• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kinerja Pegawai (Y)

PROVINSI SUMATERA BARAT

1. Kinerja Pegawai (Y)

Berdasarkan hasil pengolahan data diketahui bahwa kinerja pegawai di Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sumatera Barat berada pada kategori cukup yaitu dengan persentase sebesar 79%. Kinerja pegawai ini masih perlu ditingkatkan agar menjadi baik.

Pimpinan sangat perlu memperhatikan kinerja pegawai, karena kineja ini akan berdampak

Seminar Nasional Administrasi Pendidikan dan Manajemen Pendidikan

Hotel Remcy, Makasar, April 21

2018

85 pada kemajuan suatu instansi. Kinerja bukan

hanya sebagai hasil kerja, tetapi juga bagaimana proses kerja berlangsung. Kinerja adalah tentang melakukan pekerjaan dan hasil yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu (Wibowo, 2012)”.

Indikator kinerja pegawai pada penelitian ini yaitu kualitas hasil kerja, kuantitas hasil kerja, efesiensi dalam melaksanakan tugas, dan ketepatan waktu.

Berdasarkan uraian pendapat diatas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa kinerja pegawai adalah suatu kemampuan dan tanggung jawab seorang pegawai dalam melakukan pekerjaan terhadap hasil yang dicapai sesuai dengan pekerjaannya dalam satuan waktu tertentu untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Dengan demikian jika hasil yang dicapai pegawai sesuai dengan yang diharapkan maka kinerja dapat dinilai sebagai sesuatu yang memuaskan, baik, atau sangat baik. Sebaliknya jika hasil kerja yang dicapai pegawai mengecewakan atau kurang, maka kinerjanya dapat dinilai kurang apapun alasannya.

Jadi, kinerja pegawai sangat penting bagi kelansungan organisasi baik dalam mengembangkan kualitas kerja, pembinaan selanjutnya, dengan demikian bagaimana cara kerja yang ditampilkan pegawai dan juga hasil kerja pegawai akan mendukung keberhasilan organisasi serta membawa organisasi mencapai tujuan.

2. Pengawasan Pimpinan

Berdasarkan analisis data dan pengujian hipotesis menunjukkan pengawasan pimpinan berada pada kategori cukup dengan persentase 72%. Hal ini mengungkapkan bahwa pengawasan pimpinan yang berada pada kategori baik, akan menjadi sangat baik jika penerapannya lebih dioptimalkan lagi.

Untuk mencapai interpretasi baik maupun sangat baik pengawasan perlu untuk ditingkatkan lagi. Berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pengawasan yaitu dengan meningkatkan standar pengawasan, meningkatkan pengukuran pelaksanaan kegiatan, meningkatkan evaluasi

kegiatan, serta meningkatkan tindakan perbaikan.

Pengawasan adalah suatu proses dimana pimpinan organisasi melihat apakah yang telah dilakukan sesuai dengan harapan.

Jika tidak, perbaikan diadakan untuk penyesuaian. Rue & Byars mengemukakan pengawasan adalah suatu kegiatan untuk membandingkan yang nyata telah dilakukan dengan standar yang telah ditentukan atau tujuan dan kemudian dengan segera mengambil tindakan untuk mengoreksinya setiap penyimpangan dari standar yang ada (Liputo, 1988). Indikator pengawasan pimpinan pada penelitian ini yaitu penetapan standar, pengukuran, penilaian, dan tindak lanjut/perbaikan.

Pada dasarnya tujuan utama pengawasan adalah untuk menjamin agar hasil yang dicapai itu sedapat mungkin mendekati tujuan yang telah ditetapkan untuk segala kegiatan yang dijalankan. Disamping itu pengawasan juga mempunyai tujuan untuk mendorong agar pelaksanaan tugas pokok organisasi dapat berjalan lancar, berdaya guna, berhasil guna dan tepat guna.

Pengawasan secara umum bertujuan untuk mengendalikan kegiatan agar sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan, sehingga hasil pelaksanaan pekerjaan diperoleh secara efisien dan efektif sesuai dengan rencana yang telah ditentukan dalam program kegiatan. Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pengawasan pimpinan sangat penting dan dibutuhkan dalam suatu organisasi. Dimana pengawasan berperan dalam pencapaian tujuan organisasi serta menjadi salah satu factor yang meningkatkan kinerja pegawai.

Jadi pimpinan suatu instansi dapat melaksanakan pengawasan terhadap kegiatan atau pekerjaan yang diberikan kepada pegawai dan membandingkan dengan rencana semula.

Apabila pekerjaan yang dilakukan oleh pegawai tidak sesuai dengan rencana atau terjadi penyimpangan dalam pelaksanaannya, maka pimpinan sebagai atasan dapat mencari penyebabnya. Jika hal ini tidak dapat dilaksanakan oleh pimpinan maka pelaksanaan pengawasan tidak akan mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.

Seminar Nasional Administrasi Pendidikan dan Manajemen Pendidikan

Hotel Remcy, Makasar, April 21

2018

86 3. Hubungan Pengawasan Pimpinan

dengan Kinerja Pegawai

Berdasarkan hasil perhitungan terhadap uji korelasi dan uji keberartian korelasi, diperoleh sebuah kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengawasan pimpinan dengan kinerja pegawai di Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sumatera Barat.

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa koefisien korelasi antara pengawasan dengan kinerja pegawai adalah signifikan yaitu r hitung = 0,529 > r tabel = 0,279 pada taraf kepercayaan 95% dan 0,361 pada taraf kepercayaan 99%. Pada keberartian korelasi juga terdapat hubungan yang signifikan antara pengawasan pimpinan dengan kinerja pegawai yaitu t hitung = 4,361 > t tabel 2,021 pada taraf kepercayaan 95% dan 2,704 pada taraf kepercayaan 99%. Dengan demikian hipotesis yang diuji dapat diterima. Hipotesis tersebut berbunyi adanya hubungan yang signifikan antara pengawasan pimpinan dengan kinerja pegawai. Hal ini menunjukkan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai adalah pengawasan pimpinan. Hasil penelitian ini memperkuat pendapat ahli yaitu mengatakan bahwa pengawasan memberikan suatu cara untuk mengukur kinerja dari keseluruhan organisasi bukan satu bagian saja, menjamin bahwa kinerja secara keseluruhannya adalah konsisten dengan rencana keseluruhan dan mengawasi unit unit yang semi otonom (Terry, 2012).

Kinerja pegawai tentu dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kemampuan kerja pegawai, motivasi kerja pegawai, pengawasan pimpinan dan komitmen kerja. hal ini dilandasi asumsi bahwa kemampuan kerja pegawai meliputi kemampuan intelektual, kemampuan emosional, dan kemampuan fisik, Dengan adanya beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai maka atasan maupun pimpinan dari suatu organisasi harus memperhatikan beberapa faktor tersebut.

Sehingga pengembangan kinerja dapat dilakukan secara efisien.

Dari berbagai pendapat ahli dapat disimpulkan bahwa faktor faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai adalah motivasi kerja, kepemimpinan, pengalaman

kerja, tingkat pendidikan, peralatan atau sarana pendukung, kepuasan kerja, imbalan dan pengawasan serta motivasi.

Berdasarkan pada uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengawasan pimpinan mempunyai kaitan yang erat dengan kinerja pegawai. Semakin optimal pengawasan yang dilakukan pimpinan yang ada maka semakin tinggi pula tingkat kinerja pegawai.

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan, maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Kinerja pegawai di Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sumatera Barat berada pada kategori “Cukup” (79%).

2. Pengawasan pimpinan di Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sumatera Barat berada pada kategori “Cukup”

(72%).

3. Terdapat hubungan yang signifikan antara Pengawasan Pimpinan dengan Kinerja Pegawai di Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sumatera Barat dimana besarnya koefisien korelasi rhitung = 0,529 > rtabel = 0,361 pada taraf kepercayaan 99%, dan thitung = 4,361 > ttabel = 2,704 pada taraf kepercayaan 99%. Artinya pengawasan pimpinan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai dan kinerja pegawai dapat menentukan

REFERENSI

George. R. Terry dan Leslie W. Rue.2012.

Dasar Dasar Manajemen.Jakarta: PT.

Bumi Aksara

Liputo, Benyamin. 1988, Pengantar Manajemen, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Moeheriono. 2014. Pengukuran Kinerja Berbasis Kompetensi. PT. Rajagrafindo Persada

Sondang, P. Siagian. 2009. Kiat Meningkatkan Produktivitas Kerja. Jakarta: PT. Rineka Cipta

_______ 2012. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT. Toko Gunung

Seminar Nasional Administrasi Pendidikan dan Manajemen Pendidikan

Hotel Remcy, Makasar, April 21

2018

87 Sugiyono, 2013. Metode Penelitian

Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.

Bandung: Alfabeta

Sule, Ernie Tisnawati & Kurniawan Saefullah.

2010. Pengantar Manajemen. Jakarta:

Kencana

Suhardiman, Budi.2012. Studi Pengembangan Kepala Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta Winardi. 2012. Manajemen Kinerja. Jakarta:

PT. Raja Grafindo Persada

Seminar Nasional Administrasi Pendidikan dan Manajemen Pendidikan

Hotel Remcy, Makasar, April 21

2018

88

PENGARUH KOMPETENSI MANAJERIAL DAN MOTIVASI