BAB I PENDAHULUAN
F. Kerangka Teori
3. Kinerja Keuangan
26
2) Analisis vertikal, yaitu membandingkan data rasio keuangan perusahaan dengan rasio semacam dari perusahaan lain yang sejenis atau seindustri untuk waktu yang sama;
3) The du pont chart berupa bagan yang di rancang untuk memperlihatkan hubungan antara ROI, asset turnover dan profit margin.
27
(balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan.” (Q.S. Al-Ahqaaf ayat 19).37
Kinerja keuangan adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana suatu perusahaan telah melaksanakan dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar. Seperti dengan membuat suatu laporan keuangan yang telah memenuhi standar ketentuan dalam SAK (Standar Akuntansi Keuangan) atau GAAP (General Acepted Accounting Principle), dan lainnya.
Jadi kinerja keuangan adalah suatu alat yang digunakan oleh seorang pimpinan atau perusahaan dalam melihat keadaan keuangannya yang disesuaikan dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan sehingga dapat menilai keadaan perusahaan juga dapat mengambil keputusan yang diperlukan.
b. Tahap-tahap dalam Menganalisis Kinerja Keuangan
Penilaian kinerja setiap perusahaan adalah berbeda-beda karena itu tergantung kepada ruang lingkup bisnis yang dijalankannya. Jika perusahaan tersebut bergerak pada sektor bisnis pertambangan maka itu berbeda dengan perusahaan yang bergerak pada bisnis petanian serta perikanan. Maka begitu juga pada perusahaan dengan sektor keuangan seperti perbankan yang jelas memiliki ruang lingkup bisnis berbeda dengan ruang lingkup bisnis lainnya, karena seperti yang kita ketahui perbankan adalah mediasi yang menghubungkan mereka yang memiliki
37 Surah Al-Ahqaaf ayat 19, https//:penaindigo/qur’an-in-word-terbaru-22-support-office/, diakses pada tanggal 29 September 2019 pukul 19.58 wita.
28
kelebihan dana (surplus financial) dengan mereka yang kekurangan dana (deficit financial), dan bank bertugas untuk memjembatani keduanya.38
Maka disini ada 5 (lima) tahap dalam menganalisis kinerja keuangan suatu perusahaan secara umum, yaitu :39
1) Melakukan review terhadap data laporan keuangan
Review di sini dilakukan dengan tujuan agar laporan keuangan yang sudah di buat tersebut sesuai dengan penerapan kaidah-kaidah yang berlaku umum dalam dunia akuntansi, sehingga dengan demikian hasil laporan keuangan tersebut dapat dipertanggungjawabkan.
2) Melakukan perhitungan
Penerapan metode perhitungan di sini adalah disesuaikan dengan kondisi dan permasalahan yang sedang dilakukan sehingga hasil dari perhitungan tersebut akan memberikan suatu kesimpulan sesuai dengan analisis yang diinginkan.
3) Melakukan perbandingan terhadap hasil hitungan yang telah diperoleh. Dari hasil hitungan yang sudah diperoleh tersebut kemudian dilakukan perbandingan dengan hasil hitungan dari berbagai perusahaan lainnya.
4) Melakukan penafsiran terhadap berbagai permasalahan yang ditemukan.
Pada tahap ini analisis melihat kinerja keuangan perusahaan adalah setelah dilakukan ketiga tahap tersebut selanjutnya dilakukan
38 Irham Fahmi, Analisis Kinerja Keuangan, (Bandung: Alfabeta, 2012), hlm. 3
39 Ibid., hlm. 3-4.
29
penafsiran untuk melihat apa-apa saja permasalahan dan kendala- kendala yang di alami oleh bank tersebut.
5) Mencari dan memberikan pemecahan masalah terhadap berbagai permasalahan yang ditemukan.
Pada tahap terakhir ini setelah ditemukan berbagai permasalahan yang telah dihadapi maka dicarikan solusi guna memberikan suatu input atau masukan agar apa yang menjadi kendala dan hambatan selama ini dapat diselesaikan.
c. Hubungan Rasio Keuangan dengan Kinerja Keuangan
Menurut Warsidi dan Bambang40 “Analisis rasio keuangan merupakan instrumen analisi prestasi perusahaan yang menjelaskan berbagai hubungan dan indikator keuangan, yang ditujukan untuk menunjukan perubahan dalam kondisi keuangan atau prestasi operasi dimasa lalu dan membantu menggambarkan trend pada pola perubahan tersebut, untuk kemudian menunjukan rasio dan peluang yang melekat pada perusahaan yang bersangkutan”.
Rasio keuangan dan kinerja perusahaan mempunyai hubungan yang erat. Rasio keuangan ada banyak jumlahnya dan setiap rasio mempunyai kegunaannya masing-masing. Bagi investor ia akan melihat rasio dengan penggunaan yang paling sesuai dengan analisis yang akan dilakukan. Jika rasio tersebut tidak merepresentasikan tujuan dari analisis yang akan dilakukan maka rasio tersebut tidak akan dipergunakan,
40 Ibid., hlm. 45.
30
karena dalam konsep keuangan dikenal dengan namanya fleksibelitas, artinya rumus atau berbagai bentuk formula yang dipergunakan haruslah disesuaikan dengan kasus yang diteliti. Karena kita tidak bisa menganalisiskan seluruh rumus yang ada adalah cocok pada semua kasus yang diteliti. Atau dalam istilah pakar keuangan bahwa pasar adalah laboratorium yang paling bagus untuk menguji segala kemampuan dan analisi yang dimiliki, maka segala kepemilikan formula dan berbagai pemukiran yang kita miliki akan terbukti pada saat menguji di pasar, seperti profit atau rugikah yang akan terjadi nantinya.41
Pada dasarnya penilaian kesehatan perbankan berdasarkan pada peraturan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia yaitu Peraturan Bank Indonesia No. 9/1/PBI/2007 tentang Sistem Penilaian Kesehatan Bank Umum Berdasarkan Prinsip Syariah yang diatur ketentuannya dalam surat edaran Bank Indonesia No. 9/24/DPbS perihal Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum Berdasarkan Prinsip Syariah.
Berdasarkan peraturan diatas peneliti mengambil rasio-rasio berikut sebagai penelitian, yaitu :
1) Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas merupakan rasio untuk mengukur kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya pada saat ditagih.
Dengan kata lain dapat membayar kembali pencairan dana
41 Ibid., hlm. 46
31
deposannya pada saat ditagih serta dapat mencukupi permintaan kredit yang telah diajukan. Semakin besar rasio ini, semakin likuid.42
Untuk melakukan pengukuran rasio ini memiliki beberapa jenis rasio yang masing-masing memiliki maksud dan tujuan tersendiri.
Adapun jenis-jenis rasio likuiditas sebagai berikut :43 a) Quick Rasio
Quick rasio merupakan rasio untuk mengukur kemampuan bank dalam memenuhi kewajibannya terhadap deposan (pemilik simpanan giro, tabungan dan deposito) dengan harta yang paling likuid yang dimiliki oleh suatu bank.
Rumus Perhitungan :
b) Banking Ratio
Banking Ratio bertujuan untuk mengukur tingkat likuiditas bank dengan membandingkan jumlah kredit yang disalurkan dengan jumlah deposit yang dimiliki. Semakin tinggi rasio ini, maka tingkat likuiditas bank semakin rendah , karena jumlah dana yang digunakan untuk membiayai kredit semakin kecil, demikian pula sebaliknya. 44
Rumus perhitungan banking ratio :
42 Kasmir, Manajemen Perbankan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), hlm., 268.
43 Ibid.
44 Ibid., hlm 269.
32 c) Loan to Asset Ratio
Loan to Asset Ratio merupakan rasio untuk mengukur jumlah kredit yang disalurkan dengan jumlah harta yang dimiliki bank.
Semakin tinggi tingkat rasio ini, menunjukan semakin rendahnya tingakat likuiditas bank.45
Rumus Perhitungan Asset to Loan Ratio :
%
d) FDR (Financing to Deposit Rasio)
Kebutuhan likuiditas setiap bank berbeda-beda tergantung antara lain pada khususan usaha bank, besarnya bank dan sebagainya. Oleh karena itu untuk menilai cukup tidaknya likuiditas suatu bank dengan menggunakan ukuran financing deposito to ratio, yaitu dengan memperhitungkan berbagai aspek yang berkaitan dengan kewajibannya, seperti memenuhi commitment Financing, antisipasi atas pemberian jaminan bank yang pada gilirannya akan menjadi kewajiban bagi bank. Apabila hasil pengukuran jauh berada di atas target dan limit bank tersebut maka dapat dikatakan bahwa bank akan mengalami kesulitan likuiditas yang pada gilirannya akan menimbulkan beban biaya yang besar. Sebaliknya bila berada di bawah target dan limitnya, maka bank tersebut dapat memelihara alat likuid yang berlebihan
45 Ibid., hlm. 270.
33
dan ini akan menimbulkan tekanan terhadap pendapatan bank berupa tingginya biaya pemeliharan kas yang menganggur (idle money). Dari uraian di atas maka dapat dikatakan Financing Deposit to Ratio adalah perbandingan jumlah pembiayaan yang diberikan dengan simpanan masyarakat.46
Rumus FDR sebagai berikut:
Penilaian tingkat kinerja dari Rasio Likuiditas Menurut Peraturan Bank Indonesia Yaitu :
Tabel 1.1
Nilai Standar Tingkat Kesehatan Bank Menurut BI Pada Rasio Likuiditas
Rasio Nilai Standar BI Keterangan Quick Ratio > 175%
150%-174%
125%-149%
< 125%
Sangat baik Baik
Kurang baik Tidak baik Banking Ratio > 102,25%
98,50%-102,25%
94,75% - 98,50%
< 94,75%
Tidak Baik Kurang Baik Baik
Sangat Baik Loan to Asset Ratio 102,25%
98,50%-102,25%
94,75% - 98,50%
< 94,75%
Tidak Baik Kurang Baik Baik
Sangat Baik Financing Deposit
to Ratio
50% < FDR ≤ 75%
75% < FDR ≤ 85%
85% < FDR ≤ 100%
100% <FDR≤ 120%
FDR > 120%
Sangat Baik Baik
Cukup Baik Kurang Baik Buruk
46 Muhammad Rahmat, “Pengaruh CAR, FDR, Dan NPF Terhadap Profitabilitas Pada Bank Syariah Mandiri”, (Skripsi, Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Hasanuddin, Makassar 2012), hlm., 45-46.
34
Sumber : Kodifikasi Penilaian Tingkat Kesehatan BI.
2) Rasio Profitabilitas
Rasio Profitabilitas adalah rasio yang digunakan untuk mengetahui kemampuan bank dalam menghasilkan laba selama periode tertentu, rasio profitabilitas juga bertujuan untuk mengukur tingkat efektifitas manajemen bank dalam menjalankan operasinya.47
Terdapat beberapa rasio yang digunakan untuk mengukur rasio profitabilitas, yaitu :
a) Return On Asset (ROA)
Return on Asset (ROA) merupakan rasio untuk mengukur manajemen bank dalam mengelola aset guna memperoleh keuntungan (laba) secara keseluruhan. Rasio ini sering juga disebut sebagai Return on Investment. Hasil pengembalian investasi atau lebih dikenal dengan nama return on investasi atau return on total asset. Merupakan rasio yang menunjukan hasil return atas jumlah aktiva yang digunakan dalam perusahaan. ROA juga merupakan suatu ukuran tentang efektifitas manajemen dalam mengelola investasinya. Disamping itu hasil dari pengenbalian investasi menunjukan produktifitas dari seluruh dana perusahaan, bak dalam modal pinjaman maupun modal sendiri. Semakin kecil rasio ini semakin tidak baik, demikian sebaliknya. Artinya rasio ini
47 Fitria Febrianti, “Analisis Rasio Likuiditas dan Profitabilitas Pada Bnk Rakyat Indonesia Syariah”, (Skripsi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Raden Fatah, Palembang, 2017), hlm., 26.
35
digunakan untuk mengukur efektifitas dari seluruh perusahaan.48 ROA menunjukan kemampuan bank dalam meperoleh keuntungan secara keseluruahan dari aset yang dimiliki. Semakin besar ROA suatu bank, maka semakin besar pula posisi bank tersebut dari segi penggunaan aset, dan sebaliknya. ROA dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
b) Return on Equity (ROE)
Return on Equity (ROE) merupakan rasio yang bisa dipakai untuk mengukur kinerja keuangan bank. Rasio ini berfungsi untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengelola capital yang ada untuk mendapat net income. ROE dalam analisis keuangan mempunyai arti yang sangat penting untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba tidak diukur menurut besar kecilnya jumlah laba yang dicapai, akan tetapi jumlah laba tersebut harus dibandingkan dengan jumlah dana yang telah digunakan dalam menghasilkan laba tersebut. Hasil pengembalian equitas atau Return on Equity atau rentabilitas modal sendiri. Rasio ini menunjukan efisiensi penggunaan modal
48 Siska Fitriani,”Pengaruh ROA, ROE, FDR, BOPO, dan Inflasi Terhadap Kecukupan Modal Pada Bank Umum Syariah di Indonesia”, (Skripsi, Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2016) hlm. 22.
36
sendiri. Semakin tinggi rasio ini, semakin baik. Artinya posisi pemilik perusahaan semakin kuat, demikian pula sebaliknya.49
Pemilik bank lebih tertarik pada seberapa besar kemampuan bank memperoleh keuntungan tehadap modal yang ia tanamkan.
Untuk mengukur kemampuan bank dalam memperoleh keuntungan dilihat dari kepentingan pemilik, digunakan rasio Return On Equity (ROE) dan rumus perhitungannya yaitu sebagai berikut:
c) Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) BOPO merupakan rasio perbandingan biaya operasional terhadap pendapatan operasional. BOPO yang bagus dicerminkan dari kemampuan untuk mengelola profitabilitas aktivanya dengan biaya lebih rendah. Variabel ini diharapkan memiliki hubungan positif dengan margin bank. Rendahnya BOPO bank semakin tinggi bank menetapkan marginnya. Rendahnya BOPO mencerminkan kualitas manajemen yang tinggi pada bank.
Semakin rendah BOPO semakin bagus karena bank menghasilkan banyak oendapatan operasional dari pengelolaan aktivanya dengan biaya operasional yang rendah. Rasio biaya operasional digunakan untuk mengukur tingkan efisiensi dan kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasinya. Semakin rendah tingkat rasio
49 Ibid., hlm 23-24.
37
BOPO berarti semakin baik kinerja manajemen bank rendah tingkat BOPO berarti semakin baik kinerja manajemen bank.50 BOPO dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
d) Net Profit Margin
Net Profit Margin merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam menghasilkan net income dari kegiatan pokoknya.51
Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
Penilaian tingkat kinerja dari Rasio Profitabilitas Menurut Peraturan Bank Indonesia Yaitu :
50Sharty Junita, “Pengaruh KAP, BOPO, FDR Terhadap NOM Perbankan Syariah di Indonesia Periode 2010-2014”, (Skripsi, Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2015 ), hlm., 34-35.
51Fitria Febrianti, “Analisis Rasio Likuiditas dan Profitabilitas Pada Bnk Rakyat Indonesia Syariah”, (Skripsi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Raden Fatah, Palembang, 2017), hlm., 29.
38
Tabel 1.2
Nilai Standar Tingkat Kesehatan Bank Menurut BI Pada Rasio Profitabilitas
Rasio Nilai Standar BI Keterangan
Return on Asset (ROA) ≥ 1,215%
0,999% - 1,215%
0,765% - 0,999%
< 0,765%
Sangat Baik Baik
Kurang Baik Tidak Baik Return on Equity (ROE) ≥ 1,215%
0,999% - 1,215%
0,765% - 0,999%
< 0,765%
Sangat Baik Baik
Kurang Baik Tidak Baik
BOPO BOPO ≤ 83%
83% < BOPO ≤ 85%
85% < BOPO ≤ 87%
87% < BOPO ≤ 89%
BOPO > 90%
Sangat Rendah Cukup Rendah Rendah
Cukup Tinggi Tinggi
Net Profit Margin NPM ≥ 8%
7,99% ≤NPM< 8%
6,5% ≥NPM< 7,99%
≤ 6,5%
Sehat
Cukup Sehat Kurang Sehat Tidak Sehat Sumber : Kodifikasi Penilaian Tingkat Kesehatan BI.
3) Rasio Rentabilitas
Rasio rentabilitas sering disebut profitabilitas usaha. Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi usaha dan profitabilitas yang dicapai oleh bank yang bersangkutan.52
Rasio ini terdiri dari : a) Gross Profit Margin
Rasio ini merupakan perbadingan antara pendapatan operasional dikurangi biaya operasional dengan pendapatan operasional.53 Rasio
52 Kasmir, Manajemen Perbankan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), hlm., 279.
39
ini digunakan untuk megetahui presentasi laba dari kegiatan usaha murni dari bank yang bersangkutan setelah dikurangi biaya-biaya.
Rumus untuk mencari Gross Profit Margin sebagai berikut :
%
b) Cost of Efficiency
Cost of Efficiency untuk mengukur efisiensi usaha yang digunakan oleh bank. Atau untuk mengukur besarnya biaya bank yang digunakan untuk memperoleh earning assets.54
Rumus untuk mencari rasio ini yaitu :
%
Tabel 1.3
Nilai Standar Tingkat Kesehatan Bank Menurut BI Pada Rasio Rentabilitas
Rasio Nilai Standar BI Keterangan
Gross Profiy Margin (GPM) >1,22%
0,99% - 1,21%
0,77% - 0,98%
<0,76%
Sangat Baik Baik
Kurang Baik Tidak Baik Cost of Efficiency <93,52%
93,52% - 93%
94% - 96%
96% - 100%
>100%
Sangat Baik Baik Cukup Baik Kurang Baik Tidak Baik Sumber : Kodifikasi Penilaian Tingkat Kesehatan BI.
53 Endah Tri Lestari, “ Analisis Rasio Keuangan Untuk Menilai Kinerja Keuangan Pada BMT Syari’ah Surya Dana Makmur Di Tulung Klaten”, (Skripsi, Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah, Surakarta, 2013), hlm., 4.
54 Kasmir, Manajemen Perbankan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), hlm., 288.
40 4) Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas merupakan ukuran kemampuan bank dalam mencari sumber dana untuk membiayai kegiatannya. Bisa juga dikatakan rasio ini merupakan alat ukur untuk melihat kekayaan bank untuk melihat efisiensi bagi pihak menejement bank tersebut.55 Rasio ini digunaka untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek maupun jangka panjang dari aktifitas yang dilakukan bank.
a) Rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM).
Rasio ini berfungsi untuk mengukur kemampuan bank dalam menyerap kerugian-kerugian yang tidak dapat dihindari lagi serta dapat pula digunakan untuk mengukur besar-kecilnya kekayaan bank tersebut atau k ekayaan yang dimiliki oleh para pemegang sahamnya.
Untuk menghitung rasio permodalan digunakan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM).56
Rumus untuk menghitng KPMM, yaitu :
b) Primary Ratio
Merupakan rasio untuk mengukur apakah permodalan yang dimiliki sudah memadai. Atau sejauh mana penurunan yang terjadi dalam total aset masuk dapat ditutupi oleh capital equity.57
Rumus untuk menencari primary ratio yaitu:
55 Ibid., hlm., 275.
56Reka Meilani, “Perbandingan Kinerja Dengan Balance Scorecard Perspektif Keuangan Pada Bank Syariah BUMN di Indonesia” , Asy-Syar’iyyah, Vol. 2, No.2, Desember 2017, hlm. 80
57 Kasmir, Manajemen Perbankan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), hlm.,275.
41
c) Capital Ratio
rasio ini merupakan perbandingan dari ekuitas ditambah cadangan penghapusan kredit dengan total pinjaman yang diberikan.58
Rumus untuk menghitung rasio tersebut :
d) Capital Adequacy Ratio (CAR)
Merupakan rasio yang mengukur kemampuan modal menutupi kemungkinan terjadinya kegagalan dalam perkreditan dan perdagangan surat berharga. Rasio ini diperoleh dengan cara membagi modal sendiri yang telah dikurangi dengan ativa tetap dengan total kredit yang ditambah dengan surat berharga.59
Rumus untuk mencari rasio ini yaitu :
58 Endah Tri Lestari, “ Analisis Rasio Keuangan Untuk Menilai Kinerja Keuangan Pada
BMT Syari’ah Surya Dana Makmur Di Tulung Klaten”, (Skripsi, Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah, Surakarta, 2013), hlm., 4.
59 Ibid.,
42
Tabel 1.4
Nilai Standar Tingkat Kesehatan Bank Menurut BI Pada Rasio Solvabilitas
Rasio Nilai Standar BI Keterangan
Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM)
KPMM ≥ 12%
9% ≤ KPMM < 12%
8% ≤ KPMM < 9 % 6% ≤ KPMM < 8%
KPMM≤ 6%
Sangat Signifikan Cukup Signifikan Sesuai Ketentuan Dibawah Ketentuan Yang berlaku Tidak Solvabel Primary ratio >14,5%
12,60% - 14,5%
10,35% - 12,6%
0 - 10,35%
Sangat Baik Baik
Kurang Baik Tidak Baik Capital ratio >81%
66% - 81%
51% - 66%
<51%
Sangat Baik Baik
Kurang Baik Tidak Baik Capital adequacy ratio
(CAR)
>20%
12% - 20%
8% - 12%
≤8%
Sangat Baik Baik
Kurang Baik Tidak Baik Sumber : Kodifikasi Penilaian Tingkat Kesehatan BI
Gambar 1.1 Kerangka Berfikir
Laporan Keuangan Bank BNI Syariah 2016-2018 Analisis Rasio Keuangan
Untuk Menilai Kinerja Keuangan
Interpretasi Hasil Penelitian
Tercapainya Tujuan Bank BNI Syariah
43 G. Metodologi Penleitian
1. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah suatu pendekatan dalam melakukan yang berorientasi pada gejala-gejala yang bersifat ilmiah, dengan demikian maka sifatnya adalah naturalistik dan mendasar atau bersifat kealamiahan serta tidak bisa dilakukan di lab melainkan dilapangan.60
Pendekatan penelitian ini menggunakan deskriptif yang dimaksudkan untuk menyelidiki keadaan, kondisi atau hal-hal lain yang sudah disebutkan, yang hasilnya akan di paparkan dalam bentuk laporan penelitian.61
2. Kehadiran Peneliti
Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai intrumen sekaligus sebagai pengumpul data akan tetapi peneliti tidak terjun langsung kelapangan dikarenakan data yang diperlukan hanya data laporan keuangan PT BNI Syariah tahun 2016-2018 yang telah terpublikasi dan data tersebut dapat peneliti dapatkan di website PT BNI Syariah langsung atau di data publikasi yang dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan.
3. Sumber Data
Sumber data yang digunakan oleh peneliti yaitu data sekunder, adalah data yang berupa data-data yang sudah ada dan dapat diperoleh oleh peneliti dengan cara membaca, melihat dan mendengarkan.62
60 Hadari Nawawi, Metodologi Penelitian Ilmiah, (Jakarta : Rineka Cipta, 1994), hlm.
106.
61 Heri Kiswanto, “Analisis Pengukuran Kinerja Lembaga Keuangan Syariah dengan Metode Balace Scorecard studi kasus pada BMT Maslahah Sindogiri Pasuruan capem Wonorejo”
(Skripsi, Fakultas Ekonomi, UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang, 2015), hlm. 37.
44
Sebelum memutuskan untuk mengumpulkan data primer, setiap peneliti maupun perusaaan harus menganalisis data sekunder terlebih dahulu. Jika data sekunder terlebih dahulu. Jika data sekunder sudah tidak memadai, barulah beralih ke data primer.63 Secara Umum, data sekunder memiliki beberapa keunggulan dari data primer, di antaranya :64
a. Hemat waktu dan biaya;
b. Relatif lebih murah diakses;
c. Berguna untuk indikasi masalah;
d. Bermanfaat dalam mendukung perumusan masalah riset secara lebih akurat;
e. Membantu merumuskan desain riset yang tepat.
Adapun sumber data yang diperoleh peneliti dalam penelitian ini adalah dari laporan keuangan Bank BNI Syariah tahun 2018 yang telah terpublikasi yang diambil dari website resmi Bank BNI Syariah dan dapat juga diakses melalui website Otoritas Jasa Keuangan. Selain itu peneliti juga mengambil data dari sumber lain seperti buku bacaan, jurnal dan skripsi yang berkaitan dengan judul penelitian.
4. Prosedur Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah teknik dokumentasi. Teknik dokumentasi adalah salah satu metode pengumpulan data yang dalam penelitian sosial untuk menelusuri data historis tergolong
62 Sarwono, Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2006), hlm. 209.
63Muhamad, Metodologi Penelitian Ekonomi Islam Pendekatan Kuantitatif, (Jakarta: PT Grafarindo Persada, 2008), hlm., 105.
64 Ibid.
45
dalam kategori resmi, merupakan dokumen yang dibuat /dikeluarkan oleh lembaga/perorangan atas nama lembaga. Studi dokumen menjadi pelengkap dari penggunaan metode obsevasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Bahkan kreadibilitas hasil penelitian ini akan semakin tinggi jika melibatkan dan menggunakan studi dokumen.65
Teknik dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data berupa data-data tertulis yang mengandung keterangan dan penjelasan serta pemikiran tentang fenomena yang masih aktual dan sesuai dengan masalah penelitian. Tejnik dokumentasi berproses dan berawal dari mengimpun dokumen, memilih-milih dokumen sesuai dengan tujuan penelitian, mencatat dan menerangkan, menafsirkan dan menghubung-ubungkan dengan fenomena lain.66
Dengan teknik ini, peneliti mengumpulkan data yang sesuai dengan kebutuhan terkait penelitian yang akan dilakukan, dimulai dari laporan keuangan bank, profil bank serta data lainnya.
5. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola mensitesiskannya, mencari dan menemukan pola,
65 Imam Gunawan, Metode Penelitian Kualitatif Teori dan Praktik, (Jakarta : Bumi Aksara, 2015), hlm. 177-179.
66 Muhamad, Metodologi Penelitian Ekonomi Islam Pendekatan Kuantitatif, (Jakarta: PT Grafarindo Persada, 2008), hlm., 152-153.
46
menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan pada orang lain.67
Dalam penelitian ini mengungkapkan tiga tahap yang harus dikerjakan dalam menganalisis data kualitatif,68 yaitu :
a. Tahap reduksi data (data reduction), merupakan kegiatan yang merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal penting dan mencari tema dan polaya.69 Dalam penelitian ini, peneliti memusatkan pada bagaimana menilai kinerja keuangan pada PT BNI Syariah dengan menggunakan analisis rasio keuanagan dan apakan PT BNI Syariah dapat mencapai tujuannya dengan hasil anasisi tersebut pada akhir tahun 2019.
b. Paparan data (data dispay), paparan data sebagai sekumpulan informasi tersusun. Dalam penelitian ini, peneliti memaparkan data-data yang sudah dipilah pilih sesuai dengan yang dibutuhkan seperti rasio-rasio yang akan digunakan dalam pengukuran keadaan keuangan pada PT BNI Syariah.
c. Penarikan kesimpulan dan verivikasi (conclusion drawing/verifying) merupakan hasil penelitian yang menjawab fokus penelitian berdasarkan analisi data. Dalam Penelitian ini simpulan disajikan dalam bentuk
67 Leky J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi, (Bandung : PT Remaja