• Tidak ada hasil yang ditemukan

SERIUSNYA ARWAH

Dalam dokumen HUMOR ITU SERIUS - ARWAH SETIAWAN (Halaman 33-42)

2

M

engapa manusia menari? Seorang antropolog yang mengintip ensiklopedia akan menjawab “untuk mengekspresikan emosinya, menyalurkan energinya, berhubungan dengan arwah (tidak termasuk saya-penulis), merayakan kelahiran, berbelasungkawa, mendoakan sukses suatu perburuan, memohon hujan, berdoa menang perang.”

Sepasang muda mudi yang belum pernah tahu apa itu ensiklopedia, akan menjawab pertanyaan mengapa manusia menari, “Supaya ada alasan sah untuk begadang sampai jam tiga pagi,” sebelum berangkat ke disko. Tapi seorang calon peserta Lomba Tari Humor yang pernah diadakan Lembaga Humor Indonesia (Purn) akan menjawab pertanyaan yang sama dengan, “supaya ditertawakan.”

Dan selama lomba, ia memang ditertawakan, atau disuruh turun. Disuruh turun atau keluar pentas, merupakan pemandangan yang tak aneh bagi seorang pemain panggung, termasuk penari. Tapi ditertawakan terbahak-bahak, mendapat pujian atau compliment bagi seorang penari apalagi dalam suatu lomba, memang tak lazim. Tapi ini adalah lomba tari humor, di mana tertawaan merupakan suatu tanda pujian paling jujur. Orang masih bisa bertepuk tangan padahal penampilannya monoton dan menyebalkan.

Tapi tertawa dalam sebuah acara seni humor tentulah merupakan suatu sambutan yang memberikan apresiasi terhadap apa yang ditonton.

Disambut dengan gelak tawa dalam sebuah lomba seni humor memanglah suatu sukses. Dan memang untuk sekian lama, gelak atau senyum mengiringi penampilan para peserta. Tapi memang tidak seluruhnya. Banyak peserta yang belum begitu yakin akan apa yang harus diperbuatnya–menari dengan indah atau bergerak-gerak dengan lucu? Alhasil, sebagian dari mereka memantulkan kebingungan

atau kekurangtahuan itu dalam penampilan mereka, dengan hasil akhir tidak meraih kejujuran sama sekali.

Tapi ada keseluruhannya, hasil akhir dari lomba tari humor tersebut memang tidak terlalu membingungkan kecuali bagi para penonton yang sejak awal berangkat dari rumah semata-mata untuk berbahak-bahak. Penonton yang terpuaskan dengan sendirinya sepakat dengan keputusan juri:

yaitu mereka menilai kaidah estetika seni tari sama penting dengan kadar kelucuan, atau humor.

Para anggota juri tiga orang, sudah dikenal sebagai pakar-pakar tari. Salah seorang di antaranya, Sampai Hismanto, dikenal sebagai guru tari yang memiliki grup sendiri, serta secara teratur ikut serta pula dalam kegiatan lawak.

Penilaian juri menetapkan juara pertama guru dari Yogyakarta yang menampilkan semacam parodi Tari Saman. Bila tubuh mereka ditepuk-tepuk akan bergemirincing karena puluhan koin diisikan ke balik baju mereka. Juara kedua diraih oleh anak buah Farida Faesol yang menarikan parodi “Swan Lake” yang terkenal tapi dengan seorang penari pria kekar berkumis sebagai primadona yang justru menggendong pangerannya pada saat klimaks tarian.

Rupanya penampilan mereka juga berhasil menyita kepuasan publik.

Keputusan juri sebagaimana biasa, mengundang rasa ketidakpuasan penonton. Mereka benar-benar kecewa setelah akhirnya ternyata dewan juri “tidak seiman” dengan mereka. Jago-jago mereka ternyata tidak mendapat nomor.

Boleh ditanyakan sebenarnya kenapa penyeleng- gara nya (LHI) mengadakan Lomba Tari Humor.

Apa mau menghumorkan tari, meledek seni tari?

Tentu bukan. Maksudnya adalah seperti menye- leng garakan Lomba Musik Humor dan lain-lain

Tari Humor Yeeeach…Yeeeach!

sebelum itu, untuk ‘membuktikan’ bahwa seni humor mempunyai berbagai bentuk, bukan terbatas pada lawak verbal maupun gambar kartun belaka.

Persoalannya hanyalah, dari kedua unsur kesenian yang “fusi” ke dalamnya, mana yang dianggap lebih dominan?

Dalam hal ini komposisi dewan juri sangat menentukan. Padahal penyelenggara sengaja atau tidak pada akhirnya mengingat dewan juri yang terdiri atas pakar-pakar tari, dengan segala konsekuensinya.

Ini sebetulnya ‘kecelakaan’ karena dua orang pakar humor non tari yang sedianya diminta, waktu itu berhalangan. Seandainya ada pakar humor dalam komposisi dewan juri itu, mungkin sekali ketidakpuasan sebagian penonton tidak akan timbul.

Seandainya LHI pada waktu itu lebih mementingkan misinya sebagai Lembaga Humor Indonesia, tentunya unsur kelucuan dalam setiap tarian akan lebih tertonjolkan dengan risiko bahwa nilai estetika seni harus sedikit mengalah, dan penonton atau penarinya tidak akan bingung menikmati atau menampilkan keindahan tari yang jenaka.

Sebenarnya juga kita tidak perlu bingung dalam menghadapi apa yang dinamakan ‘tari humor’.

Karena penyelenggara ketika berencana mengadakan Lomba Tari Humor itu sebenarnya di samping bermaksud menciptakan bentuk seni humor yang lucu, juga bermaksud “menggali”-nya dari apa yang sudah pernah ada. Dalam kesenian tradisional, tari humor dapat kita lihat pada lenong, di mana sebelum ‘lakon’ sandiwaranya mulai akan tampil mendahului suatu tarian yang penuh lawakan, yang dalam lenongnya Bokir biasanya ditarikan oleh Mandra dan pasangannya. Dalam “seni” tari yang lebih kontemporer meskipun “pop” kita bisa lihat pada breakdance terutama pada tahap awalnya. Jadi

“tari humor” sebenarnya memang sudah ada bukan

bukan tarian. Beda tarian dalam gerakan tertata, pada ujung-ujungnya adanya iringan lagu/musik yang mengantarnya.

Seni gerak humor ini dapat kita bagi menjadi dua golongan umum. Pertama, yang dinamakan pantomim. Pantomim memang sering diiringi musik, tapi musik tidak usah benar-benar lengket pada geraknya, tidak menjadi benar-benar dasar gerakannya, atau menjadi landasan bagi tarian.

Memang kadang-kadang musik yang diperdengarkan terdengar sangat erat berhubungan dengan gerakan pantomim, tetapi dalam hal demikian pun ia lebih merupakan ilustrasi yang mengaksentuasi gerakan ketimbang bertumpu pada landasan gerakan.

Pada pokoknya pantomim adalah gerak-gerak imitatif maupun simbolis yang tanpa kata-kata terucap dan tidak harus diiringi irama musik. Jadi seni drama atau lawak pada dasarnya bisa sunyi atau hening. Herannya, sebagian besar dari pertunjukan pantomim di zaman modern ini bercorakkan komedi bersubjekkan humor, meskipun pasti tidak semuanya. Kita dapat sebut jago pantomim tingkat dunia, Marcel Marceau dari Prancis, yang pada masa kanak-kanaknya terpengaruh oleh film-film bisu Charlie Chaplin dan kemudian berhasil menciptakan tokoh Blip, yang amat tenar di dunia barat, badut berwajah putih mentah dengan ekspresi yang sedih mengibakan berdasarkan badut Prancis abad ke- 19, Pierrot. Dan dari Indonesia kita bisa sebut yang sudah tenar se-nasional seperti Seno Utoyo dan Didi Petet yang pernah tampil sukses dengan sketsanya

“Stasiun”, “Tukang Becak”, dan “Perajurit”.

Kalau “humor sunyi” alias pantomim komedi tadi banyak mendapat nilai dan pujian, sebaliknya seni “humor gedobrakan”, yang sering dinamakan

“slapstick” humor rusak-rusakan, dengan saling lempar kue, pukul-pukulan kepala, hancur-hancuran

pertunjukan komedi, sehingga mereka cenderung mengabaikan fakta bahwa banyak komedi yang dianggap bermutu pun hampir selalu mengandung unsur “slapstick”. Sebuah film komedi yang paling berhasil pun jarang sekali dapat terhindar dari hadirnya unsur “slapstick”.

Tentu kita tidak bisa menilai film komedi seperti Some Like It Hot arahan Billy Wilder –aktingnya Tony Curtis dan Jack Lemmon yang penuh adegan

slapstick” lengkap dengan pria yang berpakaian wanita itu sebagai komedi yang norak, walaupun ia sarat dengan unsur “humor kasar”. Film tersebut bahkan banyak dianggap memenuhi standar film

classic” Hollywood. Kasus serupa dapat pula kita katakan pada film lebih baru, The Gods Must Be

Crazy (Part 1) arahan Jamie Uys yang kaya pula dengan adegan farce namun mantap pula kadar kultural dan mutu seninya.

Slapstick, yang notabene diwariskan oleh para

“pendiri film komedi” zaman 1920-an seperti Mack Sennett, Charlie Chaplin, Harold Lloyd, dan banyak pelopor lainnya, dan yang oleh novelis Amerika James Agee disanjung hangat dalam artikelnya,

“Comedy’s Great Era” dalam buku The Populer Arts, tentu bukan hal yang serta-merta begitu saja kita cibir sebagai “perusak seni.” Yang lebih penting adalah menilai konteks pertunjukan secara total (*)

Rubrik Humorologi-Majalah HumOr, Februari 1991

S

aya tidak ingin memperluas kebingungan dengan mencoba bikin definisi lain lagi tentang kultur pop. Tapi sekali kita berani menggunakan suatu istilah tertentu, tentu kita harus mampu mempertanggungjawabkan maksud kita akan istilah tersebut. Yang saya mau bicarakan adalah istilah “pop.” Kata ini merupakan singkatan santai dari “populer,” makna lain apapun yang selanjutnya orang ingin terapkan terhadapnya. Kata

“populer” mengandung unsur populis dari bahasa Latin, atau rakyat banyak. Maka istilah “pop” atau

“populer” haruslah melibatkan khalayak yang cukup luas. Dan kebudayaan yang diberi predikat “pop”

haruslah kebudayaan yang dianut atau digemari oleh masyarakat luas, untuk dibedakan dari yang disukai sekelompok kecil golongan atas.

Di Barat, seni populer dipertentangkan dengan seni tradisionil. Secara historis, bahkan katanya seni populer justru merupakan reaksi terhadap seni yang digemari kelompok elit, kaum bangsawan. Meskipun begitu, apa yang pada satu saat disebut seni populer, beberapa waktu kemudian bisa saja menjadi

“klasik”–yang lantas dipertentangkan kembali dengan suatu seni populer yang baru. Misalnya drama Shakespeare, atau waltz Johann Strauss, yang pada waktu munculnya dianggap konsumsi rakyat, tentu sekarang sulit sekali digolongkan pop.

Tapi, dasar orang, tidak puas kalau tidak njlimet,

Yang “Pop” dan “Tinggi”

dalam Humor

paling tidak dalam bentuk aslinya, adalah musik rakyat, karena menyebar secara alamiah. Rock ‘n roll sebaliknya, adalah musik pop, karena dipro duksi secara massal dan disebarkan lewat sarana tekno- logis. Bagaimanapun, keduanya masih memenuhi persya ra tan seni populer, yaitu punya khalayak penggemar yang luas.

Buat di Indonesia lebih rumit lagi untuk memasangkan batasan-batasan terhadap istilahnya.

Seni tradisionil di sini juga merupakan seni yang digemari rakyat banyak, bukan hanya oleh golongan bangsawan. Wayang misalnya, disukai oleh orang keraton maupun rakyat desa ataupun pejabat di kota. Kalau seorang menak tidak sudi menonton ronggeng, besar kemungkinan sebabnya bukan karena seleranya terlalu tinggi untuk estetika seni rakyat itu. Besar kemungkinan sebab nya hanya karena ia tidak ingin terlihat ada bersama rak yat banyak. Jadi masalahnya bukan soal selera, tapi soal identi tas. Di sini yang ada aristokrasi sosial bukan aristokrasi cita rasa.

Dan kalau pembedanya adalah faktor pencangkokan–dilantarkan lewat teknologi, media massa, atau berasal dan Barat–persoalannya jadi semakin tidak jelas. Hustle memang datang dari Barat, disebarluaskan lewat kaset dan radio amatir, dan ia pop. Tapi orkes simfoni, siapa bilang belum dikasetkan maupun diradiokan atau ditivikan, sedang

hiburan yang dikandungnya. Memang menghibur dan menghibur bisa lain-lain. Bolshoi Ballet bisa menghibur, Sampan Hismanto juga bisa. Meskipun tentu saja lain caranya, dan lain yang dihiburnya.

Hiburan bukan hanya menimbulkan gembira;

dengan menangis orang juga bisa terhibur–film-film cengeng, bukankah termasuk film “hiburan?”

Tapi yang saya maksudkan dengan hiburan dalam seni pop adalah yang bersifat tinggal telan, tak perlu dikunyah. Seni pop begini disuguhkan secara bulat, selesai. Untuk menikmatinya tidak diperlukan lagi pengerahan daya cipta dan imajinasi. Si konsumen pasif. Ia cuma diladeni. Seni begini menjadi populer banyak penggemar, sebab kebanyakan orang memang masih lebih suka diladeni. Sedangkan dalam seni yang tinggi, penikmat diajak turut berpikir, turut mem bayang kan, meskipun belum tentu dengan sadar. Tidak banyak orang yang senang disuruh bersusah-payah begitu. Padahal, kenikmatan berpartisipasi dalam proses kreatif begitu sebenarnya jauh lebih besar daripada tinggal disuapi saja. Orang sering lupa, kata Arthur Koestler, bahwa makna sebenarnya dari rekreasi (hiburan) adalah re-kreasi (pencip taan kembali).

Dalam praktik, memang tidak selalu mudah merumuskan dengan tegas, mana karya yang pop dan mana yang tinggi. Tapi biasanya kita dapat merasakannya. Tentunya kita tidak akan menilai novel Merahnya Merah sebagai pop, atau Cowok Komersil sebagai “sastra.” Meskipun barangkali tidak gampang menjelaskannya.

Pop Tinggi dan Pop Pop

Pada umumnya, masyarakat kita masih mengang- gap humor sebagai suatu unsur budaya yang pop.

Humor belum diakui sebagai bidang kreativitas tersendiri yang sebetulnya sama absahnya dengan ilmu pengetahuan dan seni-sastra. Orang bisa takjub terhadap ilmu pengetahuan, dan pasrah, ia tidak cukup tinggi untuk menanganinya. Diserahkannya mandat kepada beberapa orang pintar untuk menggulati ilmu dan nanti mengamalkan keme- nangan nya kepadanya.

Orang juga bisa kagum terhadap kesenian, dan juga rela mengaku, ia tidak dikaruniai “bakat”

untuk mencipta keindah an semacam itu. Dan ia

mengikhlaskan penuh hak mencipta keindahan kepada segelintir manusia yang dinama kan seniman atau sastrawan, dan memandang mereka dengan kekaguman bercampur sedikit kecurigaan, apakah mereka tidak sedang mengibulinya. Diakuinya, ilmu-pengetahuan dan seni bukan dunia awam.

Tapi semua orang mengaku suka humor. Semua orang mengaku bisa tertawa. Humor milik rakyat.

Humor ada di mana-mana, dan “tidak ada sulitnya.”

Jadi humor adalah pop.

Tapi dalam humor itu sendiri, memang diakui adanya pembedaan antara humor tinggi dengan humor pop. Banyak yang menganggap, humor tinggi atau “intelek” adalah humor yang membicarakan suatu topik yang hanya dikenal oleh kalangan lebih terpelajar. Satire politik misalnya, adalah humor intelek. Tidak terlalu banyak orang yang tahu politik. Dan humor pop adalah yang menyangkut kehidupan sehari-hari yang dikenal sangat baik oleh setiap orang awam pun. Humor mengenai keributan rumah tangga misalnya, akan masuk jenis pop. Sebab lebih banyak orang yang akan menyukainya, karena

“mengerti,” ketimbang humor yang subjeknya politis atau falsafi.

Pendekatan di atas adalah pendekatan materiil.

Yang diukur adalah materi atau “isi” humor.

Pendekatan begini memang tidak terlalu pekat.

Bisa saja subjek keributan rumah tangga digarap secara begitu sophisticated sehingga humornya bisa menjadi humor tinggi. Atau bisa juga subjek politik dikelakarkan secara kasar sehingga menghasilkan humor yang dangkal. Tapi kalau sekadar berdasarkan gejala yang ada di sini, pendekatan begitu cukup berlaku. Dan bagaimanapun, tingkat pengetahuan seseorang minimal mesti menjadi kerangka acuan yang menentukan jenis humor yang dihargainya.

Ada pendekatan lain–pendekatan strukturil–

yang dapat dilakukan guna membedakan antara humor yang tinggi dan yang pop. Ukurannya tidak beda dengan yang kita pakai dalam unsur-unsur budaya lain di muka tadi. Yaitu derajat partisipasi yang dimintanya dari si penikmat dalam proses menangkap kelucuannya. Humor yang tinggi akan mengajak si penikmat aktif mencari “di mana lucunya.” Humor pop memberitahu atau mendikte di mana kita harus tertawa. Humor pop suka

menjelas-jelaskan. Tidak disisakannya apa-apa untuk daya pikir si Konsumen. Dan karena lebih gampang “dimengerti,” maka humor jenis inilah yang lebih banyak khalayaknya. Tapi kalau soal besarnya kepuasan menikmati, seperti halnya dalam kesenian lain di muka tadi, proses “turut mencari”

itu tentu akan mendatangkan kenikmatan yang jauh lebih besar daripada hasil diajari dalam humor yang lebih dangkal.

Demokrasi Lawak

Pembedaan mutu humor itu secara teoretis dan intrinsik memang bisa dilakukan. Tapi berdasarkan kenyataan dan segi khalayaknya, tidak sebegitu sederhana. Di Dunia Barat barangkali lebih mudah, tapi di Indonesia batasnya tidaklah jelas ini bicara khusus mengenai humor tampil atau lawak.

Kalangan penggemar lawak di Indonesia cukup mencer minkan semacam demokrasi, semacam egalitarian isme. Kita lihat dokter-dokter, pemimpin redaksi, tukang becak, kuli pelabuhan, sama-sama ketawa gencar menonton Srimulat di Surabaya, atau Surya Group di TV. Atau kita lihat bapak-bapak direktur dan anak-anaknya yang masih SD sama- sama kesal melihat lawakan grup barunya Eddy Sud atau BKAK. Yang lucu ditertawakan samarata, yang hambar dimaki samarata.

Saya tidak tahu tepat, apakah ini berhubung kita belum punya grup lawak yang benar-benar sophisticated sehingga kaum intelek pun merasa sudah harus tertawa dengan lawakan yang berkadar sofistikasi rendah. Atau apakah karena dalam banyolan para pelawak yang umumnya bukan intelektuil itu sebenarnya sudah terselip unsur- unsur sofistikasi cukup untuk bisa dinikmati oleh kaum terpelajar. Sekali tempo baik juga diadakan penelitian terhadap hal ini. Bagaimanapun, kesan

Begitu pula oplah serta umur majalah Astaga yang lebih kecil dan lebih pendek daripada Stop, mungkin mencerminkan perbandingan lurus dan kalangan pembaca, dan perbandingan terbalik dan ting kat an humor kedua majalah humor tersebut. Dan kartun T. Sutanto terasa sekali lebih tinggi daripada kartun Johnny Hidayat.

Perkembangan Pengkelasan Humor

Perbedaan situasi khalayak humor antara yang dipertun jukkan dan yang dicetak itu mungkin sejalan dengan proses perkembangan masing- masing di tanah air kita. Humor pentas sudah berakar dalam masyarakat kita sejak dulu. Kesenian tradisional seperti wayang, ludruk, dan semacamnya selalu menampilkan humor. Humor dalam kesenian tradisionil itu biasanya dan jenis yang dapat dinikmati oleh segala lapisan masyarakat. Meskipun cabang keseniannya masing-masing mungkin mempunyai khalayak terpisah–misalnya seorang Bendara Raden Ayu akan enggan menonton ludruk- tetapi jenis atau tingkatan humor di dalam kedua kesenian itu adalah sederajat.

Seandainya humor yang terdapat dalam ludruk tadi dicopot dan ditempelkan pada wayang lewat penampilan Gareng dan Petruk misalnya, sang BRA tadi akan bisa tergelak juga.

Situasi lawak pentas bukannya tidak mengalami perkem bangan. Dulu lawak biasanya hanya merupakan sebagian dan kesenian yang lebih luas–umpamanya punakawan dalam wayang, atau banyolan dalam ludruk yang juga terdiri dan unsur lain, seperti tarian ngremo dan lakon standar yang beralur lengkap. Dagelan Mataram memang merupakan wahana lelucon, tetapi ia lebih merupakan sandiwara komedi daripada lawakan modern pada umumnya. Alur cerita dalam Dagelan

Yang ada paling-paling semacam garis besar atau tema cerita. Tapi yang paling menonjol adalah lelucon-leluconnya; lawak merupakan tumpukan lelucon-lelucon yang belum tentu terangkum dalam suatu rangkaian cerita yang padat. Di samping itu, acara lawak jauh lebih singkat daripada sandiwara komedi. Hal-hal ini, mungkin untuk mengikuti derap hidup yang lebih cepat sekarang, atau juga dalam rangka musim spesialisasi zaman modern.

Meskipun belum diriset, seni lawak modern kita mungkin merupakan saduran dari seni lawak Barat, yang sejak dulu sudah dipertunjukkan tersendiri. Tetapi bedanya jelas ada. Misalnya, di Barat kebanyakan pelawak paling terkemuka adalah pelawak solo–tampil sendirian. Danny Kaye, Bob Hope, Ed Sullivan, dan tentu saja Charlie Chaplin.

Pasangan lawak pun paling banter terdiri dari dua orang, seperti Laurel & Hardy, Bud Abbott dan Lou Costello, Dean Martin dan Jerry Lewis. Di sini lawak tunggal jarang sekali terlihat, dan kalaupun dicoba biasanya tidak berhasil. Kebanyakan grup lawak yang menonjol terdiri dari tiga atau empat orang atau lebih: Trio Los Gilos, Kwartet Jaya, Atmonadi Plus.

Siapa tahu, ini mencerminkan sifat gotong-royong Indonesia, dilawankan dengan “individualisme”

Barat.

Perbedaan lain antara lawak Indonesia dengan yang di Barat adalah soal naskah tertulis. Di Amerika misalnya, sudah menjadi rahasia umum bahwa para pelawak top mempunyai sebarisan gag writers

penulis lelucon. Pelawak tinggal menampilkan lelucon yang sudah dirancang oleh para penulisnya, di samping tentu saja lelucon spontannya sendiri, Pelawak-pelawak Indonesia masih menggantungkan diri pada improvisasi. “Naskah” yang dirancang sebelumnya tak lebih dari garis yang sangat besar dari cerita saja. Bahkan, kalau diberi lelucon-lelucon yang sudah ditentukan sebelumnya, hasilnya akan encer sekali.

Contoh yang bisa saya tampilkan adalah film

“Cewek Indian”: Film ini sebenarnya bukan badutan konyol belaka. Cerita “Cewek Indian” adalah satire yang cukup baik. Materi dan lelucon-lelucon atau jokes-nya cukup lucu. Pemain-pemain utamanya dari grup lawak yang termasuk paling berhasil sekarang, Surya Group. Tapi dalam penampilannya, humor

jatuh tersungkur. Penonton sulit tertawa. Surya Group jauh lebih menimbulkan “gerrr” jika tampil di TV. Kasus hampir serupa juga dapat ditemukan dalam film “Koboi Cengeng.“

Jadi dari segi bentuk, sudah ada perkembangan lain dalam lawak: dan merupakan bagian, menjadi seni tersendiri. Tapi sikap-dasar tradisi lawak masih bertahan: kolektif dan improvisatoris. Dan selera penggemar lawak pun belum terkotak-kotak menurut pengkelasan masyarakat.

Humor dalam pers tidak berakar pada tradisi masyarakat kita. Pers itu sendiri adalah buah kultur dari Barat. Humor tertulis itu juga tidak berasal dan bumi kita. Kita cuma mengenal tradisi lisan. Maka apresiasi terhadap humor tertulis atau terlukis dalam pers tentulah akan berlandaskan disiplin berpikir yang mengikuti pola pemikiran Barat, di mana derajat subtilitas dikenal baik. Sehingga, dengan demikian, ukuran tingkatan humor menjadi lebih jelas juga. Dan humor sophisticated lebih kentara di bidang humor pers dibanding pada humor pentas.

Ukurannya lebih tegas, pembedaan tingkat lebih jelas, khalayaknya pun terpisah lebih tajam.

Kritik Pop

Meskipun humor banyak dianggap sebagai unsur budaya yang pop, sebenarnya kita perlu menyadari bahwa humor bukan sekadar pelipur hati duka atau buat bikin enteng kepala pusing. Untuk meningkatkan kondisi manusia maupun masyarakat, humor pun mempunyai potensi yang sangat besar.

Terutama fungsinya sebagai kritik.

Di seluruh dunia, dalam setiap masyarakat pasti terdapat ketidakpuasan terhadap alasan atau pihak yang dianggap bertanggung jawab atas nasib masyarakat. Ini bahkan berlaku untuk masyarakat yang bisa dianggap paling adil dan makmur pun.

Sekarang, soalnya bagaimana menanggulangi ketidakpuasan itu. Ada beberapa cara yang bisa ditempuh. Ketidakpuasan itu bisa disumbat dengan paksa, kritik tidak diberi saluran. Lantas bisa terjadi implosi atau ledakan ke dalam-orang jadi senewen, atau sedikitnya apatis. Atau ketidakpuasan akan bocor juga ke luar dalam bentuk gunjing. Apatis dan gunjing tentunya termasuk kategori “tidak boleh.”

Tapi kemungkinan lain tinggal satu, dan lebih

Dalam dokumen HUMOR ITU SERIUS - ARWAH SETIAWAN (Halaman 33-42)

Dokumen terkait