BAB II LANDASAN TEORI
2.4 Kesehatan Bank
2.4.3 Metode RGEC
Bank Indonesia mengeluarkan peraturan terbaru pada tanggal 25 Oktober 2011 yakni Peratuan Bank Indonesia Nomor 13/1/PBI/2011 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, bank wajib melakukan penilaian tingkat kesehatan bank dengan menggunakan pendekatan berdasarkan risiko (Risk-based Bank Rating) yang meliputi empat faktor pengukuran, yaitu profil risiko (risk profile), good corporate governance (GCG), rentabilitas (earnings), dan permodalan (capital) yang sering disebut dengan metode RGEC. Penilaian tingkat kesehatan bank dilakukan terhadap bank secara individual maupun konsolidasi. Penilaian tingkat kesehatan bank secara individual mencakup penilaian terhadap faktor-faktor berikut: Profil Risiko, GCG, Rentabilitas, dan Permodalan.
a. Penilaian Profil Risiko (Risk Profile)
Penilaian faktor profil risiko merupakan penilaian terhadap risiko inheren dan kualitas penerapan manajemen risiko dalam aktivitas operasional bank. Profil risiko dinilai dari beberapa jenis risiko yaitu risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko hukum, risiko stratejik, risiko kepatuhan, dan risiko reputasi, risiko imbal hasil, dan risiko investasi.
1. Risiko Kredit
Risiko kredit adalah risiko akibat kegagalan debitur dan/atau pihak lain dalam memenuhi kewajiban kepada bank. Risiko kredit pada umumnya terdapat pada seluruh aktivitas bank yang kinerjanya bergantung pada kinerja pihak lawan (counterparty), penerbit (issuer), atau kinerja peminjam dana
18
(borrower). Dalam menilai risiko inheren atas risiko kredit, indikator yang digunakan adalah :
a. Komposisi portofolio aset dan tingkat konsentrasi;
b. Kualitas penyediaan dana dan kecukupan pencadangan;
c. Strategi penyediaan dana dan sumber timbulnya penyediaan dana; dan d. Faktor eksternal (Arbi, 2013: 258).
2. Risiko Pasar
Risiko pasar adalah risiko pada posisi neraca dan rekening administratif termasuk transaksi derivatif, akibat perubahan dari kondisi pasar, termasuk risiko perubahan harga option. Risiko pasar meliputi antara lain risiko suku bunga, risiko nilai tukar, risiko ekuitas, dan risiko komoditas. Risiko suku bunga dapat berasal baik dari posisi trading book maupun posisi banking book. Penerapan manajemen risiko untuk risiko ekuitas dan komoditas wajib diterapkan oleh bank yang melakukan konsolidasi dengan perusahaan anak.
Cakupan posisi trading book dan banking book mengacu pada ketentuan.
Dalam menilai risiko inheren atas risiko pasar maka indikator yang digunakan adalah :
a. Volume dan komposisi portofolio,
b. Kerugian potensial (potential loss) risiko suku bunga dalam banking book (Interest Rate Risk in Banking Book-IRRBB) dan
c. Strategi dan kebijakan bisnis (Arbi, 2013: 259).
19 3. Risiko Likuiditas
Risiko likuiditas merupakan risiko akibat ketidakmampuan bank untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas, dan atau dari aset likuid berkualitas tinggi yang dapat diagunkan, tanpa menggangu aktivitas dan kondisi keuangan bank. Risiko ini disebut juga
“risiko likuiditas pendanaan” (funding likuidity risk).
Selain itu, risiko likuiditas juga bisa disebabkan oleh ketidakmampuan bank melikuidasi aset tanpa terkena diskon yang material karena tidak adanya pasar aktif atau adanya gangguan pasar (market disruption) yang parah. Kondisi ini disebut sebagai “risiko likuiditas pasar” (market likudity risk). Indikator yang digunakan dalam menilai risiko inheren atas risiko likuiditas adalah :
a. Komposisi dari aset, kewajiban, dan transaksi rekening administratif;
b. Konsentrasi dari aset dan kewajiban;
c. Kerentanan pada kebutuhan pendanaan; dan
d. Akses pada sumber-sumber pendanaan (Arbi, 2013: 259).
4. Risiko Operasional
Risiko operasional adalah risiko yang timbul akibat tuntutan hukum dan/atau kelemahan aspek yuridis. Risiko ini juga dapat timbul karena ketiadaan peraturan perundang-undangan yang mendasari atau kelemahan perikatan, seperti tidak terpenuhinya syarat sahnya kontrak atau agunan yang tidak memadai. Indikator yang digunakan dalam menilai risiko inheren atas risiko hukum adalah :
20 a. Karakteristik dan komplesitas bisnis;
b. Sumber daya manusia;
c. Teknologi informasi dan infrastruktur pendukung;
d. Fraud, baik internal maupun eksternal, dan e. Kejadian eksternal (Arbi, 2013: 259).
5. Risiko Hukum
Risiko hukum adalah risiko yang timbul akibat tuntutan hukum dan/atau kelemahan aspek yuridis. Risiko ini juga dapat timbul antara lain karena ketiadaan peraturan perundang-undangan yang mendasari atau kelemahan perikatan, seperti tidak dipenuhinya syarat sahnya kontrak atau agunan yang tidak memadai. Indikator yang digunakan dalam menilai risiko inheren dalam menilai risiko hukum adalah :
a. Faktor litigasi
b. Faktor kelemahan perikatan; dan
c. Faktor ketiadaan/perubahan peraturan perundang-undangan (Arbi, 2013:
260).
6. Risiko Stratejik
Risiko stratejik adalah risiko akibat ketidaktepatan bank dalam mengambil keputusan dan/atau pelaksanaan suatu keputusan stratejik serta kegagalan dalam mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis. Sumber risiko stratejik antara lain ditimbulkan dari kelemahan dalam proses formulasi strategi dan ketidaktepatan dalam perumusan strategi, ketidaktepatan dalam implementasi
21
strategi, dan kegagalan mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis. Indikator yang digunakan dalam menilai risiko inheren atas risiko stratejik adalah :
a. Kesesuaian strategi bisnis bank dengan lingkungan bisnis;
b. Strategi berisiko rendah dan berisiko tinggi;
c. Posisi bisnis bank; dan
d. Pencapaian rencana bisnis bank (Arbi, 2013: 260).
7. Risiko Kepatuhan
Risiko kepatuhan adalah risiko yang timbul akibat bank tidak mematuhi dan/atau tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku. Sumber risiko kepatuhan antara lain timbul karena kurangnya pemahaman atau kesadaran hukum terhadap ketentuan maupun standar bisnis yang berlaku umum. Indikator yang digunakan dalam menilai risiko inheren atas risiko kepatuhan adalah :
a. Jenis dan signifikansi pelanggaran yang dilakukan;
b. Frekuensi pelanggaran yang dilakukan atau track record ketidak patuhan bank, dan
c. Pelanggaran terhadap ketentuan atau standar bisnis yang berlaku umum untuk transaksi keuangan tertentu (Arbi, 2013: 260).
8. Risiko Reputasi
Risiko reputasi adalah risiko akibat menurunnya tingkat kepercayaan stakeholder yang bersumber dari persepsi negatif terhadap bank. Indikator yang digunakan dalam mengukur risiko inheren atas risiko reputasi adalah :
22
a. Pengaruh reputasi negatif dari pemilik bank dan perusahaan terkait;
b. Pelanggaran etika bisnis;
c. Kompleksitas produk dan kerjasama bisnis bank;
d. Frekuensi, materialitas, dan eksposur pemberitaan negatif bank; dan e. Frekuensi dan materialitas keluhan nasabah (Arbi, 2013: 261).
9. Risiko Imbal Hasil
Risiko imbal hasil adalah risiko akibar perubahan tingkat imbal hasil yang dibayarkan bankkepada nasabah karena terjadi perubahan tingkat imbal hasil bank yang diterima bank dari penyaluran dana, yang dapat memengaruhi perilaku nasabah dana pihak ketiga bank. Konsekuensi dari risiko imbal hasil adalah bank berada dibawah tekanan untuk membayar kembalian di atas rata- rata dari tingkat pendapatan yang dibiayai dari dana pemegang rekening investasi bagi hasil yang kinerja asetnya berkinerja dibawah pesaing (Rustam, 2013: 254).
10. Risiko Investasi
Risiko Investasi adalah risiko akibat bank ikut menanggung kerugian usaha nasabah yang dibiayai dalam pembiayaan bagi hasil berbasis profit and loss sharing. Bank syariah memiliki risiko investasi pada kontrak mudharabah dan musyarakah. Risiko investasi mudharabah adalah apabila usaha yang dibiayai nasabah mengalami kerugian maka bank syariah akan menanggung semua kerugian, sedangkan pada musyarakah nasabah juga memiliki modal yang dipertaruhkan (Rustam, 2013: 260).
23
b. Penilaian Good Corporate Governance (GCG)
Penilaian faktor GCG merupakan penilaian terhadap kualitas manajemen bank atas pelaksanaan prinsip-prinsip GCG. Fokus penilaian terhadap pelaksanaan GCG terdiri dari 5 prinsip yaitu: tranparancy, accountability, responsibility, independency dan fairnes.
1. Transparancy
Keterbukaan dalam mengemukaan informasi yang material dan relevan serta keterbukaan dalam proses pengambilan keputusan. Dalam mengimplementasikan prinsip transparansi sebagaimana termaksud di atas, bank diwajibkan untuk menyampaikan laporan pelaksanaan Good Corporate Governance. Keberadaan laporan dimaksud, diperlukan untuk mengedukasi serta meningkatkan check and balance stakeholders bank dan persaingan melalui mekanisme pasar.
2. Accountability
Kejelasan fungsi dan pelaksanaan pertanggung jawaban organ bank sehingga pengelolaannya berjalan secara efektif. Dalam hal ini, bank wajib melaksanakan prinsip-prinsip Good Corporate Governance dalam setiap kegiatan usahanya pada seluruh tingkatan atau jenjang organisasi.
3. Responsibility
Kesesuaian pengelolaan bank dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip pengelolaan bank yang sehat.
24 4. Independency
Dalam pelaksanaan Good Corporate Governance, diperlukan keberadaan komisaris independen dan pihak independen. Keberadaan pihak-pihak independen tersebut diharapkan dapat menciptakan check and balance, menghindari benturan kepentingan dalam pelaksanaan tugasnya serta melidungi kepentingan stakeholders khususnya pemilik dana dan pemegang saham minoritas.
5. Fairnes
Keadilan dan kesetaraan dalam memenuhi hak-hak stakeholders yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Dalam upaya peningkatan dan perbaikan kualitas pelaksanaan Good Corporate Governance, bank diwajibkan melakukan self assessment secara komprehensif terhadap kecukupan pelaksanaan Good Corporate Governance sehingga apabila terdapat kekurangan dalam pengimplementasiannya, bank dapat segera menetapkan rencana tindak yang meliputi tindakan korektif yang diperlukan (Arbi, 2013: 261-262).
c. Penilaian Rentabilitas (Earning)
Penilaian faktor rentabilitas meliputi evaluasi terhadap kinerja rentabilitas, sumber-sumber rentabilitas, kesinambunga (sustainability) rentabilitas, dan manajemen rentabilitas. Penilaian dilakukan dengan mempertimbangkan tingkat, trend, struktur, stabilitas rentabilitas bank, dan perbandingan kinerja bank dengan
25
kinerja peer group¸ baik melalui analisis aspek kuantitatif maupun kualitatif. Dalam menentukan peer group, bank perlu memperhatikan skala bisnis, karakteristik, dan/atau kompleksitas usaha bank serta ketersediaan data dan informasi yang dimiliki (Arbi, 2013: 266).
d. Penilaian Permodalan(Capital)
Penilaian atas faktor permodalan meliputi evaluasi terhadap kecukupan permodalan dan kecukupan pengelolaan permodalan. Dalam melakukan perhitungan permodalan, bank wajib mengacu pada ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai kewajiban penyediaan modal minimum bagi bank umum. Selain itu, dalam melakukan penilaian kecukupan permodalan, bank juga harus mengaitkan kecukupan modal dengan profil risiko bank. Semakin tinggi risiko bank, semakin besar modal yang harus disediakan untuk mengantisipasi risiko tersebut. Dalam melakukan penilaian, bank perlu mempertimbangkan tingkat, trend, struktur, dan stabilitas permodalan dengan memperhatikan kinerja peer group serta kecukupan manajemen permodalan bank. Penilaian dilakukan dengan menggunakan parameter/indikator kuantitatif maupun kualitatif. Dalam menentukan peer group, bank perlu memperhatikan skala bisnis, karakteristik, dan/atau kompleksitas usaha bank serta ketersediaan data dan informasi yang dimiliki. Parameter/indikator dalam menilai permodalan meliputi:
1. Kecukupan modal bank, penilaian kecukupan modal bank perlu dilakukan secara komprehensif, minimal mencakup:
26
a. Tingkat, trend, dan komposisi modal bank;
b. Rasio KPMM dengan memperhitungkan risiko kredit, risiko pasar, dan risiko operasional; dan
c. Kecukupan modal bank dikaitkan dengan profil risiko.
2. Pengelolaan Permodalan Bank
Analisis terhadap pengelolaan permodalan bank meliputi manajemen permodalan dan kemampuan akses permodalan (Arbi, 2013: 267).