BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN
D. Rasio Solvabilitas
85
Dari tabel diatas, dapat diihat bahwa pada tiga tahun terakhir, cost of efficiency yang dimiliki oleh BNI Syariah mendapatkan peringkat sangat baik. Hal tersebut dapat dilihat dari tahun 2016 dengan cost of efficiency yang dicapai yaitu sebesar 48%. Sedangkan ditahun selanjutnya yaitu pada tahun 2107 terjadi penurunan sebesar 9% sehingga menjadi 39%. Hal tersebut tidak memberikan dampak yang begitu besar sehingga penilaiannya masih pada peringkat yang sangat baik. Pada tahun selanjutnya terjadi sebesar kenaikan sebesar 1% sehingga menjadi 40%
dengan penilaian yang masih sama yaitu sangat baik.
Hal tersebut menunjukan bahwa dalam mendapatkan keuntungan dari hasil pendapatan operasional maupun non operasional dari usaha yang dilakukan oleh BNI Syariah sudah sangat baik. akan tetapi masih harus diperbaiki pada biaya operasionalnya yang masih tinggi. Karena apabila hal tersebut teratasi maka pendapatan yang didapatkan akan semakin besarpula.
86
Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa KPMM BNI Syariah pada tahun 2016 sebesar 14,92% yang dimana dalam penilaian yang sesuai dengan peraturan Bank Indonesia dinilai sangat signifikan. Pada tahun selanjutnya, tahun 2017, KPMM Bank BNI Syariah mengalami kenaikan sebesar 5,22 % menjadi sebesar 20,14% dengan penilaian yang masih sama dengan penilaian pada tahun sebelumnya yaitu sangat signifikan.
Akan tetapi pada tahun 2018, mengalami penurunan sebesar 0,83%
menjadi 19,31%. Hal tersebut tidak memberi pengaruh besar pada penilaian rasio KPMM yang masih dalam peringkat sangat signifikan.
Oleh karena itu, rasio permodalan yang dimiliki oleh BNI Syariah dinilai sangat signifikan. Artinya Bank BNI Syariah telah memenuhi ketentuan kecukupan modal untuk kegiatannya.
Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat dikaji bahwa BNI Syariah memiliki rasio permodalan yang tinggi. Hal tersebut diakibatkan dengan adanya perluasan usaha dan pembiayaan yang dapat membuat modal bank semakin tinggi dikarenakan semakin meningkatnya dana yang adan diterima BNI Syariah.76
76 Reka Meilani, “Perbandingan Kinerja Dengan Balance Scorecard Perspektif Keuangan Pada Bank Syariah BUMN di Indonesia” Asy-Syar’iyyah, Vol. 2, No.2, Desember 2017, hlm. 89- 90.
87 2. Primary Ratio
Tabel 3.12
Hasil Analisis Laporan Keuangan Primary Ratio
Tahun Primary Ratio Kriteria Peringkat
2016 20% >14,5% Sangat Baik
2017 24% >14,5% Sangat Baik
2018 32% >14,5% Sangat Baik
Sumber : Laporan Keuangan BNI Syariah diolah
Dari tabel diatas dapat kita lihat bahwa, dari primary ratio yang dihasilkan oleh BNI Syariah, dalam tiga tahun terakhir mendapatkan peringkat yang sangat baik. Hal tersebut terlihat dari tahun 2016 yang pada rasio ini, BNI Syariah mendapatkan hasil yang sangat bagus dengan jumlah 20% dan pada tahun selanjutnya yaitu 2017, mengalami kenaikan sebesar 4% menjadi 24%. Dan terjadi kenaikan pula ditahun 2018, yaitu sebesar 8%
sehingga menjadi 32%.
Hal tersebut membuktikan bahwa, dalam mengatasi permasalahan aset yang berkurang dikarenakan income yang kurang pula, masih dapat ditanggulangi oleh BNI Syariah itu sendiri. Karena memiliki aset yang begitu besar baik dari modal dasar yaitu modal dari pemilik perusahaan maupun dari investor.
88 3. Capital Ratio
Tabel 3.13
Hasil Analisis Laporan Keuangan Capital Ratio
Tahun Capital Ratio Kriteria Peringkat
2016 25% < 51% Tidak Baik
2017 38% < 51% Tidak Baik
2018 42% < 51% Tidak Baik
Sumber : Laporan Keuangan BNI Syariah diolah
Dari tabel diatas, dapat kita ketahui bahwa dalam tiga tahun berturut- turut capital ratio yang dimiliki oleh BNI Syariah mendapatkan penilaian yang tidak baik. Hal tersebut disebabkan oleh modal yang di miliki tidak mencukupi atau tidak sesuai dengan kriteria yang diberikan. Terlihat dari tahun 2016 capital ratio yang dimiliki oleh BNI Syariah sebear 25%.
Selanjutnya pada tahun berikutnya yaitu tahun 2017, rasio tersebut mengalami kenaikan sebesar 13% menjadi 38%. Kenaikan yang cukup tinggi tersebut, tidak memberikan perubahan yang baik terhadap penilaian yang didapatkan. Dan pada tahun 2018 terjadi kenaikan kembali sebesar 4%
dengan penilaian yang sama yaitu tidak baik.
Hal tersebut mencerminkan bahwa modal yang dimiliki oleh bank kurang baik sehingga tidak dapat menutupi kredit atau pinjaman yang diberikan. Karena nantinya pada saat kredit itu bermasalah dan bank tidak dapat menutupinya, maka akan terjadi kerugian pada bank. Hal tersebut kemungkinan bisa diatasi dengan penjualan jaminan yang dijaminkan oleh nasabah untuk mendapatkan pinjaman atau pembiayaan tersebut.
89 4. Capital Adequacy Ratio (CAR)
Tabel 3.14
Hasil Analisis Laporan Keuangan Capital Ratio
Tahun CAR Kriteria Peringkat
2016 94,74% > 20% Sangat Baik
2017 129,65% > 20% Sangat Baik
2018 125,24% > 20% Sangat Baik
Sumber : Laporan Keuangan BNI Syariah diolah
Dari tabel diatas, dapat dilihat bahwa dalam tiga tahun terakhri CAR yang dimiliki oleh BNI Syariah mendapatkan penilaian sangat baik. terlihat dari tahun 2016, CAR yang dimiliki sebesar 94,74% kemudian pada tahun selanjutnya yaitu tahun 2017, CAR mengalami kenaikan sebesar 34,91%
menjadi 129,65%. Akan tetapi pada tahun selanjutnya, CAR BNI Syariah mengalami penurunan sebesar 4,41% sehingga menjadi 125,24%. Hal tersebut tidak memberikan dampak yang besar terhadap penilaian yang di dapatkan. Karena masih dalam kriteria yang telah ditentukan dan masih dengan predikat yang sangat baik.
Dari uraian diatas menunjukan bahwa modal yang dimiliki bank masih baik atau dapat menjamin pinjaman atau pembiayaan yang diberikan.
karena pada saat nantinya pinjaman atau pembiayaan yang diberikan tidak kembali maka ada yang akan menutupi kerugian tersebut. Oleh karena itu, rasio ini tidak boleh rendah karena semakin rendah nilai CAR maka solvabilitas semakin tidak baik. CAR yang semakin rendah mencerminkan bahwa permodalannya semakin kurang baik karena modal tidak dapat digunakan untuk menjamin pemberian pembiayaan. Nilai CAR dikatakan
90
rendah apabila kurang dari nilai CAR yang ditentukan oleh Bank Indonesia yakni sebesar 8%. CAR yang rendah mencerminkan bahwa permodalan dalam bank kurang baik sehingga bank kurang mampu menutup kemungkinan terjadinya kegagalan dalam pembiayaan.
91 BAB IV