• Tidak ada hasil yang ditemukan

Waris Beda Agama

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Penyelesaian Perkara Waris di Pengadilan Agama

1. Waris Beda Agama

Mengenai hukum kewarisan orang yang beda agama Al-Qur’an telah menjelaskan sebagai berikut:

...

﴿االيِبَساَيِْنِم ؤُم لااىَلَعاَنيِرِفاَك لِلاُّللااَلَع َيَانَلَو ا ١٤١

Artinya: ... Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.88 (Q.S. An- Nisa’: 141)

Mengenai ayat tersebut, dalam tafsir Jalalain telah dijelaskan sebagai berikut:

(Yakni orang-orang) menjadi badal bagi "orang-orang" yang sebelumnya (yang menunggu-nunggu datangnya padamu) giliran peristiwa (jika kamu beroleh kemenangan) berikut harta rampasan (dari Allah, mereka berkata) kepadamu ("Bukankah kami bersama kamu") baik dalam keagamaan maupun dalam berjihad? Lalu mereka diberi bagian harta rampasan itu. (Sebaliknya jika orang-orang kafir yang beroleh nasib baik) berupa kemenangan terhadapmu (mereka berkata) kepada orang-orang kafir itu: ("Bukankah kami turut berjasa memenangkanmu) padahal kalau kami mau, kami mampu pula menahan dan memusnahkanmu tetapi itu tidak kami lakukan?"

("Dan) tidakkah (kami membela kamu dari orang-orang mukmin) agar mereka tidak beroleh kemenangan, yaitu dengan mengirim berita kepadamu, membukakan rahasia dan siasat mereka, hingga jasa besar kami itu tidak dapat kamu ingkari dan lupakan?" Firman Allah swt.: ("Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu) dengan mereka (pada hari kiamat) yaitu dengan memasukkanmu ke dalam surga dan memasukkan mereka ke dalam neraka. (Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang kafir terhadap orang-orang beriman.") maksudnya jalan untuk mencelakakan dan membasmi mereka.89

88 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: Diponegoro, 2005), h.

149

89 Jalaluddin Asy-Syuyuthi, Jalaluddin Muhammad Ibn Ahmad Al-Mahalliy, Tafsir Jalalain, terj. Dani Hidayat, (Tasikmalaya: Pesantren Persatuan Islam 91 Tasikmalaya, 2010)

Berkaitan dengan ayat tersebut, Muhibbin dan Wahid menjelaskan sebagai berikut:

Apabila seorang ahli waris yang berbeda agama beberapa saat sesudah meninggalnya pewaris lalu masuk Islam, sedangkan peninggalan belum dibagi-bagikan maka seorang ahli waris yang baru masuk Islam itu tetap terhalang untuk mewarisi, sebab timbulnya hak mewarisi tersebut adalah sejak adanya kematian orang yang mewariskan, bukan saat kapan dimulainya pembagian harta peninggalan. Padahal pada saat kematian si pewaris, ia masih dalam keadaan non-Islam (kafir). Jadi, mereka dalam keadaan berlainan agama. Seperti contoh apabila seorang muslim meninggal dunia, sedang istrinya adalah orang kafir, beberapa jam kemudian istrinya masuk Islam maka si istri tidak berhak menerima warisan walaupun harta warisan belum terbagi.90

Mengenai hukum seorang muslim mewarisi non-muslim para ulama ada dua pendapat di antaranya:

1) Mutlak menolak waris beda agama, baik seorang muslim mewarisi seorang kafir atau sebaliknya, Mazhab Syafi’i dan Mazhab Hanbali termasuk kelompok ini.91

2) Membolehkan hukum seorang muslim mewarisi seorang kafir dan mengharamkan kebalikannya. Ini berdasarkan analogi (qiyas) diperbolehkannya pernikahan seorang muslim dengan wanita non- muslim (Ahli Kitab) sebagaimana disinyalir dalam surat Al-Maidah ayat 5. Yang termasuk dalam kelompok ini antara lain: Mu’adz ibn Jabal, Mu’awiyah, Sa’id ibn Al-Musayyab dan Masruq.92

90 Moh. Muhibbin, Abdul Wahid, Hukum Kewarisan Islam, Sebagai Pembaruan Hukum Positif di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2011), h. 78-79

91 Nurcholish Madjid dkk., Fiqih Lintas Agama, (Jakarta: Paramadina, 2005), h. 165

92 Ibid., h. 166

Dicontohkan93 dalam sebuah perkara waris, pewaris bernama Muhammad Armaya bin Renreng, alias Armaya Renreng, beragama Islam yang meninggal pada tanggal 22 Mei 2008. Pewaris meninggalkan seorang Istri yang bernama Evie Lany Mosinta (Tergugat), beragama Kristen.

Mereka menikah secara Islam pada tanggal 1 November 1990, diBo‟E, Kabupaten Poso, berdasarkan Kutipan Akta Perkawinan No. 57/K.PS/XI /1990. Dalam perkawinan almarhum Muhammad Armaya bin Renreng, alias Armaya Renreng dengan Evie Lany Mosinta, tidak dikarunia seorang anak.

Menurut Hukum Islam, almarhum Muhammad Armaya bin Renreng, alias Armaya Renreng, berhak memperoleh 1/2 (seperdua) bagian dari harta bersama tersebut dan menurut hukum adalah menjadi harta warisan dari almarhum Muhammad Armaya bin Renreng, alias Armaya Renreng, yang merupakan hak dari pada para ahli warisnya, tetapi harta tersebut seluruhnya masih dalam penguasaan Evie Lany Mosinta dan belum diserahkan atau dibagikan oleh Evie kepada para ahli waris dari almarhum Muhammad Armaya bin Renreng, alias Armaya Renreng.

Putusan Pengadilan Agama Makassar Nomor: 732/Pdt .G/2008/PA juga dikuatkan oleh putusan Pengadilan Tinggi Agama Makassar dengan putusannya Nomor: 59/Pdt.G/2009/PTA.Mks, tanggal 15 Juli 2009 M.

bertepatan dengan tanggal 22 Rajab 1430 H yang dalam tingkat banding atas permohonan Tergugat.

93 Putusan Mahkamah Agung Nomor 16 K/AG/2010

Selanjutnya, dalam putusan Mahkamah Agung No:16K/AG/2010 penulis akan menguraikan tentang dasar dan pertimbangan hakim Mahkamah Agung yang digunakan dalam memutus perkara No:16K/AG/2010:

Pertama, Bahwa perkawinan pewaris dengan Pemohon Kasasi sudah cukup lama yaitu 18 tahun, berarti cukup lama pula Pemohon Kasasi mengabdikan diri pada pewaris, karena itu walaupun Pemohon Kasasi non muslim layak dan adil untuk memperoleh hak-haknya selaku isteri untuk mendapat bagian dari harta peninggalan berupa wasiat wajibah serta bagian harta bersama sebagaimana yurisprudensi Mahkamah Agung dan sesuai rasa keadilan.

Kedua, Bahwa persoalan kedudukan ahli waris non muslim sudah banyak dikaji oleh kalangan ulama diantaranya ulama Yusuf Al Qaradawi, menafsirkan bahwa orang-orang non Islam yang hidup berdampingan dengan damai tidak dapat dikategorikan kafir harbi, demikian halnya Pemohon Kasasi bersama pewaris semasa hidup bergaul secara rukun damai meskipun berbeda keyakinan, karena itu patut dan layak Pemohon Kasasi memperoleh bagian dari harta peninggalan pewaris berupa wasiat wajibah.

Dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 16 K/AG/2010, hakim memiliki pertimbangan bahwa karena perkawinan pewaris dengan Pemohon Kasasi sudah cukup lama yaitu 18 tahun, berarti cukup lama pula Pemohon Kasasi mengabdikan diri pada pewaris, karena itu walaupun

Pemohon Kasasi non muslim layak dan adil untuk memperoleh hak- haknya selaku isteri untuk mendapat bagian dari harta peninggalan berupa wasiat wajibah serta bagian harta bersama sebagaimana yurisprudensi Mahkamah Agung dan sesuai rasa keadilan.

Permasalahan pemberian wasiat wajibah masih banyak mengalami perdebatan dikarenakan pembahasan mengenai ini tidak begitu lengkap dibahas dalam Kompilasi Hukum Islam, yakni hanya dibahas dalam Pasal 209 yang mengatakan bahwa:

(1) Harta peninggalan anak angkat dibagi berdasarkan Pasal 176 sampai dengan Pasal 193 tersebut di atas, sedangkan terhadap orang tua angkat yang tidak menerima wasiat diberi wasiat wajibah sebanyak banyaknya 1/3 dari harta wasiat anak angkatnya.

(2) Terhadap anak angkat yang tidak menerima wasiat diberi wasiat wajibah sebanyak-banyaknya 1/3 dari harta warisan orang tua angkatnya.94

Oleh karena wasiat wajibah ini mempunyai titik singgung secara langsung dengan hukum kewarisan Islam, maka pelaksanaannya diserahkan kepada kebijaksanaan hakim untuk menetapkannya dalam proses pemeriksaan perkara waris yang diajukan kepadanya. Hal ini penting diketahui oleh hakim karena wasiat wajibah itu mempunyai tujuan untuk mendistribusikan keadilan, yaitu memberikan bagian kepada ahli waris yang mempunyai pertalian darah namun nash tidak memberikan bagian yang semestinya, atau orang tua angkat dan anak angkat yang mungkin sudah banyak berjasa kepada si pewaris tetapi tidak diberi bagian dalam ketentuan hukum waris Islam, maka hal ini dapat dicapai jalan

94 Kompilasi Hukum Islam, Pasal 209

keluar dengan menerapkan wasiat wajibah sehingga mereka dapat menerima bagian dari harta pewaris.

Berdasarkan dengan perkara waris yang telah dipaparkan di atas yang kemudian dikaitkan dengan teori yang ada, keputusan hakim mengenai wasiat wajibah sebenarnya sudah layak diberikan kepada si istri yang notabene beragama Kristen. Hal ini diberikan sebagai wujud distribusi karena telah mengabdikan diri kepada suami selama masa perkawinannya dengan si pewaris. Maka dari itu, putusan wasiat wajibah bisa diberlakukan kembali dalam persidangan apabila ditemukan atau terjadi perkara yang sama.

Dokumen terkait