BAB II LANDASAN TEORI
2.5 Kinerja Keuangan
26
a. Tingkat, trend, dan komposisi modal bank;
b. Rasio KPMM dengan memperhitungkan risiko kredit, risiko pasar, dan risiko operasional; dan
c. Kecukupan modal bank dikaitkan dengan profil risiko.
2. Pengelolaan Permodalan Bank
Analisis terhadap pengelolaan permodalan bank meliputi manajemen permodalan dan kemampuan akses permodalan (Arbi, 2013: 267).
27
lanjutsebelum dimanfaatkan sebagai alat bantu pembantuan keputusan oleh pihak- pihak yang berkepentingan dengan informasi tersebut.
Analisis Laporan Kuangan dapat digunakan oleh investor untuk memprediksi masa depan dan menilai kinerja perusahaan sebagai perusahaan yang diberi tanggung jawab untuk menjalankan dana yang sudah ditanamkan oleh investor. Sedangkan bagi manajemen, analisis laporan keuangan digunakan untuk membantu mengantisipasi kondisi dimasa depan, dan yang lebih penting sebagai titik awal untuk merencanakan tindakan yang akan mempengaruhi peristiwa dimasa depan.
Tujuan pokok penilaian kinerja adalah untuk memotivasi karyawan dalam mencapai sasaran organisasi dan dalam mematuhi standar perilaku yang telah ditetapkan sebelumnya, agar membuahkan tindakan dan hasil yang diinginkan.
Standar perilaku dapat berupa kebijakan manajemen atau rencana formal yang dituangkan dalam anggaran. (Mulyadi, 2001:416).
2.5.1 Pengertian Pengukuran Kinerja Keuangan
Pengukuran kinerja penentuan secara perodik efektifitas operasional suatu organisasi, bagian organisasi dan karyawannya berdasarkan sasaran, standard, dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Karena organisasi pada dasarnya dijalankan oleh manusia, maka pengukuran kinerja sesungguhnya merupakan penilaian perilakui manusia dalam melaksanakan peran yang dimainkan dalam mencapai tujuan oerganisasi (Mulyadi, 2001:419).
28 2.5.2 Tujuan Pengukuran Kinerja Keuangan
Pengukuran kinerja dapat digunakan untuk menekan perilaku yang tidak sesmestinya dan untuk merangsang serta menegakkan perilaku yang semestinya diinginkan, melalui umpan balik hasil kinerja pada waktunya serta pemberian penghargaan, baik yang bersifat instrinsik maupun ekstrinsik. Melalui pengukuran kinerja, manajemen puncak dapat memperoleh dasar yang obyektif untuk memberikan kompensasi sesuai dengan prestasi yang disumbangkan masing-masing pusat pertanggungjawaban kepada perusahaan secara keseluruhan. Semua ini diharapkan dapat memberikan motivasi dan rangsangan pada masing-masing bagian untuk bekerja lebih efektif dan efisien. Sedangkan tujuan pokok kinerja adalah untuk memotivasi karyawan dalam mencapai sasaran organisasi dan dalam mematuhi standar perilaku yang telah ditetapkan sebelumnya, agar membuahkan hasil dan tindakan yang diinginkan (Mulyadi, 2001:420).
2.5.3 Manfaat Pengukuran Kinerja
Pengukuran kinerja dimanfaatkan oleh pihak manajemen untuk:
1. Mengelola Operasi organisasi secara efektif dan efisien melalui pemotivasian personel secara maksimum.
2. Membantu pengambilan keputusan yang berkaitan dengan karyawan seperti promosi, transfer dan pemberhentian.
29
3. Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan dan pengembangan karyawan dan untuk menyediakan kriteria seleksi dan evaluasi program pelatihan karyawan.
4. Menyediakan umpan balik bagi karyawan mengenai bagaimana atasan mereka menilai.
5. Menyediakan suatu dasar bagi bagi distribusi penghargaan (Mulyadi, 2011:416)
2.6 Laporan Kuangan
2.6.1 Pengertian Laporan Keuangan
Bentuk informasi yang disajikan oleh bagian akuntansi adalah laporan keuangan. Laporan keuangan disusun sebagai bentuk pertanggungjawaban manajemen terhadap pihak-pihak yang berkepentingan dengan kinerja bank yang dicapai selama periode tertentu. Oleh karena itu laporan kuangan harus memenuhi syarat mutu, dan karakteristik kualitatif seperti yang disampaikan dalam pembahasan kerangka konseptual akuntansi perbankan. Dengan demikian pihak-pihak pengguna laporan keuangan dapat menggunakannya tanpa dihinggapi keraguan, sementara bagi manajemen bank bahwa laporan keuangan yang telah disusun dapat digunakan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan akuntansi.
Bank komersial baik bank umum maupun Bank Perkeditan Rakyat diwajibkan memberikan laporan keuangan setiap periode tertentu. Jenis laporan kuangan yang dimaksud adalah:
30 1. Laporan Kuangan Bulanan
a. Laporan Bulanan Bank Umum yang disampaikan oleh Bank Kepada Bank Indonesia untuk posisi bulan Januari sampai dengan Desember akan diumumkan pada home page Bank Indonesia.
b. Format yang digunakan untuk Laporan Keuangan Publikasi Bulanan tersebut sesuai format pada laporan keuangan bulanan.
c. Lapran Keuangan Bulanan merupakan laporan keuangan bank secara individu yang merupakan gabungan antara kantor pusat bank dengan seluruh kanror bank.
2. Laporan Keuangan Triwulanan
Laporan Keuangan Triwulan disusun antara lain untuk memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja atau hasil usaha bank serta informasi keuangan lainnya kepada berbagai pihak yang berkepentingan dengan perkembangan usaha bank. Agar laporan keuangan bank dapat diperbandingkan, perlu ditetapkan bentuk dan cakupan penyajian yang didasarkan pada Penyertaan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang relevan untuk industri perbankan, Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (PAPI), serta ketentuan dan pedoman yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.
3. Laporan Keuangan Tahunan
Laporan Tahunan Bank dimaksudkan untuk memberikan informasi berkala mengenai kondisis bank secara menyeluruh, termasuk perkembangan usaha dan kinerja bank. Seluruh informasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan
31
transparasi kondisi keuangan bank kepada publik dan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap lembaga perbankan.
Selain disampaikan kepada pemegang saham dan Bank Indonesia, Laporan Tahunan Bank wajib pula disampaikan kepada lembaga lain yang berkepentingan terhadap perkembangan usaha bank, seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), lembaga pemeringkat di Indonesia, asosiasi perbankan di Indonesia, Institut Bankir Indonesia (IBI). 2 (dua) lembaga penelitian di bidang ekonomi dan keuangan, dan 2 (dua) majalah ekonomi dan keuangan.
Selain kewajiban penyampaian Laporan Tahunan kepada pihak-pihak tersebut diatas, bagi bank yang telah memiliki hamo page wajib menginformasikan Laporan Tahunan tersebut dalam home page bank.
Laporan Tahunan Bank disusundalam Baha Indonesia. Dalam hal Laporan tahunan juga dibuat selain dalam Bahasa Indonesia, baik dalam dokumen yang sama maupun terpisah, maka Laporan Taahunan dimaksud harus memuat informasi yang sama. Angka-angka dalam Laporan Kuangan Tahunan wajib disajikan dalam mata uang Rupiah. (Taswan S.E., M.Si., 2005:39)
32 2.6.2 Tujuan Laporan Keuangan
Laporan keuangan bertujuan untuk memberikan:
1. Informasi keuangan yang dapat dipercaya mengenai posisi keuangan perusahaan (termasuk bank) pada suatu saat tertentu.
2. Informasi keuangan yang dapat dipercaya mengenai hasil usaha perusahaan selama periode akuntansi tertentu.
3. Informasi keuangan yang dapat membanttu pihak-pihak yang berkepentingan untuk menilai atau menginterpprestasikan kondisi dan potensi suatu perusahaan.
4. Informasi penting lainnya yang relevan dengan kebutuhan pihak-pihak yang berkepentingan dengan laporan keuangan yang bersangkutan.
Laporan keuangan akan lebih bermanfaat apabila memenuhi syarat-syarat seperti di bawah ini:
1. Relevan
Data yang diolah dan dissajikan dalam laporan keuangan hanyalah data yang ada kaitannya dengan transakasi yang bersangkutan. Data yang tidak perlu diungkapkan dan tidak ada kaitannya dengan kegiatan perusahaan tidak perlu disajikan.
2. Jelas dan dapat dimengerti
Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan harus ditampilkan dengan cara sedemikian rupa hingga jelas dapat dipahami dan dimengerti oleh semua
33
pembaca laporan keuangan dapat mengambil keputusan yang relevan dari informasi yang dibaca.
3. Dapat diuji kebenarannya
Data dan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan harus dapat ditelusuri kepada bukti asalnya, baik dalam bentuk dokumen dasar, formulir berharga, maupun fisik aktiva yang bersangkutan. Semua data dan informasi yang disajikan harus dapat dipertanggungjawabkan oleh manajemen perusahaan.
4. Netral
Laporan keuangan haruslah disajikan untuk dapat dipergunakan oleh semua pihak. Laporan keuangan tidak ditujukan untuk memenuhi pihak-pihak tertentu. Sehingga harus dibuat lebih dari satu macam laporan keuangan sesuai dengan kebutuhan informasi para pemakai. Laporan keuangan yang disajikan harus dibuat tidak bias atau harus netral sehingga semua pihak yang berkepentingan dapat mempergunakannya.
5. Tepat waktu
Laporan keuangan harus memiliki periode pelaporan, sehingga jelas batas pelaporan dari posisi hara, hutang, modal, pendapatan, dan biaya dari perusahaan yang akan dilaporkan. Waktu penyajiannya harus dinyatakan dengan jelas dan disajikan dalam batas waktu yang wajar, dalam arti tidak terlalu terlambat sehingga dapat dipergunakan oleh manajemen dalam mengambil keputusan yang sifatnya manajerial maupun teknikal.
34 6. Dapat diperbandingkan
Laporan keuangan yang disajikan harus dapat diperbandingkan dengan periode-periode sebelumnya sebagai dara untuk mengikuti perkembangan arah (trend) dari harta, hutang, modal, pendapaan, serta biaya. Dasar dari laporan yang dapat diperbandingkan adalah penerapan prinsip akuntansi secara konsisten.
7. Lengkap
Data yang disajikan dalam informasi akuntansi, baik dalam neraca, ikhtisar laba-rugi, maupun ikhtisar posisi keuangan, haruslah lengkap sehingga tidak memberikan informasi yang menyesatkan bagi para pemakai laporan keuangan. Keutuhan data akuntansi merupakan syarat mutlak bagi tercapainya azas relevan. (N. Lapoliwa dan Daniel S. Kuswandi,2000:13)
2.6.3 Analisis Laporan Kuangan Perbankan
Analisis laporan keuangan perbankan bertujuan antara lain untuk mengetahui tingkat pencapaian kinerja perusahaan bank, untuk mengetahui perkembangan perbankan dari satu periode ke periode berikutnya, sebagai bahan pertimbangan bagi manajemen dalam melaksanakan kegiatan operasional dan penyusunan rencana kerja anggaran bank, untuk memonitor pelaksanaan dari suatu kebijakan perusahaan dimasa yang akan datang, dan sebagainya.
Pelaksanaan analisis laporan keuangan perbankan dapat dilakukan dengan berbagai metode. Hal tersebut tergaantung pada kebutuhan internal masing-masing
35
bank. Metode analisa laporan keuangan yang lazim dipergunakan dalam praktik perbankan antara lain:
a. Analisis varian (variance analysis): adalah metode analisis yang dipergunakan untuk mengetahui pencapaian kinerja dibandingkan dengan rencana kerja yang telah ditetapkan, serta mengidentifikasikan terjadinya deviasi.
b. Analisis komparatif (comparative analysis): adalah metode analisis yang dilakukan dengan cara membandingkan keragaman usaha bank pada suatu periode dengan periode lainnya, baik secara absolut maupun relatif atas total/bagian tertentu.
c. Analisis lingkungan (environment analysis): adalah metode analisis yang dilakukan dengan cara membandingkan hasil usaha yang telah dicapai suatu unit kerja terhadap industri usaha yang sama di wilayah kerjanya.
d. Analisis rasio (ratio analysis): adalah metode analisis yang dilakukan dengan cara membandingkan pos-pos tertentu dalam neraca maupun laba rugi.
Dalam menerapkan meode analisis laporan keuangan perbankan tersebut, terlebih dahulu harus dipahami proses bisnis/kegiatan usaha bank. Pada dasarnya, kegiatan utama bank adalah sebagai lembaga perantara keuangan (financial intermediary), yaitu melakukan kegiatan penghimpunan dana masyarakat, yang kemudian disalurkan kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan memberikan jasa-jasa perbankan. Didalam kegiatan operasional perbankan tersebut sudah tentu bank akan mengeluarkan biaya-biaya untuk kegiatan operasional bank, dan membayar biaya bunga dana masyarakat. Sebaliknya, bank akan menerima
36
pendapatan sebagai hasil dari penempatan dana. Jenis-jenis biaya yang dikeluarkan dalam rangka operasional bank, anatara lain:
a. Biaya bunga
Biaya yang dikeluarkan secara langsung dalam rangka penghimpunan dana masyarakat, termasuk di dalamnya biaya promosi, biaya kekurangan dana (loanable fund), dan sebagainya.
b. Biaya overhead (overhead cost – OHC)
Biaya yang secara tidak langsung dikeluarkan dalam rangka operasional keseluruhan kegiatan bank, baik dalam rangka pengerahan dana, penyaluran kredit, serta pelayanan jasa-jasa perbankan. Pengeluaran biaya OHC relatif tetap.besar kecilnya biaya overhead ditentukan oleh tingkat efisiensi bank dalam mengelola kegiatan operasionalnya.
c. Biaya nonbunga di luar overhead
Biaya cadangan aktiva produktif, yang merupakan cadangan yang harus dibentuk untuk menutupi risiko kerugian dari aktiva produktif.
Sedangkan pendapatan yang diperoleh bank dari kegiatan operasional yaitu:
1. Pendapatn bunga, yang diperoleh dari penempatan dana pada aktiva produktif, yang terdiri atas: pendapatan bunga pinjaman, penempatan dana di pasar uang antarbank, jual beli surat berharga, provisi, komisi, dan sebagainya. Pada umumnya sebagian besar pendapatan bank diperoleh dari pinjaman.
37
2. Pendapatan nonbunga: berasal dari fee pemberian jasa perbankan, misalnya pendapatan dari transfer, pendapatan dari transaksi melalui ATM, pendapat dari penyaluran dana, bantuan pemerintah, dan sebagainya.
Dari penjelasan tersebut di atas, bank akan memperoleh keuntungan apabila pendapat bank, baik yang bersal dari bunga dan noonbunga lebih besar dari total pengeluaran biaya. Sebaliknya bila pendapatan lebih kecil dari biaya, maka bank akan mengalami kerugian.(Indra Bastian dan Suhadjono, 2006:283)
2.7 Return On Assets (ROA)
ROA merupakan kemampuan dari modal yang diinvestasikan ke dalam seluruh aktiva perusahaan untuk menghasilkan keuntungan. ROA menggunakan laba sebagai salah satu cara untuk menilai efektivitas dalam penggunaan aktiva perusahaan dalam menghasilkan laba. Semakin tinggi laba yang dihasilkan, maka semakin tinggi pula ROA, hal itu berarti bahwa perusahaan semakin efektif dalam penggunaan aktiva untuk menghasilkan keuntungan.
ROA dihitung berdasarkan perbandingan laba sebelum pajak rata – rata total aset. Dalam penelitian ini ROA digunakan sebagai indikator performance atau kinerja bank. ROA menunjukkan efektivitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan mengoptimalkan aset yang dimiliki. Semakin tinggi ROA maka menunjukkan semakin efektif perusahaan tersebut, karena besarnya ROA dipengaruhi oleh besarnya laba yang dihasilkan perusahaan.
38
Informasi mengenai kinerja sangat bermanfaat bagi pengguna laporan keuangan. Bagi kelompok investor, kreditor maupun masyarakat umum menginginkan investasi mereka yang ditanamkan ke bank perlu untuk mengetahui kinerja bank tersebut. Pengembalian atas investasi modalberguna bagi evaluasi manajemen, analisis profitabilitas, peramalan laba, serta perencanaan dan pengendalian. Menggunakan angka pengendalian atas investasi modal untuk tujuan tersebut membutuhkan pemahaman mendalam mengenai ukuran pengembalian ini.
Karna ukuran pengembalian mencangkup komponen yang berpotensi membarikan konstribusi pada pemahaman kinerja perusahaan.
Bank dengan total aset relatif besar akan mempunyai kinerja yang lebih baik karena mempunyai total revenue yang relatif besar sebagai akibat penjualan produk yang mengikat. Dengan mengikatnya total revenue tersebut maka akan mengikatkan laba perusahaan sehingga kinerja keuangan akan lebih baik (Pottie Prasnanugraha, 2007)
2.8 Non Performing Loan (NPL)
Kredit macet yang sudah dihapuskan bukukan tidak lagi masuk dalam kategori NPL, karena bukan loan lagi. Penanganannya hanya dalam rangka bagaimana mengupayakan agar kredit macet tersebut dapat kembali terutama dengan eksekusi jaminan yang ada. Kredit yang sudah ada tanda kearah NPL yang memerlukan perhatian agar tidak menjadi lebih buruk atau mendatangkan kerugian yang lebih besar adalah kredit yang masih dalam klasifikasi DPK (Dalam Perhatian
39
Khusus). Untuk mencari jalan memperbaiki posisi debitur dan dilakukan treatment yang sesuai dengan kondisi masing – masing debitur.
Terhadap kredit yang mengarah menjadi NPL bahkan kredit NPL sendiri dapat ditetapkan beberapa teknik penyehatan agar debitur dapat bangkit kembali (Pottie Prasnanugraha, 2007):
1. Reschedulling
Bank dapat melakukan penjadwalan ulang dalam bentuk, perpanjangan masa pelunasan, memberikan grase period yang lebih panjang, memperkecil jumlah angsuran kredit. Dengan penjadwalan ini nasabah lebih mempunyai waktu untuk bernafas dan jangka waktu cukup untuk akumulasikan keuntungan dan memperbaiki posisinya sehingga dapat memenuhi jabwal baru yang ditetapkan. Penjadwalan ulang ini dilakukan dengan persyaratan tertentu antara lain, usaha nasabah masih berjalan, pendapatan sebelum pembebanan bunga masih positif. Ketidak mampuan nasahab melaksanakan pelunasan semata – mata karena situasi yang diluar control (kewenangan) debitur yang bersangkutan. Nasabah masih beritikad baik dan koperatif.
2. Reconditioning
Reconditioning dimasudkan untuk memperbaiki kondisi nasabah, yang semula terbebani dengan persyaratan kredit yang berat, dikurangi sehingga lebih pas bagi kebutuhan nasabah. Mengurangi tingkat bunga, mengurangi kredit dari pihak lain yang bungany tinggi dan menggantinya dengan kredit dari bank dengan bunga lebih rendah, menambah modal kerja kalau menurut
40
perhitungan bank memang ternyata kurang. Memberikan konsultasi manajemen atau adpis agar perusahaan dapat berjalan lebih baik dan mampu meningkatkan penjualan, laba dan mampu menyelesaikan kreditnya dalam jangka waktu yang ditetapkan.
3. Restructuring
Apabila kedua cara di atas diperkirakan tidak akan adapat menyehatkan kembali perusahaan dan tidak akan dapat mengembalikan kredit bank, maka dapat ditempuh cara terakhir dengan merestrukturisasi perusahaan secara lebih mendasar. Dalam hal ini dapat dilakukan perubahan komposisi permodalan.
Dengan memperbaiki Debt to Equity Ratio, dengan menambah modal (partisipasi bank maupun dari luar), menambah kredit, memperpanjang jangka waktu, memperkecil tingkat bunga, mengganti manajemen (menempatkan staf bank pada perusahaan untuk posisi tertentu) meningkatkan efisiensi dan sebagainya. Langkah partisipasi modal dimaksudkan agar debitur tidak perlu membayar bunga terhadap sebagian hutang yang dialihkan menjadi penyertaan modal bank. Setelah perusahaan sehat dan kemampuan keuangannya lebih baik, bank dapat menjual kembali saham yang dikuasainya kepada pemegang saham lama dengan premium tertentu. Dengan demikian, apabila berhasil bank terhindar dari kemacetan kredit.
41 2.9 Loan to Deposit Ratio (LDR)
LDR merupakan rasio yang mengukur kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban keuangan yang harus dipenuhi. Kewajiban tersebut berupa call money yang harus dipenuhi pada saat adanya kewajiban kliring, dimana pemenuhannya dilakukan dari aktiva lancar yang dimiliki perusahaan. LDR dihitung dari perbandingan antara total kredit dengan dana pihak ketiga. Total kredit yang dimaksud adalah kredit yang diberikan kepada pihak ketiga (tidak termasuk kredit kepada bank lain). Dana pihak ketiga yang dimaksud yaitu antara lain giro, tabungan dan deposito (tidak termasuk antar bank). Standar terbaik LDR adalah diatas 85%.
Untuk dapat memperoleh LDR yang optimum, bank tetap harus menjaga NPL.
LDR berpengaruh terhadap Earning After Tax (EAT), apabila LDR besar maka EAT besar. LDR bergantung pada manajemen bank. Besar LDR bank tidak sama. Hubungan LDR dengan EAT bersifat bebas, tidak autokorelasi. Semakin besar LDR semakin besar potensi mencapai EAT, sejauh NPL bisa di tekan (Pottie Prasnanugraha, 2007).
42 2.10 Net Interest Margin (NIM)
NIM merupakan perbandingan antara pendapatan bunga bersih terhadap rata- rata aktiva produktif. Pendapatan bunga bersih diperoleh dari pendapatan bunga dikurangi beban bunga. Aktiva produktif yang diperhitungkan adalah aktiva produktif yang menghasilkan bunga (interest bearning asset). Menurut Peraturan Bank Indonesia nomor 7/2/PBI/2005 tentang Penilaian Kualitas Altiva Bank Umum yang dimaksud dengan aktiva produktif adalah penyediaan dana bank untuk memperoleh penghasilan, dalam bentuk kredit, surat berharga, penempatan dana antar bank, tagihan ekspetasi, derivatif, penyertaan, transaksi rekening administratif serta bentuk penyediaan dana lainnya yang dapat dipersamakan dengan itu. Oleh karenanya bank wajib menjaga selalu kualitas aktiva produktifnya dan melaporkan perkembangannya ke Bank Indonesia secara berkala.
Selain menjaga kualitas aktiva produktifnya, untuk menjaga posisi NIM perlu memperhatikan perubahan suku bunga. Dalam mencapai keuntungan yang maksimal selalu ada risiko yang sepadan, semakin tinggi keuntungannya semakin besar risiko yang dihadapi. Yang dalam perbankan sangat dipengaruhi oleh besarnya suku bunga (interest rate). Peningkatan keuntungan dalam kaitannya dengan perubahan suku bunga sering disebut NIM (Net Interest Margin), yaitu selisih pendapatan bunga dengan biaya bunga (Pottie Prasnanugraha, 2007).
43 2.11 Capital Adequacy Ratio (CAR)
Rasio ini menunjukkan kecukupan modal yang ditetapkan lembaga pengaturan yang khusus berlaku bagi industri-industri yang berada di bawah pengawasan pemerintah misalnya Bank dan Asuransi. Rasio ini dimaksudkan untuk menilai keamanan dan kesehatan perusahaan dari sisi modal pemiliknya, di Indonesia standar CAR adalah 9-12%.
Rasio modal dengan aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR) ini berlaku di Bank. Penentuan ATMR ini ditentukan Bank Indonesia. Rasio ini menunjukkan sejauhmana modal pemilik saham dapat menutupi aktiva berisiko (Sofyan Syafri, 2006:307).
44
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan dimulai sejak dari bulan Oktober 2016 sampai dengan Januari 2017.
Penelitian dilakukan dengan menggunakan data laporan keuangan bank tahunan yang sudah dipublikasikan di Bank Indonesia melalui website www.bi.go.id
3.2 Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan yaitu penelitian kausal yang merupakan penelitian untuk mengetahui pengaruh antara satu atau lebih variabel bebas (independent variable) terhadap variabel terikat (dependent variable) dimana dalam hal ini peneliti ingin mengetahui rasio kesehatan bank sebagai variabel bebas dalam kinerja keuangan bank sebagai varibel terikat.
45 3.3 Hipotesis
Berdasarkan tinjauan pustaka dan penelitian terdahulu, maka penulis mencoba untuk merumuskan hipotesis yang akan diuji kebenarannya sebagai berikut :
Ho1 : Tidak ada pengaruh antara NPL terhadap Kinerja Keuangan Bank Ha1 : Ada pengaruh antara NPL terhadap Kinerja Keuangan Bank Ho2 : Tidak ada pengaruh antara LDR terhadap Kinerja Keuangan Bank Ha2 : Ada pengaruh antara LDR terhadap Kinerja Keuangan Bank Ho3 : Tidak ada pengaruh antara NIM terhadap Kinerja Keuangan Bank Ha3 : Ada pengaruh antara NIM terhadap Kinerja Keuangan Bank Ho4 : Tidak ada pengaruh antara CAR terhadap Kinerja Keuangan Bank Ha4 : Ada pengaruh antara CAR terhadap Kinerja Keuangan Bank
46 Non Performing Loan (NPL)
(X1)
Loan To Deposit Ratio (LDR) (X2)
Net Interest Margin (NIM) (X3)
Capital Adequacy Ratio (CAR) (X4)
Kinerja Keuangan Bank (ROA)
(Y) 3.4 Kerangka Pemikiran
Adapun kerangka pemikiran dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Variabel Bebas Variabel Terikat
Gambar 3.1 Kerangka Pemikiran
47
3.5 Operasional Variabel dan Skala Pengukuran Variabel-variabel yang akan diuji dalam ini yaitu :
1) Variabel Bebas (Independent Variable)
Variabel bebas (X) dalam penelitian ini adalah Current Ratio, Debt to Equity Ratio, Total Asset Turnover, Return On Asset, Return On Equity dan Net Profit Margin.
a. Profil Risiko (Risk Profile)
Profil Risiko merupakan penilaian terhadap risiko inheren (risiko yang melekat pada kegiatan bisnis bank) dan kualitas penerapan manajemen risiko (mencerminkan penilaian kecukupan sistem pengendalian Risiko) dalam operasional Bank yang dilakukan terhadap 8 (delapan) risiko yaitu: risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko hukum, risiko stratejik, risiko kepatuhan, dan risiko reputasi. Unutk perbankan syariah ditambah dengan risiko imbal hasil dan risiko investasi.
Dalam penelitian ini mengukur faktor risk profile dengan menggunakan 2 indikator yaitu faktor risiko kredit dengan menggunakan rumus NPL dan risiko likuiditas dengan rumus LDR.
1. Risiko Kredit
Dengan menghitung rasio Non Performing Loan:
NPL =