BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.7 Keterbatasan Penelitian
Pada saat melakukan penelitian kelapangan kebanyakan para informan sulit untuk di temui karena para informan bekerja dan waktu untuk menemui para informan tidak tentu
juga peneliti harus mau bersabar menunggu kapan waktu para informan untuk bisa di wawancara. Ada juga beberapa informan yang meminta di buat dalam bentuk pertanyaan yang bisa di jawab melalui tulisan saja untuk sebagai awal berkenalan dengan informan dan ketika membaca pertanyaan yang diajukan untungnya mereka mengerti dan mau memberi informasi walaupun harus janjian terlebih dahulu agar bisa bertemu langsung di rumahnya. Waktu yang mereka tentukan terkadang tidak bisa sehingga harus membuat janji kembali.
Di samping itu, mereka kurang mau terbuka dan peneliti harus bersabar mendapatkan informasi yang diinginkan sehingga peneliti harus membuat suasana senyaman mungkin.
Peneliti bahkan berkali-kali membuat janji karena peneliti belum merasa puas dengan jawaban dari informan. Ketika informan sedang melakukan gaya hidupnya peneliti terkadang datang ke tempat informan atau terkadang ada informan mengajak peneliti melihat gaya hidupnya. Secara tidak sadar peneliti juga ikutan berbelanja sehingga membuat uang peneliti menjadi habis. Walaupun begitu, ada beberapa informan yang sangat membantu dan mengerti situasi penelitian peneliti karena pernah merasakannya sewaktu kuliah ini sangat peneliti hargai.
BAB IV
DESKRIPSI DAN INTERPRETASI DATA
4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
4.1.1 Gambaran Secara Umum Kotamadya Medan
Kota Medan sebagai ibukota Propinsi Sumatera Utara terletak di sebelah Timur Propinsi Sumatera Utara, bagian Utara kabupaten Deli Serdang. Kota Medan memiliki luas wilayah yang relatif kecil, tetapi dengan jumlah penduduk yang relatif besar dengan luas daerah kota Medan yaitu 26.510 Hektar (265,10 Km2).42
• Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Sumatera.
Secara geografis kota Medan terletak pada 3° 30' – 3° 43' Lintang Utara dan 98° 35' - 98° 44' Bujur Timur.
Untuk itu topografi kota Medan cenderung miring keutara dan berada pada ketinggian 2,5-37,5 meter diatas permukaan laut. Kota Medan berbatasan dengan :
• Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Deli Tua dan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang.
• Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang.
• Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan
Berdasarkan data kependudukan tahun 2004, penduduk kota Medan saat ini diperkirakan telah mencapai 2.006.142 jiwa, dengan jumlah wanita lebih besar dari pria, (1.010.174 jiwa > 995.968 jiwa). Jumlah penduduk tersebut diketahui merupakan penduduk tetap, sedangkan penduduk tidak tetap diperkirakan mencapai lebih dari 500.000 jiwa, yang merupakan penduduk commuters. Dengan demikian, kota Medan
42 ---. 2006. Demografis
merupakan salah satu kota dengan jumlah penduduk yang besar, sehingga memiliki deferensiasi pasar. Di lihat dari struktur umur penduduk, kota Medan di huni lebih kurang 1.377.751 jiwa berusia produktif, (15-59 tahun). Selanjutnya, di lihat dari tingkat pendidikan, rata-rata lama sekolah penduduk telah mencapai 10,5 tahun. Dengan demikian, kota Medan secara relatif tersedia tenaga kerja yang cukup, yang dapat bekerja pada berbagai jenis perusahaan, baik jasa, perdagangan, maupun industri manufaktur.
Laju pertumbuhan penduduk kota Medan periode tahun 2000-2004 cenderung mengalami peningkatan, di mana tingkat pertumbuhan penduduk pada tahun 2000 adalah 0,09% dan menjadi 0,63% pada tahun 2004. Pada tingkat kapadatan penduduk mengalami peningkatan dari 7.183 jiwa per Km2 pada tahun 2004. Jumlah penduduk paling banyak ada di kecamatan Medan Deli, di susul kecamatan Medan Helvetia dan Medan Tembung. Jumlah penduduk yang paling sedikit, terdapat di kecamatan Medan Baru, Medan Maimun dan Medan Polonia. Tingkat kepadatan Penduduk tertinggi ada di kecamatan Medan Perjuangan, Medan Area dan Medan Timur.
Tabel 4.1
JUMLAH, LAJU PERTUMBUHAN DAN KEPADATAN PENDUDUK DI KOTA MEDAN TAHUN 2001 – 2006
TAHUN JUMLAH PENDUDUK (JIWA) LUAS WILAYAH (KM2)
2001 1.926.052 265,10
2002 1.952.717 265,10
2003 1.979.340 265,10
2004 2.010.676 265,10
2005 2.036.185 265,10
2006 2.067.288 265,10
Sumber BPS Kota Medan
Kota Medan mengemban fungsi regional yang luas, baik sebagai pusat pemerintahan maupun kegiatan ekonomi dan sosial yang mencakup bukan hanya Propinsi Sumatera
Utara tetapi juga wilayah propinsi (Sumbagut). Adanya fungsi regional yang luas tersebut, ternyata telah menjadikan kota Medan dapat menyelenggarakan aktifitas ekonomi dalam volume yang besar. Kapasitas ekonomi yang besar tersebut ditunjukan oleh laju pertumbuhan ekonomi yang di capai kota Medan, yang selalu berada diatas pertumbuhan ekonomi daerah – daerah sekitarnya, termasuk dibandingkan dengan di capai oleh Provinsi Sumatera Utara maupun Nasional.
Walaupun kota Medan sempat mengalami pertumbuhan ekonomi negatif tahun 1998 (- 20%), namun selama tahun 2000 – 2004, ekonomi kota Medan dapat tumbuh kembali rata – rata sebesar 5,19%. Ini merupakan indikasi bahwa betapapun beratnya (dalamnya), krisis ekonomi yang melanda ekonomi Indonesia dan kota Medan khususnya, namun secara bertahap pada dasarnya Indonesia dan kota Medan memiliki kemampuan untuk sembuh dan keluar dari krisis yang sangat berat tersebut.
Kapasitas ekonomi yang relatif besar tersebut juga ditunjukkan oleh nilai (uang) PDRB kota Medan yang saat ini telah mencapai Rp. 24,5 triliun, dengan pendapatan perkapita Rp. 12,5 juta, sektor tertier merupakan sektor sekunder (29,06%), dan sektor primer (4,18%). Jumlah volume kegiatan ekonomi ini, sekaligus memberikan kontribusi lebih kurangnya sebesar 21% bagi pembentukan PDRB Propinsi Sumatera Utara. Di lihat dari pencapaian pertumbuhan ekonominya, pertumbuhan ekonomi kota Medan juga memperlihatkan elastisitas yang tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara artinya, pertumbuhan ekonomi kota Medan selalu menunjukan angka positif yang lebih besar dari pertumbuhan ekonomi Propinsinya. Ini menunjukan bahwa kota Medan masih merupakan mesin pembangunan bagi daerah – daerah lainnya di Sumatera Utara. Dengan
begitu, kota Medan menjadi salah satu dari 3 (tiga) kota metropolitan terbesar di Indonesia.43
4.1.2 Gambaran Secara Umum Kelurahan Tanjung Rejo
Di dalam kota Medan terdapat beberapa kecamatan yang salah satunya adalah kecamatan Medan Sunggal. Kecamatan Medan Sunggal terletak di wilayah Barat kota Medan dengan batas-batas sebagai berikut:
• Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang.
• Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Medan Baru.
• Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Medan Selayang.
• Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Medan Helvetia.
Kecamatan Medan Sunggal adalah daerah pintu gerbang kota Medan di sebelah Barat yang merupakan pintu masuk dari daerah lainnya di Sumatera Utara maupun propinsi lainnya melalui transportasi darat, dengan penduduknya berjumlah 106.759 jiwa (tahun 2004). Di kecamatan Medan Sunggal didalamnya terdapat beberapa kelurahan dan salah satunya adalah kelurahan Tanjung Rejo yang merupakan lokasi peneliti untuk penelitian.
Daerah kelurahan Tanjung Rejo berdiri dari tahun 1940 sampai tahun 1950 yang bernama Perladangan dan yang mengepalainya disebut Kepala Ladang karena daerah kelurahan ini terdiri dari sawah-sawah dan rumah penduduk.
Pada tahun 1950 sampai tahun 1975 daerah ini berubah nama menjadi Perkampungan dan yang mengepalainya disebut Kepala Kampung. Lalu pada tahun 1975 sampai tahun 1985 daerah ini berubah lagi namanya menjadi Perdesaan dan yang mengepalainya
43 Ibi
disebut Kepala Desa. Pada tahun 1985 sampai saat ini namanya berubah lagi menjadi Kelurahan dan yang mengepalainya disebut Kepala Lurah. Nama kelurahan ini ditetapkan oleh pemerintah.
Adapun batas-batas wilayah dari Kelurahan Tanjung Rejo sebagai berikut :
Sebelah Utara berbatasan dengan Jalan Sunggal Kelurahan Sei. Sikambing-b.
Sebelah Timur berbatasan dengan Sungai Selayang ( Kelurahan PB. Selayang I dan Kelurahan Babura ).
Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Tanjung Sari dan Kelurahan Asam Kumbang.
Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Sunggal / Jalan Ring Road
Luas wilayah keseluruhan kelurahan adalah 350 Ha yang dapat di lihat pada tabel berikut :
Tabel 4.2
Luas Wilayah Kelurahan
No Luas Km2
1 Pemukiman 3,5
2 Kuburan 0,005
3 Pekarangan 0,7
4 Taman -
5 Pekantoran 0,003
6 Prasarana umum lainnya -
Jumlah 3,5700
Data Kelurahan Tahun 2005
Daerah kelurahan tersebut lebih banyak di huni oleh pemukiman baik pemukiman umum maupun real estate. Hal ini tidak mengherankan, karena kelurahan Tanjung Rejo ini terdapat di pinggiran kota Medan, sehingga cocok untuk dijadikan pemukiman penduduk di samping semakin banyak pembangunan real estate untuk pemukiman
masyarakat. Umumnya penduduk yang menetap di kelurahan Tanjung Rejo adalah penduduk yang berasal dari etnis Jawa, karena sudah dari sejak dahulu daerah ini menjadi salah satu tempat bagi kelompok etnis Jawa pendatang sebagai daerah pemukiman. Selain masyarakat Jawa, penduduk di daerah ini umumnya terdiri atas berbagai jenis etnis yang terdapat di kota Medan seperti Batak Karo, Batak Mandailing, dan Cina.
4.1.2.1 Kependudukan
Jumlah penduduk kelurahan Tanjung Rejo adalah 27.049 jiwa dengan jumlah Kepala Keluarga yang ada di kelurahan adalah 5919 KK. Berdasarkan pengamatan peneliti tidak semua penduduk kelurahan ini adalah penduduk pribumi tapi ada juga WNI keturunan Cina, warga asing dan keturunan Arab. Berikut ini merupakan perincian jumlah penduduk berdasarkan usia :
Tabel 4.3
Jumlah Penduduk Menurut Golongan Usia
No Usia Jiwa
1 0-12 bulan s/d 10 tahun 5779
2 11 tahun s/d 20 tahun 8358
3 21 tahun s/d 30 tahun 2291
4 31 tahun s/d 40 tahun 2258
5 41 tahun s/d 50 tahun 3099
6 51 tahun s/d + 59 tahun 5188
Jumlah 27.049
Data Kelurahan Tahun 2005
Jika kita melihat pada data tabel diatas, maka usia penduduk di kelurahan Tanjung Rejo yang paling tinggi jumlahnya adalah usia 11 tahun hingga 20 tahun sebanyak 8358 jiwa sedangkan usia yang paling rendah adalah usia 31 tahun hingga 40 tahun sebanyak 2258 jiwa. Sementara itu, berdasarkan penelitian lapangan yang dilakukan, para informan
umumnya berada pada rentang usia antara 21 tahun hingga 30 tahun, yang menunjukkan jika jumlahnya para informan di lihat dari jenis kelamin laki-laki dan perempuan sebanyak 2291 jiwa.
Agama mayoritas yang dianut oleh penduduk kelurahan Tanjung Rejo adalah agama Islam dengan jumlah sebanyak 15.721 orang. Sementara itu penduduk di kelurahan Tanjung Rejo lainnya ada yang beragama Kristen, Katholik, Hindu, dan Budha. Untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada tabel berikut ini :
Tabel 4.4
Komposisi Penduduk Menurut Agama
No Agama Jiwa
1 Islam 15721
2 Kristen 6272
3 Katholik 1675
4 Hindu 2474
5 Budha 937
Jumlah 27079
Data Kelurahan 2005
Untuk menjalankan peribadatannya, maka telah tersedia pula prasarana peribadatan untuk umat beragama yang ada di kelurahan Tanjung Rejo. Di mana lebih banyak prasarananya untuk beragama Islam karena mayoritas penduduk menganut agama Islam.
Untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada tabel berikut ini :
Tabel 4.5
Prasarana Peribadatan
No Prasarana Jumlah
1 Mesjid 13
2 Mushola/Langgar/Surau 4
3 Kristen 7
4 Katholik 2
Jumlah 26
Data Kelurahan Tahun 2005
4.1.2.2 Pendidikan
Dari segi pendidikan, kualitas penduduk kelurahan Tanjung Rejo ini dapat di lihat pada table berikut :
Tabel 4.6
Komposisi Penduduk Berdasarkan Pendidikan Yang Ditamatkan
No Pendidikan Jiwa
1 Belum Sekolah 3378
2 Usia 7 – 45 tahun tidak pernah sekolah - 3 Pernah Sekolah SD tetapi tidak tamat 3506
4 Tamat SD / sederajat 6954
5 SLTP / sederajat 4457
6 SLTA / sederajat 3815
7 D1 1365
8 D2 1250
9 D3 1280
10 S1 680
11 S2 361
12 S3 74
Jumlah 27120
Data Kelurahan Tahun 2005
Berdasarkan tabel di atas diketahui jika tingkat pendidikan penduduk kelurahan Tanjung Rejo sudah cukup baik. Pendidikan masyarakat yang paling tinggi jumlahnya adalah tamat SD / sederajat sebanyak 6954 orang sedangkan pendidikan yang paling rendah jumlahnya adalah S3 sebanyak 74 orang. Walaupun begitu, di dalam kelurahan ini masih terdapat masyarakat yang belum sekolah dan tidak menamatkan pendidikan karena berbagai faktor yang salah satunya mengalami kesulitan perekonomian sehingga tidak dapat untuk melanjutkan pendidikan. Dapat di lihat juga dari prasarana pendidikan formal dan Non Formal yang cukup memadai pada tabel berikut ini :
Tabel 4.7
Lembaga / Prasarana Pendidikan Formal dan Non Formal
No Lembaga Jumlah
1 TK 4
2 SD 11
3 SLTP 1
4 SLTA 1
5 Perguruan Tinggi 1
6 Kursus Menjahit 1
Jumlah 19
Data Kelurahan Tahun 2005
Lembaga atau prasarana pendidikan yang paling banyak jumlahnya adalah SD sebanyak 11 lembaga sedangkan lembaga yang paling sedikit jumlahnya adalah SLTP, SLTA, Perguruan Tinggi, dan Kursus Menjahit yang masing-masing mempunyai 1 lembaga. Umumnya kursus menjahit diikuti tidak hanya kalangan Ibu-ibu juga remaja putri untuk menambah pemasukan mereka.
4.1.2.3 Mata Pencaharian
Penduduk di kelurahan Tanjung Rejo umumnya bermata pencaharian sebagai buruh/swasta, pedagang atau memiliki subsektor industri dalam skala kecil atau besar.
Untuk lebih jelasnya, dapat di lihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.8
Komposisi Penduduk Berdasarkan Pekerjaan
No Komposisi Penduduk Berdasarkan Pekerjaan Jiwa
1 Buruh / Swasta 4271
2 Pengawai Negeri 747
3 Pengrajin 14
4 Pedagang 5497
5 Penjahit 30
6 Tukang Batu 475
7 Tukang Kayu 1035
8 Montir 115
9 Dokter 14
10 Supir 375
11 Pengemudi Bajaj 119
12 Pengemudi Becak 53
13 TNI / Polri 575
14 Pengusaha 670
Jumlah 13990
Data Kelurahan Tahun 2005
Mata pencaharian masyarakat kelurahan Tanjung Rejo yang paling tinggi jumlahnya adalah Pedagang sebanyak 5497 orang, menempati urutan kedua adalah Buruh/Swasta sebanyak 4271 orang dan menempati urutan ketiga adalah Tukang Kayu sebanyak 1035 orang. Untuk mata pencaharian masyarakat yang paling sedikit jumlahnya adalah Dokter dan Pengrajin masing-masing sebanyak 14 orang. Dapat juga di lihat penduduk yang bekerja sebagai tenaga kerja pada tabel berikut ini :
Tabel 4.9
Komposisi Penduduk Berdasarkan Tenaga Kerja
No Penduduk Orang
1 Penduduk Usia 15-60 tahun 13150
2 Ibu Rumah Tangga 675
3 Penduduk Masih Sekolah 11223
Jumlah 25048
Data Kelurahan Tahun 2005
Tenaga kerja yang ada di Kelurahan Tanjung Rejo paling tinggi jumlahnya adalah Penduduk Usia 15 tahun s/d 60 tahun sebanyak 13150 orang sedangkan yang paling rendah jumlah tenaga kerjanya adalah Ibu Rumah Tangga sebanyak 675 orang.
4.1.3 Sejarah Berdirinya Komplek Perumahan Taman Setia Budi Indah (TASBI) Mengingat besarnya kebutuhan manusia akan perumahan sedangkan anggaran yang digunakan pemerintah masih sangat terbatas. Agar dapat membangun dan menyelesaikan proyek perumahan, maka pemerintah memberikan kesempatan pada pihak-pihak swasta untuk turut mengambil bagian dalam menyelesaikan proyek-proyek perumahan yang memenuhi syarat pemukiman yang sehat.
Ketetapan pemerintah tersebut membawa dampak positif, karena sarana perumahan demi pemenuhan kebutuhan hidup telah terpenuhi dengan kerja sama antara pemerintah dengan pihak-pihak swasta. Banyak daerah-daerah yang dulunya termasuk daerah pedesaan yang masih terbelakang. Kini telah menjadi kawasan perumahan yang dapat merubah wajah desa menjadi sebuah kota satelit karena telah di tata sedemikian rupa sehingga menjadi suatu lingkungan perumahan yang indah, bersih, dan nyaman.
Komplek perumahan TASBI didirikan oleh PT. Ira Widya Utama Medan berdasarkan akte perubahan No. 29 Tahun 1983 oleh Notaris Sundari Siregar SH di Medan. Pemilik
PT. Ira Widya Utama Medan dan Komplek perumahan TASBI adalah Yopie. S.
Batubara. Komplek perumahan TASBI dahulunya terdiri dari daerah persawahan dan perladangan yang dimiliki oleh masyarakat di sekitarnya yang tinggal di dekat daerah tersebut. Kemudian daerah persawahan tersebut di beli oleh Bapak Yopie untuk membangun komplek perumahan TASBI yang juga merupakan obsesi Bapak Yopie untuk membuat sebuah kawasan perumahan terbesar di kota Medan.44
Lokasi Komplek perumahan TASBI adalah di Jalan Setiabudi Kelurahan Tanjung Rejo, Komplek perumahan TASBI mulai di bangun pada tahun 1984 dengan areal seluas 40 hektare. Komplek perumahan TASBI merupakan salah satu komplek terbesar yang ada di Medan, penduduk yang tinggal di komplek ini terdiri dari berbagai etnis, ras, agama dan lain-lain. Di kawasan komplek perumahan TASBI pada tahun 1996 di bangun pula Perumahan Bukit Hijau Regency (BHR) dan di dukung tersedianya berbagai fasilitas umum yang sudah di bangun sebelumnya. Kelompok Perumahan Taman Setia Budi Indah, terdiri dari:
• Taman Setia Budi Indah I
• Taman Setia Budi Indah II
• Bukit Hijau Regency (BHR)
• Setiabudi Country Club
Dengan semakin berkembangnya Komplek perumahan TASBI maka tanah yang kini dimiliki dan sudah dibebaskan PT. Ira Widya Utama adalah 196 hektar dari izin lokasi seluas 210 hektar. Lokasi tanah masing-masing berada dalam empat kelurahan yaitu kelurahan Tanjung Rejo, kelurahan Tanjung Sari, kelurahan Asam Kumbang dan
44 Rahim, dkk. 2004. Biogarfi H. Yopie S Batubara. Hal 67-97. Medan: Penerbit Digital Art Design.
kelurahan Sunggal yang masuk dalam wilayah dua kecamatan yaitu kecamatan Medan Sunggal dan kecamatan Medan Selayang.45
Wilayah yang paling besar dijadikan areal kompleks perumahan tersebut adalah kelurahan Tanjung Rejo. Kebanyakan penduduk yang tinggal di komplek ini rata-rata kelas menengah keatas dan kehidupan sebagian penduduknya individualistis. Peneliti di sini hanya meneliti di lokasi komplek TASBI I kelurahan Tanjung Rejo kecamatan Medan Sunggal ini disebabkan untuk mempersempit lokasi yang akan diteliti.
Kompleks perumahan TASBI mempunyai batas-batas wilayah sebagai berikut :
Sebelah Barat berbatasan dengan Jalan setia budi
Sebelah Utara berbatasan dengan Jalan perjuangan
Sebelah Timur berbatasan dengan Pasar VI
Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Asam Kumbang.
4.2 Profil Informan
4.2.1 Profil Informan Kunci 4.2.1.1 Profil Dhie
Nama : Dhie Umur : 22 tahun
Pekerjaan : Pegawai di salah satu bank
Informan lahir di Medan pada 22 tahun yang lalu. Dhie di lihat dari segi fisik badannya langsing, mempunyai tinggi sekitar 165-170 cm, rambutnya hitam panjang sepinggang, kulitnya termasuk putih dan sering memakai kontak lens karena matanya
45 Ibid hal 90
minus. Dhie sangat ramah kepada siapa saja di tambah wajah Dhie yang menarik dan cantik ketika di pandang. Orang tua Dhie kedua-duanya bekerja, ayahnya bernama Bapak Purba bekerja sebagai wiraswasta sedangkan ibunya bernama Ibu Rose membuka salon dirumahnya. Di samping ini merupakan usaha keluarga turun temurun.
Usaha Ibu Dhie termasuk terkenal di kalangan ibu-ibu yang berada di dalam komplek. Ibu Dhie sangat ramah kepada siapa saja dan konsep suasana salon Ibu Dhie seperti berada di rumah sendiri. Jika Dhie sedang di rumah dan tidak ada pekerjaan.
Kebetulan tamu Ibu Dhie yang datang ke salon ramai. Dhie dan adik-adik segera membantu Ibu Dhie. Dhie merupakan anak 1 dari 3 bersaudara yang semuanya perempuan. Kehidupan keluarga Dhie adalah keluarga pada umumnya dan taat dalam beragama. Di mana keluarga Dhie menganut agama Kristen Protestan. Kehidupan ekonomi keluarga Dhie termasuk dalam golongan menengah keatas.
Orang tua Dhie kedua-duanya bekerja dan pendapatan dari orang tua Dhie sangat mencukupi kebutuhan akan anak-anaknya. Pendapatan ekonomi keluarga Dhie sebetulnya lebih di dominasi oleh Ibunya karena ayahnya bekerja ketika ada proyek yang diberikan. Jika sudah selesai maka ayahnya hanya bisa menunggu proyek atau pekerjaan apa yang akan diberikan. Sewaktu ayahnya belum mendapat proyek maka akan kegiatan ekonomi bertumpu kepada Ibunya.
Dhie sangat bangga kepada Ibunya karena sangat giat dalam mencari pendapatan untuk ekonomi keluarga karena usaha yang di bangun Ibunya bisa dikatakan sukses.
Pendapatan dari Ibunya dapat memenuhi kebutuhan seluruh keluarga. Ini juga menunggu sampai ayahnya mendapatkan pekerjaannya. Dhie bersama keluarganya tinggal di komplek TASBI sudah 20 tahun. Menurut Dhie tinggal di komplek TASBI selain
mengikuti orang tua dan suasana lingkungan sekitar lebih tenang. Dhie merupakan tamatan Diploma-3 dari salah satu Perguruan Tinggi Negeri yang ada di Medan, setelah lulus Dhie langsung bekerja.
Pada saat ini, Dhie di samping bekerja juga melanjutkan pendidikannya yaitu mengambil Sarjana-1 di bidang yang sama dengan Diploma-3. Dhie sekarang sudah bekerja selama 1 tahun 5 bulan di salah satu Bank BUMN yang ada di Medan. Dhie bekerja dalam bidang Customer Services (CS) dan dalam 1 bulan Dhie mempunyai penghasilan sekitar Rp. 2 juta diantaranya selain gaji pokok ada juga uang tambahan yaitu uang lembur Rp. 6000,-/jam, bonus biasa diberikan waktu hari raya besar dan akhir tahun tergantung dari atasan yaitu sebesar 1 bulan gaji.
Tutur kata yang sopan dan kelembutan nada bicaranya membuat siapa saja merasa lekas akrab dengannya. Demikian pula perasaan peneliti saat wawancarai beliau. Dalam menyampaikan jawaban dan tanggapan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, informan terkesan cermat sehingga membuat peneliti tidak bingung dengan apa yang dikatakannya. Suatu sikap yang sangat dihargai oleh peneliti. Banyak hal di peroleh melalui wawancara dengan informan. Peneliti merasa sangat tepat telah memilihnya sebagai informan kunci. Dhie sangat memahami gaya hidup perempuan muda yang bekerja karena Dhie sudah mempunyai pekerjaan yang mengetahui akan kehidupan kaum perempuan muda yang sudah bekerja.
4.2.1.2 Profil Rani
Nama : Rani Umur : 22 tahun
Pekerjaan : Pegawai Deskcall
Informan sekarang sudah memasuki usia 22 tahun. Rani dari segi fisik mempunyai tinggi sekitar 160-165 cm, badannya langsing, rambutnya hitam panjangnya sepundak memiliki kuning langsat. Rani kalau di pandang termasuk orangnya manis dan tergolong pemalu. Rani agak tertutup ketika diberikan pertanyaan maka jawaban yang diberikan sangat sedikit sehingga perlu waktu untuk mendapatkan jawaban yang diinginkan. Orang tua Rani yang laki-laki sudah meninggal sedangkan ibunya bekerja sebagai pengajar pelajaran agama di mesjid dekat rumah yaitu mengaji.
Ibu Rani juga bekerja sebagai penceramah (ustadzah) yang biasa di panggil ketika mengadakan acara untuk pengajian ibu-ibu. Ibunya aktif dalam kegiatan keagamaan yang diadakan di mesjid atau organisasi dan Ibunya termasuk sebagai anggota atau panitia dalam setiap kegiatan di mesjid maupun organisasi. Kehidupan keluarga Rani di rumah seperti pada umumnya serta taat dalam beribadah, di mana keluarga Rani menganut agama Islam.
Kehidupan ekonomi keluarga Rani termasuk golongan menengah. Terlebih dahulu dahulu peneliti membuat janji dengan Rani untuk bertemu di rumah Rani. Kebetulan pada saat peneliti datang Rani sedang duduk di depan teras rumahnya. Rani langsung mempersilahkan peneliti duduk dan menanyakan maksud dari kedatangan peneliti.
Setelah peneliti menjelaskan secara detail Rani menanggapinya dengan terdiam sebentar
sekalian membaca pertanyaan yang akan peneliti berikan. Ternyata Rani mempersilahkan peneliti bertanya walaupun sedikit lama.
Pada saat menjawab pertanyaan peneliti, Rani hanya menjawab dengan kata-kata yang singkat. Peneliti harus sedikit bersabar agar mendapatkan jawaban yang sebenar- benarnya. Pendapatan yang di peroleh oleh Ibunya membuat kebutuhan setiap hari dari yang pokok sampai hanya untuk bersenang-senang seperti jalan-jalan dan shopping dapat tercukupi dengan baik. Ini di dukung dengan saudara di atas Rani sudah pada bekerja jadi tidak terlalu memberatkan orang tua Rani. Rani merupakan anak ketiga dari 4 bersaudara.
Rani bersama keluarganya tinggal di komplek TASBI sudah sekitar lebih kurang 20 tahun.
Menurut Rani tinggal di TASBI sangat nyaman karena kebetulan keluarga Rani dengan keluarga tetangga-tetangga sangat dekat dan kekeluargaan. Kebanyakan teman- teman Rani berada semua di sini. Rani merupakan lulusan Sarjana-1 di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Medan, dan beberapa bulan kemudian Rani mendapat pekerjaan. Rani sekarang sudah bekerja selama 1 tahun 5 bulan di Perusahaan Pengkreditan Resmi untuk Sepeda Motor yang ada di Medan. Rani bekerja sebagai Deskcall dan dalam 1 bulan Rani mendapat penghasilan mendekati sekitar Rp. 2 juta.
4.2.1.3 Profil Etha
Nama : Etha Umur : 23 tahun
Pekerjaan : Pegawai call center