BAB II URAIAN TEORITIS
II.5. Kompetensi Komunikasi
Tindakan komunikatif individu sebagai bagian dari suatu masyarakat tutur, dalam perspektif etnografi komunikasi lahir dari integrasi tiga keterampilan, yaitu keterampilan linguistik, keterampilan interaksi, dan keterampilan kebudayaan. Kemampuan atau ketidakmampuan dalam menguasai satu jenis keterampilan (kompetensi atau inkompetensi komunikasi), akan mengakibatkan tidak tepatnya perilaku komunikasi yang ditampilkan. Kompetensi ini akan sangat membantu penutur ketika mereka menggunakan atau menginterpretasikan bentuk-bentuk linguistik.
Singkatnya, kompetensi komunikasi akan melibatkan segala sesuatu yang berhubungan dengan penggunaan bahasa dan dimensi komunikatif dalam setting sosial tertentu.
Komunikasi Antarbudaya sangat perlu untuk memperhatikan kompetensi komunikasi ini, karena apabila tidak, culture shock dan miscommunication akan sangat mungkin terjadi. Seperti penelitian yang diungkapkan oleh Abrahams (1973), dalam masyarakat kulit hitam, percakapan bisa melibatkan beberapa orang yang berbicara pada saat yang sama, suatu praktek percakapan yang akan melanggar kaidah interaksi kelas menengah warga kulit putih. Terlihat seperti hal yang sangat sepele, tetapi bila tidak
memperhatikan dengan benar, bukan tidak mungkin perang akan terjadi lagi di berbagai belahan dunia ini.
Kompetensi komunikasi melibatkan aspek budaya dan sosial, maka kompetensi komunikasi mengacu pada pengetahuan dan keterampilan komunikatif yang sama-sama dimiliki oleh satu kelompok sosial atau masyarakat. Namun kompetensi komunikasi ini dapat bervariasi pada tingkat individu, mengingat individu adalah makhluk yang memiliki motif dan tujuan yang berbeda-beda. Sehingga kompetensi komunikasi tidak dapat berlaku seterusnya, melainkan dinamis mengikuti perubahan individu-individu yang menggunakannya. Sebagai contoh, dalam kebudayaan Indonesia, memberikan sesuatu dengan tangan kiri merupakan contoh pelanggaran terhadap kompetensi komunikasi, tetapi seiring perkembangan zaman, khususnya dikalangan anak muda, memberikan sesuatu dengan tangan kiri menjadi hal yang lumrah dan dapat diterima, walaupun itu terbatas pada orang-orang tertentu saja. Akhirnya terjadi perubahan harapan terhadap interpretasi budaya di kalangan anak muda.
Walaupun demikian, setiap kebudayaan dapat memliki kompetensi komunikasi secara global, dan berlaku secara berkelanjutan. Berikut adalah komponen-komponen kompetensi komunikasi yang dapat ditemukan pada suatu masyarakat tutur:
a. Pengetahuan linguistik (linguistic knowledge) i. Elemen-elemen verbal
ii. Elemen-elemen non verbal
iii. Pola elemen-elemen dalam peristiwa tutur tertentu
iv. Rentang varian yang mungkin (dalam semua elemen dan pengorganisasian elemen-elemen itu)
b. Keterampilan interaksi (interaction skills)
i. Persepsi cirri-ciri penting dalam situasi komunikatif
ii. Seleksi dan interpretasi bentuk-bentuk yang tepat untuk situasi, peran, dan hubungan tertentu (kaidah untuk penggunaan ujaran)
iii. Norma-norma interaksi dan interpretasi
c. Pengetahuan kebudayaan (cultural knowledge) i. Struktur sosial
ii. Nilai dan sikap
iii. Peta dan skema kognitif
iv. Proses enkulturasi (transmisi pengetahuan dan keterampilan) (Kuswarno, 2008: 45).
Beberapa ahli berusaha merumuskan kompetensi komunikasi antarbudaya, Kim menawarkan sebuah defenisi detail mengenai kompetensi komunikasi antarbudaya, yaitu
“keseluruhan kapabilitas internal dari seseorang untuk menghadapi ciri-ciri dari tantangan yang sering terjadi saat komunikasi antarbudaya terjadi, yaitu: perbedaan budaya, dan ketidaksamaan, sikap intergroup”. Jadi, pengertian ini bisa dipahami untuk menjadi komunikator yang kompeten, kita harus memiliki kemampuan untuk menganalisis situasi dan memilih mode dari perilaku yang tepat (Samovar, dkk, 2007:
314).
Gundykunst & Kim dalam Rahardjo mengatakan sebenarnya bahwa paling tidak ada dua pandangan mengenai sifat kompetensi. Pandanga pertama menegaskan kompetensi seharusnya di dalam diri seseorang (komunikator) sebagai kapasitas atau kapabilitas orang tersebut untuk memfasilitasi proses komunikasi antar individu yang berbeda budaya sedangkan pandangan kedua berpendapat, kompetensi harus ada pada kedua belah pihak (Rahardjo, 2005: 72).
Menurut Samovar, komunikator yang efektif adalah mereka yang memiliki motivasi, mempunyai kerangka pengetahuan, memiliki kemampuan komunikasi yang diperlukan, dan memiliki karakter yang baik (Samovar, dkk, 2007: 314), sedangkan Judith N. Martin dan Thomas Nakayama dalam bukunya Intercultural Communication in Context merumuskan dua komponen kompetensi yaitu komponen individu yang terdiri
yaitu melihat konteks-konteks yang dapat mempengaruhi komunikasi antarbudaya sebagai contoh, konteks historis, konteks hubungan, konteks budaya ataupun konteks lainnya seperti gender, ras dan sebagainya (Martin & Thomas, 2007: 435-445).
Ada beberapa faktor yang menyebabkan ketidakpastian dan kecemasan mengalami penurunan atau peningkatan dalam suatu pertemuan antarbudaya. Faktor- faktor tersebut adalah motivasi, pengetahuan dan kecakapan (Rahardjo, 2005: 69-70).
Faktor-faktor tersebut dianggap Gundykunst sebagai kompetensi komunikasi antarbudaya, yang secara konseptual diberi arti sebagai kecakapan-kecakapan yang dibutuhkan oleh suatu pihak untuk berkomunikasi dengan orang lain yang berbeda latar belakang budaya (Rahardjo, 2005: 71).
Motivasi sendiri adalah dimensi paling penting dalam kompetensi komunikasi.
Jika kita tidak termitivasi dalam berkomunikasi dengan orang lain maka tak akan ada gunanya kemempuan yang kita punya. Jadi secara sederhana motivasi bisa di nilai sebagai hasrat untuk membuat komitmen dalam hubungan, untuk belajar tentang diri dan orang lain, dan untuk menyisakan keluwesan (Martin & Nakayama, 2007: 435) sedangkan pengetahuan dipahami sebagai kualitas dari pemehaman kita tentang apa yang dibutuhkan dan tindakan supaya memiliki kompetensi komunikasi antarbudaya (Rahardjo, 2005: 71). Dan kecakapan sendiri menyangkut pada kinerja perilaku yang sebenarnya yang dirasakan efektif dan pantas dalam konteks komunikasi (Rahardjo, 2005: 71).
Berikut adalah tabel penjelasan komponen kompetensi komunikasi antarbudaya:
Komponen Kompetensi Komunikasi
Antarbudaya Elemen
1. Motivasi - Kebutuhan untuk memprediksi,
- Kebutuhan untuk menopang konsep diri (gundykunst & kim, 2003: 276- 279).
- Mindful terhadap ranah identitas, - Mindful terhadap kebutuhan identitas, - Mindful terhadap kecendrungan
etnosentrisme (Rahardjo, 2005: 76).
2. Pengetahuan - Pengetahuan tentang bagaimana mengumpulkan informasi,
- Pengetahuan tentang perbedaan kelompok,
- Pengetahuan tentang kesamaan personal,
- Pengetahuan tentang interpretasi alternative (gundykunst & kim, 2003:
279-283).
- Pengetahuan tentang nilai kultural/personal,
- Pengetahuan tentang bahasa dan komunikasi verbal,
- pengetahuan tentang komunikasi non verbal,
- Pengetahuan tentang batas in group dan out group,
- Pengetahuan tentang pengembangan relasi,-
- Manajemen konflik,
- Pengetahuan tentang adaptasi antarbudaya (Rahardjo, 2005: 76).
3. Kecakapan - Kemampuan untuk memberi
perhatian/mengamati dan mendengarkan,
- Kemampuan untuk bertoleransi pada ambiguitas,
- Kemampuan dalam mengelola kecemasan,
- Kecemasan berempati,
- Kemampuan untuk menyesuaikan perilaku,
- Kemampuan untuk memberikan ketepatan dalam memprediksi dan menjelaskan perilaku orang lain teratas dari kompetensi komunikasi memerlukan kombinasi berf (gundykunst & kim, 2003: 285-292).
- Mindful dalam pengamatan, dan dalam mendengarkan,
- Mampu empati verbal,
diri dan konflik konstrukstif,
- Memiliki mindful terhadap stereotype (Rahardjo, 2005: 76).
Howell menitikberatkan bahwa komunikasi antarbudaya adalah sama, yang akan memiliki lebih dapat diperoleh melalui analisis secara sadar, dan tingkat tertinggi dari kompetensi komunikasi diperoleh dari proses pemikiran yang analitik dan holistic.
Howell kemudian mendefenisikan empat level kompetensi komunikasi antarbudaya yaitu: unconscious incompetence, conscious incompetence, conscious competence, dan unconscious competence (Rahardjo, 2005: 69).
Dalam “Intercultural Communication In Context”, Howell menitikberatkan bahwa komunikasi antarbudaya adalah sama, hanya saja diperoleh melalui analisis kesadaran dan yang berada pada level teratas dari kompetensi komunikasi memrlukan kombinasi berfikir holistic dan analtik. Howell mengidentifikasikan empat level kompetensi komunikasi antarbudaya, unconscious incompetence, yaitu seseorang yang salah menginterpretasikan perilaku orang lain dan tidak menyadari apa yang sedang ia lakukan, conscious incompetence yaitu seseorang mengetahui bahwa ia salah menginterpretasikan perilaku orang lain, namun ia tidak melakukan sesuatu, conscious competence yaitu, seseorang berpikir tentang kecakapan komunikasinya dan secara terus- menerus berusaha mengubah apa yang ia lakukan supaya menjadi lebih efektif, dan unconscious competence yiatu seseorang telah mengembangkan kecakapan komunikasinya. (Rahardjo, 2005:69).
II.6 Etnis Tionghoa