pendaftaran harta benda yang merupakan harta bersama dalam waktu empat bulan. Pendaftaran harta bersama itu boleh dilakukan di bawah tangan tetapi harus dihadiri oleh wali pengawas. Bila pendaftaran harta bersama itu tidak diadakan, gabungan harta bersama berlangsung terus untuk keuntungan si anak yang masih di bawah umur dan sekali-kali tidak boleh merugikannya.”62

Berdasarkan Al-Qur’an, bahwa pada prinsipnya hukum Islam bersumber pada penetapan Allah (berupa hukm Allah yang tercantum dalam Qur’an dan Kitab-kitab suci yang terdahulu yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul Allah), penetapan Rasul Allah (berupa hukum Rasul baik dalam bentuk hadits maupun sunnah) dan penetapan ulil amri (berupa

60 Mahmud Yunus, Hukum Warisan dalam Islam, (Jakarta: Hidakarya Agung, 1999), h. 5

61 Masjfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyah, (Jakarta: Toko Gunung Agung, 1997), h. 195

62 Bergerlijk Wetboek, KUH Perdata: Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Pustaka Mahardika, h. 32

hukum negara dengan cara berijtihad, dalam artian mempergunakan logika untuk menetapkan sesuatu hukum yang didasarkan pada hukum Allah dan hukum Rasul. Ketiga sumber hukum Islam ini, baik penetapan Allah, penetapan Rasul maupun penetapan ulil amri diikat oleh satu nilai yang sama, yang kesemuanya bermuara pada hukum Allah, yaitu Al-Qur’an itu sendiri.

اَيا اَهُّ يَأ اَنيِذَّلا ا ا اوُنَمآ ا

ا اوُعيِطَأ ا اَّللا ا

ا اوُعيِطَأَو ا اَلوُسَّرلا ا

اِل وُأَو ا اِر مَلأا ا ا مُكنِم ا نِإَف ا ا

ا مُت عَزاَنَ ت ا

اِف ا ء يَش ا اُهوُّدُرَ ف ا اَلِإ ا

اِّللا ا اِلوُسَّرلاَو ا ا

نِإ ا مُتنُك اا اَنوُنِم ؤُ ت ا اِّللِبِ ا

اِم وَ ي لاَو ا ا

اِرِخلآا اَكِلَذ ا ا ر يَخ ا اُنَس حَأَو ا االيِو َتَ ا

ا

﴿ ٥٩

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”63 (Q.S. An-Nisa’: 59)

Ibnu Abbas mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abdullah ibnu Huzafah ibnu Qais ibnu Addi ketika ia diutus oleh Rasulullah SAW untuk memimpin suatu pasukan khusus. Hal yang sama diketengahkan oleh jamaah lainnya, kecuali Imam Ibnu Majah, melalui hadits Hajaj ibnu Muhammad Al- A’war, Imam Turmudzi mengatakan hadits ini hasan gharib, kami tidak mengenalnya kecuali melalui hadits Ibnu Juraij.64

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna ulil amri bahwa yang dimaksud adalah ahli fiqih dan ahli agama. Hal yang sama telah dikatakan oleh mujahid, Ata, Al-Hasan Al-

63 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya., h. 231

64 Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Tafsir Ibnu Kasir., h. 262

Basri dan Abul Aliyah, bahwa yang dimaksud ulil amri adalah para ulama.65

Ayat di atas menjelaskan tentang anjuran untuk senantiasa menaati perintah dan hukum yang bersumber dari Allah, Rasul dan ulil amri atau orang yang mempunyai kekuasaan. Ayat di atas juga menjelaskan diperbolehkannya kepada kita untuk berijtihad dengan syarat didasarkan kepada Al-Qur’an dan hadits.

Begitu pula dalam hal waris, sebagai warga Indonesia yang berlandaskan hukum negara, sudah seharusnya kita mentaati peraturan yang telah ditetapkan. Sebagian besar masalah-masalah itu tidak terkecuali hukum waris tidak disinggung dalam Al-Qur’an atau sunnah secara eksplisit, atau disinggung tetapi tidak dengan keterangan yang jelas dan pasti.

Hal yang demikian itu tidak berarti Allah dan Rasul-Nya lupa atau lengah dalam mengatur syari’at Islam tetapi justru itulah menunjukkan kebijaksanaan Allah dan Rasul-Nya yang sangat tinggi/tepat dan merupakan blessing in disguise bagi umat manusia.

Sebab masalah-masalah yang belum/tidak ditunjukkan oleh Al- Qur’an /Sunah itu diserahkan kepada pemerintah, ulama/cendekiawan Muslim, dan ahlul hilli wal ‘aqdi (orang-orang yang punya keahlian menganalisa dan memecahkan masalah) untuk melakukan pengkajian atau ijtihad guna menetapkan hukumnya, yang sesuai dengan kemaslahatan masyarakat dan perkembangan kemajuannya.66

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sebagai muslim yang baik, kita harus melaksanakan hukum sesuai hukum syara’ yang benar.

Namun di samping itu juga, sebagai warga negara Indonesia, kita juga

65 Ibid, h. 271-272

66 Masjfuk Zuhdi, Masail Fiqh., h. 196

harus menaati aturan-aturan yang dibuat oleh pemerintah sebagai pemimpin negara. Karena Islam telah menganjurkan untuk menaati ulil amri atau orang yang mempunyai kekuasaan dan menaati para ulama.

Dokumen terkait