• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOLOM ARWAH

Dalam dokumen HUMOR ITU SERIUS - ARWAH SETIAWAN (Halaman 167-200)

3

B

agi pembaca yang suka beli Newsweek, dapat saya terangkan bahwa George Wallace adalah seorang bekas Gubernur/Kepala Negara-bagian Alabama yang gigih sekali me nen tang integrasi dengan kaum Amerika-Afrika di daerahnya.

Ia sekarang mendaftarkan diri untuk mengikuti perlom baan terbesar di Amerika Serikat, yaitu balapan jadi presiden. Marilah kita berdoa untuk kekalahannya.

Suatu kali pada waktu melamun keras, saya pergi ke rumah Wallace untuk wawancara. Ketika saya memasuki halaman, seorang “redneck” (laki brangasan di daerah Selatan yang suka mengganggu orang-orang Amerika-Afrika ) yang rupanya menjabat bodyguard, menghampiri saya.

Hey, you! Wait a minute!” ia mengelukan. “Where ya think yer goin’, Niggah?”

Take it easy, Mac. Saya sudah punya appointment sama Pak Gubernur,” jawab saya sambil siap-siap untuk lari.

“Oh, yeah?”

“Yup. Dan saya bukan Nigger,” sambung saya menjelaskan kekeliruan yang mudah dimengerti itu.

“Saya dari Indonesia.”

“Indonesia? Di negara bagian mana letak kota itu?”

Setelah saya terangkan bahwa kota Indonesia terletak di negara-bagian Asia Tenggara, ia pun mengangguk-angguk bergaya mengerti.

I see well, punya Surat Penduduk?”

“Ada. Ini.”

“Bebas?”

“Ini. Dan ini nomor bewes, SWI. Jasa Raharja, lengkap.”

Okay,” katanya yakin. “Follow me.”

George Wallace ternyata sudah menanti saya di ruang tamunya, dan setelah bertukar-hormat seperlunya, wawancara dimulailah.

“Benarkah, seperti dikabarkan pers, bahwa Pak Wallace seorang yang anti Amerika-Afrika ?”

Nonsense,” dijawabnya tandas. “Itu issue bikinan koran-koran Yankee-komunis. Kami tidak membenci Amerika-Afrika. Toleransi rakyat Alabama besar sekali. Dalam daerah yang mayoritasnya kulit putih ini, orang-orang Amerika-Afrika tetap diberi hak hidup. Tidak ada yang kami suruh ing-ing ke tempat di wilayah Tarzan sana.

“Sebaliknya, saya sinyalir justru orang-orang Amerika-Afrika yang tidak mau menenggang perasaan kami. Melalui program integrasi, mereka berusaha memaksakan kebudayaan hitam mereka ke dalam perikehidupan kami dari golongan kulit putih.”

”Jadi, bagaimana pendirian Pak Gubernur sebenarnya?”

“Soalnya bukan anti atau pro Amerika-Afrika.

Soalnya hak untuk mempertahankan tata-kehidupan yang sudah diwariskan oleh kakek-nenek kami.

Look, penduduk asli Amerika adalah dari golongan kami, kulit putih ini. Orang-orang Amerika-Afrika cuma didatangkan sebagai budak-budak belaka. Kok way of life kita mau dirusak campur-aduk!”

Eh beg your pardon, Guv’nor. Tapi bukankah penduduk asli Amerika adalah bangsa Indian?

Bukankah kulit putih dan Amerika-Afrika sama- sama meru pakan pendatang dari Timur?”

“Bagaimanapun, kami datang duluan.”

“Jadi, baiknya bagaimana?” tanya saya.

“Yang baik adalah bahwa penilaian baik/tidaknya sesuatu hal bagi sesuatu daerah, hendaknya dise- rah kan kepada warga daerah itu sendiri. Rakyat Alabamalah yang paling berhak menentukan apa yang baik bagi Alabama. Bukan segelintir oknum- oknum mahkamah agung maupun presiden komunis di Washington.

Kondisi & Situasi

“Jadi, dalam melaksanakan sesuatu peraturan hendak nya diperhatikan benar kondisi dan situasi masing-masing daerah, ditinjau dari sudut psikologis- sosiologis-historis setempat. Jangan begitu saja menyamakan New York dengan Montgomery. Mem- for sir sesuatu yang berlawanan dengan kondisi- kondisi khusus serta aspirasi rakyat setempat niscaya akan menimbulkan tentangan-tentangan keras. Ingat saja Little Rock, Ole Miss, Birmingham.”

“Tapi apakah sikap demikian konstitusionil?”

tanya saya.

You bet! Lihat saja pasal 18 UUD 4 – oops, sorry; I mean, pasal X Amandemen Konstitusi A.S. mengenai hak-hak serep negara-bagian.”

“Bagaimana juga, menurut saya hal itu tetap mengganggu kesatuan dan keutuhan Amerika Serikat.”

“Kenapa mesti begitu? Negara kami negara federal, remember? Sedangkan di negeri Anda yang berpretensi negara kesatuan pun hal begitu masih dijalankan, mengapa di sini tidak?”

What do you mean?”

“Itu, sikap mempertahankan kekhususan atau keistime waan lokal, Jogjakarta itu, misalnya. Hayo, ngaku saja,” katanya nakal.

“Tapi itu kan lain,” tukas saya cepat. “Tidak bisa diban ding kan dengan persoalan Anda ini.

Keistimewaan Jogja cuma menyangkut kedudukan Kanjeng Sinuhun. Tidak menyinggung soal hak- asasi maupun demokrasi dalam masyarakat.”

Okay soal Jogja. Tapi bagaimana Aceh?”

“O, itu?” muka saya jadi berwarna. “Hm–eh, itu juga lain.”

I know, I know, materinya lain. Di sini ras, di sana religi. Tapi prinsip, motif, metode dsb.?”

“Ya lain,” jawab saya menjelaskan. “Pokoknya, lain.”

Aw, the hell with it,” kata Wallace mengibaskan tangan. “Pokoknya, you and I, ada deh. Now, have a drink.” (*)

Harian Sinar Harapan, 26 Agustus 1968

E

go yang terluka akibat cemoohan publik memanglah merupakan occupational hazard atau risiko perusahaan bagi setiap seniman avant-garde. Tanya saja pada W.S. Rendra yang telah merasakan pengalaman keras dari publik, sekeras batu yang menimpa gedung di mana karya abstraknya, BIP-BOP, dipertunjukkan di Jogja.

(Konon BIP-BOP adalah sebuah play di mana hanya tampak seorang pemain kekar membuat gerak’ mekanis sambil berbunyi, “bip-bop, bip-bop”, diselingi semacam koor, “Yang Mulia!” dan teriakan tunggal, “Masih ada harapan!” Absurdite, absurdite).

Pengalaman serupa pernah pula dijalani oleh teman saya yang tidak pernah ada, F.X. Werda, seorang penyair jenius nonkonformis. Suatu waktu ia menciptakan sebuah syair demikian:

NGIK-NGOK NGIK-NGOK NGIK-NGOK

NGIK

Syair itu mendapat sambutan hangat dan panas di kalangan masyarakat. Majalah kesusastraan

“Sastrison” menyebutnya sebagai syair terbaik di Asia Tenggara. Penerbitan-penerbitan lain sibuk pula antre guna mendapatkan izin untuk memuatnya. Organi- sasi-organisasi kebudayaan, TV/RRI dan radio-radio amatir tidak ketinggalan mendeklamasikannya.

Tapi, lo-dari seberang sana berbondong pulalah surat-surat pembaca menyerbu koran-koran, baik yang memaki-maki maupun yang terbahak-bahak.

Seorang pembaca bernama Nama dan Alamat Diketahui Redaksi menulis dalam suatu koran yang sering dibreidel:

“Bagaikan cacing diperut anjing, NGIK-NGOK sangat memuak kan, bagi rakyat. Ia gejala khas dekadensi kebudayaan imperialis yang di bawah

rezim sekarang semakin menggila. Seni untuk Rakyat! Ganyang Neo-Manikebu!”.

Tulisan begini tentulah tidak perlu kita tanggapi dengan serius. Ini urusan alat negara yang beberapa hari kemudian, setelah mengadakan pengusutan, berhasil menyergap penu lis nya dalam suatu rapat gelap Lekra-Malam, bersama penanggung jawab korannya.

Tapi ada lagi kritikus amatir dengan nada lain.

Ia seorang doctor dalam ilmu pasti yang sebagai kompensasi bagi keseriusan pekerjaannya, ingin juga dikenal sebagai orang yang bisa melucu.

Tulisnya :

“Saya tidak tahu siapa juga salah, situasi, si penyair ataukah saya sendiri. Yang membuat saya, seorang Doktor, tidak mampu menangkap makna syair Werda, NGIK-NGOK. Saya tidak mampu memikir, apakah NGIK-NGOK melambangkan segi tiga Pascal ataukah pelajaran baca-tulis di Sekolah-Dasar.”

Namun setiap pahlawan tentulah mempunyai barisannya dan begitulah para kritisi terkemuka ramai-ramai berdiri di belakang Werda. Tulis seorang esais tenar (juga karena mutunya saya kutip agak panjang yang di sini):

“NGIK-NGOK termasuk aliran puisi konkret, yang merupakan per kem ba ngan mutakhir dari seni anagram pendeta-pendeta Kristen pertama, Calligram dari Apollinaire, dan program Kabinet Pembangunan.”

Ia bermaksud untuk membebaskan kita dari tirani konvensi penilaian puisi hanya dari segi bahasa. Puisi Konkret, seperti kata konkretis Ronald Gross, bertujuan ke arah puisi yang dibentuk juga untuk ditanggapi oleh mata, di samping oleh hati dan akal, jadi ada dua arah penilaian: akal-perasaan, dan penglihatan.

Ngik Ngok

“Dari segi rasional-emosional, NGIK-NGOK melambang kan istilah-istilah Sukarnoistis dalam menyerang kebudayaan universal. Dan dari segi visual, bentuknya yang seperti segitiga terbalik;

melambangkan pemujaannya terhadap bilangan tiga, seperti Trisila, tiga unsur Nasakom, slogan Trisakti dan sebagainya yang sekarang sudah terjungkir.

Jadi secara Ganzhelt, NGIK-NGOK merupakan puisi satire terhadap kejatuhan Sukarno atas obsesi- obsesinya sendiri.”

Dalam pada segala hiruk-pikuk itu, F.X. Werda, penyairnya sendiri, tidak banyak buka-mulut. “Suatu kerja seni”, katanya, “harus sudah menjelaskan diri- sendiri; tidak diterangkan melalui sarana ekstra- artistik seperti bahasa sehari-sehari.” Dan ia menolak untuk memberi penjelasan lebih lanjut.

Namun para wartawan, sesuai dengan naluri mereka, tentu tidak sudi meletakkan pena begitu saja.

Dan sebelum Werda mau menerangkan makna syairnya, mereka telah bertekad untuk setiap hari datang di rumahnya untuk mendesaknya. Tentu pula keadaan demikian semakin membosankan dan di samping itu menipiskan persediaan gula Werda sehingga akhirnya ia pun mengalah, “Kalau saudara-saudara tetap mendesak, baiklah. Tapi tunggu sebentar.” Dan ia pun keluar sejenak untuk kembali lagi membawa arbanat milik tetangganya, seorang penjaja arumanis.

“Begini,” katanya, dan wartawan-wartawan sudah gatal menekankan ujung pena mereka ke atas notes: “Arti NGIK-NGOK adalah, dan digeseknya arbanat: “ngik-ngok”.(*)

Harian Sinar Harapan, 29 Agustus 1968

P

engarang tenar, Mertanggung Bosen, adalah seorang penulis juga amat berhasil, andaikata ia tidak berhasil tentu ia bukan pengarang tenar.

Ia berhasil karena karya-karyanya memiliki daya tarik yang mencapai lingkup kekeluargaan: digemari oleh muda, medium, dan tua.

Dan daya tarik kekeluargaan ini erat hubungannya dengan judul-judul maupun materi dari novel- novelnya, yang rajin mengisahkan keagungan anggota-anggota keluarga yang serba bahagia. Penuh Tante-Tante, padet dengan Oom-Oom, Mbakyu- Mbakyu, yang semuanya serba girang, senang, gembira dan nikmat.

Yang cukup mengharukan adalah bahwa B.H Yessir, itu Dekan kesusastraan Indonesia. Kok masih sempat-sempatnya juga membuat analisis yang cukup “favorable” atas karya-karya Bosen, notabene dalam majalah-majalah yang amat literer.

Itu tentunya dilakukannya atas motif-motif kebesaran jiwa atau kelebihan waktu. Tentang

sound judgment” (sound judgment) dan “good taste

(taste juga good) saya kira bukan soalnya di sini.

Bahkan tidak hanya penulisnya saja yang mene- rima bagian pujian dari Yessir itu, tapi juga penerbit- penerbitnya sebagaimana terbaca demikian:

Penerbit-penerbit kecil seperti Macmillan, Doubleday, Moscow Foreign Languages Publishing House, yang memper tahan kan hidupnya dengan me- ner bit kan buku2 komik, terpuji lah namanya karena sudi pula menerbitkan buku-buku yang bernilai sastra seperti karya-karya Mertanggung Bosen itu.

Memasukkan karya-karya Bosen ke dalam korps

“Sastra” adalah persoalan selera, tentu saja. Tapi yang terang, karya-karya itu memang padat mengandung persoalan-persoalan manusia, kemanusiaan, dan manusia-manusiaan; ramai dengan macam-macam

problematika libido yang serba unik.

Ambillah problem rumit Oom Djoky dalam novel

“Mbakyu Markaban.”

Ia meskipun tidak impoten, ternyata tidak mampu memuaskan birahi istrinya karena ia menderita suatu penyakit, yaitu hanya dapat mendekap istrinya dan babunya dari belakang melulu, tidak dari sebelah lain.

Keruan saja istrinya yang bosen dengan teknik satu jurusan saja itu, lantas mencari kebahagiaan pada diri Sugriwo, seorang crossboy yang paling kurang ajar dalam sejarah perpustakaan kita, tapi juga amat mahir mendekap wanita dari arah segenap penjuru angin.

Dan gejala penyakit satu-jurusan yang diderita Oom Djoky itu merupakan tesis orisinil dalam ilmu seksuo-psikologi atau psiko-seksologi, yang pasti akan menarik perhatian Dr. Kinsey, Havelock Ellis, atau Vatsyayana.

Juga orisinil adalah pelukisan Bosen mengenai kecantikan wanita.

Bulik Markonah, misalnya. Digambarkannya sebagai “montok”, berkulit kuning langsat, berambut pirang (sampai di sini masih tradisional), dengan kening lebar, histeris, mata nakal (mulai modern), hidung besar, dengan bulu-bulu pirang di atas bibir, di jempol kaki, telapak tangan, di tenggorokan, sedap dilihat (nahlul). Pendeknya, seperti kuda Australi, menggiurkan.”

Deskripsi mengenai kecantikan sedemikian adalah amat modern. Terutama apabila modernisasi berarti sekularisasi, seperti kata Rosihan Anwar.

Sebab lambang kecantikan universal yang secara kolot selalu dijabat oleh makhluk surgawi (bidadari), dengan ini oleh seniman Bosen telah diserah- terimakan kepada makhluk yang amat sekuler, kuda Australi!

Bulik Markonah

Semoga saja ini tidak akan menjadikan meluasnya praktik-praktik sodomi.

Pada suatu kesempatan saja tanyakan kepada Mertanggung Bosen, “Bagaimana pendapat Saudara, terhadap kritik-kritik atas karya-karya Saudara?”

“Mereka Benar. Semua kritik-kritik itu benar. Ya, mungkin ngawur, picik, dan goblok, tapi benar,”

jawabnya dengan seringai sinis tidak tahu bahwa saya tahu mengutip sarkasme itu dari majalah, De Lach.

“Bagi saya yang penting adalah tidak bersifat munafik,” sambungnya tanpa saya tanya. “Saya tahu tulisan saya jelek, maka itu saya sengaja berniat untuk menulis jelek. Bisa saja saya bermaksud untuk menulis dengan baik, tapi kalau hasilnya toh jelek, itu namanya munafik, bisa saja saya munafik, tapi guna apa?”.

Saya mengangguk-angguk dan melanjutkan,

“Dari mana saja Saudara mendapat ilham sehingga dapat menulis dengan begitu produktif?”

“Dari istri saya. Kata-katanya selalu mendorong saya untuk menulis lagi dan lagi dan lagi,” jawabnya tanpa sadar menggunakan gaya bahasa yang dipakainya dalam tulisan-tulisannya.

“Kata-kata bagaimana, misalnya?”

“Kata-kata bermutiara seperti, Mas, uang belanja sudah hampir habis!”

Dan setelah saya terpaksa menunggu beberapa

menit sampai ia selesai bergulung-gulung akibat terpingkal-pingkal sendirian, saya siramkan komen- tar dingin:

“Itu Saudara ambil dari, Reader’s Digest, bukan begitu?”

Tapi melihat mukanya yang seketika memucat itu demi abadinya kesehatan kami berdua cepat- cepatlah saya alihkan pertanyaan pada, “Penulis- penulis siapa sajakah Saudara rasa paling memberi pengaruh pada karya-karya Saudara?”

“ Hemingway, James T. Farrell, Moravia, Zola, Baudelaria, Balzac, Camus, Shakespeare, Dickens, Maugham, Kafka, Mann, Dante Boccaccio, Pinoccio, Leo Tolstoy, Boris Pastemak, Boris Karloff, Saroyan, Soraya, James Jones, Tom Jones, Engelbert Humperdinck, Release Me, dan banyak lagi.

“Waduh, banyak benar,” sambut saya kagum.

“Yaah, bacaan saya juga banyak benar,” katanya merendah diri.

“Yaah, bacaan saya luar negeri. Kalau di antara penulis-penulis Indonesia, siapa juga paling Saudara kagumi?”

“Aah, itu tuh. Yang inisial dan jumlah suku katanya tepat persis dengan nama saya,” sahutnya, tanpa bergenit-genit. (*)

Harian Sinar Harapan, 6 September 1968

T

idak praktis untuk dibawa-bawa. Maka selama pendidikan, barang siapa yang kedapatan curi-curi memakai tondeuse, akan di mahmilubkan. Bila pelanggarnya perwira tinggi, akan dijadikan Duta Besar di Biafra.

Gaya pangkas yang diakui di PISPOTKU adalah dari mazhab Ekspresionisme-Abstrak: semakin kacau semakin baik. Untuk itu sering didatangkan dosen tamu dari West Point dan Annapolis seperti Pollock, Paul Klee, dan de Kooning. Dan fungsi gaya demikian adalah agar si korban terpaksa cepat langsung lari ke tukang pangkas profesional, dengan siapa pihak OPUS GATEL memang mengadakan joint-venture sebagai civic mission. Faktor kecepatan juga penting. Para siswa harus dapat mencukur bocel-bocel suatu kepala sebelum si pemiliknya sempat berteriak, “Hak-Asasi!”

Latihan yang spartan itu, selain guna kelancaran operasi juga guna mencegah terulangnya insiden yang memalukan korps petugas seperti pernah terjadi dulu. Seorang pemuda yang naik Yamaha dan berambut sepanjang bahu terjebak dalam suatu razia rambut, Tapi ia rustig-rustig saja.

Selesai rambutnya “dioperasi”, ia naiki lagi Yamahanya dan menoleh sebentar ke arah para petugas yang sedang meringas-ringas geli melihat hasil karya mereka atas rambutnya. Sambil berseru,

“Permisi, Pak!” ia angkat “rambut”nya yang ternyata rambut palsu alias wig yang sudah compang-camping itu dan dilemparkannyalah ke arah petugas tadi.

Dan dengan rambut aslinya sendiri yang masih tetap gondrong, lekas-lekasnya ia larikan kendaraannya sambil tertawa terkekeh-kekeh, sadistis sekali.

Dalam menghadapi para korban, Komandan Operasi bertindak amat bijaksana. Sehabis suatu periode razia lalu diundangnyalah mereka yang

terkena untuk diajak “makan bersama” demi perdamaian.

“Semoga Adik-adik sekarang menyadari,” kata Komandan pada suatu kesempatan demikian,

“bahwa dipandang semua segi rambut gondrong adalah merugikan dari segi moral, Amoral. Dari segi kesehatan, dapat menimbulkan wabah kutu. Dari segi ekonomis mengurangi GNP, khususnya pada sektor jasa perusahaan cukur. Dari segi estetika bertentangan dengan selera saya dan dari segi berindikasi Gestapu/PKI dan subversi Cina.”

“Tapi, Pak,” tanya seorang pemuda, “di zaman Orla bukan kah kaum Lekra dan Pemuda Rakyat juga gigih menentang rambut Beatles?”

“Ya tapi yang mereka tentang adalah rambut Beatles juga kontra-revolusioner, dalam arti revolusi Marxis-Leninis. Sedangkan yang kita tentang adalah Beatles yang anti- Pancasila anti- Orba, jadi lain.”

“Kami tidak a-priori menentang rambut gondrong, Bagi beberapa perkecualian, seperti para pemain ludruk, kami berikan dispensasi yang berupa Surat Izin Berambut Gondrong yang dapat diambil setiap hari kerja di loket 34 di kantor kami. Diharuskan bawa keterangan dari RT/RK dan ongkos administrasi sekadarnya, dalam bentuk valuta asing.”

“Apakah benar, Pak, bahwa rambut gondrong selalu menandakan kebejatan akhlak?” tanya pemuda lain yang masih agak penasaran.

“Pasti!” dijawab dengan tandas, “Itu terbukti secara historis. Ingat saya si gondrong Samson yang main-main sama bini raja, sambil menggundik itu tante girang Dalilah.”

“Tapi bagaimana dengan Bob Kennedy almar- hum, yang juga barambut gondrong namun justru berwatak brilian itu?”

“Ya, dan bagaimana nasibnya?” balas Komandan.

“Bagaima napun juga rambut gondrong merugikan.

Rambut Amoral

Kalaupun tidak merusak akhlak, tentu merusak nyawa, jadi tujuan OPUS GATEL ini, di samping untuk menjaga moral kalian, juga menjaga agar kalian jangan sampai ditembak orang.”

Diskusi begini tentu akan berlarut-larut kalaulah mata hadirin tidak mulai gelisah melirik-lirik ke jurusan hidangan-hidangan yang sudah disediakan.

Dapat diketahui, bahwa lauk-pauk serta segala masakan disuguhkan adalah dari jenis-jenis yang

amat mewah, dan tentu mahal-mahal. Tapi itu bukan persoalannya tuan rumah, karena seluruh biaya selamatan adalah atas tanggungan Persatuan Tukang Potong rambut seluruh Indonesia sebagai tanda terima kasih kepada para pelaksana OPUS GATEL yang besar jasanya dalam menghindarkan pengangguran dan kebangkrutan massal di kalangan anggotanya.(*)

Harian Sinar Harapan, 13 September 1968

R

akyat Romawi gempar, dipublikasikan lewat mulut, tabloid, maupun koran resmi Acta Diurna, bahwa akan diselenggarakan suatu pertunjukan olahraga yang belum pernah mereka saksikan, yang oleh para sponsornya dinamakan permainan golfum. Perhatikan sebuah iklan :

Friends, Romans, country-men, saksikanlah!

Saksikan lah pertandingan seru PERTAMA KALI DALAM SEJARAH! Pertandingan GOLFUM yang dimainkan oleh gladiator-gladiator tenar, BANDUS versus LAERDUS! Sampai salah satu kalah! Pertan- dingan yang UNICUS lain dari yang lain karena TANPA DARAH TANPA KEKERASAN! Betul-betul permainan PATRICIAN atau INTELEK! Banjirilah stadion utama COLOSSEUM!!!!

Permainan golfum ini sebenarnya hanya terdiri dari memukul-mukulkan tongkat (stickum) pada benda bulat yang dinamakan “ballum” untuk dapat mencapai delapan belas “holum” dalam jumlah pukulan minimum. Jadi cukup saaium, sebetulnya.

Maka untuk memahami kenapa rakyat Roma bisa begitu gempar dibikinnya, kita harus menyelidiki dulu latar-belakang sosial-kulturalnya.

Pada waktu itu olahraga nasional yang amat digemari adalah permainan-permainan gladiator.

Yaitu sabung orang lawan orang maupun lawan binatang yang selalu amat padat dengan pertumpahan darah dan kepergiannya selama berabad-abad pertandingan-pertandingan begini diselenggarakan, misalnya untuk perebutan Nero cup. Hadiah Julius atau Piala Spantacus, played by Kirk Douglas.

Tapi manusia adalah homo varianus. Betapapun gemarnya akan sesuatu, kalau itu didapatkannya terlalu banyak. Niscaya ia akan mencari yang berlainan. Ini sesuai dengan hukum alam (lihat kitab undang-undang hukum alam pasal 5 karangan Grotius SH). Itulah keterangannya mengapa

permainan hambar seperti golfum bisa disambut begitu hangat.

Maka pada hari yang ditentukan penuh sesak para penduduk Romawi termasuk caesar himself memadati stadion colosseum. Bandus dan Laerdus melangkah gagah masuk arena diikuti caddia (pembawa stick) masing-masing. Dan sorak-sorai

“Ave Bandus” dan “Hidup Laerdus!” diiringi drumband ”vox populi” memainkan lagu-lagu mars

“Bung Nero Dyaya” dan ”Kebo Giro”.

Pertandingan dimulai Bandus menggeliat manis dan menga cung kan stickum tinggi-tinggi. Sesanter puyuh stick diayunkan ke bawah, hwiing! Nyaris menyerempet ballum, menyambar naik dan taakk!

tepat menerpa pelipis Laerdus yang dengan maksud mengganggu yang sedang berdiri terlalu dekat.

Andaikan Laerdus seorang awam lemah belaka tentu ia hanya akan melenguh, “Et tu Bande?

Then fall, Laerdus!” dan ambruk di tempat. Tapi ia gladiator gemblengan, maka reaksinya cuma mengangkat stick-nya sendiri dan mengayunkannya deras ke kepala Bandus sembari mendesis, “Canis!”

juga bahasa Indonesianya adalah : “Yous dog!” Dan setelah Bandus memberi kontra-reaksi setimpal, tidak bisa dihin darkan permainan aris-tekratris golfum itu merosotlah menjadi pertandingan berdarah biasa.

Semula penonton masih mau bersabar menunggu, dengan harapan bahwa baku hantam dengan stick itu akan segera berakhir dan golfum yang benar bisa dimulai lagi. Tapi setelah lewat sejam keadaan belum berubah cuaca pun mulai diisi dengan gerutu dan maki-makian.

“Kasih sekali pedang atau tombak, karuan,” nyeletuk seorang.

“Adu saja lawan Ben Hogan atau pembesar- pembesar Indonesia biar kapok,” umpat yang lain.

Ada pula seorang perenung yang tak habis-habisnya

Bandus Vs Laerdus

Dalam dokumen HUMOR ITU SERIUS - ARWAH SETIAWAN (Halaman 167-200)

Dokumen terkait